Monster
Summary:: Wonwoo yang seorang berandal sekolah menyelamatkan Mingyu yang diculik. Setelahnya, Mingyu terus mengikuti Wonwoo hingga akhirnya Wonwoo mengizinkannya untuk tinggal bersamanya. Tanpa sadar, Mingyu masuk ke kehidupan berandal dan kelam Wonwoo. "Mereka menganggapku monster, jadi, menjauhlah dariku."/"Kalau begitu, jadikan aku monster juga."
Couple:: Mingyu x Wonwoo
Rate:: T
Genre:: Drama, Romance
.
.
Hiwatari's Present
Enjoy~
.
.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
"Maaf baru mengabarimu, selama beberapa hari ini aku diculik oleh manusia robot itu. Iya, aku tidak apa-apa. Untuk sementara ini aku menginap di rumah temanku. Dia yang menyelamatkanku dari para penculik itu. Hah? Kau ingin-? Ah, baiklah. Hm, hm. Aku mengerti." Mingyu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tangan kanannya yang masih menggenggam telepon. Ia berbicara dengan suara pelan.
"Aku tahu, aku akan segera mencaritahu dan mengabarimu." Mingyu dengan segera menutup teleponnya. Tidak lama kemudian, pintu kamar Wonwoo terbuka dan menunjukkan seorang namja dengan wajah penuh luka keluar dengan handuk di atas kepalanya yang basah.
Mingyu menatap Wonwoo yang berjalan ke arahnya lalu duduk di sampingnya. Namja itu dengan tenang menyalakan televisi yang ada di depan mereka. Mingyu tahu, situasi mereka aneh. Ia tidak mengenal Wonwoo, dan Wonwoo sendiri juga tidak mengenalnya, tapi anehnya Wonwoo malah mengizinkannya untuk tinggal bersamanya.
"Kau keramas dengan wajah penuh luka seperti ini?" tanya Mingyu. Wonwoo hanya melirik Mingyu sejenak sebelum akhirnya kembali fokus pada remote TV yang sedari tadi ia tekan.
"Apa kau tidak kesakitan?" tanya Mingyu lagi.
Wonwoo melempar remote televisinya ke samping lalu menghela napas, matanya masih tetap fokus ke channel TV yang menurutnya paling menarik dari semua channel yang ada.
"Aku tidak mengenal rasa sakit lagi. Tidak ada yang sakit bagiku."
Mingyu mengernyit mendengar jawaban Wonwoo. Ia semakin mengernyit saat melihat acara televisi yang tengah ditonton oleh Wonwoo. Kartun Pororo.
"Kenapa kau tinggal sendirian?" tanya Mingyu lagi setelah melirik ke sekelilingnya.
"Ibu dan kakakku sudah meninggal sejak lama, ayahku sudah memiliki keluarga baru di New York." Wonwoo terlihat sangat malas menjawab pertanyaan itu.
Mingyu tertegun mendengar jawaban Wonwoo. Ia tidak menyangka namja di sampingnya itu memiliki latar keluarga yang seperti itu.
"Ahh, jadi apa apartemen dan uang kehidupanmu semua diberikan oleh ayahmu?" tanya Mingyu.
Wonwoo tidak menjawab, ia hanya menatap televisi dengan malas.
"Kenapa kau suka berkelahi? Kau pemimpin kelompok berandal di sekolahmu, bukan? Kau pasti sangat kuat." Mingyu mengalihkan matanya ke kartun Pororo yang ada di depannya. Ia bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain, tapi untuk Wonwoo, ia merasa namja itu berbeda, maka itu ia sangat penasaran.
Wonwoo menoleh pada Mingyu. "Aku tidak kuat,"
Jawaban itulah yang membuat Mingyu kembali menoleh pada namja berwajah dingin itu.
"Aku hanya tidak takut mati. Jika kau mengeluarkan semua kemampuanmu tanpa mengkhawatirkan nyawamu, maka itu adalah kekuatan terbesarmu." Wonwoo melirik Mingyu sejenak dengan sudut matanya sebelum akhirnya ia mematikan televisinya dan beranjak ke kamar.
Mingyu menatap punggung Wonwoo yang menghilang di balik pintu.
'Dingin sekali.'
.
.
.
.
.
.
.
Mingyu bersembunyi di belakang tiang listrik setelah beberapa langkah berlari mengikuti Wonwoo dari belakang.
Pagi ini ia memutuskan untuk mengikuti Wonwoo ke sekolah, ia penasaran apa saja yang dilakukan namja itu di sekolah.
Setelah Wonwoo masuk ke sekolahnya, Mingyu memutuskan untuk memanjat sebuah rumah dan berjongkok di atas atap rumah yang ada di seberang sekolah. Dengan begini, ia yakin dapat melihat Wonwoo dengan jelas.
Baru beberapa menit ia berjongkok di atas atap, ia dapat melihat seorang siswa dari sekolah lain berlari dari dalam sekolah keluar dari gerbang sekolah. Sedetik kemudian, segerombolan siswa berseragam sama dengan Wonwoo berlari keluar mengejar namja itu. Di belakang segerombolan siswa yang berlari, Wonwoo tengah berjalan dengan santai dengan wajah datarnya yang biasa.
Dari luar sekolah di mana siswa sekolah lain itu menghilang, muncul segerombolan siswa lain yang berseragam sama dengan namja itu dengan langkah angkuh mendekati segerombolan Wonwoo yang berdiri di depan gerbang sekolah.
Sedetik kemudian, Mingyu menghela napas melihat kejadian yang menyedihkan di bawah sana. Perkelahian antar sekolah yang berbeda. Apalah tujuan dari perkelahian ini?
Mata sipitnya dapat melihat Wonwoo menghabisi lawannya dalam hitungan detik, meskipun tetap ada beberapa luka yang tertoreh di tubuhnya. Ia juga dapat melihat Seungcheol dan Soonyoung berada di sana tengah sibuk dengan lawan mereka. Hingga akhirnya, Mingyu hanya dapat menghela napas melihat kelompok Wonwoo masih berdiri menatap dingin lawan mereka yang tidak sadarkan diri dan ada beberapa yang kabur.
Mingyu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak pernah melihat adanya perkelahian seperti ini di kotanya.
Teman-teman Wonwoo dengan segera berlari masuk ke gedung sekolah sebelum polisi datang ke tempat itu. Sedangkan Wonwoo, berjalan di belakang mereka dengan langkah lambat dengan tongkat besi yang ia seret dengan malas. Namja penuh luka itu sesekali memegangi belakang lehernya seraya menggelengkan kepalanya pelan.
Mingyu dengan segera turun dari atap rumah itu dan terlonjak saat seseorang menegurnya dari belakang.
"Kau melihat semuanya bukan?" tanya seorang namja.
Mingyu mengernyit bingung melihat namja itu.
"Aku pemilik rumah ini, aku tidak sengaja melihatmu di atas sana saat aku pulang dari pasar." Namja itu menunjuk atap rumahnya sendiri.
"Aku alumni tahun lalu dari sekolah ini dan mereka… Mereka adalah kelompok terkuat yang ada di kota ini, dan nama mereka juga sangat dikenal dan ditakuti. Mereka berkelahi seperti itu bukan tanpa alasan. Banyak kelompok berandal lain yang tidak senang dengan popularitas mereka dan akhirnya memancing perkelahian." Namja tampan itu tersenyum tipis pada Mingyu.
"Ketuanya mereka sebenarnya tidak suka perkelahian, hanya saja karena ia adalah orang yang tidak suka dipancing dan diremehkan, akhirnya ia menerima semua ajakan lawannya untuk beradu kekuatan, berakhir dengan mereka yang selalu menang. Oleh karena itu mereka dijuluki…." Namja itu mendekat ke arah Mingyu.
"Monster," bisiknya pelan sebelum akhirnya mundur dan kembali tersenyum manis.
"Ah, namaku Jisoo. Kau bisa tanya-tanya lagi soal mereka, aku akan dengan senang hati menjelaskan tentang mereka…. Karena aku mantan anggota mereka." Masih dengan senyum tampannya, Jisoo melambaikan tangannya pada Mingyu yang masih terdiam, lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Mingyu memijit keningnya. 'Monster?' pikirnya.
'Se'monster' apakah dia itu?' Mingyu memilih untuk berbalik dan berjalan mendekati sebuah kotak telepon umum yang ada di tepi jalanan. Ia dengan segera meraih gagang telepon dan menekan tombol.
"Halo, aku rasa aku akan tinggal di sini sedikit lebih lama. Ini sangat sulit. Kenapa kau memberikanku tugas yang menyusahkan seperti ini? Aku baru saja diculik dan hampir kehilangan nyawaku, dank au masih saja memberikanku tugas yang menyusahkan ini." Mingyu berdecak tidak senang.
"Ya, ya, berhentilah mengomeliku. Hari ini aku dapat sedikit informasi," Mingyu membalikkan badannya dan mengarahkan pandangannya pada gedung sekolah yang terlihat cukup megah itu.
"Dia adalah ketua gangster, dan dia sangatlah kuat. Aku tidak tahu kenapa dia bisa sekuat itu, yang jelas kehidupannya tidak terlalu terurus." Mingyu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kau sangat menyusahkan. Kenapa harus melakukan ini?" Mingyu berdecak pelan sebelum akhirnya menutup teleponnya. Matanya kembali tertuju pada sekolah Wonwoo sebelum akhirnya ia beranjak dari tempat itu.
.
.
.
.
.
.
.
Cklek! Blam!
Mingyu melirik ke arah jam dinding saat melihat Wonwoo pulang. Jam 7 malam? Sekolah usai jam 1 siang. Apa waktu seharian ini Wonwoo habiskan untuk berkelahi? Semalam juga Wonwoo pulang sangat larut.
Wonwoo meletakkan sekantung makanan di atas meja makan, ia lalu menoleh pada Mingyu yang kembali sibuk menonton televisinya.
"Apa kau sudah makan?" tanya Wonwoo. Ia kemudian meletakkan ranselnya di atas sofa lalu berjalan menuju kamarnya.
"Belum," jawab Mingyu.
"Akan kumasakkan sesuatu setelah selesai mandi," ujar Wonwoo sebelum pintu kamarnya tertutup. Mingyu menaikkan alisnya. Wonwoo bisa memasak? Ah, tidak aneh sih sebenarnya, mengingat namja itu tinggal sendirian selama ini.
Setelah beberapa saat kembali fokus pada acara televisinya, namja tampan itu memutuskan untuk berdiri dan menghampiri sekantung sayuran yan dibeli oleh Wonwoo. Hanya ada telur, selada, ramen, daging ayam, wortel dan lobak.
Krieett!
Mingyu menoleh pada pada Wonwoo yang telah selesai mandi. Ia menghela napas melihat Wonwoo berjalan mendekatinya tanpa mengobati luka di wajah dan juga di tangannya yang lukanya masih basah. Melihat lukanya saja membuat Mingyu ikut merasa perih sendiri.
"Lebih baik kau obati lukamu dulu, kalau tidak nanti akan berbekas," ujar Mingyu. Wonwoo terdiam menatap Mingyu sejenak sebelum akhirnya ia menggeleng.
"Nanti saja setelah makan malam." Wonwoo membawa kantung plasik itu ke dapur lalu mulai mencuci semua bahannya. Mingyu berjalan mendekat.
"Kau duduk saja di sana. Kau ini sebagai tamu, sudah seharusnya aku memasak untukmu dank au duduk menunggu saja," ucap Wonwoo menunjuk kursi yang ada di meja makan. Mingyu hanya menurut lalu duduk di meja makan.
Mingyu sedari tadi hanya mengamati punggung Wonwoo yang tengah sibuk memasak itu. Tak berapa lama, Wonwoo meletakkan sepiring telur dadar gulung. Mingyu terdiam, Wonwoo juga ikut terdiam menunggu reaksi Mingyu.
"Hmmm…" gumam Mingyu.
"Maaf, aku hanya bisa memasak makanan seperti ini. Inilah yang selama ini kumakan, dan aku tak pernah sakit perut, jadi kau tenang saja." Wonwoo menatap Mingyu yang hanya terdiam.
Mingyu mengamati dadar gulung itu. Sepertinya tidak terlalu layak untuk dimakan. Dan apa dia bilang? Makanan seperti inilah yang biasanya Wonwoo masak dan makan?
"Kalau kau tidak ingin makan, yasudah, aku saja yang memakannya." Wonwoo menarik piringnya, namun ditahan oleh Mingyu. Mingyu meletakkan piring itu kembali ke meja.
"Bahan apa yang selanjutkan akan kau masak?" tanya Mingyu.
"Ayam," jawab Wonwoo.
"Sebenarnya aku tidak pernah memasak ayam, aku hanya memasak telur dan sup. Hanya saja karena ada tamu, aku harus memasak sesuatu yang lebih enak," timpal Wonwoo. Ia menghela napasnya. Memiliki tamu di rumahnya memang merepotkan.
Mingyu tersenyum kecil sebelum akhirnya ia berdiri dan berjalan ke dapur. "Karena aku menumpang di rumahmu, biarkan aku memasak untukmu selama aku tinggal di sini sebagai tanda terima kasihku." Mingyu menggulung lengan hoodienya lalu mulai menggoreng telur dadar yang baru.
"Tapi-"
"Kau duduk saja dan tunggu makananmu selesai dimasak." Mingyu menunjukkan senyumnuya hingga gigi taringnya terlihat jelas.
Wonwoo hanya terdiam sebelum akhirnya ia duduk dan mengamati dadarnya. Ia lalu menghela napasnya. Jelas saja Mingyu tidak mau memakannya, dari penampilan saja sudah tidak layak untuk dimakan.
Untuk rasanya, memang buruk, hanya saja selama ini Wonwoo tidak mempermasalahkannya selama ia masih bisa memakannya dan merasa kenyang. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan mengamati punggung Mingyu yang tengah sibuk memasak dengan gerakan tangan yang terlatih.
Bukannya ia tidak memikirkan ini. Aneh saja, tiba-tiba namja yang tidak kau kenal ingin tinggal bersamamu, dan lebih anehnya kau malah mengizinkannya. Ia tidak tahu apakah Mingyu itu adalah orang yang berbahaya atau tidak. Yang jelas, ia hanya merasa rasa kesepiannya sedikit berkurang karena keberadaan Mingyu di rumah ini.
Tak berapa lama, Mingyu meletakkan telur dadar buatannya di atas meja dengan uap panas yang masih keluar dari telur itu. Wonwoo melihatnya dengan mata dan mulut yang sedikit melebar.
"Harum sekali," gumam Wonwoo.
Mingyu tersenyum kecil sebelum akhirnya kembali sibuk di dapur. Tak berapa lama, Mingyu kembali meletakkan sepiring ayam kecap dan sup lobak di atas meja disusul dengan dua mangkuk nasi. Mingyu duduk di depan Wonwoo.
Wonwoo mengangkat kepalanya dan menatap Mingyu dengan tatapan datarnya kembali.
"Kau hebat," ujarnya datar setelah sebelumnya berdehem kecil.
Mingyu hanya tertawa kecil mendengarnya sebelum akhirnya menjepit sepotong dadar gulung dengan sumpitnya dan meletakkannya di atas nasi Wonwoo.
"Makanlah yang banyak. Kau sangat kurus. Bagaimana bisa ketua gangster sekurus ini?"
Wonwoo mengarahkan sumpitnya pada Mingyu, seperti hendak menusukkannya pada Mingyu.
"Diamlah! Meski aku kurus, aku tetap bisa membunuhmu." Mingyu tertawa kecil melihat wajah Wonwoo yang tengah kesal, kesannya antara mengerikan dan lucu.
Wonwoo memasukkannya ke dalam mulutnya. Setelah mengunyah dan menelannya, ia terdiam sejenak seraya mengamati isi mangkuknya. Ia sedikit melirik pada Mingyu yang tengah makan dengan lahapnya.
"Ini sangat enak, terakhir kalinya aku memakan masakan rumah yang enak saat ibuku masih hidup dulu."
Wonwoo kembali menyuapkan makanannya, sedangkan Mingyu menghentikan gerakannya dan menatap Wonwoo.
"Kalau boleh tanya, kapan ibumu meninggal?" tanya Mingyu.
Wonwoo terdiam, ia menatap Mingyu. "Kenapa kau banyak tanya sekali?" tanya Wonwoo dengan kening mengernyit tidak senang.
Ia kemudian menghela napas pelan sebelum akhrinya menjawab, "Ibuku meninggal satu umurku 7 tahun, dan sejak itu ayahku sangat membenciku dan meninggalkanku sendirian di sini. Untungnya ia masih berbaik hati membelikan apartemen ini dan mengirimkan uang tahunan untukku." Terdengar tawa mengejek di kalimat terakhir Wonwoo.
"Uang tahunan? Apa itu cukup? Biasanya uang tahunan akan sulit untuk bertahan lama."
Wonwoo tertawa kecil seraya menyuapkan makanannya ke mulutnya. "Apa kau pikir aku mau susah-susah bekerja setelah pulang sekolah jika uang tahunan itu cukup untuk membayar kebutuhan hidupku?" Wonwoo menggelengkan kepalanya dengan mimik dinginnya. "Dia itu monster,"gumamnya yang masih dapat didengar oleh Mingyu.
Mingyu terdiam, Wonwoo juga diam dan memilih memakan makanannya.
'Jadi dia bekerja? Pantas saja dia selalu pulang larut. Kehidupannya tidak teratur dan dia tidak memiliki ekonomi yang bagus.' Mingyu mengunyah makanannya seraya masih memikirkan cerita Wonwoo. Semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang timbul di otaknya, semakin banyak rasa penasaran dan juga perasaan aneh dengan situasi Wonwoo.
"Kenapa ayahmu membencimu?" Pertanyaan itulah yang paling ingin Mingyu tanyakan karena merasa penasaran dengan hal itu. Wonwoo melirik Mingyu sejenak sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan acara makannya yang tertunda, tidak ingin menjawab pertanyaan Mingyu.
Mingyu mengernyitkan keningnya sebelum akhirnya memilih untuk kembali melanjutkan makannya. Mungkin itu sesuatu yang tidak dapat Wonwoo ceritakan pada orang lain.
.
.
.
"Terima kasih untuk makanannya, ini sangat enak dan aku sangat kenyang," ujar Wonwoo yang tanpa sadar mengeluarkan sebuah senyum yang sangat tipis di wajahnya. Mingyu tertegun melihat sedikit kelembutan di senyum itu, di wajah yang selalu memasang mimik dingin dan tatapan tajam itu.
Mingyu tengah mencuci piring dibantu oleh Wonwoo di sampingnya.
"Kenapa kau tidak pulang? Apa keluargamu tidak khawatir padamu? Atau jangan-jangan kau tidak memiliki rumah?" tanya Wonwoo.
Mingyu terdiam sejenak. Ia tampak memikirkan sebuah jawaban yan tepat untuk menjawab Wonwoo.
"Aku tinggal di luar negeri, aku sedang berlibur di kota ini saat aku diculik, aku kehilangan semuanya, jadi akan sulit untuk kembali ke negeraku." Tentu saja ini hanyalah cerita karangan yang dibuat oleh Mingyu. Ia hanya ingin tinggal lebih lama di sini dan menyelesaikan tugasnya.
Wonwoo melirik Mingyu sekilas sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya seraya mengeringkan tangannya setelah selesai mencuci semuanya.
"Sini, aku akan mengobati lukamu, tidak baik jika terus membiarkannya terbuka seperti ini." Mingyu menarik tangan Wonwoo untuk duduk di sofa, diikuti olehnya yang duduk di samping Wonwoo.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." Wonwoo menepis tangan Mingyu lalu mengambil kapas dan menuangkan alcohol lalu menempelkannya secara asal ke wajahnya dengan gerakan kasar. Ia meringis pelan.
"Kenapa kau kasar sekali? Itu hanya akan membuat lukamu semakin parah." Mingyu menjauhkan kapas itu dari wajah Wonwoo, dan terlihat sebercak darah menempel di kapas itu.
"Lihat, lukamu kembali terbuka." Mingyu menunjuk darah itu. Ia kemudian mengganti kapas lain dan menempelnya dengan lembut pada wajah Wonwoo. Ia membersihakan luka Wonwoo dengan sangat lembut.
Wonwoo memperhatikan wajah Mingyu yang sangat dekat dengannya. Melihat wajah Mingyu yang tengah serius mengobatinya, ia dapat merasa sesak di dadanya dan kedua matanya terasa memanas.
Mingyu yang tidak sengaja melirik mata Wonwoo tertegun saat melihat mata memerah itu. Apa ia terlalu kasar saat mengobatinya? Mata yang selama ini menatap tajam dan dingin itu kini terlihat sendu dan penuh kepedihan.
"Kau kenapa? Apa ini sakit?" bisik Mingyu. Wonwoo menggelengkan kepalanya. Ia hendak menjauhkan wajahnya dari tangan Mingyu, namun ditahan oleh Mingyu.
Namja berwajah penuh luka itu melebarkan matanya saat Mingyu tiba-tiba menarik tengkuknya dan menempelkan kedua bibir mereka. Ia semakin terbelalak saat Mingyu melumat bibirnya lembut.
.
.
~TBC~
.
Halohaaaa~ maaf author lama update, hehehehe author kehilangan ide #plakkk
Maaf kalau chap ini pendek banget dan juga penuh teka-teki, maaf kalau emang agak membingungkan, mungkin di chap depan atau chap selanjutnya dan selanjutnya akan dijelaskan siapa Mingyu sebenarnya, siapa Wonwoo sebenarnya.
Ada juga reader yang bingung sebenarnya plot ff ini menceritakan tentang apa? Penculikan atau hidup suramnya Wonwoo? Sebenarnya dua-duanya, hidup suram Wonwoo dan di sisi lain tentang penculikan.
Dan author klarifikasi di sini, banyak banget readers yang ngira Wonwoo itu seme di sini. Big NO! author gak pernah kebayang Wonwoo jadi semenya si Aming *nangis* Aming is Wonu's seme forever! Jjang! #plakk
Mungkin karena sikap kasar Wonwoo di sini jadi kesannya Wonwoo agak ke-semean, jadi anggap saja Wonwoo itu uke berandalan ya, dan Mingyu itu seme kalem. Hahahaa
Terima kasih sebanyak-banyaknya buat readers dan reviewers author tercinta, terima kasih karena sudah mau membaca fanfic yang sebenarnya kurang sempurna ini. Terima kasih banyak *bow* :D
DevilPrince, miaw, svtvisual, Beanienim, nanaelfindo, Arlequeen Kim, Puput828, BumBumJin, ie Cloudsomnia, wan MEANIE, tutihandayani, hvyesung, firdazzy, equuleusblack, Khasabat04, Vioolyt, 17MissCarat, jsangkyung, kookies, deerianda, hoshilhouette, sicha, Mirror, diciassette, KimAnita, DaeMinJae, Twelves, jwwnuna, Rizki920, Firdha858, auliaMRQ, Siska Yairawati Putri, meanieslave, alwaysmeanie, chanbaekhyeon, Herdikichan17, Neulra, gyuswan, Jjinuu7, Cheon Yi, kimxjeon, Ara94, IT8861, PMY, NichanJung, 18666ww, asbavx, seira minkyu, Guest, yoonri17, Lio'gyu, mingyu,
Makasih buat review kalian yang sangat mendukung, review kalian selalu menjadi kekuatan author buat perkembangan ff ini. *bow*
Jangan ada silent readers yah readers tercintah~ *tebar kecup basah* XD
Okedeh, akhir kata dari author untuk chap ini,
Review, please~? ^^
Gomawo *bow* m(_ _)m
