Do Not Copy, Edit and Repost

.

Disclaimer: All Cast belong to themselves and the story belong to Kileela (Author).

.

.


Seoul, 2018

Petang telah menjemput kala ganasnya badai menghantam Seoul. Rintikan air yang jatuh ke bumi mengaburkan pandangan tiap insan yang menghuni ibukota Korea Selatan tersebut. Beberapa orang tampak berlindung di bawah halte atau bagian depan kedai-kedai yang masih buka. Sisanya ada yang cukup berani menerjang derasnya hujan malam itu.

Guntur yang menggelegar berkolaborasi dengan hembusan angin dingin seolah mampu menggetarkan seseorang hingga ke jiwanya. Terutama mereka yang masih terpapar gigitan udara luar.

Hujan malam itu cukup merata sampai dapat membasahi seluruh tanah subur Seoul, tidak terkecuali. Mulai dari daerah yang di huni oleh mereka yang kurang berkecukupan hingga mereka yang berada di jajaran tertinggi perekonomian Korea Selatan, tanpa terlewati.

Seperti halnya sebuah mansion megah yang berdiri di daerah Gangnam-gu, area elite ibukota Korea Selatan. Rumah bergaya klasik eropa tersebut tampak basah dan sepi. Hanya beberapa bodyguard berjas hitam yang terlihat berjaga di bagian depan mansion. Tembok yang terbuat dari kaca di lantai dasar masih memaparkan cahaya terang dari chandelier mewah yang menggantung indah di langit-langit ruang keluarga. Dari sana, suasana sepi terlihat. Seolah tak ada satupun manusia yang menghuni rumah bak istana tersebut.

Namun jika dilihat lebih lekat, binar cahaya lampu dapat terlihat dari sebuah jendela balkon besar di lantai tiga. Tirai yang masih terbuka, mengizinkan kita untuk melihat tiga sosok yang ada disana. Seorang pria tinggi tengah menyandarkan tubuh di jendela, menatap ke wanita cantik bergaun peach dan anak lelaki berusia empat tahun yang sedang berbaring pada tempat tidur hangatnya.

Sebuah buku bersampul emas berada di pangkuan si wanita. Senyuman tak lepas dari paras indahnya. Membuat sang suami dibelakang sana terpana hingga tak dapat berpaling. Sesekali si tinggi dengan rambut hitam mengkilat yang tertata rapih itu tersenyum namun tetap tinggal di tempatnya berdiri. Memilih utnuk mendengarkan serta mengamati dari jauh.

"Siren adalah makhluk legendaris. Orang Yunani percaya, mereka hidup di lautan. Awalnya Siren digambarkan sebagai seekor burung berkepala besar dan kaki bersisik. Namun semakin lama, Siren sering dikaitkan dengan seorang wanita cantik bertubuh manusia namun memiliki sirip ekor seperti ikan".

"Mermaid? Apakah mereka sama mom?", ujar anak lelaki itu memotong cerita yang sedang dibacakan oleh si wanita yang ia panggil Mommy.

"hm", wanita itu kemudian mengangguk, dan melanjutkan ceritanya. "namun, Siren berbeda. Mereka gemar membunuh manusia, entah untuk alasan apa. Suara mereka amat merdu hingga manusia akan terpikat sebelum akhirnya ditarik masuk kedalam lautan yang gelap".

Petir kembali menggelegar diluar sana, reflek si kecil melompat pelan lalu segera bersembunyi dibalik bedcover bermotif minion yang menghiasi tempat tidur mahal itu.

"mom, apakah Siren semuanya wanita? Kenapa mereka jahat sekali?", rengeknya.

Wanita cantik itu terkikik pelan mendengar pertanyaan polos sang putera tunggal. Jemari panjang berhias kutek merah itu kemudian bergerak untuk membalik pada halaman selanjutnya.

"mereka bilang beberapa kali ditemukan Siren berwujud laki-laki. Namun wajahnya tetap sangat cantik dan mengagumkan. Meskipun mereka hobi membunuh manusia, jika sekali saja makhluk itu memberikan hatinya pada satu orang, maka selamanya Siren akan mencintai orang itu".

"Jadi, Siren bisa jatuh cinta pada manusia mom?".

Kepala bersurai blond itu mengangguk sebelum mengusak surai buah hatinya dengan sayang. Membuat si anak tersenyum lebar dan merangsek untuk mendekat pada si induk.

"ya, sekali untuk selamanya".

"seperti mommy dan daddy?", cetus si kecil. Matanya berkedip polos, mengakibatkan pria tampan dengan telinga seperti peri dibelakang sana berjalan menghampiri dan merangkul pundak si wanita.

"ya Jackson, seperti mommy dan daddy", kali ini suara berat itu yang menyahut. Senyuman menjadi jawaban si wanita sembari ia mendongak untuk menatap suami tampannya.

"nah, sekarang sudah waktunya Jackson tidur. Karena besok Mommy dan Daddy harus mengikuti pelayaran pertama kapal Alcaston", keheningan selama beberapa saat itu akhirnya diakhiri dengan si wanita mengumandangkan bahwa sudah saatnya Jackson untuk tidur. Pria yang disebut Daddy itu mengangguk setuju diikuti dengan satu langkah mundur agar wanitanya dapat leluasa berdiri.

"Alcaston? Kapal pesiar yang dibuat oleh daddy? Apakah Jack boleh ikuuut?", alih-alih mengiyakan, anak lelaki yang seperti versi mini dari sang ayah itu malah merengek manja. Merasa kesal karena dirinya tak diikut sertakan dalam pelayaran kapal pesiar yang selama ini menjadi idaman Jackson.

Sepasang suami istri itu saling melirik kemudian yang wanita kembali duduk dan mengelus sayang surai anak tunggalnya. Iris abu itu menatap sayang sosok mungil Jackson.

"dengarkan mommy", mulainya dengan suara lembut. "mommy dan daddy berjanji akan membawa Jack pada pelayaran selanjutnya. Besok hanyalah pelayaran biasa yang membosankan. Dan…", hening sejenak ketika suara itu memberi jeda antara kata yang akan diucapkan.

"apa mom?", tatap Jackson penuh selidik.

Perlahan, wanita itu mendekat untuk membisikkan sesuatu yang membuat si kecil membelalak. Sedang dibelakang sana versi dewasa dari Jackson memicingkan mata penasaran. Kedua tangannya secara tak sadar ia masukkan kedalam saku celana kerja hitam yang masih melekat di kaki jenjang tersebut.

"baiklah mom! Jack akan dirumah saja bersama Jessica", pekik Jackson lalu tanpa babibu memejamkan mata.

Seketika, keduanya menghela nafas lega karena si pria cilik secara mengejutkan amat mudah untuk dibujuk. Tidak seperti biasanya, Jackson akan menangis dan marah jika keinginannya tak dituruti. Dibelakang mereka, Chanyeol yakin istrinya pasti mengatakan sesuatu yang cukup 'kuat' hingga Jackson tidak mempermasalahkan kepergian mereka.

Kecupan kening diberikan oleh si wanita, kemudian diikuti suaminya sebelum sepasang suami istri itu melangkah keluar dari kamar. Dengan hati-hati pintu ditutup agar tidak menimbulkan suara berisik.

"selamat malam, mom…dad. Jack mencintai kalian", bisik Jackson.

"selamat malam Jack", jawab keduanya serempak sebelum cahaya terakhir yang terbias dari lampu di lorong luar menghilang dari kamar Jackson, akibat pintu sudah tertutup sempurna.

Kikikan pertama lolos dari bibir merah milik si surai blonde ketika keduanya tengah berjalan menuju kamar. Pria tinggi itu kemudian merangkul sayang pundak istrinya. Kecupan ringan ia bubuhkan pada puncak kepala.

"kenapa kau tertawa, Ev?", ujarnya.

Wanita itu tetap melanjutkan kikikan manisnya hingga sang suami mendadak merasa gemas. Tidak dapat lagi tangan kekar itu menahan diri untuk tidak mencubit pipi merah wanita bernama Ev.

"tidak apa Chanyeol, aku hanya senang menjahili Jackson seperti itu".

"apa yang kau katakan padanya hm?".

Ev mendongakkan kepala sembari tersenyum manis pada sang suami tampan. Deguban jantung yang cukup keras di hati si pria adalah hasilnya.

"aku mengatakan kita akan melewati kerajaan para Siren. Cukup membuatnya ketakutan kurasa", ujar Ev.

Chanyeol perlahan mendecih diikuti gelengan kepala sebagai symbol rasa heran. Isteri dan anaknya memang orang seperti itu. Jika wajah Jackson adalah replika sempurna sang ayah, maka sikap adalah milik sang ibu.

"ini 2018 Ev dan kau masih percaya Siren?".

Ev mengangguk, senyuman masih setia tinggal di paras rupawan itu.

"ya, kau tahu ada banyak bagian lautan yang belum terjamah oleh manusia. Siapa yang tahu siapa penghuninya?".

"kau harus mengurangi kadar imajinasimu Ev, aku tidak ingin Jackson tumbuh menjadi pria yang percaya akan dongeng", ujar Chanyeol sembari mengacak surai blonde sang istri.

"Biarlah Chan, itu sama saja aku mengajarkannya untuk percaya akan segala kemungkinan yang ada di dunia ini".

Tampaknya ucapan itu cukup mengena di hati Chanyeol hingga lelaki tampan itu tak lagi meneruskan argumennya. Helaan nafas ia loloskan. Lengan kekar itu mengeratkan rangkulan pada pinggang ramping istrinya. Bibir tebal Chanyeol menghadiahi satu ciuman sayang pada kening Ev.

"aku yakin kau akan membesarkan Jack dengan baik Ev", jeda hening sesaat. Pipi Ev merona akibat ucapan manis sang suami. "aku mencintaimu", bisik Chanyeol final.

Wanita cantik tersebut menggigit bibir untuk menahan segala gejolak yang tiba-tiba saja menyulut api cinta dalam dirinya. Ia mengangguk samar kemudian berjinjit, menyandarkan kepala pada pundak kokoh itu.

"aku juga mencintaimu Chanyeol. Selamanya".


Suara nyaring Blast atau yang lebih dikenal dengan peluit kapal terdengar nyaring memekakkan telinga. Hiruk pikuk berbagai suara sudah memenuhi Port of Busan sejak dini hari tadi. Menjadi pelabuhan tertua di Korea Selatan dan salah satu yang tersibuk di dunia. Bagaimana tidak? Port of Busan menjadi penghubung 500 pelabuhan dari 100 negara dengan ribuan kapal yang sudah berlabuh disana.

Selain kapal barang dan feri, Port of Busan juga memiliki cruise terminal dimana seluruh kapal pesiar mewah akan berlabuh. Salah satunya adalah kapal Alcaston. Sebuah kapal pesiar mewah milik Jetdale co yang baru saja di perkenalkan secara official sebulan lalu.

Jetdale co merupakan perusahaan raksasa yang bergerak di bidang teknologi dan transportasi dengan Park Chanyeol sebagai pemilik kursi tertinggi. Berawal dari sebuah pabrik mainan remote, kini Jetdale co menjadi salah satu dari lima perusahaan paling berpengaruh di seluruh dunia. Sang president muda yang baru menjabat selama lima tahun terakhir bahkan sudah menduduki peringkat ke empat orang terkaya di seluruh dunia versi majalah Forbes di tahun 2016.

Tampan, cerdas, berwibawa, dan kaya adalah image yang melekat bak benalu pada diri Park Chanyeol. Semua hal yang menjadi komposisi dirinya mampu membuat jutaan wanita bertekuk lulut serta berlomba-lomba mendapatkan hati sang pengusaha muda.

Tetapi sayang, jutaan hati itu harus kandas karena Park Chanyeol memutuskan untuk menikahi sang kekasih pada tahun 2014 silam. Adalah Evangeline Walsh. Seorang bangsawan Inggris yang berwajah rupawan dan berhati bak malaikat. Keduanya adalah teman semasa Chanyeol menuntut ilmu di Oxford. Hanya membutuhkan waktu dua tahun sampai akhirnya si tampan merasa yakin bahwa Eva adalah takdirnya. Ia meminang si bangsawan cantik dan dikaruniai anak pertama mereka tepat tiga bulan setelah pernikahan digelar.

Park Chanyeol dan Evangeline adalah sepasang suami istri yang terlihat amat serasi jika bersama. Chanyeol dengan aura maskulin dan dominan yang mampu membuat lelaki submissive sekalipun bertekuk lutut. Sedangkan Eva, dengan tubuh langsing dan tinggi yang mencapai telinga sang suami terlihat amat feminine jika bersanding dengan Chanyeol.

Semua mata akan selalu terpusat pada kedua insan itu tepat ketika mereka menginjakkan kaki. Hari ini pun tak jauh berbeda. Chanyeol sejak pagi menjadi seksi sibuk karena harus memotong 'pita merah' dan menerima wawancara puluhan wartawan dari berbagai media baik nasional maupun internasional. Ia terlihat tampan berbalut set Tuxedo navy limited Edition milik Prada yang hanya terdapat dua setel di dunia. Kain itu tampak pas menempel di tubuh besar berototnya seolah memang dirancang hanya untuk Park Chanyeol. Wajah tampan si Presiden Jetdale co tampak berbinar dengan rambut yang ditata rapi model hair up. Jam tangan Rolex "Oyster Albino" Cosmograph Daytona tampak berkilau menghiasi pergelangan tangan kokohnya tiap lengan tuxedo Chanyeol tanpa sengaja terangkat keatas. Kesimpulannya, kau bisa menjadi kaya raya sekejap jika menculik Park Chanyeol.

Mengimbangi penampilan menawan dan mewah sang suami, Evangeline menggunakan lace dress lengan panjang berwarna hitam selutut buah karya Dolce and Gabbana. Rambut blonde nya dibiarkan tergerai berhias topi fedora lebar hitam yang melindungi si nyonya Park dari sengatan sinar mentari. Kontras dengan penampilan keseluruhan, stiletto merah terpasang pas di kaki jenjang Eva, senada dengan warna lipsticknya hari itu.

Sungguh tak heran jika keduanya membuat orang menolehkan kepala saat lewat. Well, siapa yang tidak ingin melihat pemandangan indah yang disuguhkan secara Cuma-Cuma kan?

Blast kembali terdengar untuk kesekian kali berkolaborasi dengan kerincingan jangkar yang ditarik naik. Seluruh penumpang yang memenuhi dek utama kapal Alcaston sibuk melambaikan tangan pada mereka yang tertinggal di pelabuhan. Semua wajah yang ada di sana tampak bahagia, begitupun sang pemilik yang kini berdiri di bagian tertinggi kapal, berdampingan dengan Evangeline dan kapten kapal. Ekspresi bangga sejak tadi tak luntur dari wajah Chanyeol.

Bagaimana tidak?

Alcaston adalah kapal pesiar pertama yang diciptakan oleh Jetdale co. Berpengalaman di bidang transportasi membuat perusahaan raksasa ini berani mengambil langkah pasti untuk menuju tingkat yang lebih tinggi. Semua adalah ide yang tercetus dari mulut Park Chanyeol pada tahun 2014 setelah ia menikahi Evangeline.

Nyatanya, ide tidak hanya sekedar ide jika berurusan dengan Chanyeol. Pria tampan itu benar merealisasikan idenya dengan menyewa ratusan orang berpengalaman dalam bidang pelayaran dan bersama menciptakan kapal megah serta mewah tersebut.

Jika Titanic adalah ratu pada jamannya, Alcaston adalah raja di era pelayaran modern. Dengan ukuran 60 x 1000 kaki, tak ayal jika Alcaston dijuluki 'raja dari lautan'. Hampir seluruh lantai kapal dilapisi marmer mewah kualitas terbaik, 600 chandelier berbahan Kristal Bohemia tersebar di berbagai titik hingga bisa dipastikan kegelapan tak akan menyambangi kapal mewah ini.

Sebagai perusahaan yang terkenal dengan teknologi canggih di tiap kendaraan buatannya, Jetdale co memberikan akses wifi unlimited dengan kecepatan luar biasa. Ipad keluaran terbaru berada di tiap kamar, berfungsi sebagai alat komunikasi antar penumpang dan kru. Semua yang berada di kapal itu memiliki system otomatis. Tirai yang dilengkap dengan remote hingga dapat terbuka dan tertutup hanya dengan sekali tekan. Lampu yang bersifat voice activated dapat hidup serta mati hanya melalui komando dari penghuni kamar. Singkatnya, Alcaston adalah yang terbaik dari yang terbaik.

Tak heran jika pada pelayaran pertamanya, Alcaston sudah memiliki 500 penumpang special yang rela mengeluarkan banyak uang. Mulai dari pimpinan negara, hingga artis ternama, sang 'raja lautan' diisi oleh mereka yang berada di puncak perekonomian.

Di dek tertinggi, Chanyeol menatap ke para tamunya dibawah sana. Senyuman bangga tak lepas dari paras tampan 'ayah' dari Alcaston tersebut. Begitupun dengan Evangeline yang kini tampak berbahagia dengan sang suami. Kepalanya bersandar nyaman pada dada bidang itu sedang satu tangan kokoh Chanyeol melingkari pinggang rampingnya.

"Alcaston adalah karya yang terlahir berkat dirimu, cintaku. Aku tidak pernah berhenti bersyukur pada tuhan karena kau telah hadir dalam hidupku", bisik Chanyeol memecah atensi sang istri.

Seketika senyuman malu-malu terkembang di wajah Evangeline. Wanita bangsawan itu menengadah untuk mengecup sayang pipi Chanyeol. Lelaki tampan itu memang pandai berkata manis.

"kau membuatku merasa seperti aku adalah wanita paling penting di dunia, Chan".

Chanyeol terkekeh lalu mengenduskan hidungnya pada surai blonde yang kini sudah tidak terhalang topi.

"memang, kau adalah wanita terpenting dalam duniaku Ev. Berjanjilah kau akan tetap tinggal selamanya disisiku. Meski aku sudah keriput dan jelek nanti".

Hening sejenak. Eva memejamkan mata sembari merasakan hembusan angin laut yang menerpa wajah. Degupan jantungnya senada dengan deburan ombak yang bertabrakan dengan kapal. Ia bersumpah akan memasukkan saat ini kedalam momen terindah dalam hidupnya.

"aku berjanji Chanyeol. Aku tidak akan kemana-mana dan selalu di sisimu".

.

.

Nyaring bunyi bel membelah sunyinya malah di ruangan nomor satu kapal Alcaston. Pertama kali bel berdering, tidak terlihat respon yang berarti dari si pemilik kamar. Berusaha mengabaikan dengan harapan bel akan segera berhenti dan orang-orang itu bisa meninggalkannya sendiri dengan tenang.

Namun tidak.

Siapapun itu diluar sana seolah dengan panik menekan-nekan bel hingga erangan lolos dari bibir pemilik kamar. Perlahan, tubuh itu bergerak-gerak sebelum akhirnya bangkit menjadi posisi duduk. Kedua telapak tangan lebar itu mengusap wajah, berusaha mengusir kantuk yang masih menggelayuti.

"bedroom", ujarnya malas.

Seketika lampu chandelier yang tergantung di tengah ruangan menyala. Menampakkan si pemilik yang tak lain adalah 'ayah' dari kapal Alcaston. Tubuh telanjang yang baru saja usai melakukan kegiatan 'panas' dengan sang istri hanya tertutupi bedcover sebatas pinggang.

Lagi Chanyeol mengerang ketika bel kembali terdengar.

"Ev, bangun", gumam Chanyeol. Punggung kekar itu masih setia membelakangi bagian kasur dimana sang istri seharusnya terbaring.

Hening, tak ada sautan. Cukup aneh mengingat Eva adalah wanita yang amat sensitive dengan bunyi ketika tidur.

"Ev?".

Lelaki tampan itu memutuskan untuk menoleh. Dan betapa terkejut president itu mendapati kasur di sampingnya kosong. Dahinya mengernyit.

Seingat Chanyeol, sang istri tadi berada disana dengan dirinya setelah aktivitas malam mereka. Tertidur pulas dan nyaman di pelukan Chanyeol. Kemana ia sekarang?

"Tuan Park?", ujar suara diluar sana.

Tampaknya siapapun itu sudah tak bisa lagi menunggu hingga memutuskan untuk berteriak dan memanggil sendiri pemilik kamar itu.

Helaan nafas lelah lolos dari bibir. Memutuskan untuk mengira sang istri berada di kamar mandi, Chanyeol kemudian beranjak bersiap memarahi dalang dari bangunnya ia dari tidur nyenyak malam itu. Bathrobe putih yang tadi tergeletak di lantai ia kenakan begitu saja. Dengan langkah lebar, akhirnya pria tampan itu berhasil membuka pintu dan memasang wajah se dingin mungkin.

"ap…"

"tuan, sesuatu terjadi pada nyonya Park…", belum sempat Chanyeol menyelesaikan kalimat, pria yang sepertinya kru kapal tersebut langsung memberondongnya dengan panic. Gelenyar aneh seketika memenuhi benaknya.

"kenapa? Isteriku ada di kamar mandi", ujar Chanyeol bingung. Matanya perlahan beralih kearah kamar mandi. Hanya untuk menemukan bahwa ruangan di pojok kamar itu kosong dan dalam keadaan gelap.

"Tuan… ini buruk, amat buruk. Nyonya Park, beliau terjatuh dari atas kapal…".

Bruk

Tubuh kekar itu tanpa ampun menyingkirkan tubuh lain dihadapannya. Langkah kaki panic mengiri perjalanan Chanyeol ke dek utama kapal. Ia kira ini hanya jebakan. Benar, mana mungkin Eva terjatuh kan? Jelas-jelas sejak tadi wanita itu aman di pelukannya.

Namun keyakinan itu perlahan terkikis, bak istana pasir di pesisir pantai yang terkena ombak ketika ia menyadari bahwa kapal sudah berhenti. Dan puluhan kru berkumpul di bagian paling depan kapal.

"katakan", ujar pimpinan itu tanpa basa-basi. Jantungnya berdegub kencang, keringat dingin bercucuran menuruni pelipis.

"t…tuan. Maafkan kami. Kami terlambat mengejar nyonya Park"

"apa maksudmu hah?!", bentak Chanyeol.

Semua yang ada disana berjengit mendengar bentakan Chanyeol. Tetapi sang kapten yang tampak tak muda lagi itu memutuskan bahwa dirinya lah yang bertanggung jawab untuk menjelaskan.

"maafkan kami tuan. Nyonya Park terlihat berjalan-jalan di pinggiran pagar pembatas selama setengah jam. Tak lama kemudian beliau berhenti, sepertinya ingin menikmati angin malam. Tetapi tuan Park. Tampaknya nyonya tergelincir ketika ombak besar menerpa kapal. Beliau kehilangan keseimbangan dan terjatuh".

Reflek, Chanyeol mengikuti kemana arah pandang pria tua itu. Yang ternyata menuntunnya ke sepasang slippers yang tadi dikenakan sang istri. Tergeletak begitu saja diatas lantai dek.

Dengan tubuh bergetar, pria tampan itu berjalan mendekat. Tangannya meraup kedua benda berbahan empuk itu dan dibawa kedalam pelukan. Erat ia memejamkan kedua irisnya. Berusaha berfikir positif bahwa sang istri masih bisa ditemukan dalam keadaan selamat.

"cari dia! Lakukan pencarian hingga Eva ketemu", titah Chanyeol.

Matanya masih focus terpejam sembari memeluk benda terakhir yang sempat melekat pada tubuh sang isteri.

"kami sudah menurunkan sepuluh sekoci dengan total 50 kru tuan Park. Sudah lima belas menit namun belum ada kabar yang berarti".

Chanyeol menggertakkan gigi, menahan segala amarah dan kesedihan yang mendadak saja melingkupi. Pria tinggi itu beranjak tanpa sepatah kata dan melangkah gontai kembali kedalam. Setitik air mata sudah tak dapat lagi ia bendung hingga harus meleleh turun menuruni pipi.

"teruskan pencarian. Kabari aku jika Eva sudah ditemukan".

"Baik tuan", ujar mereka serempak. Mengiringi punggung tegap yang kini membungkuk sedih tanpa semangat.

Takut.

Lelaki itu takut jika Eva benar pergi untuk selamanya.

Ia tidak bisa membayangkan seperti apa hidup tanpa sosok wanita yang amat dicintainya tersebut.

.

Nyatanya, kabar gembira yang ia nanti itu tak kunjung tiba. Kapal sudah berhenti sejak dua jam lalu di perairan sekitar pulau Jeju. Beberapa penumpang bahkan keluar dan menanyakan apa yang terjadi hingga kapal yang dijadwalkan tiba di Jepang dua hari lagi itu berhenti.

Pada area luar kapal, hiruk pikuk kembali terjadi karena tampaknya beberapa orang sudah mendengar kabar bahwa istri dari pemilik kapal tercebur kedalam laut yang amat dingin. Bahkan ada dari mereka yang sudah mendoakan agar nyawa korban diterima di sisi tuhan karena ya, mari kita menjadi realistis. Hawa malam itu amat dingin, angin bertiup cukup kencang mengakibatkan ombak sedikit lebih tinggi dari biasa. Siapa yang bisa selamat melawan itu ditengah antah-berantah seperti ini?

Di dalam kamar mewahnya, Chanyeol berjalan mondar-mandir dengan panic. Ia beberapa kali berteriak marah pada para kru yang dianggap lambat dalam bertindak. Semakin lama waktu berlalu, semakin menipis juga harapan Chanyeol.

Yang ia lakukan sekarang hanyalah berdoa dan berharap wanita kesayangannya bisa kembali dalam keadaan hidup. Lelaki tampan itu tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Ia percaya, wanitanya adalah sosok yang kuat. Eva bisa melalui itu.

Ketukan pintu kembali memecah atensi Chanyeol. Dengan tidak sabar ia berteriak 'masuk' dan berjalan cepat untuk mendekat ke pintu.

Tetapi, hati Chanyeol harus mencelos ketika ia menyadari bukan kabar baik lah yang datang. Melainkan sebuah kabar yang membawa semua mimpi buruknya ke dunia nyata.

Kapten kapal tengah menatap iba kearah sang atasan. Tangan pria tua itu menggenggam sebuah kain yang Chanyeol kenal sebagai coat milik Eva yang tadi sore ia keluarkan untuk menikmatoi udara malam.

Tidak perlu bertanya, Chanyeol sudah bisa menebak apa itu. Apa berita yang dibawa oleh sang kapten.

"maafkan kami tuan… Kami turut berduka".

"tidak… tidak kau pasti bercanda", Chanyeol mendekat untuk mengambil paksa coat yang amat ia kenal itu. "tidak ini pasti mimpi kan… tidak…".

Sepasang lutut itu terjantuh bertubrukan dengan lantai. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir. Denyutan sakit di hatinya terasa amat menyiksa menimbulkan sesak luar biasa di dada.

"eva…", lirih Chanyeol. "TIDAK EVAAAA!", teriak pria itu pilu. Mengiris hati siapapun yang mendengar di kapal megah itu. Membawa mereka semua kedalam perasaan duka yang amat dalam.

.

.


"Aereviane, ayahmu akan murka jika ia melihatmu berada disini".

Seorang pria bertubuh mungil dengan surai hitam tampak berenang-renang memutari pria bersurai biru gelap yang tampak lebih cepat darinya. Ekor oranye si surai hitam tampak berkilat menawan ditengah gelapnya samudera.

"ck bukankah sudah kubilang panggil aku Baekhyun", decak si surai biru. Tubuhnya tetap meliuk-liuk dalam air dengan cepat dan pasti. Sirip ekor biru yang berkilauan itu tampak kuat serta tegas dalam tiap ayunannya.

"Demi dewa! Kenapa sih kau lebih suka nama panggilan dari nenek pelayan itu dibanding nama dari ayahmu yang jelas kau sudah tau, seorang raja lautan".

Baekhyun terkekeh pelan lalu berhenti. Iris biru yang bersinar di kegelapan tersebut menatap dalam ke wajah si surai hitam yang merupakan sahabatnya sejak kecil. Lengan putih mulus itu berayun, menciptakan gelembung-gelembung yang secara sengaja ia arahkan pada sang sahabat.

"kau ini terlalu pemarah Kyungsoo! Santai saja. Ayah tidak akan melihat. Dan nenek pelayan itu adalah orang baik. Berhentilah menjadi siren yang menyebalkan".

"Namaku Kylei. K.Y.L.E.I bukan Kyungsoo! Itu nama yang aneh! Aku bukan manusia. Terasa menjijikkan memakai nama mereka", cicit Kyungsoo. Dengan bibir dimajukan lucu, siren bersurai hitam itu mengikuti sang sahabat yang menggunakan kesempatan ketika dirinya mengoceh untuk kabur.

Jika kalian mengira Siren adalah bagian dari mitologi Yunani yang kebenarannya masih dipertanyakan, kalian salah. Menyerupai duyung, manusia kebanyakan mengira mereka adalah mermaid atau merman. Sungguh panggilan yang menggelikan bagi Siren, mengingat mermaid dan merman hanyalah manusia duyung biasa, yang tidak diberkahi kekuatan serta kekuasaan.

Sekilas, kedua makhluk ini memiliki kesamaan dari segi fisik. Dimana bagian pinggang keatas menyerupai manusia, sedang pinggang kebawah dihiasi sirip yang panjang bak seekor ikan. Tetapi, jika diperhatikan, Siren memiliki ukuran sirip yang lebih besar dengan sisik yang berkilauan terutama mereka yang masih keturunan bangsawan. Kilauan sirip seorang bangsawan terlihat amat indah, seolah terdapat permata kualitas terbaik yang dihancurkan lalu ditaburkan ke sepanjang ekornya.

Rumor mengatakan Siren amat membenci manusia hingga kegemaran mereka adalah menghabisi tiap manusia yang kebetulan melintas di perairan mereka. Well, bagian dimana mereka membenci manusia memang benar. Tetapi bagian membunuh itu sudah lama tak dilakukan. Setidaknya tidak pada keseharian. Siren hanya akan berburu manusia pada saat bulan berada di posisi sempurna. Nyanyian indah mereka akan terdengar di seluruh penjuru laut. Isyarat mencekam bagi hewan kecil yang berada di level terendah dalam rantai makanan agar segera berlindung. Karena saat melodi itu terdengar, saat itulah ratusan siren akan keluar dari kerajaan mereka. Berada di titik terdekat dari permukaan laut dimana manusia berada.

"aku lebih suka memanggilmu Kyungsoo. Anggap saja itu panggilan sayangku untukmu", ujar Baekhyun.

"haruskah aku merasa terhormat sekarang, yang mulia?", ejek si surai hitam. Tidak mengetahui didepan sana sang sahabat tengah merotasikan bola mata akibat Kyungsoo yang amat keras kepala.

Jika mayoritas Siren terlihat amat membenci manusia hingga ke tulang, Baekhyun berbeda. Baekhyun memiliki nama asli Aereviane, adalah seekor siren pria dengan paras yang cantik menawan. Mata, rambut serta siripnya memiliki warna senada. Yakni biru muda keemasan yang berkilau, mengingat dirinya adalah anak tunggal raja Adriros, penguasa dari seluruh samudera Pasifik. Baekhyun atau yang lebih sering dipanggil pangeran Aereviane adalah pewaris tahta kerajaan Vriryn, yang pusatnya berada sekitar 25 km dari permukaan pantai Hamdeok, Jeju. Dengan kedalaman lebih dari 9.735 meter dibawah laut. Menjadi raja selanjutnya, Baekhyun diharapkan memiliki sikap tegas serta berwibawa layaknya sang ayah.

Tetapi, Baekhyun berbeda. Siren cantik itu tampak tertarik dengan dunia manusia. Alih-alih membenci, Baekhyun malah berteman dekat dengan beberapa dari mereka. Putera mahkota Vriryn itu sering kali mengendap-endap naik ke permukaan untuk sekedar mengagumi benda besar yang berisi ratusan manusia ketika kebetulan lewat. Atau mengagumi indahnya taburan bintang diatas sana.

Beberapa kali, sahabat sang putera mahkota, seperti Kyungsoo, berusaha mengingatkan. Serta menyadarkan Baekhyun bahwa apa yang dilakukannya adalah hal tabu yang tidak wajar bagi para Siren. Namun Baekhyun terlalu keras kepala. Sampai pada titik dimana ia tidak peduli jika nanti raja Adriros menangkap basah dirinya dengan hukuman sebagai akibat.

Seperti hari-hari lain, malam itu Baekhyun merasakan bahwa udara diatas sana amatlah baik. Meskipun tak secerah biasa, pangeran lautan itu yakin badai tak mengguncang pada petang ini. Setelah ia yakin istana dalam keadaan sepi, siren cantik bersirip biru tersebut mulai mengendap-endap. Sayang sekali, ditengah perjalanan Kyungsoo harus menghadang dan berakhir dengan si sirip oranye mengikutinya sembari mengomel.

Sudah lewat lima belas menit sejak ia bertemu Kyungsoo, dan pangeran samudera pasifik itu masih memutar otak agar si mata bulat mau meninggalkannya sendiri.

"Kembalilah ke istana Kyung. Aku akan baik-baik saja".

"tidak, terakhir kali aku meninggalkanmu sendiri, seorang pelayan hampir menangkap dan menjualmu pada sirkus".

Baekhyun berdecak pelan kemudian menggeleng. Tampaknya menyingkirkan Kyungsoo malam ini akan lebih sulit dari biasa. Wajah manis namun galak itu tampak yakin dan tetap pada keputusannya. Benar-benar tipikal Kyungsoo.

"kau terlalu berlebihan. Aku bisa menjaga diriku sendiri Kyung".

"tidak! Aku akan mengikutimu dan itu final. Aku lelah setiap hari mendengar ocehan kakak sepupumu yang menyebalkan itu. Dia mengatakan untuk selalu mengikutimu dan kurasa dia…"

Satu kedipan mata.

Saat itulah suara Kyungsoo seolah menghilang ketika mata biru itu menangkap sesosok tubuh yang mengambang ditengah gelapnya lautan. Awalnya Baekhyun kira, itu hanyalah seorang manusia bodoh yang memutuskan berenang di waktu seperti ini. Namun dugaan itu ia yakini salah ketika tubuh berkaki itu tak bergerak dan semakin lama semakin terbawa ke dalam oleh derasnya ombak samudera pasifik.

Saat itulah, sang pangeran lautan menyadari seseorang itu tengah tenggelam.

"Baek! Kau dengar aku tidak?", bentak Kyungsoo ketika menyadari sang sahabat tak menyahut sejak tadi. Meskipun bentakannya cukup keras, Baekhyun masih tak bergeming. Malah berbelok untuk berenang kearah lain.

"hey! Kau mau kemana Baekhyun!".

"kembalilah ke Vriryn Kyung", itu adalah ucapan terakhir sang pangeran sebelum siren bertubuh mungil itu menggerakkan siripnya dengan cepat dan menghilang begitu saja dibalik bebatuan besar sebelum sempat diikuti oleh Kyungsoo.

Mengabaikan teriakan-teriakan dari sang sahabat, Baekhyun terus focus menatap kearah sosok yang semakin lama semakin terlihat jelas olehnya. Si mungil menambahkan pada gerakan siripnya hingga ia kini berjarak hanya beberapa meter dari sosok itu.

Sosok yang akhirnya dapat dilihat jelas oleh sang pangeran.

Sosok seorang manusia laki-laki yang jika dilihat dari panjangnya, adalah manusia bertubuh tinggi dan besar. Kedua matanya terpejam namun ketampanan si pria seolah bersinar di gelapnya lautan.

Dengan hati-hati Baekhyun berenang mendekat. Siren mungil itu tidak menyadari bahwa sang lelaki tinggi tengah membuka sedikit mata disisa kesadaran. Si tampan itu mengira, cahaya biru yang tengah mendekat itu merupakan ajal yang sudah menjemput.

Senyuman simpul terkembang, Chanyeol mengira sebentar lagi ia akan kembali bersatu dengan istrinya. Dengan anggapan itu, si tinggi kembali memejamkan mata. Melepaskan kesadaran yang sejak tadi berusaha ia genggam.

Dalam kepalanya, Chanyeol melihat sang istri tengah melambai dibawah sana. Di dasar lautan gelap. Tangan lentik itu terulur, siap menarik Chanyeol untuk mendekat.

Senyuman kembali terkembang di paras tampan si tinggi. Tangan berotot itu balas terulur ketika tubuh keduanya sudah semakin dekat.

Hanya diperlukan satu dorongan kaki yang amat kuat, dan jemari keduanya akan bersentuhan.

GREP

Chanyeol berkedip bingung.

Tidak, ini bukanlah jemari Eva yang tengah menyentuh dirinya. Melainkan sebuah jemari lain diatas sana. Jemari yang menahannya agar tidak mendekat kearah sang isteri.

Dahi Chanyeol berkerut sembari pria tampan itu menolehkan wajah. Disana, cahaya biru yang ia lihat tadi tengah mengapung. Tampak sangat indah dan kontras di tengah-tengah samudera. Cahaya biru yang ia kira adalah ajal, kini Chanyeol sadari sebagai sebuah sirip. Sirip ikan yang amat besar dan panjang.

Sirip yang belum pernah ia lihat seumur hidup.

Rasa penasaran membelenggu, membuat si tampan memutuskan tak lagi menunggu dan menggulirkan pandangan keatas. Menatap seperti apa wujud pemilik sirip tersebut.

Alih-alih melihat seekor ikan menyeramkan, disana seorang… lelaki bertubuh mungil tengah menatap kearahnya. Tangan kurus dengan jemari lentik itu menggenggam erat pergelangan Chanyeol, menahan tubuh tinggi itu agar tak terjatuh semakin ke dasar. Mata birunya yang berkilat indah sarat akan rasa penasaran dan khawatir yang besar. Rambut biru yang membingkai kepala berkibar karena ombak, menampakkan wajah mungil yang amat indah. Hidung serta bibir mungil berwarna merah yang ada disana tampak sempurna, sangat menggoda. Pipi putih mulusnya dihiasi sedikit sisik berwarna senada dengan ekor si mungil. Bukannya terlihat menjijikkan, sosok itu malah terlihat indah dimata Chanyeol. Sangat indah hingga ia tak bisa berpaling dan seketika lupa akan sang istri yang menanti dibawah sana.

Chanyeol mengedipkan matanya, merasakan kesadaran mulai ditarik kembali. Di sisa-sisa kekuatan sepasang iris tersebut untuk terbuka, si tinggi melihat sirip indah milik sosok itu mengibas pelan. Membuatnya mendekat. Satu tangan lain terulur untuk menyentuh pipi si tampan.

Mata biru itu tampak semakin mendekat, hingga kini mereka hanya dipisahkan satu hembusan nafas.

Deg

Pimpinan Jetdale co itu merasakan detakan jantungnya kembali saat sepasang bibir lembut menyentuh sepasang lain. Tidak lama, hanya beberapa detik. Diikuti dengan bisikan lembut yang menenangkan. Seolah mengajak Chanyeol masuk kedalam dunia mimpi.

"bertahanlah", bisik sosok itu.

Menjadi hal terakhir yang dapat ditangkap oleh Chanyeol di ujung kesadarannya, sebelum kedua mata kelinci itu terpejam.

.

.

Bruk

Dengan satu dorongan kuat, akhirnya Baekhyun berhasil membaringkan tubuh yang lebih besar darinya itu keatas hamparan pasir pantai Hamdeok. Pangeran laut itu kira, menarik si tinggi adalah perkara mudah. Memang benar, didalam air semua terasa mudah. Tubuh besar itu mendadak terasa ringan. Namun saat ekor Baekhyun menyentuh daratan, pekerjaan mudah itu berubah menjadi amat sulit hingga membuat nafasnya tak beraturan.

Detik berlalu menjadi menit. Rasa lelah itu perlahan sirna hingga Baekhyun mulai menggerakkan Kristal birunya untuk mengamati sosok itu. Si mungil kini tengah duduk dengan siripnya masih berada didalam air. Jemari lentik itu mulai menelusuri tubuh berotot dihadapannya dengan penasaran.

Ini adalah pertama kali Baekhyun melihat manusia dengan jarak sedekat itu. Tak heran jika si siren muda merasa kini saat yang tepat untuk berpetualang.

Baekhyun tidak munafik, ia mengakui manusia dihadapannya sangatlah tampan. Rambutnya segelap malam. Wajahnya sempurna, tanpa cacat. Meskipun dirinya adalah Siren, Baekhyun bisa mengetahui tubuh seperti apa yang dikategorikan sempurna. Bahkan di dunia siren pun, tubuh seperti pria tersebut adalah tubuh yang dianggap sempurna. Dada bidang dan perut berotot. Lengan besar dengan bisap menonjol itu kini tertutupi sebuah kain putih yang aneh dimata sang siren.

Aneh, karena tak seperti yang ia lihat saat bersama manusia-manusia lain. Jika biasanya kain akan menutupi hampir seluruh tubuh manusia, kain putih itu hanya menutupi kedua lengan sang pria. Sedang bagian dada hingga kebawah terbuka begitu saja.

Baekhyun mengernyit. Dengan hati-hati tangannya mengelus erut berotot si tinggi. Kemudian bergerak turun menyentuh benda besar yang belum pernah Baekhyun lihat sebelumnya.

"ini aneh, di buku yang kubaca, yang memiliki belalai hanyalah Gajah. Tapi ternyata manusia juga punya belalai?", ujarnya polos.

Jemari lentik itu dengan penasaran menekan-nekan 'belalai' yang berada diantara paha si tinggi. Merasa senang dengan teksturnya yang empuk, dengan gemas siren manis meremas dan menarik benda asing tersebut.

Mata biru itu berbinar saat benda panjang milik si tinggi semakin lama semakin keras dan tengah mengacung sempurna. Baekhyun berkedip-kedip lucu kemudian menarik tangan untuk menjauh.

"apakah kau marah karena ku sentuh? Seperti ikan kembung yang membesar saat ada musuh? Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu belalai", bisik Baekhyun.

Merasa sudah cukup mengganggu ketenangan si 'belalai', Baekhyun mulai merangsek naik untuk mendekatkan dirinya pada si tinggi. Kepala bersurai biru itu mendekat dan menempel pada dada bidang Chanyeol. Memastikan bahwa detakan jantung si pria masih ada di dalam sana.

Alih-alih menjauh, debaran jantung itu terdengar menenangkan hingga siren manis itu tak beranjak. Malah membaringkan tubuh dengan kepala yang masih setia menyender pada dada Chanyeol. Telunjuk lentiknya menari-nari diatas perut berotot itu.

Baekhyun suka dengan manusia ini. Ia sangat nyaman dan hangat, lebih nyaman dari batu tempatnya tidur. Siren mungil itu bisa merasa dirinya mampu menghabiskan berjam-jam berbaring diatas tubuh si tinggi.

Waktu berlalu begitu saja. Tak terasa sudah hampir sejam Baekhyun berada disana. Matahari kini sudah menampakkan dirinya di garis batas cakrawala. Merasa sudah waktunya pergi, siren cantic tersebut beranjak. Menatap untuk terakhir kali pada wajah tampan itu. Berusaha mengingat detilnya.

Tetapi, baru saja saat si mungil berbalik. Sebuah tangan kekar lain menggenggam erat tangannya. Tubuh kekar itu terbatuk-batuk hebat. Mengeluarkan air laut yang mungkin sejak tadi memenuhi paru-parunya.

Panik melanda si pangeran lautan. Tubuh mungil itu berusaha melepas genggaman tangan si tinggi, namun tampaknya kekuatan Chanyeol lebih besar.

Hening.

Baekhyun menyadari suasana kembali hening, menandakan bahwa pria itu sudah selesai terbatuk-batuk. Bulu kuduk siren itu meremang. Merasakan tatapan seseorang yang amat berat kearahnya.

"kau… kau apa?", ujar suara berat itu parau.

Si mungil menggigit bibir bawahnya dengan keras, lengannya kembali berusaha melepaskan diri dari genggaman si manusia tinggi.

SRET

BRUK

Tubuh mungil itu dengan mudahnya ditarik, hingga dadanya bersentuhan dengan dada si manusia yang sedang dalam posisi terlentang. Mata keduanya bertatapan lama.

Baekhyun merasa sangat ingin menangis karena seorang manusia menangkap basah dirinya, berbeda dengan Chanyeol yang kini terpesona dan berusaha menimbang-nimbang apakah ini nyata atau tidak.

"kau nyata", ujar Chanyeol lagi.

Dalam sekejap, Baekhyun memejamkan mata.

Hanya satu yang dapat ia lakukan.

Sesuatu yang dapat menyelamatkan keduanya.

Karena jika seorang manusia melihat siren dan diketahui oleh siren lain. Maka manusia itu akan dibunuh dengan keji. Karena sudah menjadi peraturan di bawah sana, bahwa seorang siren tidak boleh diketahui keberadaannya oleh manusia manapun.

Mungkin beberapa kali Baekhyun berhasil berteman dengan manusia tanpa masalah. Namun perasaannya mengatakan ada sesuatu yang berbeda dengan pria ini. Sesuatu yang mungkin membawa mereka dalam masalah.

Dengan keyakinan bulat, Baekhyun mengulurkan tangan. Jemarinya mengelus lembut pipi Chanyeol. Kelopak mata dengan iris biru itu terbuka. Mengarungi dalamnya iris kelam milik si manusia.

Kemarilah…

Mendekatlah…

Temukan aku lewat indah suaraku

Ikuti aku menuju dunia dimana hanya ada kita berdua

Dunia sempurna yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya

Kemarilah…

Mendekatlah…

Aku menantimu

Ditengah kegelapan…

Suara merdu itu terdengar bersamaan dengan Baekhyun membuka bibir merahnya. Melodi indah masuk ke telinga lebar Chanyeol. Membuatnya terhanyut dan terbang di awang-awang.

Matanya yang tadi terbuka lebar, kini perlahan tertutup.

"selamat tinggal", dan itulah yang terakhir Chanyeol dengar sebelum kegelapan kembali menariknya masuk, menjauh dari iris biru indah yang perlahan melebur menjadi kepingan debu.

.

.

.

To Be Continued


Halooo! Chap 1 is up! hehehe selamat membacaa ya. Jangan lupa review. hehe. Aku mau terimakasih sama kalian yang udah mau baca, like, follow dan review. Tanpa kalian aku butiran debuuu hehe. Dan beberapa tebakan kalian hampir bener. Baekhyun disini bukan manusia, melainkan calon raja samudera pasifik muehehehe. Anywayy aku tunggu reviewnya yaa! semoga gak mengecewakaan. Review kalian membantuku belajar dan memperbaiki tulisaan. makasih banyak semuaa.

i love youu

Kileela