Bungou Stray Dogs (c) Asagiri Kafka & Harukawa Sango
Warning: Typo, penyalahgunaan EYD, OOC, nirfaedah, menjurus slash (Dazai/Chuuya), receh.
Dengan wajah kesal, Chuuya mencoba memuat ulang laman web yang dia butuhkan untuk menyelesaikan tugas. Dia sudah nyaris frustasi akibat berkali-kali try again. Sial memang provider-nya ini, pilih kasih banget ngasih koneksi tergantung jenis paketan. Ini tugas juga datangnya pas Chuuya lagi darurat pulsa pula, sehingga dia cuma sanggup beli paketan seribu perak/dua puluh empat jam (yang meski pun belinya pukul sepuluh malam, jam dua belas malam sudah hangus dan harus paketan lagi).
Tugasnya ini memang butuh sekali asistensi dari internet: kompilasi informasi tentang demam, dalam bentuk essai, untuk mata kuliah infeksi tropis. Seharusnya di buku juga sudah ada, tapi ya namanya buku teks pasti bahasanya belibet, lebih gampang dipahami (dan lebih mudah dicari, apalagi kalau referensi essai luar negeri) melalui pencarian internet.
Selagi menunggu loading yang tak kunjung selesai, Chuuya melirik ikon The Sims 3 di desktopnya dengan nestapa. Sudah lama sekali dia tidak memainkan game simulasi favoritnya tersebut. Sesuai dengan pamornya, kuliah pendidikan kedokteran memang menguras waktu. Kalau ada waktu luang pun mending dipakai kerja. Pokoknya prioritas Chuuya itu kuliah, kerja, kemudian bersih-bersih kosan. Tidak ada kata main di kamusnya. Lagipula dulu dia mati-matian nabung buat membeli laptop juga bukan untuk tujuan main game.
Tatapan Chuuya kembali terfokus pada browser ketika lagi-lagi layar menampakkan 'Server not found'.
Cukup sudah! Putus Chuuya dengan geraman kesal. Dimatikannya laptopnya. Selagi menunggu proses shut down selesai, dia berdiri dari kursinya dan mulai mengemasi beberapa peralatan tulis dan buku teks ke dalam tas. Yang terakhir masuk tas adalah laptop dan charger.
Tidak ada pilihan lain, pikir Chuuya sembari mengunci kamar kosan, tas ransel tercangklong di pundak, selain mengandalkan wifi gratis kafe terdekat! Kebetulan sekali tidak jauh dari kompleks perumahan tempat kosan Chuuya ada kafe dengan koneksi internet yang cepat dan stabil. Cuma ya itu, harus keluar uang untuk seenggaknya membeli kopi kalau mau nongkrong dan memanfaatkan fasilitas tersebut. Ingin bersumpah serapah karena uang tiga puluh ribu bisa dipakai makan dua kali, tapi nggak apa deh, toh Chuuya juga butuh kopi-nya untuk begadang.
Sempat dia berpapasan dengan Pak Mori dan Pak RT, Taneda, yang kebagian jatah ronda. Ya, bukan hal penting, cuma ingin bilang saja. Toh setelah tukar sapa sebentar Chuuya segera berlalu.
Meski dibilang kafe-nya tidak jauh, tapi kalau ditempuh dengan jalan kaki (dengan tas berisi laptop lawas yang berat sekali bobotnya), sebenarnya ya lumayan. Momen seperti ini membuat Chuuya mengidamkan sebuah sepeda. Lebih hemat waktu, tapi masih tetap menyehatkan, anti-polusi, dan yang pasti sih, meringankan beban pundaknya.
Hm, kira-kira tabungannya cukup tidak ya kalau dipakai beli sepeda?
Ah, sudah, sudah, melantur dia. Lebih baik pikirkan tugas! T-u-g-a-s! Tugas yang masih butuh untuk di-print juga, yang artinya duit lagi.
Sesampainya di kafe, rupanya tempat itu lumayan ramai. Semoga masih ada meja dekat colokan yang masih kosong.
Beruntung, masih ada satu.
Eh, baru juga dia duduk dan membuka layar laptop, ada suara yang sangat menyebalkan memanggil namanya.
"Lho, Nakahara?"
Chuuya menoleh ke arah sumber suara, dan benar dugaannya. Tepat di sebelah mejanya berdiri Dazai Osamu, teman satu jurusannya yang paling menyebalkan. Kok ya bisa ketemu di tempat ini? Seperti tidak ada kafe lain saja di kota besar ini.
"Tumben kamu datang ke tempat seperti ini?" Dazai melepaskan tangannya dari gelayutan gadis yang menemaninya. Pemuda jangkung, sombong, dan kurang kerjaan itu memberi isyarat pada si gadis untuk pergi duluan sementara dia bercengkrama dengan teman-nya. Kemudian tanpa ijin Chuuya, dia duduk di kursi di hadapan Chuuya. "Sedang banyak uang, hmmm?" Nadanya meremehkan.
Wah, ada yang ngajak berantem.
"Diam kau," desis Chuuya. "Kalau bukan karena terpaksa juga ..."
Tapi tidak diselesaikannya kalimat tersebut. Buat apa juga dia meladeni pertanyaan basa-basi Dazai. Alih-alih, Chuuya melayangkan tatapan sengit ke arah Dazai. Kalau di luar wilayah kampus atau waktu kuliah, Chuuya masih berani melawan si cowok playboy, karena tidak ada saksi mata begitu.
"Kau sendiri, ngapain di sini, huh?" tanyanya dengan nada menuduh, seolah Dazai datang ke kafe ini karena tahu bahwa Chuuya akan mampir. Iya, Chuuya tahu kalau itu tidak mungkin, mustahil, impossible, tapi gimana ya ... Dazai ini orangnya memang suka sekali mencari perkara dengan Chuuya, padahal lho Chuuya ngga punya salah apa-apa sama dia. Lagian ini anak udah nyelesaiin tugasnya apa ya, kok bisa santai main-main?
"Suka-suka, dong," jawab Dazai menyebalkan. Dilambaikannya tangan untuk memanggil pelayan. "Memangnya saya butuh ijin darimu untuk datang ke sini?" tambahnya dengan cengiran lebar.
Ya ... nggak sih. Tapi jelas dia butuh ijin Chuuya kalau mau duduk semeja dengannya, Chuuya hendak melontarkan balasan, tapi terpaksa menahan ucapannya karena seorang pelayan wanita sudah berdiri di samping meja mereka.
Dazai secara sengaja berlama-lama menentukan pesanan, menanyakan mengenai rekomendasi pada si pelayan dengan nada seduktif. Dasar, padahal tadi datangnya juga sudah sama wanita lain, sekarang malah tebar pesona sama pelayan. Chuuya hanya bisa geleng-geleng kepala dan mulai mengetik di mesin pencari google mengenai patofisiologi demam.
Sesuai dugaan, internet kafe ini memang bisa diandalkan. Pokoknya tugas ini harus selesai agar tiga puluh ribu-nya tidak sia-sia. Eh, bicara soal tiga puluh ribu, dia belum memesan apa-apa! Ketika Chuuya mendongakkan kepalanya untuk memberi tahu si pelayan tentang pesanannya, rupanya pelayan itu sudah pergi dari mejanya.
"Tadi saya sudah pesankan kamu makanan," kata Dazai menarik perhatian Chuuya. Dengan ekspresi antagonis, menopang dagunya dengan punggung tangan, Dazai melanjutkan, "Tapi kamu bayar sendiri lho ya." Perkataan ini diakhiri dengan sebuah kedipan sebelah mata.
Dan setelah itu Dazai ngeloyor pergi begitu saja dari meja Chuuya. Chuuya hanya bisa menatap kepergiannya dengan melongo—terlalu shock. Begitu shock-nya sampai-sampai ketika dia mengembalikan tatapan pada layar laptop, dia hanya bisa memandangi layar dokumen Microsoft Word yang masih kosong melompong.
Tak lama kemudian, pelayan datang mengantarkan makanan. Jumlahnya membuat Chuuya nyaris terjengkang dari kursi. Spontan dia membuat kalkulasi jumlah tagihan yang harus dia bayar nanti. Fettucini, calamari, club sandwich, dan segelas chocolate milkshake. Ini sih bisa lebih dari seratus ribu! Dan karena makanan yang sudah dipesan tidak bisa dikembalikan, punya pilihan apa dia selain menghabiskan (atau membungkusnya pulang) dan membayarnya?
Da-DAZAAAIII!
Ingin rasanya Chuuya mencari Dazai Osamu, menariknya keluar kafe dan memukulinya sampai babak belur! Tapi yang seperti itu sih pasti akan sampai ke telinga universitas dan membahayakan status beasiswanya. Jadi Chuuya hanya bisa melampiaskan semua amarah pada tugasnya.
Awas saja, Dazai!
Chuuya merutuk dalam hati selagi mengunduh semua essai berbahasa Inggris tentang demam. Setiap kali dia menemukan kalimat sehubungan dengan virus atau bakteri terkait patologis penyakit ini, dia tidak bisa tidak membayangkan Dazai. Lelaki satu itu tuh benar-benar penyakit! Bukan hanya gemar mempermainkan wanita, eh, tukang bully juga!
Pokoknya awas saja!
Setelah beberapa jam berkutat dengan laptop, diselingi menikmati makanan yang tidak dia pesan, akhirnya Chuuya berhasil menyelesaikan tugasnya lewat tengah malam. Setelah merapikan barang-barangnya, dia memanggil salah satu pelayan untuk membungkuskan sisa makanan sekaligus meminta tagihan.
Kebetulan pelayan yang datang adalah pelayan yang sama dengan yang mengurus pesanannya. Pelayan wanita tersebut mengangguk paham atas permintaan Chuuya, dan memintanya untuk menunggu sebentar selagi dia membungkuskan makanan-makanan di atas meja sekaligus mengambilkan tagihan yang diminta.
"Ini tadi sudah dibayar sama temannya, Mas," jawab si pelayan saat kembali dengan makanan yang sudah terbungkus rapi. Di atas kotak makanan ada sebuah struk bertanda lunas.
"Eh?" Chuuya bingung. Bingung dong. Teman yang mana? Satu-satunya teman yang dia temui di kafe ini tadi hanya Dazai. Masa iya sih Dazai yang membayarkannya? Jelas-jelas tadi dia menyuruh Chuuya membayar sendiri. "Yang tadi duduk sama saya? Yang tinggi dan ganteng itu?"
Si pelayan mengiyakan dengan antusias.
"O-oh ...," Chuuya menerima kotak makanan dan tagihan dengan pikiran penuh pertanyaan. Benar-benar, dia tidak memahami Dazai Osamu. Kalau di kampus sok dingin dan cuek—mana pernah Dazai mengajak Chuuya bicara selain satu waktu itu saja?—dan ini sekalinya bertemu di luar kampus, dia malah mengerjai Chuuya.
Setelah mengucapan terima kasih pada mbak-mbak pelayan, Chuuya pun meninggalkan kafe.
Bertemu dengan udara malam yang dingin menggigil, pikiran tentang Dazai langsung hilang. Rasa penasaran sih masih ada, tapi dalam hidup Chuuya masih ada yang lebih penting lagi. Daripada pikiran diisi dengan Dazai, lebih baik dia fokuskan untuk bersikap awas, rumor tentang begal sedang ramai akhir-akhir ini.
Chuuya baru bisa bernapas lega ketika pos ronda kompleks perumahan kosannya terlihat mata. Saat lewat, tidak lupa dia lontarkan sapaan singkat pada pak Taneda dan pak Mori yang menikmati tayangan sepak bola.
Thanks for reading.
Constructive Criticism/review will be appreciated 3
