Stacie Kaniko©
PROUD TO BE PRESENT
THE MISSION
Disclaimer : This Story is mine, all of casts just borrow from Masashi Kishimoto.
SasuHina, slight KakaSaku, SaiSaku
Look at the rating for the warn
No copycat and plagiarize, because it's sinning!
P.s : first action-story. So, anata-tachi dapat menilai sendiri dan memberi masukan jika ada yang kurang sesuai
Chapter 2 : A Little Conversation
"Tidak ada kabar dari dua orang itu?" Pemuda itu berkerut stress.
"Ya, tapi bersabarlah. Sasuke memang sedikit sulit dihubungi karena penyadapan kemarin, tapi Sai baru-baru ini saja." Pemuda dengan rambut hitam yang diikat keatas.
"Cepat cari kabar! Ini tak bisa dibiarkan."
"Tenang sedikit, Neji. Malam ini beberapa rekan dari divisi I, dan II akan dikirim."
"Kau ikut?"
" Masih ada yang perlu ku-urus."
"Kalau kau tak ikut biar aku saja!"
Pemuda berambut nanas itu hanya menghela nafas, "Mendokusai."
*** Stacie_The Mission ***
Di sebuah kamar yang tak begitu megah nampak sesosok gadis berambut Indigo tengah duduk disebuah ranjang. Wajahnya tak berhenti memancarkan raut cemas. Diremas-remasnya kaos putih kebesaran yang ia kenakan. Isi kepalanya monoton, belum berubah sejak ia tiba—kapan pemuda itu datang, dan menyelamatkannya serta keadaan pemuda itu sekarang.
Diseberangnya, berdiri sosok lain; seorang wanita bertubuh langsing. Wanita dengan warna rambut merah muda itu menatap dingin dirinya semenjak tadi—atau mungkin lebih pantas disebut sinis. Diperhatikannya tubuh mungil berisi milik Hinata, dan mendecih.
"E-eh?"
"Terlalu tebar pesona."
Hinata terhenyak dan menunduk, "I-ini..." Gadis itu terdiam memandangi kaos yang ia kenakan. Gelombang kesedihan muncul begitu mengingat wajah pemuda tadi yang begitu tenang.
Pearl-nya beralih memandangi wanita dihadapannya. Hinata sedikit menyipitkan matanya dan memperhatikan perilaku wanita asing yang terlihat cantik itu. Tubuhnya indah dan Hinata begitu menyukai warna mata si rambut permen karet itu.
Hanya saja, wanita asing itu tengah memainkan jari-jarinya diatas benda yang jarang sekali ia lihat; shotgun. Berbahaya dan asing. Hinata tersenyum getir, mungkin hanya dirinya yang sama sekali tak bisa mengenakan senjata di jaman penuh mafia ini.
Pearl-nya menjelajahi wajah wanita cantik itu sekali lagi, ada sesuatu yang mulai ia mengerti dibalik ekspresi dingin itu. Ia menarik nafas, dan mencoba untuk tenang, "Ano—."
"Diam." Emerald-nya menatap tajam Pearl itu, sedangkan sang gadis terus menatap intens sepasang Emerald indah lawan bicaranya. Sakura dapat menangkap gelombang kegetiran sosok dihadapannya-pun mendengus, dan beralih memandang kearah jendela; Langit penuh awan, dengan ribuan tetes air yang bejatuhan menyentuh permukaan bumi. Setidaknya ini hiburan untuknya dalam hari-hari sepinya.
Sedangkan untuk sosok berbalutkan kaos longgar itu terdiam. Dalam hati berupaya meyakinkan perasaannya dan berusaha lebih percaya diri. Ia tak bisa tinggal diam. Ia harus bergerak. Ia harus melakukan sesuatu yang berguna. Setidaknya ia harus mencoba.
Perlahan ia berjalan menuruni ranjang menghampiri wanita cantik itu. Sedangkan wanita itu menatap kesal, dan mengangkat shotgun-nya,
"Berhenti di sana."
Gadis itu terus berjalan, mengabaikan ancaman berbahaya hingga bibir shotgun menempel di dadanya. Ia berhenti, dan menatap wajah mungil sosok dihadapannya itu. Sedikit terkesiap sebelum pada akhirnya tersenyum lembut, "sou, kirei neesan."
"Kau bukan imouto-ku, jangan memanggilku sebutan aneh!" Dahi wanita itu mengernyit tak suka, "Kembali ketempatmu, pendek!"
Hinata tersentak, hatinya bergetar takut namun dengan cepat ditepisnya. Ia tak mungkin terbunuh sekarang—setidaknya ia seorang sandera sampai detik ini. "Tapi aku ingin punya seorang anesandari dulu," Rona merah menjalari pipi chubby-nya. Gadis itu berusaha tersenyum tulus.
Sakura terdiam, bukan karena pujian itu. Selama ia hidup, pujian cantik selalu menemaninya, tapi senyuman tulus itu...
Hanya kedua orang tua dan seseorang yang pernah memberikannya.
Cepat-cepat wanita itu mendelik tajam, "Cih, kau mau merayuku lalu keluar dari sini? Maaf saja."
"Iie," gadis itu berjalan mundur, dan duduk ditepi ranjang, "aku memang sangat ingin keluar dari tempat asing ini, tapi bukan dengan cara merayu." Ia berkata lirih, senyum ironi terukir samar kala Pearl-nya memandangi telapak tangannya.
"Maksudmu?"
Gadis Hyuuga itu mengangkat dagunya sesaat dan terdiam, "Seseorang telah berjanji padaku," Hinata berusaha mengingat, Pearl indah itu menerawang. Seulas senyum hangat terukir tanpa ia sadari, "ia bilang akan menjemputku. Tapi, karena itu aku merasa tak berguna. A-aku... ingin pergi dari sini, setidaknya aku akan berusaha."
Sakura tertawa sesaat, kenapa dengan gadis dihadapannya? Pernyataannya tadi seolah-olah menyatakan jika ia tengah memainkan drama kanak-kanak—atau mungkin drama romans picisan. "Kau terlalu banyak bicara, mungkin waktu-mu sudah tak lama lagi. Jadilah lebih rasional, ini bukan drama anak-anak, sayang."
"Sou ne?" gadis itu kembali ketempat semulanya, bersandar dikepala ranjang.
"Kenapa?" Emerald-nya kosong dan melanjutkan, "Kau takut mati, kan?" tak ada penekanan pada gumaman-nya.
"Kalau kupikir-pikir, mati seperti itu memang tak menyenangkan. Namun, ada beberapa hal yang akan-ku peroleh," ia mengangkat wajahnya—memandangi langit-langit kamar dan menerawang, "Tak perlu membayar tebusanku, setidaknya beban keluargaku sebagian terangkat. Dari TV aku belajar beberapa hal; orang-orang asing seperti kalian akan melakukan pemerasan yang tak berperasaan." Ia menunduk sesaat dan berpikir lebih bebal. "Orang tuaku akan berhenti mencemaskan dimana aku berada,
"Hanabi masih memiliki Neji-nii, setidaknya ia tak perlu merasa kehilangan aku. Juga... Sasuke dan Sai-kun, mereka tak akan bersusah-payah menjemputku." Ditutupi Pearl-nya menggunakan kelopak mata, rasanya ia ingin sekali berteriak begitu merasakan dadanya yang sesak yang aneh begitu mengingat wajah pemuda stoic itu.
Dan mengapa ia tiba-tiba jadi terbawa perasaan seperti ini? Bukankah niat awalnya adalah untuk bisa melarikan diri?
Ah, sepertinya aku memang lemah. bahkan hati pun seperti itu.
Sakura tak begitu mengharapkan perkataannya yang terbilang naif, namun ekspresi-nya sontak berubah menjadi keterkejutan kala mendengar gadis itu menyebutkan sebuah nama—tak bertahan lama. Ekspresinya kembali kosong, sedikit lupa akan caranya berespirasi.
"Hei gadis lavender,"
"Eh?"
"Kenapa kau menghawatirkan mereka?" Layaknya kalah dalam pertarungan gunting kertas batu, wanita berambut cerah itu beralih pandang ke arah sang lawan. Wajahnya mengernyit tak suka menyadari ia menerima topik yang diajukan sang sandera.
Sesaat gadis itu terdiam, tapi tak lama ia tersenyum sedih, "Perlukah alasan?" Pearl-nya lurus menatap Emerald, "U-um... A-ku sendiri tidak tahu. Tapi yang pasti, hatiku sakit jika melihat mereka sakit karena aku. Tak ada yang suka jadi penyebab masalah, kan?"
"Naif." Wanita Emerald itu mendesah dan memasukan shotgun-nya pada kotaknya. Tak lama, ekspresinya kembali dingin—atau bisa dibilang hampa.
"Neesan," ia terdiam sesaat— tampak berpikir, "boleh aku tanya sesuatu?"
"..."
"Neesan?"
"Apa?"
"Apa… yang membuat neesan… sampai seperti ini?" Pearl-nya menatap intens wajah wanita itu, dilihatnya bahwa Emerald orang yamg disebut kakak olehnya itu tidak memancarkan cahaya.Emerald-nya, redup.
"Apa?"
"Neesan terlihat... Begitu lelah dan sedih."
"Bukan urusanmu."
"Kita kan sesama perempuan, kata okaasan-ku, perempuan akan merasa lebih baik jika bercerita pada sesamanya."
"... Apa pedulimu?" wanita itu mendelik tak suka. 'Gadis ini gila.'
Hinata terdiam, sebagian dirinya merasa konyol kala mengingat ia dapat menyulut kemarahan sosok berbahaya ini kapan saja. "Karena neesan—," Namun, sebagian hatinya tak menyukai ekspresi dari wanita yang lebih tua dihadapannya itu , "—dan aku sesama perempuan. Neesan juga terlihat kesepian."
"Aku, hanya bosan hidup saja."
"U-uh?"
"Bukankah kau juga sama? Kau juga ingin mati, kan?"
"Memang, tapi di-sisi lain aku belum bosan hidup," Gadis itu meremas kaosnya.
"Plin plan. You must take your goal, life for choice."
"I know." Senyum mirisnya kembali terukir. " However, it feel so difficult to lost people who I love too much." Ia tersenyum sedih, dan kembali melanjutkan, "If the fate of me is worse, I'll give up. But, I'll not making an end of myself with two hands,
"Sebelumnya, aku benar-benar ingin mati, bahkan bunuh diri. Tapi aku teringat, bahwa Kami-sama masih ada dan akan sangat berdosa jika mencabut nyawa sendiri."
Wanita itu mengalihkan pandangannya, rasanya cukup kesal. Ia tak ingin kalah, namun yang dikatakan gadis dihadapannya itu benar—dan ia benci itu.
"Tak apa?" gadis itu menatapnya lambat-lambat, berusaha menganalisa di mana letak kesalahan perkataannya.
Haruno Sakura bangkit dan berdiri menghadap jendela kaca, dipandanginya ribuan air yang menciptakan melodi penenangnya. Sebesit pertanyaan mengganjal pikirannya, "Siapa itu Sasuke dan,—" ia menahan nafas, "—Sai?"
"A-aku juga tidak tahu, sih sebenarnya," ia menggaruk pipinya yang tak gatal, "mereka orang baru dalam hidupku, tapi entah kenapa aku... senang." Ia terkekeh dengan rona merah dipipinya untuk sesaat, "mereka pemuda yang mengerikan, tapi aku rasa mereka tidak jahat." Hinata menganggukkan kepalanya seolah-olah menyetujui apa yang ia pikirkan.
"Uh?" Emerald itu terlihat sedikit tertarik. Ditolehkan sedikit kepalanya dan melirik dengan hati-hati. "Senang?"
"Ne, mereka yang menculikku. Rasanya aneh mengingat mereka memberiku makan tepat waktu—uh, maksudku itu Sasuke." Pipi gadis itu memerah.
"Sasuke?" Emerald-nya memperhatikan gerak gerik gadis itu, berusaha mendapatkan sudut pandang lebih leluasa, ia berbalik dan bersandar pada dinding seraya melipat kedua tangannya.
"I-iya" Hinata menggigit bibirnya, "entah perasaan seperti ini muncul, baru-baru ini juga."
"Sasuke itu... Seperti apa?"
Hinata terdiam sesaat, "Um, awalnya ia sangat menyebalkan. Dia pemuda yang dingin dan mengerikan. Walaupun masih muda tapi keahlian di bidang senjatanya hebat—tapi itu 'sih menurutku,
"Baru-baru ini aku tersadar, walaupun ia selalu mengancam dan jarang berekspresi itu, tapi ia tidak jahat. Bahkan, ia belum pernah melukai-ku, padahal aku suka membuatnya kesal,
"Dia pemuda yang tampan," matanya terus menerawang, membayangkan wajah pemuda itu, dan tersenyum malu, "tapi yang lebih menarik perhatianku, dia baik, dan... Perhatian. Kurasa begitu."
Wanita itu terlihat menyimak, ditatapnya intens wajah gadis dihadapannya sampai membuat gadis itu keheranan.
"Omae... Sasuke itu pacarmu?"
Pong~
Wajahnya merona sepenuhnya dalam dua detik. "A-a-aah? P-p-pac-ar? Ti-tidak, bbuka-n kok buk-kan." Gadis itu menggerak-gerakan tangannya cepat dan menggeleng.
"Masa?"
"U-uh, dia penculik. L-lagi pula mungkin ia me-membuatkan makanan a-atas perintah boss-nya." Ia menunduk, memainkan dua jari telunjuknya.
"Jadi, kau menyukainya?"
"T-tidak... Tahu."
"Dadamu terasa sesak yang aneh, sedikit gugup kalau bersamanya, dan senang jika menghabiskan waktu bersamanya. Iya, bukan?" ia menatap sosok diatas ranjang itu remeh, sedikit seringaian muncul diwajah cantiknya.
"I-iya. M-memangnya itu p-perasaan a-apa?"
Wanita itu mengangkat bahu dan menatap bosan, "most people said, fallin' in love."
*** Stacie_The Mission ***
"M-mustahil, aku s-sudah suka seseorang."
"Siapa?"
"Uh~ namanya Naruto." Gadis itu memainkan kedua telunjuknya.
"Apakah perasaanmu pada Naruto dan Sasuke sama?"
"Uh~ sedikit sih."
"Mana yang lebih kuat?"
Hinata terdiam, mengapa topinya bisa beralih kemari? "Uhh nee, aku malu." Ia menggigit bibirnya.
"Sou, aku tahu yang mana yang lebih kau suka." Sakura tertawa miris, kenapa ia jadi keasikan ngobrol dengan gadis aneh ini, sih. Ia menguap sesaat dan tersenyum tipis, 'anggap saja hiburan, ne, Haruno Sakura?'
"Eeh... Sou ne?" Pearl-nya menatap cemas Emerald yang tak terlihat serius itu, serta seringai tipis dibibir wanita itu. Hinata ikut tersenyum, "Neesan benar-benar cantik. Sering-seringlah berekspresi."
Wanita itu terdiam sesaat, "Ah?"
Gadis itu mengangguk cepat, dan menatap bersemangat.
"Apakah orang lain akan senang melihatku tersenyum?" ekspresinya berubah masam.
"Tentu, nee!" Gadis itu tersenyum lebar hingga gigi putihnya terlihat.
"Berhenti membual." dan sekarang ia merasa bodoh mau saja mengobrol dengan sanderanya.
"Aku jujur!"
Emerald-nya terlihat ragu, tak lama ia mencoba menaikan kedua sudut bibirnya—persetan dengan segalanya, 'Sai-kun, apa kau tengah melihatku, sekarang?'Sakura tertawa lagi, pelan dan masam.
"Kireina! Sekarang, ceritakan tentang neesan, agar senyum nee bisa lebih leluasa dan tidak tertahan." Hinata mengepalkan kedua tangannya didepan dada, terlalu bersemangat hingga tak menadari ia telah membusungkan tubuhnya kedepan.
"U-uh?" Wanita itu terdiam sesaat. Merasa sangat bodoh, tetapi hati kecilnya mengerang, ia benar-benar tak tahan untuk menahannya lebih lama.
"Neesan baik-baik saja?" Gadis itu terlihat cemas melihat Emerald itu kembali kosong.
'Apa peduli-nya yang akan mati itu, tak akan ada yang berubah.
Sama-sekali tak ada.'
"Dulu, aku juga punya seseorang yang sangat kusukai. Dia satu-satunya orang yang kuanggap keluarga, juga orang yang sangat kucintai."
Emerald-nya menerawang.
Berawal dari panti asuhan yang sama…
Dan peretemuan pertama…
Siang hari dimusim semi. Sosok gadis kecil dengan pakaian musim seminya tengah duduk dibawah pohon Sakura yang rindang. Manik Zamrud-nya tak henti memandangi kelopak bunga yang berterbangan tertiup angin.
Sesekali dicobanya untuk mengangkat lengan, menggapai kelopak bewarna merah muda itu. Hal yang bertahun-tahun tak pernah luput dari perlakuannya. Menggapai kelopak bunga Sakura sebelum terjatuh ke tanah.
Tak jauh darinya para bocah kecil bermain sepak bola dengan riang, hari yang ramai oleh suara anak-anak. Selalu seperti ini keadaan Mother's House—panti asuhan yang terletak di Kanagawa.
Manik Zamrud-nya beralih memandangi sekitar, tak ada yang menarik baginya. Segalanya Nampak biasa-biasa saja—terlalu normal, terlalu sering dilihat, tak ada yang spesial.
Bosan, ia bangkit dan berjalan-jalan. Kakinya berhenti kala mendapatkan objek baru—sosok anjing kecil milik panti.
Dengan cepat ia berjalan kearah anak anjing itu dan berjongkok, "Kamu anaknya Rei-chan, ya?" sambil memandangi bulu coklat si anak anjing, gadis kecil itu mulai mengelus kepala kecil itu dengan hati-hati. "Mau main denganku?"
"Boleh saja."
Gadis berambut merah muda itu tersentak dan memutar kepalanya, terkejut mendapati sosok Albino yang tengah berdiri dibelakangnya. "Hee..?"
Sosok berkulit Albino itu tertawa dan tak berkata apapun.
Tentu saja hal aneh untuk sang gadis kecil, bagaimana bisa sosok lelaki itu muncul dan tertawa tanpa berkata apapun, belum lagi kulitnya yang menyeramkan seperti hantu membuatnya makin mengernyit.
Sang albino menyudahi tawanya dan tersenyum, "Halo, wajahmu lucu."
Pernyataan tak terduga itu membuatnya kesal. "Wajahmu seram!"
Anak kecil itu tetap tersenyum, "benarkah? Apa kau takut?"
"Kamu itu menyebalkan, tahu." Gadis kecil itu menggerutu, tak tahu harus menjawab apa. Merasa risi, ia menampik pertanyaannya, "Kalau mau main denganku, kamu gak boleh nakal dan sebutkan nama terlebih dahulu!"
"Sou sou, Orang-orang menyebutku 'Albino' atau 'Anak aneh'. Menurutmu, mana yang lebih cocok untukku?" wajah tanpa dosanya terlihat santai, walau dari matanya ia terlihat sedikit kesal.
Dan gadis kecil itu terdiam, juga merasa simpati. "menurutku kamu sedikit baik—," sesaat iris Emerald-nya menangkap tatapan 'Benarkah?' dari sang bocah albino dan cepat-cepat melanjutkan, "dan menyebalkan."
Kembali bocah berkulit Albino itu terkekeh dan menatap sosok dihadapannya senang. "Mau main denganku, merah muda?"
"Dia juga berasal dari panti asuhan yang sama sepertiku. Dia orang yang benar-benar perhatian, dan membuat hatiku hangat kala aku ketakutan, dia... Benar-benar sempurna dimataku,
"Semakin besar ia semakin tampan, sampai kami berada di sekolah menengah senior. Ia pintar dan ramah. Bahkan aku selalu tersipu begitu melihatnya tersenyum,
"Kami, akhirnya pindah, mencari apartemen murah, dan hidup berdua. Rasanya, sangat menyenangkan saat itu, walaupun kami sering kesulitan uang dan harus kerja sambil sekolah,
"Kami makan seadanya, tapi terasa nikmat. Dia juga terus bekerja keras agar kami bisa makan makanan lezat. Katanya," wanita itu terdiam sesaat, Emerald-nya basah tanpa disadari, "ia kenyang walau hanya melihatku makan banyak, dan bergizi.
"Aku tak mau kalah, terus menerus aku belajar demi hadiah uang tiap satu semester. Setiap semester, kami suka pergi ke pantai dan makan seafood. Katanya, Seafood itu penting untuk tubuh. Tapi dia hanya makan sedikit, bukannya itu curang?
"Aku juga bekerja, walau menjadi guru privat anak-anak sekolah dasar, pendapatanku tak cukup besar karena aku hanya mengajar anak-anak yang kurang mampu, tapi setidaknya aku bisa membantunya,
"Setelah kami lulus, kami mulai mencari pekerjaan lain. Aku dan dia akhirnya bekerja di sebuah bar. Awalnya ia tak setuju aku bekerja di tempat yang penuh orang-orang aneh seperti itu, tapi akhirnya setelah aku memohon siang malam, ia menerimanya dengan berat hati.
"Shift kami berbeda; aku siang dan dia malam. Aku hanya seorang bartender sedangkan dia menjadi pekerja pembersih ruangan. Setidaknya, gaji kami cukup lumayan. Makan untuk hari demi hari juga makin ter-arah, tak lagi mengonsumsi junk-food.
"Namun aku tersadar, Ia sedikit berubah hari demi hari—lebih introvert—dan pulang dini hari. Bagaimanapun, seharusnya jam 11 malam dia sudah pulang. Aku cemas, wajahnya juga menunjukan raut lelah hampir setiap pulang kerja,
"Sampai suatu hari, ia pulang dalam keadaan mabuk. Aku tak tahan lihat wajah tak berdaya-nya. Aku, benci alkohol walau seorang bartender. Rasanya ingin sekali marah melihatnya minum, tapi aku tak tega melihat tubuh tanpa daya-nya malam itu.
"Sekuat tenaga kubawa dia keranjang kamarnya,—membaringkannya. Beberapa kosakata ia lontarkan tak jelas, yang hanya bisa kutangkap hanya kata 'maaf', dan namaku sendiri,
"Aku tak habis pikir, tangannya tiba-tiba merengkuh wajahku dan menciumiku ganas. Dia adalah orang yang kuat menjaga iman. Kami bahkan sering pergi ke kuil untuk sekedar berdoa bersama. Selama 19 tahun kita bersama, sejauh-jauhnya perlakuan fisik yang ia berikan hanya pelukan mesra, namun malam itu, tangannya entah disadari olehnya atau tidak bergerak sembarangan, menjelajahi tubuhku—itu kenangan yang mengerikan,
"Cepat-cepat aku kabur kekamarku dan bergegas tidur. Esok paginya aku marah besar padanya dan mengabaikannya seharian. Ia mengaku bahwa tidak ingat perlakuan 'aneh' yang diberikannya padaku semalam. Kuputuskan untuk memaafkannya,
"Dua hari kemudian, ia pulang pagi hari. Aku curiga padanya, apa yang ia lakukan sampai tidur di luar. Karena itu, esok harinya aku meghampiri bar itu tengah malam. Teman-temannya berkata bahwa ia tadi menemui seorang wanita, dan sekarang tidak kelihatan." Air mata mulai menuruni pipi wanita itu.
Hinata terdiam, rasanya sedih, dan kesal bercampur. "Jahat sekali, lalu?"
Wanita itu menarik nafas dalam dan melanjutkan, "saat aku melewati lorong kamar penginapan, seorang pemuda yang aku kenal menyapaku. Begitu kutanyakan apakah melihat dia, pemuda itu berkata enggan bahwa wanita yang bersama dia tengah menyewa kamar,
"Aku memaksanya memberitahuku kamarnya dan meminjam kunci, kuabaikan liquid yang tidak rasional menitik dari mataku. Berusaha menenangkan hati, berkata bahwa mungkin ia tengah berdiskusi penting,
"Yang jelas mataku terbelalak begitu melihat pemandangan yang tersungguh begitu aku memasuki kamar itu," wanita itu menekan telapak tangannya didepan mulut, berusaha untuk tidak terisak sedangkan Hinata berdoa agar pikiran buruk dikepalanya hanya sebuah khayalan bodoh.
"Jelas-jelas aku lihat ia tengah menyatu dengan wanita lain! Wanita itu kaget begitu melihatku, sedangkan dia... Ia menatapku bingung, berusaha mempertajam penglihatannya, seolah-olah hanya melihat halusinasi,
"Tubuh pucatnya yang basah oleh keringat berkilauan diterpa cahaya lampu kamar—oh! yang bahkan belum pernah kulihat posenya itu—. Juga ekspresinya... Seolah-olah tidak mengenalku. Dengan datarnya ia berkata, 'bisakah anda pergi? Ini privasi.
Dengan kuat kulempar kunci itu di lantai dan memutar tubuh. Tubuhku yang limbung nyaris jatuh begitu menubruk temannya yang juga tercengang di depan pintu,
"Aku tak ingat naik bis apa, yang jelas semuanya nyaris blur begitu air mata terus mengalir tanpa henti. Aku tertawa, mengingat semua kenangan yang pernah ia berikan padaku,
"Tapi meski tertawa, hatiku tetap sakit. Bahkan bersamaku, ia belum pernah melakukan itu semua. Yang jelas aku turun dan berjalan meninggalkan halte bis tanpa mempedulikan arus jalan ataupun arah,
"Kakiku membawa diriku ke apartemen kami, setidaknya aku bersyukur, tidak buang-buang uang demi membayar bis lagi. Yang jelas, semalaman itu aku tak bisa memejamkan mata dengan tenang,
"Pagi harinya ia pulang, tubuhnya bersih, tak ada keringat atau sebangsanya, tapi aku tahu, pasti ia telah mandi. Tatapannya cemas begitu melihatku layak monster, juga tatapan takut akan sesuatu yang tak dapat ia sembunyikan dari matanya.
"Rambutku kusut dengan mata panda yang berair. Aku menatapnya kecewa, sesungguhnya ini benar-benar sakit. Ia bertanya ada apa denganku dan dengan teriakan histeris aku jawab bahwa aku melihatnya bercinta dengan wanita lain.
"Ia membatu, aku tak sanggup menjadikannya sebagai objek visualitasku." Sakura menghela nafas, dan menghapus air yang turun dipipi-nya. Ditatapnya gadis dihadapannya dengan kesal, "Mengapa aku menceritakannya padamu dan harus seemosional ini?"
Hinata berusaha merubah ekspresi tercenungnya, "E-eh, eto… bagaimana kelanjutannya, neesan?"
"Kau senang, ya mendengar kisah yang berakhir ironi?" pertanyaan tanpa minat itu teredengar seperti pernyataan ditelinga gadis berambut Indigo itu.
Ia tersentak dan menunduk, merasa paling jahat menyadari bahwa ia telah memaksa seseorang menceritakan yang tak ingin diingat, "A-ano saa—."
"Aku marah besar dan pergi dari apartemen itu, persetan dengan larangannya. Tiga bulan aku tinggal disebuah kontrakan kecil berukuran dua petak.
"Tak bisa kupungkiri bahwa aku merindukannya. Dalam diam kukenang wajahnya, senyum hangatnya, tangan kekarnya kala mengelus kepalaku, dan tawa riangnya yang membuat hatiku hangat,
"Jelas, aku merasa kesal dan senang menyadari aku merindukan dan tidak membenci Sai." Wanita itu kembali melanjutkan tanpa minat. Walau tak dapat dipungkiri bahwa sedikit kelegaan ia dapatkan sekarang.
"S-sai?"
"Lelaki sialan tadi, mungkin umurnya sudah 23 tahun sekarang," senyuman itu terlihat sedih.
"E-etoo—."
"Aku mencarinya ke apartemen, tapi katanya ia sudah pindah satu bulan setelah aku meninggalkannya. Kutanyakan pada teman-timannya di bar pun mereka tidak tahu, ia telah berhenti.
"Aku bingung mencarinya kemana. Memang egois, tapi siapa yang peduli. Selama setengah bulan aku mencari dan akhirnya menemukan pemuda yang seingatku teman lamanya,
"Pemuda berambut nanas itu menguap, dan berkata santai, 'dia sudah tidak ada disini.' Emosiku melonjak begitu saja. Aku bahkan berteriak didepan wajahnya, tapi ia mengulangi ucapannya,
"Aku bertanya padanya dimana Sai berada, katanya 'jauh dari sini.' Aku pergi meninggalkannya, dan mendatangi tempat-tempat yang sering ia datangi, berusaha tidak percaya.
"Tapi pada akhirnya aku benar-benar kehilangannya. Semenjak saat itu aku merasa hidupku tak ada artinya, aku sudah tak perduli pada apapun lagi, tapi aku teringat sesuatu,
"Jinx lady, wanita pembawa sial itu harus rasakan sakit-ku. Hati semakin gelap, dendam terukir jelas di hati dan pikiranku. Wanita berambut hitam panjang yang telah mengambil orang yang kucintai.
"Malamnya aku pergi ke bar bermasalah itu, bukan untuk mencari lagi. Tapi untuk minum. Tak perduli pada rasa benciku teradap alkohol. Yang terpikirkan malam itu hanya, bagaimana aku harus menghilangkan beban ini dan memulai misi baruku esok pagi.
"Minuman itu membuatku kehilangan akal sehat, aku tidak ingat lagi sampai suatu pagi, aku terbangun disebuah ranjang hangat dan nyaman. Rasanya ada yang aneh dengan diriku,
"Sakit, dan pegal bercampur menjadi satu. Dan satu hal yang mengerikan adalah ketika mendapati sebuah tangan kekar memelukku yang hanya tertutupi selimut tebal.
"Rasanya sakit; hati, dan fisik menyadari dirimu telah kehilangan kesucian dan yang terburuk adalah mengetahui orang itu bukanlah orang yang kau cintai.
"Aku kehilangan semangat hidup mulai detik itu, terdiam menunggu sosok lelaki disampingku terbangun, dan melepaskan tangannya itu." Wanita itu tersenyum hambar.
Tanpa gadis itu sadari, air matanya telah menetes sejak tadi, begitu mengetahui cerita wanita dihadapannya. "N-neesan hiks."
Wanita itu memandang getir gadis dihadapannya, namun tetap melanjutkan. "Lelaki itu bangun dan melepaskan pelukannya. Saat itu, rasanya aku membenci dunia, merasakan perasaan jijik luar biasa pada diriku sendiri.
"Hanya menangis tanpa isakan. Lelaki disampingku hanya menatap dalam diam sebelum akhirnya kembali memelukku dan menciumiku. Dadaku berdetak kencang dan desahan mulai terdengar begitu merasakan lelaki ini tidak lagi menciumku perlahan. Dua sisi bergejolak, antara meronta melepaskan diri atau pasrah saja. Kupilih untuk pasrah, begitu wajah Sai muncul di kepala. Aku tak punya tujuan hidup lagi," ia terkekeh tanpa minat, "dan tidak sepertimu yang masih mengingat kami-sama.
"Untuk pertama kalinya, aku merasakan bersetubuh. Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai Hatake Kakashi. Sampai sekarang aku tak pernah—bahkan tak ingin mendengar kisah sesungguhnya pada malam disaat aku mabuk.
"Ia bertanya dimana aku tinggal dan kuberi tahu. Tak ada lagi yang perlu diperjuangkan untuk saat itu. Menyedihkan sekali, tak bersemangat hidup karena kehilangan cinta. Tapi siapa yang peduli.
"Lelaki itu terus mendatangi kontrakanku tiap hari, membawakan makanan atau lainnya. Aku makan jika ia memberi perintah. Tidur jika ia memaksa. Aku hidup... Layaknya seorang boneka milik Kakashi. Sampai suatu saat, anak buahnya datang kekontrakanku ketika Kakashi sedang berada disana. Kakashi sengaja membuat perintah pada mereka dihadapanku.
"Setelah mereka pergi, Kakashi menceritakan siapa dirinya sebenarnya. Aku bahkan sempat tak menyangka, seorang Pemimpin mafia dapat bersifat perhatian seperti itu—sampai sekarang aku menganggapnya tolol.
"Aku tanya padanya kenapa ia sengaja membuka kedoknya dihadapanku. Ia menjawab bahwa ia bisa mempercayaiku—well, hanya itu. Ada saja orang tolol yang kuat yang mudah percaya padaku. Tiba-tiba aku teringat pada dendamku dengan jinx lady.
"Aku memohon padanya agar aku bisa masuk kekelompoknya dan mengajarkanku menggunakan senjata. Akhirnya permohonanku disetujui setelah aku menunggu keputusannya selama hampir satu tahun.
"Aku, sebenarnya lebih menyukai machine gun, tapi aku lebih ingin melihat kepalanya pecah, karena itu aku pilih shotgun." Wanita itu menyisir helaian rambut panjangnya dengan jari.
Hinata tersenyum ngeri, "l-lalu... Nee sudah menemukan... 'The Jinx lady'?
"Tentu! Karena itu, sudah tidak ada lagi tujuanku."
"... Bagaimana rasanya... Melihat k-kepala y-yang—," sesaat ia menarik nafasnya dalam, "—pecah?" tak disadari bahwa tangan pucat Hinata sudah gemetar.
"Awalnya merasa puas, tapi lama-lama merasa hambar."
Hinata memandangi seprai kasurnya, membayangkan bagaimana jika ia atau Sasuke tadi dibuat retak kerangka kepalanya oleh gadis berambut panjang itu—langsung ia bergidik ngeri.
Sementara itu, percakapan ringan mereka juga terdengar di sebuah ruangan lain. Lelaki berambut perak itu duduk bersandar pada kursi kebesarannya dengan kedua jari kanannya yang tertempel ditelinga dan mendengarkan seksama.
Di telinga kanannya, tertempel alat cukup kecil, penghubung dari penyadap yang ia selipkan pada pakaian wanita itu.
Matanya yang sejak tadi terpejam akhirnya terbuka, menunjukan sarat yang sulit dimengerti.
Ia sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.
*** Stacie_The Mission ***
"Neesan, tadi kau menyebut namanya, kan? Aku jadi penasaran, nama keluarganya?"
"Dahulu Haruno. Karena dengan begitu kami cukup mudah untuk tinggal bersama."
"Hmm, Sai itu... Ciri-cirinya seperti apa?"
"Hmp, Untuk apa?"
"E-eto, hanya penasaran saja." Ia memainkan jari-jarinya.
"Tubuhnya tinggi, irisnya hitam pekat dan datar seperti batu, serta kulitnya—."
Clek.
"Berdiskusi?" Lelaki bermasker itu menatap lekat wanita dalam ruangan itu.
"Pergilah Kakashi—."
"Kau belum pernah menceritakan sejarahmu padaku."
"Apa itu pe—."
"Penting untukku."
Wanita itu menatap iris hitam lelaki itu bosan, "kenapa kau menggangguku?"
Lelaki itu diam, tapi matanya menatap tajam, hal yang jarang terjadi. Sedikit membuat wanita itu bingung dalam hati, tapi toh ia tak terlalu mau memikirkannya.
"A-ano, m-maaf memotong pemb-bicaraan kalian, t-tapi—,"
"Diam."
"Lanjutkan, lavender."
"E-eh?"
Wanita itu memalingkan wajahnya dan menatap Hinata, "Kenapa?"
"I-itu... P-pemuda ya-yang bersamaku j-j-juga tinggi, b-bermata onyx, d-d-dan berkulit... Albino—."
Crek.
Sebuah Tokalev ditodongkan tepat pada dahi gadis itu. Untuk sesaat, ia merasa takut. Namun, rasa itu tak bertahan lama. Ia menarik nafas perlahan, dan menenangkan diri.
"Kakashi, stop."
Nada pria itu rendah, "Tak seharusnya kau mencerikan itu semua pada gadis tak dikenal."
"Aku tak peduli, kau akan bermasalah jika gadis ini terluka sebelum waktunya."
"Nevermind." Lelaki itu perlahan menggerakan jarinya, semakin erat menggenggam, dan bersiap menarik pelatuk.
"Kakashi, berhenti!" Wanita itu berlari, dan mengambil shotgunnya, "dia mati, aku juga."
Lelaki itu terdiam, tak lama ia lontarkan tatapan tajamnya pada wanita berambut merah muda itu, "cukup! Mulai hari ini, kau bukanlah anggotaku."
Sesaat wanita itu terkejut, tapi hanya sesaat karena pada akhirnya tatapan keterkejutan itu berubah menjadi tatapan senang, tak lama ia tertawa histeris. "Yokkata! Kau jinx boy, setelah hancurkan aku kau buang."
"Turunkan senjatamu, Haruno. Aku punya sandera."
"Shit! Coba saja, aku akan memecahkan kepalamu, ex-chief."
Lelaki itu menarik kasar pergelangan gadis berambut indigo itu dan melilitkan lengan panjangnya dibahu gadis itu, juga dengan Tokalev yang sudah setia telah menempel di pelipis.
Sakura mendekat perlahan, tak sedetikpun senjatanya ia turunkan, atau tatapan tajamnya ia palingkan dari lelaki berambut perak itu, "stop it—."
DOR!
Prang!
Satu tembakan tokalev memecahkan jendela dibelakang sang wanita, bunyi nyaring itu langsung diiringi jerit shock gadis berambut ungu itu. Cepat-cepat ia meronta untuk dilepaskan.
"Turunkan senjatamu, Haruno. Ini. Peringatan. Terakhir."
Gadis itu tak tahan, tanpa pikir panjang rentetan gigi putihnya langsung ditancapkan dilengan kekar sang 'lelaki berbahaya yang lain'. Rasa sakit dari gerakan reflek tentu saja ia dapatkan.
Dengan cepat Kakashi melepas rangkulannya, ia menatap tajam gadis yang tengah naik keranjang itu tajam, tak lama ia todongkan tokalev-nya.
Crek.
DOR!
Wanita yang hanya mematung tadi akhirnya melesatkan peluru-pelurunya pada Tokalev itu. Dengan cepat benda besi itu terpental, sedikit luka bakar ditangan kanan lelaki itu menunjukan berbahayanya senjata yang gadis itu pegang.
Gadis yang menonton itu hanya membulatkan matanya tak percaya, cepat-cepat ia mengambil bantal dan memeluknya.
"Kubilang tidak. Sekarang mundurlah, aku mau pergi." Suara dingin wanita itu mengalun ditengah suasana hening mencekam itu.
Lelaki itu mendengus dan berbalik berhadapan dengan sang wanita, "what?"
"Tentu saja menemui—"
"Brengsek bernama Sai itu?"
"Tutup mulutmu!" Wanita itu menatap garang, "lagipula kebiasaan menguping mu tak pernah hilang, ya—Aakhh..."
Lelaki itu berjalan cepat ketika wanita itu berbicara, diabaikannya tatapan waspada wanita yang tengah mengeratkan senjatanya. Dengan cepat tangan kanannya memalingkan bibir benda berbahaya itu kelangit-langit kamar, sedangkan tangan kirinya bergerak menohok perut wanita itu dengan kepalan tangannya.
Pekikan mencicit itu terdengar lalu disusul dengan melayangnya tubuh wanita itu keatas ranjang. Lelaki itu dengan cepat melemparkan shotgun itu kearah luar dari jendela yang pecah.
"How dare you, Kakashi!" Wanita itu mendesis tajam dan cepat-cepat terduduk, sedangkan gadis dibelakangnya telah menjatuhkan bulir-bulir liquid dari bola matanya karena ketakutan.
Truly, gadis itu tak tahu harus berkata apa. Tentu saja ia tak tega melihat wanita berambut merah muda itu, akan tetapi tingkah Kakashi masih membuatnya mematung ketakutan.
"Jangan bergerak!"
Tanpa mempedulikan ujaran bernada lantang itu, Sakura turun dari ranjang dan berjalan cepat ke arah pintu. Tentu saja, lelaki bermasker itu dengan cepat mencegah.
"Move, Kakashi!" Emeraldnya menyala-nyala menatap Iris milik Kakashi.
"Never."
Wanita itu terus menentang Kakashi dan berusaha mencari celah, namun tak kunjung mendapatkannya. Letih karena terus menjerit dan menghentakkan kepalan tangannya pada lelaki itu, akhirnya ia berjongkok dan terdiam.
Tak lama, isakan mulai terdengar dari kamar itu. Lelaki itu akhirnya melirik kearah wanita itu, "Stupid."
"...Biarkan aku keluar." Hanya alunan kalimat yang terdengar lemah.
"…"
"Biarkan aku bertemu Sai-kun, hiks."
"Kau..." Sesaat lelaki itu memejamkan matanya, berusaha menahan amarah, "Tak bisa."
Wanita itu akhirnya berdiri perlahan dan menatap dada pria dihadapannya sendu, "biarkan aku, Kakashi."
"No."
"Kakashi... Kumohon." Wanita itu mengadah untuk menatap langsung pria dihadapannya, Emerald-nya yang sendu itu basah, hidungnya merah, dan bibirnya bergetar.
Tentu saja lelaki itu mengerti keinginan wanita itu untuk bertemu dengan lelaki yang ia sebut sejak tadi sangatlah besar. Bahkan seumur hidupnya, wanita ini hanya pernah memohon dan merendahkan diri ketika awal ia meminta diajari memakai senjata dan sekarang ini.
"Kau percaya begitu mudah."
Wanita itu terdiam, kembali ia menatap dada lelaki itu. Sesaat ia memejamkan Emerald-nya erat, saking eratnya sampai timbul kerutan didahinya.
"Any else?"
"Kau idiot, menjauhlah!" Ia membuka kedua Emerald-nya, dan langsung memincingkan kedua irisnya yang tengah diselubungi amarah besar.
Lelaki itu hanya diam, tak ingin menanggapi dan hanya menonton wajah dihadapannya, mengabaikan pukulan dari kepalan tangan wanita itu yang mulai dilancarkannya pada dadanya yang tak terasa sakit untuknya.
"Open the door! Kau monster gila, aku benci—."
Genggaman kencang dipergelangan tangannya membuatnya terdiam. Dengan kasar lelaki itu menyeret sang wanita, dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengacuhkan pekikan kesakitan dan makian wanita itu.
Tak lama terdengar suara guyuran air yang terdengar samar. Hinata menjadi harap harap cemas, apa yang terjadi pada Sakura, dan apakah ia baik-baik saja.
Tak lama lelaki itu keluar dan menatap Hinata sejenak sebelum keluar. Kakashi membanting pintu kamar itu kencang dan menguncinya. Dari dalam terdengar suara samar lelaki itu yang meminta seseorang untuk membenahi jendela kamar bermasalah itu.
Cepat-cepat gadis itu turun dari ranjang, saking terburu-buru sampai ia tersandung oleh kakinya sendiri. Dengan cepat ia bangkit dan berlari kekamar mandi.
Dengan gerakan refleks ia menutup mulutnya dengan kedua tangan begitu melihat keadaan wanita di dalam bathroom. Dengan cepat ia berlari, dan menangkupkan kedua tangannya yang sudah dingin di pipi wanita itu.
Pipi wanita itu terasa lebih dingin; seluruh tubuhnya basah kuyup setelah tersiram air dingin. Wanita itu terus tersedu hingga warna hidungnya benar-benar merah.
Posisinya yang berjongkok memeluk lutut dibawah shower, dengan rambut yang basah dan kusut, baju yang telah menempel pada kulitnya, dan bibirnya yang terus bergetar.
Tubuh wanita itu bergemetar hebat, tentu saja rasa dingin itu menusuk tulang dan langsung membuat orang membisu. Hanya perkataan panik gadis itu, isakan sang wanita, dan gumamannya yang mengisi keheningan dalam ruangan itu.
Yeah, gumaman. Layaknya gumaman seorang wanita yang memohon kepada penyelamatnya yang jelas tak akan bisa sang penyelamat mendengarnya.
*** Stacie_The Mission ***
"...Sai?!"
Sosok lelaki berambut jabrik dengan mata sapphire terbelalak begitu melihat sesosok pemuda yang tengah meringkuk disekitar pekarangan belakang penginapan dalam posisi terikat.
Dibelakangnya, Shikamaru yang menunjukan ekspresi terkejut itu diam. "Apa yang terjadi?"
Pemuda albino itu hanya menunjukan kode agar orang-orang itu tak hanya menjadi penonton dan mulai membantunya melepaskan penghalang komunikasi di bibirnya, sebuah plester hitam besar.
Dengan cepat pemuda jabrik itu melihat sekeliling, setelah dikiranya tak ada jebakan aneh, ia dengan cepat melepaskan ikatan-ikatan dari pemuda itu.
Tak begitu lama, ikatan-ikatan itu terlepas, ia menunjuk bagian belakangnya tanpa berucap.
Pemuda jabrik itu akhirnya mengecek kerah baju itu. Well, sebuah alat menyadap kecil tertempel disana.
"Mendokusai." Pemuda berambut hitam itu tiba-tiba berujar cukup kencang.
"E-eh—."
"Ini jebakan, kurung orang ini didalam gudang dan awasi." Pemuda berambut nanas itu menatap datar sosok berkulit Albino, "Ia tak menyimpan ID card, maupun penjelas."
Pemuda albino itu hanya menunjukan common-fake smile-nya, dan menggerakan mulutnya tanpa mengeluarkan suara, "strategi istana kosong."
*** Stacie_The Mission ***
Hinata hanya menatap sosok disampingnya dengan senyuman ironis, "neesan, jangan melamun terus."
Wanita itu tetap bersandar pada kepala ranjang, dan memeluk lemah kedua kakinya, Emerald-nya tetap kosong.
"Neesaan, ayo bercerita lagi. Kalau pikiran kosong itu tak baik untuk raga." Gadis itu berucap lembut, dan bergeser lebih dekat dengan wanita disebelahnya yang sama-sama menekuk lututnya.
Tetap hening, wanita itu bahkan terlihat seperti tak mendengar sepatah katapun ucapan gadis itu. Namun, Hinata terus mencoba.
Tak lama gadis itu terkikik lemah, dan makin mengeratkan pelukan dilututnya, berusaha menekan perutnya, "biasanya jam segini aku telah makan malam."
Masih hening.
"Biasanya, sebelum aku merasa lapar, Sasuke telah membuatkan makanan," sesaat ia melihat benda bulat yang tertempel didinding, menunjukan pukul 10.45. "Dan kami akan makan dalam diam,
"Sasuke, juga akan mengantarku ke kamar dan memerintahkanku untuk tidur—meski dengan ancamannya." Lagi-lagi gadis itu terkekeh hangat.
Wanita itu akhirnya menengok setelah sekian jam ia terus bertahan dengan posisinya itu. "Apa... Dia selalu membuatmu... Senang?"
"U-um... Entahlah," Pearl-nya menerawang, menyisakan senyuman lembut di bibir serta percikan warna merah dipipinya, "aku selalu jengkel dan menggerutu padanya, padahal ia dingin dan jarang mau diajak berbicara—ah! Juga pengancam. Tapi, aku merasa senang, dan... Hangat. Hihi, rasanya ingin terus tersenyum ketika mengingatnya."
Emerald-nya menatap intens wajah gadis disebelahnya, "Sou ka."
Tatapan hangat itu berubah, menunjukan ekspresi kosong untuk beberapa detik yang akhirnya diikuti oleh ekspresi sedih, "A-aku... aku—merindukannya." Suara Hinata begitu pelan, terlalu halus untuk disebut sebuah bisikan. Ia melanjutkan dengan lebih keras, "Ini semua salahku."
Dahi wanita itu mengkerut, "Apanya?"
"Ya. Andai saja aku tak minta Pasta. Aku-aku—," dengan cepat ia menghirup nafas dalam-dalam, "—sebenarnya aku terlalu pilih-pilih makanan dan memintanya untuk makan diluar. P-padahal, dia sudah melarang, tapi aku tetap memaksa. Aku tahu... itu egois, aku hanya ingin menghirup udara segar saat itu. Aku takut... sendirian di dalam ruangan sepi itu. Ketika diperjalanan pulang kami di hadang dan akhirnya ia memintaku untuk mengikuti gadis cantik itu kemari,
"Katanya," sesaat ia menghirup nafas, dan menunjukan tatapan hangat pada wanita disebelahnya, "ia akan menyelamatkanku. Sasuke sudah janji,—" gadis berponi rata itu tertawa pelan tanpa minat, "—aku diculik oleh penculik dari seorang penculik pula. Tidak-kah itu terdengar lucu."
Ekspresi keterkejutan menghiasi wajah wanita itu, dahi Hinata mulai menunjukan kerutan melihat reaksi yang diterimanya.
"Kau bilang.. ?!"
"A-apa, neesan?"
Sekarang ekspresi sedih makin bertambah didalam tatapan wanita itu, "kata Kakashi, orang yang mengantarmu telah terbakar bersama Aston it—."
"A-ah?! A-apa m-m-maksud ne-neesan?" Reflek gadis itu menutupi mulutnya dengan telapak tangan, air matanya meleleh tanpa ia sadari, yang ia rasakan hanya rasa sakit luar biasa yang tiba-tiba hadir dan pandangan blur.
"Aku tak bohong, begitu kata Kakashi—lavender, cobalah tenang." Wanita itu tahu jelas rasanya mengetahui ditinggalkan orang yang ia cintai. Perlahan ia mengelus bahu gadis itu.
"T-tidak, it-itu tidak b-boleh! Sasu-sasuke, s-sasuke ti-tidak b-boleh... M-m-m-ma-mati." Kalimat terbata-bata itu mengalun cepat, diiringi dengan tangisan histeris. "Ma-m-mas-saka." Ia menggeleng kuat. Hinata tak dapat membayangkan sedikit pun hal buruk pada pria muda itu. Terlalu sulit—ia benar-benar tak pernah berani memikirkan hal itu. Hinata ingin Sasuke tetap bersamanya; menjaganya dari orang-orang asing lainnya.
Hujan lebat itu makin deras mengguyur, berusaha menutupi pilu sang gadis. Angin yang berhembus dari celah jendela—yang hancur tadi telah ditutupi oleh seng yang di paku—sama sekali tak gadis itu respon.
*** Stacie_The Mission ***
"Neji, Hinata masih berlibur?"
"Iya, jiisan."
"Tolong perketat penjagaannya, ada sesuatu yang mengganjal perasaanku." Pearl lelaki paruh baya itu menatap serius pemuda dihadapannya.
"Baik Hiashi-jii. Namun, berapa lama lagi kita harus membiarkannya 'berwisata'?"
"Tahanlah sebentar lagi, Fugaku telah mengirimkan dana pengganti tadi sore."
Pemuda itu mendesah lega, tak lama ia menuturkan salam hormat dan keluar dari ruangan itu. Pearl-nya menuding tetes-tetes yang jatuh dari langit.
Hanya gerimis. Namun, ia tak suka itu. Yeah, dalam pikirannya juga, pemuda itu tengah memikirkan sosok yang mereka cemasi sejak tadi.
*** Stacie_The Mission ***
Sedikit sulit memang untuknya, namun pada akhirnya ia mendapatkan spot yang bagus. Dengan tenang, ia memainkan scope-nya, mempertajam penglihatan lensanya, dan melihat seksama.
Seringai tipis nampak pada bibirnya kala berhasil menangkap obyek yang sedari tadi dicarinya.
Tak lama ia kembali pada porsche 911-Turbo Cabriolet-nya dan melesat meninggalkan spot itu begitu mendengar instruksi yang terdengar di telinga kirinya berkat alat kecil itu.
*** Stacie_The Mission ***
Jarum jam dilengannya telah menunjukan pukul 02.01 dini hari. Kakashi masih belum bisa memejamkam kedua matanya, sekelebat bayangan bermain diingatannya.
Sesosok lelaki memasuki bar yang beberapa minggu lalu baru ia temui. Ditemukannya sesosok gadis tengah menempelkan pipi kirinya pada salah satu meja kayu diruangan itu. Gumaman tak jelas terus terlontar dari bibirnya.
Tentu saja tak tertarik, ia hanya menatap sesaat warna rambut gadis yang tak biasa itu. Tak lama ia memandangi sekitar.
Sepi.
Tentu saja, jam telah menunjukan bahwa saat itu tengah malam dan disana hanyalah sebuah Bar tanpa nama. Akhirnya ia berjalan ke kursi yang berhadapan dengan bartender. Segelas Vodka dituangkan.
Terdengar suara decitan kursi dan lantai yang bergesekan, juga beberapa bunyi berisik lainnya ia abaikan. Tentu saja bunyi itu juga berasal dari pengunjung satu-satunya selain dirinya, gadis berambut nyentrik.
"Sakura-san, kau terlalu memaksakan diri." Bartender itu menunjukan raut cemas dan berjalan kearah gadis yang tengah berjalan kearah kursi didepan bartender dalam keadaan sempoyongan dan membantunya.
"Tak apa, Kiba. Aku—hiks, mau Sake lagi."
Tuk!
Bunyi gelas yang diletakan dimeja panjang itu cukup keras, tak lama gadis itu berusaha untuk duduk di salah satu kursi.
Pemuda bernama Kiba itu akhirnya hanya menuruti kemauan costumer sekaligus mantan teman satu tempat pekerjaannya itu, sedangkan sang costumer lain hanya menyesap gelasnya seraya melirik sosok disebelahnya.
Ia terdiam, gadis disebelahnya tengah menyisir poninya kebelakang dengan jari-jari kirinya, dan sedikit mendongak, serta menggigit bibir. Matanya yang memang merah itu bertambah merah akibat alkohol dan menangis, dilehernya terlihat bulir-bulir keringat.
Ia kembali menyesap, dan meneguk vodka-nya tanpa mengalihkan lirik matanya. Melihat sosok gadis yang tengah meminum gelas sakenya dengan tangan bergetar.
Dua menit setelah itu tubuh gadis itu ambruk, dan kepalanya menghantam meja. Sosok lelaki itu menolehkan kepala, "bartender, kau kenal dia?" suara berat mendominasi.
"Ya. Tapi, saya bingung cara membawanya pulang." Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Lelaki itu kembali diam, mencoba menatap intens gadis disebelahnya, "Sou." Ia meninggalkan beberapa lembar uang dan membopong gadis itu.
"T-tapi tuan—."
"Ambil saja sisanya."
*** Stacie_The Mission ***
Pemuda itu untuk sekian kalinya terdiam dalam Audi hitam miliknya. Dilirik gadis yang kini mengisi jok disisinya dalam keadaan tak sadarkan diri.
'Sekarang diapakan gadis ini?'
Tak lama yang terlintas dipikirannya ialah sebuah penginapan. Mungkin ia bisa beristirahat disana. Tanpa buang waktu ia menginjak pedal gas, meninggalkan tempat kenangan untuk sang gadis.
*** Stacie_The Mission ***
Perlahan lelaki itu meletakkan sang gadis diatas ranjang. Ia berjalan kearah sofa yang berada bersebrangan dengan ranjang itu sendiri dan duduk.
Dipandangi intens wajah gadis itu yang terbilang...'Cantik'.
Oh well, Sosok berambut perak itu bukanlah lelaki yang suka ber-Yaoi ria. Ia tentu saja beberapa kali dalam hidupnya menikmati one night stand dengan gadis atau wanita lainnya.
Tapi untuk masalah cantik atau sebangsanya, ia jarang sekali memikirkannya.
Gadis itu mulai bergumam tak jelas, hanya sebuah nama yang dapat lelaki itu tangkap.
Sai.
Sosok bersurai perak itu sedikit tegang begitu melihat si gadis terbangun dan menggaruk tengkuknya. Perlahan dua kancing atas pakaiannya ia buka dan longgarkan serta mengikat rambutnya keatas. Tak lama ia kembali terlelap, dan bergumam tak jelas.
Tak terlalu jelas apa yang lelaki itu pikirkan, tapi yang jelas Kakashi bangkit dan berjalan mendekati gadis itu.
Perasaan aneh yang entah apa muncul dalam hati kecilnya diiringi oleh nafsu yang juga bangkit. Yang jelas, dalam hatinya ia sedikit merasa bersalah begitu mulai menempelkan bibirnya pada gadis yang tak sadarkan diri itu, sedangkan tangannya bermain membuka kancing pakaian.
Rasa bersalah? Tolol.
Oh jangan salah, lelaki itu cruel, dan rasa bersalah atau sebangsanya sangat jarang muncul dalam hatinya. Yang jelas, keheningan malam itu mulai diisi oleh desahan, dan gumaman-gumaman lain.
Lelaki itu memijat pelipisnya. Kenyataannya perasaan aneh itu hanya ditunjukan pada Sakura; seorang gadis perawan yang tak jelas asal-usulnya. Ia tak tahu apa itu, yang jelas ia baru saja merasakannya setelah bertemu wanita itu.
Tentu saja para wanita yang telah berhubungan tubuh dengannya akan dibungkam dengan rifle-nya untuk menjaga informasi. Tapi untuk wanita itu, nihil.
Stress rasanya, tentu saja ia tak tega melihat wanita itu berbasah-basah tadi sore, sayangnya tadi ia sudah naik pitam. Selain itu, ada perasaan kecut jika melihat wanita itu lebih memilih meninggalkannya demi sosok yang ia sebut-sebut.
Mungkin juga, rasa posesif mulai tumbuh.
'Awful.'
Cepat ia bangkit dan menuju dapur. Cekatan, ia mengambil es kering dan meletaknnya pada mangkuk kaca cukup besar. Diisinya sedikit air dan membiarkan es itu mencair sedikit.
Kembali ia lanjutkan perjalanan ke sebuah kamar tidur. Perlahan ia buka kuncinya dan menatap ruangan gelap itu, hanya cahaya remang dari lampu disebelah ranjanglah yang menemani.
Ia menekan saklar lampu pada dinding dan menyesuaikan matanya sesaat. Dilihatnya sesosok gadis bersurai Indigo tengah meringkuk di balik selimut, sedangkan satunya lagi tidur dalam keadaan memeluk lutut dan bersandar dikepala ranjang.
Ia mendesah dan menutup pintu itu, lalu berjalan kearah wanita berambut panjang. Diletakannya mangkuk itu diatas nakas pada sisi ranjang.
Perlahan ia memegangi pucuk kepala merah muda wanita itu dan mengelusnya. Sedikit mencelos begitu mengingat perlakuannya tadi sore, wanita itu tak akan berhenti kalau ia tak bertindak.
Diperhatikannya kelopak mata yang tengah bergetar, sedetik kemudian munculah dua butir Emerald sayu, kelopak matanya mengerjab sesaat. Emerald itu berhenti begitu menemukan objek besar didekatnya.
"Mau apa?" Suara seraknya terdengar lebih parah, tapi wanita itu tak melawan; ia hanya diam dan pasrah.
Lelaki itu berbalik dan menuju ke arah lemari pakaian. Diambilnya selembar handuk kecil, dan kembali ke tempat semula. Dicelupkannya pada mangkuk berisi es dan air dingin itu. "Mengobati."
Wanita itu terdiam sesaat, ia merenggangkan kedua tangannya, dan melipat kedua tangannya diatas lutut. Disandarkan kepalanya pada lengan atas kirinya. Tak lama ia menguap.
Lelaki itu memeras handuk itu, dan menunduk, "Angkat kepalamu."
"Tidak-kah kau pikir itu lucu, Kakashi? Orang sepertimu tak pantas berucap layaknya penolong."
"Dengarkan aku."
"Pergilah, aku tak akan mati hanya karena lebam-lebam." Gumaman itu terdengar pelan, tanpa penekanan. "Kau itu dramatis."
Lelaki itu menarik rambut wanita itu kebelakang, membuat wajah wanita itu mau tak mau mengadah. Perlahan, disentuhkannya handuk itu pada sudut bibir sang wanita.
Wanita itu hanya bisa diam menahan perih. Tak lama ia memejamkan kedua matanya. Mungkin inilah takdirnya, menjadi boneka milik Kakashi.
Perlahan, lelaki itu menarik handuknya, menyentuhkannya dipipi, dan pegelangan tangan gadis itu. "Tinjuku terlalu kuat? Kenapa kau tidur dalam posisi seperti ini?"
"Tak perlu khawatir, aku kuat."
"Berbaringlah."
Wanita itu tak bergerak, kembali ia melipat kedua tangannya diatas lutut.
"Sakura."
"Kau memanggilku Haruno."
Lelaki itu menghela nafas berat, tak lama ia membungkuk, dan memeluk tubuh mungil itu, "Memohonlah atau ucapkan maaf saja." Lelaki itu merintih pelan, "Kau membutuhkanku."
Wanita itu memejamkan matanya, dan berkata hampa, "untuk apa...semua itu kulakukan?"
"Kita; kau dan aku. Aku akan mengembalikan shotgun kesayanganmu dan memimpin kelompok bersamamu. Kita selesaikan masalah dan cari negara lain."
"Kakashi, kenapa kau sejahat ini?"
"... Apa?"
"Kau... Melarangku bertemu Sa—."
"Jangan ucapkan, please." Lagi, ia merintih.
"Kau kejam. Aku benci Kakashi." Tak lama, setetes air mata jatuh dari mata kiri wanita itu.
Lelaki itu tentu merasakan sakit, "Lupakan, waktu hidupnya juga tak akan lama." Perlahan ia mengelus punggung wanita itu pelan.
Wanita itu sama sekali tak berucap maupun bergerak. Lelaki itu mengernyit, dan mencoba melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah wanita yang tengah meneteskan bulir irasional itu.
"Kakashi, kenapa kau begitu jahat, kau juga menyakiti gadis lavender ini." Tak lama ia menunjukan Emerald sayunya.
"Dia?"
"Kau juga membunuh orang yang ia sayang. Kau jahat, Kakashi." Lambat-laun volume suara wanita itu sedikit meninggi.
"Itu bukan urusanmu. Tidurlah." Lelaki itu menatap dalam-dalam Emerald itu, tak lama ia berbalik dan berjalan kearah pintu.
"Kakashi," tak lama lelaki itu berhenti. Wanita itu menuruni ranjang dan berjalan perlahan. Ia menubrukan tubuhnya pada punggung lelaki itu, lalu melingkarkan lengan kecilnya pada pinggang lelaki itu.
Lelaki itu tersenyum dalam maskernya dan mengelus punggung tangan jenjang wanita itu. "Hm?"
Perlahan ia menarik nafasnya, "Kakashi, kumohon." Ia menempelkan pipinya pada punggung lelaki itu, "kumohon, biarkan aku hidup di luar."
"..."
"Aku... Aku lelah memegang senjata."
"Kalau begitu tak perlu. Cukup kau bersantai dan menungguku selepas bekerja." Dengan cepat ia membalas.
"Kakashi, kenapa kau mengurungku? Apa itu karena Sa—."
"Ya."
"Memangnya kenapa kalau aku bertemu dengan Sai—."
"Dia akan membodoh-bodohimu lagi, membawamu pergi, dan menyakitimu."
"Tapi aku senang kalau bersam—."
"Aku tak mau dengar lagi, tidurlah." Lelaki itu menjatuhkan kedua tangannya disisi tubuh.
"Kakashi, kumohon."
"..."
"Shi?~"
"... Tidurlah." Dengan cepat ia melepaskan pelukan erat dipinggangnya dan meninggalkan wanita yang tengah menahan berat tubuhnya secara tak sempurna.
Wanita itu terduduk di lantai yang dingin, suara pintu yang terkunci bagaikan eksekusi baginya. Yang jelas, ia terus menerus menatap pintu itu, seolah ada keajaiban yang akan terjadi.
*** Stacie_The Mission ***
"Cepat katakan atau aku akan mencabut alis tebalmu itu." Pemuda dengan panggilan, 'Naruto' itu menatap bosan lelaki dihadapannya.
"Tidak akan! Awas saja kalau kau berani."
"Besok saja lanjutkannya, dobe."
"Berisik kau teme! Jangan ganggu pekerjaanku!" Pemuda itu mengerucutkan bibirnya.
"Ya terserahlah, kuharap kau punya jam tangan." Pemuda itu berbalik, dan meninggalkan lelaki itu dengan tatapan datarnya.
"Berisik, kau!"
*** Stacie_The Mission ***
"Chief, kita tidak memberi Saku-chan sarapan?"
"Tidak."
"Eh?" Gadis berambut coklat itu memiringkan kepalanya dan menggigit ujung garpu, "kenapa?"
Lelaki itu meletakan garpunya dan menatap wajah orang-orang disekelilingnya, "Mulai sekarang, tak ada yang boleh mendekatinya. Dia bukan tim kita lagi."
"Tapi chief Kakashi, bukankah kau dekat padanya?" Sosok wanita cantik dengan mata ruby-nya mengkerutkan dahi.
"Aku tak menerima sanggahan."
"Sou. Chief, klien S ingin bertemu denganmu jam 10.00." Sosok berambut putih dengan titik merah didahinya menginterupsi.
"Di?"
"A.N P."
"Accept."
*** Stacie_The Mission ***
Gadis berambut indigo itu hanya berguling-guling sejak tadi, sementara kedua tangannya tengah menekan-nekan perutnya. Disisinya, sang wanita masih memeluk lututnya.
"Neesan, kita benar-benar tak boleh keluar?"
"Hm."
"Jahat sekali." Ia terdiam. Kembali lagi rasanya ingin menangis begitu mengingat sosok yang sudah menjadi koki pribadinya selama beberapa hari ini.
"Tahanlah, kita puasa saja sampai menemukan makanan." Wanita itu berkata pelan menunduk lesu, tapi tak lama ia cepat-cepat mengampiri gadis didekatnya. "Hei lavender, ceritakan tentang Sai-kun."
"Uh?," gadis itu berhenti bergerak-gerak, dan duduk bersila secara perlahan. Ia berusaha mengingat kebiasaan-kebiasaan pemuda yang ia ingat, "Sai-kun suka menunjukan fake smile, biasanya... Sasuke akan marah begitu melihatnya." Gadis itu menunduk sedih.
"Sou ka. Dulu ia selalu tersenyum sepenuh hati." Wanita itu terdiam sesaat, dan bergumam pelan, "jangan-jangan Sai-kun punya kembaran."
Gadis itu melirik sekilas, "Sai-kun itu tak banyak berbicara dan ucapannya sering kali membuat kami berdua marah karena sedikit menyinggung." Gadis itu terkekeh.
"Become mad?"
"Hum. Waktu pertama kali kami bertemu, dia menyebutku... Uh, Sexy," gadis itu bergidik, dan memeluk dirinya sendiri, "rasanya memalukan. Tapi tak lama, Sasuke memukulnya."
Sakura mencoba membayangkan, tak lama ia tertawa lepas, "kurasa ia Sai-kun milikku, dari dulu ia memang selalu begitu. Ternyata ia masih hidup." Wanita itu tersenyum berseri-seri.
Hinata memandangi wajah wanita disampingnya, benar-benar cantik. Ia bahkan sedikit kurang percaya diri jika disandingkan dengannya. Gadis itu tersenyum ironis.
Sakura yang menyadari perubahan, mengerutkan dahi, "kenapa?"
Gadis itu tersenyum sedih, "aku iri—tidak, janjinya..." Pearlnya menatap Emerald, "he still alive, I believe."
Sakura menunduk, sepertinya perkataannya tadi tak terlalu baik untuk diucapkan dihadapan gadis yang tengah dilanda duka, "gomen, aku membuatmu sedih, ya?"
"Tidak apa-apa, neesan." Hinata tersenyum lembut, "Sasuke akan marah jika aku mengiranya telah tiada. Lagipula untuk apa aku sedih, Sasuke masih hidup."
"Hum, I guess you're right. Lavender, I bet yours is love you, too."
"Y-yours?"
"Sasuke." Sakura mengedipkan matanya.
Pipi gadis itu bersemu merah, kedua jari telunjuknya dimainkan. "um, I-i hope so."
*** Stacie_The Mission ***
"Jadi, di mana gadis itu?" Pemuda berambut merah itu menatap datar si lelaki bermasker.
"Oh maaf, tapi Sabaku senior berkata bahwa aku hanya perlu datang sendiri."
Lelaki paruh baya itu menunjukan raut datar, "benar."
"Lalu untuk apa aku disini?" Pemuda itu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, ia menatap bosan lelaki paruh baya yang mirip dengannya.
"Gaara, aku akan mempertemukanmu dengannya nanti siang." Lelaki paruh baya itu berkata santai.
"Otousan, kau harus setujui dulu." Pemuda itu menatap datar.
"Jangan keras kepala, satu perusahaan bukan masalah besar. Dan untukmu, K, aku mau kau persiapkan sebuah penginapan untuk anakku serta gadis itu dan jaga mereka."
Lelaki itu meneguk sebentar secangkir kopi dihadapannya, "Tentu saja, tapi aku mau menuntut fee terlebih dahulu."
Lelaki paruh baya itu menjentikan jarinya, tak lama seorang lelaki bernotabene sebagai pengacaranya datang dan membawakan koper. Dibukanya dan dikeluarkan beberapa surat.
Sosok yang dipanggil Sabaku Gaara itu menandatangani sebuah proposal dan beberapa surat lainnya. Sedangkan untuk sang lelaki berambut perak, ia hanya tersenyum tenang begitu mendapati nominal pada cek yang baru ia terima.
*** Stacie_The Mission ***
Cklek.
Dua penghuni kamar itu mengalihkan pandangannya pada sesosok wanita beriris rubi yang baru saja membuka pintu kamar itu, ia menenteng sebuah kantung plastic.
Sakura menatap sinis, "Yuhi Kurenai?"
"Halo mrs. Hatake." Senyuman yang dilontarkannya hangat, tapi entah mengapa gadis berambut indigo yang melihatnya sampai bergidik ngeri.
"Omong kosong. Aku bukan istri dumb boy seperti dia!" Emerald itu menatap tajam.
"Ambilah, Kakashi memintanya memberikan ini untukmu dan Hyuuga kau ikut aku." Wanita itu tersenyum dan meletakan bungkusan itu di atas ranjang.
"E-eh, a-a-aku?" Gadis itu menatap takut-takut.
"Aku tak mengizinkannya!" Wanita itu berdiri dihadapannya.
"Ambilah, chief sepertinya kasihan padamu yang belum makan. Dan urusan gadis ini bukan urusanmu." Kurenai menyeringai dengan wajah cantiknya, ditotoknya beberapa titik dibagian bahu wanita itu cepat, membuatnya mati rasa.
Dengan santai wanita itu menggenggam pergelangan Hinata dan meninggalkan Sakura yang tengah terduduk memegangi bahunya seraya meringis dan memaki.
*** Stacie_The Mission ***
"Enam petang kita main sebagai visitor. Ada yang kurang jelas?" Lelaki berambut hitam yang diikat tinggi itu menatap serius orang-orang dihadapannya.
"Shikamaru, kenapa aku harus menjaga si alis tebal itu," pemuda bermanik sapphire itu mengerucutkan bibirnya, dan melipat kedua tangan di dada, "aku juga turun, bisa kan?"
"Tidak. Kau disini bersama Shino."
Sosok pemuda berjubah hitam yang mengenakan kacamata hitam itu hanya duduk tenang seraya mengutak-atik laptop ditangannya, mulai mengerjakan tugasnya.
"Itu tidak adil!"
"Diamlah Naruto, bisakah kau menjalani tugasmu, dan tidak protes." Sosok pemuda albino itu menatap serius teman disampingnya itu.
"Lakukan rencana sesuai strategi tadi, kalau kalian memang ingin misi ini complete." Sosok bernama Shikamaru itu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Just do it, benefit kita disini, mereka tak berada di markas besarnya." Pada akhirnya lelaki berkacamata itu mengeluarkan suaranya.
Shikamaru tersenyum tenang, "that's right."
Ting tong
Ting tong
Mereka terdiam sesaat, tak lama sosok pemuda albino itu berdiri dan melirik dari lubang pintu, sedikit terkejut sebenarnya. Dengan cepat ia berbalik, dan memberi kodepada sosok berambut hitam itu untuk mendekatinya.
Tak sampai satu menit mereka berdiskusi, akhirnya mereka membuka pintu.
Dua sosok di balik pintu itu menatap datar, jarak 1 meter dibelakangnya ada beberapa orang yang mereka bawa. Dari penampilannya pun Shikamaru dan Sai mengenal siapa wajah-wajah tak asing itu.
Sosok yang sedari tadi hanya diam akhirnya pergi melihat keadaan diruang tamu, tak lama ia terhenti begitu menatap sosok yang tentu saja ia kenal, "...aniki?"
Tuzuku
A/N : yah. buat saya ini cepat loh apdetnya .-.v
makasih sudah baca
maaf kalo bosenin, di chap ini kebanyakan ceritanya, makanya judul chapnya saya beri begitu :D
saya pikir ini cepat tamatnyaa, alurnya juga saya percepat
karena saya sedang menanti hasil tes ujian masuk Universitas, minta doanya ya semua agar di beri kemudahan dan kelancaran dan saya bisa tembus, terima kasih
EDITED 30 Juni 16
regard,
Stacie Kaniko
RnR? THANK YOU
