CHAPTER 2 – WELCOME TO BIRD CASTLE
Aku terbangun mendengar suara Miku, "Hey bangun semuanya!". Satu-persatu dari kami mulai bangun, aku baru sadar kalau barusan saja kami pingsan. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh dileherku. Aku memegang leherku dan merasakan bahwa ada semacam kalung yang terbuat dari besi yang mengikat di leherku, kalung dari besiku memiliki rantai yang tersambug dengan milik Len. Sepetinya teman-temanku sudah menyadari bahwa di leher mereka terkait sebuah kalungan yang terbuat besi dan terkait dengan seseorang.
Luka terkait dengan Gakupo, IA dengan Rinto, Neru dengan Mikuo, Gumi dengan Kaito, dan yang terakhir adalah Miku dengan Nero. "Mengapa kita berpasangan?", tanya Mikuo. "Coba kubuka" kata Neru. Neru memgang bagian tengah rantai yang mengaitkan rantainya dengan Mikuo, lalu menariknya. "Tidak terjadi apa-apa" kata Rinto. Lalu beberapa saat terdengar sebuah bunyi dari kalung itu. "Jika tidak dikaitkan, kalian akan segera mati" kata-kata ini diulang berkali-kali. "Lebih baik, kalian memasangnya kembali", usulku. "Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi berikutnya", lanjut Len. Mereka memasangnya dan suaranya berhenti.
"Selamat datang di Bird Castle. Aku adalah Game Masternya. Kalian pasti penasarankan mengapa ada kalung besi itu di leher kalian. Dan yan paling utama pasti kalian ingin keluar dari tempat ini" tiba-tiba suara terdengar dan mengatakan bahwa dia adalah Game Masternya. Apa maksudnya itu? "Tentu kami mau keluar!", Miku berteriak.
"Jika kalian ingin keluar dengan selamat, kalian harus mengikuti semua yang kuinstruksikan, dan menemukan ku. Tapi ada dua peraturan yang harus kalian ikuti, jika kalian melanggarnya kalian akan mati seketika. Peraturan pertama, kalian harus berpasangan. Seperti yang telah dicoba teman kalian tadi untuk membuka penyambungnya, untungnya kalian cepat menyuruh mereka mengembalikannya terpasang. Peraturan kedua, jika kalian sudah maju, tidak ada kata kembali lagi. Jika kalian sudah berhasil menemukanku, kalian bisa keluar dari tempat ini. Sekarang silahkan pilih dua terowongan ini, dua terowongan ini tidak memiliki perbedaan. Silahkan memilih", kata Game Master menjelaskan panjang lebar.
"Aku tidak percaya apa yang dikataknnya" kata Miku tiba-tiba. "Tapi kamu udah liat sendiri kan yang terjadi sama Neru dan Mikuo", tegurku. "Aku tetap tidak percaya! Aku akan keluar dari tempat ini", kata Miku bersikeras. Miku berbalik ke arah pintu tempat kami masuk dan menginjakan kakinya. Seketika itu juga, sebuah panah dari bagian kirinya menusuk lehernya dan Miku meninggal seketika didepan pintu masuk itu. Kami semua terlalu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa. Hanya IA yang berteriak histeris membuatnya sangat ketakutan. "Lebih baik kita sekarang menuruti kata-katanya", kata Gumi. "Tapi tunggu! Bagaimana dengan Nero? Dia sendirian sekarang!", kata Len.
Tiba-tiba seseorang menggunakan kalung besi itu dan mengaitkan pengaitnya dengan Nero. "Siapa kamu?", tanya Neru. "Aku Haku, adikknya Meiko", jawabnya singkat. "Tapi aku tidak pernah mendengar Meiko punya adik perempuan", kata Luka mulai curiga. "Meiko dan aku memang tidak terlalu dekat, aku tinggal di luar negeri", Haku coba menjelaskan kepada kami semua. "Jujur, aku masih sedikit curiga:, kata Luka. "Lebih baik kita percaya pada Haku, daripada kita kehilanggan satu teman lagi", kata Gumi menyudahinya.
"Aku akan memilih jalan yang sebelah kanan", kataku sambil menarik Kevin masuk ke dalam lorong yang sebelah kanan. "Aku memilih jalan yang sebelah kiri", kata Neru, lalu menarik Mikuo masuk ke lorong yang sebelah kiri. Luka, IA, Gakupo, dan Rinto memilih lorong sebelah kanan. Sedangkan Haku, Nero, Gumi dan Kaito memilih lorong sebelah kiri bersama Neru dan Mikuo.
"Bagaimana ini, kita akan berpisah dengan mereka dan tidak tahu apa yang akan terjadi", kata Luka kahwatir. "Kita akan bertemu dengan mereka lagi", kataku yakin. "Mengapa kamu begitu yakin?", tanya Len penasaran. "Game Master tadi bilang, dua lorong ini tidak memiliki perbedaan", aku menjelaskannya. "Kamu benar juga Rin", kata Luka. Kami berjalan dan menemukan cahaya di ujung lorong.
"Untung tidak terjadi apa-apa dengan kita", kata IA lega. Dugaanku memang benar, aku mendengar suaru orang dari lorong sebelah. Tak lama Neru, Mikuo, Gumi, Kaito, Haku dan Nero. "Dugaanmu benar Rin", kata Luka padaku.
