Daniel melangkahkan kakinya ke salah satu tempat dengan api yang berkobar dibawahnya. Lalu dia membuka gerbangnya begitu saja.

Telinganya langsung berdenging karena suara jeritan yang terlalu memekakan telinganya.

"Ada apa Daniel? Kau merindukanku?" Tanya iblis Lucifer.

"Ck, bisa kah kau bertransformasi?" Balas Daniel diluar konten yang ditanyakan tadi.

Lucifer itu mengikuti keinginan Daniel untuk bertransformasi menjadi wujud manusianya.

"Hyung, bisa aku minta tolong?" Tanya Daniel yang sedang berlutut pada iblis terkuat itu.

"Apa kau tidak sengaja menghilangkan jiwa?"

"Eeiy Minhyun hyung, aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku tidak mungkin melakukannya" Iblis itu dikenal dengan nama Minhyun saat berada dalam wujud manusia.

"Okay okay, lalu apa sekarang?"

"Bisakah aku meminta salah satu jiwa disana? Hanya satu" Pinta Daniel.

"Apa? Jiwa? Apa yang sudah kau lakukan hingga ingin mengembalikannya?"

"Aku membuat perjanjian dengan salah satu manusia. Dia meminta kakaknya yang sudah kuambil jiwanya kembali, sampai dia berlutut padaku. Saat aku menyerap sedikit jiwanya, aku merasa berbeda dengan rasanya. Jadi aku bersedia memberikan kakaknya kembali dan dia bersedia memberikan tubuhnya dan jiwanya padaku" Jelas Daniel.

"Kau tahu jiwa itu tidak gratis kan?" Ujar Minhyun yang terkejut karena penjelasan Daniel.

"Aku tahu itu. Apa yang harus kulakukan?"

...

Pagi ini Daniel berada di atas atap rumah yang semalam dia kacaukan. Dia hanya ingin memastikan apa perkataan kakaknya benar atau tidak.

"Aku harus mengatur ingatannya"

Lalu Daniel masuk ke kamar yang masih berantakan ini, tetapi gadis itu sudah memakai pakaiannya dan disampingnya ada lelaki yang sudah membuat perjanjian dengannya semalam.

Tetapi Daniel tidak tahu namanya bahkan latar belakangnya, sama sekali. Itu karena Daniel tidak peduli dengan nama maupun latar belakang anak itu.

Tanpa banyak membuat suara Daniel membuka mata gadis itu dan menatap matanya tajam untuk membuat ingatan gadis itu kembali, tapi dia akan menghapus beberapa ingatan tentang Daniel.

"K-kenapa kau ada disini?" Tanya lelaki yang baru saja bangun.

Tetapi Daniel tidak menggubrisnya dan memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya sekarang. Sedangkan lelaki itu menatap Daniel dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Aku sudah mengembalikan ingatannya, tetapi aku merekayasa beberapa kejadian agar dia tidak curiga" Ujar Daniel.

"Dia tidak akan melupakanku kan?"

"Tidak, sepuluh menit lagi dia akan sadar. Lebih baik kau tidak berada dikamar ini"

"Kenapa?" Tanya anak itu dengan mata yang mengerjap lucu.

"Turuti saja" Daniel langsung menarik anak laki-laki itu keluar kamar dan menuntunnya untuk masuk ke kamar mandi.

Sementara anak itu bersih-bersih, Daniel sibuk di dapur. Dengan dibantu sedikit kekuatannya dia memasak dan menyiapkan semuanya di meja makan.

"Wow hyung! kau menyiapkan semuanya?" Tanya anak tadi yang sudah siap dengan seragamnya.

"Eum. Duduklah" Ujar Daniel.

Dia langsung menata porsi anak itu dan meletakkannya didepannya. Lalu dia duduk di seberangnya dan hanya menatapnya dalam diam.

"H-hyung tidak makan?"

"Apa menurutmu iblis bisa memakan makanan manusia?" Tanya Daniel balik.

"A-aniya..."

"Namaku Daniel, Panggil aku tanpa embel-embel hyung" Ujar Daniel.

"Tetapi kau sepertinya lebih tua daripada aku. Kurasa itu akan tidak sopan"

"Hey kenapa tidak membangunkan noona?"

"Noona!" Pekiknya girang, dia langsung berdiri dan memeluk kakaknya erat.

"Hey hey hey, kenapa ini? Jangan buat kekasihmu cemburu"

"Kekasih?" Tanya anak lelaki itu bingung.

Kakaknya langsung menunjuk Daniel yang hanya diam. Inikan memang rencana Daniel agar mudah bertemu dengan anak itu.

"Kenapa kau sampai pagi sekali Daniel?" Tanya kakak anak itu.

"Aku semalam diberitahunya kalau noona sakit, jadi aku datang untuk membantunya membuat sarapan. Apa sekarang noona sudah merasa baikan?"

"Sudah, terima kasih Daniel. Sekarang ayo kita sarapan. Kau akan mengantar adikku ke sekolah kan?"

"Ya, seperti biasanya" Jawab Daniel santai.

...

Daniel berjalan menyusuri trotoar ini dengan anak tadi disampingnya. Dia tidak banyak bicara dan memilih untuk membuat rencana selanjutnya.

'Apa yang harus kulakukan? Aku sudah merasa kenyang' Batin Daniel.

"Daniel... Berapa umurmu?"

"Entahlah, aku lupa. Lebih dari lima ratus tahun mungkin" Jawab Daniel, dia benar-benar sudah lupa dengan umurnya.

"Waaah,daebak. Selama ini kau tinggal dimana?"

"Kenapa? Kau ingin aku mengajakmu kerumahku?" Tanya Daniel dingin.

"Tidak tidak... Ini terlalu cepat. Apa benar tidak apa aku memanggilmu hanya dengan namamu saja?"

"Perjanjian nomor tiga. Kau harus menuruti semua perkataanku. Kalau aku memintamu untuk memanggilku seperti itu maka lakukan"

Mata Daniel seketika berubah menjadi merah, "Yes your highness" Ujar anak itu. Lalu mata Daniel kembali seperti semula dengan seringaian yang tercetak diwajahnya.

"Cepat masuk aku akan mengawasimu dari luar" Ujar Daniel sembari mendorong anak itu pelan.

"Daniel, apa aku tidak perlu memperkenalkan diriku?"

"Aku tidak peduli dengan namamu" Daniel langsung berbalik dan meninggalkan anak itu yang cukup sakit hati dengan perkataan Daniel.

Sayangnya Daniel sama sekali tidak peduli, dia lebih peduli untuk memikirkan apa yang akan dilakukannya sekarang.

"Hey Daniel!" Guanlin yang sedang berada di halte memanggil Daniel dan menghampirinya.

"Kenapa?"

"Kudengar kau membuat perjanjian dengan manusia" Ujarnya.

"Yap! Seperti yang kau bilang jiwanya terasa sangat nikmat. Benar-benar membuatku seperti melayang"

"Laki-laki atau perempuan?"

"Laki-laki" Jawab Daniel singkat.

"Jadi kau belok sekarang?"

"Mungkin, aku benar-benar sudah bosan dengan gadis-gadis itu. Sedangkan anak laki-laki ini benar-benar memberikanku kesan yang berbeda" Ujar Daniel sembari loncat ke atas gedung yang berada di belakang sekolah anak tadi.

"Sudah kubilang, kau tidak menyesalkan?"

"Untuk sekarang sama sekali tidak"

Mereka berdua duduk dipinggir atap dan mengamati gedung sekolah yang cukup besar ini.

"Hey, kau bilang kau tidak akan mengikutiku!" Ujar Daniel yang baru sadar.

"Siapa yang mengikutimu! Aku lebih dulu disini"

"Dan kenapa kau disini?"

"Aku mengawasi barang berhargaku. Dia sedang bersekolah disana" Jawab Guanlin.

"Sialan! Takdir macam apa ini" Umpat Daniel.

"Milikmu juga disana?"

"Yeah... Kalau tidak disana kenapa aku harus disini"

Mereka berdua asyik mengobrol dan mengawasi 'barang berharga' mereka masing-masing.

Tiba-tiba mata Daniel melebar saat melihat anak laki-lakinya sedang diseret menuju taman belakang orang segerombol orang.

Tanpa banyak bicara dia langsung meninggalkan Guanlin untuk menghampirinya. Tapi Guanlin menyusulnya dan berada dibelakangnya.

"Sialan!" Umpat Guanlin.

Daniel melihat ada dua anak yang sedang diseret. Dia hanya tahu anak laki-laki miliknya, satunya dia tidak tahu.

"Lepaskan mereka" Ujar Daniel dingin.

Dia sangat marah, sangat. Apa mereka tidak mempunyai sifat manusiawi? Padahal mereka manusia, tidak seperti Daniel, iblis.

"Guanlin... Tolong aku..." Ujar satu anak laki-laki yang sedang terbatuk-batuk.

Sedangkan anak laki-laki milik Daniel hanya diam dan menunduk, padahal wajahnya sudah penuh darah karena kelopak matanya sobek.

"Kalian mengenalnya? Lebih baik kalian membayar apa yang telah mereka lakukan pada kami" Ujar anak laki-laki yang sepertinya ketuanya.

Amarah Daniel memuncak, tangannya sudah mengepal dengan kuat. Dia bisa saja menghancurkan wajah mereka dengan sekali pukul.

"Ini peringatan. Lepaskan mereka sekarang juga!" Ujar Guanlin.

"Daniel tenanglah, jangan sampai identitasmu terbuka" Bisik Guanlin pada Daniel yang sudah maju selangkah.

"Kami tidak bisa melepaskannya begitu saja. Seongwoo dan Jinyoung sudah mengerjai kami, tapi kami lah masuk ke konseling. Aku harus membalasnya dengan sepadan bukan?"

"Sialan!" Daniel langsung mencengkram kerah anak yang sok jagoan itu dan melemparnya ke dinding belakang kantin.

Lalu dia melewati anak-anak berandal itu dan berdiri didepan anak laki-laki yang sedari tadi dia perhatikan. Dia langsung melepas ikatan tali dipohon untuk melepaskan keduanya.

"Jadi namamu Seongwoo atau Jinyoung?" Tanya Daniel.

"Seongwoo..." Dia langsung terjatuh dan matanya hendak menutup. Tubuhnya sudah tidak bertenaga dan rasanya sudah tidak mempunyai tulang lagi.

"Okay Seongwoo, ulangi perkataanku. Hoheo Taralna, Rondero Tarel"

"Ho-heo Taralna, Rondero T-tarel"

"Aaaagghhhh!!"

Daniel langsung menangkup pipi anak laki-lakinya yang katanya bernama Seongwoo dan memperhatikan darah yang masih mengalir dipipinya. Lalu dia menjilat darahnya dengan lidahnya yang juga ada lambang pentagram seperti di dada Seongwoo.

Itu sukses membuat Daniel merasa tubuhnya seperti dilahirkan lagi. "Yeoksi..." Gumam Daniel. Dia langsung memperhatikan luka Seongwoo yang sedang beregenerasi.

"D-daniel..." Panggilnya lirih.

"Tahan sebentar lagi" Daniel mengusap punggung tangan Seongwoo dan matanya fokus pada manik hitam Seongwoo yang terlihat sayu.

Karena amarahnya mata Daniel berubah menjadi merah dan tangan Daniel otomatis mengepal dengan kuat, dia mengarahkan tangannya ke arah sekolah ini dan ditelapak tangannya sudah ada api.

"Jangan hancurkan sekolah ini!" Ujar Guanlin yang sedang memeluk anak satunya, kalau tidak salah namanya Jinyoung.

"Ck! Apa anak itu baik-baik saja?" Tanya Daniel. Dia langsung menyadari apa yang hampir dia lakukan.

"He's okay, dia memang pendiam dan clingy seperti ini"

Daniel kembali fokus pada Seongwoo yang sepertinya sedikit kelelahan karena regenerasinya. Lalu dia menariknya kepelukannya dan mengusap punggungnya pelan.

"Daniel ayo pergi, kita diawasi oleh anak buah Lucifer" Bisik Guanlin.

"Sialan!"

.

.

.

TBC

.

.

Okay, ini Huba up karena Nuna yang minta. hehe. btw makasih yang udah kasih review. mungkin chapter ini keliatan biasa aja.

JihoKj : udah dilanjut nih ya

llwrance : lucas kecil? Huba selalu semangat kok, makasih uda semangatin, btw ini aku udah up ya

alviarchiezz : deg-deg an cie, ini udah semangat vuat up nih. makasih

Re-Panda68 : in atau out? udah lanjut nih.

Jadi nickname ku Huba ya, thank you. ini ganti karena Nunanya Huba. Jangan manggil aku Thor ya, karena aku buka super hero yang bawa palu itu.

Btw, makasih yang udah semangatin aku makasih yang uda review. segini aja chapter ini. maaf kalo gak seru.

see ya!