"Ma-maafkan aku." Hinata menunduk, berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah siap banjir air mata diantara poni ratanya. Sungguh, dia tidak sengaja dia tidak bermaksud—
"Kau merusakan laptopku, Hyuuga! Semua tugas kuliahku ada disana dan tidak terselamatkan." Balas sang pria sinis menatap tajam ke arah Hinata tanpa belas kasihan sedikitpun. Hinata yakin, kalau tatapan mata itu bisa membunuh, pasti dia sudah tewas ditempat saat itu juga. Dia benar! Dia selalu benar! Salah Hinata yang tidak berhati-hari saat membawa kopi miliknya sehingga tanpa disengaja menabrak sang pria dan membasahi laptop hitamnya sampai akhirnya terbang, jatuh, basah, rusak tak terselamatkan tapi inikan tidak 100% salah Hinata. Bukankah dia juga salah? Kenapa tadi berdiri ditengah jalan?
"A-aku akan membayar biaya perbaikannya—" Tawar Hinata mencoba berdamai.
"Bagaimana dengan tugasku? Kau mau membuatkannya dari awal lagi?"
Hinata mati kutu kala statement sadis meluncur mulus menembus akal sehat Hinata. Jangan ditanya dong, pekerjaan mustahil seperti itu mana bisa Hinata lakukan? Yah meskipun jurusan mereka tidak berbeda jauh, tapi yang benar saja mana mungkin anak jurusan ekonomi dengan otak pas-pasan seperti Hinata dikerjarodikan membuat tugas sang pria yang Hinata tahu namanya selalu menghiasi baris peringkat pertama IP di jurusan management bisnis yang susahnya minta dibunuh.
"Ta-tapi aku tidak sengaja! Sungguh, aku tidak tahu kalau kau ada di—"
"Menyalahkanku, heh?" Ya ampun! Aura intimidasi itulagi, setidaknya biarkan Hinata menyelesaikan pembelaannya sebentar. Menggigit bibir bawahnya, Hinata tahu bahwa riwayatnya sudah tamat. Ta—tapi, bolehkah Hinata meminta sedikit waktu untuk menulis surat wasiatnya?
"HEY! JANGAN DIAM SAJA!" Gemeretak gigi geraham dan teriakan yang menggema membuat Hinata tersentak dari lamunan rancangan surat wasiat pada keluarganya. Sekali lagi, bisa nggak sih orang ini sabar sedikit menunggu Hinata menyelesaikan rangkaian surat wasiat yang baru selesai dua lembar dari sepuluh lembar yang harus dituliskannya.
Menggembungkan pipinya kesal, Hinata mendongakkan kepala untuk balas menatap sang pria yang menjulang angkuh tinggi didepannya. Tangannya terkepal disisi-sisi badannya, menghentakkan kakinya pelan, Hinata mulai berjuang mempertahankan argumentasinya. Satu detik—dua detik—ti—ng-nggak! Nggak bisa! Ini terlalu mustahil bagi Hinata!
"Aku sudah minta maaf! Apalagi ma-maumu?" Berlagak menatang, pada akhirnya Hinata mengkeret juga dibawah tatapan penuh kekuasaan sang pria. Sampai akhirnya Hinata panik! Kenapa ini? Apakah dia salah bicara? Kenapa dia malah—
"Mauku?" Menarik bibirnya beberapa centi ke atas membentuk seringai sexy yang membuat kaki Hinata melemas seperti jelly karena ketakutan. "Bagaimana kalau kita anggap kau berutang padaku dan aku mau utang itu dilunasi dengan cara—"
.
.
.
Happy Reading~
TAKE ME OUT
DISCLAMER: MASASHI KISHIMOTO
STORY BY N.A-SHOKUN
PAIR: SASUHINA
RATED: UNTUK SEMENTARA DI T DULU
WARNING: OOC, AU, TYPO, HUMOR NGGAK JELAS, BERANTAKAN GILA GEGARA RUSH TYPING, DLL
DON'T LIKE DON'T READ
Yang tidak suka chara OOC dipersilakan tekan tombol Back daripada nanti kecewa berkepanjangan dan mengutuk Sho-kun pakai Voodoo doll
.
.
.
"Pilih dia atau aku?"
Terdengar seperti parodi iklan bukan? Tapi inilah yang terdengar menggelegar dari salah satu ruang ganti distudio rekaman milik Itachi's entertaiment. Berkacak pinggang, Hinata menyorot penuh amarah pada Hanabi yang bisa dipastikan akan berusaha kabur kalau saja Hinata tidak cepat-cepat berdiri menjulang tinggi didepan pintu.
"Nee-chan ini tidak seperti yang kau pikirkan." Membela diri, Hanabi merengek memelas didepan Hinata. Nah, lihatlah sekarang! Sifat mereka tertukar dan salahkan tangan author yang seenak jidat lapangannya mengacak-acak karakter tokoh buatan om Molto demi berlangsungnya fanfic ini.
"Nee-chan, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Hinata mengulang dramatis kata-kata Hanabi. Menghentak-hentakkan kakinya yang beralas highheels 5cm hingga lama-lama sol sepatunya yang rata mulai terkikis akibat gesekan lantai dengan gaya sebesar 2 Newton akibat massa sepatu 30 gram dan-ups! Okay, ada guru fisika nyasar disini dan sebaiknya kita usir saja sebelum cerita ini berubah menjadi kuliah panjang tentang hukum aksi-reaksi Newton.
"Tapi itu kenyataan!" Hanabi menjerit frustasi. Dalam hati dirinya meraung-raung meminta agar kami-sama berbaik hati untuk menggembalikan sifat Hinata yang dulu. Tapi sayangnya permintaannya tak dikabulkan mengingat lima tahun ini perubahan yang cukup drastis dirasakan Hinata. Hey lihatlah, figur wanita dewasa itu kini berdiri tegak dan terlihat kokoh, tidak seperti dulu yang hanya membungkuk dengan bahu bergetar menandakan ketidakberdayaannya.
"Kenyataan bahwa kau ke-canthol sama laki-laki rambut nanas yang pakai googles itu?" Hinata membalikkan badan melonggok kekaca pintu untuk melihat sosok pria muda yang berjalan menjauh. "Bukan uang toh! Tapi pria." Mendengus kesal Hinata menyilangkan tangannya kedepan dada.
"Nee-chan!" Berusaha memperbaiki raut wajahnya yang semerah tomat. Hanabi berusaha membantah terkaan Hinata.
Hinata membalikkan badannya kembali kemudian mendudukkan diri disebuah kursi yang telah disediakan didalamnya. Menghadap kaca rias, Hinata mulai memperbaiki penampilannya yang sedikit acak-acakan. Tangan-tangan terampilnya dengan lihai mengoleskan lapisan bedak tipis pada kulit wajahnya. Bedak dengan merek Jonshon&Jason. Oh! Salahkan pada kulitnya yang terlalu sensitif, hingga diusianya yang sudah dewasa ini dirinya tetap memakai kebutuhan khusus baby. Berdandan pun dia tak bisa, tapi untunglah kami-sama menciptakan Hinata dengan tampang rupawan, hingga tanpa make up pun Hinata tetap menawan.
"Sepertinya kita datang terlalu cepat." Berusaha mengalihkan topik, Hanabi berpura-pura mengecek jam tangan biru yang melingkar ditangannya. Jarum pendeknya menunjukkan pukul 07.00 malam, masih ada waktu satu jam lagi sampai acara dimulai. Mengobrak-abrik tasnya, Hanabi mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah mulai kucel.
"Apa itu?" Tanya Hinata penasaran. Mengawasi dari kaca riasnya, Hinata dengan seksama memperhatikan sang adik yang mulai berkutat dengan lembaran kertas dan pensil ditangannya.
"TTS." Jawab Hanabi singkat tanpa menolehkan pandangannya dan tetap asyik mengisi kotak-kotak jawaban yang masih kosong.
"Hah?" Terkaget-kaget Hinata sampai tidak sadar bahwa mulutnya mengganga lebar.
"Kenapa?"
"Kau kira ini terminal? Bahkan kondektur bis saja sudah tidak main TTS untuk membuang waktu mereka semua main Line loh!Line!" Jabar Hinata panjang-lebar sembari mengingat-ingat kejadian waktu dirinya pulang dari kota Suna setelah kunjungan bisnisnya, tidak pernah Hinata duga bahwa dirinya mendapati seorang kondektur bis yang asyik menggunakan aplikasi Line diponselnya.
"Hpku sudah dikembalikan Nee-chan. Tagihannya belum dibayar." Potong Hanabi menggidikan bahunya kemudian melanjutkan kesenangan barunya setelah interupsi Hinata.
Hinata baru ingat kalau bulan kemarin langganan ponsel Hanabi sudah berakhir dan karena tidak mampu untuk membayarnya, maka dengan sangat terpaksa Hanabi harus menggembalikan ponsel pinjaman tersebut. Merogoh blazer hitam yang dipakainya, Hinata mendapati tangannya menggenggam sebuah ponsel kuno merek Nopia 3310, ponsel kuno yang hanya bisa dipakai untuk mengirim, menerima pesan maupun telepon dan merupakan kebutuhan bisnisnya semata. Oh iya, Hinata tiba-tiba teringat sebuah meme-comic yang dilihatnya disalah satu grup jejaring sosial. Memangnya benar ya kalau ponsel ini ponsel sakti yang bisa meledak seperti bom kalau dilempar?
"Nee-chan, Ada yang datang." Hinata menoleh tanggap mendengar namanya dipanggil. Mengerucutkan bibirnya yang terpoles lipgloss berwarna peach. Hinata menggerutu dalam hati karena Hanabi memotong khayalan indahnya ketika membayangkan dirinya melemparkan ponsel saktinya tersebut kekantor-kantor perusahaan advertising saingannya dan booom! Meledak. Pasar persaingan dimenangkan oleh perusahaan semutnya! Hahaha. Membereskan peralatan make up-nya yang berantakan diatas meja, Hinata segera beranjak untuk duduk bergabung dengan adiknya disofa panjang pojok ruangan.
"Wah, yang benar? Ada secret guest malam ini!?" Aksen terkikik kegirangan mengalun diruangan yang terbilang cukup luas itu. Sedetik kemudian menyembulah warna-warna rambut mirip gulali dari celah pintu yang terbuka.
Menghambur masuk kedalam, kedua wanita dengan warna rambut permen itu langsung mencari-cari tempat duduk didepan cermin untuk memeriksa kembali make-up yang mereka gunakan. Tak lupa baju-baju gaun mini yang membalut tubuh bak model milik mereka membuat Hinata hampir mengigit jari karena iri. Padahal tidak ada yang salahkan pada bentuk tubuhnya? Sital dan berlekuk ditempat yang seharusnya, tapi layaknya umeboshi yang tersembunyi dibalik onigiri. Bukankah kelebihan manusia tidak dapat dilihat oleh dirinya sendiri?
"Yup, semoga saja 'dia'. Kalau beneran 'dia' aku pasti-" Menyambung obrolan yang sempat terputus si pirang dengan tatanan rambut ponytail kembali terkikik riang sembari membenahi poni panjangnya agar tidak menutupi matanya yang terbingkai maskara.
"Aku yakin pasti 'dia'! Toh, inikan perusahaan milik kakaknya!" Potong sang wanita berambut pink dengan sangat yakin, seyakin bahwa bumi itu bundar; besi itu keras dan author itu sangar. "Dan aku harap dia memilihku! Ah-tidak, dia pasti memilihku!" Menangkupkan kedua tangan didepan dada, sang wanita mulai memanjatkan do'a agar keinginannya diijabah oleh sang Maha Kuasa.
"Berhenti bermimpi! Mana sudi dia bersamamu, forehead!" Menepuk jidat lebar rekannya yang mulai berandai-andai setelah berkomat-kamit membaca do'a. Sang wanita pirang menyerigai kecil. "Dia maunya sama aku!" Menjulurkan lidahnya keluar, akhirnya kedua wanita itu memulai perdebatannya.
Perdebatan demi perdebatan bisa Hinata dengar cukup-atau sangat jelas sekali. Penjabaran menggunakan kata pleonasme diatas, mungkin bisa menjelaskan kapasitas suara yang masuk mengetuk gendang telinga Hinata. Bertopang dagu, akhirnya Hinata terpaksa mendengarkan ocehan mereka dari awal sampai akhir. Sesekali melirik ke arah Hanabi yang sedang fokus dengan kotak-kotak panjang vertikal dan horizontal sepertinya asyik sekali, Hinata jadi ingin mencobanya. Tidak seperti Hinata yang mulai jengah mendengar dua orang wanita yang membuat seolah-olah dunia ini miliknya dan yang lain cuma ngontrak! Pokoknya kalau sampai Hinata menjadi tuli, Hinata bersumpah akan meminta ganti rugi sebesar-besarnya.
"Sudah kubilang Uchiha bungsu itu cuma suka wanita sepertiku!"
Aha! Sepertinya sebuah nama yang disebut mengingatkan Hinata pada seseorang dimasa lalu. Lima tahun yang lalu dikampusnya.
"Mana mau dia bersamamu Ino-Pig! Sudah pasti aku yang dipilihnya! Rambut ravennya yang bersanding dengan rambut pink-ku pasti terlihat serasi sekali."
Ya! Ya! Hinata ingat rambut ravennya yang mencuat keatas. Mirip uhmm-pantat bebek atau pantat ayam jago ya!? Sama sajakan?
"Mata onyx-nya lebih cocok denganku! Gelap dan terang mirip ying-yang."
Satu lagi! Mata onyx hitam pekat yang terus mengawasi Hinata seakan-akan Hinata adalah seekor burung pipit yang menjadi mangsa elang ganas. Ituloh, tatapan menusuk bin tajam itu yang membuat Hinata mengkeret dan akhirnya selalu menempel pada Kiba, sahabatnya apabila bertatap muka dengan sang pria. Eh, tapi siapa ya namanya?
"Wajah oh-so-handsomenya cuma cocok untukku!"
Apa? Wajah oh-so-handsomenya tetapi terlihat oh-so-scary dimata Hinata. Bayangkan saja, kenapa sih setiap Hinata pergi kekampus dirinya selalu bertemu dengan orang yang entah siapa namanya-Hinata lupa itu?! Bukankah gedung fakultas bisnis management-tempat kuliahnya dan gedung fakultas ekonomi-tempat Hinata kuliah terpisah jarak yang cukup jauh? Apa mungkin ya setiap hari dia nyasar? Mustahilkan!
"Tidak-tanduk seperti bangsawan seperti dia cocok denganku yang anggun!"
Bangsawan heh?! Hahaha, rasanya Hinata ingin tertawa berguling-guling ketanah hingga akhirnya terhenti karena jatuh ke dasar jurang. Darimananya yang bangsawan? Boro-boro cuma auranya, yang Hinata rasakan menguar dari tubuhnya adalah aura intimidasi, kearoganan, keangkuhan dan berbagai macam aura negatif lainnya yang membuat Hinata acap kali lari terbirit-birit bila dengan sengaja atau tidak sengaja berjumpa dengannya. Dan mengulang deskripsi diatas, kalau Hinata beruntung sedang berdua bersama Kiba maka dengan sangat bersyukur Hinata mengekor dibelakang Kiba sehingga menimbulkan rumor bahwa Hinata menyimpan perasaan khusus pada Kiba padahal Hinata sudah tahu sejak awal Kiba tidak doyan cewek. Jujur saja, Hinata merasa bersalah dan banyak hutang pada Kiba, sahabatnya laki-lakinya yang sering terlihat berdua bersama anjing kecil peliharaannya.
"Pokoknya Sas-UKE UCHIHA cuma cocok untukku!" Teriak mereka berdua bersamaan dengan Hanabi yang melonjak riang karena berhasil menyelesaikan lembaran terakhir TTSnya dan jangan lupakan Hinata yang memucat setelah mendengar deklarasi mereka. Otaknya mulai bekerja mengingat nama orang itu-Sasuke Uchiha, orang yang selama ini ditakutinya. Masa lalunya- arrrgh! Hinata mengacak rambutnya pelan. Dia-dia masih punya satu utang pada Uchiha bungsu itu.
.
.
.
Nafasnya terengah, tetapi hal tersebut tak menghentikan langkahnya untuk terus memacu kakinya berharap dapat mempendek jarak pintu yang ada didepannya. Rambut panjangnya yang dikuncir longgar kebelakang terlihat menari-nari diudara menambah kesan dramatis. Bahkan beberapa staf pekerja yang melihat hal itu otomatis menengokkan kepalanya melihat sang direktur yang baru kali ini terlihat seperti dikejar rentenir. Ada apa sebenarnya?
"APA YANG TERJADI DISINI?!" Mendobrak pintu putih didepannya dengan teriakan yang melengking tinggi. Itachi memegang dadanya dan berusaha mengatur nafasnya yang putus-putus. Berjenggit ngeri, beberapa staf yang bertanggung jawab terlihat mengkerut mendapat tatapan tajam dari bosnya, tetapi tidak dengan seseorang yang sedang duduk dihadapan beberapa layar besar yang menampilkan syuting acara "Take Me Out!" Itu. Tidak bergeming dari tempatnya, orang itu malah terlihat asik mengutak-atik beberapa tombol yang berkelap-kelip didepannya.
"Sasuke! Jelaskan padaku apa yang terjadi disini? Kau melakukan sabotase?" Menggeram marah, Itachi berjalan menghampiri sang adik yang masih asyik dengan pekerjaan didepannya. "Hey!" Itachi yang sudah tidak sabar menuntut jawaban yang masuk akal menepuk keras bahu Sasuke.
"Seperti yang kau lihat! Jangan ganggu aku!" Mengibaskan tangannya diudara, Sasuke mencoba mengusir Itachi. Oh Tuhan! Itachi dosa apa sampai punya adik tengil seperti ini?
"Tapi ini acaraku kau tak berhak untuk-"
"Dan dia calonku. Kau juga tak berhak mencampuri urusanku. Kau hanya perlu tahu bahwa dia cuma boleh memilihku." Bertopang dagu, Sasuke memutar matanya bosan. Ditempatkan sebagai hidangan utama membuatnya harus menunggu giliran agar dapat tampil memukau diakhir acara.
"Ca-calon?" Mendadak lemot, Itachi terbata-bata menggulang kalimat Sasuke dan dia tidak salah dengar karena pada akhirnya Sasuke membalas pernyataannya dengan sedikit anggukan.
"CALON?!" Terjukir kebelakang, Itachi ingin segera berlari menuju kuil terdekat dan mengucap seribu satu syukur karena Kami-sama mengabulkan do'anya. Haha! Sasuke sudah normal! Dia sembuh! Tapi- "Err- maksud kamu dia?" Menggaruk rambutnya yang panjang karena ketombe, Itachi melirik satu layar berukuran 12inchi yang sembari tadi jadi fokus utama onyx hitam Sasuke. Layar kecil yang menampilkan wanita berambut indigo sepunggung dengan plaindress biru langitnya, poni ratanya uhhmm-sebenarnya tadi Itachi ingin protes soal pilihan wanita adiknya yang cukup sederhana itu, tapi kalau dilihat-lihat kok ternyata-
"Jangan menatapnya seperti itu! Dia milikku!"
Astaga! Itachi hampir saja melompat dari tempatnya setelah diteriaki Sasuke seperti itu. Mendengus kesal Itachi mencibirkan mulutnya membentuk kalimat, 'dasar posesif'. Mengetuk-ketuk kakinya yang terbalut sepatu kulit ratusan ribu ryo, Itachi mencoba membujuk kembali Sasuke yang bisa dibilang sudah menghancurkan acaranya.
"Ah, sudahlah! Cepat kau bersiap-siap di backstage! Sebentar lagi giliranmu. Cepat temui orang yang bertanggung jawab atas riasanmu." Tidak mau ambil pusing dengan ke-OOC-an Sasuke yang semakin menjadi-jadi. Itachi menyarankan pada Sasuke untuk segera menyiapkan diri tampil didepan kamera. Yah, walau Itachi akui bahwa penampilan Sasuke sudah lebih dari cukup untuk membuat para wanita klepek-klepek sampai ngebuat bidadari jatuh kayak iklan Ax*. Tapi nggak ada salahnyakan menggiring adik-kesayangannya itu untuk mengecek penampilan sekali lagi dibelakang panggung daripada membiarkan adiknya seenak udel menyabotase acara milik asuhannya.
Dengan gesture tubuh ogah-ogahan khas Uchiha, Sasuke beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Itachi yang langsung mengambil alih posisi yang Sasuke tempati tadi. Seperti kata pepatah, 'angkat pantat hilang tempat'.
"Hei Sasuke, kau sepertinya tidak perlu khawatir dia memilih pria lain." Racau Itachi ketika Sasuke hampir saja melenggang pergi keluar.
"Kenapa kau berpikir bergitu?"
"Lihatlah-" Menunjuk layar kaca yang dimaksud. Itachi menggelengkan kepalanya pelan dan hampir saja menertawai tingkah Hinata yang tertangkap oleh mata kamera. "Sepertinya dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan sejak tadi dia tidak sadar kalau kau memadamkan lampunya dari sini."
"Karena itu aku khawatir, bagaimana kalau dia tidak segera mematikan lampu dan bla-bla-bla." Dan saat itu Itachi bersumpah ingin kembali berlari kekuil terdekat dan berdo'a atau lebih tepatnya memohon dengan amat sangat, 'TUHAN, KEMBALIKAN ADIKKU YANG DULU.'
.
.
.
Mind to RnR?
