A Coin © ddideubeogeo17

.

.

.

Hana

Dul

Set

Enjoy it~

.

.

.

Acara makan malam antara Mingyu dan Wonwoo sudah berlalu sejak beberapa hari lalu, dan Wonwoo masih berusaha menguraikan segala saraf di otaknya hingga ke dasar. Berharap ia bisa menemukan satu saja alasan logis kenapa bisa ia tak mampu menolak kehadiran Mingyu dalam hidupnya, sedangkan ia sendiri meyakini jika dirinya adalah seorang yang sangat apatis pada orang baru.

Saat di akhir acara makan malam saat itu, Mingyu merengek dan tidak ingin Wonwoo pulang. Namun, sebagai dokter yang sudah biasa menangani sifat khas anak-anak seperti itu, tentu saja Wonwoo sudah punya cara ampuh menanganinya. Ia pun mengiming-imingi Mingyu jika setelah makan malam itu mereka bisa bertemu dan bermain kapan saja selama Wonwoo tidak sedang bekerja.

Dan terwujudlah sekarang.

Lelaki bermarga Jeon itu tengah duduk di salah satu bangku taman dan menunggu kehadiran sosok yang digadang-gadang oleh sang ibu sebagai pasangan hidupnya nanti.

"Wonnie hyung!"

Wonwoo menoleh dan tersenyum saat menyadari jika Mingyu sudah datang dengan gaya pakaian yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu."Hai, akhirnya Mingoo datang juga."

"Eh? Wonnie hyung sudah menunggu lama? Maafkan Mingoo, ini semua karena Seokminnie!"

Wonwoo melirik ke arah belakang Mingyu, dan bisa dilihat jika Seokmin tengah mengusap tengkuk canggung sambil sedikit membungkuk pada Wonwoo.

"Jadi, kenapa Mingoo menyalahkan Seokmin-ssi, hm?"

"Sebelum ke sini, Seokminnie memaksa Mingoo makan sayur, padahal kan rasanya tidak enak dan Mingoo tidak suka. Dia menyebalkan!" ujar Mingyu memasang wajah juteknya.

Wonwoo tersenyum sebelum dengan lembut ia menarik pelan tangan Mingyu dan mendudukkan tubuh tinggi itu di sampingnya."Tidak boleh marah-marah begitu, Seokmin-ssi itu berniat baik. Sayur itu sehat, Mingoo ingin jadi anak yang sehat kan?"

Mingyu mengangguk pelan dengan wajah lugunya, melihat reaksi itu membuat Wonwoo sontak mengusap surai Mingyu dengan bangga."Nah begitu, Mingoo kan anak baik dan pintar."

Setelah itu sebenarnya tidak banyak yang keduanya lakukan, mereka hanya bercanda di taman itu sambil menikmati panorama langit sore –masih dengan Seokmin yang mengawasi tidak jauh dari mereka.

"Apa Seokmin selalu seperti itu, Mingoo?"

"Seperti apa Wonnie hyung?"

"Menemani dan mengawasi kemanapun Mingoo pergi."

"Iya, Seokminnie selalu bersama Mingoo. Memang kenapa Wonnie hyung bertanya begitu? Jangan-jangan Wonnie hyung mau mengambil Seokminnie ya?!"

Wonwoo menggeleng sambil terkekeh,"Tidak kok, justru Wonnie hyung jadi merasa tenang."

"Eung?"

"Wonnie hyung tenang karena itu berarti kapanpun dan dimanapun, keselamatan Mingoo akan terjamin."

"Oh, memang Mingoo kenapa?"

"Tidak, Mingoo tidak kenapa-apa. Hanya saja dunia ini penuh tipu muslihat, jadi jika kita tidak berhati-hati maka mara bahaya bisa hadir kapan saja."

"Tipu, apa?"

Melihat wajah bingung Mingyu, Wonwoo pun meraih tangan Mingyu untuk digenggam. Pada akhirnya ia hanya berkata,"Sudah, tidak perlu di pikirkan."

Lelaki bermarga Jeon itu tidak mungkin berkata pada Mingyu hal yang sesungguhnya seperti,"Anak autis sepertimu memiliki peluang besar untuk menjadi korban tipuan dan tindak kejahatan." Wonwoo merasa itu terdengar sangat kasar meskipun maksudnya tidak seperti itu.

"Hyung, Mingoo mau es krim." Ujar Mingyu tiba-tiba.

"Es krim? Hmm sebentar." Wonwoo mengarahkan pandangannya ke segala arah dan ia bersyukur saat menemukan ada minimarket yang berjarak cukup dekat dari tempatnya duduk.

"Di sana ada minimarket, Mingoo tunggu di sini saja ya."

"Hyung mau beli es krim?"

"Iya, tunggu ya."

"Tapi Mingoo mau ikut."

"Ikut? Tidak usah, Mingoo di sini saja bersama Seokminnie. Oke?"

"Ish tapi hyung kan tidak tahu es krim apa yang Mingoo inginkan." Mingyu masih bersikeras, namun saat menyadari jika omongan Mingyu ada benarnya juga, Wonwoo pun mengangguk.

"Baiklah, kajja~"

Sebelum mereka beranjak, Wonwoo menghampiri Seokmin dan meminta izin untuk mengajak Tuannya membeli es krim."Oh, tentu Wonwoo-ssi."

Tak membutuhkan waktu lama hingga acara membeli es krim pun selesai, Wonwoo menenteng kantung plastik yang berisi beberapa es krim dan kudapan ringan kesukaan Mingyu. Saat keluar dari minimarket itu, Mingyu menghentikan langkah kakinya.

"Kenapa Mingoo berhenti, hm?"

"Mingoo pegal. Wonnie hyung~?"

"Apa?" Entah kenapa Wonwoo merasakan firasat buruk.

"Gendong Mingoo ya?"

Wonwoo menelan ludahnya susah payah. Sungguh, jika tubuh Mingyu seukuran dengan sahabatnya yang mungil –Jihoon, Wonwoo pasti akan menyanggupi saja. Namun realitanya, tubuh Mingyu itu tinggi dan berisi, berbanding terbalik dengan tubuh Wonwoo yang sangat kurus.

"Wonnie hyung~? Tidak mau ya? Padahal Seokminnie saja suka menggendong Mingoo." Ujar Mingyu dengan nada merengek, membuat Wonwoo tidak tega.

Wonwoo menarik napas panjang,"Mau kok, ayo."

Mingyu tersenyum begitu lebar, ia segera mendekati Wonwoo yang sudah siap dalam posisi berjongkok membelakanginya. Lelaki bermarga Kim itu mulai mengalungkan tangannya ke leher Wonwoo.

Sementara lelaki berperawakan kurus yang sudah merasakan beban tubuh lain di punggungnya itu menarik napas panjang, dengan mengarahkan seluruh tenaganya ia berusaha berdiri dengan susah payah. Kedua lengan rampingnya menopang sepasang kaki Mingyu yang cukup berat, ditambah dengan beban plastik yang berada di salah satu genggamannya.

Belum sampai langkah ke sepuluh, Wonwoo sudah berhenti dan terlihat jelas upayanya yang berat dalam mengambil napas.

"Wonnie hyung? Kenapa berhenti? Cepat jalan~ Mingoo ingin makan es krim."

"Hah~ Hah~ Tu–tunggu sebentar, ya?" ujar Wonwoo dengan kepayahan.

"Hu'um." Mingyu menyandarkan kepalanya di salah satu bahu Wonwoo, dari posisinya yang begitu membuat Mingyu bisa melihat jelas wajah letih Wonwoo dan bulir keringat sebesar biji jagung yang berada di wajah manis itu.

"Wonnie hyung, kenapa berkeringat begitu banyak?"

"Hm? Tidak kok."

"Begitukah? Ya sudah, kalau begitu ayo cepat~"

Wonwoo terkekeh sambil melanjutkan langkahnya dengan pelan,"Jangan lupa nanti es krimnya dibagi dengan Seokmin, arrachi?"

"Tidak mau!"

"Tidak boleh seperti itu, kan salah satu es krim yang kita beli tadi memang ada yang untuk Seokmin."

"Heum."

"Heum apa? Seokmin dikasih atau tidak?"

"Iya, nanti Mingoo kasih es krimnya untuk Seokminnie."

"Good boy!"

Sebenarnya jarak taman dengan minimarket itu cukup dekat, bahkan tak butuh waktu hingga bermenit-menit lamanya. Namun, melihat keadaan dimana tubuh seramping Wonwoo harus membawa beban berat di punggung begitu, tentu saja tidak menutup kemungkinan langkahnya jadi sangat lambat dan membuat mereka tidak kunjung sampai.

Wonwoo bisa melihat Seokmin yang mulai mendekatinya,"Ya ampun, Tuan Muda Kim? Anda tidak apa-apa, kan?"

"Dia baik-baik saja, Seokmin-ssi. Tidak perlu khawatir." Jawab Wonwoo.

"Oh , syukurlah. Tuan Muda Kim, turun ya? Kasihan Wonwoo-ssi. Biar saya yang menggendong Tuan Mu–"

"Shireo! Aku maunya digendong Wonnie hyung. Titik!"

Seokmin menoleh pada Wonwoo dan menampakkan raut wajah tidak enak,"Wonwoo-ssi, maaf seharusnya saya saja yang me–"

"Tidak apa-apa kok, santai saja."

Mereka pun berjalan dengan Seokmin yang berada di belakang Wonwoo, mempersilahkan dua Tuan Muda itu berjalan mendahuluinya.

BRUK!

"Wonwoo-ssi!" / "Wonnie hyung!"

Koor serempak dari dua orang itu sontak membuat Wonwoo menoleh,"Tenang-tenang, aku tidak apa-apa." ujar Wonwoo sambil mengulas senyum –berusaha menenangkan Mingyu dan Seokmin yang seketika dilanda kepanikan. Bobot tubuh Mingyu yang tidak bisa dibilang ringan itu sanggup membuat energi Wonwoo terkuras habis, hingga tubuh Wonwoo ambruk saat tenaganya sudah mencapai batas kesanggupan.

Namun, di dalam hati kecilnya Wonwoo bersyukur karena taman tengah dalam keadaan sepi. Ia tidak bisa membayangkan betapa ia harus menahan malunya jika sedang banyak orang.

"Wonwoo-ssi, apa anda terluka?"

"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Wonwoo sambil berusaha berdiri.

"Wonnie hyung bohong! Itu celana hyung di bagian lutut kenapa ada merah-merah?"

"Anda terluka, Wonwoo-ssi."

"Eoh? Ah, ini hanya luka kecil." Wonwoo pun mulai mengambil posisi siap menggendong Mingyu,"Sudah, ayo kita jalan lagi." Namun secara refleks ia mengeluarkan ringisan dari bibirnya.

"Anda yakin tidak apa-apa, Wonwoo-ssi?" tanya Seokmin sangsi.

"Wonnie hyung, maaf." Lirih Mingyu. Wonwoo mendekati Mingyu dan mengangkat plastik digenggamannya ke hadapan lelaki bermarga Kim itu,"Ssstt sudah, hyung baik-baik saja. Hei lihat, apa Mingoo mau es krim ini mencair?"

Mingyu menggeleng keras.

"Nah makanya, ayo cepat kita mencari bangku dan makan es krim ini. Kajja~"

Mingyu masih terdiam, membuat Wonwoo mengernyit bingung. Ia melakukan kontak mata dengan Seokmin, namun lelaki itu juga mengendikkan bahunya tanda tidak mengerti.

"Kenapa Mingoo? Ayo, naik ke punggung Wonnie hyung." Ujar Wonwoo.

Mingyu menggeleng, lagi.

"Lalu kenapa?"

Mingyu mendekati Seokmin dan berkata,"Seokminnie tolong belikan obat untuk Wonnie hyung. Mingoo juga pernah melihat merah-merah merembes pada lutut Mingyu saat jatuh, dan itu sakit." ujarnya polos.

Seokmin segera mengangguk dan segera pergi, sedangkan Wonwoo tertegun. Ia bahkan tidak menyadari saat Mingyu sudah berdiri tepat di depannya.

"Wonnie hyung?"

Wonwoo sedikit mendongak, ia bisa melihat lelaki berambut klimis belah tengah dengan kacamata besarnya itu menampakan raut khawatir. Wonwoo pun mengusap surai itu dengan penuh kelembutan,"Apa, hm? Sudah ya, Mingoo jangan pasang wajah begitu, Wonnie hyung jadi ikut sedih."

Mingyu menggeleng keras, setelahnya ia tersenyum,"Aku sudah tersenyum. Jadi sekarang Wonnie hyung tidak sedih lagi kan?"

Wonwoo menggeleng dengan tangan yang masih mengusap kepala Mingyu,"Kau orang baik, Mingyu-ya." lirihnya hampir menyerupai desau angin.

"Apa Wonnie hyung?"

"Tidak. Ayo kita duduk dan makan es krimnya sambil menunggu Seokmin kembali."

"Eung!"

Pertemuan yang awalnya Wonwoo kira akan menjadi pertemuan terakhir diantara ia dan Mingyu, ternyata tidak. Karena pada kenyataannya hingga beberapa waktu ke depan, intensitas pertemuan mereka justru semakin meningkat.

.

.

.

TOK TOK

"Ya, silahkan masuk."

Cklek

Wonwoo mendongak dan menatap seorang suster yang mengantar dua sosok berbeda usia. Lelaki bermarga Jeon itu tertegun saat menyadari jika ia mengenal salah satu sosok di depannya.

"Annyeong haseyo, Uisanim."

Wonwoo menoleh pada sosok wanita yang sudah memasuki usia senjanya,"Nado annyeong, Nyonya Kim."

"Hei, ayo beri salam pada Uisanim."

Wonwoo tersenyum lembut saat melihat pemandangan yang sudah biasa di depannya, dimana seorang anak yang takut dibawa ke dokter akan bersembunyi dan menempel pada orangtuanya bahkan enggan sekadar untuk menatap wajah sang dokter.

"Daehan sayang, ayo beri salam. Daehan kan anak baik, masa bertingkah tidak sopan begini?"

"Halmeonie, Daehan tidak mau disuntik!"

"Tidak akan ada yang menyuntik Daehan."

"Tapi appa bilang dokter itu suka menyuntik pasiennya, dan Daehan kan sekarang pasien. Jadi pasti Daehan disuntik, Daehan tidak mau!"

"Ck, appamu itu hanya bercanda sayang. Percayalah pada halmeoni, hm?"

"Benarkah?" tanya anak kecil itu ragu.

"Tentu." jawab Wonwoo menyambung, ia terkekeh melihat interaksi antara nenek dan cucu di depannya itu.

"Eoh? Suaranya seperti Daehan kenal." Karena tadi terlalu fokus dengan rasa takutnya, Daehan jadi tidak mendengarkan suara dokter itu saat tadi membalas sapaan neneknya.

"Cepat beri salam."

"Annyeong haseyo, Uisanim." Ujar Daehan sambil membungkuk ke arah yang salah. Membuat wanita renta itu membetulkan arahnya dan tersenyum canggung pada Wonwoo, dengan mulut yang bergerak tanpa suara mengucapkan,'Maaf.'

Wonwoo mengangguk,"Nado annyeong, adik tampan. Mari silahkan duduk."

Saat keduanya sudah duduk tepat di depannya, Wonwoo melakukan tugasnya sebagai dokter. Ia memeriksa anak itu dan dibantu oleh suster yang beberapa saat masuk ke ruangannya.

Setelah pemeriksaan, mereka pun berbincang membahas kesehatan Daehan.

"Jadi, Daehan sakit apa, Uisanim?"

"Daehan demam dan flu, mungkin karena kebetulan sekarang cuaca di luar sedang tidak menentu membuat Daehan mudah terserang penyakit. Daehan juga kekurangan asupan makanan yang bergizi, sehingga daya tahan tubuhnya lemah. Tapi tidak apa-apa, cukup beristirahat dan makan makanan yang bergizi secara teratur, pasti Daehan akan cepat sembuh. Mungkin saya hanya akan memberi obat pereda panas, obat flu, vitamin dan suplemen makanan." Ujar Wonwoo.

"Oh, nah Daehan dengar kan apa kata Uisanim? Makan makanan bergizi berarti Daehan mulai sekarang harus makan sayur."

"Ish tapi sayur tidak enak halmeoni. Daehan tidak suka."

Jawaban Daehan mengingatkan Wonwoo pada seseorang, tanpa sadar bibirnya refleks melukiskan senyuman.

"Tidak bisa, sayur itu menyehatkan. Daehan harus suka sayur."

"Appa juga tidak suka sayur, tapi dia sehat dan bahkan tubuhnya sangat tinggi."

"Ck! Appamu itu memang contoh yang buruk. Jangan menirunya."

Wonwoo berdehem,"Daehan, jika ingin kesehatan Daehan pulih maka Daehan harus menuruti apa kata halmeoni tadi. Daehan mau kan bisa bermain lagi dan tidak hanya terus-terusan beristirahat di rumah?"

"Tapi sayur tidak enak~" rengek Daehan.

"Yah, sayang sekali. Padahal Wonwoo hyung sangat suka sayur."

"Eh? Wonwoo hyung? Uisanim mengenalnya?" tanya Daehan antusias. Meskipun matanya memang tidak bisa berfungsi sebagaimana orang pada umumnya, namun tetap saja binar indah di mata itu tak akan pernah hilang.

"Tentu, karena dokter yang berada di depan Daehan ini adalah Wonwoo hyung yang beberapa waktu lalu Daehan temui."

"WOAH!" Daehan sontak berdiri dari duduknya dan meraba-raba meja, berusaha melangkah mendekati Wonwoo.

Dokter itu pun berdiri dan mendekati Daehan,"Wonwoo hyung di sini." Ujar Wonwoo sambil membungkukkan tubuhnya dan meraih salah satu tangan Daehan. Ia terkekeh saat Daehan langsung menerjangnya dengan pelukan erat.

"Uisanim? Jadi, Uisanim yang menemani Daehan saat dia hilang waktu itu?" tanya Nyonya Kim selaku nenek yang kehilangan sang cucu saat berbelanja beberapa waktu lalu.

Wonwoo mengangguk. Wajar sang nenek tidak tahu rupa Wonwoo, karena saat itu Wonwoo tengah menyuruh Daehan untuk duduk sebentar sementara Wonwoo berniat membelikannya minuman di vending machine terdekat, tapi saat kembali Wonwoo menemukan jika Daehan sudah direngkuh erat oleh wanita paruh baya yang menangis, dan Wonwoo bisa menyimpulkan jika itu adalah nenek Daehan meskipun wajah wanita itu tidak begitu terlihat dari posisi Wonwoo.

Karena tidak mau menganggu momen saat itu, Wonwoo pun berbalik pergi dengan senyum tipis tersemat di bibirnya,"Annyeong Daehan-ah, semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu." Lirihnya.

Wonwoo tidak tahu saja, sejak pertemuannya itu Daehan tak pernah bosan menceritakannya pada sang nenek, kakek, dan ayahnya. Seolah-olah Wonwoo itu pahlawan super baginya.

Dan saat sekarang mendengar cerita Wonwoo langsung, wanita renta itu tak henti-hentinya bersyukur dan mengucapkan terima kasih pada Wonwoo. Ia tidak menyangka jika sosok penolong anaknya itu memang bukan hanya berhati mulia, tapi juga memiliki paras yang sangat manis –persis seperti apa yang Daehan ceritakan, meskipun diragukan karena wanita tua itu paham betul kondisi penglihatan sang cucu. Pantas saja Daehan selalu menuntut agar sang ayah menemui Wonwoo dan menjadikan Wonwoo sebagai ibunya.

Jika sudah melihatnya langsung begini, Nyonya Kim pun setuju dengan segala pujian yang Daehan lontarkan tiap membicarakan Wonwoo.'Dilihat dari sudut manapun Wonwoo memang sudah memenuhi kualifikasi sebagai ibu untuk Daehan dan suami untuk anakku.' Batin Nyonya Kim.

Mereka larut dalam obrolan, namun interaksi mereka harus berhenti saat terdengar suara ketukan di pintu, dan suster yang menemaninya tadi menyembulkan wajah,"Permisi, Uisanim. Pasien berikutnya sudah menunggu."

"Ah, iya. Terima kasih."

"Daehan, ayo kita pulang. Lihat, Uisanim sedang sibuk."

Anak lelaki dalam pelukan Wonwoo masih memeluk sang dokter dengan erat,"Tidak mau."

"Uisanim, maaf atas perilaku tidak sopan Daehan."

"Tidak kok, dia justru sangat menggemaskan." Ujar Wonwoo dengan tangan yang terus mengusap sayang kepala Daehan.

"Kalau begitu, kami permisi. Terima kasih banyak, Uisanim."

"Aigoo tidak usah seperti itu. Lagipula ini memang sudah tugasku, Nyonya."

"Ayo kita pulang, Daehan."

Anak kecil yang masih memeluk Wonwoo itu mulai melepaskan pelukannya, namun ia masih menggenggam ujung jas dokter Wonwoo dengan erat,"Uisanim, kapan-kapan main ke rumah Daehan ya?"

Wonwoo sebenarnya tidak tega melihat wajah sedih Daehan saat harus berpisah darinya, namun bagaimana pun juga sudah ada pasien lain yang menjadi tanggung jawabnya. Jadi pada akhirnya ia hanya menuruti Daehan, dan menyanggupi permintaan anak itu. Tidak lupa, Wonwoo pun bertukar kontak dengan Nyonya Kim.

.

.

.

Memasuki akhir pekan, biasanya Wonwoo hanya akan menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang monoton dan bahkan dianggap membosankan oleh beberapa orang. Ia paling suka bersantai sambil membaca novel, ditemani segelas teh chamomile di ruang santainya. Namun, pengecualian untuk kali ini. Karena saat jarum jam menunjukkan pukul satu siang, ia justru sudah memarkirkan mobilnya di garasi rumah sosok yang sudah meneleponnya pagi tadi.

Kim Daehan.

Ia yang menelepon Wonwoo dan merengek agar Wonwoo makan siang bersama di rumah si anak kecil bermarga Kim itu. Walau sebenarnya Wonwoo malas bergerak, tapi ia akui jika sebenarnya ia juga merindukan sosok anak kecil tunatetra yang selalu membawa aura positif, dan dibalik kekurangannya itu Daehan dianugerahi dengan rupa yang luarbiasa tampan untuk anak seusianya.

Wonwoo mulai melangkah memasuki mansion yang sangat megah itu, diam-diam ia berdecak kagum atas kekayaan sang pemilik rumah. Tepat setelah Wonwoo berdiri di depan pintu yang menjulang tinggi, ia menekan bel dan tak berapa lama terdengar suara derap langkah kaki yang menghampiri.

Cklek

"Silahkan masuk, Tuan Muda."

'Ck, lagi-lagi dipanggil seperti itu.' batin Wonwoo merasa sungkan saat sosok wanita yang diyakininya bekerja sebagai pelayan di mansion itu memanggilnya dengan 'Tuan Muda'.

Wonwoo menelisik seluruh hal yang ditangkap sepasang netranya, dan ia merasa kagum dengan interior ruangan yang begitu elegan. Tanpa banyak bicara, Wonwoo mengikuti sosok wanita itu dan ia yakin jika mereka tengah berjalan ke arah ruang utama.

Samar-samar Wonwoo bisa mendengar suara beberapa orang yang sedang bercengkerama.

"Kenapa sih Daehan sangat ingin mempertemukan appa dengan dokter itu?"

"Karena dokter kesayangan Daehan itu memiliki hati yang sangat baik, dan appa harus tahu! Wajah dokter itu sangat manis."

"Appa tidak percaya."

"Daehan bersungguh-sungguh."

"Benarkah?"

"Hu'um benar. Tanyakan saja halmeoni dan haraboji."

"Eh? Haraboji kan belum pernah melihatnya langsung."

"Haha dengar itu." ejek suara lelaki yang sedari tadi dipanggil 'appa'.

"Ish!"

"Sudah-sudah, jangan ribut terus." Satu-satunya wanita di sana pun berperan sebagai penengah.

Hingga akhirnya wanita yang sedari tadi mengantarnya, mempersilahkan Wonwoo masuk ke dalam ruangan. Wonwoo mengucapkan terima kasih dan mengangguk sekilas, ia menarik napas dalam guna menetralkan kegugupan yang entah kenapa tiba-tiba menderanya.

Wonwoo tidak mengerti mengapa derap langkah kakinya seketika mampu mengerem kebisingan di ruangan itu, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang membekukan tiap sel saraf penghuninya.

"A–annyeong?" sapa Wonwoo ragu.

Dari tempatnya berdiri, bisa terlihat wajah wanita renta yang familiar, duduk bersebelahan dengan seorang pria dengan keriput di wajah yang diyakini Wonwoo sebagai suami sang wanita renta, lalu ada dua sosok lelaki berbeda usia yang duduk membelakanginya.

"Annyeong Wonwoo-ya."

Wonwoo mengulas senyum tipis dan mulai melangkah mendekat, namun tubuhnya sontak mendadak terpaku saat satu dari dua lelaki yang membelakanginya tadi menoleh.

"K–kau" Wonwoo tergagap, entah hilang kemana fungsi pita suaranya. Ia bahkan merasa jika tenggorokan tercekat.

"Ada apa Wonwoo uisanim?"

Wonwoo kembali mengumpulkan kesadarannya saat mendengar suara wanita paruh baya menembus gendang telinganya. Terlihat jelas raut wajah lelaki bermarga Jeon itu, hingga pada akhirnya wanita berusia senja yang tidak lain adalah Nyonya Kim berdiri mendekat, menghampiri Wonwoo dan menuntunnya untuk duduk di ruang santai.

"Oh, jadi ini yang bernama Jeon Wonwoo?"

Wonwoo mengangguk dengan wajah linglung.

"Harabeoji, di mana Wonwoo uisanim? Daehan ingin menyapa Wonwoo uisanim." Seru laki-laki termuda di sana dengan begitu semangat.

Pria yang dipanggil harabeoji itu meraih tangan sang cucu dan menuntunnya ke hadapan Wonwoo.

"Wonwoo hyung!" ujarnya sambil memeluk tubuh Wonwoo.

Meskipun belum sepenuhnya bisa mencerna keadaan yang ada, setidaknya Wonwoo tahu diri untuk tidak mengecewakan anak polos yang tengah memeluknya. Wonwoo pun memilih memeluk balik anak tersebut dan mengusap rambutnya,"Apa Daehan merindukan hyung?"

"Hu'um." Ujar Daehan dengan suara teredam karena ia mengusalkan wajahnya di perut Wonwoo.

"Nah Yeobo, inilah Jeon Wonwoo yang ku maksud, dokter sekaligus sosok yang telah menemani Daehan di taman waktu itu." Nyonya Kim menjelaskan pada sang suami.

"Jika sudah melihat langsung seperti ini, aku benar-benar percaya dengan tiap kata yang dilontarkan Daehan." Ujar lelaki paruh baya itu sambil terkekeh.

Wonwoo tidak begitu fokus mendengar suara orang-orang di sekelilingnya, ia masih berusaha mengurai saraf yang terasa kusut menggulung di otaknya. Wonwoo menggelengkan kepala pelan, menetralkan rasa pening yang tiba-tiba mendera hingga tanpa sadar dahinya mengerut dalam.

"Apa uisanim baik-baik saja?" tanya Nyonya Kim saat menyadari jika ada yang tidak beres dengan Wonwoo.

Lelaki yang kini jadi pusat perhatian itu hanya mengangguk kecil sebelum akhirnya ia merasa pandangannya menggelap disertai tubuh yang melemas. Hal terakhir yang diingat Wonwoo adalah suara pekikan beberapa orang, lalu ada sosok yang terlihat panik dan berlari ke arahnya, setelah itu ia tidak mengingat apapun.

.

.

.

Di kamar mewan itu terlihat sosok lelaki dengan wajah rupawan tengah memejamkan mata di atas ranjang. Terlihat begitu tenang dan tidak menyadari jika hal itu justru membuat seseorang terusik karenanya.

'Ya Tuhan, apa yang harus aku katakana saat dia sadar nanti?' batin seorang lainnya yang duduk tepat disamping ranjang, menemani dengan hati berdeba-debar atas segala praduga yang mungkin terjadi. Ia bahkan bisa merasakan asap imajiner yang keluar dari kepalanya karena terlalu keras berpikir.

Hening sudah melingkupi di kamar itu hingga putaran jarum panjang pada jam telah kembali ke tempat asal.

Karena terlalu fokus dengan isi pikirannya sendiri, lelaki yang tengah melamun itu tidak menyadari sosok lain yang sudah mulai sadarkan diri.

.

.

.

.

.

TBC

*Mind to RnR? Gomawo^^

**maaf ya, jangan terlalu berharap, apalagi berekspektasi tinggi sama cerita ini 😊hehe

***tbh, feel ke meanie udah susah banget esvi bangun :( esvi tetep sayang seventeen, tetep sayang mingyu, tetep sayang wonwoo, dan semua member. tapi untuk nge feel ke meanie jadi satu paket, entah kenapa jadi ngerasa diri sendiri itu masokis. Karena makin ke sini, idol cowok deket sama idol cewek, atau temenan, atau main drama bareng, atau main reality show bareng, atau bahkan nge mc bareng, pasti shipper lain menjamur sambil ngebawa keyakinan masing2. dan jujur aja, tmn esvi rata2 ngeshipperin mingyu sama tmn cewek sesama mc (gaperlu disebut lah ya), jadi yaaa entah kenapa nyesek sendiri. esvi ga berhak marah atau kesel sama siapapun, tp esvi ga nyaman ngerasain perasaan ini.

Maaf, esvi di sini emang masih childish banget, tp untuk kali ini aja esvi pengen curcol di sini. Karena di dunia nyata udah ga ada yg sepaham T.T kalo keadaan emang begini terus dan ditambah meanie yang makiiiiiiin jauh, mungkin ke depannya cuma bisa dukung mereka sebagai mingyu dan wonwoo. dan ff yang tersisa mungkin di tamatin dan esvi ga akan bikin cerita mereka lagi.