Libur tengah semester.
Hari yang membahagiakan bagi—nyaris—seluruh anak di dunia.
Di sana, di halaman sebuah apartemen, sekelompok anak sedang bermain.
Salah seorang dari mereka, seorang anak kecil berambut coklat—berumur sekitar 9 tahun— menangkap bola yang tadi ditendang olehnya. Mata cokelatnya menatap seorang anak kecil yang sedang berjalan di pinggir halaman apartemen.
"Dia ya?"
Temannya yang berambut turquoise memandang bingung tetangga seapartemennya. "Dia siapa, Endou?"
Endou kembali menatap wajah temannya itu. "Kata ayahku, dua hari yang lalu ada keluarga yang pindah ke apartemen ini! Mungkin saja dia adalah anak dari keluarga itu, Kazemaru!"
Kazemaru mengangguk. "Tapi, kenapa ia tidak kelihatan kemarin?"
Endou mengedikkan bahunya. "Aku juga tak mengerti. Mungkin ia masih merapikan rumahnya kemarin?"
"Dia kelihatannya pendiam, ya," ucap Kazemaru. "Kira-kira siapa namanya, ya?"
"Uhm… Rasanya di papan namanya tertulis… G—G apa, ya?" gumam Endou. "G… Go… Nah, itu dia!"
"Go?"
"Bukan! Nama di papannya itu—"
.
.
Disclaimer : Inazuma Eleven is belong to Level-5
Warning(s) : OOC, AU, Shounen-ai, ide aneh, judul tak sesuai dengan cerita, typo bertebaran di mana-mana, bahasa yang tidak sesuai, EYD yang salah, cerita membingungkan, dan segala macam kesalahan lain yang dapat anda temukan di dalam fanfic ini.
Note : Italic bisa berarti istilah, bahasa asing, kalimat yang diucapkan dalam hati, kata yang diucapkan dengan penekanan, percakapan di telepon, dan flashback.
.
.
.
"Step on your shadow"
—I always dreamed of a time when our shadow becomes one—
Chapter 2: How did we met each other?
.
.
.
"Gouenji!"
Yang dipanggil menoleh ke belakang. "Ada apa?"
"Kenapa kau tidak membangunkanku?! Aku nyaris terlambat hari ini!"
"Aku sudah membangunkanmu sebanyak 14 kali, kautahu," ucap Gouenji datar. "Tapi kau tak juga bangun. Jadi, dari pada terlambat, aku berangkat sekolah duluan."
Kazemaru mendengus kesal.
"Lagipula, kau sepertinya kau tidur nyenyak tadi malam." Gouenji membuka lokernya. "Mimpi indah?"
Kazemaru menatap Gouenji dengan tatapan bingung. "Bukan indah sih, tapi—ah, lupakan saja."
"Kau ini memang tak jelas."
"Bukan salahku."
"Ohayou, Shuuya-kun."
Gouenji dan Kazemaru—yang sebenarnya sama sekali tidak dipanggil—sama-sama menoleh.
"Ohayou." balas Gouenji.
"Hey, hey, Fuyuka-chan," ucap Kazemaru geli. "Aku ada di sini, lho."
"Ah, maaf." Fuyuka tertunduk. "Ohayou, Kazemaru-kun."
"Ohayou, Fuyuka-chan!" balas Kazemaru. "Jadi, ada apa nih? Bukankah kelasmu ada di arah yang berlawanan dengan kelas kami, Fuyuka-chan?"
"I—iya, tapi…" Fuyuka menyodorkan kotak makanan kepada Gouenji. "A—aku ingin memberikan ini pada Shuuya-kun. Maaf mengganggu…"
Gouenji mengambil kotak makan itu. "Ya. Terima kasih."
Fuyuka membungkuk. "Permisi," ucapnya, lalu pergi dengan tergesa.
"Nee, nee… Tumben sekali sahabatku yang stoic ini mengucapkan terima kasih. Sama Endou saja jarang," ledek Kazemaru, setelah memastikan Fuyuka sudah berjalan cukup jauh.
"Lalu?"
Kazemaru menghela napas. "Hhhh… Agak susah bicara denganmu. Tapi tak apalah. Lupakan saja." Kazemaru menutup lokernya, lalu berjalan mendekat ke arah Gouenji.
"Hey, Gouenji…" panggil Kazemaru. "Kenapa Fuyuka-chan memanggil nama kecilmu? Apa kau juga memanggil nama kecilnya?"
Gouenji menatap manik madu milik Kazemaru intens. "Kau… Sebaiknya tak usah tahu."
Tiba-tiba saja hasrat melempar bola basket berkobar di dalam benak Kazemaru—dengan target yang sangat jelas: kepala Gouenji.
Kazemaru mengerti bahwa Gouenji adalah orang yang—sangat—tidak peka, tapi ia tak menyangka kalau ternyata Gouenji setidak peka ini.
Tentu saja ia harus tahu alasannya karena, ia saja, yang sudah akrab dengan Gouenji sebelum Fuyuka—kira-kira ketika menjadi murid kelas 3 sekolah dasar—tidak pernah sekalipun diizinkan oleh Gouenji untuk memanggi nama kecilnya. Kenapa Fuyuka—yang baru saja mengenal Gouenji seminggu yang lalu dibolehkan?
Kazemaru merasa ia tak diperlakukan dengan adil.
"Aku tak mau menerima hadiah dari orang yang tidak dikenal."
Kazemaru menggeram kesal. Pemilik rambut bawang di hadapannya ini benar-benar membuatnya naik darah.
"Aku ini tetangga barumu, jadi mana mungkin aku macam-macam denganmu, rambut bawang?" tanya Kazemaru ketus. "Jadi minggirlah dan biarkan aku memberikan ini kepada orang tuamu!"
"Orang tuaku… Tidak ada di rumah. Mereka sibuk." Gouenji bergumam, hampir tidak terdengar oleh Kazemaru.
"Kalau begitu, terima saja hadiah dari orang tuaku ini!"
"Tidak." Gouenji menutup pintu dengan keras—yang menjadi pukulan telak bagi hidung Kazemaru.
"Dasar rambut bawang sombong!" teriak Kazemaru, mengusap hidungnya. "Pokoknya aku akan tunggu sampai orang tuamu pulang, dan akan kuberikan ini pada orang tuamu!"
"Orang tuaku… Tak akan pulang."
Kazemaru terperanjat. Suara barusan terdengar dari balik pintu di hadapannya.
"Maksudmu?" tanya Kazemaru bingung.
Pintu di hadapannya perlahan terbuka. Tampak sang rambut bawang—setidaknya begitu Kazemaru memanggilnya—tertunduk.
"Hei… Kau tak apa?" tanya Kazemaru kikuk. Aneh juga melihat anak muka datar yang tadi bersitegang dengannya bisa terlihat semenyedihkan itu. Lama kelamaan ia menaruh simpati juga pada si rambut bawang.
"Aku tak apa. Kemarikan barang yang kausebut hadiah itu, dan pulang sana." perintahnya kasar.
"Baiklah," ucap Kazemaru sambil menyodorkan bungkusan yang sedari tadi dipegangnya.
"Kapan-kapan, main dengan kami ya, Gouenji si Rambut Bawang!" Tersenyum, Kazemaru melambaikan tangannya dan berlari menjauh dari anak bermarga Gouenji itu.
"Kenapa aku harus bertemu dengan anak seperti itu?"gerutu Gouenji.
Ia meletakkan bungkusan yang diberikan oleh anak tadi, saat ia menyadari satu hal yang lupa ia katakan kepada pemberi hadiah itu. Hal yang selalu diingatkan oleh ibunya yang telah tiada.
Ia lupa mengucapkan terima kasih pada 'gadis' tadi.
"Terima kasih."
"Ya. Lagipula, jika aku tak makan bersamamu, kau tak mungkin memakan bekal dari Fuyuka-chan, bukan?" ledek Kazemaru.
Manik hitam onyx Gouenji menatap pemuda di hadapannya. "Jangan meledekku, Kazemaru."
"Masalah buatmu, Rambut Bawang?"
"Ya." Gouenji kemudian beranjak dari kursinya. "Aku ke toilet dulu."
"Ya," jawab Kazemaru. Ia melirik Gouenji yang berjalan menjauh darinya.
"Aneh," gumamnya. "Sebelumnya, ia selalu makan bekal dari orang lain dengan terpaksa. Bahkan aku harus selalu memaksanya, dan ikut makan."
Kazemaru menopang dagunya, lalu memainkan sedotan di gelas jus miliknya. "Apa yang membuatnya memakan bekal dari Fuyuka-chan tanpa terpaksa?"
Fuyuka-chan memanggil nama kecil Gouenji + Gouenji memakan bekal dari Fuyuka -chan tanpa terpaksa = ….?
Kazemaru terperanjat. "Apa itu artinya… Mereka berdua saling suka?"
"Rambut Bawang!"
Yang dipanggil menoleh dengan kesal. Terima kasih atas panggilan itu, ia gagal memasukkan bola tepat sasaran.
"Apa?" tanya Gouenji ketus. "Kalau tidak ada urusan denganku, pergi bermain sama temanmu saja sana!"
"Baiklaaah!" teriak Kazemaru, lalu datang menghampiri Gouenji.
"Apa? Kau ada urusan denganku?"
"Nggak!" ucap Kazemaru polos.
"Jadi, kenapa kau kemari?" tanya Gouenji. "Kau menganggu."
"Kau bilang kalau aku tak ada urusan denganmu, aku harus bermain dengan temanku, bukan?" tanya Kazemaru sambil tersenyum. "Kau kan temanku."
Gouenji mendengus. "Terserah kau saja."
"Hei, Rambut Bawang, kau sedang memainkan apa?" tanya Kazemaru.
"Ini basket."
"Basket? Lalu, bola itu diapakan? Dilempar? Ditendang?"
"Dipantulkan."
"Hee? Pantulkan ke mana?"
"Kemana saja."
"Aku serius, Rambut Bawang! Sebetulnya dipantulkan kemana?"
"Kau ini berisik sekali, sih." Gouenji mulai men-dribble bola yang dipegangnya. "Maksudku itu seperti ini."
"Oh, lalu?"
"Lari ke ring milik lawan, lalu lempar bolanya sampai masuk."
"Bagaimana cara melemparnya?"
Gouenji menatap Kazemaru kesal. Ia men-dribble bola, lalu melemparkan bola itu ke ring. "Seperti itu."
"Aku boleh coba?"
"Nggak."
Kazemaru mendengus kesal. "Kau ini benar-benar pelit ya, Rambut Bawang?"
"Bukan urusanmu."
"Kazemaru!"
Kazemaru menoleh ke asal suara yang memanggilnya barusan. "Endou?"
Endou berlari menghampiri Kazemaru. Ekspresi panik terlukis jelas di wajahnya. "Kazemaru! Kau kemana saja? Kalau kau hilang, kami pasti dimarahi ibumu karena telah membawamu ke taman ini!"
"Maaf, Endou!" Kazemaru tersenyum kecil.
"Hei… Kau mau pulang?"
Kazemaru berpaling ke arah Gouenji. "Ya, kau ikut?"
"Tidak, aku masih ingin di sini."
"Oh… Baiklah. Ja nee." Kazemaru melambaikan tangannya pada Gouenji.
"Hei, terima kasih untuk hadiah kemarin."
"Ya, sama-sama."
"Kau tahu? Jarang sekali ada anak perempuan yang baik terhadapku. Jadi, terima kasih."
"Sama-sa—" Kazemaru menghentikan kalimatnya. "Hei, tunggu. Maksudmu, aku itu anak perempuan?"
Gouenji memandang Kazemaru bingung. "Bukannya iya? Kau anak perempuan, bukan?"
"Aku itu laki-laki, kau tahu?" ucap Kazemaru kesal. "Namaku Kazemaru Ichirouta, dan aku laki-laki. Jelas?"
Kazemaru memandang Gouenji, lalu berlari ke arah Endou—meninggalkan Gouenji yang mematung di tempatnya.
"Sial," gumamnya. "Apakah kali ini aku harus mengatakan 'maaf'?"
"Maaf."
"Kau ini…" ucap Kazemaru, geram. "Bisakah kau tidak memukulkan pintu lokermu ke wajahku?"
"Aku tak sengaja. Lagipula, kau berdiri disitu, wajar saja kalau pintu lokerku mengenaimu."
"Tadi aku sedang melamun, tahu!" protes Kazemaru. "Lagipula, apa maksudmu membuka pintu loker keras-keras?"
Gouenji tertawa kecil. "Hanya ingin membangunkanmu dari lamunanmu."
"Pakai cara yang lain, dong," gerutu Kazemaru. "Oh ya, pelajaran selanjutnya apa?"
"Musik."
Kazemaru mengacak-acak rambutnya. "Hhhh… Kuharap gurunya sedang ada urusan lain."
"Rasanya mustahil," ucap Gouenji. Ia kemudian mengacak rambut Kazemaru.
"Hei!" protes Kazemaru.
"Kautahu, diantara semua guru, dialah yang paling jarang absen. Setahuku, ia hanya absen satu kali, karena anaknya sakit."
"Tak bisakah kau menyemangatiku sedikit?"
"Yang kubilang tadi itu tujuannya untuk menyemangatimu, agar kau semangat untuk menghadapi siksaan guru yang satu itu."
"Makasih banyak, Rambut Bawang. Itu sangat tidak membantu."
"Nih."
Kazemaru mengangkat kepalanya. "Apa ini?"
"Video."
"Kau mau aku menerimanya?"
Gouenji menatap Kazemaru tajam. "Ya. Kalau tidak, aku pasti tak akan memberikannya kepadamu."
"Video apa?"
"Pertandingan basket. Kau bilang kau ingin belajar basket, bukan?"
Kazemaru mengalihkan pandangannya. "Aku nggak tertarik lagi."
"Nggak tertarik?"
"Ya. Jadi pergi dari sini sekarang juga. Aku tak peduli denganmu atau dengan basketmu itu."
Gouenji memukul dinding di sebelah Kazemaru. "Dengar ya, aku sangat tak suka pada orang yang tak serius sepertimu!" bentaknya.
Kazemaru mengeraskan rahangnya. "Ya, dan aku juga benci orang yang hanya melihat seseorang dari penampilannya, seperti kau!"
"Hei, aku tak salah!" Gouenji menurunkan tangannya. "Semua orang yang melihatmu juga pasti mendugamu sebagai perempuan!"
"Kau itu memang salah!" balas Kazemaru. "Pertama, kau menyebutku perempuan. Yang kedua, kau tahu ini jam berapa? Ini tengah malam, dan kau mengganggu tidurku! Yang ketiga, kau tidak mau mengakui kesalahanmu dan tidak meminta maaf padaku!"
Gouenji terdiam. Ia tak pernah mendapat bentakan seperti itu sebelumnya.
"Maaf," lirih Kazemaru. "Aku sepertinya lepas kendali. Sudah, ya. Aku… ingin tidur. Jaa," ucapnya sambil menutup pintu perlahan.
"Tunggu," cegah Gouenji. "Kenapa kau meminta maaf?"
"Kenapa?" tanya Kazemaru balik. "Tentu saja karena aku salah."
Gouenji terdiam.
"Maaf," gumam Gouenji. "Seharusnya kau tak usah minta maaf. Lagipula, ini semua salahku, bukan? Kau juga bilang begitu."
Kazemaru menatap Gouenji lekat-lekat. "Kau minta maaf?"
Gouenji mengalihkan pandangannya dari Kazemaru. "Ya. Aku tak tahu kenapa, aku merasa tak enak karena telah membuatmu marah. Padahal, jika kau tanya, aku nyaris tak pernah meminta maaf pada seseorang."
"Oh…" gumam Kazemaru. "Baguslah kalau begitu."
"Ah, dan ini—" Gouenji menyodorkan bungkus plastik yang tadi dibawanya. "Untukmu."
Kazemaru akhirya mengambil plastik itu. "Makasih."
"Sudah ya," Gouenji tersenyum kecil. Meminta maaf pada Kazemaru benar-benar membuatnya lega.
"Hei… tunggu."
"Apa?"
"Namamu siapa?"
Alis Gouenji berkedut. "Kau belum tahu siapa namaku?"
"Belum." gerutu Kazemaru. "Kau bahkan tak pernah mengenalkan diri."
"Begitu." Gouenji mengulurkan tangannya. "Namaku Gouenji Shuuya."
"Gouenji Shuuya…?" gumam Kazemaru. "Hei, boleh tidak aku memanggilmu Shuuya?"
Gouenji memukul kepala Kazemaru. "Tentu saja tidak boleh."
Kazemaru meringis, lalu memegang kepalanya. "Hei! Tidak boleh sih tidak boleh, tapi tak usah memukul kepalaku, kan?"
Gouenji tersenyum. "Maaf," ucapnya.
Kazemaru masih saja memegang kepalanya yang terkena pukulan Gouenji, sampai sebuah tangan memegang rambutnya. "Tapi nanti, aku pasti akan mengizinkanmu."
Kazemaru menunduk, menghindari kontak mata dengan Gouenji. Ia merasakan wajahnya memanas.
"Sudah dulu ya. Tidurlah, maaf mengganggumu," ucap Gouenji, lalu berjalan meninggalkan Kazemaru.
Kazemaru mengangkat kepalanya sedikit. "Dia… Sebenarnya, apa yang dia maksud tadi?"
Kazemaru amat—sangat—mengetahui salah satu fakta bahwa guru musiknya adalah guru terkiller di sekolahnya. Mencari masalah dengan guru yang satu ini sama saja dengan mencari masalah dengan dewa kematian.
—Dan karena itulah Kazemaru berjanji, ia tak akan pernah tidur saat pelajaran musik lagi.
"Jadi, kau absen latihan hari ini?"
Kazemaru menoleh ke arah suara. "Sepertinya begitu, Endou. Aku tak yakin aku bisa membersihkan ruangan musik yang sebesar ini dalam waktu singkat."
"Tapi, kenapa kau tak minta tolong Gouenji saja?"
"Karena dia pasti akan meledekku," gerutu Kazemaru.
Endou mengangguk. "Oh… Baiklah, nanti akan kusampaikan. Selamat bersih-bersih, Kazemaru!" Endou melambaikan tangannya, lalu keluar dari ruang musik.
Kazemaru balas melambaikan tangan, lalu kembali berkutat pada sapu yang dipegangnya.
Sebetulnya, ia bisa saja membersihkan ruangan musik ini dengan cepat. Alasannya sih mudah saja—ruangan ini memang sudah bersih sejak awal. Jadi rasanya tak ada gunanya menghukumnya untuk membersihkan ruangan ini.
—Yah, meskipun ia harus bersyukur karena guru musiknya tidak menyuruhnya membersihkan gudang sekolah. Membersihkan ruangan musik jauh lebih mudah sejuta kali lipat dibandingkan dengan membersihkan gudang sekolah.
Oke. Sebetulnya bukan hanya ini hukuman yang di dapatnya. Ia masih harus mengerjakan tugas makalah tentang musik setebal 50 halaman—tulis tangan, lengkap dengan beberapa gambar sebagai pelengkap.
Sepertinya Kazemaru hanya bisa berdoa untuk keselamatan tangan kanannya yang berharga itu nanti.
Kazemaru meletakkan sapu di samping pintu ruang musik, lalu mengambil lap serta cairan pembersih kaca. Ia memang mengakui kalau ruangan musik ini sudah bersih namun Kazemaru—yang notabenenya adalah anak pecinta bersih—tetap saja membersihkan kaca jendela…
…daripada ia harus berurusan lebih jauh dengan guru musiknya karena jendela yang kotor sedikit saja. Ia tak mau hukumannya bertambah, terima kasih banyak.
Manik cokelat madu Kazemaru yang semula tertuju pada setiap tetes cairan pada jendela, kini teralih pada pemandangan di lapangan—
—tempat teman-temannya bermain basket sekarang.
Sedikit—banyak Kazemaru merasa sedikit bersyukur karena dari ruangan musik ini, ia dapat melihat lapangan sekolah yang berada satu lantai dibawahnya—meskipun terhalang oleh kaca jendela.
Kazemaru tersenyum kecil seraya menghela napas.
Hukuman bukanlah salah satu alasannya tidak datang latihan.
Alasan satu lagi adalah… ia malas. Kazemaru sedang malas latihan.
—Oke, mari berharap langit tak akan runtuh sebentar lagi. Kazemaru—sang maniak basket dan nyaris tak pernah absen latihan kecuali ia sedang sakit—tidak datang karena malas.
Bahkan Kazemaru sendiri tidak mengerti apa yang dipikirkannya. Tidak latihan karena malas… Bodoh sekali dia.
Kazemaru memang bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Superbodoh.
Kazemaru mengelap kaca perlahan, tersenyum miris.
Maniknya mulai mengekori seseorang. Terus memperhatikannya bergerak, berjalan, berlari, bahkan arah pandangan mata sang objek perhatian Kazemaru.
…Tiba-tiba Kazemaru merasa dirinya seperti gadis yang sedang jatuh cinta saja. Terbukti bahwa Kazemaru itu memang orang yang bodoh—lupakan saja nilai-nilainya yang tinggi di beberapa pelajaran, karena pada dasarnya Kazemaru itu memang bodoh. Bodoh karena membiarkan perasaannya terombang-ambing karena satu orang.
Manik cokelat madu Kazemaru kemudian menangkap seseorang berbicara pada Gouenji—setelah ia tidak fokus untuk beberapa saat. Awalnya Gouenji tidak terlalu menanggapi lawan bicaranya—karena Gouenji terlalu sibuk dengan botol minumannya. Kemudian, wajah gadis itu memerah, dan—
Kazemaru hanya dapat merasakan dirinya diselimuti oleh amarah yang tinggi.
Mungkin awalnya ia bersyukur dapat melihat lapangan dari ruangan itu, tapi sekarang ia akan mengecat jendela itu dengan warna hitam, atau bahkan memecahkan jendela-jendela itu dengan bola basket kalau saja ia tidak teringat terhadap guru musiknya.
Kazemaru menarik napas perlahan. Ya ampun, kenapa ia bisa seemosi tadi?
Kini, Kazemaru menatap lekat-lekat pada dua sosok yang sedang menjauhi kerumunan itu. Gouenji berjalan dengan tangan yang diselipkan ke celana pendeknya. Di hadapannya, berjalan seorang gadis—
—oh, ya ampun. Kazemaru mengenali gerak-gerik tubuh gadis itu. Kazemaru mengenali cara berjalan gadis itu. Kazemaru mengenali rambut ungu sepinggang itu.
Kazemaru tahu penglihatannya tak mungkin salah, dan ia tak mungkin salah mengenali gadis itu. Namun bibirnya masih saja melontarkan sepatah kata dengan gestur bertanya kepada dirinya sendiri—
"—Fuyuka-chan?"
.
To be continue
.
AAAA ASDFGHJKL INI CHAP GA JELAS BANGET #pundung
Ya ampun. Setelah lama hiatus dari dunia perfanfiksian, saya kembali dengan mengupdate fic yang sudah entah berapa bulan nggak di-update, dan chapter ini rada-rada nggak jelas gitu. Padahal saya mau ngepublish ini nanti, abis saya udah ngebaca seua fanfic yang belum saya baca, tapi… Asem. Banyak banget yang belum saya baca ._. #bantinglaptop
Ehm, soal fanfic multichap saya yang terlantar banget itu, kayaknya saya bakal update lama =w= Abis, di tengah-tengah ngelanjutin ceritanya, pikiran saya buntu—buntu sebuntu-buntunya. Terus, pikiran saya malah melenceng ke fic lain #bantingkepala
Oke. Sekian curcolnya. Mari balik ke topik semula.
Nah, pas saya baca chap ini sekali lagi, saya sadar satu hal:
TERNYATA DI CHAP INI SAMA SEKALI NGGAK ADA UNSUR BASKETNYA.
Duh, saya minta maaf banget soal hal itu. Sebetulnya di chap ini (maunya) cuma ada cerita masa lalunya Kazemaru pas pertama kali ketemu sama Gouenji, tapi entah kenapa alurnya malah maju mundur begini. Duh, kayaknya fail banget chap ini.
Oke, oke, sekarang saya mau balas review—yang belum saya balas entah berapa lama ^w^v
Kana Hime:
Nggg… Gomennasai, Kana Hime-san! Soalnya saya baru sempat ngelanjutin fic ini sekarang. Jadi… Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya!
Arigatou reviewnya, Kana-san!
.
Draco de Laviathan:
Eh? Mirip KuroBasu, ya? *baca ulang*
…Kalau dipikir-pikir, memang mirip KuroBasu, sih… Tapi untungnya nggak ada Kiseki no Sedai, jadi seenggaknya masih jauh (dikit), lah ^w^b *fandom nyasar*
Daripada ngebayangin Gouenji, saya mah lebih ngebayangin Kazemaru-nya o/w/o
Err… Gomennasai karena saya (bener-bener) amat sangat telat update-nya. Dan, arigatou atas reviewnya!
.
Lunlun Caldia:
ARIGATOU, Caldia-nee! Ah, saya rasanya nggak bisa komentar apa-apa ama reviewnya Caldia-nee. Yah, pokoknya thanks a lot!
Ah, soal updatenya, enggg… telat banget. Gomen~…
.
Ruo:
Nee, maaf saya baru bisa ngeupdate sekarang, Ruo-san! Saya nggak tahu Ruo-san masih suka jalan-jalan ke fandom IE atau nggak, tapi saya bener-bener minta maaf!
Oh ya, arigatou reviewnya!
.
I Hate Dramatic:
Anoo… Saya memang nggak suka sama flame, tapi saya tetap terima kasih sama senpai!
Walaupun mungkin chap ini kayaknya makin dramatis =w= Yah, masalahnya saya ini terbiasa menulis cerita dramatis gitu, dan bukan humor. Makanya selama ini humor yang saya sisipin dalam fic-fic saya rasanya garing minta ampun ^w^'
Well, thank you for your review!
.
Mori Kousuke18:
Nee, pertama, maaf banget karena saya amat sangat telat updatenya. Biasalah, wabah WB =w= *nyalahin WB*
Kalau soal istilah… Saya juga nggak tahu gimana cara ngejelasinnya biar jelas. Nanti saya coba biar istilahnya lebih dimengerti, deh…
Arigatou reviewnya!
.
Well, mind to RnR?
