Williams Resident, Ottawa, Canada
.
January 22nd, 2030, 08.53 A.M
.
"Matthew!"
Matthew yang sedang meminum sirup maple kesukaannya di beranda terkejut mendengar Sey memanggilnya dari depan pagar rumahnya. Jangan heran jika Sey memanggilnya dengan suara keras, lantaran halaman depan rumah Matthew yang cukup luas.
Ia lebih terkejut, ketika menyadari rumahnya jarang dikunjungi orang lain, apalagi personifikasi negara. Kebanyakan orang mengira rumah itu kosong, atau bahkan angker. Alasannya? Tidak ada yang mengerti. Mungkin karena Matthew yang kelihatannya invisible, atau alasan lain.
Apakah ada di antara kalian yang keheranan, bagaimana Sey Griffith dari negara Seychelles bisa sampai di rumah Matthew yang berlokasi di Kanada? Mudah saja. Setiap personifikasi negara sudah mempunyai pesawat jet pribadi, agar sampai ke tempat tujuan dengan mudah. Jadi, jangan heran jika Sey bisa sampai di rumah Matthew sepagi itu.
Matthew terdiam sesaat sebelum membuyarkan lamunannya dan menghampiri Sey. "Ah, Sey. Ada apa kau datang?"
"Ah...itu...kau tahu...siapa yang membuat Gilbird kembali seperti semula?" tanya Sey.
Glek. Matthew menelan ludah. Tentu saja ia tahu. Orang itu adalah Aria Stellacia, gadis berusia sekitar 17 tahun yang berasal dari Shiltz. Walaupun ia ingin menjawabnya, ia harus merahasiakan hal itu...
...karena Aria berjanji akan memberitahu teman-temannya tentang Shiltz, Seal, dan hal-hal lain yang harus dimengerti.
Pada akhirnya, Matthew menggelengkan kepala. "Tidak. Waktu itu aku sedang pergi keluar, dan ketika aku kembali lagi, kalian sudah terluka. Jadi kurawat kalian." Mau tidak mau, personifikasi negara Kanada tersebut pun harus berbohong.
"Ooo..." Sey pun melihat jam tangannya. "Aduh! Tinggal lima menit lagi! Matthew, kita harus cepat! World Meeting sebentar lagi akan dimulai!"
"Tapi, pesawatku—"
"Pakai punyaku saja!" Sey pun membukakan pintu pagar Matthew yang pada waktu itu memang tidak digemboki. "Ayo!"
Matthew terdiam sejenak, kemudian tersenyum. "Oke!"
.
XwXwXwXwXwX
.
XXX Hotel, Bern, Switzerland
.
January 22nd, 2030, 08.58 A.M
.
Aria menatap kartu hasil segelannya bersama Matthew kemarin yang ada di pegangan tangan kirinya.
Spirit Card.
Ia terdiam selama tiga detik, sebelum pada akhirnya menyimpan kartu itu ke dalam sebuah buku bertema klasik berwarna coklat kemerahan, lalu menyimpannya di dalam laci.
Ia pun menatap kalung pentagram dan Seal Key yang tergeletak bergitu saja di meja. Masih ada sisa empat belas, pikirnya.
Aku harus cepat.
Aria pun mengenakan kalung pentagram tersebut di lehernya dan menyimpan Seal Key ke dalam kantung celananya. Ia pun langsung berangkat ke gedung yang kemarin ia kunjungi dengan berjalan kaki. Jarak dari hotel ke gedung adalah sekitar 300 meter.
Tiba-tiba, Cellset-nya berdering saat Aria masih di tengah jalan. Aria pun berhenti sejenak dan mengangkat Cellset tersebut. "Halo?"
"Aria?"
"Ah, Claire."
"Apa kau sudah dapat Seal di sana?"
"Sudah, tapi baru satu. Ada apa?"
"Tidak apa. Lanjutkan saja perjalananmu. Kau juga harus mencari 'itu'. Kau tahu?"
"...oke." Aria pun memutuskan hubungan komunikasi, kemudian ia berjalan kembali...
...menuju tempat di mana ia pertama kali mengubah seluruh kehidupan.
.
XwXwXwXwXwX
.
XXX Building, Bern, Switzerland
.
January 22nd, 2030, 09.03 P.M
.
"Aduh, kapan ini akan berhenti?"
Satya menaruh kepalanya di atas meja, saking malasnya. "Kenapa hal ini selalu terjadi setiap kali ada World Meeting?"
Lagi-lagi, seperti kemarin. World Meeting memang tidak pernah berjalan dengan lancar, karena kegilaan dan keanehan setiap personifikasi negara. Tiga menit sudah mereka ribut seperti itu. Kalaupun ada personifikasi yang normal, lebih benar bila dikatakan 'menakutkan' daripada 'normal'. Contohnya, Ludwig dan Vash. Tapi, ada juga yang sudah normal dari sananya. Contohnya, Lili dan Mei.
Yang lebih parah lagi, lagi-lagi Vash dan Ludwig menghilang dari pandangan mata. Maka, ruangan semakin ribut saja isinya.
"Sabar, Satya," ujar Kirana.
"Aku tahu, tapi..." Satya mendesah. "Aku mulai malas kalau menghadiri pertemuan yang kayak gini terus."
BRAK!
"Heh, kalo buka pintu yang bener, dong. Nggak awe—WHAT?! MEIN GOTT, KENAPA ORANG ITU DATANG?!"
Teriakan Gilbert membuat teman-temannya hening, lalu menoleh ke arah pintu yang terbuka. Bukan pintu yang menjadi subyek penglihatan mereka, melainkan...
"...Aria?" gumam Sey pelan.
Ya. Kali ini Aria datang lagi, dengan pakaian yang sama seperti kemarin.
Matthew kaget. Bukan itu; ia sudah tahu kalau hari ini Aria akan datang. Tapi...
...kenapa Sey bisa tahu Aria?
"Bukannya kamu itu orang yang kemarin?" tanya Sadiq.
"Ya," jawab Aria.
"HEI!" teriak Arthur. "KAMU HARUS MINTA MAAF SOAL KEMARIN! LANCANG SEKALI KAMU! TIDAK MENGETUK PINTU DULU, LANGSUNG MAIN MASUK SAJA, LALU MENGATA-NGATAI KAMI! APA MAUMU DI SINI, HAH?!"
"Arthur, tenanglah!" kata Tiino yang duduk di sebelahnya. "Mungkin dia mau mengatakan sesuatu."
"Dia benar," kata Aria. "Aku ke sini untuk memberikan kalian suatu misi."
"Misi?" Mathias mulai kesal. "Sudah cukup kamu mengatai kami sampai ada yang pingsan! Dan sekarang kau memberikan misi pada kami? APA MAUMU?!"
"Anko uzai..." gumam Lukas. "...sebaiknya kau diam dan dengarkan..." lanjutnya dengan suara pelan...dan datar, tentu saja.
"Terserah kalian, tapi kalian harus tahu..."
Tiba-tiba, kalung pentagram Aria bersinar. Aria pun berputar di tempat selama tiga detik, dan berubah wujud menjadi Royal Form.
"...kalau aku adalah putri kerajaan."
Siiing...
Hening.
Dan terus hening...
Krik...krik...krik...
Jangkrik pun bernyanyi di pagi bolong (?)...
Sampai tiga puluh detik berlalu...
"APAAA...?!"
Sontak, burung-burung di luar gedung yang sedang hinggap di dahan pohon pun beterbangan, saking kerasnya teriakan keempat puluh satu personifikasi negara itu. Bahkan yang 'menakutkan' dan 'psikopat' pun ikut berteriak, saking kagetnya mereka.
"KAU ADALAH PUTRI RAJA?!"
.
.
.
Seumur hidup kalian, hei para manusia...
...apa kalian pernah menemukan seseorang...
...atau bahkan lebih...
...yang mengatakan kalau diri mereka bodoh, aneh, berbeda...
...atau bahkan tidak berguna...
...di dunia yang sangat besar ini?
Ya, pasti kau akan menjawab 'iya'...
Sebetulnya, tiada yang tak berguna...
Semua berguna di dunia ini...
Hanya, mereka tak menyadarinya...
Mereka perlu bersabar...
...dan tetap menjalani hidup...
...supaya mereka tidak menyesal...
...ketika kesempatan itu datang...
Dengan demikian...
...mereka akan menemukan suatu kebahagiaan tersendiri...
Apakah kau sudah menyadari...
...alasanmu untuk hidup di dunia ini?
Untuk apa...
...untuk siapa...
...dan bagaimana kau mencapainya?
.
~Sey Griffith from Seychelles, Earth's quote~
.
.
.
Hetalia Seals - Summer Shining, akan segera dimulai...
.
.
.
In your position...
Set!
Kinou made no keiken to ka
Chishiki nanka nimotsu na dake
Kaze wa itsumo toori sugite
Ato ni nani mo nokosanai yo
Atarashii michi wo sagase!
Hito no chizu wo hirogeru na!
Fuseta me wo ageta toki ni
Zero ni naru nda
Bokura wa yume miteru ka?
Mirai wo shinjite iru ka?
Kowai mono shirazu mi no hodo shirazu
Muteppou na mama
Ima bokura wa yume miteru ka?
Kodomo no you ni massara ni...
Shihai sareta kusari wa
Hikichigirou
Nani mo dekinai
Chanto dekinai
Sore ga doushita?
Bokura wa wakai nda
Nani mo dekinai
Sugu ni dekinai
Dakara bokura ni kanousei ga aru nda
Ame wa yanda
Kaze wa yanda
Mita koto no nai
Hikari ga sasu yo
Ima ga toki da
Kimi wa umare kawatta
Beginner!
.
.
.
Level 2 - There's No Useless People
.
.
.
.
.
Hetalia Axis Powers - Himaruya Hidekazu
Seal Online - Grigon Entertainment
Hetalia Seals - Summer Shining - Yukari Wada
I'm own nothing but this strange and twisted story plot...
Yeah...this is very long, especially in description, maybe...
Yeah, even if these characters are OOC and there's OCs in this story...
Don't flame me, please!
Please, enjoy...
.
.
.
.
.
"Benar-benar gila." Razak menyandarkan dirinya di kursi. "Kita bertemu dengan orang yang mengata-ngatai kita, dan sekarang dia bilang kalau dia adalah putri raja. Huh...betapa anehnya hidup ini..."
"Belum lagi dia berubah penampilan..." keluh Flora.
"Apa itu sihir?" tanya Virta.
"Bisa dibilang begitu." Aria memandang sekeliling. "Apa kalian sudah lengkap?"
"Belum..." Lili menggelengkan kepala. "Masih ada Kak Ludwig dan Kak Vash."
"Mereka ke mana?"
"Entahlah...harusnya jam segini mereka sudah datang, tapi..." Elizaveta pun mendesah.
"HEI...!"
Aria dan personifikasi lain menoleh.
"Ludwig..." Muka Alfred mulai memucat.
"Vash..." Toris memandang temannya yang biasa disebut 'maniak senjata' itu.
"Kamu!" Ludwig menunjuk Aria. "Kamu anak yang kemarin, kan?!"
"Iya. Problem?"
"Tentu saja!" Vash sudah menodongkan senapan AK-47 miliknya. "Aku tembak kau, baru tahu rasa!"
"Tapi ve~, apa kalian tidak merasa aneh?" tanya Feliciano.
"Anak itu kan berubah penampilan?" celetuk Eduard.
Krik...krik...krik...
"Benar juga sih...Tunggu! NGAPAIN KAU GANTI GAYA DAN WARNA RAMBUT?!" Ludwig pun marah-marah lagi.
"KENAPA WARNA MATA SAMA PANJANG RAMBUTMU JUGA IKUT GANTI?!" teriak Vash.
"Ngapain juga ganti gaya, warna rambut, panjang rambut, dan warna mata? Hei, ini wujud asliku. Tahu, tidak?" Aria pun menatap Ludwig dan Vash dengan tajam.
"Wujud asli?" Antonio kebingungan.
"Perkenalkan. Namaku Aria Stellacia, putri dari planet Shiltz." Aria pun membungkuk tanda hormat layaknya seorang putri raja.
Ludwig dan Vash cuma bisa melongo.
"...dan aku ditugaskan oleh kerajaan untuk merekrut kalian menjadi Seal," lanjut Aria. Tatapannya berubah menjadi serius.
"Seal?" Semua yang ada di situ—kecuali Matthew—kebingungan.
"Ya, Seal." Aria mengambil Seal Key dari dalam saku celananya dan menunjukkan kunci-kunci tersebut di hadapan Matthew dan teman-teman. "Ini demi kita semua; Bumi, Shiltz, dan alam semesta ini."
"Eh?" Kiku tambah bingung.
"Hei! Apa maksud kau dengan 'demi kita semua', hah?! Apa hubungannya dengan kami?!" Mathias mulai kesal lagi.
"Diam kau." Aria menatap Mathias dengan tatapan tajam. "Aku belum selesai, bodoh."
"Em...bisa dimulai langsung penjelasannya?" tanya Lili.
Aria pun mengangguk. "Oke, aku mulai dari Shiltz. Shiltz adalah sebuah planet yang berlokasi di ujung selatan galaksi Andromeda. Seperti Bumi ini, Shiltz punya kehidupan juga. Awalnya, Shiltz aman dan tenteram. Namun, beratus tahun kemudian setelah terbentuknya Shiltz, Elim dan Balie, dua dewa Shiltz, saling berperang dan mengakibatkan kehancuran fatal di Shiltz," katanya memulai penjelasan.
"Lalu?" tanya Elizaveta, penasaran dengan kelanjutan cerita itu.
"Maka dari itu, Shiltz memiliki dua ras berbeda; manusia dan Bale. Bale adalah monster jahat yang bisa menghancurkan manusia."
"Kalau gitu..." Gilbert tertahan sesaat. "Makhluk gak awesome itukah yang merasuki Gilbird?"
"Kasus ini berbeda dengan Bale. Yang merasuki Gilbird adalah Balie Spirit, roh jahat yang diciptakan oleh Balie untuk merasuki apa pun dan siapa pun. Sedangkan Bale adalah monster sepenuhnya dan memiliki tubuh dan jiwa sendiri. Bentuk Bale pun jauh lebih besar dan kuat. Bisa dibilang sebagai bos dari apa saja yang dirasuki Balie Spirit, atau tangan kanan dari Balie." Aria memutar kedua bola matanya ke seluruh personifikasi itu. "Bila kalian adalah manusia biasa—bukan personifikasi negara atau suatu daerah, kalian bisa cedera parah walaupun hanya dengan satu serangan dari mereka, bahkan kalau kau diserang Bale yang paling lemah sekalipun. Maka, berhati-hatilah. Biarpun kalian personifikasi suatu daerah, aku tidak akan menjamin kalian akan selamat."
Flora menelan ludah. "Karena itu, kami menjadi Seal?"
"Bukan karena itu. Seal bertujuan untuk melindungi orang lain dan seluruh alam semesta ini, bukan melindungi diri sendiri." Aria memutar bola matanya lagi. "Menjadi Seal bisa menjadi sulit, bila kau tidak memiliki tujuan hidup demi orang-orang terdekatmu."
Tiino mengangkat tangan. "Apa semua orang bisa menjadi Seal?"
"Tidak juga." Aria menggeleng sesaat. "Seal, selain harus memiliki tujuan hidup demi orang-orang terdekatnya, mereka juga harus dinyatakan menjadi kandidat Seal oleh raja dari Shiltz, yaitu ayahku."
"Sejak kapan kau merencanakan ini?" tanya Ludwig.
"Dua puluh tahun lalu."
"Tapi, kalau dilihat..." gumam Kirana. "Umurmu saat ini kan..."
"Benar. Sekarang, aku baru berusia tujuh belas tahun."
Antonio tersentak. "Tapi kau belum lahir! Kau masih—"
"Maksudku sepuluh tahun di Shiltz. Di Shiltz, sepuluh tahun sama saja dengan dua puluh tahun di Bumi. Aku masih tujuh belas tahun karena pertumbuhan orang-orang Shiltz lebih lambat daripada manusia di Bumi, namun tumbuh normal seperti manusia lain di Bumi. Di Shiltz, dua tahun Bumi dihitung satu tahun Bumi saat berulang tahun," jelas Aria panjang lebar.
Lucunya, penjelasan Aria yang terdengar sulit itu dimengerti Feliciano dan orang-orang yang gampang bingung lainnya. "Ooo...gitu..." gumam mereka.
"Aku pikir kalian tidak begitu tahu, namun Sey sudah kenal aku ketika aku pertama ke sini, tepatnya kemarin. Matthew adalah Seal pertama yang aku rekrut, dan dia beraksi kemarin bersamaku untuk membasmi Bale Gilbird itu," jelas Aria. "Makanya, mungkin Matthew bingung kenapa Sey bisa kenal aku."
"Jadi...penjelasan tadi pagi itu..." Sey menoleh ke Matthew.
"Iya...aku bohong...daripada...daripada kau...tahu saat itu juga...ya sudah...aku tunggu waktunya..." ujar Matthew terbata-bata sambil menunduk malu.
"Aku bilang ke Matthew supaya jangan bilang siapa pun sampai aku yang membocorkan itu, makanya dia bohong," kata Aria, mengerti dengan kesulitan temannya itu. "Ada pertanyaan?"
Arthur mengangkat tangannya. "Kenapa bentuk Gilbird berubah saat dirasuki?"
"Balie Spirit memerlukan medium untuk beraksi." Ketika Aria memandang teman-temannya—yang belum ia kenal semuanya, mereka terlihat kebingungan. "Jadi begini. Balie Spirit punya jiwa dan bentuk, namun bentuk itu tidak terlihat. Bila merasuki sesuatu yang sejiwa dengannya, Balie Spirit bisa merasuki barang itu dengan mudah. Barang itulah yang kemudian disebut medium," jelasnya.
"Sejiwa itu maksudnya apa?" tanya Mei.
"Misalkan Balie Spirit yang berbentuk anak ayam merasuki Gilbird. Maksudnya, bentuk dan unsur-unsur medium itu sesuai dengan milik Balie Spirit."
"Lalu...berarti suara-suara seperti 'piya' itu juga dari roh itu?" tanya Eduard.
"Tepat. Balie Spirit juga punya suara dan memerlukan medium untuk menggunakannya," jawab Aria.
"Ooo..." gumam mereka semua.
"Maaf, Aria-san..." Kiku mengangkat tangannya. "Apakah kau bilang kalau kau berasal dari planet Shiltz?"
Aria mengangguk sekali. "Ada apa?"
"Bagaimana caranya kau bisa sampai ke sini?" tanya Kiku.
Aria tersenyum penuh arti. "Kalian pasti akan kaget mendengar caraku agar bisa sampai sini." Aria terdiam sejenak sebelum pada akhirnya mengatakan caranya agar bisa sampai bumi dalam waktu singkat. "Aku menggunakan 'sumur'."
Siiing...
"...apa?" gumam Lili.
"Apa? 'Sumur'?" Eduard menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Akunya yang salah dengar, atau dia emang bilang begitu?"
"Dia memang bilang 'sumur', kok..." ujar Raivis yang duduk di sebelahnya.
"Make 'sumur'? Woi, jangan bercanda, deh. Masa' kamu make tempat gak awesome kayak 'sumur' buat ke Bumi?" kata Gilbert.
"Aku tidak bercanda. Di Shiltz, 'sumur' bisa digunakan untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain." Tatapan Aria berubah menjadi sedikit lebih tajam. "Akan aku jelaskan lebih detail kalau misalnya ada waktu. Baiklah, aku tidak ada urusan apa pun. Sudah saatnya aku pergi." Aria pun membalikkan badannya, lalu berjalan keluar.
Arthur pun mencegatnya. "Aria! Kalau kita—"
"Bukannya ada Matthew? Matthew bisa bertelepati denganku kalau mau." Aria pun membuka pintu ruangan itu. "Aku pergi dulu." Aria pun keluar ruangan itu, kemudian menutup pintunya dengan keras.
BLAM!
Arthur dan teman-temannya terdiam dalam hening.
"...bagaimana kalau kita mulai saja?" usul Arthur.
.
XwXwXwXwXwX
.
XXX Hotel, Bern, Switzerland
.
January 22nd, 2030, 09.19 A.M
.
Aria pun menghempaskan tubuhnya di kasur kamar hotel tempatnya tadi menginap. "Nggak ada kerjaan...apa ada pekerjaan?"
Kriiing...
Aria mengangkat Cellset miliknya dengan malas. "Apa lagi?"
"Aria? Ini Claire. Maaf mengganggu, tapi ini mengenai Royal Pass."
"Royal Pass?"
"Ya, Royal Pass. Ayahanda sudah menentukan pemiliknya."
Aria terdiam. Royal Pass adalah semacam kompas yang bisa berubah menjadi beragam aksesoris, seperti kalung, gelang, bros, dan lainnya. Royal Pass adalah alat yang sangat penting, karena selain menunjukkan identitas seseorang sebagai Royal Seal—Seal yang memiliki misi kerajaan, Royal Pass juga berfungsi sebagai paspor antara Bumi dengan Shiltz, juga memperkuat kekuatan Seal. Pemilik Royal Pass hanya bisa ditentukan oleh keluarga kerajaan Shiltz sendiri. Pada umumnya, kekuatan Royal Pass bergantung pada pemiliknya.
Royal Pass ada dua jenis. Jenis yang pertama yaitu Regular Pass yang memiliki lima bentuk—sedangkan ada dua puluh Royal Pass: Alpheratz Pass, Mirfak Pass, Regulus Pass, dan Spica Pass yang berbentuk kalung berliontin bundar; Pollux Pass, Tarf Pass, Altair Pass, dan Vega Pass yang berbentuk kalung pentagram—Royal Pass yang saat ini dipakai oleh Aria dan Claire; Sandalsuud Pass, Alpherg Pass, Betelgeuse Pass, dan Antares Pass yang berbentuk gelang dengan liontin berbentuk bundar; Aldebaran Pass, Alioth Pass, Procyon Pass, dan Hamal Pass yang berbentuk jam tangan; dan Alderamin Pass, Shedir Pass, Deneb Pass, dan Capella Pass yang berbentuk handphone flip berbentuk bundar.
Jenis yang kedua yaitu Divine Pass, jenis Royal Pass yang sangat kuat namun bisa membahayakan nyawa si pemakai. Divine Pass sendiri terbagi atas tiga jenis yang berbeda bentuk: Polaris Pass yang berbentuk kompas yang diikat seperti bandul, Acrux Pass yang berbentuk gantungan kunci dengan liontin bundar, dan Sirius Pass dan Mira Pass yang berbentuk bros. Khusus Royal Pass jenis Divine, semua Pass itu harus dipegang oleh perempuan, karena menurut legenda Shiltz, kaum perempuan bisa membuat Divine Pass lebih besar kekuatannya.
Yang membuat Aria tidak percaya adalah betapa cepatnya ayahnya membuat keputusan yang berkaitan dengan Royal Pass. Pada umumnya, setiap raja Shiltz memerlukan waktu bertahun-tahun untuk memutuskan pemilik Royal Pass sejak anak dari raja itu berkelana mencari Seal—biasanya pencarian Seal dilaksanakan setiap ada anak kerajaan yang sudah berusia 17 tahun Bumi dan jika anak itu memiliki adik biasanya adik itu akan menjadi permaisuri atau raja muda. Namun, belum seminggu Aria mencari Seal, ayahnya sudah memutuskan semuanya? Ada apa dengan ayahnya itu? Benar-benar gila dan tidak masuk akal!
"Cepat sekali!" desis Aria.
"Mengherankan, bukan? Aku sendiri juga begitu. Namun, kata Ayahanda, keputusannya sudah pasti."
"Tunggu sebentar. Aku baru menemukan satu Seal, yaitu Matthew Williams, namun beliau sudah membuat keputusan sampai sejauh itu? Aku bahkan belum yakin kalau si Matthew akan menjadi salah satu di antara mereka." Yang Aria tahu, Royal Holder—orang yang memegang Royal Pass—baru bisa diputuskan setelah semua Seal terkumpul.
"Tapi, Ayahanda bisa melihat potensi Seal di antara mereka. Tanpa Seal Key sekalipun."
"...baiklah. Sekarang siapa saja mereka?"
"Ayahanda masih tutup mulut mengenai ini. Lalu, soal 'itu', kau lakukan belakangan saja. Kau tahu kan, alasannya?"
"...baiklah." Aria pun memutuskan hubungan telepon. "...kayaknya..."
Aria pun membuka lacinya, lalu mengambil Spirit Card yang ada di dalam buku miliknya.
"Aku bisa menggunakan ini kalau perlu."
.
XwXwXwXwXwX
.
XXX Building, Bern, Switzerland
.
January 22nd, 2030, 09.54 A.M
.
"...dengan ini, World Meeting hari ini berakhir."
Seluruh personifikasi negara menghela nafas lega. Setelah sedikit interupsi dari Aria dan keributan kecil lain, pada akhirnya World Meeting yang diketuai oleh Ludwig itu pun berjalan dengan lancar. Yah, tidak begitu lancar juga, lantaran Alfred dan Gilbert yang sangat berisik membuat Ludwig dan Vash marah-marah lagi, tepat semenit setelah Aria pergi dari ruang pertemuan itu. Namun, pada akhirnya mereka pun tutup mulut dan mengikuti pertemuan tanpa banyak omong.
Matthew pun menghela nafas sekali lagi, kemudian membereskan semua kertas berkas yang ia bawa pada hari itu. Namun, ada suara yang memanggilnya. Suara itu berasal dari luarnya, namun bukan teman-temannya.
"Matthew?"
Matthew tersentak. Ini...telepati? Ia pun menjawabnya dengan suara pelan. "...Ada apa, Aria?"
"Apa ada masalah di sana?"
"Tidak, tidak ada masalah di sini."
"Baguslah...oya, sebaiknya kau awasi teman-temanmu itu. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti. Kalau ada bahaya, cepat telepati ke aku."
"Baiklah..."
Di tempat lain, seorang pemuda berambut coklat dan bermata hijau zaitun yang tidak jauh dari Matthew menghela nafas panjang. Raut mukanya menunjukkan kecemasan. Ia seperti mengkhawatirkan sesuatu.
"Lovino?" panggil salah seorang pemuda yang duduk di sebelahnya. "Ada apa?"
Lovino—nama pemuda itu—hanya terdiam.
"Bagaimana kalau kita bicara di taman?" tanya pemuda itu, lalu membawa Lovino keluar ruangan.
Matthew, yang melihat mereka berdua, mulai merasakan suatu firasat yang buruk, lalu mengikuti mereka dengan diam-diam.
.
XwXwXwXwXwX
.
XXX Park, Bern, Switzerland
.
January 22nd, 2030, 10.09 A.M
.
Lovino Vargas, personifikasi negara Italia bagian selatan, sedang duduk di kursi taman di dekat di kolam air mancur. Ia tidak sendirian, karena ditemani Antonio Fernandez Carriedo, seorang personifikasi negara Spanyol. Taman itu sepi; hanya mereka berdua yang ada di sana.
"Kau...mengapa..." kata Lovino memulai pembicaraan. "...membawaku ke sini?"
"Dari mukamu, kau terlihat cemas," jawab Antonio. "Aku membawamu ke sini agar kau merasa lebih baik," lanjutnya.
"Terima kasih, tapi...ada hal lain yang lebih kukhawatirkan daripada hal lain."
"Apa itu?"
"Seal."
"Seal?"
"Seal, bodoh! Chigi! Apa kau tidak mendengar penjelasan Aria, bastard?!" seru Lovino kesal sambil bangkit berdiri. "Aku khawatir bila aku harus jadi Seal!"
"Kenapa?" tanya Antonio bingung.
Lovino pun duduk lagi. "Aku...tidak tahu alasanku untuk hidup..."
"Apa?"
"Kau tahu, tadi Aria bilang kalau menjadi Seal harus memiliki tujuan dan alasan untuk hidup...tapi...aku tidak tahu..." Lovino menunduk. "Apa gunanya aku hidup di dunia? Pertanyaan seperti itu...aku tidak bisa menjawabnya. Jadi...kupikir aku tidak berguna. Kau tahu Feliciano itu? Ia memiliki bakat seni, ia lebih disayangi kakek kami...sedangkan aku tidak bisa melakukan apa-apa..."
Antonio tersenyum, mengerti kesulitan Lovino. "Oh, jadi begitu...sebetulnya..."
"Apa?" tanya Lovino ketus.
"...tidak ada orang yang tidak berguna...kau hanya perlu waktu. Kau tahu si Matthew itu kan?"
"Ya."
"Dia, tidak ada yang mengetahui identitasnya, sehingga sering dilupakan, atau bahkan sering disangka Alfred, tapi...kau lihat sendiri, bukan? Dia menjadi Seal pertama." Antonio menghela nafas. "Sabarlah, Lovino. Kau akan menemukan jawaban dari pertanyaan itu."
"Kau...tumben sekali berkata seperti itu..."
"Karena kau adalah yang paling berharga buatku!" Antonio merangkul Lovino. "Untukku, kau berguna, kok! Hanya perlu kesabaran!"
"Aku tahu, tapi lepaskan aku! Chigi!" Lovino menepis tangan Antonio, lalu menyingkirkan diri dari Antonio. "Sudahlah, aku mau menemui Feliciano. Sampai jumpa, tomato-bastard!" Ia pun berdiri dari duduknya, lalu berjalan pergi.
Antonio pun termangu, kemudian tertawa kecil. "Dasar Lovino. Tetap seperti dulu, ya?"
Srek!
"Siapa?!" seru Antonio, begitu mendengar suara aneh yang berasal dari semak belukar besar dekat tempatnya duduk. "Jawab aku!"
"Beanie...beanie..."
"'Beanie'? Apa maksudmu?" Antonio pun mulai maju mendekati semak itu.
Dari semak itu, tiba-tiba muncullah beberapa puluh monster berbentuk kacang berwarna hijau. Ukurannya kira-kira mencapai pinggang Antonio. Tanpa dikomando, monster-monster itu langsung melompat ke arahnya dan menyerangnya.
Sial, aku tidak membawa apapun untuk menjadi senjata! pikir Antonio.
"Beanie...!"
"AAAAAH...!"
.
XwXwXwXwXwX
.
XXX Park, Bern, Switzerland
.
January 22nd, 2030, 10.21 A.M
.
Matthew yang sedari tadi berjalan-jalan di sekitar taman terkejut ketika mendengar suara teriakan. "Itu..." gumamnya.
Tiba-tiba, Assassin Key yang sedari tadi dipegangnya mengeluarkan suatu cahaya berkedip-kedip berwarna abu-abu kekuningan. Pada saat itu juga, Matthew tersungkur. Ia memegangi dadanya yang kesakitan.
"Akh!" serunya pelan. Tiba-tiba, ia ingat sesuatu. Ia pun berkonsentrasi sambil menahan rasa sakit yang kelihatannya mulai menghilang perlahan. "...Aria?"
"Matthew?"
"Tiba-tiba, kuncinya bersinar, terus dadaku sakit...rasanya seperti ditusuk puluhan pisau dalam satu waktu..."
"Balie Spirit ada di sekitarmu, Matt!"
"Apa?!"
"Iya, mereka pasti di sekitarmu! Oh, apa kau mengikuti salah seorang temanmu? Aku punya firasat buruk."
"Benar, aku mengikuti Lovino dan Antonio..."
"Berarti mereka dalam bahaya! Cepat cari mereka! Gunakan kuncimu itu seperti radar!"
"Baiklah..."
Tiba-tiba, telepon genggam milik Matthew berdering. Matthew pun mengangkatnya. "Halo?"
"Matt? Syu-syukurlah k-kau menjawab a-aku..."
"Antonio?"
"To-tolong...sekarang aku d-diserang oleh monster a-aneh..."
Aria benar, pikir Matthew. Dia diserang Balie Spirit. "Bukannya kau bersama Lovino?"
"D-dia pergi menemui F-Feliciano...to-tolong aku...aku ti-tidak membawa senjata...apapun..."
"Kenapa harus aku?!"
"Kau...Seal pertama...kan? Selain...Aria...kaulah yang bisa kuandalkan...aku...ada di...kolam air mancur..."
Matthew terdiam sejenak. "Baiklah. Aku akan ke sana sekarang." Matthew pun memutuskan hubungan telepon, kemudian berlari menuju tempat yang dimaksud Antonio. Ia tidak menghubungi Aria, karena ia tahu...
Bertahanlah, Antonio!
...Aria sudah mengetahuinya.
.
XwXwXwXwXwX
.
XXX Street, Bern, Switzerland
.
January 22nd, 2030, 10.23 A.M
.
Lovino berlari, menemui Feliciano yang sudah menunggunya di trotoar jalan menuju hotel tempatnya menginap di Swiss.
"Kak Lovino, kok lama sekali?" tanya Feliciano, begitu Lovino sudah sampai di dekatnya.
"Aku itu...diajak Antonio...ke taman..." kata Lovino sambil mengatur nafas. "Dasar...dia malah membuatku telat menemuimu."
"Tidak apa kok, Kak. Kelihatannya ia mengetahui kesulitan Kakak," kata Feliciano sambil tersenyum.
"Sudahlah, ayo jalan." Lovino pun berjalan terlebih dulu menuju hotel, diikuti Feliciano.
Baru dua menit berjalan kaki, Lovino mendengar suatu suara. Walaupun suara itu berasal dari luar, itu bukanlah suara Feliciano. Suara itu mirip dengan seorang gadis. "Apakah kau...yang bernama Lovino?"
"Heh?" Refleks, Lovino melihat sekitarnya. Tidak ada siapa-siapa di dekatnya, selain Feliciano.
"Ada apa, Kak?" tanya Feliciano.
"Tidak, tidak apa-apa," kata Lovino sambil menggelengkan kepalanya, "mungkin hanya perasaanku sa—"
"Lovino. Ini Aria Stellacia yang sedang menggunakan telepati. Mohon dijawab."
Lovino kaget. Apa anak ini serius, memanggilku dengan telepati?
Feliciano terlihat semakin bingung. "Kak, apa ada sesuatu?"
"Suara itu bilang...kalau dia Aria..." gumam Lovino pelan. Walaupun dengan suara pelan, Feliciano masih bisa mendengarnya.
"Aria menggunakan telepati? Jawab saja, Kak," usul Feliciano. "Mungkin ada sesuatu. Kakak kan tahu kalau dia itu bukan orang biasa."
"Kau benar," jawab Lovino. "Ada apa, Aria?" desisnya pelan.
"Apa tadi kau bersama Antonio di taman?"
"Iya..." Bagaimana orang ini bisa tahu?
"Oh, berarti benar. Matthew membuntutimu dan aku merasakan firasat kalau Antonio akan diserang oleh..."
"Apa maksudmu?!" seru Lovino. "Jangan bilang kalau dia..."
"Ya." Aria berhenti sesaat. "Ia diserang Balie Spirit."
Nafas Lovino tertahan sesaat. "Lalu, mengapa aku ikut dibawa?"
"Ayahku merasakan suatu firasat. Aku akan ke tempatmu. Tunggu di sana."
"Baiklah..." Lovino pun menghela nafas, membuat Feliciano penasaran.
"Ada apa, Kak?" tanya Feliciano.
"Antonio...diserang...Balie Spirit..." kata Lovino. Wajahnya menjadi sedikit lebih terlihat sedih daripada tadi.
"Apa?! Kak Antonio?!" seru Feliciano kaget. "Bagaimana keadaannya?"
"Aria tidak memberitahukannya..." Lovino jatuh terduduk. "Tapi, katanya ayahnya merasakan suatu firasat sehingga ia menyuruhku untuk menunggu di sini..."
"Kalau begitu..." Feliciano membawa Lovino ke halte yang kebetulan berada di dekatnya. "Kita tunggu saja di sini, ve~"
"Kau...tetap di sini?" tanya Lovino ketika ia sudah duduk di halte dengan dibopong Feliciano.
"Tentu, Kak!" Feliciano tersenyum manis. "Aku tetap akan ada di sini, bersama Kakak!"
Lovino hanya menghela nafas.
Dua menit kemudian, Aria datang, dengan pakaian yang sama seperti tadi. Namun dengan cara yang tidak biasa, lantaran ia terbang di atas permadani berwarna kuning yang berbentuk bulat. Lovino dan Feliciano yang melihat kejadian itu hanya bisa terpana.
"Halo, semua," sapa Aria, begitu ia sudah sampai di depan dua orang Italia bersaudara itu. Ia masih duduk di atas permadani yang sudah mendarat di tanah. "Ayo, naik."
"Tu-tunggu!" seru Lovino. "Kau dapat permadani itu dari mana? Jelas-jelas gak ada permadani terbang di sini!"
"Oh, ini Spirit Card yang kutangkap kemarin bersama Matthew," jelas Aria. "Spirit Card adalah Balie Spirit yang berubah menjadi lebih jinak pada manusia, dan punya kekuatan istimewa, seperti berubah bentuk. Hebat, kan?"
"Wah~ Hebat, ve~" puji Feliciano. Lovino hanya terdiam.
"Kalau begitu, ayo!" ajak Aria. "Selebihnya akan kujelaskan nanti bila sudah sampai. Nyawa lebih penting! Cepat!"
Lovino dan Feliciano pun saling berpandangan, kemudian menaiki permadani itu. Permadani itu pun perlahan terbang, melintasi cakrawala nan luas.
Sementara Aria tetap fokus dalam mengarahkan permadani dengan pikirannya dan Feliciano asyik memandangi pemandangan Swiss dari langit, Lovino hanya termenung. Ia memikirkan perkataan Antonio ketika berbicara dengannya di taman.
Tujuan hidup...ya?
Ia berharap dapat menemukannya secepat mungkin...
...aku akan mencarinya!
...demi orang yang sebetulnya berharga untuknya.
.
XwXwXwXwXwX
.
XXX Park, Bern, Switzerland
.
January 22nd, 2030, 10.28 A.M
.
Sesampainya di tempat yang dimaksud, Matthew sangat terkejut dengan yang dilihatnya. Semua hancur berantakan. Tidak hanya itu, Antonio terkapar di tanah dengan luka di sekujur tubuhnya. Sementara itu, ada puluhan monster berbentuk seperti kacang berwarna hijau yang terlihat bermain satu sama lain di sekitar tubuh Antonio.
"Antonio!" seru Matthew. Ia pun segera mengeluarkan Assassin Key yang sejak tadi berada di kantong kanan jaketnya. "Aku mohon Antonio, bertahanlah!"
Tiba-tiba, Matthew mendengar suara sesuatu yang terbang. Ketika menoleh, ia melihat Aria, Lovino, dan Feliciano terbang menggunakan permadani bulat berwarna kuning. Permadani itu terlihat mendarat ke arahnya.
"Aria, itu apa?" tanya Matthew, begitu Aria sudah mendarat ke dekatnya.
"Spirit Card, Balie Spirit yang sudah dijinakkan dan memiliki kekuatan istimewa yang bisa membantu," jelas Aria dengan singkat, lalu mengubah permadani itu menjadi kartu kembali dengan bantuan Altair Pass miliknya.
"Oh..." gumam Matthew mengerti.
"Kalau begitu, ayo!" Aria pun mengeluarkan kunci berbentuk pedang berwarna kuning keemasan. "Aku akan menggunakan Paladin Key. Lovino dan...eh..." Ia terlihat kebingungan, karena ia memang tidak tahu nama saudara dari Lovino.
"Aku Feliciano Vargas, ve~" jawab Feliciano, seperti tahu pikiran Aria.
"Kalau begitu, kalian berdua bawa Antonio ke tempat yang aman. Kami akan mengalihkan perhatian monster Beanie." Aria pun mengangkat kunci itu sampai sebatas matanya. "Matthew, kau siap?"
"Siap." Matthew pun menggenggam kuncinya erat-erat.
"Sebaiknya kita menggunakan mantera yang sama, karena bila dikelompokkan, Paladin dan Assassin sama-sama sedikit lebih lemah bila dibandingkan dengan pasangannya," kata Aria.
"Apa?" tanya Matthew.
"Akan kujelaskan lain kali, waktunya tidak keburu untuk sekarang. Mantera untuk kelompok profesi semacam Paladin dan Assassin adalah..." Aria terdiam sesaat. "Seal Power Tipareth Link."
"Baiklah..." gumam Matthew mengerti.
Aria dan Matthew pun berkonsentrasi. Pada saat itu juga, kunci-kunci yang mereka pegang mengeluarkan cahaya terang.
"Wah..." decak Feliciano.
"Seal Power..."
Dan tepat sebelum Beanie itu melihat mereka...
"...Tipareth Link!"
Cahaya putih yang sangat terang pun menyelimuti tubuh mereka selama lima detik, dan setelah cahaya itu menghilang, mereka pun telah mengenakan pakaian Seal mereka. Untuk Aria, ia mengenakan Gold Saint Set, dengan Gold Saint's Sword sebagai senjatanya dan sebuah perisai bernama Shield of Gold Saint. Dan tentu saja, Seal Form.
"Wah...pakaian mereka keren..." decak Feliciano lagi. Sementara Lovino terlihat terkejut dengan pakaian yang mereka kenakan setelah berubah.
Tanpa banyak tingkah, Beanie-Beanie itu pun langsung menyerang kedua remaja yang berubah wujud itu. Aria dan Matthew pun langsung maju dan menyerang mereka degan senjata masing-masing. Sementara mereka saling bertarung, Feliciano dan Lovino membopong Antonio yang sudah tidak sadarkan diri dan bersembunyi di balik pohon besar.
"Kak Antonio, bangunlah, ve~!" seru Feliciano sambil menggoyang-goyangkan tubuh Antonio.
Lovino hanya terdiam, merenungkan kehidupannya sebagai personifikasi negara. Dari kecil, ia selalu merasa iri dengan Feliciano. Satu, karena Feliciano lebih dimanja. Dua, karena Feliciano lebih dikenal dan ramah. Tiga, karena ia bisa melakukan hal-hal yang berkaitan dengan seni. Hanya dengan tiga alasan itu saja, Lovino sudah merasa kalau ia tidak berguna di dunia ini. Apalagi kalau alasan untuk itu bertambah!
Feliciano, yang menyadari sikap aneh kakaknya tersebut, menepuk pundak Lovino. "Kak, kalau Kakak ingin mencari alasan untuk menjadi Seal, sebetulnya alasan itu sudah ada, kok," katanya, membuat Lovino sangat kaget dengan perkataannya.
Bagaimana ia bisa tahu?
Aria yang melihat kejadian itu dari jauh tersenyum, kemudian berjalan mendekati Lovino. "Kalau Matthew tiada, itu memang masalah. Tapi kalau kau yang menghilang, masalah akan lebih besar," katanya sambil memegang pundak Lovino.
"Eh?"
"Di Shiltz, aku belajar sedikit mengenai Bumi," ujar Aria. "Kalau kau tidak ada di muka Bumi, siapa yang mengurus Italia bagian selatan? Lovino, kau hidup karena Italia tidak bisa berdiri hanya dengan satu orang. Feliciano sudah mengurus bagian utara, sisanya diserahkan padamu. Karena itu kau hidup. Selain itu..."
Lovino memandang Aria dengan keheranan.
"...hidupmu sangat berpengaruh pada Antonio."
Lovino tersentak. Selain terkejut, ia juga tidak mengerti dengan maksud Aria.
"Yah, kau tahu, kalau kau tidak ada di dunia ini, mungkin Antonio akan sedikit lebih kesepian. Kau selalu bersamanya sejak kecil sampai sekarang, bukan? Kalau kau tidak ada, semua akan berubah. Italia akan mudah direbut. Semua berubah. Drastis. Kau sudah memiliki potensi Seal, bahkan sebelum kami semua menyadarinya...itulah alasan mengapa ayahku bilang padaku lewat telepati kalau kau adalah Seal." Aria menarik tangan kanan Lovino, lalu menaruh kunci berbentuk gada bewarna merah dengan aksen putih dan emas di atas telapak tangannya. "Kau sudah menemukan jawabannya dengan bantuan saudaramu. Dan...jadilah Seal Priest, Lovino."
Tiba-tiba, kunci yang diberikan Aria kepada Lovino bercahaya dengan sangat terang. Cahaya itu berwarna merah keemasan.
"Ucapkanlah manteranya sekarang, Lovino," kata Aria sambil mundur beberapa langkah. Altair Pass miliknya pun ikut bersinar. "Seal Power Priest Link."
Lovino terdiam beberapa saat, mengenang apa yang sudah ia lakukan untuk dunia selama hidupnya...sebetulnya, hampir tidak ada. Namun...
Lovino tersenyum kecil. Aku berhutang budi padamu, Antonio...dan akan aku balas...
Lovino pun mengangkat kunci itu tinggi-tinggi. "Seal Power..."
...sekarang juga!
"...Priest Link!"
Tiba-tiba, cahaya dari Priest Key menyelimuti tubuh Lovino selama lima detik. Dan, ketika cahaya itu menghilang, Lovino terlihat sangat terkejut dengan pakaian dan senjata yang dipegangnya.
"Holistic Set dan Holistic Mace..." gumam Aria sambil memandangi layar Cellset miliknya. "Untuk ukuran Priest, ini bagus juga."
Lovino yang awalnya terkejut menutup matanya sebentar, kemudian membukanya lagi. Ia mengacungkan gadanya ke para Beanie, sambil mengatakan sesuatu yang sulit dipercaya. "Dengan kekuatan Elim yang dipercayakan kepadaku, dalam nama Tuhan aku akan menghukummu!"
Siiing...
"Ka...Kakak?" gumam Feliciano. Ia terlihat sangat heran dan kaget dengan hal tersebut. Tidak hanya Feliciano, Matthew juga heran dengan hal tersebut.
Mereka semakin heran ketika Lovino berkata, "Aku akan melindungi seluruh bumi ini dengan segenap jiwaku!" Kemudian ia berbalik pada teman-temannya dan sambil membungkuk ia berkata lagi, "Saya akan melakukan apapun demi kebaikan kalian, kawan-kawanku yang kukasihi dan kuhormati."
Kebingungan, Aria menatap Matthew dengan tatapan heran. "Matt, ada apa?"
"Lovino...kok..." ucap Matthew terbata-bata. "...berubah...sifat?"
Aria hanya tertawa kecil. "Kau akan tahu besok." Ia pun memutar-mutar pedangnya sebentar. "Ayo!"
Matthew pun mengangguk serius. "Baik!" Bersama Aria, Matthew pun membasmi para monster mungil nan kejam tersebut, sampai tinggal satu yang tersisa. Untuk melakukan itu mereka memerlukan waktu sekitar lima menit. Lebih lama daripada kasus yang kemarin, karena Beanie-Beanie tersebut lebih kuat daripada Piya.
"Nah," gumam Aria sambil mengacungkan tongkatnya ke satu-satunya Beanie yang tersisa, "mari kita—"
"Tunggu dulu!"
Aria dan Matthew menoleh ke asal suara. Ternyata Lovino yang memanggil mereka.
"Saya ingin memulihkan keadaan kalian terlebih dahulu, sebelum kalian menyegel monster itu." Lovino pun mengacungkan gadanya tinggi-tinggi, dan dari gada itu keluar cahaya kuning yang menyilaukan. "Mega Cure...UNLEASH!" Cahaya tersebut keluar dari gadanya seperti sulur dan mengelilingi tubuh Aria dan Matthew.
Dan seketika itu juga, tubuh Matthew dan Aria menjadi lebih ringan.
"Ini..." gumam Matthew.
Aria tersenyum, ketika cahaya itu hilang dengan perlahan. "Matt, ayo!"
"Baik!" jawab Matthew.
"Ice Cannon..."
"Vital Attack..."
"...SEAL!"
BLAR!
JLEB!
"Beanie...!" Monster itu pun berubah kembali ke wujud asalnya—kacang hijau—dan Balie Spirit yang dipaksa keluar dari medium-nya berubah menjadi Spirit Card.
Beberapa saat kemudian, ketiga Seal tadi kembali ke wujud asalnya. Dan yang pertama kali ambruk ke tanah adalah Lovino. Serentak, teman-temannya langsung berlari menghampirinya.
"Lovino!" seru Matthew sambil berlutut di dekat Lovino. "Apa kau tak apa?"
"Gila..." gumam Lovino. "Suaraku...keluar...tanpa ter...terpikir olehku!"
Matthew dan Feliciano kebingungan, lalu menoleh ke Aria yang masih berdiri di dekat mereka. "Aria, apa maksudnya ini?!" tanya mereka bersamaan.
"Karena itu besok kita semua harus belajar lebih lanjut tentang Seal," kata Aria, jawabannya sama sekali tidak cocok dengan pertanyaan yang dilontarkan padanya. "Apa kalian punya nomor telepon seluruh teman kalian?" tanyanya.
"Aku punya, ve~ Tapi kalau Millie dan saudaranya..." gumam Feliciano, ia terlihat sedikit bersalah.
"Tak apa, aku punya, kok," kata Matthew menenangkan. "Tapi, untuk apa?" tanya Matthew pada Aria.
"Tanyakan pada teman-teman kalian, kalau besok mereka bisa berkumpul di negara...aduh..." Aria menjitak kepalanya pelan. "...yang banyak gunungnya itu...apa, ya?"
"Cili?" tebak Feliciano.
"Bukan...di utara, kok...apa, ya...?"
"Norwegia?" tanya Lovino. Sepertinya ia sudah mulai tenang.
"Nah, itu dia! Suruh mereka agar kumpul di gedung pertemuan di ibukota Norwegia—namanya apa, aku gak urus. Soalnya kalau mereka masih awam soal Seal mereka bisa panik sendiri." Aria menghela nafas sejenak. "Selain tentang perubahan sifat seperti tadi, Seal Pass dan Pet adalah hal penting lain yang harus dijelaskan. Dan aku akan mengajak kalian semua ke 'sumur' yang aku maksud. Kalau ingin bertanya hari ini, simpan dulu untuk besok."
"Apa gak bisa lusa? Atau minggu depan?" usul Lovino. "Kita terlalu capek..."
"Kalau minggu depan, mungkin kita sudah mati," kata Aria, "tapi kalau lusa...ya tak apa."
"Tapi...kamu mau nginap di mana?" tanya Matthew.
"Aku gak mau merepotkan kalian." Aria menunjukkan Spirit Card bergambar Beanie. "Aku bisa menggunakan ini sebagai sarung tidur."
"Tapi...kau mau makan apa?" tanya Lovino. Aria hanya terdiam.
"Bagaimana kalau kau tinggal dulu di rumahku," usul Matthew. "Hari ini aku akan meminta Sey untuk pulang terlebih dulu, lalu meminta pilot pesawatku untuk membawaku dan Aria kembali ke Kanada. Itu tidak begitu merepotkan, kok."
"..." Aria hanya terdiam, lalu mendesah. "Terima kasih...dan maaf, Matthew."
Matthew tersenyum. "Tak apa, kok. Tapi sebagai putri raja, kau pintar bertahan hidup juga, ya," guraunya. Candaannya membuat muka Aria sedikit memerah karena malu, lantaran jarang ada orang yang menyinggung soal itu.
"Itu..." kilah Aria pelan. "...bukan apa-apa."
"Tapi, ve~" sela Feliciano. "Pertama kita harus membawa Kak Antonio ke rumah sakit terdekat..."
Aria, Matthew, dan Lovino pun memandang Antonio yang masih terkapar di dekat semak-semak. Sepertinya ia masih belum sadar juga.
Dan kalimat dari Feliciano disambut dengan satu kata pendek dari Aria.
"...ayo."
.
XwXwXwXwXwX
.
XXX Hospital, Bern, Switzerland
.
January 22nd, 2030, 14.57 P.M
.
"...ugh..."
Antonio membuka kelopak matanya yang terasa berat. Samar-samar, ia melihat langit-langit suatu ruangan yang putih bersih. Kalau ditimbang dari bau sekitarnya, sepertinya sudah jelas kalau ruangan ini adalah kamar rumah sakit.
"Antonio, kau sudah sadar?"
Antonio menoleh. Di sisi kanan tempat tidurnya sudah ada dua orang. Yang satu berambut pirang sebahu bergelombang dan bermata biru, sedangan yang satunya lagi berambut perak pendek dan bermata merah darah. Mereka berdua adalah sahabatnya, Francis Bonnefoy dan Gilbert Beilschmidt.
"Ini...di mana?" gumam Antonio pelan.
"Kau di rumah sakit, Nio," jawab Francis. "Tadi Matthew meneleponku kalau kau sehabis dilukai oleh monster bernama Beanie."
"Lalu...bagaimana dengan...monster itu?"
"Tenang, Antonio," kata Gilbert, "Aria dan Matt sudah menyegelnya. Dibantu Lovino juga."
"Lovino...menjadi Seal...juga?" Pertanyaan Antonio dijawab dengan anggukan dari Francis dan Gilbert. Antonio pun menghela nafas lega.
"Antonio."
Antonio melirik, melihat Aria, Lovino, Feliciano, dan Matthew yang berdiri di dekat pintu kamar. Tiba-tiba, Lovino maju mendekati tempat Antonio berbaring.
"Antonio..." kata Lovino, "...terima...kasih."
Antonio tersenyum, mengerti akan maksud Lovino. "Aku juga berterima kasih...dan selamat, karena kau sudah menyelamatkan si oyabun ini dan berhasil menjadi Seal."
"Oyabun?" gumam Aria.
"Artinya 'bos'," kata Matthew menjelaskan.
"Tapi, Lovi..." gumam Antonio, membuat orang-orang di sekitarnya memusatkan perhatian padanya. "...aku tidak akan kalah! Aku berjanji akan menjadi Seal yang lebih hebat daripada kau!"
Lovino tersenyum penuh arti. "...aku juga tidak akan kalah, tomato-bastard!"
"Aku juga, ve~" seru Feliciano.
"Aku yang hebat ini juga!" seru Gilbert.
"Aku juga tidak mau kalah, mon cher~" sahut Francis.
Aria dan Matthew saling berpandangan, lalu tersenyum kecil. Sepertinya teman-teman mereka sudah membuat janji pada seluruh dunia...
...kalau mereka akan menjadi Seal juga.
.
XwXwXwXwXwX
.
XXX Street, Bern, Switzerland
.
January 22nd, 2030, 15.42 P.M
.
Aria dan Matthew berjalan beriringan, menyusuri jalan yang akan membawa mereka ke tempat di mana pesawat jet milik Matthew berada. Setelah berbagi cerita dengan Antonio dan kawan-kawan, menelepon seluruh teman mereka untuk berkumpul di Norwegia lusa nanti (dibantu Antonio, Gilbert, dan Francis juga), juga mendapat nomor ponsel Cellset dari Aria, jam menjenguk pun akhirnya habis dan mereka disuruh pulang. Matthew tidak lupa menelepon Sey kalau ia akan pulang dengan jetnya sendiri dan menyuruh si gadis untuk kembali ke rumahnya lebih awal.
"Di rumahmu nanti, kita makan apa?" tanya Aria, setelah hening beberapa lama.
"Ng...sore ini, akan kubuatkan pancake dan coklat hangat. Kau suka?" Matthew balik bertanya. Aria mengangguk.
"Malamnya?"
"Um...kita bisa lihat nanti."
Aria terdiam sejenak. "...Matt."
"Ada apa?" tanya Matthew.
"Apa setelah ini, kau bisa mengenalkan teman-temanmu padaku? Mau pakai peta, foto, atau apapun, boleh."
Matthew terdiam selama beberapa saat, kemudian tersenyum. "Tentu." Tiba-tiba, ia berhenti di depan Aria, lalu mengulurkan tangannya, membuat Aria terhenti dan menatapnya kebingungan.
"Ada apa, Matt?" tanya Aria.
"Agar kau tidak tersesat nanti," jawab Matthew. "Aku akan menjadi pelayanmu kalau kau mau, Nona Aria," guraunya pelan.
Wajah Aria mulai merona. Jujur, sebetulnya ia paling benci kalau diperlakukan seperti tuan putri. Bahkan, ketika umurnya 11 tahun ia pernah kabur dari rumah karena ibunya mau menyewa seorang pelayan. Tetapi, sejak pertama bertemu Matthew, Aria mulai merasakan sesuatu yang tidak beres pada dirinya.
Namun, Aria langsung mengabaikan perasaan itu. Ia pun menghela nafas panjang, kemudian menerima uluran tangan temannya itu. "Kalau aku tidak mau?"
"Aku akan tetap mengikutimu." Matthew pun berjalan lagi, "ayo."
Aria pun mengikutinya. Walaupun bila ia benci diperlakukan bak seorang putri, ia tidak melepaskan tangan Matthew darinya. Mengapa?
Sudahlah, aku akan terbiasa nanti.
Mereka pun kembali berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, menuju lapangan di mana pesawat jet milik sang personifikasi negara Kanada menunggu.
.
To Be Next Adventure...
.
.
.
Mado no soto wa monochro no sekai
Kawari no nai hibi wa taikutsu
Ikiru koto ga wazuka ni omotai
Tobiori tara karukunaru kana
Kokoro no tenki yohou
Ashita seiten desu ka?
Hitomi ni utsuru keshiki
Mata, douse, onaji desho
Hateshinai michi no doko ka ni
Ochi teru kana sagashi mono
Asu ni nareba kitto mitsukaru kara
Ima, me o samashite
Hateshinai sora no mukou ni
Matteru kana sagashi mono
Kinou yori sukoshi dake mae o muki
Ima, te o nobashite
Saa, ima, te o nobashite
.
.
.
.
.
MAAF TELAT UPDATE!
Hiatus memang menyebalkan, membuat Yuka tidak bisa melanjutkan HetaSeals dengan tenang! Tapi, karena hari ini sudah update, maka kalian tidak perlu khawatir! Maaf kalau episode ini gak jelas plotnya!
Oh, dan hint di atas tadi...#wink Sepertinya Yuka telah menciptakan pairing yang lebih nge-crack lagi, ya~
Oh, sebelum itu, Yuka meminta vote dari kalian. Di antara karakter-karakter di bawah ini:
a. Elizaveta (Hungary),
b. Ludwig (Germany),
c. Feliciano (N. Italy/Veneziano),
d. Natalia (Belarus), atau
e. Sey (Seychelles),
karakter mana yang kalian inginkan untuk menjadi Seal ketiga? Profesinya? Rahasia!
Lalu, di tanggal (yang seharusnya, maklum Yuka update episode 2 ini pagi-pagi) ketika chapter ini update: 29 Juni, siapakah karakter yang berulang tahun? Ada orangnya, lho, di episode ini! Yang mampu menjawab dengan cepat dan tepat, pilihannya akan dikalikan 2, sehingga peluang karakter untuk memenangkan voting akan lebih besar!
Yukari Wada, pamit!
