Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto. Begitupun dengan Wanda dan Pietro dan lain-lain mereka milik Marvel. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.
.
.
.
Pemain Cinta.
.
.
.
Jika boleh, Sasuke akan menyalahkan Tuhan atas ini. Menyalahkan mengapa orang itu di ciptakan dengan bentuk yang sangat sempurna kelewat batas dan sensual. Tapi, kala raga tak dapat mempertemukan, Loki datang mengemban strategi unik dari otaknya dan tertawa untuk mengakhiri gejala.
.
.
.
Malam itu, keesokan hari setelah Wanda ditemui Sasuke. Ia bercerita panjang lebar pada Natasha juga Hill yang sebenarnya hanya ingin tahu. Percayalah, perempuan memang seperti itu. Tidak tahu siapa yang memulai pembicaraan sebenarnya, tapi itu semua bermula saat Steve keceplosan bertanya soal ini dan itu.
Kepo!
Pikir Wanda, Sasuke benar-benar aneh, berani menemui Wanda dan bermain dengan cinta, walau sebenarnya tidak seperti itu ceritanya. Wanda kira, Pietro sudah menyelesaikan masalah ini dengan tatap muka langsung, seperti yang di lakukan di bar milik Stark, tapi yang terjadi malah sesuatu yang menggemparkan.
Natasha dan Hill banyak sekali berkomentar, malah terlampau cerewet, sebagian dari itu jawaban yang jenaka atau sebuah sentilan halus yang menggelikan, tidak masuk di akal dan terlalu banyak kepura-puraan.
"Mau tidak aku memberitahu Vision?"
"Untuk apa? Dia tidak perlu tahu soal ini, lagi pula ini masalahku, Nat. Aku tidak mau Vision tahu."
Hill mengangkat bahu. "Reiko?"
Natasha sedikit kesal. "Ah, si artis Girlband itu! Kau yakin dia mau? Dia sedang ambil libur dari Stark dan pergi ke Korea."
"Kenapa dia di sebut Girlband sih? Dia kan bukan artis, hanya kebetulan saja kenal dengan artis."
Nat tertawa masam. "Heh, sekolah di SMA seni dan punya guru super ganteng yang merambah menjadi produser, Rei sudah pantas di sebut Girlband."
"Kalau di lihat dari sisi sana sih, kau benar, Nat."
Memikirkan soal Reiko dan meminta bantuan gadis itu mungkin ide bagus. Reiko itu pintar, Stark suka padanya tapi hanya sebatas rekan untuk memecahkan masalah jika ia tak setuju dengan Bruce. Tapi dalam beberapa hal Reiko akan sangat menjengkelkan, dia agak keras kepala dan sedikit gila.
Oke, cara bicaranya memang tidak sebrutal Tony. Tapi pemikirannya yang aneh dan luar biasa membingungkan ini dapat membuat orang lain salah paham. Mungkin karena dia terlalu cerdas dan memiliki trik lumayan aneh.
Tapi, tentu saja Reiko tak semudah itu mengiyakan. Reiko akan menolak mentah-mentah jika itu soal Sasuke. Menjadi bagian kecil dari Avengers saja sudah menjadi hal membanggakan bagi Tony Stark, lagi pula Reiko tidak pernah komen banyak soal percintaan. Dia mungkin akan tertawa kasar jika mendengar permohonan seperti itu.
Di antara para Avengers lain, Reiko lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama Steve, itu karena mereka memiliki pemikiran yang sama walau agak kuno atau kadang Stark jika memang benar-benar terpaksa. Pemikiran yang sama dengan Steve bukan berarti saling suka, Reiko tidak seperti itu.
Lagi pula Reiko naksir cowok lain. Tapi dia tidak pernah cerita orang itu siapa. Mungkin saja itu Steve atau salah satu murid di Xavier School, dia berasal dari sana.
Atau mungkin si Winter Soldier? Mereka pernah kepergok minum kopi berdua.
Eh.
Jika Natasha dan Hill melakukan itu, maksudnya meminta bantuan pada Reiko, mereka mungkin hanya mendapat tatapan dingin plus sumpah aneh berbahasa halus. Percayalah, Reiko hanya mempercayai Charles Xavier dan beberapa orang seperti Steve.
"Memangnya si Sasuke itu benar-benar mengatakannya? Itu mengerikan."
Wanda mengenggelamkan wajahnya di bantal dan berteriak kecil. "Tentu saja Nat! Aku sampai merinding."
"Rahasiakan ini, Wanda. Mungkin Piet akan bertindak."
Hill benar. Tapi, apa iya?
"Kau itu Dewa atau apa? Hal seperti ini sudah lumrah di luaran sana! Seperti acara pencomblangan yang memalukan itu. Dasar."
Sasuke tersenyum nakal. "Kurasa ini keren." Lanjutnya sembari menghirup aroma rangkaian bunga krisan biru dan kuning di dalam bucket. Loki bilang, ia sudah memanterai beberapa hal yang tak banyak orang tahu kedalam bucket bunga itu dan siapa yang tahu jika cara ini akan berhasil.
Loki, gitu loh.
"Duh, mahakarya yang cringe." Komen Pietro cerdas. Tak peduli dengan tatapan tajam Sasuke dan sang kontraktor ini. Bagi Pietro, ia hanya ingin lepas dari perkara ini dan menyelamatkan saudara perempuannya dari genggaman cinta Sasuke.
Kala mengotak-ngatik ponsel, Sasuke bertanya dengan nada aneh. "Ngomong-ngomong, apa kau kenal dengan Reiko?"
"Reiko? Tentu saja, dia itu-"
Sasuke memotong. "Bukan padamu, Pietro."
Jika bukan pada Pietro, berarti ia sedang bertanya pada Loki, tapi sang korban dari pertanyaan ini hanya mengidikan bahu. Serasa itu bukanlah hal penting yang harus di pertimbangkan. Tapi, Loki berpikir, mungkin saja Reiko ini akan menyusahkan jalur dari kontrak. Jadi, dia akan siap siaga jika gadis itu mulai meruntuhkan pertahanan.
"Duh, kalau Wanda cerita pada gadis itu semuanya akan hancur." Timpal Sasuke kesal.
Pietro tertawa meledek. "Tidak, jika menyangkut dirimu, Sasuke. Dia membencimu..."
Pietro tahu Reiko amat membenci Sasuke dengan alasan yang kurang jelas. Mereka dari belahan dunia yang hampir sama, seharusnya mereka dekat. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi. Reiko memang hebat dalam memilih teman dan ia cukup loyal pada mereka semua dan jangan mencoba untuk mengkhianati gadis itu atau kau akan lenyap seperti sebuah debu. Dia cukup handal menyembunyikan mayat.
"Reiko, dia memang kenapa?" Akhirnya, Loki penasaran juga. Padahal ia bisa mencari soal gadis itu di dalam otak perpustakaan ini. Ayolah, ia hanya ingin mengobrol.
Sasuke tersenyum masam. "Dia favoritenya Stark. Rambutnya cokelat, menggunakan kacamata. Dia sinis dan manis lumayan jago bertarung dan akrobatik."
Loki memutar bola mata. "Bukan yang seperti itu, tolol."
Sasuke mengamuk. "Lalu yang seperti apa?" Ia berontak, menyambar kunci mobil, bucket bunga. Tak lupa seringai nakal serta bonus jari tengah. "Aku pergi..."
Peitro memutar bola mata, melihat kerpergian dari penampakan sang Uchiha. Kehabisan akal rupanya si Maximoff ini. Padahal, jika ia mau, ia bisa mencegat Sasuke dan melempar lelaki itu dari atas genteng rumah tetangga.
"Duh, apa yang baru saja kau berikan, hero?"
"Apa, Tn. Maximoff? Itu bunga Krisan.."
Pietro tertawa menyindir. "Hanya bunga saja, hero?"
"Nope. Kau sendiri akan tahu bagaimana pesona sebuah bunga."
Oh, Tuhan.
Loki pasti bercanda.
Sasuke tersenyum sinis pada khalayak, ia mempertontonkan pesonanya pada semua orang yang ada di Manhattan. Beberapa diantara mereka ada tatapan sinis dan juga aneh tapi ada juga yang terpesona oleh lirikan manis bertajuk kemesraan yang ada dalam bola mata hitam Sasuke.
Sasuke mendapat kabar baik hari ini, ia mendapat jadwal jalan-jalan Wanda dari Loki. Bersyukur sekali lelaki itu mendapat kemudahan yang tentu saja menguntungkan Sasuke dalam kasus percintaan ini.
Sebuah kafe. Wanda tengah duduk sendiran dengan cardingan merah yang menjadi favorite sebagai seni atas keindahan tubuh, ia menikmati satu gelas kopi dingin yang manis.
"Halo, Wanda!"
Wanda menoleh, agak kaget sebagai ekspresi pertama yang di utarakan. Ia mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri lalu ke semua arah, tidak ada siapapun yang nampak mencurigakan di luaran sana. Ia berpikir, mungkin saja Pietro ada di sana atau Vision yang setengah mengamuk.
"Um? Sasuke ada apa?"
Wanda agaknya sedikit waspada, setelah kejadian di gedung Avengers itu membuatnya malu setengah mati. Ia juga tidak tahan dengan kejadian demi kejadian yang terjadi pada jantung dan otaknya. Wanda grogi dan takut. Sebelum-sebelumnya, Sasuke bukan tipe pendamba seperti ini. Jadi, tentunya ini menjadi suatu keganjilan yang sangat memilukan.
Sasuke tersenyum nakal. "Aku merindukanmu." Di peluk tubuh mungil Wanda dalam kungkungan abadi dari Sasuke. Menghirup aroma manis dari tubuh Wanda yang menjadi candu asmara. Perlahan, Sasuke bermain nakal di antara belahan leher Wanda, buat gadis itu mengerang yang kemudian pada aksi berikutnya mendorong tubuh sang pelaku tanpa ada izin.
"Sas, hentikan!"
Sasuke memicingkan mata. "Ups, maaf..."
Di sambarnya bunga krisan oleh Wanda. "Well, aku tidak tahu sebenarnya kau itu kenapa."
"Apa maksudmu, sayang?"
"Kalau kau naksir sama Pietro katakan saja! Kau tak perlu mengambil simpati dariku."
Saat itu juga. Wajah Sasuke memucat.
