Undergorund
By Rei iwasaki
DN isn't mine. It belongs to TO2
Rate T
Genre: Adventure/ Friendship
Sumarry: Kenapa belum menyala? Bisa kudengar suara tangisan dan teriakan ketakutan menyergap tempat gelap ini. Kenapa belum menyala? Tenaganya sudah habis? Ini akhir dari tempat ini,kah?
Inspirate by The City of Ember novel and Tunnels novel
Chapter 2:
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
"Mattt!" dengan suara yang sangat kencang dan menggema, Mello, anak yang selalu menganggu kediaman Matt berteriak. Sontak saja Matt terbangun dengan kedua tangan memegang selimut kumalnya.
Matt mengacak-ngacak rambut merahnya. "Gezz... tidak bisakah anak itu tidak berteriak seharuan saja? Atau kalau bisa sedetik saja?" gerutu Matt.
Kakinya melangkah turun dari kasur dengan ogah-ogahan. Matt membulatkan matanya saat tidak mendengar suara apa-apa lagi.
"Jangan merusak pintunya lagi! Kau tahu betapa susahnya aku mengumpulkan bahan purba itu dan aku harus menggunakannya untuk hal yang tidak berguna karena kau merusak pintu itu!" seru Matt.
"Kalau begitu buka pintunya sekarang," desis Mello.
"Baik-baik," balas Matt. Anak berambut merah itu memutar kenop pintu yang nyaris copot dan menariknya.
"Kau terlambat bangun lagi," ucap Mello dengan raut wajah matah sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Kita pergi sekarang," ucap Matt. Dia melangkah selangkah dan menutup pintu. Mello menaikan sebelah alisnya.
"Kau tidak mandi?" tanyanya.
"Bahkan setengah lebih sudah tidak melakukannya karena masalah ekonomi," jawab Matt.
"Peralatanmu?" Mello bertanya lagi.
"Kutinggal di penambangan atas."
"Kupikir kita akan kesaluran air dulu."
"Setelah kupikir-pikir, lebik baik rasanya kita menambah data mengenai proyek kita. Semuanya semakin parah. Kita butuh hasil penelitian nenek moyang kita yang jenius dan menyempurnakannya. Generator itu masih belum butuh perbaikan. Kupukir masih ada pasokan listrik untuk semalam tanpa tersendak," jelas Matt.
"Kita berangkat sekarang." Lalu mereka mulai menuruni tangga berdecit dan keluar dari rumah.
Jika kau melihat kpya ini, hanya ada cahaya remang-remang yang menyelimutinya, tidak seterang biasa. Tentu saja. Lampu itu akan mulai menyala seterang-terangnya ketika jam kota sudah menunjukkan jam 7 pagi dimana itu merupakan jam kerja. Ini baru pukul 4 subuh, semua orang masih terlelap ditempat yang mereka namakan kasur.
Matt dan Mello mempunyai waktu 3 jam sebelum jam kerja dan mereka harus melewati jalan-jalan tikus dengan lincah seperti kemarin-kemarin atau mereka akan tertangkap oleh para polisi yang bahkan tidak pantas disebut sebagai polisi. Mereka bahkan lebih para dari seorang bocah gelandangan pengacau jalan.
Kenapa mereka harus menghindar dari polisi? Ya, tentu saja karena supaya tidak ditangkap karena telah melakukan pelanggaran! Pelanggaran? Ya. berkeliaran di kota di atas jam kerja itu merupakan sebuah pelanggaran, sebab pada jam itu bisa saja orang yang berkeliaran itu melakukan hal tidak baik seperti menyusup ke rumah tetangga dan paling parah keruang persediaan makanan dan mencurinya.
Pilihan yang terakhir itu mungkin yang paling banyak akan terjadi jika tidak ditetapkannya peraturan ini. Persediaan semakin berkurang, dan orang dengan egoisnya ingin menjadikannya sebagai milik mereka sendiri agar merekalah yang pada akhirnya akan tetap hidup.
Kembali ke para bocah petualangan mereka. Kini mereka sedang berbincang-bincang mengenai jalan tikus yang akan mereka lalu. Tiap harinya polisi diletakkan ditempat yang berbeda, tetapi memiliki pola. Mereka sedang memikirkan pola mana yang digunakan dan pola jalan tikus apa juga yang akan mereka lewati.
"Sebaiknya kita tidak mengambil jalan Midstage dan beralih ke arah timurnya ke jalan Chano, lalu menuju kita mengambil jalan biasa yaitu, Pergraph menuju eSat, Jollywall dan kedaerah terlarang," ucap Matt sambil melihat peta yang ditandai dengan warna merah. Tanda itu pasti tanda dimana polisi itu berada sekarang.
Mello mengangguk setuju. Matt memasukkan peta itu kembali ke dalam saku celananya dan mereka segera pergi melalui rute yang sudah disusun Matt.
Dengan lincahnya mereka berlari seperti seorang pencuri ulung tanpa menimbulkan suara berisik terhadap kaki mereka yang tidak sengaja tersenggol kaleng-kaleng makanan yang tersebar tidak bertanggung jawab di setiap jalan itu. Mereka sudah profesional.
Mereka akhirnya sampai pada ujung dari kota itu, ujung yang tidak berujung yang sering kali memakan korban. Ujung yang tidak berujung yang dibernama daerah terlarang oleh semua penduduk kota yang sudah menyepakatinya.
Para penduduk kota yang sudah gila dan mempunyai ide gila sering kali pergi ke sana untuk menyebrangi daratan gelap dan cahaya agar bisa keluar dari kota yang hampir mati ini malah mati. Biasanya mati dengan keadaan daerah terlarang itu sendiri atau kebodohan mereka, seperti membakar kayu dengan api lalu berjalan ke sana dan akhirnya kayu itu habis terbakar, membakar manusianya dan lalu mati lagi.
Matt dan Mello tidaklah terlalu bodoh dan cukup gila untuk menyebrang ke sana. Tunggu, bukannya tujuan mereka adalah daerah terlarang? Mereka tadi mengatakan tujuannya, kan? Tidak. Mereka akan menuju tebing yang ada di sebelah barat yang mengellingi dan mengurung kota ini, hanya saja tebing itu tidak boleh tebing sembarangan dan harus tebing yang berada di dekat mulut daerah terlarang dari kota.
Mereka kemudian berjalan menuju arah barat dan menatap tebing tanah yang berukuran sangat besar tidak terukur tingginya dan juga sangat kokoh. Buatan alam yang sangat kokoh. Oh, jangan pakai istilah itu, mereka sama sekali tidak mengetahui istilah itu.
Sekilas tidak ada apa-apa dan mereka tampak bodoh dengan terus menatapi tebing itu, tapi sebetulnya mereka sedang mencari sesuatu.
"Akh ini dia!" seru Matt saat menemukan tali tambang yang warnanya seperti tebing itu sendiri berwarna coklat yang memang sengaja dikamuflase.
Mello berjalan menuju Matt dan segera mengambil ancang-ancang untuk deluan menaiki tali tambang itu dan lalu disusul oleh Matt.
Tempat yang akan mereka kunjungi itu berada cukup tinggi sehingga cukup aman hanya mereka yang mengetahuinya, tapi saking tingginya juga, mereka harus memiliki tenaga ekstra besar utnuk memanjatnya.
Akhirnya apa yang mereka tuju sudah mulai kelihatan, itu kelihatan seperti sebuah gua dari tanah yang mereka berdua namakan penambangan atas.
Mello meletakkan kedua tangannya pada pinggiran mulut gua itu dan mengangkat dirinya, meletakkan kaki kanannya di mulut gua, disusul dengan kaki kanannya lalu segera masuk ke dalam. Matt melakukan hal yang sama.
Mello berhenti saat sudah berjalan 3 langkah dari mulut gua. Kini Matt yang berjalan lebih dan berada di depan Mello untuk mencari sesuatu, tas ransel yang sengaja ditinggalnya di sini.
Matt mulai mengacak-ngacak isi tasnya mencari sesuatu. Dia mengeluarkannya dan meletakkannya di tanah lalu kembali mencari sesuatu. Benda yang diletakkannya di tanah itu berwarna putih dan benda yang sekarang berada di tangannya berupa sebuah kotak. Bagian pantatnya didorongnya dengan jari jempolnya, isi dari kotak itu terdorong dan Matt mengambil sebatang kayu dengan ujung yang sedikit lebih besar berwarna hitam. Matt kembali memasukkan isi itu sejajar. Batang kayu kecil yang dipegangnya, digesekkannya pada sisi kanan kotak itu dan lalu api tiba-tiba saja menyala, Matt mengarahkan api itu ke benda putih yang ada di tanah.
Kedua benda itu mungkin bisa kita sebut lilin dan juga korek api. Tapi mereka sama sekali tidak tahu nama akan benda itu, bahkan fungsinya sampai mereka melakukan beberapa kali percobaan. Lilin mereka namakan lampu berjalan, dan korek apinya pembangkit lampu berjalan.
Matt mengandeng ranselnya dan Mello memegang lampu berjalan itu. Mereka berdua masuk lebih dalam untuk bertemu dengan percobaan mereka.
Mello meletakkan lampu berjalan itu pada penyangga yang memang sudah ada di sana, di depan mereka walaupuan terlihat agak samar, ada banyak kotak-kota kardus yang berserakan dan tak jauh dari sana ada lempeng besi berkarat yang berbentuk lingkaran terletak di salah satu dinding gua bagian kiri. Di depan mereka kini terbentang jalan menuju ke kanan dan juga ke kiri.
"Aku ke kiri," ucap Mello.
"Kalau begitu aku ke kanan," ucap Matt.
Mereka berjalan menuju ke kardus-kardus berantakan itu terlebih dahulu, mengacak-ngacak isinya dan lalu menemukan beberapa lampu berjalan lainnya. Mereka menyalakannya dengan menggunakan api dari lampu berjalan yang ada di peyangga. Kemudian mereka berjalan terpisah menuju tujuannya masing-masing.
Memilih-memilih. Akh, mari kita mulai dengan yang pertama kali berucap saja tadi.
Mello kini berjalan dengan lampu berjalan di tangan kanannya dan juga ransel dipundak kirinya. Dia berhenti pada ketika jalan itu sudah menunjukkan ujungnya, jalan itu sudah buntu.
Mello melakukan hal yang sama dengan sebelumnya, meletakkan lampu berjalan itu pada menyangka yang ada. Dia lalu meletakkan ranselnya di tanah, dan mulai mengambil sesuatu yang bernama sekop.
Dia menamcapkannya pada sisi kanan dinding jalan gua itu, dan membuatnya miring lalu menariknya membuat tanah itu terangkat dengan sekop tersebut. Dia melemparkan tanah itu pada sembarangan tempat.
Mello terus melakukannya sampai dia sudah mulai bosan melakukannya dan melihat benda-benda yang tiba-tiba muncul berdempetan dengan tanah yang diangkatnya itu.
Dari buku yang mereka temukan, nenek moyang mereka memanggil benda itu dengan sebutan sekrup lalu berbagai macam benda lainnya lagi seperti benda yang digunakannya untuk mencari benda sekrup itu, sekop miliknya yang ditemukan di gudang tua yang mereka sabotase karena aksi jahil dan bosan.
Anak berambut pirang itu berhenti saat sekopnya menyentuh sesuatu yang sangat keras dan tidak bisa terangkat dan bahkan menimbulkan bunyi klang saat kepala sekop itu menyentuhnya. Anak itu, melepaskan sekopnya. Dia mulai menggunakan tangannya untuk menyelusuri apa yang mungkin ada di balik tanah itu. tangannya tergoyang ke kanan dan kekiri seperti menyapu debu. Dia perlahan terbatuk saat tanah itu bergabung dengan udara dan membuantya sesak. Dia berhenti sejenak dan kembali melanjutkan aksinya.
Mata mello tidak bisa berkedip ketika dia melihat sedikit sesuatu dari benda itu. warnanya berwarna biru abu-abu mengkilat, ada beberapa baut-baut sekrup yang tertancap di sana. Mello mengetuknya dan benda itu berbunyi klang. Benda itu terbuat dari besi, tapi bahkan Mello sudah lama sekali tidak menemukannya setelah menemukan besi berkarat yang mereka susun menjadi lingkaran sebagai bahan kesperimen mereka. Tapi Mello berani bertaruh sesuatu itu bahkan sangat berbeda dari besi berkarat yang bisa mereka ambil. Benda yang ada di depannya ini berukuran lebih besar dan seperti betul-betul tertancap pada dinding-dinding tanah di sana.
Mello kembali meraih sekop yang tergeletak di tanah. Kini dia menggunakan metode lain pada sekop itu. dia mengarahkannya bukan ke arah depan melainkan ke arah samping. Dia mulai mengikis tembok tanah yang tidak terlalu tebal itu. perlahan sesuatu itu mulai menujukkan semua wujudnya.
Sebuah pintu! Dan jangan lupa ada kotak aneh di sampingnya dengan berbagai tombol-tombol kecil yang entah apa. Semua ini membuat dahi anak itu sangat berkerut.
"Penemuan langkah. Tapi rasanya kenapa seperti sudah direncanakan oleh seseorang?" tanya Mello entah pada siapa.
"Kau mendapatkan hal yang sama,ya? Aku juga mendapatkannya di jalan sebelah kanan," ucap seseorang dari belakang, Matt rupanya.
"Ini aneh. Kita bahkan sudah melakukan penggalian selama setahun baik di sini maupun di bawah, tapi tidak pernah menemukan sesuatu seperti ini," ucap Mello.
"Kau benar. Menurutmu apa yang ada di balik pintu besi itu? atau setidaknya, bagaimana caranya kita membuka pintu itu?" tanya Matt.
Mello hendak menjawab jika saja sebuah guncangan tiba-tiba entah darimana mengangetkan mereka. Lampu berjalan mereka yang ada di peyangga jatuh dan padam, betul-betul gelap.
"Aku jadi tahu bagaimana rasanya ketika berada di jalan saat pemandam lampu," ucap Matt.
"Benar-benar kegelapan yang mematikan dan aku tidak ingin merasakannya lagi. Kau dengar? Aku mengatakan tidak ingin merasakannya lagi jadi cepat cari cara agar lampu itu kembali menyala!" seru Mello.
Matt segera menjokkan diri, merayap dan mencari-cari lampu berjalan yang jatuh itu. dia berwajah senang walaupun tidak kelihatan saat mendapatkannya. Dia meletakkan di daerah lingkup dekat dengannya dan kembali meraih kotak yang berisikan pembangkit lampu berjalan itu.
Api mulai menyala dan Mello langsung tahu bahwa Matt sudah mendapatkan lampu yang jatuh itu. Matt mulai mengarahkannya pada lampu yang ada di tanah.
"Sebaiknya kita segera keluar dari sini. mungkin saja akan terjadi gempa runtun yang bisa membuat kita terjebak di sini karena langit-langitnya amblas," ucap Matt. Mello mengangguk setuju.
Mereka berdua mulai menenteng ransel mereka dan keluar dari sana. Matt mulai deluan turun dengan menggunakan tali tambang itu dan lalu disusul oleh Mello.
Seperti dugaan Matt, gempa kembali lagi terjadi, ini gempa beruntun yang sangat berbahaya apalagi keadaan mereka sekarang sedang bergelantung di tali. Bisa saja puncak kubah ruangan bawah tanah tempat kota mereka ada amblas dan mengenai mereka. Mereka bisa mati langsung.
Keduanya berpegangan dengan sangat erat pada tali itu dan berharap amblasnya puncak kubah bawah tanah tidak akan amblas, bukan hanya mereka yang akan mati, kota akan porak-poranda, orang lain mati dan kekacauan luar biasa melebihi ketika telinga masyarakat dihebohkan oleh persedian makanan yang nyaris habis.
Entah kenapa, kedua mata mereka mengarah pada daerah terlarang yang sangat gelap itu. keduanya terkaget dan nyaris tidak percaya ketika ada cahaya yang tiba-tiba saja muncul. Cahaya itu sangat aneh dan tidak pernah dilihat oleh Matt maupun Mello.
Cahaya itu berwatna putih bersih, sangat berbeda dengan kuning remang-remang yang membuat mata perih dan juga perlahan bisa rusak. Cahaya itu samakin lama semakin terang dan mereka dapat melihat sesuatu saat cahaya itu padam.
Dua orang dari daerah terlarang tiba-tiba saja muncul dan berjalan menuju mulut kota! Mereka orang gila yang mencoba melarikan diri itu? Mustahil! Bahkan tidak ada seorangpun yang pernah selamat dari sana! Tidak seorangpun! Apalagi dengan cahaya yang menurut mereka merupakan teknologi tinggi.
Tidak ada seorangpun yang bahkan sepandai mereka jika mereka berani bertaruh. Bahkan orang-orang dikelistrikan, saluran air dan yang lainnya. Tidak ada seorangpun yang pernah bisa menciptkan bahan elektronik selain mereka dan sepengetahuan mereka.
Peralatan kelistrikan yang ada di bangunan pembangkit listrik dan saluran air bawah tanah sudah ada dari sananya dan semuanya percaya itu adalah buatan para pembangun kota itu yang memang sudah sengaja menyediakan alat itu. yang mereka bisa lakukan hanya bisa menggunakannya dan juga menjaganya untuk tidak rusak. Mereka akan mulai melakukan perawatan seperti memberikan cairan yang bahkan mereka tidak tahu namanya sama sekali. Mereka hanya tahu gunanya karena itulah yang dikatakan oleh para pekerja sebelumnya pada pekerja yang barunya.
Yang mereka lakukannya hanya menggunakan dan juga merawat. Jika pembangkit listrik dan pengelola listrik itu rusak, mereka sudah tidak tahu akan bagaimana. Mereka sama sekali tidak tahu bagaimana cara diciptkananya benda itu. mereka hany terima beres saja intinya.
Tidak ada seorangpun yang tahu tentang teknologi yang ada, bagaimana cara mereka dibuat, terbuat, dirangkai dan bisa berfungsi sedemikian rupa.
Lalu siapa para pendatang aneh itu?
TBC
A/N: Mind to review, give an advise, a critic, or even a flame?
