Tangan itu begitu kurus di genggaman Shoyo. Lemah dan tak ada tenaganya. Tubuh ringkih itu menurut saja saat si jingga membaringkannya, mengubah posisinya menghadap ke sisi lain untuk dilap Shoyo punggung kurus kering ibunya dengan lembut. Didapati Shoyo rambut perak ibunya yang dulu begitu segar dan bercahaya kini rontok lemah dan menempel di sarung bantal yang ditidurinya. Dibersihkan si jingga rambut-rambut itu setelah dikeringkannya kulit-kulit keriput sang ibu.
Sudah lima bulan Shoyo telaten melakukan itu. Membiarkan ibunya di rumah sakit takkan berarti apa-apa selain semakin habis uang tabungan kedua orang tuanya. Jadi lima bulan lalu diputuskan si jingga untuk membawa pulang ibunya, Sawamura Koshi, dan dirawatnya sendiri meskipun ia sendiri mempersiapkan diri pada ujian sekolah yang sudah membayangi.
"Mama." Disisiri Shoyo rambut perak ibunya yang meskipun kini melayu namun tetap indah di mata cokelatnya, "Besok ada pertemuan orang tua di sekolah."
Tak ada jawaban. Sama seperti lima bulan terakhir ini. Shoyo hanya berbicara sendiri seementara ibunya takkan mengerti apa yang ia katakan. Senyuman si jingga tipis dan dia tetap menyisir rambut ibunya dengan lembut, "Guru Shoyo sudah mengerti keadaan Shoyo, jadi dia tak memaksakan Mama datang ke sekolah."
Lagi-lagi sunyi.
Tetap Shoyo pertahankan senyumannya sementara mata cokelat ibunya memelototi wajah si jingga. Bibir si perak tipis dan pecah-pecah. Kali itu membuka menutup seperti mulut ikan, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Shoyo tertawa pelan dan setelah itu makin digigitinya bibir bawahnya. Tangannya berhenti menyisiri rambut ibunya dan kini terdiam, memegang ubun-ubun sang ibu, "Mama tidak perlu khawatir. Shoyo baik-baik saja."
Tangan pemuda itu turun, mengambil ember di bawah kursinya dan membawa baju kotor ibunya beserta seluruh peralatan mandi itu keluar. Selama berjalan, Shoyo hanya menunduk, menatap lurus lantai yang tepat berada di bawah kakinya. Langkahnya cepat-cepat menuju kamar mandi. Ditutupnya pintunya dan ia terjatuh dalam seketika. Jari-jarinya mencengkeram lantai dengan penuh kesedihan. Tangisnya lepas meski sunyi. Kepalanya sakit secara tiba-tiba dan dadanya bergemuruh.
Rahang Shoyo ia rapatkan agar gejolak di dadanya yang menyakitkan tidak pecah menjadi jeritan dan mungkin saja didengar ibunya di kamar sana. Dinyalakan si jingga air pancuran yang langsung membasahi tubuhnya, mendinginkan kepala panasnya, dan mengaburkan air tangisnya.
"Mama."
-disambung di chapter selanjutnya besok
