Disclaimer: Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya
Genre: Romance, Spiritual, a bit of Humour
Warnings: Shounen-ai/YAOI, AU, rating T+ (?), gaje, human names used, slight languages, yandere!US, center-uke!UK, perverted!Prussia (ghost!Pruss) , kemungkinan ada sedikit OOC, don't like, don't read!
Pairing(s): US x UK x Prussia (main), bit of AmePrus/PrusAme, minor (or mention(s) of) GerIta-Spamano-Sufin-AusHun.
By Mint or Quincy Peppermint
Notes: Good day everyone! Saya memutuskan untuk lanjut! Maaf lama update, saat ini skolah lagi hebohnya penjurusan buat kelas 11 nanti… (saya aja masih bingung mau masuk IPA/IPS) -plak
Disinilah ending dari ending seluruh seri The Anathema of Love beserta sekuelnya; Dispossess Arthur!. Dimana akan jelas ntar ujung2nya Artie sama siapa. Tapi jangan bunuh saia kalo tidak sesuai dengan harapan minna-san sekaliaan! *bletak*
Don't forget to review…! #maksa *dibacok* XD
Okelah, please enjoy yourself. Hope you like it =D
.
Dispossess Arthur!
Chapter 2
Siang itu cuaca sangat cerah, memang setiap hari hampir selalu cerah di kota itu. Tapi, secerah-cerahnya cuaca di hari itu, tetap saja jiwa dan raga Arthur serasa di medan perang. Berkecamuk. Ingin mati saja rasanya dia.
"Sir…Sir Kirkland! SIR! WOOY! SADAR DA-ZE!" panggil Im Yong Soo dari tingkat halus hingga tingkat preman kepada guru Bahasa Inggrisnya yang sejak dari 4 jam lalu itu hanya bengong membelakangi murid-muridnya, menatap papan tulis.
Ia bukan sedang bengong, sedang meratapi nasib tepatnya. Kemarin tiba-tiba saja ia kedatangan tamu super spesial dari alam gaib, yaitu Gilbert.
Lalu hantu sarap itu berusaha me-raep dirinya sepenuh hati, jiwa dan raga.
Belum lagi Alfred yang tak jemu-jemu berantem tiap kali bertemu Gilbert versi makhluk halus.
Sudah begitu kemarin malam pertandingan Gilbert VS Alfred, Ivan, Natalia berlangsung heboh dan porak-poranda sehingga otomatis membuat dekor kamar Arthur menjadi bertema kapal pecah.
Dan siapa yang merapikan semua kerusuhan itu?
Tentu saja Arthur Kirkland, sang pemilik kamar yang malang.
Kemarin, pertandingan berujung seri karena Ivan dan Natalia yang frustasi sendiri gara-gara Gilbert yang tidak kunjung koit meski sudah dikemplang pipa dan dibacok berulang kali (ya namanya juga hantu), jadi kedua pembunuh berdarah dingin itu ninggalin Gilbert yang cuma penyok tanpa berdarah sedikitpun dan Alfred yang sekarat gara-gara kena bacokan nyasar dari Natalia yang membabi-buta make golok.
Oke, kira-kira seperti itulah deskripsi tidak lengkap penderitaan Arthur. Bayangkan, selelah apa jiwa dan raganya setelah kejadian maut kemarin? Belum lagi sekarang ia sudah harus mengajar (kemarin malam ia begadang kerja bakti sendirian merapikan kamarnya yang sekaligus merangkap sebagai lokasi perang).
…
"Ini si jerk Sir. Arthur kenapa sih! Ga niat ngajar ya!" sindir Peter keras-keras supaya Arthur bisa mendengarnya.
"…"
Australia yang kelewat jengkel melempar buku teknik elektromagnetika hard-cover seberat 18kg (?) milik Eduard ke arah kepala gurunya. Sungguh contoh murid teladan
BRAAAK!
"…"
Tetap tidak ada respon dari sang guru yang senantiasa mematung (meski kepalanya bocor berkat buah tangan dari Australia) bak tak bernyawa di depan kelas.
Murid-murid sekelasnya ricuh (minus Hongkong dan Iceland yang stay cool seperti biasa) gara-gara gurunya yang masuk kelas seakan hanya setor muka doang. Dan sekarang tengah mengganggu pemandangan di depan kelas. Hanya raganya saja, sedangkan nyawanya masih beterbangan tidak jelas.
Sudah seharian itu Arthur tidak berpapasan dengan pengacau dan pembuat rusuh itu, yaitu Alfred maupun hantu Gilbert. Harinya jadi terasa amat damai. Tentram sekali tanpa ada gangguan dari siapapun.
'Hari yang indah.'
Begitu pikirnya.
Thur, Thur, sayang sekali, kamu salah besar.
Pukul enam sore, Arthur buru-buru meningalkan ruang guru dan keluar gerbang sekolah. Hari ini dia pulang telat akibat dirinya nyaris dipecat kepala sekolah Oxenstierna karena dianggap tidak becus mengajar murid-murid saat pelajaran siang tadi.
Sesaat setelah ia menginjakkan kaki keluar gerbang, Arthur menoleh ke samping, yaitu ke arah gereja (tepat bersebelahan dengan sekolah itu) karena ada suara-suara ricuh yang tidak pada tempatnya.
"…Ada apa sih kok sepertinya ribut sekali di gereja itu…" gumam Arthur keheranan. Didorong oleh rasa penasaran, ia melangkah menuju pintu masuk gereja dan perlahan melongok kedalamnya.
'Ramai sekali, ada acara apa ya?' batinnya saat melihat bahwa hampir seluruh penduduk kota (semua berpakaian formal bak kondangan) yang memenuhi bangunan itu.
"NAH! ITU DIA DATANG! VE~" seru Feliciano semangat sambil menunjuk Arthur setelah melihat Arthur yang nongol di balik pintu. Serempak, semua orang langsung menoleh ke arah yang Feliciano tunjuk.
Hah?
"YAAY ARTHUR KIRKLAND SUDAH DATANG! MARI KITA MULAI UPACARANYA!" teriak seluruh orang disana bergemuruh. Tiba-tiba, Francis dan Antonio menghampiri Arthur dan langsung menyeret lelaki cengo itu ke depan.
"Tu—tunggu! Upacara apa yang kalian maksud?" jerit Arthur panik. Masuk-masuk sudah langsung diseret ke depan. Francis dan Antonio (yang sibuk menyeretnya) terbahak, "Upacara pernikahan Gilbert Beilschmidt dan Arthur Kirkland!" seru mereka berdua berbarengan.
WHAT THE BLOODY HELL?
Kedua algojo itu berhenti menyeretnya ketika sampai di depan mimbar, kemudian mendorong Arthur untuk semakin maju ke tengah-tengah.
"!" Ia terkejut mendapati Gilbert yang sudah berdiri di samping mimbar, menggunakan jas hitam resmi (keren lah pokoknya).
"Hai Artie!" tuturnya sambil menyeringai dan mengibaskan rambut indahnya yang berwarna putih-keperakan.
"!" Arthur double shock ketika menemukan bahwa ternyata ia sendiri pun tengah memakai jas putih resmi. Padahal seingatnya, ia masih memakai atasan kemeja putih polos dan dasi abu-abu.
"ARTIIIIEE! TOLONG AKUUUU!" teriak Alfred dari suatu tempat, kedengarannya sedang dalam masalah.
"A-Alfred?" tukas Arthur dengan celingukan mencari sosok itu, lalu menoleh ke samping kiri.
Dilihatnya Roderich sedang asyik bermain piano melantunkan lagu pernikahan—bukan! Bukan itu yang ingin ia cari! Di sebelah piano itu, ia lihat Alfred yang tak berdaya di dalam sebuah kurungan besi ekstra besar bak di bonbin, pemuda itu diborgol dan diikat simpul mati.
Lelaki berkacamata itu berteriak-teriak histeris memanggil nama Arthur.
Di samping kiri dan kanan kurungan itu, berdiri Elizaveta yang memakai baju militer dengan bersenjatakan frying pan-nya, tak lupa membawa serta kamera polaroidnya. Dan ada Kiku yang menggotong borgol dan kamera rekorder canggih di tangannya.
Kedua fujodanshi tingkat tinggi itu birahi akan menyaksikan upacara pernikahan yaoi sakral itu. Tampaknya mereka berdua yang sengaja mengamankan Alfred agar upacara itu bisa berjalan dengan lancar.
Arthur sweatdropped.
.
"Langsung saja. Silakan kedua mempelai, ucapkan sumpah abadimu, mulai dari Arthur Kirkland." ujar sang pendeta Ludwig tegas. Sepertinya profesi ini benar-benar kurang cocok untuknya.
"A-apa-apaan sih!" sela Arthur, berusaha keluar gedung, namun dihalang-halangi oleh semuanya. Bahkan seluruh muridnya juga datang sambil menyiuli sekaligus menyorakinya.
"Ciiee… ! Kawin nih! Suit suit~" ledek murid-muridnya serempak, sehingga sangat menggelitik jiwa pembunuhnya.
"Selamat ya, Arthur-san! Semoga bahagia!" timpal Tino senang, tapi pasangannya, si Berwald hanya diam saja. Pasangan Antonio dan Lovino juga menyelamati mereka.
"Hei! Ayo Artie! Ucapkan sumpahmu yang awesome itu!" kata Gilbert riang sambil merangkul pundak Arthur.
"AAAA! ARTHUUUURR! NOOOOO!" jerit Alfred meraung-raung. Tidak mau melihat uke-nya kawin dengan orang lain di depan matanya. Tapi akhir-akhirnya, pemuda hiperbola itu dibungkam dengan satu getokan sadis panci Elizaveta.
Duuh, bagaimana ini…
Arthur hanya diam tak bersuara di tengah-tengah keributan massa yang menyorakinya.
Gilbert masih mendesaknya untuk mengucapkan "I do,", Ludwig facepalm nunggu Arthur ngomong, Feliciano cuma ber-Ve! Ve!-ria, Alfred tetap jejeritan autis dalem kurungannya, Elizaveta dan Kiku senantiasa stand-by dengan kamera masing-masing (siap ngerekam peristiwa berharga itu).
"…Aku…" tukas Arthur pelan. Semua yang ada di tempat itu berhenti bersuara, hendak mendengarkan kalimat Arthur dengan seksama (kecuali Alfred yang ngegigitin kukunya dan jeruji besi kurungan gara-gara efek grogi).
"Aku…" ujarnya lagi.
'YA? YA? YA?' batin Gilbert, Ludwig, Feliciano, Elizaveta, Kiku, dan semua tamu. Antusias akan pernyataannya.
"Aku…"
"…" buruan ngomong!
Semuanya (minus Alfred), menanti kalimat sumpahnya dengan tak sabaran. Namun, sayangnya Arthur hanya diam seribu bahasa. Tidak kunjung bicara. Sampai makan waktu yang lamaaaa sekali.
…
Lima jam berlalu.
Pukul 12 malam. Suasana di upacara sakral itu masih sesunyi kuburan, tetap setia menunggu ucapannya yang gak cepat-cepat diomongin.
…
Sepuluh jam berlalu.
… Masih belum juga. Terlalu lama ini. Keterlaluan!
Matahari sudah mulai terbit lagi (sudah kembali pagi). Cahayanya masuk melalui jendela-jendela kaca mosaik gereja.
…
"AAAAAHH! TIDAAAAKK!" teriak Gilbert heboh. Ia memegangi kepalanya, lalu mendadak tubuhnya menjadi transparan. Kakinya tidak lagi menyentuh tanah.
! ! !
"HAAAAH! HANTUUUU!" jerit para penduduk yang ketakutan setelah melihat ternyata Gilbert adalah makhluk halus, semuanya lari keluar terbirit-birit.
Ketahuan deh kalo dia itu cuma hantu.
Yang tersisa hanya Arthur, hantu Gilbert, Alfred, Ludwig, Feliciano (itupun bersembunyi dibalik tubuh Ludwig), dan Elizaveta-Kiku yang ber-CIH!-ria karena gagal mengabadikan momen yaoi itu.
"V—ve! Jadi kamu itu sebenarnya hantu..?" tanya Feliciano pada Gilbert dengan tubuh gemetaran.
Gilbert melayang ke dekat kurungan Alfred, "Yah, begitulah. Coba saja tadi Arthur sudah bersumpah sebelum kekuatan awesome-ku hilang dan kembali menjadi hantu lemah!" ujarnya gusar.
Ludwig facepalm, "Maaf, tapi kami tidak bisa membiarkan pernikahan antara manusia dan hantu!" ucapnya tegas, tambah jengkel karena sia-sia saja menunggu lama salah seorang mempelai untuk mengucapkan sumpah, padahal ujung-ujungnya gak jadi.
"Huh! Kau beruntung kali ini, bocah burger yang sama sekali GAK AWESOME!" tutur Gilbert kesal pada Alfred yang kini berpesta pora ria sendirian dalam kurungan itu, ia senang sekali mengetahui bahwa Arthur tidak jadi kawin.
"…" Arthur memijat dahinya yang nyut-nyutan sekaligus kepalanya yang migrain… efek STRESS
Hari itu Arthur minta ijin tidak mengajar di kelas. Terlalu banyak kegilaan yang menimpa dirinya.
.
.
Keesokan harinya, siang ini cuaca tetap cerah seperti biasa. Tapi sebelumnya, silakan tebak bagaimana suasana di hati Arthur sekarang.
Makin jelek saja
Wajahnya pucat seakan tengah diikuti hantu (memang sih), tapi ia malah makin tambah stress dikarenakan kejadian kawin kemarin lusa, belum lagi ditambah kejadian kemarin malam.
*** FLASHBACK: ***
Di saat Arthur sudah hampir kembali tentram setelah mengambil cuti satu hari mengajar, masalah kembali datang menerpa hidupnya (?).
Malam itu, ia sedang duduk menikmati teh di kamarnya saat ia mendengar suara pintu kayunya diketuk. Ia beranjak berdiri lalu membukanya.
"Alfred? Ada apa malam-malam begini?" tanya Arthur keheranan saat melihat lelaki berkacamata itu berdiri di ambang pintu kamarnya sambil membawa bawang putih sekarung, salib, rosario, tasbih, jimat, garam pengusir setan, air suci, patung miniatur dewa-dewa, dupa, kedelai, dan lain-lain, pokoknya segala benda religius lainnya.
Alfred tidak menjawab, ia langsung melangkah masuk ke kamar, lalu menyebarkan semua benda-benda itu tanpa pengecualian di seluruh sudut kamar Arthur.
Arthur cengo.
"H-hey git! Kamu ngapain sih letakkin barang-barang itu dikamarku?" seru Arthur berusaha menghentikan Alfred.
"Ini supaya hantu albino itu tidak mengganggumu lagi, tahu!" kata Alfred dengan gaya sok-sok hero.
Ia tertegun, "…Oke, terserah. Toh hari ini Gilbert tidak datang ke sini kok," jawab Arthur. Merasa senang juga dikhawatirkan Alfred.
"Hahaha! Tenang saja, semua pasti beres olehku, sang HERO!" ujarnya narsis, membuat wajah lelaki bermata hijau itu merona merah.
"…Arthur, ada satu hal lagi yang HARUS kita lakukan," tutur Alfred dengan senyum inosen-nya.
Apa itu? Kok firasatku jelek ya?
Tiba-tiba, pemuda bermata biru itu menghampiri dirinya, kemudian mendorongnya sehingga jatuh telentang di karpet.
"! Alfred you git! Mau apa kau?" gertak Arthur kaget.
Tanpa ada suara jawaban dari pertanyaan itu, Alfred melempar jaketnya, lalu tangannya bergerak membuka sweater hijau Arthur yang berada dibawahnya dan ia membuka kancing bajunya dengan jarinya yang cekatan.
"H-HAH! JANGAN!" teriak Arthur panik begitu menyadari Alfred yang mendadak berusaha me-raepnya.
"-Aaah!"
…
*** OKE, END OF FLASHBACK (karena bila diteruskan, spontan fic ini akan berevolusi rating menjadi rated-M) ***
Jadilah hari ini badannya sukses sakit dan pegal semua akibat diperkaos Alfred, serta mentalnya yang rusak karena sudah dua kali berturut-turut 'diserang' oleh dua orang itu (Gilbert, lalu Alfred).
Arthur membanting kepalanya berulang kali ke meja guru akibat stress dan depresi akut yang berkepanjangan.
"Artie~!" panggil Alfred riang, ia menyembul dari balik pintu ruang guru.
Ia berhenti menjedotkan kepalanya ke meja lalu berpaling ke arah suara yang memanggilnya. "Alfred…" gumamnya, masih agak trauma dengan kejadian me-raep dan di-raep kemarin.
"Arthur, ayo kita makan bekal siang ini di taman! Cuacanya lagi cerah nih~" ujar Alfred sambil cengengesan menatap mata hijau jernihnya.
'Sepertinya ia sudah kembali normal… Berarti mungkin kemarin ia hanya mabok?' batin Arthur, merasa lega. Kemudian ia mengangguk sebagai tanda setuju atas ajakan Alfred.
"Haaah! Cuacanya menyenangkan ya! Ya kan, Arthur?" tanya Alfred dengan senyum trade-marknya.
Ia tersipu memandang Alfred yang duduk di sebelahnya. "Alfred, tadi kau kan sudah menanyaiku dengan pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, apa perlu untuk kujawab yang ke-enam kalinya?" ucap Arthur sok jutek (padahal sebenernya gak keberatan, seneng malah).
"Bercanda kok…!" Alfred tertawa terbahak-bahak sambil menyantap monster double burgernya napsu. "munch- Kau bawa bekal apa, Artie-munch?" lanjutnya gajelas kumur-kumur.
"Ah, hanya beberapa scones buatanku," sahutnya sambil menyodorkan sekotak scones-nya (tapi lebih mirip gumpalan hitam batu arang) ke arah Alfred. "Kau mau?" tawar Arthur pada lelaki maruk burger itu.
"Mau~ Hanya aku yang mau makan semua masakan buatanmu ini~!" ujarnya riang, kemudian meraih satu scone gosong dengan tangan kirinya (tangan kanannya udah dipake buat pegang burger).
Mereka berdua kencan kecil-kecilan di sebuah taman terdekat. Keduanya duduk di sebuah bangku kayu panjang, hanya menyisakan sedikit jarak diantara mereka.
Arthur memandang air mancur yang ada di depannya sembari menggigit scone-nya. Taman itu kebetulan sedang sepi, berhubung hari masih belum sore. Angin semilir bertiup, serta hanya terdengar suara air mancur yang mengalir. Tenang sekali suasana siang itu.
Apalagi ada Alfred yang duduk di sebelahnya. Aih, senangnya Arthur.
"Arthur," panggil Alfred padanya, menyentuh telapak tangan lelaki bermata hijau itu sehingga membuatnya tersipu. Arthur menoleh ke samping dan mendapati wajah Alfred yang hanya berjarak 10 senti didepannya, hendak mencium bibirnya.
Arthur tersentak, wajahnya menjadi senada dengan warna merah. Perlahan, Arthur memejamkan matanya, lalu memiringkan kepalanya sambil terus merasakan nafas Alfred yang semakin dekat dengannya.
"…"
… Yak, terus…
'Eh? Kok gak kena-kena sih?'
Arthur membuka kedua matanya, namun ia tidak melihat Alfred yang semula berada dihadapannya. Ia keheranan, lalu menengok ke samping tubuhnya.
HAH?
Arthur syok habis-habisan, mendapati Alfred yang bukan sedang mencium dirinya, melainkan hantu Gilbert yang telah menggantikan posisinya untuk mencium Alfred.
"…"
"Eeerr… Alfred," panggil Arthur padanya. Memintanya untuk sadar akan siapa yang tengah diciumnya.
Lelaki bermata biru itu membuka kedua kelopak matanya. Menemukan seseorang yang agak transparan, berambut perak, dan bukan pirang, bermata merah, dan bukan hijau. Yang pasti bukan Arthur, tapi…
Gilbert.
"WTF!" seru Alfred toa sambil mencak-mencak gusar (tak lupa membuang ludah ke segala arah dan kumur-kumur berulang kali).
Gilbert terbahak gegulingan di udara (melayang tentunya), ngeliat Arthur yang sweatdropped dan Alfred yang muntah-muntah. Iseng dan kurang kerjaan banget sih dirimu.
"Ya ampuun… Kalian tuh kalau mau ciuman, bilang padaku yang awesome ini dong! Aku kan juga mau ikutan, biar tambah awesome!" katanya di sela-sela tawanya yang meledak-ledak.
"SIAPAPUN BOLEH LAH! ASAL BUKAN SAMA KAU!" teriak Alfred emosi, mengelap mulutnya dengan tissue beribu kali.
'…Ini sih, bisa-bisa malah mereka berdua yang jadian…' batin Arthur.
Sementara itu, di balik semak, Elizaveta dan Kiku tos-tosan karena abis dapet jepretan pairing ekstra langka baru. Udah gitu sesama seme lagi. Wow, mantap.
.
"Cuih, apaan sih kau, selalu saja mengacau!" gerutu Alfred. "Eh?" mendadak ia membuka ponselnya, lalu terdiam.
Arthur penasaran (atau kepo), mengapa lelaki berkacamata itu terdiam setelah melihat layar ponselnya. "Ada masalah apa, Alfred?" tanyanya.
Alfred menutup ponselnya dan menghela nafas panjang, "Arthur, maaf ya, aku harus pergi sekarang, si Vash udah ngamuk-ngamuk lagi tuh." jawabnya. Ya, rekan kerjanya yang sesama waiter di sebuah café itu sudah memaksanya buat balik kerja.
"Ya sudah. Aku pulang sendiri saja kalau begitu." sahut Arthur datar.
"Maaf ya, Artie sayang~" kata Alfred sambil mengelus rambut pirangnya, lalu ia beranjak keluar taman. Sebelumnya, ia mendelik, "HEH! Hantu sinting! Awas kalau kau berani macam-macam!" gertaknya pada Gilbert (yang baru saja akan berniat menggrepe Arthur, padahal ga bisa bener-bener nyentuh).
"Daaah Artie~!" teriak Alfred riang bak anak kecil dengan pose hero dan ber-kiss bye-ria pada Arthur. Kemudian berlari meninggalkan taman itu.
Ampun dah, sama Gilbert galaknya ga ketulungan, tapi giliran sama Arthur, dia manja banget.
Kini, hanya tinggal Arthur dan Gilbert berdua, yang berdiri di tengah-tengah taman.
.
"Arthur, mau kan diantar pulang olehku yang awesome?" tanyanya, memecah kesunyian sembari melayang ke hadapan Arthur.
Arthur tersenyum simpul, "Baiklah, ayo…" sahutnya lirih dengan disertai anggukan.
Gilbert tertawa kecil, entah kenapa ia jadi teringat kehidupannya saat masih hidup dengan Arthur dahulu. "Boleh aku bicara denganmu sebentar?" lanjutnya.
Lelaki bermata hijau itu mengangguk, "Ya, ayo kita ngobrol sambil jalan. Oh, sebaiknya kita mengambil rute jalan pulang yang lebih panjang," tuturnya, sama sekali tidak merasa keberatan atas permintaan si hantu.
Kedua orang yang sudah saling mengenal baik sejak bertahun-tahun lalu itu berjalan berdampingan menyusuri tepian sungai, memandangi kejernihan mata air dari sungai yang dalam.
Keduanya saling terdiam, tidak ada diantara mereka yang memulai pembicaraan. Hingga akhirnya Gilbert yang bersukarela untuk memecah keheningan yang kurang menyenangkan diantara mereka.
"Ngomong-ngomong Arthur, apa kau ingat seperti apa kehidupan kita dulu sewaktu masih di kota laknat itu?" tanya Gilbert padanya tanpa menghadap wajahnya.
Arthur tertegun, ia menoleh ke arah Gilbert transparan yang setengah melayang di sampingnya. "Tentu, aku ingat," jawabnya singkat, sedikit merasa tidak nyaman dengan topik pembicaraan itu.
"Ya, betapa merananya kita saat itu. Kurasa itu hanya mimpi buruk saja," sahut Gilbert sambil mengacak rambutnya dengan canggung, "Tapi untung saja sekarang hidupmu sudah menyenangkan di Hetali World Town ini." lanjutnya.
Sejenak, Arthur merasa dirinya kembali dihisap oleh ingatan masa lalu. Begitu segar mengalir di pikirannya, meski setahun telah berlalu. Ia bahkan sedikit melupakan kenyataan bahwa Gilbert telah meninggal dunia.
Melihat Arthur hanya terdiam, ia melayang ke depan wajahnya. "… Namun, apakah kau pernah tahu bahwa aku sekarang kesepian tanpamu?" tutur Gilbert dengan nada serius.
"Maaf Gilbert, aku tidak tahu." jawabnya lirih.
Ia mengalihkan pandangannya dari Arthur, "Bagaimana kalau… kau ikut denganku ke alam sana?" ujarnya.
Arthur tersentak kaget. Mengapa ia bicara begitu? "Maksudmu?" gumamnya, memandang lekat-lekat mata merah transparan yang jernih itu, tetapi kedua mata itu tidak balik menatapnya.
"Hey, kau masih mencintaiku seperti dulu kan? Ayo, kita pasti tentram di sana," ucap Gilbert, mata merahnya terlihat amat suram dan sedih.
"Tidak, Gilbert. Belum waktuku untuk mati," tukas Arthur.
Pemuda itu terhenyak, sedikit kecewa atas jawabannya. Gilbert tersenyum getir, "Baik, tapi kalau kau mau, aku bisa membantumu,"
Ia menjadi sedikit panik karena didesak oleh Gilbert, "A-aku tidak bisa… Kalau aku mati sekarang… Alfred…" desis Arthur sambil mengepalkan telapak tangannya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Gilbert terbelalak, hatinya terasa sangat sesak mendengar nama itu.
"Jadi kamu lebih mencintainya dibanding aku? Kau sudah lupa padaku?" seru Gilbert, ia tidak bisa menahan amarah dan kecemburuan dalam dirinya. Matanya melotot menatap mata hijau Arthur yang ketakutan.
"Bu-bukan begitu, Gilbert! Aku menyukaimu! Tapi, A-Alfred—" sahut Arthur tersendat-sendat. Mata hijaunya berkaca-kaca melihat Gilbert yang terlihat murka sekaligus kecewa.
Gilbert mendelik, "Hah, mentang-mentang kau sudah bertemu dengannya, kau malah melupakanku!" serunya kesal. Ia melayang secara kasar ke atas tengah sungai. "Aku kecewa padamu, Arthur." ujarnya geram, memandang Arthur yang berdiri gemetaran di tepi sungai.
Arthur kehilangan keseimbangan, ia berseru kepada Gilbert yang melayang diatas air.
"Gilbert! Dengar dulu! Kau salah paham! Aku—AAHH!"
!
"ARTHUR!"
Seketika, lelaki berambut pirang itu jatuh ke sungai, menyipratkan air ke segala arah. Arthur meronta-ronta di air sungai yang dalam. Sialnya, ia tidak dapat berenang. Hanya berharap seseorang menolongnya, lalu menariknya keluar dari air.
Atau tinggal menunggu hingga dirinya tercekat dan nafasnya habis.
Gilbert panik melihat Arthur yang sekarat dan nyaris tenggelam di dasar sungai di bawah tubuhnya yang melayang. Lebih buruknya lagi, tak ada yang menolongnya berhubung tidak ada seorangpun yang kebetulan melintas disana.
Gilbert berusaha sekuat tenaga meraih tangan Arthur yang beberapa kali muncul di permukaan air.
Tapi tetap saja, tangan hantunya tidak dapat menggenggam tubuh itu, terus saja menembus tangan Arthur.
Dia hanyalah arwah, tak lebih
"…!" Ia menjambak rambut peraknya frustasi. Menyesali dirinya yang cuma sebatas roh yang tidak berguna bagi orang yang dicintainya. Hanya bisa menyaksikan ia tenggelam dan menunggu hingga ajal menjemputnya.
"Arthur…"
.
Kalau Arthur mati disini sekarang, ia akan menjadi hantu, sama sepertiku.
Dan kami akan bersama selamanya.
Ya, meninggalkan semua gangguan dalam hidup ini.
.
Gilbert terus bergumul dalam pikirannya. Berusaha untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
.
Tapi… Apa sebaiknya ia kutolong?
Maka lebih baik bagi Arthur untuk terus hidup
Melanjutkan untuk jalani hari- harinya yang damai dengan penuh sukacita.
…
Ia tersenyum pahit, melihat sosok itu yang telah berhenti meronta di air. Lalu Ia tertawa pahit, sebelum berlalu pergi.
"Artie…"
…
.
.
Ia membuka mata hijaunya perlahan. Memandang lurus ke arah langit petang. Apa ia sudah mati? Pandangannya masih sedikit kabur, kemudian ia mendapati Alfred, Francis, dan beberapa penduduk mengerumuni dirinya yang terbaring lemas di rumput hijau. Mereka semua bersyukur setelah melihat Arthur siuman.
"Arthur!" kata Alfred dengan senyum lega, kemudian memeluknya dengan sedikit gemetar. "Kamu tidak hati-hati sih!" lanjut lelaki bermata biru itu. Arthur terbelalak saat tersadar bahwa tubuh Alfred basah oleh air, sama seperti dirinya.
"Mon cher, kamu itu nyaris mati loh kalau tidak ditolong oleh Alfred," tukas Francis sambil menepuk pundak Arthur yang basah dan dingin.
Kata-kata Francis membuatnya tersadar akan kejadian barusan. Arthur terlonjak kaget, kemudian mengangkat kepalanya.
"Gi-Gilbert! Dimana dia sekarang?" teriak Arthur panik memandang Alfred dan Francis yang kebingungan dibuatnya.
"Eh? Tidak tahu, yang pasti tadi dialah yang telah memanggilku untuk menolongmu yang hampir tenggelam," kata Alfred sambil menggeleng, "Tapi berkat dia juga sih nyawamu bisa terselamatkan!" tuturnya riang.
Jadi… Gilbert yang meminta pertolongan dari Alfred?
…
"Aku disini, Artie,"
Arthur terperanjat, menolehkan wajahnya ke asal suara. Di belakang Alfred, berdiri sesosok hantu Gilbert yang sudah tidak transparan, dengan wajahnya yang tersenyum tulus padanya.
"Gilbert!"
Ia cepat-cepat berdiri dan menghampiri Gilbert, "Gilbert! Aku—" ujar Arthur canggung, merasa tidak enak padanya. "Aku minta ma—"
"Maaf"
Eh?
Lelaki bermata merah itu tersenyum, "Aku yang harus minta maaf, Artie. Aku sempat egois menginginkanmu. Tapi…" ucapnya, mengambil jeda sedikit. Arthur masih menatapnya lekat-lekat, menunggu ia bicara.
"Aku tidak bisa melindungimu sepenuhnya karena aku telah mati… Maka…" lanjut Gilbert, mengalihkan pandangannya ke arah Alfred yang berdiri di belakang Arthur.
"Aku menyerahkanmu, merelakan dirimu pada si bocah burger sok hero itu, yaitu Alfred." ujarnya dengan tersenyum lebar pada Alfred. Lelaki berkacamata itu tertegun, lalu turut tersenyum padanya, "Terima kasih," sahutnya pelan.
"… Gilbert…" Arthur tersenyum lega. Senang ketika mendapati Gilbert dan Alfred yang telah berdamai.
"Waktu terus berlalu, hal yang sudah terjadi tidak dapat disesali. Aku telah mati, tetapi kau hidup, Arthur. Semoga kau berbahagia dengan Alfred disini, Artie, dibanding saat bersamaku," tutur Gilbert, kemudian ia menjentikkan jarinya.
Tiba-tiba, cahaya putih-kekuningan melingkupi Gilbert, sehingga pemuda itu terangkat ke udara. Arthur kaget, ia buru-buru menarik tangannya yang berada di udara, "Gilbert! Kau mau pergi?" serunya panik.
"Artie, waktuku tidak lama, dan disini bukanlah tempatku." jawab Gilbert sembari mengelus rambut pirang Arthur. Ia tersenyum jahil, lalu mendadak ia menarik wajah Arthur dan mencium bibirnya.
Spontan, Alfred yang melihatnya sangat syok. Sampai-sampai lensa kacamatanya retak, menyaksikan pacarnya berciuman dengan orang (hantu) lain, tepat di depan mata kepalanya sendiri. Ia facepalm.
"GI…L..B..ERT…." ujarnya dengan nada horor, memicingkan mata birunya.
Gilbert menarik dirinya dari Arthur, lalu tertawa melihatnya, "Haha, sudahlah, bocah burger tak awesome. Toh, ini terakhir kaliku bertemu dengan Artie~" sahutnya iseng.
Apa? Terakhir? Jangan-jangan…
Alfred menghela nafas, "… Huh, ya sudah…" katanya sambil tersenyum kecil.
Ia mengarahkan mata merahnya ke cahaya-cahaya yang tengah menyelubungi dirinya. Merasa sudah tiba saatnya, Gilbert menghadap ke arah Arthur.
"Selamat tinggal, aku mencintaimu, Artie.." bisiknya perlahan.
Arthur meneteskan butiran-butiran air mata bening di pipinya. Ia menghapusnya, lalu tersenyum, "Selamat tinggal Gilbert. Aku bahagia bertemu kembali denganmu," tuturnya dengan sedikit terisak.
Gilbert tertawa kecil, senyuman di wajahnya memudar berbarengan saat cahaya-cahaya itu mulai mengkabur. "Terima kasih…" katanya. Sosoknya semakin memudar, memudar, dan pada akhirnya hilang di kegelapan malam.
Ia menghilang tanpa bekas.
Arthur menengadah, memandangi langit malam cerah yang berhiaskan bintang. Ia tersenyum simpul, mengenang hari-harinya dulu saat ia masih bersama Gilbert. Tak terasa, ia menitikkan air mata.
"Hey, Arthur, ayo pulang, sudah malam nih!" tukas Alfred sambil menggenggam tangannya dan menariknya.
Ia tertegun, menatap kedua mata biru itu, lalu Arthur mengusap matanya dan tertawa, "Oke, mari pulang bersama, Alfred…"
Bayang-bayang masa lampau yang pahit telah berlalu
Dan itu tidak perlu kusimpan dalam diriku
Karena hari esok telah menantiku
Dan aku akan menyongsongnya dengan perasaan bahagia yang meluap-luap
Selamat tinggal Gilbert, aku berjanji akan menghargai hidupku ini
Perkenankanlah aku untuk mengucapkan 'selamat tinggal' yang kedua kalinya
Selamat tinggal
Ya, sampai bertemu kembali pada suatu saat nanti
Fin
OMAKE:
"Alfred, ada apa itu di kantongmu?" tanya Arthur, menunjuk ke saku jaket coklat yang ia kenakan. Ada secarik kertas putih yang menyembul.
Lelaki bermata biru itu mengerenyit, mengambil kertas itu, lalu membaca isinya. Sepertinya itu sebuah surat.
"Apa isi tulisannya?" tanya Arthur penasaran, mendekatkan diri ke Alfred sambil ikut membaca isi surat itu.
.
Dear bocah burger yang gak awesome,
Heh, sebenarnya aku masih bisa main-main ke sana lagi loh!
O iya, dan aku yang awesome ini punya ide cemerlang! Bagaimana kalau saat siang hari, Artie kuserahkan padamu, tapi saat malam, itu TUGASku untuk melakukan *piiip* atau *piiip* yang super awesome dengan Artie~
Ide yang awesome, bukan?
*PS: kau harus setuju!
From: The Awesome Gilbert Beilschmidt
.
"…"
"Eeehh… Alfred… Ini…" kata Arthur sambil sweatdropped untuk keseratus kalinya.
Ia meremas kertas itu hingga menjadi gumpalan kertas kusut. Aura hitam Alfred kembali berkobar di sekeliling tubuhnya.
"GILBEEEEERRRTT!"
.
Notes: Fyuuuuh! SELESAAAI! Seri The Anathema of Love dan Dispossess Arthur! udah tamat~ (kecuali ada tri-kuel nya #plak #ngasal)
Maaf banget buat yang ngarepin si Art jadinya sama Gilbert… Beginilah plot saya… :D
Saya ucapkan terima kasih banyak buat yang udah ngikutin dari seri Anathema sampe sini. Yang review apalagi~ Haduuh saia tak akan menulis fic2 tanpa bantuan anda sekalian! ^^
Sampai jumpa di fic selanjutnya :D
Balesan buat yang ga login:
(yang bales ini si Apple)
SugarLove: thx for the review. Salam kenal juga, ini apple . Sorry yahh ffnya mint emang gaje semua XD (termasuk yang masih di otak mint juga) .Francis emang jahat menularkan virus mesum ke Gilbert #dirajam. Arthur kan memang tsundere, luarnya aja sadis tp dalemnya histeris, sedangkan Alfred kadang bisa yandere #gubrak .Menurut apple Gilbert mahh selalu AWESOME hahhaah #gombal .oke oke setuju!, silahkan aja threesome, tapi Gilbert jgan lupakan apple~ #abaikan. Gpp aku jga seneng, soalnya aku jga bacot. (~apple~)
Pilongtan099711 males login: I luph u pull dahhh(alayy). Pastinya ide kereenn tapiii mintnya giiillllaaaaakkk (dia pasien RSJ #plak). Gpp kan jadi tambah soo sweet, diganggu gitu... Thx for the review =D (-Apple-)
Elena Carriedo: thhhx for the review . mint kan ga jelass jadi maklum aja, kalo kumat bahaya dia.#digamparr . authornya aja gaje jadi kita maklum. Arthur emang uke sejati yang emang imut sejagat raya (lebay amat si apple) menarik semua kaum(seme & uke). Gilbert emang AWESOME, favorit akuuu. Yahh kok UsUk sihh? #plak *mentang2 Otp aku Prusuk* . Arthur emang ditakdirkan menjadi yang di wc untung wcnya ga bau #sotoy . thx udah d fav :D (~apple~)
Anonim reader: thx for the review. Salahkan jiwa pelawak mint yang kumat#plak . mint belom lanjutin dah tepar duluan. Wow kalo kya gitu kasian Arthurnya . ~apple~
TachibanaHana: Thx for the review :D . emang emaknya minta digampar. Sekuelnya emang sengaja di buat kocak. Oww istrinya alpret(?). Hola! Aku istri Gilbert~ from: Beilschmidt (apple)
