Bagian kedua ini lebih panjang dari sebelumnya. Dan seharusnya lebih panjang lagi, tapi satu adegan saya pindah ke bagian terakhir saja. Biar adil panjangnya.. XD Ay, adegan yang kemarin aku bilang itu tak jadi dimasukin ke sini tak apa, ya? Gomen chapter ini abal n gak kerasa aura supernaturalnya… -_-a
Btw, gak punya ide buat nama kudanya Sasuke, jadi kunamai saja Susanoo.. XDD
Buat yang sudah mereview (mereview cerita ya, bukan nagih #plak! :p), makasih banyak.. *bowed*
Summary : Sasuke Uchiha tidak pernah takut pada apa pun kecuali satu hal yang pada akhirnya membuatnya salah melangkah, dan membawanya pada penyesalan tak berujung. "Jika cinta sejatimu melihatmu dalam sosok serigala, jiwamu akan terperangkap selamanya di dalam tubuh binatang itu." –SasuSaku, slight NejiSaku, NaruIno, KakaRin.
Rate : T – semi-M
Genre : Supernatural – Tragedy – Romance – lil bit Western
Warning : Sasuke as a werewolf, Alternate Universe, OOC.
.
.
CRIMSON FALLS
Naruto © Kishimoto Masashi
Fear Street Sagas © RL Stine
.
.
Bagian 2
.
.
"Tuan Sasuke!" Seorang pria berambut keperakan menyambutnya dengan ekspresi terkejut dan cemas di wajahnya ketika Sasuke muncul di pintu Uchiha Hallsiang itu. "Ya Tuhan … Saya baru saja akan menyuruh orang mencari Anda! Saya cemas sekali saat kuda Anda kembali ke istal tadi pagi tanpa Anda."
"Nanti saja bicaranya, Kakashi," Sasuke menggerutu lelah, "Dan jangan bertanya apa-apa." Ia kemudian melangkah masuk melewati sang butler yang tampak cemas. Kakinya yang tak beralas meninggalkan jejak lumpur di lantai pualam.
Kakashi menutup pintu ganda di belakangnya, kemudian bergegas menyusul majikannya yang sedang menaiki tangga menuju lantai atas. Mata kelabunya mengamati punggung Sang Tuan dengan penuh tanda tanya. Sejak semalam sikap Sasuke memang agak ganjil. Gelisah. Tanpa sedikit pun menyentuh makan malamnya, tahu-tahu tuannya pergi tanpa mengatakan apa-apa dan tidak kembali semalaman. Sampai pagi ini, kuda sang tuan kembali tanpa pemiliknya.
Kakashi tak bisa melupakan sikap kuda kesayangan sang tuan pagi itu ketika ia menemukannya di dekat istal. Gelisah dan gemetar. Ia berlarian dan menendang ke sana kemari seakan dirinya merasa terancam akan sesuatu. Dan butuh waktu sampai Kakashi berhasil menenangkan hewan itu. Kuda itu begitu ketakutan.
"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kakashi cemas.
"Sudah kubilang jangan tanya apa-apa!" bentak Sasuke, berbalik memelototi butler yang sudah bekerja pada keluarganya turun-temurun itu.
Kakashi berhenti di tengah tangga, terkejut. Sekilas tadi ia melihat mata majikannya berkilat merah, membuatnya bulu kuduknya meremang. "M—Maaf, Tuan." Ia menunduk. "Saya hanya mencemaskan keadaan Anda. Tuan Fugaku dan ayah saya mengamanatkan supaya saya menjaga Anda—"
"Hn," sela Sasuke tak sabar, kemudian berbalik menuju kamarnya. "Aku ingin istirahat. Jangan ganggu aku."
"Baik, Tuan."
"Tuan Sasuke sudah pulang, Kakashi?" tanya seorang wanita berambut cokelat digelung yang baru muncul dari arah dapur. Wanita itu mengenakan gaun berwarna biru tua, dengan celemek putih gading diikatkan di bagian pinggang gaunnya.
Kakashi mengalihkan pandangannya dari punggung Sasuke yang baru saja menghilang dan memandang istrinya, mengangguk muram. "Tuan sudah pulang."
"Ah, syukurlah …" Wanita itu menghela napas lega. Namun senyum di wajahnya langsung memudar begitu melihat ekspresi di wajah suaminya. "Ada apa, Kakashi? Apa terjadi sesuatu?"
Sejenak Kakashi tampak ragu, sebelum akhirnya berkata, "Ah, tidak ada apa-apa, Sayang. Sebaiknya kita siapkan air hangat dan makanan untuk Tuan. Mungkin saat bangun nanti dia akan membutuhkannya." Kakashi berjalan menuruni tangga dan menghampiri istrinya, tersenyum. "Sekarang kita biarkan saja Tuan beristirahat. Kelihatannya dia sangat lelah."
"Baiklah," wanita itu mengangguk. Mata cokelatnya mengerling noda di lantai. Keningnya berkerut. "Dan sepertinya kita juga harus membersihkan itu."
Kakashi mengikuti arah pandang istrinya, menghela napas. "Ya, kau benar, Rin. Itu juga."
.
.
Sasuke menanggalkan pakaiannya –tepatnya, kain yang tadinya pakaian—dan melemparnya asal saja ke sudut kamar mandi pribadinya. Dibasuhnya sisa kotoran yang masih melekat di tubuh dan rambutnya dengan air yang dingin. Segera saja bak yang tadinya berisi air bersih itu berubah keruh. Setelah bersih, luka-luka yang tadinya tertutup kotoran terlihat di beberapa bagian tubuhnya, terutama di kaki dan tangannya. Luka itu cukup dalam, tapi anehnya sama sekali tidak terasa sakit.
Nanti saja ia meminta Rin mengobatinya, pikir Sasuke. Sekarang ia masih terlalu lelah, dan otot-otot di sekujur tubuhnya sudah menjerit minta diistirahatkan.
Setelah mengenakan jubah kamar yang lebih bersih, Sasuke melangkah meninggalkan kamar mandi. Namun langkahnya mendadak terhenti begitu ia melewati sebuah cermin setinggi badan. Kepalanya menoleh cepat. Matanya terbelalak melihat bayangan dirinya sendiri dalam cermin.
Tidak. Tidak ada yang aneh di tubuhnya –tak ada bulu yang tumbuh atau cakar yang keluar seperti yang ia takutkan. Melainkan sebuah benda yang seharusnya tidak ada di sana. Seuntai kalung dengan tali yang terbuat dari kulit hewan melingkari lehernya. Tiga buah taring hewan tergantung di tali itu seperti liontin.
Taring serigala.
Sejak kapan kalung itu ada di sana?
.
.
Sasuke melewatkan hampir sepanjang hari tidur di ranjangnya yang nyaman. Ia merasa begitu lelah sampai-sampai tak punya tenaga sekedar untuk turun dan makan sesuatu. Namun anehnya ia sama sekali tidak merasa lapar, padahal seharian itu ia tidak makan apa pun. Setidaknya, bukan makanan manusia normal. Sasuke masih ingat bangkai rusa yang ditemukannya teronggok di dekat tubuhnya saat ia terbangun di hutan –pemandangan yang membuatnya mual setiap kali teringat, tetapi entah mengapa terasa memuaskan.
Baru tengah hari keesokan harinya Sasuke akhirnya benar-benar terjaga. Itu juga karena kedatangan Naruto yang tak sopan langsung masuk ke kamarnya.
"Bangun! Bangun! Dasar pemalas!" Naruto melangkah menuju jendela tinggi di dekat ranjang Sasuke, menarik tirainya membuka sehingga sinar matahari musim panas yang terik langsung memasuki kamar yang dingin itu.
Di ranjangnya, Sasuke mengerang memprotes. Ia menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.
Melihat itu, Naruto menghela napas keras-keras dan menarik selimut itu dari kepala sahabatnya. "Sampai kapan kau mau tidur terus, Sasuke? Kakashi bilang padaku kau tidak turun dari tempat tidurmu sejak kemarin."
Sasuke terpaksa membuka matanya. Ia memelototi Naruto yang menurutnya benar-benar mengganggu. "Pergi sana!"
"Yeah, benar," cemooh Naruto sambil memutar matanya. "Dan kau akan kembali menjadi pangeran tidur, eh, Sasuke?" Seulas seringai jahil menghiasi wajahnya. "Aku dengar Sakura Senjuu tidak menyukai pria pemalas. Tidak heran dia senang bergaul dengan Neji Hyuuga. Dia sangat giat menjalankan bisnisnya, kau tahu?"
Mendengar nama Sakura disebut membuat Sasuke tersadar sepenuhnya. Ia menarik dirinya bangun dari ranjang, mengambil jubah kamarnya dari tiang ranjang dan mengenakannya di atas pakaian tidurnya. Cengiran Naruto mengikutinya ketika Sasuke berjalan ke arah baskom air hangat di sudut kamarnya –yang sudah disediakan Kakashi untuknya—untuk cuci muka.
"Kau ini benar-benar …" Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya, sekali lagi menghela napas berat, "mendengar nama Sakura baru mau bergerak. Apa jadinya nanti jika dia sudah menikah dengan Hyuuga, eh? Kau mau mati?"
Gerakan Sasuke yang sedang mengeringkan wajahnya dengan handuk langsung terhenti. Ia menoleh pada Naruto dengan seringai tipis mengambang di bibirnya. "Dia tidak akan menikahi Hyuuga," ucapnya santai. Entah apa yang membuatnya berkata seyakin itu.
"Begitu kah?" Naruto duduk di tepi ranjang Sasuke. Sebelah alisnya terangkat. "Tetapi yang kudengar malam ini mereka akan bertunangan."
Sasuke teringat pada pesta dansa bulanan di Aula Desa dan apa yang dikatakan Naruto padanya beberapa hari yang lalu, tentang desas-desus yang mengatakan Sakura-nya akan dilamar di acara itu. Tidak seperti beberapa hari yang lalu, hal ini sama sekali tidak mengganggunya. Seringainya melebar.
"Mereka tidak akan bertunangan," ujar Sasuke tegas sambil berpaling, menaruh kembali handuk lembab di tepian baskom. "Sakura Senjuu tidak akan menikahi siapa pun kecuali aku."
Naruto tercengang mendengar pernyataan penuh percaya diri yang meluncur dari bibir sahabatnya, sebelum kemudian tawanya meledak. "Percaya diri sekali. Yang benar saja. Maksudku, kau bahkan belum pernah sekali pun bicara padanya. Kalau aku jadi dia, aku tidak akan mau menikahi orang asing."
Sasuke mendengus kecil. "Kau lihat saja nanti," katanya, lalu beranjak meninggalkan kamar.
Kedua alis Naruto terangkat tinggi. Tawanya terhenti dan kini ia terhenyak memandang pintu di mana sahabatnya baru saja menghilang. Ada sesuatu dalam diri Sasuke yang mengganggunya, entah apa itu.
Dan apa pun itu, sepertinya bukan hal yang baik.
.
.
Sasuke sudah duduk di meja makan ketika Naruto akhirnya turun menyusulnya. Kakashi sedang melayaninya, menuangkan anggur ke gelas kristal di depannya sementara Sasuke menikmati sepiring daging panggang dan sayuran.
"Berencana pergi ke pesta dansa nanti malam, Sasuke?" Naruto menanyainya seraya menarik kursi di seberang Sasuke dan duduk di sana. Kakashi kemudian menaruh piring berisi menu yang sama dengan Sasuke di depannya. Naruto mengucapkan terima kasih padanya.
Sasuke mengambil waktu untuk mengunyah dan menelan makanannya sebelum menjawab, "Aku akan pergi."
"Para gadis akan senang," komentar Naruto sambil lalu seraya mengiris daging panggangnya, melempar senyum tipis pada Sasuke.
"Hn."
Naruto mengamati sahabatnya itu sejenak sementara ia menikmati makanannya. Ada perubahan pada diri Sasuke, ia membatin, tetapi Naruto tidak begitu yakin apa itu. Yang jelas ia merasakan aura berbeda dari sosok sahabatnya itu. Sasuke terlihat jauh lebih tenang dan entah mengapa itu malah membuatnya lebih menakutkan dibandingkan Sasuke yang impulsif. Seperti mengintimidasi.
"Hei," celetuk Naruto kemudian, ketika melihat sesuatu di leher Sasuke. Dahinya berkerut menyadari itu adalah sebuah kalung –kalung yang sangat aneh, jika ia bisa bilang—Ia terheran. Sasuke tidak pernah memakai perhiasan sebelum ini. "Kalung yang bagus."
"Ah," Sasuke meletakkan pisaunya, menyentuh kalung yang melingkari lehernya, "temanku memberikannya padaku."
"Teman yang mana?" sambar Naruto otomatis. Karena setahunya Sasuke tidak memiliki teman lain selain dirinya.
"Itu bukan urusanmu, Naruto," sahut Sasuke sambil memberi sahabatnya itu tatapan dingin yang membuat Naruto berjengit. Ia kemudian berpaling pada Kakashi. "Kakashi, bilang pada Rin, bawakan perban dan obat ke kamarku nanti."
Kakashi menoleh padanya. "Apakah Anda terluka, Tuan?"
"Hanya luka ke—" kata-kata Sasuke terhenti saat ia menyingkap lengan pakaiannya untuk memperlihatkan luka toreh memanjang yang kemarin dilihatnya di sana. Sekarang luka itu sudah lenyap, tak berbekas sedikit pun. Kulitnya mulus seakan tidak pernah ada luka sama sekali di sana. Dan ketika ia melihat ke bawah meja, luka di punggung kakinya juga sudah tidak ada. "Tidak. Tidak jadi, Kakashi."
Kakashi mengangguk. Ia baru saja berbalik untuk meninggalkan ruang makan ketika Sasuke memanggilnya lagi. "Ada yang lain, Tuan?"
"Hn. Katakan pada Rin, dia terlalu matang memanggang dagingnya."
Sekali lagi Kakashi mengangguk. "Baik, Tuan. Saya akan memberitahunya."
"Hn."
Pria berambut keperakan itu lalu berjalan meninggalkan ruang makan sambil membawa teko anggur yang sudah kosong.
"Oh, kukira kau lebih suka daging yang dipanggang matang, Sasuke," kata Naruto sambil terkekeh. Ia lalu mengunyah daging panggangnya, sama sekali tak menyadari perubahan ekspresi wajah Sasuke yang mendadak beku di seberang meja. "Wah, daging panggang buatan Nyonya Hatake memang yang terenak di seluruh Konohashire!"
.
.
Senja sudah mulai turun ketika kedua pria lajang Konohashire itu akhirnya keluar dari Uchiha Hall. Dengan penampilan yang sudah rapi dalam balutan setelan resmi di balik mantel bepergian, keduanya bersiap pergi ke pesta dansa bulanan di Aula Desa.
Dua orang pria yang bekerja di istal keluarga Uchiha muncul membawakan dua ekor kuda untuk mereka. Yang satu, tentu saja adalah kuda putih milik Naruto, sedangkan yang lain adalah kuda Sasuke. Naruto segera mengambil alih tali kekang kudanya dan naik ke atas pelana. Sementara Sasuke sepertinya mengalami kesulitan dengan kudanya. Kuda berbulu cokelat keemasan itu seakan panik ketika didekati Sasuke, meringkik gelisah.
"Whoa! Kenapa dia?" seru Naruto kaget, sembari mengawasi kedua pekerja istal Sasuke berusaha menenangkan kuda kawannya. "Sepertinya dia marah padamu, teman."
Sasuke mengabaikan komentar Naruto, bergerak maju untuk mengambil alih kudanya. "Berikan padaku," ia meminta tali kekang kudanya.
"T—Tapi, Tuan—"
"Berikan!" tegas Sasuke. "Tidak apa-apa."
Dengan ragu, pria bertubuh bongsor itu menyerahkan tali kekang kuda yang gelisah itu pada sang majikan. "Hati-hati, Tuan."
"Aku tahu." Sasuke menarik tali itu dengan tenang, mengulurkan sebelah tangannya untuk mengelus leher binatang tunggangannya. Ia bisa merasakan degupan jantung kudanya yang cepat –kuda itu ketakutan. "Tidak apa, Susanoo," Sasuke berbisik membujuk pada kudanya. Belaiannya berpindah pada moncong kuda itu, sementara Sasuke menjaga kontak mata dengannya. "Aku tidak akan menyakitimu. Tenanglah."
Seakan mengerti apa yang dikatakan tuannya, kuda itu berhenti memberontak. Sasuke tersenyum kecil, mengelus moncong kudanya beberapa saat lagi. "Bagus …" Dan ia pun segera naik ke atas pelana.
Dari atas kuda miliknya, Naruto memandangnya tak percaya. "Bagaimana kau melakukan itu?"
Sasuke lagi-lagi tak menggubrisnya. Ia mencongklang tali kekang kudanya dan saat berikutnya mereka menderap meninggalkan halaman depan rumah besar yang suram itu. Di belakangnya, Naruto melakukan hal yang sama, kemudian menyusulnya.
.
.
Tempat itu sudah dipenuhi para penduduk desa ketika Sasuke dan Naruto tiba di sana. Kereta-kereta kuda terparkir berjejeran di depan gedung tua itu, sementara penduduk yang datang dengan berjalan kaki bermunculan dari ujung-ujung jalan yang tampak temaram oleh lampu jalan.
Sasuke dan Naruto kemudian menambatkan kuda-kuda mereka di tempat yang telah disediakan, sebelum melangkah masuk bergabung dengan para pengunjung lain.
Kegairahan menguar di udara ketika mereka masuk, Sasuke bisa mengendusnya. Suara orang-orang berbincang antusias, berpadu dengan suara musik yang berasal dari para pemain musik di atas panggung kecil di sana. Berpasang-pasang pria dan wanita, tua dan muda memenuhi lantai dansa, berdansa sambil tertawa-tawa. Kesemuanya mengenakan pakaian terbaik mereka, membuat tempat itu terlihat gemerlapan.
Naruto mengumbar senyum lebarnya kemana-mana, tampak sekali sangat menikmati perhatian dari para gadis pengagumnya. Dan dalam waktu singkat, ia sudah menghilang ke lantai dansa bersama seorang gadis yang tidak dikenal Sasuke.
Sebaliknya, Sasuke yang tak menyukai keramaian tidak tampak menikmati suasana tersebut sebagaimana Naruto. Ia memang hampir tidak pernah pergi ke acara-acara sosial semacam itu—dan barangkali itulah sebabnya orang-orang melirik dan memandanginya keheranan, sebagian berbisik-bisik. Namun Sasuke sama sekali tak menggubris mereka dan lebih banyak melewatkan waktunya dengan mengedarkan padangannya ke segala arah, berharap melihat sosok yang ia kenali. Belum lagi, ia belum terbiasa dengan indera-inderanya—terutama indera penciuman—yang menajam. Di sana berbagai macam bau manusia berbaur menjadi satu, bercampur dengan aroma anggur dan makanan. Dan suara-suara bising membuat kepalanya sedikit pening.
Sampai akhirnya ia mencium satu aroma yang membuat dadanya berdesir. Ia bisa mengenali aroma itu, bahkan di antara campur-baur bau-bauan lain di ruangan itu. Aroma yang manis. Cherry blossom.
Kepalanya otomatis tertoleh ke arah aroma itu berasal, dan melihat sosok yang dicarinya baru saja memasuki ruangan bersama seorang gadis cantik berambut pirang. Dengan rambut merah mudanya yang panjang dibentuk menjadi sanggul anggun di belakang kepalanya, dan gaun berwarna hijau pastel bergaris pinggang tinggi yang serasi dengan warna matanya, Sakura Senjuu terlihat memesona. Disempurnakan oleh sebuah senyum yang selalu terukir di bibirnya.
Sasuke mengamatinya dari kejauhan seperti yang selalu dilakukannya setiap kali ia melihatnya, menatap gadis pujaannya itu dengan tatapan yang lembut. Meresapi setiap kecantikan yang dipancarkan olehnya. Mendengarkan suaranya ketika ia berbicara dan tertawa. Merasakan aromanya setiap gadis itu bergerak. Mendengarkan degup jantungnya yang seperti irama music … Semua yang akan jadi miliknya tidak lama lagi.
Sasuke begitu yakin sampai-sampai tak bereaksi apa pun ketika seorang pria muda berambut kecokelatan mendekati gadisnya.
'Percuma saja mendekatinya, Neji Hyuuga … Dia sudah menjadi milikku.'
Dari kejauhan, Sasuke melihat Neji menawarkan tangannya untuk mengajak Sakura berdansa. Sakura menyambut uluran tangan pria itu dan mengikutinya ke lantai dansa. Tanpa mengalihkan pandangannya dari pasangan itu, Sasuke menenggak isi gelas anggurnya perlahan-lahan.
'Nikmati saja kesempatan terakhirmu, Hyuuga. Setelah ini kau tidak akan bisa menyentuhnya lagi. Sebentar lagi …'
Sasuke terus mengawasi Sakura di lantai dansa, bergerak anggun di antara orang-orang. Ia sama sekali tidak mengindahkan Neji, seakan pria itu hanyalah lalat yang tak berarti untuk diperhatikan.
Seakan merasakan tatapan seseorang padanya, gadis itu menolehkan kepalanya ke arah Sasuke. Kedua bola matanya yang hijau cemerlang bertemu tatap dengan mata pria itu. Namun berbeda dengan reaksinya ketika pandangan mereka bertemu di restoran beberapa hari yang lalu, kali ini Sakura tidak tampak terkejut. Sebaliknya, ia balas menatapnya dengan sorot lembut. Bibirnya membentuk senyum yang tak pernah dilihat Sasuke sebelumnya.
Sasuke mendengar degupan jantung gadis itu semakin cepat—ia tersenyum kecil.
'Suruh dia pergi setelah ini, Sakura, cintaku … Suruh Hyuuga pergi …'
Musik akhirnya berakhir, begitu pula dengan kontak mata mereka. Sakura berpaling dan bertepuk meriah bersama para pedansa yang lain, sebelum kemudian membisikkan sesuatu di telinga partnernya. Sasuke bisa mendengarnya dengan jelas seakan Sakura sedang berbicara tepat di depannya, "Bisa tinggalkan aku sebentar, Neji?"
Dari tempatnya sekarang, Sasuke bisa melihat Neji mengangguk, meskipun tampak enggan. Kemudian melangkah pergi untuk bergabung dengan serombongan pria-pria bermata keperakan.
'Bagus sekali …'
Tanpa membuang kesempatan lagi, Sasuke menaruh gelas anggurnya yang sudah kosong di meja pajangan terdekat, kemudian berjalan menembus kerumunan untuk menghampiri Sakura yang sudah menunggunya. Sakura menekuk lututnya sebagai salam ketika Sasuke sudah tiba di sisinya.
"Tuan Uchiha," sapanya sopan.
"Nona Senjuu," Sasuke membalas dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Mau berdansa denganku?" Sasuke menawarkan tangannya dengan gestur sopan.
Sakura mengangkat wajahnya dan tersenyum kosong. "Tentu, Tuanku." Sorot mata hijaunya menatap pria itu penuh damba, saat tangannya yang berlapis sarung tangan panjang itu menyambut uluran tangan Sasuke. Sakura tidak sekali pun melepaskan pandangannya saat Sasuke membimbingnya kembali ke lantai dansa bersama pasangan-pasangan lain.
Para pemain musik kembali memainkan musik, lebih pelan dan mendayu-dayu dari sebelumnya.
Sasuke segera menempatkan tangannya di pinggang Sakura sementara yang sebelah lagi menggenggam tangan wanita itu. Sementara Sakura meletakkan tangannya yang bebas di bahu Sasuke. Segalanya terasa pas, seakan sudah seharusnya berada di sana. Mereka berputar pelan, melangkah mengikuti irama musik.
Dari atas bahu Sakura, Sasuke bisa melihat sahabatnya, Naruto, sedang membelalak tak percaya ke arahnya. Di sisi lain ruangan, Neji juga tengah memperhatikan mereka dengan sorot mata yang tak terbaca. Namun Sasuke cukup yakin kalau pria itu tidak senang dengan apa yang dilihatnya—dan ini membuatnya berpuas diri.
Tangan Sasuke perlahan berpindah dari pinggang Sakura ke belakang punggungnya, menariknya lebih rapat selagi mereka bergerak seiring irama musik yang mengalun lembut. Sasuke merundukkan kepalanya ke leher gadis itu, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sakura di belakang telinganya. Mematri aroma itu benar-benar dalam ingatannya.
"Aromamu sangat menyenangkan," bisiknya di telinga Sakura.
Sasuke menarik kembali kepalanya setelah sebelumnya mendaratkan sebuah kecupan kecil di leher sang gadis –yang membuat gadis itu menahan napasnya—lalu menatap kedua bola mata emerald di depannya itu lekat-lekat. Segera saja mereka tertarik masuk ke dalam dunia mereka sendiri. Orang-orang di sekeliling mereka menjadi sama sekali tak berarti. Hanya ada mereka berdua. Dengan mata yang saling menatap, mereka terpesona oleh pandangan, aroma dan rasa satu sama lain. Dan mereka terus seperti itu sampai akhirnya musik berhenti.
Sasuke menarik tangan Sakura menjauhi keramaian lantai dansa, sama sekali tak menghiraukan tatapan penasaran beberapa orang yang terarah pada mereka. Mereka tidak berhenti ketika melewati ambang pintu masuk aula. Sasuke membawa gadis itu terus melewati teras, menuruni undakan, melewati jalan kecil yang temaram. Hingga hingar-bingar pesta sudah tak terdengar lagi.
"Kita akan pergi ke mana, Tuanku?" tanya Sakura penuh ingin tahu.
Sasuke menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap gadisnya. Cahaya temaram yang berasal dari lampu-lampu jalan tampak berpendar di wajah halus itu, memantul di matanya, membuatnya tampak berkilauan. Sasuke tersenyum, menempatkan sebelah tangannya untuk membingkai wajah gadis itu.
"Pergi ke suatu tempat di mana tidak ada yang bisa mengambilmu dariku."
Sakura mengedipkan matanya. Kebingungan yang polos terpancar di sana. "Tapi tak ada yang akan mengambilku darimu, Tuanku. Aku milikmu sepenuhnya."
"Tapi ada yang tidak berpikiran seperti itu," ucap Sasuke, membelai kulit halus itu dengan ibu jarinya, "Neji Hyuuga akan mengambilmu dariku—dia akan menikahimu jika aku memberinya kesempatan."
Tanpa disangka, Sakura malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Neji tidak akan menikahiku, Tuan."
"Dia akan melamarmu malam ini!"
"Maka aku akan menolaknya," jawab Sakura dalam bisikan halus. Ia mengambil satu langkah mendekati Sasuke, mendongak untuk menatap kedua bola mata pria itu. "Karena aku hanya mencintai Tuan Sasuke Uchiha, tidak yang lain. Tidak pula Neji. Dia hanya seorang teman, Tuanku. Percayalah padaku."
Sasuke tahu itu hanyalah pengaruh sihir yang diberikan Orochimaru, tetapi perkataan gadis itu, juga tatapan matanya yang bersungguh-sungguh, membuatnya nyaris percaya bahwa itu adalah kebenaran. Bahwa Sakura memang benar-benar mencintai dirinya. Namun Sasuke tidak peduli. Karena memang itulah yang diinginkannya. Sihir maupun bukan, Sakura mencintainya. Hatinya sudah tertawan.
"Kau mencintaiku?"
Sakura mengangguk. "Dengan segenap jiwaku, Tuanku."
"Hn." Sasuke meraih belakang kepala Sakura, mendekatkan wajah mereka hingga dahi dan ujung hidung mereka bersentuhan. "Kau milikku."
"Selamanya." –dan di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, bibir mereka bertemu untuk pertama kalinya.
.
.
Berita itu menyebar dengan cepat seperti wabah penyakit, menggemparkan seluruh desa. Tidak ada yang pernah menyangka, bahwa keturunan terakhir dari keluarga Uchiha telah memilih seorang gadis pendatang sebagai pendampingnya. Bukannya apa-apa, hanya saja selama ini Sasuke Uchiha dikenal sebagai pria dingin yang selalu menarik diri dari lingkungan sosial Konohashire, nyaris tidak memiliki seorang teman pun. Tetapi tiba-tiba saja, tanpa pernah terlihat bersama sebelumnya, pria itu meminang putri Dokter Tsunade Senjuu.
Banyak pihak yang menentang, terutama dari pihak keluarga dan teman-teman Sakura. Mereka berkeberatan terhadap reputasi yang disandang pria itu, terlebih karena desas-desus mengerikan tentang keluarganya yang konon katanya terkutuk. Tetapi Sakura memilih untuk menulikan telinga dari semua perkataan orang-orang yang ditujukan pada hubungan mereka. Ia sama sekali tidak mau dengar dan bersikeras untuk menikahi Sasuke Uchiha apa pun yang terjadi.
Semuanya sudah terlambat. Sakura Senjuu sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari Sasuke Uchiha. Maka sang ibu, Tsunade, yang teramat sangat menyayangi putrinya, terpaksa menuruti keinginan gadis itu untuk menjadi nyonya rumah di Uchiha Hall.
"Jika kau memang begitu mencintai Tuan Uchiha, Sakura, biarkanlah tetap begitu. Aku merestui kalian berdua …" ucapnya dengan nada lelah, yang kemudian disambut oleh senyum sumringah dari sang putri yang teramat bahagia.
"Terima kasih, Ibu …"
Dan dalam waktu sebulan setelah pesta dansa di Aula Desa, tepat di pagi hari setelah purnama kembali memudar, Sakura Senjuu resmi menyandang nama Uchiha di belakang namanya.
Sementara itu, sahabat karib Sasuke pun tampaknya keberatan dengan keputusan yang diambil pria itu. Bukan berarti Naruto tidak menyukai Sakura, hanya saja ia merasa segalanya berjalan tidak semestinya. Terlalu cepat. Terlalu terburu-buru. Dan cinta yang diberikan Sakura terhadap Sasuke, juga perubahan sikap sahabatnya itu, semua hal-hal ganjil itu lantas membuat pemikiran-pemikiran tidak logis bermunculan dalam benaknya.
Sasuke adalah tipe orang yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan yang ia inginkan, Naruto mengerti itu dengan baik. Dan juga karena ia begitu memahami sifat sahabatnya itu, ia menjadi sangat cemas.
Apakah Sasuke telah melakukan hal-hal terlarang untuk mencapai hasratnya memiliki Sakura? Naruto tidak tahu. Ia harus mencari tahu!
.
.
Hari itu beberapa minggu setelah pernikahan Sasuke dan Sakura.
Sebagaimana yang diharapkan di hari-hari yang biasa di musim panas, pagi itu cuaca sangat cerah dan udara terasa hangat. Sasuke memanfaatkannya dengan mengajak istrinya berjalan-jalan di sekitar kediamannya setelah sarapan untuk menikmati udara segar sebelum semuanya menjadi terlalu panas. Keduanya menyusuri di tepi sungai kecil yang berbatu sambil bergandengan tangan, melewati padang ilalang yang menguning, tempat-tempat yang belum pernah diketahui oleh Sakura. Setelah puas menjelajah, dan udara menjadi lebih panas dari sebelumnya, Sasuke membawa Sakura kembali ke rumah melalui istal kuda milik keluarganya.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," kata Sasuke ketika mereka hampir mencapai istal.
"Apa itu?" tanya Sakura. Matanya membulat penuh rasa ingin tahu.
Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh pada sang istri, melempar senyum misterius padanya. "Tidak akan kukatakan sekarang. Itu akan merusak kejutannya."
"Oh, Sayangku, kau terlalu banyak memberiku kejutan," tanggap Sakura dengan wajah berbinar bahagia. Kemudian Sasuke membawanya memasuki istal, melewati kandang-kandang berisi kuda-kuda milik keluarga Uchiha. Hitam, cokelat keemasan, semuanya terawat dengan sangat baik dan terlihat begitu gagah dan mengesankan. Tak heran selama ini suaminya selalu menyukai kuda.
"Lihat. Lihat di sana."
Sakura mengalihakan perhatiannya dari Susanoo, kuda cokelat keemasan mengagumkan yang merupakan kesayangan suaminya, menoleh ke arah yang ditunjuk Sasuke. Dan di sana, di tengah-tengah lapangan melingkar di depan istal, berdiri seekor kuda betina yang tercantik yang pernah dilihat Sakura.
Warna bulunya putih –seperti milik Naruto, hanya saja kuda Naruto kuda jantan—dengan surai dan ekor yang panjang. Kuda itu memiliki empat kaki yang ramping dan kuat, juga bahu yang kekar. Meskipun Sakura bukan penggemar kuda, tetapi ia bisa melihat betapa anggunnya hewan itu. Dan ia tidak bisa tidak menyukainya.
"Oh, Sasuke … itu—" selama beberapa saat Sakura tak mampu menemukan kata-kata untuk menunjukkan betapa takjubnya ia, "Itu … Oh, Tuhan … Cantik sekali."
"Kau menyukainya?"
Sakura menoleh pada suaminya, mengangguk penuh antusias. Kemudian Sasuke melepaskan tangannya, membiarkan Sakura berlari ke tepi lapangan untuk mengagumi hadiahnya. Sasuke memberi isyarat pada petugas istal untuk membawa kuda itu mendekat ke pagar supaya Sakura bisa membelainya. Kuda itu mendengus seraya menggerak-gerakan kepalanya ketika Sakura mengelus-elus hidungnya.
"Kelihatannya dia menyukai Anda, Nyonya," komentar petugas istal yang memegangi tali kekangnya.
"Benarkah?" Sakura terlihat sangat gembira. Ia mengambil wortel yang diulurkan petugas istal itu padanya, kemudian menyorongkannya ke mulut kuda betina itu, dan sesaat kemudian wortel itu menghilang.
"Kuda ini milikmu," beritahu Sasuke, ikut mengelus moncong hewan itu, "Kalau cuaca sedang bagus, kita bisa berkuda bersama-sama ke pinggir sungai atau ke desa jika kau mau."
Saat itu, Kakashi muncul dari arah pintu utama istal. Butler berambut keperakan itu berjalan tergesa menghampiri tuannya.
"Ada apa, Kakashi?"
"Maaf, Tuan. Tuan Namikaze dan Nona Yamanaka datang berkunjung. Mereka sudah menunggu Tuan dan Nyonya sejak tadi," Kakashi juga mengangguk pada Sakura.
"Ino juga datang?" Mata Sakura melebar. Sudah lama ia tidak bersua dengan sahabatnya, sejak ia menikah dengan Sasuke dan tinggal di Uchiha Hall. Tak heran ia begitu senang mendengar kedatangan sahabat baiknya itu. Ia segera menoleh pada suaminya. "Sebaiknya kita temui mereka sekarang."
"Baiklah," kata Sasuke agak enggan. Semenjak pernikahannya dengan Sakura, Naruto belum benar-benar bicara lagi padanya. Dan sekarang tiba-tiba ia muncul, Sasuke merasakan akan adanya sesuatu di balik kunjungannya ini.
.
.
Naruto dan seorang gadis cantik berambut pirang sedang duduk di ruang rekreasi, tengah disuguhi teh dan makanan kecil oleh Rin, ketika Sasuke dan Sakura tiba di Uchiha Hall.
Gadis pirang itu –Ino Yamanaka—segera menolehkan wajahnya dari cangkir teh yang sedang disesapnya saat mendengar langkah kaki memasuki ruangan. Senyum cerah menghiasi wajahnya tatkala ia melihat sahabatnya.
"Sakura!" serunya, meletakkan cangkirnya di atas meja dan bergegas berdiri untuk menyambut sang nyonya rumah.
"Ino!" Sakura setengah berlari ke arahnya, mengulurkan kedua tangannya pada sahabatnya itu untuk menyambutnya dengan pelukan hangat. "Lama tak bersua. Aku rindu sekali padamu!" ucapnya berseri-seri.
"Sama di sini, Sayangku," tanggap Ino setelah Sakura melepaskan pelukannya. Sepasang mata birunya menatap lekat-lekat pada Sakura, memperhatikannya dari atas ke bawah. "Bagaimana kabarmu, Sakura?"
"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik," sahut Sakura ceria.
Ino mengangguk puas. "Kau kelihatan sangat bahagia," komentarnya sambil tersenyum.
"Memang," kata Sakura. Ia menoleh begitu Sasuke sudah berada di sampingnya, kemudian melingkarkan lengannya dengan mesra ke pinggang suaminya itu untuk menunjukkan betapa ia sangat bahagia dengan keputusannya menikahi pria itu. "Aku dan Sasuke-ku baru saja berjalan-jalan ke tepi sungai, dan dia memberiku seekor kuda yang sangat cantik! Benar kah, Sasuke?"
"Hn." Sasuke meletakkan tangannya di bahu Sakura, tersenyum tipis pada istrinya itu, sebelum kemudian berpaling pada Ino. "Nona Yamanaka," sapanya datar sambil mengangguk sopan.
"Tuan Uchiha," Ino membalas dengan menekukkan sedikit lututnya.
Pandangan Sasuke kemudian berpindah dari Ino ke pria yang berdiri di belakangnya, yang sedari tadi mengawasi mereka tanpa mengatakan apa pun. Senyum samar membayang di wajah pria bermata biru itu ketika Sasuke menyapanya, "Naruto. Ada keperluan apa datang kemari?"
Naruto mengambil waktu berjalan mendekati mereka sebelum berkata, "Ino sangat merindukan sahabatnya. Dia yang membujukku untuk mengajaknya kemari."
"Hei, siapa yang membujukmu?" Ino membantah, melempar pandang sebal pada Naruto yang hanya terkekeh kecil. "Tapi aku memang merindukan Sakura," tambahnya, dan kedua wanita yang berteman karib itu pun saling bertukar senyum.
Sasuke masih menatap Naruto lurus. Merasa dicurigai, akhirnya Naruto mengalah. Ia menghela napas dengan dramatis. "Baiklah, sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Tuan Uchiha yang terhormat," katanya sambil mengangguk salut pada Sasuke, tersenyum. Lalu ekspresinya berubah serius. "Memang ada yang ingin kubicarakan denganmu, Sasuke."
Mata Sasuke menyipit. Nada bicara Naruto yang serius itu tidak seperti biasanya. Ia mengendus adanya sesuatu hal yang mendesak dalam suara itu. Sasuke akhirnya mengangguk. Ia menoleh pada istrinya. "Sakura, bisa kau ajak Nona Yamanaka keluar sebentar? Kalian bisa berbincang-bincang di ruang pribadimu."
Sakura mendongak menatap suaminya, seakan tidak rela berpisah darinya walau sebentar.
"Aku tidak akan lama," tambah Sasuke meyakinkan.
Sakura mengangguk. Ia lantas melepaskan pelukannya pada Sasuke, lalu mengulurkan tangan pada Ino yang segera disambut gadis itu dengan riang. Dan keduanya pun bergegas meninggalkan ruang rekreasi sambil tertawa-tawa dan mengobrol. Hingga suara mereka terdengar samar di kejauhan dan akhirnya menghilang, Sasuke kembali berpaling pada Naruto.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Sasuke sembari berjalan ke arah kursi berlengan di dekat berapian, kemudian menghenyakkan diri di sana dengan kaki disilangkan. Mata hitamnya yang dalam menatap Naruto tajam. "Kukira bukan masalah bisnis yang biasa?"
"Memang bukan," sahut Naruto, terlihat sedikit tegang.
"Lalu?" Sasuke menyatukan jari-jemarinya yang panjang di bawah dagu dengan sikut menopang di kedua lengan kursinya. Matanya menyipit.
Naruto tidak langsung menjawab. Pria itu berjalan ke arah perapian kosong, berhenti di dekatnya. Sejenak ia memandangi ukiran di sana seakan tertarik dengan polanya, sebelum kembali memandang Sasuke. "Ini tentang kau dan Sakura." Sasuke tidak menanggapi, maka Naruto meneruskan, "Aku merasa hubungan kalian terlalu ganjil, Sasuke. Terlalu cepat … Aku khawatir—" ia mendadak berhenti. Dahinya berkerut seakan ia sedang mempertimbangkan sesuatu, "Ah, tidak. Aku tahu seharusnya aku tidak berpikiran seperti ini. Tapi segalanya terlampau aneh bagiku."
"Aneh?" Sasuke mengangkat dagunya, meletakkannya di atas tangannya yang terkatup. Kedua alisnya menyatu.
Naruto menghela napas. "Kita sudah berteman lama, Sasuke, kuharap kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku."
"Aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu," sangkal Sasuke tenang, "Pernikahanku dengan Sakura cukup terbuka, bukan?"
"Kau tahu yang kumaksudkan bukan itu!" Naruto berkata tak sabar. "Tetapi apa yang terjadi di balik pernikahan kalian. Aku tahu kau menyukai Sakura sejak lama. Tetapi kau dan Sakura tidak pernah saling berbicara sebelum ini –kau tidak pernah mau bicara padanya. Dan tiba-tiba saja… BANG!" pria itu melakukan gerakan dramatis, "Kalian menikah begitu saja."
"Apa anehnya itu?" tanya Sasuke, "Sakura jatuh cinta padaku dan kurasa kami tidak perlu mengulur waktu terlalu banyak—"
"Dalam semalam?" potong Naruto. Ia bergerak dari sisi perapian, mendekati Sasuke. "Hanya dalam semalam kau membuat Sakura Senjuu melupakan kekasihnya, jatuh cinta padamu dan menerima lamaranmu begitu saja? Sasuke, demi Tuhan itu sangat tidak masuk akal!"
"Tidak ada yang masuk akal dalam cinta?"
"Cinta?" Naruto tertawa mencemooh. "Aku tidak melihat cinta di sini. Kau terobsesi dengannya. Sejak dulu kau ingin memiliki dirinya dan dia …" tangan Naruto terayun ke arah Sakura dan Ino barusan menghilang, "Apa kau yakin Sakura benar-benar jatuh cinta padamu dalam semalam?"
Sasuke tidak menjawab. Ia sudah tahu jawabannya, namun enggan memberitahu Naruto rahasia gelapnya yang satu itu. Sampai mati pun enggan. Tidak ada yang boleh tahu kecuali dirinya … dan Orochimaru.
"Kecuali kalau kau telah melakukan sesuatu pada Sakura," lanjut Naruto dengan tatapan penuh selidik, "Sesuatu yang tak terpikirkan oleh orang-orang."
Sasuke merasakan darahnya mendidih. Ia bangkit dari bangkunya. Beraninya Naruto mendesaknya seperti ini. "Apa maksudmu?" desisnya.
"Sudah kubilang aku tidak ingin memikirkannya, dan kuharap itu hanya sekedar dugaanku saja, Sasuke," balas Naruto berhati-hati.
"Kalau begitu simpan saja dugaanmu karena yang kau pikirkan itu salah," kata Sasuke, nyaris berbisik. Kedua tangannya yang terkepal bergetar hebat. "Pernikahanku dan Sakura wajar. Itu yang harus kau camkan baik-baik dalam kepalamu."
Naruto menatapnya dengan tatapan tak terbaca, lalu mengangguk pelan. "Kuharap aku bisa mempercayai sahabatku kali ini."
"Kau tidak mempercayaiku," Sasuke menarik kesimpulan dengan getir.
"Karena aku terlalu mengenal watakmu, Sasuke, aku tidak bisa mempercayaimu." Pandangan Naruto kemudian turun ke arah leher Sasuke, seakan sedang menatap benda yang kini tertutup di balik kemejanya, sebelum kemudian berpaling. "Mereka menemukan bangkai rusa di hutan, tercabik-cabik. Apa kau pernah mendengarnya, Sasuke?"
Sasuke menelan ludah dengan susah payah. "Tidak."
"Menurut para pemburu, itu bukan serangan binatang buas biasa—"
"Aku tidak mengerti maksudmu memberitahuku informasi tidak penting itu," Sasuke memotong perkataan Naruto.
"—ditemukan dua kali dalam dua bulan berturut-turut—"
"Sama sekali tidak ada hubungannya denganku."
"—setelah malam purnama sempurna," Naruto kembali menatap Sasuke yang sudah gemetaran karena marah. "Sasuke, aku tidak ingin dengar apa yang semua orang katakan tentang kutukan keluargamu benar adanya."
"Tidak ada kutukan—"
"Hanya demi Sakura, Sasuke, demi Tuhan … Apa kau tidak pernah berpikir kau justru membahayakan dirinya?"
"Tidak. Aku tidak—"
"Kalung itu. Dari mana kau dapatkan kalung itu?"
"Aku tidak—"
"Kemana kau menghilang pada malam sebelum kau meminang—"
Perkataan Naruto terhenti tiba-tiba. Kejadiannya begitu cepat sampai-sampai Naruto tidak sempat menarik napas. Sasuke telah menjambret bagian depan pakaiannya dan melemparnya begitu saja ke seberang ruangan, diiringi suara geraman marah yang sama sekali tidak seperti suara sahabatnya. Seperti suara binatang. Tubuh Naruto menabrak lemari perabot. Kekuatan tabrakannya cukup untuk menghancurkan lemari itu, menimbukan suara gaduh. Perabot keramik antik dan barang pecah belah lainnya jatuh berserakan di lantai pualam di sekeliling tubuh Naruto.
"Uhuk!" Naruto terbatuk. Tubuhnya nyeri bukan buatan. Beberapa bagian pakaian dan kulitnya terkoyak. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Matanya terbelalak tak percaya. "S—Sasuke?"
Di seberang ruangan, Sasuke menatapnya marah. Matanya menyala-nyala merah. Napasnya menderu. "Jangan sampai aku mendengarmu bicara seperti itu lagi di depanku, brengsek! Atau kau akan tercabik-cabik, sama seperti rusa-rusa sialan itu!"
Naruto hanya menatapnya tanpa berkata apa pun. Tubuhnya gemetaran. Ia terlalu terkejut—tidak. Ia terlalu takut akan apa yang disaksikannya di depan matanya. Itu bukan sahabatnya. Itu bukan Sasuke yang dikenalnya.
Suara ribut-ribut yang berasal dari ruangan itu rupanya terdengar sampai keluar. Kakashi sang butler keluarga Uchiha tergopoh-gopoh memasuki ruangan bersama istrinya, disusul Sakura dan Ino yang tampak sangat terperanjat dengan pemandangan yang mereka saksikan di ruangan itu. Sasuke yang tampak luar biasa murka, Naruto yang terpuruk di lemari yang hancur berantakan, sisa-sisa perabot yang berserakan di lantai dan karpet.
"Apa yang terjadi, Tuan?" Kakashi terkejut.
"Ya, Tuhanku …" Rin memekapkan kedua tangan di depan mulutnya, ketakutan.
"Naruto!" Ino bergegas berlari menghampiri Naruto, tampak sangat khawatir. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku—" Naruto mencoba bangun, dengan dibantu Ino, "—tidak apa-apa." Ia memberi gadis yang cemas itu senyum menenangkan. "Tidak apa-apa, Ino."
Ino melempar pandang marah pada Sasuke yang sudah berpaling, namun tidak mengatakan apa-apa. "Kita pulang saja, hm?" tanyanya pada Naruto. "Kau bisa berdiri?"
"Hmm …" Naruto mengangguk, kemudian Ino memapahnya. Kakashi bergegas turun membantu gadis itu mengeluarkan Naruto dari sisa-sisa lemari perabot. "Terima kasih, Kakashi."
Sakura yang sejak tadi hanya berdiri di bibir pintu, sudah menemukan kembali suaranya. "Sasuke … Tuan Namikaze, sebenarnya ada apa?"
Tak ada yang menjawab. Di seberang ruangan, Sasuke menghenyakkan diri di bangkunya lagi, terpekur. Sakura lantas memandang Naruto yang sedang dipapah Ino.
"Jangan khawatir, Sasuke," kata Naruto sambil meringis menahan sakit, "Kau tidak akan pernah mendengarku bicara apa pun lagi padamu mulai hari ini." Dan kemudian mereka berjalan dengan susah payah meninggalkan ruangan, melewati Sakura yang tampak ketakutan. Naruto berhenti di samping wanita itu, menatapnya lekat-lekat. "Sakura, jaga dirimu baik-baik," ucapnya sambil mengulurkan sebelah tangannya yang bebas untuk menepuk pundak Sakura.
Sakura yang tidak memahami apa maksud perkataan Naruto hanya memandangi pria itu dengan ekspresi bingung di wajahnya.
"Kami pulang, Sakura," pamit Ino sembari memberinya senyum menyesal.
"Ino …" Sakura menatap kepergian sahabatnya itu dengan tatapan tidak rela sampai mereka menghilang di ujung koridor. Seakan baru teringat sesuatu, Sakura tersentak dan segera berlari ke arah suaminya. "S—Sasuke?"
Sasuke terlihat begitu terguncang dengan apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya gemetar dan ia seperti tidak menyadari kehadiran Sakura di sana.
"Sasuke …?" panggil Sakura sekali lagi sambil membungkuk. Diraihnya tangan pria itu –dingin. "Sayangku, kau baik-baik saja? Tubuhmu gemetaran."
Sasuke perlahan mengangkat wajahnya, ditatapnya wajah istrinya lama. Sakura terpekik kaget ketika tiba-tiba Sasuke menarik pinggangnya sehingga ia terjatuh ke pangkuan pria itu. Sasuke mendekap tubuhnya erat-erat, seakan tidak rela melepaskannya sampai kapan pun. Ia membenamkan hidungnya di leher Sakura, menyesap aromanya dalam-dalam. Aroma yang mampu menenangkannya.
"Sasuke?" bisik Sakura bingung. "Apa yang terjadi?"
"Apa kau mencintaiku, Sakura?" tanya Sasuke dalam bisikan.
"Tentu saja aku mencintaimu," jawab Sakura tak mengerti.
"Kau mau berjanji tidak akan meninggalkanku apa pun yang terjadi?"
Sakura yang merasakan tubuh suaminya gemetaran lagi segera membalas memeluknya. Hatinya dilanda kekhawatiran. "Aku berjanji …" Sakura berkata sungguh-sungguh.
Mendengar itu, Sasuke tampak jauh lebih tenang. "Aku mencintaimu, Sakura." Ia mengeratkan pelukannya sejenak sebelum melepaskannya.
Sakura menegakkan diri supaya bisa melihat wajah suaminya. Tak pernah dilihatnya Sasuke yang begitu tampak putus asa seperti ini. Ada apa gerangan dengan suaminya? Apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Tuan Namikaze? Sakura lantas tersenyum menenangkan, mengulurkan kedua belah tangannya untuk membingkai wajah Sasuke. "Aku tahu."
"Jangan pernah sekali pun meragukan itu." Dan saat berikutnya Sasuke kembali meraih istrinya ke dalam pelukannya, membuainya dengan ciuman yang dalam dan lama.
.
.
