'CAUSE THE STARS BURN TO SHINE
Sasuke dan kawan-kawan milik Masashi Kishimoto
Story milik saya tapi terinspirasi dari kehidupannya Taka One Ok Rock dan adik-adiknya
(Terinspirasi bukan berarti kenyataan. Aku, mah, ga tahu kenyataannya)
Three Shots
Peringatan : Typo. OOC. Crack Family. Setting Gaje
Main cast : Itachi Uchiha as Anak Pertama
Shissui Uchiha as Anak Kedua
Sasuke Uchiha as Anak Terakhir
Chapter 2 : SHISSOU FLAME
Itachi, 17 tahun
Aku manusia gagal.
Berbeda dengan dia. Dia yang kamarnya dengan headphone terpasang di telinganya dan gitar di tangannya. Ia memainkan musik dengan gitarnya. Permainannya indah. Aku bisa melihat kebebasan bermusik disana.
Aku selalu diharuskan menyanyi ini itu dengan koreografi yang ditentukan dan formasi yang ditetapkan. Bahkan, aku harus memiliki karakterku yang ditetapkan mereka agar image-ku disukai penggemar. Itu aturan dunia hiburan. Aku tak bisa seperti itu.
Bisakah aku seperti Shissui yang bermain musik dengan bebas?
Tiba-tiba saja Shissui menoleh ke arah pintu. Kamar kami berhadap-hadapan sehingga dia melihatku yang sedang memperhatikannya.
"Kau menangis, kak?"
Shissui, 16 tahun
"Aku iri padamu. Kau bisa bebas main gitar sedangkan aku untuk menyanyi saja dipenuhi aturan ini itu. Aku harus bergerak kesini, menyanyi bagian ini, dan sebagainya. Aku benci jadi penyanyi, aku benci musik."
Aku tertawa kecil mendengar pengakuan Itachi. "Lucu rasanya mendengar orang iri padaku. Aku yang seharusnya iri padamu karena semua perhatian tertuju padamu. Semua berita hanya membahas tentangmu, tidak ada berita mengenai Sasuke. Kemudian kau disini bilang iri padaku ketika semua orang peduli padamu."
Mata Itachi melebar. Tapi ia kemudian mengalihkan pandangannya dari sorot mataku yang menatapnya tajam. "Semua kepedulian itu palsu."
"Lalu kau ingin kepedulian yang asli?"
"Mungkin kepedulian yang asli itu tidak ada."
"Aku disini. Sasuke disini. Kami peduli padamu. Meski kami tak membantu apa-apa, kami berusaha peduli padamu tapi kau selalu menjauh dari kami. Aku tidak ingin percaya apa yang dikatakan ayah tentangmu. Kini aku tahu, kau itu egois."
"Kau tidak pernah merasakan jadi aku. Kau bebas. Kau sekolah dengan normal tanpa disuruh ayah jadi seorang bintang. Kau tidak bisa berkata seperti itu, Shissui," kata Itachi dengan nada tinggi.
"Kau juga tidak pernah merasakan jadi aku ataupun Sasuke."
Aku bangkit dari tempat tidur Itachi dan melangkah keluar. Sebelum kututup pintu kamarnya, aku berkata, "Kau tahu kenapa aku masih suka belajar musik meski tak ingin jadi bintang? Karena musik adalah satu-satunya yang bisa memahamiku ketika kakakku tidak bisa."
Sasuke, 11 tahun
"Aku lebih baik keluar dari Konoha Ent," kataku ditengah makan malam keluarga. Tanpa ayah tentu saja.
"Kenapa? Bukankah kau suka di Konoha?", tanya kak Shissui.
"Aku ingin keluar saja. Aku lelah."
"Ibu memang berencana mengeluarkanmu dari sana. Kamu, kan, masih anak-anak. Lebih baik sekolah saja dan banyak bermain dengan temanmu," kata ibu.
"Iya."
Kak Itachi diam tanpa memberikan komentar apa-apa. Ia selalu menghindari kontak mata denganku. Aku tak tahu dia senang atau sedih dengan keputusanku ini. Kak Shissui berkata setuju dengan keputusan ibuku. Ibu mengiyakan dan mengatakan beberapa rencana masa depanku. Aku tahu yang mereka katakan hanya untuk membutakan mataku agar tidak melihat dunia yang rusak.
Hanya saja sekarang aku sudah bisa melihat dunia yang rusak itu,
dan aku tidak bisa melihat keluargaku dengan mata yang sama lagi.
.
.
.
Itachi, 17 tahun
Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah menyanyi. Musik mungkin tidak menyelamatkanku tapi musiklah yang memahamiku, seperti yang dikatakan Shissui. Karena itu aku memulai tawaran bermain band bersama teman-temanku. Hanya saja, mereka bermain untuk senang-senang. Sedangkan aku ingin kembali ke panggung lagi. Aku punya tujuan.
Saat itulah Kisame muncul. Mengulurkan tangannya padaku dan berkata, "Ayo jadi vokalis bandku."
"Kau tidak lihat aku sudah punya band, bodoh," kataku kesal.
"Ayolah. Nanti aku membantumu mengerjakan PR Sastra Jepang."
"Kau tahu aku bodoh dalam Sastra Jepang?"
"Tentu saja aku tahu. Bagaimana dengan tawaranku."
"Tidak. Karena aku tidak suka orang mengataiku bodoh."
"Kau yang mengakui itu."
Meski kutolak berkali-kali, Kisame tetap memberiku penawaran-penawaran lainnya. Ia memberiku berbagai kupon-kupon aneh. 'Kupon Gratis Makan Siang Sebulan', 'Kupon Pijat Gratis 3 Bulan', 'Kupon PR Matematika sampai lulus', dan sebagainya. Awalnya aku tetap gigih menolak. Hanya saja kata-kata Shissui terus terngiang-ngiang di otakku, 'kami berusaha peduli padamu tapi kau selalu menjauh dari kami.'
Sepertinya aku melakukan hal yang sama pada Kisame, padahal dia bukan siapa-siapa. Perjuangan merekrutku bisa kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Jika aku terus menutup mata maka apa yang dikatakan Shissui benar. Aku egois. Aku tak ingin seperti itu.
Aku mencoba berlatih dulu bersama mereka. Mereka memperlakukanku seperti orang biasa. Tak pernah sekalipun bertanya berita buruk tentangku saat masih di ANBU. Hingga suatu hari saat latihan, aku mencoba menyinggung soal itu.
"Hei, apa kalian tidak masalah punya vokalis mantan boyband? Nanti aku bisa joget-joget seksi di panggung," candaku.
"Lakukan saja kalau kau suka. Aku yakin kau tidak mau. Toh, sebenarnya kau masuk ANBU disuruh orang tuamu, kan?" kata Deidara, bassis kami.
"Kok kamu tahu? Jangan-jangan dulu kau penggemar beratku."
"Dasar narsis. Jika memang kau suka, tentu saja kau tidak membuat masalah disana," balas Kisame.
Tanpa pernah mengatakan hal itu, mereka bisa memahamiku. Saat itulah aku menemukan satu kelompok yang bisa mendukung tujuanku. Aku pun memutuskan untuk meninggalkan band lamaku. Teman-temanku bilang tidak masalah karena semua keputusan ada ditanganku.
Aku pun memulai dari bawah lagi. Bersama Kisame dan teman-temannya di Band 'Akatsuki'.
Tujuanku adalah ketika aku akan berhasil di dunia musik dengan caraku sendiri dan ketika berhasil, aku akan memperbaiki hubunganku dengan adik-adikku.
Shissui, 16 tahun
Rasanya aku terlalu kejam pada kak Itachi. Tapi memang harus begitu. Dia selalu merasa dirinya paling menderita di dunia ini. Padahal tidak hanya ia saja yang menderita karena perceraian ini. Hanya karena dia bisa menunjukkan penderitaannya dengan memberontak bukan berarti dia paling menderita. Hanya karena dia seorang yang terlihat di depan kamera bukan berarti dia paling menderita.
Lensa kamera hanya bisa melihat sepotong dari dunia seseorang. Sepotong tidak bisa mewakili keseluruhan. Untuk melihat semuanya, potongan-potongan itu harus disatukan. Aku, kan, jadi seseorang yang menyatukan potongan itu. Melalui lensa kameraku.
"Sasuke lihat kamera, dong", kataku menggoda Sasuke sekaligus untuk mencoba kamera baruku.
Sasuke hanya menoleh sebentar ke arahku lalu kembali menggambar di buku pelajarannya.
"Sasuke."
Sasuke tetap fokus pada coretan-coretan yang dia buat.
Dan saat itulah aku tahu siapa yang paling menderita. Dia yang terakhir tahu bahwa dunia sesungguhnya tidak baik-baik saja.
Sasuke, 11 tahun
Kak Itachi menjadi vokalis band. Ia punya tujuan untuk menjadi bintang lagi.
Kak Shissui belajar mengenai foto dan videografi.
Hanya aku disini yang tak punya tujuan.
.
.
.
Itachi, 19 tahun
Akatsuki akhirnya mendapatkan kontrak dari major label. Walau belum mendapatkan hasil yang bagus tapi kontrak ini langkah awal ke tahap selanjutnya. Ini merupakan kesuksesan kecil dan aku ingin menunjukkan pada Shissui. Ya, sejak Shissui mengataiku egois, aku tidak bisa menghadapinya dengan benar. Aku selalu fokus pada latihan dan menghabiskan waktu bersama teman-teman bandku. Aku hanya ingin menjadi kakak yang bisa dibanggakannya. Oleh karena itu, aku harus sukses dulu baru menemuinya kembali.
Hari ini aku sengaja menjemputnya dari bimbel. Tentu saja aku tidak memberitahunya. Aku jarang berkomunikasi dengan dia meski berada dalam satu rumah, apalagi lewat chat. Apa aku harus bilang 'Hei, ini kakakmu, mau menjemputmu' atau 'Hei, aku ingin menraktirmu', atau 'Hei, bagaimana kalau kita pulang bersama', ah itu memalukan. Maka, aku langsung saja menunggu di tempat dia bimbel.
Ketika jam menunjukkan angka 07.00 pm, segerombolan orang keluar dari tempat bimbel itu. Aku semakin gugup. Kunaikkan syalku hingga menutupi hidungku dan kuturunkan topiku. Atau sebaiknya aku pura-pura tidak sengaja lewat sini dan bertemu dia. Ah mungkin itu ide bagus.
"Loh, kak Itachi."
Aku berbalik. Shissui berdiri dihadapanku dengan kamera terarah padaku. Bunyi shutter kamera terdengar.
Shissui, 18 tahun
"Jadi, karena aku ingin merayakan hal itu maka aku ingin menraktirmu."
Ternyata Itachi menunggu keberhasilan dirinya sebelum memperbaiki hubungan dengan adik-adiknya. Ia masih begitu bodoh dengan saudaranya sendiri. Ia mudah berteman dengan orang lain tapi tidak dengan adik-adiknya. Dasar payah.
"Hanya aku saja?", tanyaku
"Ini sudah malam apa Sasuke boleh ikut?"
"Sasuke, kan, bukan anak kecil lagi. Dia sebentar lagi mau SMA."
"Oh."
Kami hening.
"Sasuke pasti membenciku," katanya tiba-tiba.
"Itu hanya perasaanmu saja, kak."
"Aku pernah bersikap buruk padanya."
"Lalu bukankah ini saat yang tepat untuk memperbaiki semuanya. Sekalipun ia membencimu, kau tidak bisa mengacuhkannya begitu saja, kan?"
"Ya. Karena aku seorang kakak."
"Maka bersikaplah seperti seorang kakak, jangan malah aku yang jadi kakakmu."
Itachi tertawa. "Bukan aku yang kekanakan tapi kau itu adik yang bisa diandalkan. Hahaha." Ia mengacak-acak rambutku.
Aku pun tersenyum.
Malam ini kami mengawali semuanya kembali. Itachi mengajak kami berdua di makan malam sebuah restoran dan memesan meja khusus sehingga kami tidak terganggu oleh tamu lain. Aku saling melempar candaan pada Itachi, namun Sasuke lebih banyak diam saja. Jadi, aku menginjak kaki Itachi kemudian melirik ke Sasuke.
"Ahaha, sebentar lagi kau masuk SMA. Kau masuk SMA mana Sasuke?" tanya Itachi pada Sasuke.
"Biar ibu yang pilihkan," jawab Sasuke.
"Oh, ibu pasti memilihkannya di Sharingan Highschool. Wah, berarti kita harus berpisah Sasuke," kataku untuk menghindari keheningan.
"Eh." Itachi dan Sasuke terkejut.
"Ah, ya, aku mau jurusan perfilman. Dan Universitas Nakano yang jurusan filmnya bagus."
"Tapi, aku sebentar lagi bakal sibuk rekaman dan promosi. Sasuke, kan, sendirian."
"Aku tak apa-apa, kak. Aku bukan anak kecil lagi."
Sasuke tersenyum pada kami berdua. Meski dibalik senyum yang indah itu, terdapat jiwa yang kosong.
"Oh, jadi kau sudah besar. Tidak lagi mengikutiku kemana-mana dan mengajakku bernyanyi bersama."
" Hahaha. Aku sudah bisa menyanyi sendiri kok."
Sasuke kemudian menyanyi nyanyian dengan nada tinggi. Aku dan Itachi terpukau mendengar suaranya yang lembut seperti perempuan.
"Keren. Sepertinya bagus jika kalian menyanyi bersama," kataku.
"Bagaimana kalau kita bertiga? Kita karaokean dan seru-seruan bersama," usul Itachi.
"Tapi kita tidak boleh pulang malam."
Sasuke, 13 tahun
Kak Itachi membelikanku sebuah gitar akustik padaku.
'Mainkan jika kau merasa kesepian dan anggap itu aku sedang menemanimu. Karena musik yang bisa memahamimu.'
Ia juga mengatakan itu. Melalui pesan chat tentu saja.
Dan kak Shissui membelikanku iPod dan headphone khusus. Sebelum meninggalkan rumah untuk studinya, kakak Shissui mengatakan semuanya padaku.
"Sebenarnya tiap malam ibu sering bertengkar dengan ayah, hanya saja agar kau tidak terbangun aku selalu memasang headset padamu. Maaf, tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padamu."
Aku bingung harus menjawab apa.
"Aku merasa saat itu hanya musik yang bisa memahamiku. Aku harap musik bisa memahamimu. Maka aku lakukan itu padamu."
Kak Shissui mengusap-usap kepalaku. Ia tersenyum hangat padaku dan berjalan menjauhiku. Ingatan kepergian kak Itachi yang kabur dari rumah terlintas di kepalaku. Seandainya aku mampu menahannya saat itu mungkin aku bisa mengubahnya menjadi orang yang lebih baik atau membuatnya tak dimarahi ayah dan ibu. Seandainya aku mampu menahannya dan berkata aku juga ingin keluar dari Konoha Ent untuk bersamanya, mungkin... mungkin... aku tidak akan sendirian. Kutarik baju kak Shissui.
"Aku ingin bersama kakak. Bisakah kau tetap tinggal bersamaku?"
Kak Shissui memelukku erat. "Aku akan selalu bersamamu."
Tapi, mereka tetap meninggalkanku.
.
.
.
Sasuke, 15 tahun
Pada akhirnya aku masuk SMA Sharingan Highschool dan ikut klub paduan suara. Jika kau bertanya alasannya apa, maka aku jawab karena semua orang disekitarku bilang suara bagus mirip Itachi 'Akatsuki' sayang jika tidak dilatih. Ya, aku turuti kata-kata mereka karena aku memang tidak punya tujuan.
Disini aku bertemu beberapa kakak kelas yang dulunya masuk ke Konoha Ent. Mereka juga masuk ke klub paduan suara. Awalnya aku senang bertemu mereka, rasanya seperti reuni. Saat latihan perdana, aku menyapa mereka.
"Oh, ternyata benar kau adiknya Itachi. Jangan karena kakakmu sudah terkenal, aku jadi baik padamu." Begitu respon kak Neji saat aku bertanya bagaimana kabarnya.
Aku hanya mengernyitkan dahi. Dulu saat kami masih di Konoha Ent dia selalu baik padaku. Mengajakku bermain dan mengajariku banyak hal. Beruntung aku sudah terbiasa menghadapi situasi ini, situasi ketika kau sadar bahwa dunia sedang membohongimu. Kuabaikan saja omongan-omongan menyakitkannya. Kadang-kadang kubalas, sih.
Respon yang sama juga diberikan oleh kak Kiba. Apalagi jika aku sendirian bersama para anggota Konoha Ent, mereka tak segan-segan menghina kakakku yang beruntung karena terlahir di keluarga penyanyi. Tapi jika aku bersama mereka dan teman-teman lainnya, mereka bersikap manis padaku. Ternyata kehidupan di Konoha Ent penuh kepalsuan, pantas kak Itachi dulu tidak betah.
Sekarang kak Itachi sudah dikenal bersama Akatsuki-nya. Lagu-lagu mereka selalu menempati tangga teratas di list lagu populer. Dia berhasil menjadi bintang tanpa bersikap palsu seperti saat di Konoha Ent. Dia berhasil menjadi dirinya sendiri. Karena itu tak peduli apa yang dikatakan orang, aku tetap bangga mempunyai kakak seorang bintang rock, Itachi.
Diam-diam aku mengagumi kakakku dan berharap mempunyai teman-teman band yang bisa memahamiku seperti teman-teman kak Itachi padanya. Bukan teman-teman yang berbaik hati padaku hanya karena aku adiknya Itachi Akatsuki atau anak artis.
Hari ini aku ada latihan paduan suara. Ketika sedang menyamakan suara, seseorang dibelakangku menepuk bahuku. Seorang pria berkacamata bulat dan rambut berwarna kuning. Setahuku dia bukan anggota paduan suara, atau mungkin dia baru masuk.
"Hei, kau Sasuke, kan?"
"Siapa?"
"Aku boleh minta bantuanmu tidak."
"Apa?"
"Ku jelaskan setelah selesai latihan membosankan ini. Dan jangan bilang ada penyusup."
Begitu sesi latihan diakhiri, aku diseret ke sebuah ruangan yang bertuliskan klub musik. Dibuangnya kacamata bulat ke meja ruangan itu. Ruangannya penuh coret-coretan artistik dan ada gitar akustik yang cukup bagus dan dua gitar elektrik. Dia mempersilahkan aku duduk di sebuah kursi. Dia lalu membungkuk dalam-dalam dan berkata, "Tolong bantu aku agar klub ini tidak dibubarkan. Jadilah anggota bandku."
"Memang apa alasanmu?"
"Karena kau satu-satunya yang potensial. Aku pernah melihatmu memainkan gitar lewat di kelas seni musikmu. Suaramu juga bagus. Dan,..." Wajah pria itu memerah.
"Dan apa?"
"Dan,... dan,... nggg... kau imut."
"Oh, kukira karena aku adiknya Itachi Akatsuki."
"Akatsuki itu apa?"
Gubrak. Aku heran orang itu hidup dimana hingga tidak tahu Akatsuki padahal seluruh dunia tahu mengenai Akatsuki. Dan, saat dia mencari tahu mengenai Akatsuki di internet, dia malah berkata,
"Oh, aku tahu band ini tapi aku ga tahu kalau vokalisnya itu kakakmu. Aku kurang update padahal Neji dan kawan-kawan sering bicara tentang Akatsuki."
"Kau kenal dengan Neji, Kiba, dan kawan-kawan?"
"Siapa yang tidak tahu tentang anggota Konoha Ent. Aku dendam kesumat dengan mereka. Dulu meminta Neji, jadi, vokalisku dan dia bilang musikku merusak telinga!"
"Memang musikmu seperti apa?"
Si jabrik kuning itu mengambil gitar eletrik dan menyalakan effectnya. Dia mulai memainkan sebuah melodi yang liar dan meraung-raung. Lebih keras dan bebas dari melodi gitar khas musik rock. Permainannya menggetarkan jiwaku. Aku ingin bebas seperti musik yang dimainkan rambut jabrik itu.
"Woh, keren," kataku begitu dia mengakhiri permainannya.
"Jadi, kau mau membentuk band bersamaku, kan?" Ia menyodorkan tangannya.
"Ya." Aku menepuk kuat-kuat tangannya.
"Tapi, ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu."
"Naruto Uzumaki. Panggil saja Naruto."
Akhirnya, aku menemukan mimpiku.
Aku ingin bermusik dengan bebas.
Shissui, 20 tahun
Hari ini aku pulang ke rumah dan melihat Sasuke memainkan gitar dengan melodi khas musik metal. Saking asyiknya bermain, ia tidak sadar aku memperhatikannya dari pintu kamarnya.
"Sasuke."
"Oh, kakak, kapan pulang?"
"Barusan."
"Ayo, kak, kita main gitar bareng."
"Sasuke, Shissui baru pulang. Biar dia istirahat dulu," kata ibu yang tiba-tiba muncul dibelakangku, "Sekarang Sasuke ikut-ikutan kakaknya, bikin band berisik."
Wajah Sasuke cemberut ketika ibu menyebutnya band berisik.
"Baguslah, semoga sukses dengan bandmu."
"Terima kasih, kakak."
Untuk pertama kalinya sejak perceraian ayah dan ibu, dia kembali ceria. Matanya tak lagi hampa. Aku tahu, sekarang ia sudah punya tujuan di dalam hidupnya.
.
.
.
Sasuke, 17 tahun
Karena Naruto adalah kakak kelasku, dia pun lulus lebih dulu. Kini dia di Universitas Sharingan, tapi ada kalanya kita hangout bersama. Seperti sore ini, kami janjian menonton gigs musik di live house dekat tempat tinggal kami. Sambil antri membeli tiket, kami mengobrol beberapa hal,
"Hoi, bagaimana dengan klub musik kita?"
"Aku keluar."
"Kenapa? Kudengar banyak anggota baru."
"Ya, kebanyakan adalah perempuan fans kakakku. Mereka masuk hanya untuk menanyakan kakakku dan sebagainya. Bukan untuk belajar musik. Tentu saja aku kesal. Memangnya klub musik itu fans clubnya Akatsuki?"
Mendengar keluh kesahku, Naruto malah tertawa terbahak-bahak.
"Apalagi mereka suka menyuruhku menyanyikan lagu-lagu Akatsuki. Biar berasa dinyanyiin Itachi live, kata mereka. Padahal aku bukan kakakku."
Kali ini mata Naruto sampai berair. "Cukup Sasuke. Kelakuan fangirl kakakmu bisa membuatku mati ketawa."
"Yuk, ke depan daripada ngomongin fangirl Itachi," kataku setelah mendapatkan tiket.
"Yap."
Seperti itulah kegiatanku sejak berteman dengan Naruto, kami memainkan musik, menonton live band-band indie, dan terkadang main game. Latihan di studio kecil milik Naruto dan berpura-pura sedang berada di panggung besar. Meski cuma pura-pura tapi aku senang karena aku begitu bebas.
Setelah melihat pertunjukkan band yang ingin kami lihat, Naruto pamit pulang duluan. Katanya mau mengerjakan tugas kuliah. Sedangkan aku pergi membeli makanan kecil di minimarket dekat Live House. Saat aku memilih-milih makanan, ada dua orang menunjuk-nunjuk ke arahku. Kupikir aku hanya ke-GR-an, jadi, aku berputar beberapa kali di lorong minimarket. Pura-pura memilih sesuatu.
Aku melirik kedua orang tadi. Mereka masih saja bisik-bisik dan menunjuk ke arahku. Kemana aku pergi, mereka mengikuti. Keringat dinginku bercucuran, sesegera mungkin aku harus menjauh dari mereka berdua. Apalagi salah satu dari mereka memakai masker, jangan-jangan mereka akan menculikku.
Aku asal mengambil makanan dan kemudian ke kasir. Setelah menscan barang, ia menyebutkan total harganya. Aku hendak mengeluarkan uang dari dompet tapi seseorang dibelakangku mendahuluiku.
"Aku saja yang bayar. Sekalian rokok, ya?"
Aku menoleh kebelakang. Dua orang mencurigakan tadi berdiri tepat di belakangku. Otakku menyuruh lari, namun aku terdiam terpaku disana.
"Hei, ini punyamu", pria bermasker itu menyerahkan plastik berisi belanjaanku.
Aku menerimanya dan membungkuk dalam-dalam, "Terima kasih."
"Sudah-sudah. Kau adiknya Itachi-Akatsuki, kan?"
"Ah, ya."
"Wah, aku tak menyangka kau suka musik seperti ini. Aku Yamato, promotor band-band indie."
"Aku Kakashi, yang jadi panitia gigs-gigs yang biasa kau datangi."
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Setahuku mereka termasuk orang penting dalam dunia musik. Yah, sebenarnya aku tak tahu juga, tapi aku mengganggap orang yang berada di dunia musik dan kenal kakakku itu orang penting. Tapi apa untungnya mereka mengenalku, aku tidak berbakat seperti kakakku.
"Bisakah kau memberiku kontakmu? Mungkin aku membutuhkan dirimu suatu saat."
Meski aku tidak yakin tapi aku tetap memberikan nomor Hpku sebagai balasan atas snackku.
Itachi, 23 tahun
Jarang sekali aku berkomunikasi dengan adikku. Bukan karena aku sibuk, tapi aku tak tahu cara menghadapi saudaraku sendiri. Apalagi mereka sering kutinggalkan saat kecil. Rasa bersalah terhadap mereka sering membuatku tidak nyaman jika bersama mereka. Terutama pada Sasuke. Dia yang dulu menahanku agar tidak kabur dari rumah dan aku tidak mempedulikannya. Memang benar saat itu aku masih remaja dan sangat emosional sehingga bersikap seperti itu, tapi sedikit banyak sikapku saat itu pasti menyakitinya.
Dan jarang sekali Sasuke menggangguku. Tapi kali ini dia mengirimkan sebuah chat padaku,
'Kak, aku ditawari jadi vokalis band sama Kakashi-senpai'
'Trus kenapa?' balasku. Sungguh singkat dan terkesan tidak peduli.
'Aku bingung. Bagaimana kalau aku tidak cocok dengan mereka?'
'Tidak cocok itu masalah nanti. Kalau kau suka ngeband tidak masalah, kan? Kalau tidak cocok, kau bisa keluar dan cari band baru lagi. Gagal itu bagian dari hidup, yang penting bagaimana kamu bangkit setelah gagal. Tetap semangat!'
Sent. Aku menghela nafas lega. Kubaca lagi pesanku dan aku merasa malu. Pesanku seperti pesan seorang kakak yang baik dan benar.
Shissui, 22 tahun
Itachi mengirimkanku sebuah screenshot percakapannya dengan Sasuke. Dibawah screenshot itu terdapat pesannya,
'Apakah aku sudah menasehatinya dengan benar? Aku tidak menyesatkan, kan?'
Aku tertawa. Aku tak membalas pesan Itachi, tapi kemudian aku membuat grup chat untuk kami bertiga.
[Shissui] : 'Hoi, disini Shissui, mari ngobrol disini saja. Hei Sasuke, katanya kau mau jadi vokalis band, ya?'
[Sasuke] : 'Woah, kak Shissui bikin grup. Ah, ya, aku mau jadi vokalis band. Tapi darimana kakak tahu, kan, aku belum memberi tahu .-.'
[Shissui] : 'Itachi. Hei Itachi, nongol, dong. Mentang-mentang terkenal jadi lupa sama kami berdua. Kupecat kau jadi kakakku.'
[Itachi] : 'Berisik, Shissui. Yang ada kau menyesal nanti tidak punya kakak seorang bintang.'
[Sasuke] : 'Daripada punya kakak seorang bintang, mending punya adik seorang bintang. Iya, kan, kak Shissui?'
[Itachi] :'Kau baru calon bintang Sasuke. Tak usah percaya diri dulu.'
[Shissui] : 'Kakak macam apa yang malah menurunkan kepercayaan diri adiknya. Memang pantas dipecat jadi kakak.'
[Sasuke] : 'XD. Tunggu, kak, nanti aku pasti lebih terkenal daripada kakak.'
[Itachi] :'Kalian. Adik-adik kurang ajar!'
Malam ini aku mengesampingkan tugas kuliah lebih dahulu. Sudah lama kami bertiga tidak berkumpul karena kesibukanku dan Itachi. Meski aku sesekali pulang ke rumah tapi aku tak bisa menjaga Sasuke seintens dulu. Atau mungkin Sasuke sudah tidak perlu dijaga. Ia sekarang sudah bisa memutuskan jalan hidupnya sendiri. Dulu Itachi menjadi bintang karena keputusan ayah, sedangkan Sasuke karena keputusannya sendiri. Manakah diantara keduanya yang akan jadi bintang yang sinarnya paling terang? Aku sendiri tak peduli itu, karena akulah langit malam yang membuat mereka bersinar lebih terang.
I WILL BE FOREVER WITH YOU
.to be continued.
Curhat Author :
Disini emang aku banyak nyeritain tentang Sasuke, karena... castnya Sasuke itu anak terakhir atau anggap aja Hiro. Sebenernya aku punya alasan sendiri kenapa lebih bahas anak terakhir, well, alasannya ada di chapter 3.
Judul tiap chapter berdasarkan judul lagu aja, seh... Chapter pertama pake lagunya OOR, yang ini pake lagunya MFS (ga kreatif). Bagian Sasuke dan Naruto awalnya mau kubikin Sasuke dan Sakura, tapi setelah kupikir-pikir aneh aja, temenan lama antar cowok cewek masa ga ada romancenya. Jadi, kuganti sama Naruto. Berarti kalo ada salah tulis Sakura itu kelewatan ngeditnya. :p
Btw, alasan aku deskripsiin suara Sasuke itu lembut itu karena terpaksa. Iya, karakternya Sasuke suaranya ngebass dan serak-serak gimana gituh. Tapi karena mengacu Hiro MFS yang suaranya tinggi kek cewek, jadi kutulis lembut. :3
To : Hannysha
Thanks udah meninggalkan jejak. Aku penggemar Sasuke garis keras, jadi banyakan porsi Sasuke di chapter ini, hehehe
[Last Chapternya kepending karna aku ga tahu kenapa bisa rusak. Coba besok aku upload dari tempat lain, coz dari laptop aku udah upload berulang-ulang tetep rusak. ]
