It's All About Choi.
Main Cast:
-Choi Kibum
-Choi Siwon
Other Cast:
-Choi Jiyoung
-Choi Donghae
Others…
Genre: GENDERSWITCH,very bit romenace, full of typos, dll…
Author: Muftia Parasati
WARN: If u hate SiBum, just click "Back".
If u won't read this, just click "Back".
Need more warning?
.
-Story Start-
.
-Kibum's room-
Hari yang berat.
Kibum menatap malas Jiyoung yang sedang mengobrak-abrik almari pakaian Kibum. Sedang mencari pakaian yang bagus untuk dipakai Kibum ke tempat kontes model tersebut.
"Aigo~ kenapa tak ada baju bagus di almarimu, Bummie? Rasanya eomma sering membelikanmu baju!" gerutu Jiyoung. Kibum memutar matanya malas.
Jiyoung memang tipe yeojya yang sangat stylish dan rajin pergi ke butik. Sekalipun Jiyoung pergi ke butik yang menjual baju paling murah se-Seoul, namun ia bisa memilah-milah baju mana yang bagus dan yang tidak. Dan kini ia tengah di landa kebingungan, karena tidak ada satupun baju Kibum yang bagus di matanya.
Jiyoung berbalik dan menatap Kibum.
"Kibum, bersiap! Ikut eomma pergi ke butik!" titah Jiyoung, kemudian pergi keluar kamar Kibum.
Setelah yakin Jiyoung sudah keluar dan jauh dari kamarnya, Kibum mengambil bantal dan menenggelamkan wajahnya di bantal itu. Kemudian ia berteriak.
Sepertinya itu berhasil membuatnya sedikit lebih baik.
.
-On street-
Jalanan yang cukup ramai saat ini. Kibum dan Jiyoung sedang dalam perjalanan menuju butik langganan Jiyoung. Dengan menaiki mobil pribadi, Jiyoung nampak sangat bahagia saat menjalankan mobil itu.
Sedangkan Kibum, saat ini ia sedang berkirim pesan dengan Ryeowook dan Sungmin, temannya, dan diselingi dengan Donghae. Kibum sedang curhat dengan MinWook, dan juga menjawab pertanyaan Donghae melalui SMS.
Trrrrttt… ponsel Jiyoung yang diletakkan di dashbor bergetar.
"Bummie, tolong diangkat."
Kibum mengambil ponsel Jiyoung dan melihat si penelpon.
'Seunghyunnie'
Tut.
"Yeoboseyo, appa?"
"Ah, apa ini Kibummie?"
"Ne, ini aku."
"Eomma-mu mana?"
"Eungg… eomma sedang menyetir, jadi tidak bisa bicara saat ini. Ada apa?"
"Menyetir? Apa kalian juga bersama Donghae?"
"Aku hanya berdua dengan eomma. Oppa ada di rumah."
"Baiklah. Appa hanya mau bilang hari ini pulang larut. Sampai jumpa chagiya. Hati-hati di jalan."
"Nae appa."
Tut.
"Appa bilang apa?" tanya Jiyoung.
"Pulang larut." Jawab Kibum.
Jiyoung mengembangkan senyumnya."Kalau begitu, kita harus cepat sebelum Hae mati kelaparan."
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah toko butik. Di depan toko itu berjejer berbagai macam baju yang terlihat mewah.
Kibum masuk ke dalam mengikuti Jiyoung. Sesampainya di dalam, ia telah disambut seorang yeojya pramuniaga dan seorang kasir yang membungkuk hormat ke arah Jiyoung dan Kibum.
"Selamat datang, nyonya."
Jiyoung tersenyum sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut toko tersebut. Ia berjalan menuju salah satu stand tempat berbagai baju 'anak muda' berjejer rapi. Kibum mengikutinya. Dua pramuniaga tadi pun juga mengikutinya.
Jiyoung mulai memilah-milah baju yang ada di stand itu. Mengambilnya lalu mencocokkannya dengan tubuh Kibum yang ramping namun tinggi. Tidak cocok, ia letakkan lagi.
Kira-kira, sudah 30 menit Jiyoung berputar-putar di toko itu. Kibum sendiri sudah duduk di sofa khusus tamu yang ada di dekat kasir.
"Kibummie, sini!"
Kibum kembali menghampiri Jiyoung, lalu menatap sebuah kemeja yang sedang dipegang Jiyoung.
Merasa Kibum sudah didekatnya, Jiyoung mendekatkan kemeja itu ke tubuh Kibum. Mata Jiyoung melihat kecocokan kemeja berwarna abu-abu muda itu.
"Bagus." Ia memberikan kemeja itu kepada si pramuniaga. "Tolong dibungkus."
"Baik."
Kibum menatap Jiyoung yang sedang mengubek tasnya untuk mengambil dompet.
"Eomma… apa kau kesini hanya untuk mendapatkan kemeja itu?" tanya Kibum, sedikit berbisik. Namun Jiyoung dapat mendengarnya. Ia tersenyum, lalu mengelus kepala Kibum.
"Eomma tahu, pasti aneh untukmu, setelah berputar-putar selama setengah jam hanya untuk menemukan kemeja itu. Tapi eomma akan memadukan kemeja itu dengan pakaian lain di almari eomma. Tenang saja chagiya. Soal fashion, eomma jagonya."
Kibum mengangguk. Matanya kini tertuju pada sebuah tas yang berisi kemeja yang tadi dipilih Jiyoung.
Setelah membayar, Jiyoung mengambil tas itu lalu keluar dari butik itu.
"Silahkan datang kembali."
Kibum mengangguk sambil tersenyum, kemudian mengikuti Jiyoung.
"Eomma, setelah ini langsung pulang?"
Jiyoung men-starter mobil Audi putih mahalnya."Beli makanan dulu untuk Hae. Memangnya kau tidak lapar? Eomma sudah lapar sekali."
"Ya, ya. Terserah eomma."
.
-Choi's mansion-
"Eomma pulang!" Jiyoung membuka pintu rumah mewahnya dengan tentengan satu tas kecil dan satu tas besar. Yang satu berisi kemeja Kibum, dan satu lagi berisi makanan untuk keluarganya.
"Eomma! Kenapa lama sekali!" seru Donghae sambil turun dari kamarnya di lantai dua. Jiyoung hanya tersenyum menanggapi putra sulungnya itu. Kemudian ia berjalan menuju dapur untuk meletakkan makanan yang dibelinya.
Namun, sebelumnya ia memberikan kemeja itu kepada Kibum. "Ingat, jangan keluarkan kemeja itu sampai besok. Dan jangan letakkan kemeja itu di tempat yang tidak terlihat. Eomma tidak mau menghabiskan waktu untuk mencarinya." Tutur Jiyoung. Kibum mengangguk, lalu mengambil tas berisi kemejanya dan beranjak menuju kamarnya di lantai dua.
"Ganti baju dulu lalu makan, Bummie!" teriak Jiyoung.
Kibum mengangguk pelan meski tahu Jiyoung tidak akan melihatnya.
Setelah sampai di kamarnya, ia merebahkan dirinya di kasur. Kibum menghela napas berat. Hari berat pertama selesai, hari berat kedua akan segera dimulai.
"Kibummie, cepat turun!" Jiyoung kembali berteriak. Ya ampun, kenapa eomma Kibum cepat sekali menghidangkan makanan? Bahkan Kibum belum sempat bernapas lega.
Dengan ogah-ogahan, Kibum berjalan menuju almarinya dan mengambil sepasang baju santai. Sebuah tanktop berwarna putih dan celana pendek selutut berwarna hitam. Lalu ia keluar kamar dan menuju ruang makan.
Sesampainya disana, sudah ada Jiyoung yang sedang merapikan piring dan Donghae yang mengayun-ayunkan kakinya karena tidak sabar. Menyadari kehadiran Kibum, Donghae menoleh dan menatapnya tajam. Ia melirik bangku di sampingnya, pertanda menyuruh Kibum duduk disana.
Setelah duduk, Donghae berbisik, "kenapa lama sekali? Kau tahu kan betapa menderitanya aku menunggu kalian?"
Kibum mendengus. "Ne~ mianhae. Eomma, kita hanya makan bertiga?"
Jiyoung menatap Kibum, lalu tersenyum manis. "Ne. Kita tidak mungkin menunggu appa untuk makan malam, bisa-bisa Hae mati kelaparan." Jawab Jiyoung, membuat cengiran lebar di muka ikan Donghae.
Kemudian, Jiyoung duduk di kursi di depan Donghae. Ia menatap kedua anaknya bergantian.
"Selamat makan."
.
-A day later-
Tok tok tok…
"Kibummie, bangun! Cepat bersiap ke kontes model, sayang! Eomma tidak mau kau terlambat!"
Kibum menggeliat saat telinganya menangkap teriakan khas seorang Choi Jiyoung. Mata beningnya perlahan terbuka. Lalu, tangannya bergerak ke meja nakas di samping tempat tidur. Bermaksud mengambil jam weker berbentuk kelinci.
Ia mengucek matanya, lalu menajamkan matanya, melihat arah jarum panjang dan pendek di jaw wekernya. Kemudian menghela napas.
"Pantas eomma sudah berkoar. Iya eomma! Aku keluar sebenar lagi!"
Kibum bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi. Berendam air hangat sepertinya bisa merilekskan tubuh.
"Kibum, eomma masuk, ne?"
Jiyoung membuka kenop pintu kamar Kibum dan berjalan menuju almari Kibum. Mencari kemeja yang sudah disuruhnya untuk disimpan.
.
Another POV
"Kontes model, ya…"
Seorang namja tampan berbibir joker menatap halaman iklan sebuah majalah yang sedang dipegangnya. Matanya menelusuri tiap kata yang tertera di halaman itu.
"Siwon, bukankah kau juga menjadi juri untuk kontes itu?" seorang wanita berwajah cantik dan tinggi semampai mendekati namja tampan itu dan duduk di sampingnya.
Namja itu –Siwon- menganggukkan kepalanya. Ia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.
"Kau tidak ikut kontes ini, noona?" tanya Siwon. Yeojya itu menggeleng pelan.
"Aku sudah diberi warning alert. Lagipula, namjachinguku penyelenggara kontes ini, tau." Kata yeojya itu.
"Jadi, tidak akan legenda menang 5 kali berturut-turut untuk Kim Heechul?"
Yeojya itu –Heechul- tersenyum. Ia menghela napas panjang.
"Legenda itu suatu saat nanti akan digantikan seseorang."
.
-Choi's mansion-
"Baiklah, sudah siap." Jiyoung menatap puas kepada Kibum yang sudah berpakaian sesuai perintahnya. Kemeja yang kemarin mereka beli dipadukan dengan sebuah hotpants pendek berwarna hitam. Lalu dengan jaket berbahan kaos tanpa lengan berwarna abu-abu tua.
Dan jangan lupakan riasan pada wajah Kibum yang sudah dibuat sedemikian rupa oleh Jiyoung. Mata beningnya yang sekelam malam dibingkai dengan bulu mata lentik yang sudah sedikit diberi mascara tipis. Jiyoung tahu Kibum tidak bisa memakai terlalu banyak make-up karena wajah Kibum akan terlihat aneh dengan taburan dan ulasan-ulasan kosmetik itu di wajah manisnya itu. Jadi Jiyoung hanya menambahkan seulas tipis lipgloss bening tipis pada bibir merah Kibum dan tepukan bedak di pipi bulat Kibum. Tambahan, semuanya hanya satu kali ulasan ataupun tepukan. Berlebihan bisa menutupi kecantikan alami Kibum.
Sekilas dengan pakaian dan riasan wajah itu, Kibum nampak cantik dan modis. Sama seperti ibunya.
"Kau makan dulu, ya. Lalu tunggu eomma di ruang tamu." Kata Jiyoung, lalu keluar dari kamar Kibum.
Kibum berjalan menuju meja riasnya. Ia mematut dirinya di depan cermin bulat besar itu. Memantulkan bayangan seorang malaikat yang diyakini adalah dirinya sendiri.
Kemudian Kibum berjalan keluar menuju ruang makan.
Setelah sampai, di hadapannya sudah tersedia sebuah meja makan yang diatasnya terdapat berbagai hidangan yang masih ditutup. Kibum membuka satu hidangan paling ujung yang wanginya menyengat harum.
"Galbi?" gumam Kibum.
"Kenapa ikan itu tidak makan?" gumam Kibum lagi, membuat seseorang di atas sana bersin keras.
Kibum mengambil duduk di paling ujung sebelah kanan. Ia mengambil piringnya dan mulai mengambil makanan. Memulai sarapan dengan sedikit anggun.
Beberapa menit kemudian, Kibum selesai dengan sarapannya. Ia menyeka bibir merahnya dengan tisu, lalu beranjak menuju ruang tamu.
"Kibummie… sudah makan?"
Sebelum Kibum berhasil mendaratkan pantatnya di sofa yang empuk, sebuah suara menginterupsinya.
"Ne, eomma."
"Ah, lihat eomma, Bummie. Memangnya eomma terlihat seumuran denganmu?"
Kibum menoleh ke arah Jiyoung yang berada di sampingnya. Sontak Kibum terkejut dengan penampilan Jiyoung.
Ya, eomma-nya itu memang modis atau kelewat fashionable? Jiyoung memakai jins panjang berwarna hitam, dipadukan dengan kemeja berlengan panjang berwarna putih dan jaket berbahan kaos tanpa lengan berwarna hitam. Dan jangan lupa tas hitam yang terselempang di tubuh rampingnya. Ampun, bahkan Kibum yakin saat kontes itu, Jiyoung-lah yang dipilih, bukan Kibum.
"Eomma, kenapa kau memakai pakaian itu?" tanya Kibum. Jiyoung tersenyum malu.
"Appa-mu bilang eomma cocok memakai pakaian ini." Jawab Jiyoung.
"Oh ya, eomma sudah makan?" pertanyaan Kibum sontak membuat mata Jiyoung berkaca-kaca.
"Kibummie.. kau masih ingat eomma sudah makan atau belum?" tanya Jiyoung.
"Aish.. eomma kalau belum makan, sebaiknya makan dulu." Ujar Kibum, sambil berdiri dari duduknya. "kalau eomma tidak makan nanti siapa yang akan menemaniku?"
"Aniya, eomma sudah makan kok, chagi."
Kibum mengangkat bahunya. "Baiklah, aku tidak memaksa eomma."
"Oke, ayo berangkat Bummie."
.
-Sharp City Building-
"Annyeong." Jiyoung menyapa resepsionis yang sedang sibuk berkutat dengan sesuatu. Resepsionis wanita itu tersenyum menanggapi Jiyoung.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Ah… anu, aku ingin menanyakan soal tempat kontes model.. bukankah disini?" sepertinya Jiyoung sedikit tersipu saat dipanggil 'nona' oleh si resepsionis.
"Benar. Kontes modelnya diselenggarakan di gedung ini di lantai 5. Silahkan menuju kesana. Apa Anda mau mengikuti kontes itu?" tanya resepsionis. Jiyoung tersenyum malu.
Kibum yang dari tadi diam maju mendekati resepsionis. "Jadi di lantai 5?"
Resepsionis itu terkejut karena Kibum yang bertanya tiba-tiba. "A-ah, iya, nona…"
"Ne, gomawo." Kibum menarik lengan Jiyoung. "Ayo, eomma…"
Dan resepsionis itu lebih terkejut saat mengetahui bahwa wanita cantik yang pertama bertanya padanya tadi adalah 'seorang wanita yang sudah menikah'.
.
"Ternyata aku masih muda. Pantas Seunghyunnie masih suka menciumiku." Gumam Jiyoung sambil tersenyum aneh. Kibum menatap sebuah aula besar yang berisi banyak orang, terutama para wanita cantik yang sedang mengantri.
"Eomma, kita harus daftar dulu?" tanya Kibum, memecahkan lamunan Jiyoung. "Ah, iya chagi. Lebih baik kau ikut mengantri disana. Eomma tidak menemanimu, ya."
Kibum mendengus, lalu berjalan menuju belakang antrian. Ia sedikit melongok menatap panjang barisan antrian itu.
'Sedikit lagi habis. Berarti sudah dimulai dari tadi?' pikir Kibum. Selagi menunggu antrian berjalan, Kibum mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan aula itu. Beberapa wanita dan ibu menunggui para wanita yang sedang mengantri ini. Termasuk Jiyoung yang sedang menatap ponselnya. Pasti sedang berkirim pesan dengan Seunghyun, appa Kibum.
Kibum kembali mengedarkan pandangan. Dan kini tatapannya tertuju pada seorang namja tinggi dan tampan yang sedang berdiri di dekat pintu ruang penyeleksian. Ia sedang berbincang dengan banyak orang.
Merasa antrian berjalan, Kibum maju selangkah. Tatapannya kembali pada namja tampan tadi. Namun ia sudah tidak ada.
'Cepat sekali namja itu perginya.'
.
SKIP TIME
Kibum sudah duduk di depan para juri di dalam ruang seleksi model. Di hadapannya, ada seorang yeojya berwajah sedikit jutek namun cantik dengan name tag di mejanya, Kim Heechul. Lalu disebelahnya, namja tampan berbibir joker yang tadi dilihat Kibum tengah tersenyum kepadanya. Name tag namja itu, Choi Siwon. Dan disebelahnya seorang namja tampan berbibir tebal yang sedang membaca-baca berkas di tangannya. Denga name tag, Choi Changmin.
"Jadi, Kim Kibum?" tanya Heechul. Kibum mengangguk. Ia ingat pesan eommanya sebelum ini.
"Ingat Kibummie, pasang senyuman mautmu!"
Tapi, rasanya sulit sekali menarik senyum saat ini, mengingat saat ini namja bernama Choi Changmin itu mulai menatapinya intens.
Kibum mengangguk menanggapi Heechul.
"Silahkan menceritakan tentang diri Anda."
Kibum menarik napas, lalu tersenyum. Killer smile mode on.
"Annyeonghaseyo, naneun Kim Kibum imnida. Lahir di New York pada tanggal 21 Agustus 19 tahun yang lalu. Pindah ke Korea 7 tahun lalu. Aku tidak begitu ahli di bidang modelling, tapi aku cukup berbakat di bidang akting. Alasanku mengikuti kontes ini,"
Kibum menjeda kalimatnya sejenak.
"Untuk memenuhi keinginan eomma-ku."
Heechul tersenyum. "Arraseo."
Siwon memegang dagunya sambil menatap Kibum. "Anda tentu tahu step dasar model, 'kan?"
"Berjalan diatas catwalk dengan high heels dan berjalan dengan anggun dan teratur…?" tebak Kibum, sedikit ragu. Itulah yang didengarnya dari teman-temannya yang ada di ekskul modelling.
"Coba kau peragakan cara berjalan seorang model."
Kibum berdiri kemudian membersihkan kemejanya sebentar. Lalu mengambil posisi dekat tembok kemudian berjalan dengan anggun. Tatapan mata Kibum yang teduh namun tegas, disertai dengan struktur wajah bak Putri Salju membuat Kibum nampak seperti seorang professional meski ini adalah pertama kalinya ia berjalan bak model sejak pertama kali berjalan seperti ini saat usianya 14 tahun.
Kemudian, Kibum kembali duduk.
"Hm, bagus." Siwon menuliskan sesuatu di kertas di hadapannya. "Anda lolos. Silahkan datang lagi untuk seleksi berikutnya setelah kami menelpon Anda."
Mata Kibum melebar. Ia tak menyangka kontes model seleksi pertama semudah ini.
"Anda pikir ini sedikit mudah, ya?" tanya Changmin. Kibum menggeleng pelan.
Kemudian Kibum berdiri, lalu membungkuk hormat kepada tiga orang itu.
.
-In the Hall-
"Kau lolos seleksi, Kibummie?" Jiyoung menghampiri Kibum yang baru keluar dengan wajah masih sedikit shock.
"Kibummie?" Jiyoung mulai sedikit cemas karena Kibum tak kunjung menjawabnya.
"Kau… tidak lolos?" tanya Jiyoung pelan.
Kibum akhirnya menatap Jiyoung. Senyum lebar dan pasrah menghiasi wajah putih Kibum.
"A-aku lolos, eomma…"
Air wajah Jiyoung pun akhirnya berubah ceria. Kemudian ia memeluk Kibum erat.
"Gomawo, Bummie… kau memang putri eomma yang terbaik!"
Kibum meraih lengan Jiyoung yang melingkar erat di lehernya. Sepertinya ada satu hal yang mengganjal di pikirannya.
Dan hanya Kibum dan author yang tahu hal tersebut. (Readers: #gebukin author#)
Jiyoung melepas pelukannya lalu menatap Kibum. "Ayo kita makan. Lalu ceritakan apa yang para juri katakan padamu, sayang."
.
.
.
TBC
.
A/N:
#pundung#
Chapter duanya gaje banget! Author lagi mengumpulkan inspirasi buat FF yang satu ini, mian ya kalo banyak kata yang nggak bisa dicerna, apalagi yang pas seleksinya si Mbum..
Author gak tau soal seleksi model ini itu lho.. jadi mian kalau scene diatas rada2 begitulah! Abis author males nyari referensi -.- #digaplok rame-rame
Ohya, banyak bgt yg marga Choi ya? Kalo diitung kira2 ada 6 orang kan? Benar gak? Bener gak? #ngitung#
Btw, chapter 2 sma chapter 1 sebelumnya itu sebenarnya satu part. Untuk memperkecil kemungkinan reader bakal nebak jalan cerita + bakal bosen, dibagi dua deh. Makanya chap 1 pendek :D
Jeongmal mianhamnida kalau chap ini jeleknya minta ampun. Mian ya~ miaaaan~~ #deep bow#
Okeh, sekian curcol dari author! Siapapun yang *sengaja gak sengaja* baca FF ini, yg baca, WAJIB REVIEW! Yang SIDER dapet dosa sendiri, seSUJU?
Gamsa~
