Disclaimer: Bleach? Hanya milik Tite Kubo seorang.
Chapter 2 : Claim
Ahh~
Lagi, kuhabiskan waktu pulang sekolahku di tempat keparat ini, bersama para pria-pria kesepian yang rakus setengah mampus.
Aku tidak akan berkalimat seperti itu jika aku sedang dengan Byaku-nii. Bisa mati aku. Tapi di sini, siapa yang bisa melarang Rukia Kuchiki? Tidak ada.
Aku juga tidak akan berkata seperti itu dengan keras dan jelas di dunia ini, tidak ada yang tahu Kuchiki princess yang satu ini punya sisi gelap.
Yah, mungkin para pria kesepian ini mengerti, tapi kurasa...tidak juga.
Di sini, bekas garasi mobil dr. Ishida, adalah tempat yang diikhlaskan oleh nyonya Ishida sebagai markas Uryuu kesayangan mereka dan teman-temannya menghabiskan waktu tanpa guna. Dan di sini jugalah aku selalu menghindar dari keadaan rumahku sendiri yang tidak menentu akhir-akhir ini.
"Hey, Rukia!" panggil Ichigo dari sudut tempat dia berkerumun dengan yang lainnya, melahap habis cake buatan nyonya Ishida.
"Hmm? Apa?" tanyaku sekenanya. Bersantai di sofa bekas ini ternyata gatal juga.
"Hehe...Ichigo ingin mengajakmu kencan! Ehehehe," sambar Renji nyengir, yang kemudian diikuti gelak tawa yang lain, Ishida, Hisagi, Shinji, kecuali Chad yang cuma nyengir tidak jelas.
Apa sih.
"HEH! Siapa bilang? Sembarangan! Hyaah," jerit Ichigo panik, mulai bergulat dengan mereka yang berani tertawa tadi. Tetap saja dia ditertawai...lebih nyaring.
Huufft...
Terlalu lama di sini juga akan membuatku terlibat masalah lain di rumah.
Aku beranjak dari sofa butut yang terasa makin gatal, menggapai tasku yang tergeletak hampa di atas lantai garasi tua, kemudian beranjak keluar, membiarkan para anak lelaki bodoh itu tetap seperti itu,...tetap bodoh hingga akhir dunia.
"Eh? Rukia? Kau sudah mau pulang?" ah, satu lagi bocah bodoh yang tertinggal, tampaknya ketinggalan rombongan saat pulang sekolah menuju kemari, jadi baru tampak sekarang.
"Ya. Kau uruslah mereka itu, semakin brutal," langkahku menjauh dari Ashido yang mematung di situ.
_.
_.
_.
"Aaakuuu pulaaanngg…!" teriakku untuk kesekian kali untuk intercom yang melekat di dinding samping pintu kayu tradisional itu.
Kutekan tombol bicara di situ lagi, "halllooo…bisa bukakan pintu untuk nona Kuchiki yang cantik iniiii?" kalimatku makin ngawur.
Tetap tak ada jawaban.
Lelah, aku duduk di anak tangga kecil di depan gerbang itu.
Langit makin gelap, huuh..kemana Nii-sama dan Nee-san? Dan kemana segelintir pelayan itu? Piknik bersama tanpaku? Sialan!
Tiba-tiba sebuah mobil yang begitu familiar bagiku berhenti tepat di depan tempat kududuk.
"Rukia-chan sayaaanngg!" suara riangnya tidak akan pernah kulupakan, begitu ia turun dari mobil itu, merentangkan tangannya menyambutku.
"Ka-kakek ?"
Ya, Kuchiki Genryu-sama, yang menolak aku panggil demikian sejak aku diadopsi keluarga ini.
"Kakek, kenapa kemari?" tanyaku disela-sela pelukan kematiannya. Ugh!
"Hohoho...Byakuya dan Hisana sedang ada urusan rahasia, jadi hanya kakek dan cucu yang berpesta malam ini!" jawabnya senang.
Kalian tahu? Sedikit, tapi kurasa Kakek mulai tertular sifat aneh dokter pribadinya, siapa lagi kalau bukan Kurosaki-san.
_.
_.
"Urusan apa, Kakek?" tanyaku begitu menyodorkan sepiring spageti kepadanya.
"Ohh, hanya ingin mengunjungimu, Rukia," jawabnya tidak mengerti.
"Bukan. Nii-sama dan-," jelasku pura-pura.
Ah, pura-pura.
Sepertinya aku mulai sangat pandai bermain peran, jadi anak baik yang bodoh, berpolah seolah buta pada keadaan.
"Urusan...perceraian," Kakek menjawab dengan santai.
Tentu saja aku tahu.
Mereka berdua, Byaku-nii dan Sana-nee, aku tahu itu.
"Oh," sahutku sekenanya.
Aku sudah mengira, akhir seperti ini akan terjadi.
Jadi, aku tidak akan berharap banyak. Tidak banyak.
Sesaat kusadari kakek menatapku penuh arti.
"Ada apa, Kakek? Apa aku tambah cantik?" godaku kering, sambil menuangkan air ke dalam gelasnya.
"Rukia…," ujar kakek, sepertinya sekarang serius.
"Hmm?" hanya kubalas gumaman tanpa melihatnya, masih terpaku pada gelas dan air yang kutuangkan. Sengaja.
"Jika nanti…mereka berdua sepakat untuk berpisah, tetaplah di sini, Nak," katanya resah, memandangku penuh harap.
"Kakek, aku-"
"Rukia, kakek berjanji, kami seluruh klan Kuchiki akan menjagamu dengan baik, memberimu yang terbaik, yang layak diterima oleh wanita sepertimu," ha? Kenapa suasananya seperti dalam Dinasti Ming ya?
Seluruh klan Kuchiki? Memangnya siapa aku?
Aku hanya anak pungut di keluarga ini, di klan sebesar klan Kuchiki aku hanya sampah, yang bisa dibuang kapan saja. Tapi, kenapa kakek berkata seperti ini?
Begitu berharganya kah aku? Oh, ayolah jangan membuatku yang sudah sedikit besar kepala ini jadi makin ge-er.
"Ah, Kakek. Jangan membuatku bingung. Hehe… Kakek bercanda 'kan?" ujarku asal, sembari main-main menonjok pelan lengan tuanya, seperti gaya anak muda, yang biasa kami berdua lakukan, "Memangnya aku akan pergi jauh? Sana-nee dan Byaku-nii belum tentu berpisah, lagipula…kalau jadi pun aku dan Sana-nee tidak akan pergi jauh-jauh dari kota ini, jadi aku masih bisa bertemu Kakek."
Setelah kalimat konyol dan gaya bicara yang kurang sopan kulontarkan padanya, Kakek tetap tidak merubah ekspresi wajahnya.
Mimiknya masih sama, deathly serious!
"Kek.." panggilku pelan.
"Rukia…kau tahu, di klan ini tidak pernah ada seorang wanita selama berabad-abad," ah, lebay. Pasti ada lah.
"Entah kenapa, egois atau apa, aku, orang tua ini, ingin sekali memiliki cucu perempuan. Tapi …menanti Byakuya dan kakakmu begitu lama…aku makin putus harapan," ekspresi orang tua di hadapanku ini makin lesu. Aku tidak tahu harus bekata apa, berbuat apa.
Sejenak sepi, kakek tidak bicara lagi. Matanya menerawang entah kemana. Ia terlihat benar-benar tua, tidak seperti biasanya.
Begitu inginnya kah?
"Tapi!" mendadak kakek menggebrak meja, membuatku mendongak kaget.
"Mereka berdua itu! Heh! Selalu saja banyak alasan, tidak bisa inilah, tidak bisa itulah, belum saat inilah, belum saat itulah. Mereka berdua itu, tidak mengerti, orang tua sepertiku ini tidak punya banyak waktu."
"Aah, iya iya, Kek. Tenang … tenang," aduuh, bagaimana ya? Kuberi kakek air minum yang ada di situ, aku akan lebih repot kalau serangan nyeri dadanya kambuh.
"Pokonya, Rukia," lanjutnya setelah meneguk segelas air, dan merasa lebih tenang, "kau harus tetap di keluarga ini, apapun yang terjadi pada dua anak bodoh itu."
Aku tidak berujar apa-apa.
Untuk apa? Kurasa tidak perlu, aku merasa tidak perlu beragumen sekarang, tidak di depan orang tua ini.
"Kau seorang Kuchiki. Kau adalah milik klan ini, milik kami," kata kakek mantab, menatap mataku dalam-dalam, meyakinkan bahwa aku berhak berada di sini, meski bukan berdarah asli. Meyakinkan bahwa aku boleh, harus, meninggalkan apapun, termasuk Sana-nee, untuk tetap berada di sini, di klan Kuchiki.
Aku tidak menanggapi. Tidak ingin menanggapi.
_.
_.
_.
Setengah hati kupaksa tubuh rapuh nyaris remuk ini bangkit dari alam kenyamanan tiada duanya di 02.45 a.m.
Hisana, oh my sweet lovely sister, mengoyakku dari ranjang, menjatuhkanku di lantai berkarpet tepat di bawah sini.
"Arrggh~," gerutuku bangkit dari keterpurukkan paling menjengkelkan, "apa? Apa lagi, Nee-san? Tidak bi-" keluh kesahku terhenti begitu kakakku ini membungkam mulutku seketika.
"Ru,Rukia, Rukia, dengarkan aku, Sayang," ya, aku mendengar, mau apa lagi? Aku dibungkam.
Dipegangnya wajahku ini, memaksaku sadar sepenuhnya untuk menyimak dengan benar setiap suku kata yang lepas dari bibirnya. Menatapku penuh makna, mengelus pipiku dengan kedua tangannya, serampangan, menyingkirkan setiap helai rambut yang menghalangi pandangannya.
"..mmm-ssn..," gumamku dalam bungkaman sesak itu.
"A,apapun yang mereka katakan padamu, jangan dengarkan. Aku, kita berdua, kita harus pergi dari sini, bersama! Ka,kau harus bersamaku, Rukia. Harus denganku! Harus!" ujar Hisana-nee bingung, resah, khawatir, semua terlukis jelas di wajahnya yang lembab, matanya yang sembab, kalimatnya yang tersendat, dan dalam isakkan tangisnya yang pecah tertahan.
Ia memelukku, seolah lima detik lagi aku akan tersapu angin dan menghilang.
Sesak. Tapi tidak kuutarakan.
Aku tidak pernah melihat Hisana-nee seperti ini sepanjang usia yang kulewati bersamanya.
Begitu ketakutan, takut seseorang mengambil miliknya, sesuatu yang tak akan dia dapatkan gantinya.
Dan saat itu ...aku tahu...sesuatu itu adalah aku.
_.
_.
"Sana-nee…"
Dia tertidur lelap, kelihatannya begitu, di ranjangku.
Entah apa yang terjadi padanya sebelum ini.
Aku terlalu lelah untuk ingin tahu.
Ughh…badanku remuk sejak siang tadi. Pelajaran olahraga melelahkan itu…sial!
Aku sungguh tidak bisa tidur. Pertama, badanku terlalu sakit untuk terlelap lagi untuk kedua kalinya malam ini. Kedua, ranjang ini dibuat khusus untuk bujangan, remaja, anak kost-an, anak tunggal, janda, duda, dan apalah yang seharusnya tidur sendiri. Lalu bagaimana aku tidur kalau Nee-san melesak bersamaku? Tidak cukup. Sempit. Apalagi dia akan memelukku hingga aku tidak sadar kalau aku sudah tidak bernapas.
Ah, sudahlah.
Kuputuskan untuk duduk di lantai berkarpet itu, bersandar pada tempat tidur, memandang keluar jendela kamar yang tidak pernah kututup tirainya, lalu…pikiranku mulai tidak karuan.
Aku sayang pada Kakek, Byaku-nii, dan semua yang ada di klan ini.
Kalau diminta tetap di sini, tentu aku akan tetap di sini.
Tapi, Sana-nee adalah satu-satunya keluargaku. Aku menyayanginya lebih dari menyayangi orangtuaku.
Kalau diminta untuk meninggalkannya, tentu aku akan memilih pergi bersamanya.
Kuraih ponselku, membukanya, membiarkan sinar dim-nya sedikit merusak gelapnya kamar ini.
Menekan serampangan semua tombol, membuka semua fitur, membaca kembali semua sms, membolak-balik ponsel itu, kemudian membukanya lagi.
Sampai…'ANAK JERUK' tertera di layar ponsel itu saat tanpa sengaja kupencet fitur phonebook.
"…hm? Halo?" ah, untuk apa aku meneleponnya? Rukia, BODOH!
"Ichigo," ujarku tanpa ragu. Oke, sudah terlanjur, lanjutkan.
"Eh? Rukia? Ru, ke, kenapa? Kamu…sembelit lagi tengah malam begini? Akan kubangunkan ayah ka-," sialan! Seburuk itukah reputasiku di hadapan anak seorang dokter?
"Tidak! Bukan itu. Aku tidak separah itu, bodoh!" kudengar, diseberang sana, dia tertawa kecil.
Dan…malamku dilanjutkan bersama teman anehku itu dalam jalinan sinyal telepon genggam.
Setidaknya, saat ini aku butuh teman bicara.
Itu saja.
_.
END of Chap TWO –
Saya...sedang ingin melanjutkan apa yang saya mulai.
Sebenarnya saat ini saya sedang menghadapi detik-detik penderitaan, tapi lebih baik seperti ini, mengetik tanpa peduli dunia. Benar 'kan?
Terima kasih untuk semua yang sudah mau membaca dan me-review fic ini.
