Discalimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Narusasu
Rated : T +
Warning : YAOI, OOC, banyak typo disana sini, gaje abal, dll.
I LOVE YOU, DUREN
Restoran Konoha's Dream terletak dibagian bawah yang menjorok langsung ke pinggir bukit. Sarapan pagi yang terasa nikmat sambil memandang alam yang sangat indah. Terlihat seluruh meja sudah terisi. Ada yang membawa keluarganya, kekasihnya dan temannya. Semua orang terlihat berbahagia. Kecuali, meja nomor sepuluh yang terletak didekat pagar. Suasana canggung mendominasi tempat tersebut.
Sakura melirik pria didepannya. Empat tahun mereka tidak bertemu. Dan selama empat tahun itu, Naruto banyak berubah. Tubuhnya lebih terbentuk dari yang sebelumnya, wajahnya semakin tampan dan dewasa. Semua wanita pasti berlomba-lomba ingin mendapatkannya. Terlihat dari tamu restoran yang sebahagian besar wanita. Mereka tidak berhenti melirik ke arah Naruto yang dari tadi memandang perbukitan disebelahnya.
Sakura akui, dia menyesal menceraikan Naruto. Kalau saja dia tidak egois. Mungkin sekarang mereka tidak akan canggung seperti ini. Seperti orang yang tidak saling mengenal. Terlebih lagi, dia tidak pernah memunculkan diri dihadapan Naruto. Membiarkan Naruto merawat anak mereka sendiri.
Naruto sendiri jengah dengan suasana canggung yang sangat terasa. Dia juga tidak tahu harus memulai dari mana untuk menghilangkan rasa canggung yang dialaminya. Entah kemana keahliannya selama ini. Naruto hanya bisa berharap Sasuke segera datang.
"Apa kabar, Naru?" Akhirnya Sakura bertanya setelah lima menit yang lalu tidak ada yang berbicara diantara mereka.
Menghembuskan nafas pelan, Naruto menjawab. "Hm. Aku sehat. Kau?"
"Baik. Ng, bagaimana..." Sakura terdiam sesaat untuk memantapkan hatinya. "...kabar Hana?"
"Dia baik. Sudah lancar bicara walau masih cadel. Yah, namanya juga anak-anak. Dia juga pintar berhitung dan membaca sekarang. Saat ini dia sedang belajar menulis. Tahun depan nanti dia akan masuk TK Konoha." Jelas Naruto panjang lebar.
Sebenarnya Naruto tidak ingin membahas Hana pada Sakura. Tapi, Sakura ibu biologis Hana. Dia juga harus tahu bagaimana perkembangan anaknya.
"Dia pasti jadi orang hebat seperti mu. Aku yakin hal itu." Doa Sakura tulus.
"Terima Kasih."
"Ya. Jadi, dimana Hana? Apa kau ke sini bersamanya?" Tanya Sakura penuh harap.
"Tidak. Dia ditempat orang tua ku. Katanya dia tidak ingin mengganggu kencan ku." Balas Naruto dengan senyuman kecil.
Sakura tertegun. Kencan? Itu artinya Naruto sudah punya kekasih.
"Dimana kekasih mu?" Tanya Sakura dengan nada yang wajar.
"Dia di kamar. Aku sudah menunggunya dari tadi. Tapi, dia belum muncul." Naruto menolehkan kepalanya ke arah pintu restoran untuk melihat apakah Sasuke sudah datang atau belum.
Diam-diam di dalam hati, Sakura berharap kalau kekasih Naruto tidak datang. Dengan begitu dia bisa sarapan berdua saja dengan Naruto. Tapi, harapan hanya tinggal harapan. Sakura melihat Naruto berdiri dan melambaikan tangannya ke arah pintu restoran.
"Suke, kenapa kau lama sekali? Kau berdandan, eh?" Sindir Naruto keras. Matanya menatap kesal pada Sasuke yang hanya memandang datar dirinya.
"Aku harus mencari handphone ku. Kau bisa memesan duluan kalau mau. Tidak usah seperti anak kecil." Balas Sasuke dengan nada menghina.
Sakura terus memperhatikan interaksi antara Naruto dengan pemuda didepannya. Sikap, perkataan dan tindakan Naruto sudah membuktikan hipotesa Sakura. Laki-laki yang dipanggil 'Suke' oleh Naruto adalah kekasih pria pirang tersebut.
"Naruto." Panggil Sakura menginterupsi perdebatan Naruto dan Sasuke.
Naruto yang dipanggil akhirnya sadar kalau dia tidak sendirian tadi. Dengan senyuman lebar-sehingga tiga garis dipipinya terlihat- dia merangkul pinggang Sasuke. "Nah, Sakura. Ini adalah Uchiha Sasuke, kekasih ku. Dan, Sasuke, dia Sakura. Mantan istri ku."
Oh, Naruto. Seandainya kau melihat tatapan mereka. Senyuman bahagia mu pasti lenyap.
.
.
.
Apa yang kau pikirkan saat mendapati mantan istri kekasih mu ada dihadapan mu? Duduk satu meja dan bercanda ria dengan pacar mu? Ingin menamparnya? Menyadarkannya kalau mereka sudah tidak bersama lagi? Atau pura-pura ngambek dan meninggalkan mereka?
Yang manapun itu bukan sifatnya. Ingat, dia seorang Uchiha. Uchiha pantang menampilkan ekspresinya dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Ok, terlalu banyak 'pun' membuat bosan. Yang pasti seorang Uchiha, terlebih Uchiha Sasuke tidak akan melakukan hal-hal diatas yang dapat mencoreng nama baiknya. Big no!
Tapi, melihat Naruto yang lebih sering bicara dengan si pink itu membuat Sasuke jengah juga. Dia kekasih Naruto, dan wajib mendapat perhatian lebih dari siapapun. Walaupun Naruto selalu bilang wajahnya sedatar tembok dan terlalu dingin. Tetap saja Naruto harus peduli padanya. Terlebih lagi Sakura seperti sengaja mengalihkan perhatian Naruto darinya. Seperti sekarang ini.
"Teme, kau tidak makan? Mau ku pesankan yang lain?"
Sasuke bisa melihat raut khawatir dari kekasihnya itu. Dengan senyuman tipis. INGAT. Hanya tipis. Sasuke akan menjawab, kalau tidak-
"Naru, Sasuke akan memakan makanannya. Dia sendiri kan yang ingin menu itu? Kau tidak perlu memesan yang lain. Jangan sia-siakan masakan yang sudah disediakan oleh chef disini. Oh, ya. Apa aku bisa mengunjungi Hana?" Dan obrolan terus berlanjut.
-lihat. Lihat sendiri. Sakura seperti, oh, bukan seperti lagi. Sakura ingin perhatian Naruto hanya tertuju padanya. Sasuke jadi heran sendiri. Apa benar Sakura minta cerai pada Naruto? Atau Naruto sendiri yang ingin bercerai? Entahlah, Sasuke sendiri tidak tahu jawabannya.
"Naru, aku mau ke toilet sebentar." Ujar Sasuke dengan nada sedingin mungkin. Biar Naruto tahu kalau dia masih ada disana.
"Ha...ha... Iya, Teme. Jangan lama-lama..." Tuh kan. Bahkan dia sudah menggunakan nada sedingin itu tetap saja tidak dipedulikan. 'Sialan.' Umpat Sasuke dalam hati. Entah kemana suasana canggung yang terasa tadi, yang sekarang malah hilang bagai di telan bumi. Menghembuskan nafasnya secara kasar, dia segera bangkit dari kursinya dan melangkahkan kakinya ke toilet restoran. Menyebarkan aura iblis yang membuat semua orang segera menghindar darinya.
Sakura yang melihat kepergian Sasuke, hanya tersenyum dalam hati. Dari tadi dia memang sengaja membuat Naruto berfokus padanya. Dengan menggunakan nama Hana, dia telah berhasil membuat Naruto memberikan perhatian padanya. Ya, Sakura tidak akan melepaskan Naruto untuk yang kedua kalinya. Dia akan berusaha merebut Naruto dari Sasuke. Dan langkah awal yang akan dilakukannya adalah-
Dengan senyuman manis, Sakura menatap lembut Naruto yang sedang sarapan. "Naruto?"
"Ya."
"Bolehkah aku menjenguk Hana?"
-dengan menggunakan Hana.
.
.
.
Sasuke menatap cermin didepannya tajam. Hey, Uchiha. Kalau cermin didepan mu bisa hidup. Dia akan retak sedari tadi karena tatapan mu menembus ke relung hatinya yang paling dalam.#dicekikreaderskarnamengganggu.
Sasuke terus menatap cerminnya hingga dia sadar. Seberapa lama dia menatap cermin itu. Toh, wajahnya masih tetap tampan. Sadarlah, Nak. Kalau Mbah Madara melihat mu seperti ini. Dia pasti bangkit dari kubur.#dichidori.
Setelah selesai bertatapan dengan cermin (?). Sasuke segera keluar untuk kembali ke tempat Naruto. Namun, pemandangan didepannya membuat matanya sakit. Bukan hantu dan bukan pula Orochimaru, dosen mesum yang merasa manda-ular peliharaannya-adalah istri kedua. Tapi, sesosok wanita berdiri didepannya menghalangi jalan. Lho, apa yang salah sama seorang wanita. Yang salah bukan wanitanya. Yang salah adalah sosoknya. Dengan rambut pink, mata emerald, kulit putih dan bla, bla, bla lainnya. Oh, dan jangan lupakan senyuman maaaannnnnnnniiiiiiiiissssssss sekali bertengger di bibirnya. Dan kalian tentu tahukan, apa maksud manis disini?
"Haruno-san. Kau menghalangi jalan ku."
"Bukannya kau yang menghalangi jalan ku?"
"Apa mau mu?" Sasuke yang merasa aneh dengan tingkah ababil Sakura segera bertanya.
"Menurut mu?" Pertanyaan main-main terlontar manis bin pahit dari bibir berpoles pink mengkilap Sakura.
"Perjelaslah?" Tanya atau perintah Sasuke.
"Jauhi Naruto." Perintah mutlak Sakura.
Sasuke menaikkan alisnya sebelah dan memberikan senyuman meremehkan pada Sakura. "Berhenti bermain dorama, Haruno-san. Ini bukan dimana tempat mu untuk mengancam. Apalagi memerintah ku."
"Well, apa kau pikir Naruto menyukai mu? Teruslah bermimpi Uchiha-san. Naruto lebih memilih ku dari pada diri mu. Dan kau akan didepak dari kehidupannya."
"Seperti yang ku katakan tadi, Haruno-san. Ini bukan dunia dorama dimana semua tokoh antagonis selalu berhasil menyakiti protagonis. Seorang protagonis bisa menjadi seorang antagonis jika dia ingin. Jadi, ku sarankan kau mundur sebelum kau kalah pada garis start." Balas Sasuke tajam meninggalkan mantan istri Naruto. Hell, bahkan menyebut namanya saja dia tidak sudi.
"Lihat saja nanti, Uchiha. Akan ku pastikan kalau kau tersingkir dari kehidupan Naruto." Bisik Sakura dengan seringai sinis.
Sakura, kau lupa menyebut kan nama Hana dalam rencana mu. Ck ck.
Sasuke melangkah kan kakinya dengan cepat menuju Naruto yang sedang sarapan. Wajahnya yang sedari awal memang kusut semakin semrawut dengan kemunculan Sakura di toilet. Naruto yang melihatnya pun merasa heran.
"Kau kenapa?" Tanya Naruto setelah Sasuke duduk di sebelahnya.
Tatapan tajam diberikan pada Naruto.
"Aku tidak akan tahu masalah mu kalau kau menatap ku seperti ingin menguliti ku."
"Untuk apa mantan mu disini? Apa kau mengundangnya?" Pertanyaan sinis terlontar pada Naruto.
"Aku juga tidak tahu." Naruto menggeleng.
"Kenapa kau bisa tidak tahu? Sedari tadi kau sibuk mengobrol dengannya. Kau bahkan lupa kalau aku di sebelah mu. Oh, aku tahu. Kau pasti senang melihatnya disini." Sindir Sasuke.
"Ya ampun, Suke. Aku bahkan tidak tahu kalau dia ada disini. Ini tempat umum, semua berhak untuk berada disini..."Jelas Naruto panik. Takut Sasuke salah paham.
"Aku tidak percaya."
"Suke, you are my only love. Only you." Naruto mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan. Tiba-tiba, dia menyadari sesuatu. Dia memandang Sasuke yang melipat tangannya di depan dada dan menatap Naruto curiga.
"Kau cemburu, Suke." Bukan pertanyaan, tapi sebuah pernyataan yang telak menghantam logika Sasuke.
Sasuke yang tadi memandang intens Naruto segera mengalihkan pandangannya. Kemana saja, asal jangan Naruto. sedangkan Naruto yang sudah tahu sebuah fakta langsung menggoda Sasuke.
"He...he... Ternyata my Suke cemburu." Kekeh Naruto senang. Apalagi melihat rona merah menghiasi pipi Sasuke yang memang putih.
"Urusai, Dobe. Aku selesai." Sasuke segera beranjak dari sana dan meninggalkan Naruto yang masih tertawa.
"Dasar, Suke. Cemburu saja mesti di sembunyikan." Ucap Naruto yang tak habis pikir dengan sikap Sasuke. Dia lalu menyusul Sasuke setelah membayar makanannya. Wajahnya masih terlihat senang. Tidak menyadari kalau ada yang memandangnya dengan penuh arti.
.
.
.
Sebuah mansion mewah yang kali ini menjadi sorotan. Mansion Namikaze. Tempat Namikaze Hana di titipkan oleh Papanya. Dia sedari tadi berada di dekat kolam renang. Menulis sesuatu dengan bibir tipisnya melantunkan lagu yang seekor kucing pun enggan mendengarkannya.
Suara tapak kaki menghentikan kegiatan Hana. Terlihat neneknya yang masih awet muda datang membawa sebuah nampan yang berisi cemilan dan minuman.
"Hana-chan tidak berenang?" Tanya Kushina sembari meletakkan nampan ke atas meja tempat Hana menulis.
"Tidak, Baa-chan. Hana cedang malac."
"Kenapa?"
"Tid..."
"ALOHA..." Ucapan Hana terpotong oleh suara teriakan yang terdengar dari arah pintu depan. Hana dan Kushina hanya menggelengkan kepala mendengar suara sedahsyat itu.
"Wa, ternyata seorang nenek dan bidadari ada disini." Ucap orang itu yang membuat Kushina ingin melempar garpu di tangannya.
"Telnyata Kulama Ji-chan toh. Ngapain kecini?" Tanya Hana polos.
"Oi, Bocah. Ini rumah ku. Wajar aku disini. Kau yang harus di pertanyakan. Kenapa kau disini? Mana Papa duda mu itu?"
"Kulama Ji-chan, pantac aku beltanya kalena Ji-chan tidak pulang cemalam. Aku cudah dali kemalin ada di cini. Dan Papa lagi kencan beldua dengan Cuke-nichan." Jawab Hana sekaligus.
"Huh, aku mau ke kamar saja kalau begitu. Bangunkan aku nanti siang Kaa-chan." Ujar Kurama sembari menuju kamarnya.
"Dasar anak itu. Tidak berubah sama sekali." Gerutu Kushina pada anak bungsunya.
Kurama adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Atau istilahnya anak bungsu. Masih kuliah dan satu kampus dengan Sasuke. Umurnya 20 tahun. Secara fisik dia mirip Kushina. Kecuali, jenis kelaminnya. Sifatnya sangat jahil kalau di rumah. Ketika di kampus, dia akan bersikap dingin pada siapapun. Terkadang Sasuke hanya geleng kepala kalau melihat tingkah ababil Kurama di kampus.
"Hi...hi... Kalau bukan begitu, namanya bukan Namikace Kulama." Ucap Hana terkikik geli.
"Ha...ha... Hana-chan benar."
.
.
.
Sasuke kini sedang berendam di pemandian pribadi kamar penginapannya. Sedang merenungkan kejadian tadi pagi saat bertemu dengan Sakura. Ucapan wanita itu masih terngiang di telinganya. Mengusik pikirannya hingga membuatnya uring-uringan dari tadi.
'Bagaimana kalau ucapan Sakura benar?'
'Bagaimana kalau Naruto tidak menyukainya lagi?'
'Bagaimana kalau Naruto lebih memilih bersama dengan mantannya dari pada dengannya?"
Pikiran itu terus berkecamuk di kepala Sasuke. Membuat Sasuke berubah menjadi galau seketika. Dia lalu menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar mereka. Merasa aneh karena Naruto belum kembali dari toko baju.
Naruto tadi memang pamit untuk pergi ke toko baju. Membelikan Sasuke pakaian yang memang hanya sepasang yang di bawa olehnya. Salahkan Naruto yang tidak memberi tahu kalau mereka akan ke Konoha's Dream. Menginap selama seminggu penuh di sini. Kalau tahu seperti itu, dia pasti menyiapkan baju untuknya dari rumah.
Menyudahi mandinya, Sasuke segera berpakaian kembali dan melangkah keluar kamar mencari Naruto. Saat sampai di lobby pemandian, matanya harus di suguhkan pemandangan yang menyakiti mata dan hatinya.
Di sana, di dekat pintu masuk, Naruto berpelukan dengan Sakura. Memeluk pinggang ramping itu dengan sebuah senyuman manis.
"Naruto." Panggilnya kencang. Tidak peduli kalau dia menjadi tontonan seluruh pengunjung yang ada di sana.
Naruto menoleh dan membelalakkan matanya saat melihat Sasuke berada tidak jauh darinya. Memandang dengan tajam pada dirinya dan wanita di pelukannya.
'Sialan.' Umpatnya dalam hati. Sedangkan Sakura hanya tersenyum tipis memandang penuh rasa kemenangan pada Sasuke.
Sasuke yang tahu arti senyuman itu mendecih sinis dalam hati. 'Kau mau bermain, Haruno? Maka bersiaplah akan kekalahan mu.'
.
.
.
~~~~TBC CYIIIN~~~~
Akhirnya chapter ini selesai juga. Ane merasa bahagia banget. Ok, kita balas reviewnya.
Naminamifrid : Maunya siapa? He...he...
Guest : I Love You Too. Ini sudah munculkan chapie barunya.^_^ Kalau masalah update cepat Ane g' jamin lho.
Shin : Arigato Gozaimasu.
Xilu : Chapie ini ngejawab pertanyaan Ente.~_~
Aicinta : Tenang ja, Ai. NaluCacu Alwayc Folevel Togethel. -_-
Ndah D. Amay : That's secret.
Ok, kalau ada yang belum tersebut, Ane minta maaf.
Review ya minna...
