Tomodachi?

.

.

.

SpindleTree

.

.

.

Naruto Masashi Kishimoto

.

.

.

Friendship, Family

Rate T

Alternative Character. OOC, Typo(s). Tidak sesuai EYD.

.

.

Sasuke-Sakura-Naruto

Enjoy Reading

.

DLDR

.

Tulisan yang di buat miring berisikan pemikiran tokoh.

.

NO PAIRING!


Sore itu, Sakura berencana untuk pergi berbelanja. Persediaan bahan makanan di rumahnya sudah hampir habis. Lagipula, tidak ada tanda-tanda jika orangtuanya akan segera pulang. Setelahnya ia akan mampir sebentar ke toko es krim lalu mengunjungi taman. Mungkin?

Dengan berjalan santai, Sakura mulai memasuki toko es krim. Sembari menunggu es krim pesanannya datang, Sakura memperhatikan ke luar toko. Pandangannya menerawang jauh. Sesaat pandangannya menjadi sendu. Rasa sepi mulai menjalari hatinya. Disini memang ramai, namun hatinya merasa sepi. Sakura mulai teringat kenangan-kenangan lampau, rasa rindu menyergap hati Sakura. Sepertinya ia harus membatalkan rencananya untuk berkunjung ke taman. Ia akan ke toko bunga Yamanaka, setelah itu pergi mengunjungi 'dia'.

"Sakura, tumben sekali kau berkunjung ke sini." sambut gadis pirang itu terhadap Sakura. Sakura tersenyum menanggapi.

"Aku pesan buket bunga. Bisa pilihkan aku bunga mawar hitam dan biru yang masih segar? Dan tambahan bunga lily putih."

Ino melemparkan pandangan bertanya, "Kematian, misteri serta kesucian, eh?" ucap Ino.

"Hm... mungkin."

"Kau tahu makna ketiga bunga ini?"

"Tidak, Ino."

"Kenapa kau asal memesan?"

"Berhenti mengintrogasiku, Ino. Buatkan saja buketnya." Sakura sedikit gemas dengan kelakuan Ino yang sangat mudah penasaran itu.

"Pelit seperti biasa," ucap Ino seraya mengerucutkan bibirnya.

"Aku tidak pelit, Ino."

...

Sakura melangkah perlahan. Angin berhembus menerbangkan rambutnya. Sunyi. Tidak ada suara apa pun. Hanya terdengar suara gesekan daun-daun yang di tiup angin. Sakura berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan benda berbentuk segi empat tersebut. Benda itu memantulkan cahaya matahari senja. Sakura meletakkan buket bunga tadi di depan batu keramik tersebut.

"Hai..." sapa Sakura terdapat senyum kegetiran yang terpatri di sudut bibirnya.

"Apa kabarmu, Kakak? Apa kau bahagia di sana? Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Sakura menghirup napasnya panjang.

"Aku merindukanmu, selalu. Apa kau juga merindukanku? Aku harap begitu. Kenapa kau begitu tega meninggalkan aku sendiri. Disini aku merasa kesepian. Sejak kau pergi meninggalkan aku, ayah dan ibu jarang berada di rumah. Apa kau tahu bagaimana rasanya sendirian di rumah menunggu kedatangan mereka? Tidak memiliki tempat bersandar. Aku selalu menangis. Aku berubah menjadi gadis yang cengeng semenjak kau pergi. Kau pasti kecewa padaku. Aku juga kecewa kepada diriku." Sakura kembali berhenti berbicara. Isakan kecil mulai lolos dari bibir Sakura. Sekarang isakan itu berubah menjadi tangisan. Tangisan memilukan terdengar dari bibirnya. Sakura berusaha menahan tangisannya dengan menggigit bibirnya namun gagal.

"A-aku telah mencoba untuk tegar atas kepergian dirimu. Tapi rasanya sangat sulit." Sakura berhenti berbicara. Menghapus air matanya kemudian beranjak dari tempatnya.

"Sudah hampir malam, aku akan pulang. Besok aku akan mengunjungimu lagi. Sampai jumpa." Sakura mulai pergi dari area pemakaman.

Tanpa Sakura sadari, ada seseorang yang memperhatikannya diam-diam. Seseorang yang dijulukinya rambut bokong ayam. Ya, Sasuke. Sasuke melihat dan mendengar semuanya. Semua hal yang dikatakan oleh gadis itu. Tanpa bermaksud untuk menguping, hanya saja saat ini ia sedang mengunjungi makam kakeknya. Dan secara tidak sengaja, ia mendengar isakan Sakura. Jadilah ia mencuri dengar curhatan Sakura. Sasuke menyempatkan diri mengunjungi tempat Sakura menangis tadi. Sekarang, ia berdiri di depan pusara yang bertuliskan 'Haruno Sasori'. Sasuke mengernyit heran. Siapa itu Haruno Sasori? Kemudian ia teringat, Sakura beberapa kali menyebut kata 'kakak'. Berarti, Sasori adalah kakak kandung Sakura. Sekarang Sasuke telah mendapatkan sedikit informasi tentang Haruno Sakura.

...

Sakura berada di atap menikmati angin yang berhembus nakal menerbangkan setiap helai rambutnya.

"Hai, Sakura. Kita bertemu lagi," ucap pemuda pirang itu seraya mengeluarkan cengiran lebarnya.

Sakura mengernyit bingung, "Jangan bilang kau melupakan kami," ucap Sasuke tiba-tiba.

Oke, sepertinya sekarang Sakura ingat. Berterimakasihlah kepada rambut bokong ayam milik Sasuke. Jika bukan karena itu, sudah pasti Sakura tidak akan mengingat mereka.

"Jadi ada apa, tuan-tuan aneh? Apa kalian menguntitku?"

"Cih, percaya diri sekali." ketus Sasuke.

"Hei, santai bokong ayam."

"Ck, berhenti memanggilku bokong ayam, bodoh!" sepertinya Sasuke mulai sebal. Sakura tertawa, benar-benar tertawa.

"Ehm, jangan terlalu serius begitu. Aku memanggilmu seperti itu karena aku tidak mengenal nama kalian. Dan... kalian sudah tahu namaku? Hebat sekali. Sepertinya aku orang yang populer."

"Ya, sangat populer. Sampai-sampai sangat sedikit orang yang mengenalmu," sahut Naruto. Sakura kembali tertawa.

"Perkenalkan diri kalian sebelum bicara padaku. Karena aku tidak ingin bicara kepada orang yang tidak aku kenal." Sakura kembali mengendalikan dirinya.

Pengendalian diri yang baik, ucap Sasuke di dalam hati.

Orang yang kelihatan menarik, pikir Naruto.

"Jadi, apa kalian tidak ingin memperkenalkan diri?" Sakura kembali bersuara karena tidak ada satupun yang mengenalkan diri mereka.

"Aku Uzumaki Naruto. Kau bisa memanggilku Naruto jika kau mau." Sakura menganggukkan kepalanya.

"Uchiha Sasuke." Sakura menyipitkan matanya.

"Pelit kata," ucap Sakura.

"Apa?" Sasuke menatap Sakura tajam. Sakura mengabaikan Sasuke.

"Jadi, apa yang membuat kalian mendatangiku? Jangan katakan ini akal-akalan Kakashi." Sakura menatap mereka berdua tajam. Ayolah, Sakura sangat tahu watak gurunya satu itu. Ia mengenalnya sekitar empat tahun dan itu cukup membuatnya mengerti jalan pikiran guru mesumnya itu.

"Sedikit dorongan dari dia. Sisanya kami yang mangambil tindakan." terdengar umpatan keluar dari bibir Sakura.

"Cih, pria tua itu. Sudah aku katakan aku tidak butuh siapa pun."

"Manusia butuh orang lain untuk hidup, Sakura, Naruto yang mendengar umpatan Sakura.

Sakura mendelik sebal, "Oh ya? Aku tidak. Aku bisa melakukannya sendiri."

"Tidak selalu sendiri." potong Sasuke.

"Apa yang kalian inginkan? Mendatangiku dengan sok tahu tentang diriku. Menghakimiku tanpa tahu jalan hidupku. Memasuki kehidupanku untuk tahu semua masalahku. Setelah mengetahuinya lalu meninggalkanku? Seperti itukah tujuan kalian?" ucap Sakura sinis.

"Kau tidak sedang curhat, kan?" gurat kekesalan muncul di dahi Sakura.

"Tutup mulutmu orang asing. Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku."

"Kalau begitu buat kami menjadi tahu, Sakura," ucap Naruto, terdapat nada memohon di sana. Sakura terdiam. Sungguh ia tidak menyangka akan dihadapkan dengan hal yang seperti ini.

"Aku pernah dengar kau berkata seperti ini 'Tidak ada lagi orang terpenting dalam hidupku yang bisa memberiku kesempatan untuk berbagi seperti yang kau bilang'. Bagaimana jika aku dan Sasuke ingin menjadi orang terpenting dalam hidupmu? Apa kau akan menerimanya? Kami ingin kau membagi apa pun yang kau miliki."

"Tidak." Sakura mengalihkan pandangannya menuju lapangan sekolah, "Aku tidak suka berbagi."

"Aku tahu kau kehilangan kepercayaan. Aku tahu kau kehilangan pegangan. Aku tahu kau kehilangan sandaran. Jadi, bisakah aku dan Sasuke mendapat kepercayaan darimu? Menjadi pegangan dirimu? Menjadi sandaran hidupmu? Kami ingin berteman denganmu murni karena keinginan kami sendiri. Tanpa adanya paksaan dari Kakashi. Aku mohon, beri kami sebuah kepercayaan. Jika kami mengecewakanmu, kau boleh mengusir kami dari kehidupanmu."

Sakura terdiam. Hening. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Selama ini tidak ada orang yang berkata seperti itu kepadanya. Bimbang. Kini Sakura bingung apa yang harus ia lakukan.

"Kau hanya perlu memberikan sebuah kepercayaan," ucap Sasuke akhirnya. Sakura menatap mereka berdua. Mencari kebohongan yang mungkin terpancar dari kedua bola mata mereka. Namun, ia tidak menemukan kebohongan itu. Hanya terdapat pandangan lembut penuh ketulusan. Sepertinya ia harus mengambil satu keputusan saat ini juga. Satu keputusan yang akan merubah kehidupannya kedepan.

"Aku akan mencoba mempercayai kalian."

"Terima kasih, Sakura!" ucap Naruto seraya memeluk Sakura dengan erat.

"Hey! Jangan memelukku sembarangan!" ucapan Sakura tidak digubris oleh mereka berdua. Jujur saja. Sakura tidak terbisa dengan pelukan ini.

"Err ... boleh aku bicara?" Sasuke dan Naruto terdiam.

"Dipeluk seperti ini, rasanya aneh sekali." Sasuke serta Naruto tertawa mendengar ucapan Sakura.

"Kau harus membiasakannya, Sakura," ucap Sasuke seraya menepuk pucuk kepala Sakura pelan. Hangat... Hati Sakura menghangat. Seakan ia menemukan kehidupannya kembali. Diam-diam Sakura berharap ini bukanlah mimpi.

...

Malam ini Sakura tertidur lelap sekali. Tidak ada kegelisahan yang biasanya terpancar di raut wajahnya. Tidak ada mimpi buruk tentang kematian kakaknya. Namun, Sakura memimpikan hal lain.

"Aku takut. Aku takut," ujar Sakura dalam mimpinya

"Apa yang membuatmu takut? Aku akan menghancurkan semuanya untukmu. Apapun yang membuatmu sedih dan menyakitimu. Semuanya. Jadi, tertawalah." ucap seseorang yang hadir di dalam mimpi Sakura. Di dalam tidurnya, Sakura mengernyit heran. Suara siapa itu? Sakura merasa mengenalnya namun sulit untuk mengingatnya.

"Aku takut. Takut akan hal yang tidak kuketahui ... dan juga yang aku tahu. Lebih dari apa pun. Aku paling takut pada diriku sendiri."

Sakura berjengit kaget. Ia terbangun dari tidurnya serta kehilangan mimpinya. Napasnya memburu. Keringat bercucuran dari dahinya.

Drrrttt ... Getaran ponsel Sakura mengalihkan atensinya. Panggilan itu dari nomor yang tidak ia kenal. Ragu-ragu ia menekan tombol hijau pada ponselnya.

"Hai, Sakura! Apa aku mengganggu tidurmu?" teriak seseorang di seberang sana. Sakura menjauhkan ponsel dari telinganya. Dari suaranya saja Sakura sudah dapat mengenali siapa yang bicara sekarang.

"Hai, Naruto. Kau tidak mengganggu tidurku. Aku—" Sakura menghentikan kalimatnya. Menimbang-nimbang haruskah ia memberi tahu mimpinya atau cukup ia sendiri yang menyimpannya.

"Sakura-chan, jika kau butuh teman bicara kau bisa berbicara denganku atau Sasuke. Kau ingat kata-kataku kemarin, kan?" Sakura terdiam. Terdengar bunyi gemerisik dari ponsel Sakura.

"Sesuatu terjadi padamu?" suara berat dan datar menyapanya.

"Tidak, hanya mimpi buruk biasa."

"Aa. Tidurlah."

"Aku tidak bisa tidur lagi. Insomnia."

"Paksa matamu untuk beristirahat." Sakura memutar bola matanya, menunjukan ketidak setujuannya akan kata-kata Sasuke.

"Aku bukan pemaksa sepertimu, Sasuke." diseberang sana Sasuke terdiam.

"Kau sendirian?"

"Hm." Sakura hanya menggumam sebagai jawaban. Kemudian suara yang sama kembali bicara dengannya.

"Sakura-chan, apa kau tidak takut sendirian?"

"Aku sudah biasa sendiri, bodoh."

"Bagaimana jika tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahmu, lalu kau mendengar suara-suara menyeramkan kemudian—"

"Hentikan omong kosongmu itu, bodoh!" Sakura menarik selimutnya dan meringkuk di kasurnya. Walaupun Sakura gadis yang terlihat tegar tetap saja ia akan takut dengan cerita horor. Apalagi sekarang ia mulai membayangkan apa yang di katakan Naruto.

"Jangan dengarkan, dobe. Tidurlah, jika terjadi sesuatu telpon saja ke nomor ini."

"Terima kasih. Selamat malam."

"Hn, selamat malam."

Sambungan telpon terputus. Sakura masih menatap layar ponselnya. Memperhatikan nomor ponsel yang tadi menelponnya. Tiga tahun ia bersekolah di junior high school dan dua tahun ia bersekolah di Konoha Senior High School, baru hari ini ia mendapat telepon dari seorang teman. Ada rasa senang dan hangat di hatinya. Apa ditelpon oleh teman rasanya seperti ini? Terlalu lama memikirkan perasaannya akhirnya Sakura terlelap dengan ponsel yang masih berada dalam genggamannya.

...

Aku ... selalu menyesalinya. Menyesali keberadaanku di dunia ini. Menyesali kepergian kakakku dari dunia ini. Menyesali takdirku yang seperti ini. Aku merasa takdir mempermainkan aku, tetapi orang-orang bilang manusia yang mempermainkan takdir. Jadi, diantara kedua itu mana yang harus aku percaya.

"Whoaa, lihat kantung matamu, Sakura! Apa yang kau lakukan dengan ke dua mata indahmu?" ucap Ino histeris.

"Berisik, Ino. Aku hanya kurang tidur." Sakura menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya. Ini semua gara-gara Naruto yang menakut-nakutinya semalam. Ia akan memberi perhitungan kepada si pirang itu.

"Yo, Sakura-chan! Bagaimana tidurmu semalam? Tentunya kau tidur nyenyak, kan?" tanya Naruto seraya tersenyum lebar. Disebelahnya, Sasuke memutar bola matanya.

Terdengar kasak-kusuk di dalam kelas Sakura. Masih sama dengan posisi tadi, Sakura menggeram sebal. Oh ayolah, sepertinya ia akan diberondong oleh pertanyaan yang berkaitan dengan dua orang di depannya.

"Naruto..." ucap Sakura seraya tersenyum manis. Manis sekali. Naruto yang tidak merasakan adanya tanda bahaya semakin tersenyum lebar hingga matanya menyipit.

Saat itu juga Sakura bangun dari tempat duduknya dan menampar Naruto.

"Dasar bodoh!" terdapat aura hitam yang menguar dari seluruh tubuh Sakura.

"Apanya yang 'Tidur nyenyak.'?!" Sakura melemparkan Kamus setebal dua puluh senti ke wajah Naruto. Semua orang yang berada di dalam kelas Sakura terkejut.

"Tidak ada yang tidur nyenyak tahu!" Sakura berusaha mengatur emosinya.

"Ittai, Sakura-chan!"

"Mati saja sana." Sasuke meringis menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya.

...

"Ayolah, Sakura-chan. Maafkan aku... Aku kan tidak tahu jika kau takut dengan cerita karanganku itu. Aku hanya ingin mendongeng agar kau cepat tidur."

Sakura berhenti sejenak seraya melemparkan deathglare ke arah Naruto. "Dongeng kepalamu!" kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.

Sebenarnya Sakura tidak benar-benar marah dengan Naruto. Semalam juga ia dapat tidur nyenyak karena mendapat telepon dari Naruto dan Sasuke. Hanya saja, karena cerita Naruto semalam yang belum selesai ia dengarkan telah membuat Sakura merinding sendiri jika mengingatnya. Sakura benar-benar mengutuk kelemahannya yang satu ini—penakut.

Saat sedang memesan makanan di kafetaria Sasuke dan Naruto menghampiri mejanya.

"Kenapa kau meninggalkan aku dan Sasuke, Sakura‑chan. Kau masih marah?" Sakura mengabaikan ocehan Naruto.

Naruto melemparkan pandangan memohon kepada Sasuke, Sasuke menggeleng malas. Tidak hanya sampai di situ, Naruto menendang-nendang kaki Sasuke yang ada di bawah meja. Menghela napas kesal, Sasuke akhirnya angkat bicara.

"Kenapa kau tidak menunggu kami?"

"Memang kenapa?" Sakura melemparkan pandangan bertanya.

"Dengar. Kita 'teman', kan?" Sasuke mencengkram lembut bahu Sakura. Sakura mengangguk kebingungan.

"Lalu kenapa kau meninggalkan aku dan Naruto? Kenapa tidak menunggu kami untuk pergi ke kafetaria bersama. Apa karena Naruto?"

"Memangnya teman harus pergi ke kafetaria bersama? Aku pikir kita bisa sendiri-sendiri datang ke sini," ucap Sakura polos.

Sasuke menggeram, Naruto angkat bicara. "Err ... begini Sakura-chan. Yang namanya teman itu, harus selalu bersama-sama kapan pun, di mana pun, dan pada saat apapun jika ada kesempatan. Bukannya berjalan sendiri-sendiri. Lihatlah semut, mereka tidak bisa melakukan apapun jika sendiri. Semut-semut itu harus melakukan sesuatu dengan bersama-sama. Jadi, mulai sekarang kau tidak boleh lagi melakukan sesuatu sendiri. Sekarang ada kami disampingmu."

Sakura menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

"Dan ... kenapa kau yang berbicara? Bukannya aku sedang marah denganmu?"

"Uuhh... aku sudah minta maaf, Sakura-chan. Jadi kau harus memaafkan aku. Tidak ada penolakan." Naruto mencubit kedua pipi Sakura.

"Ssakiit, Naruto!" Sakura mengusap kedua pipinya yang kini memerah.

Ketika itu, mereka membuka paksa tirai yang menutupi hatiku. Entah sejak kapan, mataku jadi tak bisa lepas dari mereka berdua. Rasanya hangat, sangat hangat, sedikit demi sedikit akhirnya aku bisa mengerti bagaimana rasanya memiliki teman. Bolehkah aku merasa bahagia?


A/N : chap dua updaaaaaaaate maaf buat kak na gak bisa menuhin permintaannnya untuk update kilat XD adakah yang merasa chap ini alurnya kecepetan? kalo aku pribadi ngerasa ini kecepetan :( tapi kalo di panjangin lagi jadinya malah ngebosenin :'D makasih buat semuanya atas concrit-nya :) chap ini concrit-nya kembali di tunggu loh ;) buat yang log in aku bales reviewnya melalui pm :) RnR yaaaaaaaaaaa!