Disclaimer: Hiromu Arakawa

Genre:humor

Ako: Senengnya udah ada yang mau Review, ini lanjutannya udah jadi. Udah Ako coba benerin penulisannya, tapi kayaknya masih ada yang keterusan deh, abisnya kalau udah nulis Fic suka keterusan sih saking serunya sampe gak sadar banyak kesalah menulis. Maaf ya kalau publishnya lama, soalnya modem ku bermasalah, di tambah lagi Ako cuman boleh main internet tiap hari sabtu doang. Abis itu di cerita ini Ed sama Al masih bisa menggunakan kekuatan Alchemistnya, dan yang tahu hal inin cuman tokoh FMA sama Alkar doang.

Alphonse: Ako-chan, banyakin bagian ku sama kucing ya, kalau bisa ada Nii-san ku juga.

Ako: tenang aja Al, tapi mungkin kakamu bakal banyak bareng sama kucing. Bakal ku siksa Edward sama kucing-kucing itu ke ke ke ke. (Author tertawa nista sampe keselek).

3. Pulang sekolah

Saat Alphonse masuk ke kelas, semua murid di kelas memandangnya denagan pandangan 'kamu selamat'. Alphonse langsung masuk dan menaruh tasnya di bangku, tak berapa lama kemudian bel berbunyi, pertanda istirahat makan siang.

"Wahhh, enak banget ya dateng langsung istirahat." kata Alkar. Alphonse hanya bisa nyengir. "Abis aku lupa." kata Alphonse sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kesekolah lupa." Kata alkar dengan nada tinggi, "Sudahlah, ayo kita makan!" ajak Alkar.

"Ayo." kata Alphonse semangat. "Tunggu." Alkar menghentikan gerakan Alphones. "Kenapa?" Alphonse bingung karena tiba-tiba temannya tiba-tiba menghentikan gerakannya. "Kenapa bajumu kotor?" tanya Alkar. "Oh ini, mungkin gara-gara aku mandiin kucing." jelas Alphonse.

Alkar yang tak mau ambil pusing melanjutkan acara jalannya menuju kantin. " tadi aku-kan lewat gang sempit di situ banyak banget kucing, Alkar juga suka kucing kan ayo nanti pulang sekolah kita liat kucing sama-sama.

"Hn, ya aku suka kucing, tapi kalau kau ketawan nyembunyiin kucing kakak mu ngak marah?" tanya Alkar. "Tenang aja, Nii-san ngak tau kok, fufufu".

SKIP APA YANG MEREKA LAKUKAN

TENG TENG TONG

Bel tanda pulang berbunyi. Semua murid keluar kelas dengan terburu-buru. "Alkar, Ayo." Ajak Alphonse. "Hn, ayo." Saat Alphonse dan Alkar berjalan, tiba-tiba ada segerombolan anak yang menghadang mereka.

"Berhenti"

"Eh kenapa" tanya Alphonse. Alkar yang melihat hal itu bersiap menyiapkan tinjuannya. "Kalau kalian mau lewat sini kalian harus memberikan kami uang." Kata salah satu anak-anak itu.

"Oh kalau begitu aku mau lewat sini saja," kata Alphonse sambil bergerak ke arah kanan. Anak-anak berandal plus Alkar hanya memandangnya aneh, dalam hati Alkar berkata 'orang polos hidupnya enteng ya'. Namun Alphonse tetap di hadang.

"Kenapa aku di hadang lagi?" tanya Alphonse dengan pandangan innocent.

"Maksudnya ngak boleh lewat itu bukan arah jalah tapi maksudnya kamu ngak boleh lewat wilayah sini." Jelas salah satu anak-anak itu dengan nada tinggi. "Aku kan udah bayar pajak jadi katanya Nii-san aku boleh lewat jalan umum yang mana aja" kata Alphonse yang masih belum mengerti maksud anak-anak yang niatnya mau malakin Alphonse.

"EH, DASAR ANAK INI" anak – anak itu berniat menghajar Alphonse, tapi Alphonse menghindar. "Kalo aku ngak boleh lewat sini ngak papa deh aku lewat atas aja.", kata Alphonse sambil melompati semua anak berandal itu. Semua anak itu akhirnya pasrah karena males berurusan dengan Alphonse dan tampang innocentnya yang sebenernya bikin mereka ngak tega mukulin Alphonse.

Alkar hanya cuek padahal sekali lagi hatinya berkomentar 'orang polos ternyata ngak sadar situasi'. "Alphonse tunggu" kata Alkar. "Ayo aku udah ngak sabar nih!" kata Alphonse sambil tersenyum girang.

"Waahhh." Alkar memmandang takjub kepada hasil karya Alphonse, sebuah gang kecil yang pernah ia lewati dulu, sebuah gang kecil penuh dengan sampah di sulap menjadi surga bagi para kucing jalanan.

Seekor anak kucing mendekat ke arah kaki Alkar dan Alphonse 'miauuu' "Kawaii..." kata Alkar.

"Hn, mereka memang kawaii." Alphonse lalu menggendong anak kucing itu, dan merekapun asik bermain.

Beberapa jam kemudian.

"Alphonse, sepertinya aku harus pulang sudah mulai sore, kucingku Grimjjow dan Cero mungkin bisa menggigit sofa karena belum di kasih makan." Kata Alkar. "Enak ya Alkar boleh pelihara kucing, Nii-san ku ngak suka kucing, ya sepertinya sudah sore, pasti niisan bakal marah."

di rumah.

"Tadaima." kata Alphonse pelan lalu berjinjit menuju kamar melewati pintu dapur yang terbuka, memperlihatkan Edward yang sedang menghadap ke jendela sedang mencuci piring.

Alphonse menjijit perlahan ke arah tangga "hosh" nafasnya lega karena bisa melewati pintu dapur. Saat kakinya menyentuh tangga, "ALPHONSE." langkahnya terhenti, "Errr, eh iya Nii-san kenapa?" tanya Alphonse. "Sekarang jam berapa Alphonse?" kata Edward dengan nada lembut. "Jam 7 malamm Nii-san." jawab Alphonse yang sudah berkeringat dingin. "Kenapa baru pulang?" tanya atau lebih tepatnya menintrogasi adiknya dengan nada selembut mungkin. "Anu eto, itu tadi, ada kerja kelompok, iya tadi ada kerja kelompok." kata Alphonse. "ALPHONSE JANGAN BERBOHONG APA YANG TADI KAU LAKUKAN HAH! SAMPAI JAM SEGINI BARU PULANG, NII-SAN BENAR-BENAR KHAWATIR" kata Edward dengan nada yang tinggi membentak adiknya.

"Gomene Nii-san, tadi itu aku anu tadi itu aku, err tadi main sama kucing"kata Alphonse dengan nada ragu sekaligus takut.

"tapi jangan samapai malam juga, ka bahaya di luar lagian ngapain sih kamu mainan kucing segala, ngak tau apa orang di rumah khawatir, oiya dan tadi aku dapet telphone dari sekolah, katanya kamu baru nyampe ke sekolah pass istirahat makan siangkan, liat waktu dong Aphonse, jangan-jangan kamu main kucing lagi ya." Edward mulai meneriaki adiknya menceramahinya dengan nada tinggi.

Alphonse menunduan kepalanya setetes air mata keluar dari matanya "Ni-san akukan sudah minta maaf, akukan main sama kucing gara-gara Ni-san ngak ngijinin aku melihara kucing, hiks' hiks' nii-san egois , nii-san hiks' jahat" Alphonse menangis tidak bisa menahan air matanya, dia berlari menerobos pintu, keluar berlari sejauh-jauhnya tanpa arah.

Edward diam membatu, ini pertama kalinya ia membuat adiknya menangis. Apa lagi kata-kata adiknya tadi bagaikan jarum yang menusuk jantungnya. Segera ia keluar berlari mencari Alphonse, tapi hasilnya nihil Alphonse tidak ada.

Disisi lain

Alphonse sudah lelah berlari, sekarag ia berada di kolong jembatan, tempat dimana dia bisa sendiria, angin malam berhembus, membuatnya kedinginan.

Tiba-tiba terdengar suara beberapa orang, sekitar 2 orang laki-laki yang satu gendut dan yang satu kurus.

"Hei anak kecil ngapain kau malam-malam disini" kata mereka ber-2 halus. "Siapa kalian?" tanya Alphonse, kaget. "kami orang baik-baik, kenapa kau ada di sini" kata 2 orang itu berusaha meyakinkan alphonse. "Nii-san ku marah karena aku memelihara kucing." Jelas Alphonse. "oh begitu kalau begitu ikut saja dengan kami di tempat kami banyak sekali kucing." Kata mereka berusaha meyakinkan Alphonse.

"Err, baiklah ayo, dimana kucing-kucing itu." 2 orang itupun membawa Alphonse ke sebuah gudang tua.

"En, paman apa di sini ada kucing." Tanya Alphonse. "Oh ya kucingnya ada di dalam sini" lalu alphonse masuk ke dalam gudang gelap itu.

2 orang itu menutup pintu, sehingga di dalam situ menjadi gelap, "err, paman di mana kucingnya?" tanya Alphonse, tiba-tiba dari belakang ada sapu tangan yang menutup mulut dan hidung Alphonse, dan seketika Alphonse pingsan.

TBC

Bagaimanakah nasip Alphonse kita yang polos berikutnya, sedikit fakta Ako ini tipe author yang ngak segan-segan bikin alur cerita, jadi terserah readers mau jadi apa nasip Alphonse, tapi review ya, soalnya kalau reviewnya dikit atau malah ngak ada yang review ako- suka males ngelanjutin Ficnya. Teriama flame saran pujian (kalo ada) dsb, nasip Alphonse di tentukan oleh para readers. Jadi mohon reviewnya ^,^.