Chapter 2 : Coward & Sweet Disposition

Disclaimer : karakter, nama tempat, dsb, dsb, milik Suzanne Collins. Plot Change milik saya.

A/N : Maafkan typo, ketidakkonsistensian, dsb, dsb.

Pengecut.

Katniss Everdeen tidak lebih dari seorang pengecut. Percaya atau tidak.

Ya. Aku mungkin telah membunuh ratusan binatang. Atau berburu di hutan melewati pagar pembatas ribuan kali.

Tapi aku tidak bisa mengucapkan terimakasih pada Peeta Mellark, barang satu kali pun.

Aku mendesah frustrasi. Berusaha tidak menatap Peeta atau pin emas yang tersemat di kemejanya. Aku mengenali pin mockingjay yang dipakainya. Beberapa kali Madge Undersee si putri Wali Kota memakainya. Ada gerakan di hatiku untuk bertanya apakah Madge memberikan pin itu pada Peeta. Tapi aku urung bertanya dan alih-alih terdiam lagi. Aku tahu pertanyaanku hanya akan membuat pertanyaan lain : apa hubungan Peeta dan Madge? Kenapa Made memberinya pin itu? Apa mereka hanya sekedar teman?

Omong kosong. Apa peduliku?

Madge dan Peeta jelas lebih dari teman. Mereka berjalan bergandengan tangan di koridor sekolah. Ya, aku memperhatikannya, sama seperti semua orang di sekolah. Hanya orang buta yang tidak tahu.

Aku menemukan diriku muak dengan fakta yang mengiritasi itu. Madge adalah temanku, setidaknya bisa dibilang begitu. Tapi dia tidak pernah terganggu untuk menceritakan hubungannya dengan Peeta. Kami memang selalu makan siang bersama, dan mengerjakan beberapa pekerjaan sekolah berdua, tapi konversasi kami terbatas pada beberapa hal saja. Apa mereka menyebutnya? Bergosip?

Hell, no. Aku harus berburu dan memberi makan keluargaku, bergosip hanya membuang waktu. Dan sepertinya Madge tidak tertarik untuk melakukan hal yang sama- maksudku bergosip bukan berburu. Madge pribadi yang unik, dan aku menyukainya. Dia tidak memakai pakaian yang kelewat mentereng meski dia punya banyak yang seperti itu. Madge kerap kali memberikan bekalnya padaku tanpa benar-benar menganggapku temannya yang kekurangan makanan.

Sementara para gadis mencemoohku, Katniss Everdeen, gadis Seam yang kebetulan kehilangan ayahnya saat ledakan di tambang; yang berkeliaran di Hob menjual tupai dan rusa hasil panahan, Madge memperlakukanku dengan layak.

Oh benar. Madge dan Peeta. Mereka pasangan yang sempurna

Peeta si baik hati dan Madge si rendah hati.

Apa ini yang kurasakan? Kecemburuan? Ya, tentu saja, satu hal yang kurasakan pada Peeta ketika dia bersama Madge- atau gadis manapun.

"Prim? Itu nama adikmu, bukan?" aku mendongak setelah Peeta bertanya, bingung karena tiba-tiba dia membicarakan itu.

"Yeah, dia dipanggil begitu, tapi namanya Primrose, diambil dari nama bunga," Peeta menatapku dengan takjub membuat pipiku terasa hangat. Kurasa aku memerah.

"Apa yang kau lakukan saat pemungutan-" suara Peeta terdengar serius. "Itu luar biasa."

Jujur, aku tidak mengerti kemana arah pembicaraannya, tapi aku menemukan perutku penuh dengan kupu-kupu yang menggelitik tiap inci organ dalamku. Membuatku menahan senyum.

"Kau pasti sangat menyayangi Prim, eh? Menjadi sukarela sama saja menyerahkan nyawa, kan?" Peeta kembali melanjutkan. Sensasi di perutku makin parah sehingga aku menoleh ke luar jendela, semoga Peeta tidak melihat wajahku yang merona berlebihan.

"Trims," hanya itu yang bisa kuucapkan. Jauh di dasar hati, aku bersyukur karena Peeta bisa mengerti tanpa perlu kuberitahu.

Aku buruk dalam berkomunikasi. Aku tahu.

"Well, kedua abangku, uhm... mereka berengsek. Ada suatu momen saat namaku dipanggil dan aku berharap salah satu dari mereka mau menggantikanku."

Aku melihatnya menyeringai sedikit, tapi dia menunduk dan aku mulai tidak yakin. Inikah yang mau dia katakan?

"Kurasa aku tidak terlalu disayangi," katanya kembali mendongak. Kesedihan tersirat di matanya. Aku ingin mengatakan kalau itu tidak benar. Segala hal bisa terjadi di hari pemungutan. Mungkin mereka kurang berani untuk mengajukan diri. Tapi aku mengatakan itu di dalam hati.

"Mereka membenciku-"

"Aku tidak membencimu," suaraku cepat-cepat memotong kalimat Peeta. Dia terlihat terkejut dan keningnya berkerut membentuk lipatan. "Terserah mau berpikir apa kau tentang abangmu, terserah juga bagaimana kau menilai dirimu sendiri," aku berhenti untuk menarik napas. "Tapi, tidak ada alasan untuk membencimu. Kau orang yang baik."

Ketika aku selesai berbicara, kupu-kupu di perutku mulai beraksi. Kali ini mereka menciptakan sensasi mual, sehingga aku butuh ke kamar mandi sekarang. Tapi Peeta menahanku dengan tatapannya. Menuntut penjelasan.

"Kau ingat malam itu?"

"Apa?"

"Saat kau melempar roti untukku."

Mata Peeta membulat dan dia mengangguk. "Kau masih ingat?" tanyanya innocent.

Hell yes, tentu saja. Justru aku yang khawatir dia telah melupakan kejadian itu. Lantas, sesuatu menabrakku dengan keras. Peeta masih ingat.

"Saat itu kupikir kau orang paling baik sedunia," aku berkata jujur. Ini mungkin momen terakhirku dengannnya. Maksudnya, untuk bisa mengobrol seperti ini. Aku tahu setelah ini kami akan disibukkan dengan upacara pembukaan dan pelatihan. Setelah ini mungkin kami secara resmi menjadi musuh. Dan kesempatan takkan pernah menghampiriku lagi, maka aku menelan rasa takut dan harga diriku.

"Jangan sebutkan itu, Katniss," dia terkekeh pelan, dan senyumannya terlihat tulus. Dia bahkan terlihat nyaman memanggil namaku saat aku bahkan terlalu gugup untuk memandangnya.

"Terima kasih," kataku pada akhirnya. Merasa lega seakan beban bertahun-tahun yang menghinggapi hatiku perlahan terangkat. "Kau tidak tahu seberapa besar arti roti itu bagiku."

"Sama-sama, Katniss," Peeta lantas tersenyum lembut. Selembut angin musim semi yang menyapa saat aku melihat bunga dandelion pertama. Menyiratkan harapan. Pelan, namun pasti, jantungku berdegup lebih cepat dengan alasan yang tak kuketahui. Tidak karuan, sampai aku mengira ada yang salah dengan tubuhku. Aku belum pernah seperti ini sebelumnya.

Tidak pernah berharap aku akan merasakannya.

Rasa suka pada seseorang.

Pada anak laki-laki dengan roti.

Tiba-tiba aku merasa lemah. Merasa pasrah dan marah pada kenyataan. Peeta adalah anak kota; aku gadis yatim dari Seam yang kebetulan ayahnya meledak berkeping-keping saat kecelakaan di tambang. Anak Kota seperti Peeta pasti akan melihatku dengan cibiran lalu bergosip di sudut jalan tentang gaya hidupku yang pasti bermasalah bagi mereka. Mencemooh aku, yang berburu di luar pagar pembatas, yang menyediakan daging segar bagi mereka. Jika aku ingin meneruskan daftar perbedaan kami, maka separagraf tidak cukup.

Lalu aku sadar mengapa aku menyukai Peeta. Well, aku menyukai Gale, juga, tapi Gale sudah mengisi beberapa slot kosong di hidupku, dia bagaikan teman dan saudara laki-laki yang tak pernah aku punya. Tapi, itu karena Peeta berbeda. Peeta tidak pernah sekalipun mencibir, merendahkanku. Dia terlalu baik untuk melakukan hal itu. Peeta, dengan hatinya yang lembut.

"Aku minta maaf," kataku pelan, sehingga bisa dibilang aku berbisik.

"Maaf? Untuk apa? Kau tidak melakukan apa-apa."

"Maaf untuk malam itu," kataku. "Maaf, karena aku, kau pasti dimarahi oleh ibumu."

Peeta bergerak gusar, mencari posisi nyaman di sofa yang sudah dia duduki beberapa saat sampai dia memutuskan untuk bangkit dan duduk tepat di sampingku. Aku bisa mencium bau roti yang manis ketika dia menghempaskan tubuh tegapnya.

Jantungku bekerja lebih cepat. Ada api mengalir di darahku, menciptakan panas artificial di sekitarku. Aku takut Peeta merasakan panas itu juga. Tapi dia tampak baik-baik saja, meski matanya menunjukkan keseriusan.

"Tidak. Tolong jangan minta maaf. Aku tulus menolongmu. Dan aku tahu hal itu beresiko, salahku karena mengambil resiko itu."

"Tapi, esok harinya di sekolah, kau muncul dengan lebam di pipi, ibumu pasti menamparmu, dan... dan itu benar-benar menggangguku," aku tidak tahan Peeta bahkan menyalahkan dirinya karena 'menyelamatkan' perut keluargaku.

Peeta tertawa lepas dan suara tawanya renyah, tidak dibuat-buat, seakan kami adalah kawan lama yang tiap hari bersenda gurau. "Terima kasih untuk perhatiannya, Miss. Everdeen. Sungguh, aku tak menyangka kau mengenaliku. Beside, kau benar-benar tertutup di sekolah." dia kembali tertawa dan kali ini terdengar menyebalkan. Aku memutar bola mataku, geram karena Peeta mulai berasumsi salah tentang diriku. Namun dia benar, aku mengenalinya, memperhatikannya. Bukan hari itu saja, tapi untuk hari-hari berikutnya.

"Bisakah kau setidaknya menyalahkanku?" aku bertanya dengan pandangan marah.

"Maaf ya, Katniss, aku tidak bisa. Dan... saat itu aku tidak bisa mengambil resiko lain," Peeta terdiam sebentar . Aku terlalu penasaran dengan lanjutan kalimatnya, maka aku menoleh dan menemukan Peeta yang merenung, sebuah senyum tipis menghias wajahnya. "Kau mungkin mati kelaparan, aku mungkin hanya akan mendapat tamparan. Tidak adil bukan, jika aku membiarkan resikomu?"

"Kau mengasihaniku?" tanyaku sarkastis.

Peeta menggeleng, "Terserah mau kau sebut apa. Tapi, empati, itu yang kurasakan. Aku terlanjur melihatmu dan kau melihatku. Aku mengenalmu, Katniss, meski aku tidak tahu namamu. Tapi, kau dan aku pergi ke sekolah yang sama, jadi setidaknya aku mengenali wajahmu. Empati itu muncul begitu saja, dan tanpa berpikir aku tahu aku harus membantumu."

Hatiku terasa begitu ringan dan hangat saat Peeta mengatakan semua hal barusan.

"Yah, meski, semisal kau orang asing, aku pasti akan tetap membantumu. Aku orang terbaik sedunia, eh?" Peeta mengembangkan senyumnya saat mendongak. Wajah kami berhadapan dan aku bisa melihat beberapa freckle di hidungnya. Tidak ada yang bisa kupikirkan selain momen ini dan Peeta. Dan hidungnya. Dan bibirnya; bagaimana rasanya jika aku menempelkan bibirku diatas bibirnya yang terlihat lembut. Lalu diluar kendali, badanku bergerak mencondong, perlahan membuat jalan untuk mencium Peeta. Aku merasa takut, tanganku dingin tapi udara terasa sangat panas. Bahkan mungkin Peeta merasakannya, karena dia menutup matanya.

Beberapa inci lagi, dan aku mulai berani. Dan waktu seakan berhenti. Seakan memang hanya ada momen ini. Beberapa inci lagi, jarak di antara kami begitu dekat. Cukup dekat untuk bersentuhan. Cukup dekat untuk berciuman. Aku memejamkan mataku, maju lebih dekat. Hidung kami bersentuhan, dan rasanya cukup satu hal seperti itu mampu membawa tubuhku merinding disko. Tak ayal aku berpikir betapa sempurnanya momen ini. Bersama Peeta. Anak laki-laki dengan roti yang aku sukai sejak 5 tahun lalu. Momen yang tepat untuk ciuman pertamaku, ya, ciuman pertama tak bisa lebih baik lagi dari ini. Beberapa inci lagi bibir kami hampir bersentuhan-

BAAAMM!

Aku nyaris melompat keluar dari sofa ketika pintu kompartemen ini terbuka dengan kasar, menciptakan suara debaman yang jelas-jelas mengagetkan. Terutama karena aku dalam posisi seperti tadi.

Aku pura-pura membetulkan rambutku, gaunku, dan apapun yang bisa kubetulkan. Peeta tak tampak lebih baik, dia melarikan tangannya ke rambutnya. Tanpa perlu menganalisa aku tahu dia merasakan hal yang sama sepertiku.

Gugup karena kami baru ketahuan 'hampir' berciuman.

Aku mendongak melihat siapa laki-laki sialan yang secara tidak sopan menginterupsi. Bahkan tidak mengetuk. Lalu, mataku mendarat pada cengiran seorang Haymitch Abbernathy. Cengiran sinis yang biasa kudapati terselip di wajah para penghuni Hob. Cengiran yang mereka berikan padaku karena aku hanya gadis kecil yang mereka kira tidak bisa apa-apa.

"Apa aku menggangu, eh?" cengirannya berubah menjadi tawa obnoksius yang bisa kurasakan mengiritasi setiap inci kulitku. Satu tangannya menggenggam botol (pasti minuman keras) yang (pasti berasal dari Capitol) tidak kukenal merknya. Tangan yang lain, sebuah gelas kaca berbentuk kubus.

Dia berjalan ke arah kami saat kami tidak menjawab pertanyaannya. Peeta masih memainkan rambutnya saat Haymitch merobohkan badannya dengan cara yang kelewat anggun di sofa bekas Peeta duduk.

"Nah, siapa kalian?"

Aku mendengus meresponi pertanyaan Haymitch. Apa dia benar-benar tidak mengenal aku dan Peeta? Apa alkohol yang menginvasi pikirannya saat ini?

Melihat sikapnya, aku sudah membenci Haymitch di tempat pertama.

"Kami Peserta, apa kau tidak tahu?" Peeta menyahut tak sabaran.

Haymitch mengangguk lantas meletakkan dua hal di tangannya di atas meja di antara kami. Suara gesekan kaca mengisi ruangan untuk beberapa detik.

"Dan, apa kalian... pacaran?"

Duh, apa hal itu penting?

"Tidak," Peeta dan aku berseru serentak.

Jantungku berdetak cepat, cukup cepat sampai aku berpikir aku akan kena serangan jantung. Tanpa bisa kukuasai pipiku memanas dan aku mulai tidak nyaman. Aku tak berani melihat Peeta jadi kufokuskan pandangan pada tanganku diatas paha.

Tanpa bisa kukuasai, tingkahku justru membuatku kelihatan seperti baru saja melakukan kesalahan.

"Menarik," Haymitch menyilangkan kakinya, dan dari sudut mataku, dia mengamati aku dan Peeta bergantian layaknya rajawali pada mangsanya.

Detik berlalu begitu saja dengan Haymitch yang tak henti meneliti kami. Sampai akhirnya Peeta bersuara.

"Kapan kita memulainya, maksudku, aku ingin tahu rencanamu."

"Rencanaku?"

"Ya," Peeta mencondongkan badannya, menaruh tangan diatas lututnya. "Kau pembimbing kami."

Haymitch memutar matanya lantas memberi Peeta tatapan -tak-perlu-ingatkan-aku-bocah.

"Setidaknya beri kami saran, atau nasehat, atau apapun."

"Well, hindari kematian seketika, dan sadari dari sekarang bahwa aku-" dia berhenti seperti ingin menegaskan kalimatnya. "-sama sekali tidak bisa membantu kalian."

"Kau benar-benar tidak berguna!" seruku lantang, kehilangan kesabaran. Aku berdiri di kedua kakiku mengkonfrontasi Haymitch, benar-benar marah atas jawabannya. "Untuk apa kau disini, omong-omong? Makan dan minum? Eh?"

Haymitch hanya mengangguk, mengiyakan. Senyum tipis tergambar di wajahnya.

"Sweetheart," gee, dia memanggilku apa? Aku yakin itu sarkasme dari caranya memberiku tatapan menghina itu. "Untuk selamat, kau harus dapat sponsor. Sponsor hanya melirik Peserta yang mereka suka. Maka untuk mendapat sponsor kau harus membuat mereka menyukaimu. Dan kau, jelas-jelas jauh dari kualifikasi itu."

Aku mengepal tanganku terlalu keras hingga buku jariku memutih. Tangan Peeta kemudian meraih pergelangan tanganku dan menarikku duduk. Ia tidak melepaskanku. Aku menengok menemukan mata biru langitnya yang menenangkanku. Di lain sisi, membuatku menggigil turun ke tulang belakang.

"Ahem!" Haymitch menarik perhatian kami dengan matanya yang menyipit dan seringaian di ujung bibirnya.

Benar. Haymitch tidak tersenyum. Dia menyeringai.

Duh.

"Kiddo," panggilnya pada kami. "Aku lebih baik menghabiskan ini di kamarku," katanya merujuk pada dua benda di atas meja.

Dia terkekeh sebentar sebelum membuka pintu lalu beralih pada kami— pada tangan Peeta yang menggenggam tanganku.

"Sebenernya-ya, aku disini untuk makan dan minum. Tapi- tidak, aku sangat berguna disini," Haymitch mengganti fokusnya dari aku, Peeta, dan tangan kami dengan cepat. Seringaian itu muncul lagi. "Karena aku punya rencana."

Haymitch menghilang di balik pintu setelah dia membantingnya dengan keras. Aku menatap pintu silver itu, terpaku.

Bukan karena akhirnya aku lega, pembimbing kami yang tidak lebih dari seorang peminum punya rencana, tapi karena rencana itu sendiri.

Sebuncah perasaan ngeri menjalar di tubuhku, membawaku memandang pergelangan tanganku lalu menghempas tangan Peeta yang melingkarinya.

Apapun rencana Haymitch, aku tidak yakin aku siap.

TBC