Cas dengan bingung mencari-cari Chuck di segala penjuru bangunan mewah itu, tapi tidak ada yang mengetahui keberadaan asisten pribadinya itu. Ia sudah menyusuri lorong yang mereka lalui sebelumnya. Ia juga sudah mengintip ke panggung tempat ia tampil tadi, tapi tidak ada siapa-siapa. Ia mengalami kendala karena orang-orang disekitarnya mengenali dirinya yang sedari tadi lalu lalang mencari Chuck. Ia agak ketakutan bila tidak ditemani seseorang yang ia percaya. Gabriel sendiri sudah pergi meninggalkannya, dengan alasan ingin menghadiri peresmian perdana buku karangan kakak mereka

"Michael sudah membuat buku tentang perlunya seni dalam hidup seseorang dan dampak buruknya jika seni tidak ada sama sekali dalam dunia ini," kata Gabriel sebelumnya pada Cas, sambil berjalan menuju Hall A. "Pffftt.. Aku tahu Mikey memang seseorang yang melankolis, tapi.. Kurasa jiwa seninya tidak setinggi yang kukira selama ini."

Cas tersenyum kecil membayangkan wajah bosan Gabriel yang sekarang mungkin sudah duduk di barisan paling belakang saat peresmian buku Arts for the Souls karangan Michael Novak. Tapi bagaimanapun juga, ia harus menemukan Chuck Shurley, pikirnya. 5 menit sebelum meet and greet dimulai atau ia akan dihukum oleh Chuck. Ia berlari ke sana kemari, menghindari kamera-kamera yang siap memotretnya kemanapun ia pergi. Beberapa menit berlalu, keringatnya bercucuran, dan ia masih saja belum menemukan Chuck. Dan detik-detik akhir itulah ia melihat Chuck ada di luar gedung Purgatory Convention Center, berdiri menghadapi para penggemar yang ingin cepat-cepat masuk ke dalam.

Thank god, pikir Cas

Ia berjalan kelelahan ke arah Chuch yang berteriak-teriak dengan penuh emosi ke arah para penggemar

"Chuck.."

Chuck menoleh dengan wajah kesal dan hampir mendamprat Cas karena mengganggu dirinya. Ia terlihat lega ketika melihat Cas berdiri di hadapannya. Para fans yang melihat kedatangan Cas segera berteriak histeris, sementara Chuck mulai menutup telinganya. Cas menarik Chuck masuk ke dalam gedung, membiarkan Chuck menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu.

"Ada apa?"

Chuck menggelengkan kepala. "Ada seorang pria, kurasa umurnya sama sepertimu. Dean Winchester. Ia meminta bertemu denganmu secara pribadi, dan ketika kutanya alasannya, ia tidak mau menjawab. Ribuan orang diluar sana memaki-maki dirinya karena memperlama antrian masuk Meet and Greet."

Mata Cas membelalak. Sebuah nama yang sudah lama ia tidak dengar. Sebuah nama yang dulu mencampakkan dirinya. Sebuah nama yang membuat hatinya berdebar-debar setiap kali mendengar namanya. Dean Winchester? Di maki-maki? Tanpa pikir panjang, ia berjalan ke arah pintu utama, dan membukanya lebar-lebar. Teriakan melengking para fans memenuhi udara, membuat telinga Cas seperti tuli beberapa saat. Ia mengangkat tangannya, dan semua orang terdiam.

"Aku mencari seseorang bernama Dean Winchester! Siapapun yang tidak bernama itu silahkan pulang sekarang juga. Aku tidak sudi bertemu dengan orang-orang yang tidak memiliki hati nurani dan sopan santun."

Geraman amarah, umpatan, keluhan dari para fans menyerang Cas. Perlahan tapi pasti, satu persatu orang-orang tersebut mulai meninggalkan kawasan gedung itu, dan tersisa seorang pria berjaket kulit dengan kemeja bermotif kotak-kotak hijau berdiri di hadapan Cas. Sendirian. Mereka saling membeku, menatap satu sama lain. Cas mengamati pria di hadapannya itu dengan saksama. Sebuah wajah yang sangat familiar bagi Cas. Rambut hazel yang berantakan, dan kedua mata hijau terang yang menatap kembali ke arahnya. Tanpa sadar Cas berjalan mendekat ke arah pria itu dan memeluknya.

Dia sangat sempurna, pikir Cas. Persis seperti dulu

"Dean.. Tapi, bagaimana―"

"Aku tahu," kata pria itu, tertawa kecil. Ia membalas pelukan Cas dengan sedikit gemetar. "Senang bertemu denganmu, Cas."

Oh tuhan, suaranya, pikir Cas. Suara alto rendah yang menurutnya sangat seksi. Cas melepaskan pelukannya dengan canggung, sementara Dean merapikan kemejanya dan mengeluarkan selembar foto dan sebuah sharpie berwarna gold metallic. Cas menaikkan alisnya

"Kau mau aku menandatangani itu?" Dean mengangguk. Cas mendekat dan mengambil foto itu beserta sharpie miliknya. Ia melihat foto itu lebih dekat dan tampak dua orang di foto tersebut sedang duduk di atas kap mobil kuno berwarna hitam. Dean menyadari Cas yang sedang mengamati foto itu dan ia tertawa. Tertawa dengan nada yang sedih

"Sammy sudah dewasa sekarang.." Dean menunjuk orang yang lebih tinggi perawakannya di foto itu. Ada rasa bangga dalam nadanya saat ia menunjuk foto Sam, adik laki-lakinya. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat menutupi sebagian matanya, dan ia terlihat sangat bahagia bersama Dean. "Sebentar lagi ia akan masuk perguruan tinggi, dan ia akan masuk jurusan hukum."

"Sam ingin menjadi pengacara?"

Dean mengangguk. Ia menggigil kedinginan, dan berjalan ke arah pintu masuk ke dalam bangunan. Ia berbalik menghadap Cas, yang masing termenung melihat foto itu di luar. Ia melewatkan banyak momen dalam kehidupan Dean Winchester

"Kau mau mati kedinginan, Cassie?"

Cas menengadah, melihat Dean tersenyum padanya. Ia cepat-cepat berlari kecil ke arah Dean dan masuk ke dalam, sambil merapatkan jasnya. Dean menunggunya di sebuah sofa, duduk termenung dengan wajah sedih. Mau tidak mau, Cas ikut merasakan kesedihan yang Dean alami. Tiba-tiba saja pipi Cas memerah, menyadari kalau Dean memanggilnya Cassie sebelum masuk tadi. Dengan gugup ia berjalan ke sebuah meja, dan menandatangani foto kedua Winchester tadi lalu mengembalikannya kepada Dean. Ia berjalan ke arahnya lalu duduk di sampingnya.

"Ini," kata Cas, menyodorkan foto beserta sharpie emas milik Dean.

Dean memandang foto yang sudah bertandatangan itu dengan lega dan memasukkannya ke kantong di dalam jaket kulitnya. Cas memandangnya dengan heran

"Itu saja? Kau meminta bertemu secara pribadi denganku hanya untuk sebuah tandatangan?"

Dean tertawa, menggelengkan kepalanya. Ia menyandarkan dirinya ke bantalan sofa berwarna abu-abu dibelakangnya. Kepalanya menengadah ke atas, dan memejamkan matanya. Selagi Dean melakukan itu, Cas memiliki kesempatan untuk mengamati wajah Dean sekali lagi dengan jarak yang lebih dekat. Bintik-bintik di wajahnya sangat banyak, pikir Cas, mengerutkan dahinya. Dalam hati ia berjanji akan mencoba menghitungnya satu persatu nanti. Ia mengamati bibir Dean yang terkatup rapat, dan muncul sebuah keinginan gila dalam pikiran Cas untuk mencium Dean. Tapi cepat-cepat Cas menghilangkan pikiran itu, sambil tertawa dalam hati. Semua sudah berlalu, Castiel, pikirnya.

"Ini semua bermula dari Sammy." Dean tiba-tiba saja kembali duduk tegak. Ia menatap ke lantai, seolah-olah ia malu untuk menceritakan sesuatu pada Cas. "Dia.. Dia memintaku meminta maaf padamu."

Mata Cas melebar karena kaget. Ia menggelengkan kepalanya dan bergeser mendekat ke arah Dean. Ia meletakkan tangannya di bahu Dean, dan meremasnya dengan lembut

"Kau tidak perlu melakukannya. Aku memaafkanmu, Dean. Selalu."

"Tapi aku tidak, Cas." Ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, menggelengkan kepalanya. Suaranya pecah, dan air matanya perlahan menetes dan mendarat di lantai. "Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Aku mencampakkanmu, Cas.."

Ia mengusap air mata dari wajahnya dan menggaruk kepalanya dengan canggung. "Sammy ingin aku menghabiskan waktu lebih banyak denganmu."

"Kenapa?" Jantung Cas berdebar dengan kencang. Otaknya mulai bekerja, memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi atas Dean

Dean menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri menatap Cas. Kedua mata biru Cas bertemu kedua mata hijau terang yang memancarkan kesedihan dan ketakutan yang luar biasa. Dean membuka mulutnya dan semuanya terjadi begitu cepat.

"Tumor otak. Mereka bilang aku hanya punya waktu satu bulan untuk hidup."


Author's Note:

Whoaa.. Dean Winchester is back. Sebenernya pingin bikin kanker apa gitu cuma akhirnya aku mutusin tumor otak aja. Sorry Deanno. Bakal hiatus soalnya aku banyak tugas, pr, ulangan, dll. Stay tune!