A/N: Selamat membaca~


summary:

Bagaimana bisa kau mempercayai orang yang sudah bersumpah di hadapan tuhan untuk selalu mencintaimu selama-lamanya tapi mengingkarinya? Bagaimana bisa kau memaafkan orang yang mengkhianati cintamu dengan kejamnya? apakah takdir mempertemukan kita hanya untuk mengingatkan bahwa cinta tidak abadi?


Aku membuka pintu dan menemukan Natsu dan seorang perempuan berambut putih pendek sedang melakukan 'itu', di tempat tidur aku dan Natsu. Ini semua terlalu menyakitkan untuk dilihat, tanpa bisa aku tahan air mataku tumpah, aku menangis. Laki-laki yang sudah bersumpah di hadapan tuhan untuk selalu mencintaiku, mengingkari janjinya.


Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Air mata jatuh membasahi pipi dan tanganku. Dada ku terasa sesak melihat pemandangan yang ada di depanku.

"L..Lucy.."

Natsu terlihat sangat kaget begitu melihatku di depan pintu. Natsu dan wanita yang ada di sebelahnya pun langsung buru-buru menutupi tubuh mereka berdua yang terbuka dengan selimut.

"Tunggu Lucy, aku bisa jelaskan!" ucap Natsu sambil mengambil bajunya dan memakainya.

Tidak aku pedulikan perkataan Natsu. Aku langsung berlari ke luar rumah, aku terus berlari tanpa tujuan. Dari belakang aku bisa mendengar teriakan Natsu, dia berlari mengejar ku sambil memanggil ku.

Sepertinya keberuntungan tidak memihak ku saat ini. Di tengah berlari, aku tersandung batu dan terjatuh, aku merasakan nyeri di lutut ku, tapi nyeri ini tidak sesakit saat aku melihat suami ku selingkuh di depan mataku.

"Luce...apa..kau baik-baik saja? Mana yang sakit?" ucap Natsu sambil mengatur napasnya.

Aku hanya terdiam. Aku tidak berani memandang matanya, aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Aku tahu benar siapa wanita yang bersama Natsu tadi, dia adalah Lisanna, sekretaris Natsu.

"Luce, ayo berdiri akan aku obati lukamu" ucap Natsu.

Dia hendak memegang lututku yang terluka, tapi aku langsung menghempaskan tangn Natsu agar tidak menyentuh ku. Dia terlihat kaget, mungkin karna ini adalah pertama kalinya aku menolak di sentuhnya.

Aku mengepalkan kedua tanganku yang berada di aspal jalanan, aku mencoba untuk menahan air mataku agar tidak keluar, tapi percuma saja, air mata sudah membanjiri pipi ku. Aku sangat mencintai Natsu, aku benar-benar mencintainya, tapi apa balasannya? Dia selingkuh.


NATSU'S POV

Aku benar-benar merasa bersalah pada Luce. Aku tahu sejak aku selingkuh dengan Lisanna, sifatku jadi sangat berubah pada Luce, aku jadi tidak mempedulikannya lagi, bahkan aku sampai membentaknya. Aku tahu aku yang salah, hanya saja aku merasakan kejenuhan dalam hubungan ku dengan Luce.

Tapi saat melihatnya menangis seperti ini, aku jadi sangat merasa bersalah, aku jadi merasa seperti laki-laki paling berengsek yang ada di dunia.

"Luce, ayo berdiri akan aku obati lukamu" ucap ku.

Aku hendak memrgang lututnya yang berdarah, tapi Luce menghempaskan tanganku agar aku tidak menyentuhnya. Aku sangat kaget dan sedih saat dia melakukan itu. Ada rasa nyeri di dadaku saat dia menghempaskan tanganku, tapi aku tahu, rasa nyeri ini tidak sebanding dengan rasa nyeri yang Luce rasakan sekarang.

Sesaat kemudian, aku mendengar Luce menangis, hati ku benar-benar sakit karna aku tahu yang menjadi sebab tangisanya adalah aku.

"Kenapa...kenapa kau melakukan ini Natsu?" tanya Luce di sela tangisnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya karna tertutupi oleh rambutnya.

Aku tidak sanggup menjawab pertanyaan Luce, sebenarnya aku sendiri tidak tahu kenapa aku selingkuh, apa mungkin karna aku jenuh? Atau mungkin aku sudah tidak mencintai Luce lagi?.

Luce mendongakan kepalanya untuk melihatku, aku bisa melihat bibirnya bergetar, seperti hendak ingin mengatakan sesuatu, air mata masih menggenang di matanya, menyiratkan kesedihan.

"Natsu...aku...sangat mencintaimu...benar-benar mencintaimu...tapi...aku pikir...kita harus...berpisah...".

Aku membelakkan mataku, ada rasa kaget, sedih, dan kecewa di dalam hati ku. Dalam hidup ku bersama Luce, aku tidak pernah membayangkan akan berpisah dengannya.

END OF NATSU'S POV


Aku tahu kata-kata yang aku keluarkan tadi, pasti akan aku sesali seumur hidup ku, tapi mau bagaimana lagi, untuk apa aku mempertahankan cintaku pada Natsu, jika dia sendiri saja sudah tidak mencintaiku lagi.

"Aku...ingin kau bahagia Natsu...jadi...jika kau tidak bahagia bersamaku...kau boleh pergi..." ucapku sambil menahan tangisanku. Aku sudah menyerah dengan Natsu, karna tidak peduli sebesar apapun cintamu pada orang yanga kau sukai, jika dia menyukai orang lain, kau akan kalah.

"Maksudmu...kau ingin kita...cerai?" tanya Natsu.

Aku terdiam sebentar lalu menganggukkan kepalaku. Dada ku rasanya sesak, tapi aku harus menahannya, mungkin takdir hanya mempertemukan kita berdua, hanya untuk mengingatkan bahwa cinta kita tidak abadi.

"Luce...ak-"

Ucapan Natsu terpotong karna aku tiba-tiba berdiri. Tanpa membalikkan badanku untuk melihat Natsu, aku langsung berlari lagi, tapi kali ini berbeda, Natsu tidak mengejarku maupun memanggilku.

NATSU'S POV


Aku berjalan pulang ke rumah dengan gontai. Saat luce berlari tadi, aku jadi teringat akan masa lalunya. Ibu Luce sudah meninggal sejak dia kecil, lalu 2 tahun setelah ibunya meninggal, adiknya meninggal karna kecelakaan, dan ayahnya juga sudah meninggal saat Luce berumur 18 tahun. Semua keluarga Luce sudah meninggalkanya, hanya akulah yang ada bersama dia sekarang, tapi aku malah sudah melukainya. Betapa bodohnya aku selingkuh dari Luce. Aku benar-benar berengsek.

Saat sampai di rumah, aku melihat Lisanna masih ada disana.

'Dia belum pulang?' tanyaku dalam hati.

Lisanna sedang duduk di sofa dengan manis, dia tersenyum lembut ke arah ku.

"Apa Luce minta cerai denganmu?" tanya Lisanna sambil tersenyum. Aku heran kenapa dia terlihat sangat senang ketika menanyakan hal yang pasti akan membuat orang marah, termasuk aku.

"Apa maksudmu Lis?" tanyaku pada Lisanna.

Lalu Lisanna berdiri dan memelukku "dia sudah melihat kita berhubungan intim kan? Dia pasti memintamu cerai, kau pasti senang kan Natsu" ucap Lisanna dengan nada yang sengaja dia lembutkan.

Aku hanya bisa terdiam saja menanggapi ucapan Lisanna. Keadaan ku sekarang sama sekali tidak bisa di bilang senang, entah kenapa ada perasaan yang mengganjal di hatiku, seperti perasaan ketakutan, ketakutan akan kehilangan Luce.

Aku sendiri pun juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini. Aku memang merasa jenuh akan hubungan ku dengan Luce, jadi aku selingkuh pada Lisanna, tapi entah kenapa aku jadi gugup akan pilihanku sendiri. Dulu saat pertama kali aku berhubungn dengan Lisanna aku tidak ingin lagi bersama Luce, tapi sekarang, aku tidak ingin cerai dengan Luce.

"Lebih baik kau pulang Lisanna, sudah malam"

"Baiklah, tapi kau antar aku ya Natsu" ucap Lisanna dengan nada menggoda.

"Aku pusing Lis, lain kali saja ya" ucapku dengan malas.

"Apa-apaan kau ini Natsu, bukankah seharusnya kau senang, ya sudahlah aku pergi sendiri saja" ucap Lisanna lalu langsunng bergegas pulang.

Aku menghela napas lega saat Lisanna sudah keluar rumah. Aku masih memikirkan Luce, sebaikanya aku menelfonnya, tapi sepertinya dia tidak akan menjawab telfonku.

Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman di kulkas. Saat aku membuka pintu kulkas, aku kaget melihat ada kotak kue di dalamnya, aku tidak ingat telah membeli kue, jadi ini pasti punya Luce.

Aku mengambil kue itu dari kulkas lalu meletakkanya di meja. Aku membuka kotaknya untuk melihat kue apa itu. Hatiku rasanya langsung teriris setelah melihat kue itu, itu adalah kue untuk merayakan pernikahan kami yang sudah 3 tahun.

Air mata membendung di mataku, aku tidak sanggup berkata apa-apa. Hatiku rasanya teriris karna Luce begitu mempedulikan aku, tapi aku selingkuh darinya, aku memang sangat berengsek. Aku bahkan tidak ingat bahwa besok adalah hari pernikahan kami yang ke 3 tahun.

Aku langsung menutup kotak itu dan memasukkanya ke dalam kulkas. Aku terduduk lemas di lantai dapur. Hari jadi pernikahan kami, mungkin juga bisa menjadi hari perpisahan kami.

END OF NATSU'S POV


aku terduduk di bangku kereta dengan lemas. Lututku sakit, mataku merah, dan aku sangat pusing sekarang. Aku berniat untuk pergi ke rumah orang tua ku. Walaupun kedua orang tuaku sudah meninggal, aku tidak pernah berniat untuk menjual rumah itu, karna disana terlalu banyak kenangan ku dengan orang tuaku.

Tak berapa lama kemudian aku sampai di rumah ku yang dulu. Setiap pagi sampai sore akan ada pembantu yang membersihkan rumah ini, tapi pada malam hari pembantunya akan pulang, jadi tentu saja rumah ini sangat sepi, untung saja aku punya kunci untuk rumah ini, jadi aku bisa masuk.

Aku menghidupkan lampu yang ada di ruang tengah, aku baru menyadari betapa besarnya rumah ini, yah tentu saja, ayahku adalah seorang pengusaha yang sukses, jadi untuk membangun rumah sebesar ini bukan apa-apa.

Aku menjatuhkan diriku di sofa yang ada di tepat belakangku. Aku menghela napas berat. Mungkin besok akan jadi hari perpisahan kami, mungkin.


A/N: Jadi gimana nih chapter 2 nya, bagus atau enggak?

kalau misalnya ada yang mau ngasih saran atau kritikan kasih saja ya, karna itu akan sangat membantu.

REVIEWS~