Disebuah rumah besar ala Eropa, Kise duduk diam sambil kepalanya terus tertunduk. Dihadapannya, Tuan Besar dirumah mewah itu menatapnya tajam.

"Apa maksudmu benar-benar ingin sekolah di Teiko, Ryouta?"

Keringat dingin bercucuran dari kening Kise, menejernya menatap prihatin disebelah Sang Tuan Besar.

"A―Aku Cuma ingin sekolah layaknya anak-anak Teiko-ssu.."

Decakan terdengar ditelinga Kise, Sang Tuan Besar tidak suka dengan keinginannya. "Kouri, kau pergi dari sini." Titah Akashi Seijuurou, menejer Kise tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong artisnya. Ia pun meninggalkan ruangan yang ternyata adalah kamar Akashi.

Suara kunci otomatis dari pintu Akashi menggema, Kise makin menunduk takut.

"Apa bedanya dengan Rakuzan? Kau juga berteman seperti orang-orang di Teiko. Kau juga bisa menjalani hobi baru mu pada basket. Apa yang kurang? Katakan padaku." Akashi berdiri dari kursi kebesarannya. Ia mendekati Kise. "Katakan padaku, Ryouta.." dagu Kise ditarik. Membuat Kise terpaksa mengadah menatap wajah dingin Akashi. Kedua mata yang berbeda warna membuat jantung Kise seolah berhenti berdetak.

Hidupnya Cuma sampai disini.

"...tidak ada. Tidak ada yang kurang, Seicchi.." walau ia tersenyum, airmatanya tak bisa membohongi betapa ia ketakutan pada orang dihadapannya. "Tadi itu Cuma gurauan saja.. sungguh.." helusan di pipi Kise.

"Oh ya?" mata mereka bertemu. "Aku kira kau ingin bertemu dan berteman dengan Daiki itu." Mata Kise melebar, "Tapi tenang saja, aku yakin dia pasti akan melupakanmu seperti yang lainnya." Akashi menunduk, mendekati wajahnya pada wajah Kise. "―orang sepertinya tidak pantas berteman atau bersanding dengan Idol besar sepertimu, Ryouta." Bibir itu membungkam bibir Kise.

Ciuman yang begitu arogan. Hal yang biasa jika dilakukan oleh Akashi. Kise mengerang, tangannya yang tadi bertumpu diatas paha kini menggenggam jas hitam Akashi. Jantungnya berdetak cepat karna ketakutan, tubuhnya juga mulai bergetar. Kise menelan ludah yang telah tercampur didalam mulutnya. Setelah puas, Akashi menarik wajahnya begitu saja dan membiarkan Kise menganga seolah mengemis padanya. Ia suka jika si pirang mulai tenggelam dalam permainannya seperti ini. Begitu menawan hatinya.

"Jadi? Kau masih ingin sekolah di Teiko, Ryouta?"

Kise menggeleng, ia mendekatkan dirinya pada Akashi menggenggam jas bagian bawah Akashi. "Aku tidak mau, Seicchi.. Di―Disana tidak ada Seicchi.. Tidak ada yang akan menjagaku.."

Memenangkan permainannya sendiri, Akashi mengelus kepala Kise.

"Anak baik. Sama seperti Ryouta ku yang dulu. Sangat penurut.."

o

o

Idol!

© Ryuuki Ukara

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Rate: T+/M

Warning: Yaoi/BL, AU, Harem!Kise, Teiko-days, Typo(s), Lime/R-18, bahasa sesuka hati author dan kekurangan lainnyaa..

Note: Teiko disini setingkat SMA.

o

o

Aomine duduk disebuah bak tertutup tempat biasa ayahnya menaruh ikan hasil tangkapan. Aomine menatap datar ke depan, dimana sebuah pancing yang ia tancapkan kesisi kapal tidak bergerak. Laut malam, Aomine yang dulu sering ikut dengan ayahnya―tidak pernah merasa sebosan ini.

Berbanding terbalik dengan Aomine yang diam sambil menunggu umpannya dimakan ikan―rombongan yang ia bawa tengah berpesta didepan sana. Sekantong besar yang berisikan kaleng bir berserakan dimana-mana. Wanita sexy itu yang paling gila, ia benar-benar mabuk. Sedangkan yang lain menikmati kegiatannya sesama.

Jujur Aomine merasa mual melihat orang-orang gila itu berpesta. Apakah ini yang selalu dilakukan oleh orang kaya? Dan juga ia melihat Kise sama seperti orang-orang sebagaimananya berkerja di prostitusi. Cih, persetan dengan 'keinginannya berteman baik dengan Kise'―Idol papan atas yang sedang depresi itu sedang dibawah kendali alkohol dan mulai kehilangan akal membuat Aomine membuang pikiran itu jauh-jauh.

Pancing Aomine tiba-tiba bergerak, ia segera berdiri dan mengambil pancingnya. Sekuat tenaga, Aomine menarik pancing itu dan terus berharap kalau ikan yang telah memakan umpannya tidak kabur.

Sayang beribu sayang.. Ikan yang bisa dilihat Aomine dengan jelas besarnya―bisa melepaskan diri. Aomine kembali duduk dengan sumpah serapah yang ditujukan untuk ikan sialan tersebut.

Angin malam berhembus, Aomine yang menggunakan jaket milik ayahnya mendongak menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Hari yang indah untuk moodnya yang sangat buruk.

"Hahahaha!" tawa itu menggema, Aomine berterima kasih untuk mulut ibunya yang sangat cerewet. Kini Aomine tau maksud ibunya melarang ia minum sake atau bir diumurnya yang sekarang―karna itu membuat otaknya rusak. Sebagaimana yang sedang dialami orang-orang didepan sana. Yang Aomine yakin umur mereka masih dibawah delapan belas tahun. Kecuali untuk wanita gila yang kegirangan sendiri itu.

Aomine yang sebenarnya tak ingin menatap kedepan―terpaksa harus melihatnya saat tiba-tiba Kagami mendorong Kise ke lantai kapal hingga membuat suara 'Buk!' yang cukup keras. Yang selanjutnya tak ingin dipandang oleh Aomine.

Dibawah tubuh besar Kagami Taiga, Kise dengan mulut yang kedatangan tamu yang tak lain lidah Kagami―kewalahan. Pepatah yang mengatakan jangan memancing Macan yang kelaparan memang benar adanya. Kise setengah menyesal menggoda Kagami yang ternyata mulai mabuk karna bir yang ia minum. Dan pada akhirnya ia tertangkap dibawah tubuh sang Taiga.

"Oi.. Kagami.." Haizaki menepuk punggung Kagami, ia meminum kaleng birnya. "Jangan terlalu menikmati barang Akashi. Jika rusak kau bisa mati ditangannya, bodoh!"

Kagami melepaskan ciumannya, matanya menatap wajah Kise yang memerah. Bibir sang artis terkenal―membengkak, saliva sudah membasahi bibir dan juga dagunya. Seringai diwajah Kise membuat Kagami menggeram menahan diri.

Himuro mengambil alih adiknya. Ia menarik Kagami dari atas tubuh Kise. Orang yang satu-satunya masih bisa mengendalikan diri setelah meminum banyak bir―menyelamatkan Kagami dari lubang nereka yang akan dipijaknya.

Kise terkekeh, ia segera bangkit dan menyisir rambutnya yang berantakan. Jaket yang ia kenakan kini terbuka, juga kaos yang ia kenakan kini tergulung diatas dada. Haizaki meneguk ludahnya, berusaha untuk tidak tergoda ke lubang neraka.

"Sugee!" muka merah yang karna mabuk itu merekah ia lalu menerjang Kagami, dan memeluknya erat. "Aku tidak menyangka kalau kau lebih baik dari Seicchi, Kagamicchi!" Kagami mendecih tak suka. Di'banding-banding'kan adalah hal memuakkan yang pernah ada.

Merasa ada yang aneh, Himuro melirik Aomine yang masih menunggu umpannya dimakan lagi. Sayangnya, tidak kunjung dimakan.

"Aomine-san.." Himuro memanggilnya, Aomine menoleh. "Kau tidak mau minum?"

"Tidak, terima kasih." Jawab Aomine langsung, ia kembali menatap ke pancingannya.

"Bergabunglah, tampan!" teriak Alex. Ia mengejar Aomine yang sontak membuat kaget sang kapten kapal, sayang Himuro lebih dulu menangkapnya dan membanting wanita itu ke lantai kapal.

"Baiklah.. Jika kau mau, langsung bergabung dengan kami saja!" Aomine menggangguk, setelah itu Himuro kembali harus mengendalikan macannya terhadap Kise. "Taiga, hentikan!"

Kise tertawa senang, tangannya menggapai-gapai Kagami tapi segera ditepis oleh Himuro. "Maaf Kise, kami masih ingin hidup!" ujarnya, setelah itu ia benar-benar mengisolasi adik angkatnya dari Kise.

"Shougo-kun~" erang Kise menggoda Haizaki, namun pemuda gimbal itu Cuma melempar kalengnya ke kepala Kise.

"Aku belum mau mati, Ryouta!"

Kise mengerucutkan bibir. Ia mendudukkan dirinya dan menatap tajam orang-orang dihadapannya. Dan saat ia bertemu pandang dengan Alex, Kise langsung tersenyum lebar.

"ALEEEEXX!"

"KISEEEEE~!"

Tapi lagi-lagi Alex ditahan oleh Himuro hingga membuat wanita itu nangis bombay. "Kau bodoh?!" bentak Himuro, Alex Cuma bisa merunduk minta maaf.

Tidak asik.. Kise memandang malas mereka semua. Lalu, saat ia mengingat sesuatu―Kise segera bangkit dan berjalan menuju tempat Aomine berada.

"Oi! Ryouta!" Haizaki memanggilnya, tapi Kise tak menghiraukan.

Kise merapikan pakaiannya. Kaos yang tergulung diatas dada ia turunkan, juga jaket yang terbuka kini ia tutup kembali. Kise duduk disebelah Aomine.

"Hei, Aominecchi!"

Kise tersenyum lebar pada Aomine, tapi si tan itu hanya menatapnya malas. "Hm?"

"Sudah lama tidak berjumpa!"

"Aku tau.." Aomine menatap kelaut.

"Bagaimana kabar Murasakibaracchi? Midorimacchi? Kurokocchi? Dan Momocchi-ssu? Dan err.. Nijimura-senpai?" hidung Aomine bisa merasakan bau bir dari mulut Kise.

"Mereka baik-baik saja."

"Ah~ andaikan aku bisa sekolah disana~" Kise merentangkan tangannya keatas, Aomine mengabaikan Kise. "Ne, ne, Aominecchi.. Apa saat Akashicchi mengunjungi Teiko kembali, ia membuat masalah? Ku harap tidak. Akashi sebenarnya orang baik.. dia―

Aomine membiarkan Kise bercerita tentang hal yang membuat Aomine sangat tidak tertarik.

Tak lama Kise diam sendiri. Si pirang akhirnya sadar kalau tidak didengarkan. Menarik bahu Aomine, Kise tiba-tib menempelkan bibirnya pada bibir Aomine. Si tan melotot kaget, begitu juga dengan yang lainnya didepan sana.

Lidah menyelusup kemulut Aomine, si pirang mengerang sendiri saat lidahnya menggoda lidah Aomine yang sengaja tidak tergoda. Mendekat lebih, Kise memajukan tubuhnya hingga dadanya bersetuhuan dengan dada Aomine. Kepalanya miring, menyesuaikan lidahnya yang ingin bermain didalam mulut Aomine.

Aomine tergoda, matanya yang tadi melotot makin sayu dan akhirnya tertutup. Lidahnya yang tadi digoda oleh Kise kini melilit lidah sang idol dan menghisapnya. Kise mengerang kuat, kakinya bergerak tak nyaman hingga menyentuh sebuah toples hingga terjatuh dan membuat isinya keluar.

Kaki tak beralas itu masih bergerak tak nyaman karna permainan diantara mereka. Sesuatu menyentuh kaki Kise. Menggeliat, berlendir dan..

Kise membuka matanya, ia melirik kakinya yang sedang dinaiki oleh beberapa ekor cacing. Memucat tiba-tiba, Kise segera mendorong Aomine hingga ia terjungkal. Ia menendang-nendang kakinya sembarangan, membuat cacing-cacing untuk umpan itu terlempar kemana-mana. Kise berdiri, ia segera berlari ketempat teman-temannya. Namun, karna kepanikannya sendiri―ia terjatuh. Dan keningnya membentur lantai hingga terluka.

"My God! Kise!" Alex berlari menghampiri Kise. Ia membantu si pirang bangkit dan membawanya kedepan. "Anyone! Kalian bawa P3K atau apapun?!"

Aomine bangkit dari terjukalnya, ia memegang kepala belakangnya yang merasa nyeri. Cacing sialan! Ia yang baru saja akan mendominasi permainan―dihancurkan suasananya oleh cacing-cacing itu. Ia memaki, lalu mengambil cacing-cacing tersebut dan memasukkannya kedalam toples kembali. Aomine berdiri dan berjalan kedepan. Menatap kepanikan Alex karna dahi Kise terluka.

"Che.." masuk kedalam ruang kendali, Aomine mengambil kotak P3K dan memberikannya pada Alex.

"Stupid! Lihat perbuatanmu sendiri, Kise! Kalau begini, kami akan benar-benar mati di tangan Akashi!" Alex mengeluarkan alkohol dan memberikannya ke kapas. Setelah itu ia membasuh ke luka Kise yang berada didahi bagian kiri.

"Itte!" rintih Kise, merasakan dingin alkohol itu menyentuh dahinya yang terluka. Ia lalu menatap Aomine yang menatap malas padanya. "Itu juga karna mu, Aominecchi!"

"Aku?"

"Ya, kau, Ganguro-kun! Untuk apa kau menyimpan cacing sebanyak itu diatas kapal?!"

"Yang mulia Kise Ryouta-sama, ini kapal nelayan, memancing itu harus menggunakan umpan hidup seperti cacing jika kau ingin mendapatkan ikan, BAKA!" mereka saling bertatapan tajam, Kagami Cuma mendengus.

"..sialan!" Kise menepis tangan Alex. Ia pergi ke ujung kapal dan duduk disana. Haizaki yang masih mabuk mendekati Kise dan mendapat tonjokan tepat diwajahnya saat si gimbal itu ingin mencium Kise.

Aomine tertawa terbahak-bahak. "Sepertinya kau sudah sadar, ne?"

Tatapan tajam nan dingin menusuk mata Aomine hingga membuat ia bungkam sendiri.

"Hoi.. Pancingmu bergerak." Aomine melirik Kagami lalu ke arah tunjuknya. Aomine melincit bagai dikejar setan ketempat pancingannya dan segera menarik pancing tersebut.

Merasa hal yang dilakukan Aomine begitu menarik, Alex berlari mendekati Aomine begitu juga dengan Himuro. Mereka melihat Aomine mengangkat alat pancingnya dengan sekuat tenaga, ditambah teriakan Aomine yang berteriak 'KAU AKAN KU DAPATKAN!' membuat mereka makin berbinar melihat aksi Aomine. Didepan sana, Kagami, Haizaki dan Kise Cuma berkedip heran kenapa Aomine bisa sangat emosi seperti itu dengan hanya memancing.

SYUT!

Pancing terangkat, seekor ikan besar dengan muncungnya yang panjang membuat semua mata terbelalak. Aomine tersenyum lebar, ia langsung menarik pancingnya dan membanting ikan itu keatas kapal.

Himuro menarik Alex yang berdekatan dengan ikan yang kini menggelepar. Aomine berjongkok, ia menekan ikan tersebut lalu mencabut pancingnya dari si ikan dan mengangkatnya ke dalam bak berisikan air.

BAM!

Bak tertutup, Aomine menyeka keringatnya dan menyeringai lebar ke para penonton.

Prok! Prok! Prok!

Tepuk tangan menggema, Alex dengan tiba-tiba menghambur ke Aomine dan memeluknya. Aomine kehilangan arwah.

"Suge na.." Kagami menghampiri Aomine, ia menarik gurunya itu lalu menepuk punggung Aomine yang arwahnya belum kembali. "Aku baru melihat acara langsung memancing seperti itu! Kau benar-benar anak laut, kawan!"

Aomine memegang punggungnya yang merasa nyeri, ia melirik Kagami. "Ini bukan apa-apa. Lagipula Cuma satu, yang menakjubkan itu kalau mendapatkan banyak ikan sepert ini!"

"Apa kau pernah menangkapnya?"

"Waktu kecil ayahku pernah menangkap―

Pembicaraan mereka tak terdengar lagi, dimata Haizaki, Kise, Alex dan Himuro―mereka seperti dua saudara yang sudah tak bertemu selama bertahun-tahun dan menghabiskan waktu dengan bicara yang menurut mereka tidak begitu penting.

Dering ponsel Himuro menggema. Pemuda dengan rambut hitam itu menjawabnya dan membeku seketika.

Merasa ada yang aneh dengan kakak angkatnya―Kagami bertanya dengan alis terangkat. "Kenapa?"

"Kita dalam masalah."

Alex memiringkan kepalanya, "Maksudmu?"

"Akashi tau kita membawa pergi Kise. Dia menunggu dirumahnya sekarang." Himuro melirik Kise yang tertunduk dalam. "Kise―

"Kita pulang. Dan untuk masalah ini biar aku yang menyelesaikannya."

"Oi, Ryouta. Kami yang membawa mu, kami juga harus―

"Lebih baik aku saja yang masuk ke neraka." Tangan itu mengepal kuat. "Aku tidak mau kalian kehilangan perkerjaan kalian Cuma gara-gara ini.."

Tak mengerti, Aomine hanya bisa menaikkan alisnya dan memandang heran mereka semua. Menghela nafas, tak ingin ikut campur―Aomine membalikkan badannya dan menarik jangkar yang ia jatuhkan kelaut.

"Baiklah kita kembali."

Tak berapa lama, kapal milik Aomine pun berlayar menuju pelabuhan kembali.

xXXXx

Sesampainya di pelabuhan, mobil mewah sudah berada dipinggir jalan saat Aomine dan rombongan berencana mencari taksi.

Himuro berkeringat dingin, sedangkan Alex segera bersembunyi dibelakang Himuro. Tak berani bertemu dengan seseorang didalam.

Pengawal membuka pintu, Aomine sempat melihat Kise memucat. Memandang ke depan Aomine mempersiapkan diri akan hal terburuk.

Sepatu mengkilat turun dari mobil, dan saat ia menyembul keluar―seluruhnya menghela nafas lega.

"Reo-nee!" Kise menghambur ke model internasional yang kini tinggal di Prancis itu. Mibuchi Reo merentangkan tangannya, menyambut Kise kedalam pelukannya. "Kau pulang!"

Reo memeluk Kise, ia lalu mengelus pipi Kise dan mencium pucuk hidungnya. "Tadaima, Ryou-chan.."

"Okaeri~!" Kise memeluknya, "Aku kira Seicchi yang menjemputku.. dan ku kira aku akan mati berdiri kali ini!"

Reo mendorong Kise, ia melotot pada Kise. "Kau memang akan mati, dear.." wajah Reo begitu menyeramkan dimata Kise hingga ia meneguk ludah, "Aku diperintahkan Sei-chan untuk menjemputmu." Ia memandang ke teman-teman Kise. "Baiklah, seperti pesan Akashi padaku. Katakan, siapa diantara kalian bernama Aomine Daiki. Kuman itu tidak boleh mendekat pada Idol kami yang tercinta ini." Kise dipeluk erat, wajahnya bahkan berada di ketiak Reo. Kise memukul punggung sang model.

"Siapa yang kau sebut 'kuman' nyonya.." Aomine mengangkat tangannya, "Aku Aomine Daiki. Terus ada apa?"

Reo yang telah melepaskan apitannya pada Kise―kini menatap Aomine dengan mata berkedip heran, "Kau?" ia memiringkan kepalanya, "Astaga.. kapan terakhir kau mandi?"

Suara 'JLEB' tiba-tiba terdengar disemua telinga, mereka memandang Aomine. "Teme! Aku mandi setiap hari!"

Mencubit dagunya, Reo menilai Aomine dari bawah keatas. "Nak, kau seperti habis dipanggang." Suara kikikan tawa terdengar, "Ya.. cocoklah.. lagipula kau tinggal di sini 'kan? Kau pasti selalu terbakar matahari. Ya, sayang sekali.." Reo merangkul Kise, ia menepuk kepala si pirang. "Wajahmu lumayan, hanya saja derajatmu berbeda dengan Ryou-chan ku, juga kau terlalu hitam untuk susu putih seperti dia ini." Ia menyeringai pada Aomine, "Ah.. Akashi pasti sangat senang mendapat mainan yang bisa ia permainkan. Ku peringatkan kau." Mata Reo menyipit bertanda serius. "Jauhi Ryou-chan ku mulai sekarang."

Kise didorong masuk ke mobil, si pirang itu Cuma diam tanpa membela. Bahkan ia menunduk saat mata Aomine mencoba memandangnya.

Reo akan masuk, tapi dia segera menoleh kebelakang menatap teman-teman Kise. "Sorry gays, mobil ini Cuma diperuntukkan untuk Ryou-chanku tersayang. Kalian bisa naik taksi atau kereta. Bye~"

Pintu mobil tertutup, dan pergi seketika.

Kagami melirik Aomine, ia menepuk pundak teman barunya itu. "Maaf, kawan. Bukannya memperburuk keadaan. Tapi lebih baik kau menjauhinya―ya, jika dikatakan Akashi benar, kau dan Kise berteman―jika kau masih mau hidup tenang." Kagami mengeluarkan kartu nama, "Hubungi aku jika Akashi melakukan sesuatu yang aneh padamu atau keluargamu." Aomine mengambil kartu namanya. "Ayo, kita pulang."

Himuro dan Alex berjalan dibelakang Kagami, mereka mengucapkan 'Bye' pada Aomine. Sedangkan Haizaki yang belakangan ternyata berhenti dihadapan Aomine.

"Aku heran.. Apa yang membuat Ryouta selalu menceritakan tentangmu." Matanya menyipit, Aomine memandangnya dingin. "Ya.. karna aku kasihan dengan keluargamu saja, jadi.." ia menepuk pundak Aomine. "Jauhi dia. Jikapun Ryouta berusaha mendekatimu―kau harus menjauhinya. Good luck."

Ditinggal sendirian, Aomine hanya bisa menghela nafas.

"Orang-orang aneh."

xXXXx

Final interhigh.

Setelah dua minggu mengikuti segala pertandingan, Aomine dan tim inti Teiko akhirnya sampai difinal. Mereka tersenyum lebar saat tepuk tangan menggema menyambut mereka. Lawan mereka kali ini Rakuzan. Sekolah mewah yang dikabarkan hanya dihuni para artis dan anak orang kaya. Tak heran untuk hari ini stadion sangat banyak pengunjung yang kebanyakan wanita. Mereka penasaran siapa yang akan melawan Teiko yang selalu memegang teguh kata 'menang'.

Disisi kanan mereka siswa-siswa Teiko bersorak ria membela mereka yang sebentar lagi akan bermain. Sedangkan sisi kiri mereka para pendukung Rakuzan berteriak pada tim yang bahkan belum datang sekalipun.

Wasit masuk kelapangan, ia berbicara pada panitia-entah-apa membuat mereka yang duduk dibench mengernyit heran.

"Rakuzan belum datang?" Momoi bertanya pada entah siapa.

"Che.. Kita santai saja. Mereka mungkin tidak akan datang-nanodayo." Midorima menjawabnya, ia yang dibagi umaibo oleh Murasakibara segera memakannya.

Kuroko yang tengah meminum pocarinya melirik Aomine yang sejak tadi diam saja sambil menatap kosong kedepan. Raut wajahnya tampak begitu dingin. Seperti membenci sesuatu.

"Aomine-kun.. kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa."ia mendengus, "Cuma merasa emosi ku sedang tinggi saja."

"Aomine.. kau harus tenang, Virgo sedang diurutan terbawah-nanodayo." Midorima melirik Aomine, walau tak mau mengakui, ia rada takut kalau emosi Aomine yang belakangan ini sering tersulut akan membuat permainan mereka kacau balau.

"Mine-chin.." Murasakibara melempar umaibou padanya, Aomine menangkap dan langsung membuka bungkusnya lalu melahap setengah bagian dalam satu suapan.

"Dai-chan.." Momoi menatap malas Aomine, pipinya seperti berdenyut tertarik. "Kau kelaparan?"

"Entahlah." Cuma dua kali makan, umaibou itu habis seketika. Aomine mengambil pocari Kuroko dan meminumnya. Kuroko merebut pocarinya tiba-tiba hingga Aomine tersedak. "Tetsu teme!"

"Aku tidak mau inderect kiss dengan Aomine-kun. Aku tidak yakin Aomine-kun menyikat giginya dua kali sehari."

Hening..

"Pfftt.." yang memulai tertawa duluan adalah Momoi, ia menunjuk Aomine. "Dai-chan! Apa sejak TK kau selalu lupa menggosok gigimu?!"

"Mine-chin tidak gosok gigi? Aku tidak akan memberikan umaibou ku lagi. Mine-chin jorok." Murasakibara memeluk kotak umaibounya.

"Aomine.. mungkin sekali-sekali kau periksakan gigimu ke ayahku. Tapi aku harus meminta ayahku untuk memakai safety yang lengkap-nanodayo.. pfftt.."

"HAHAHAHA!" Momoi makin tertawa kencang, airmata mulai menggenang disudut matanya.

"Hei, ada apa?" Nijimura yang baru kembali dari toilet memandang heran adik-adik kelasnya tertawa cekikikan. Ia lalu duduk disebelah Aomine.

"Aomine-kun sejak TK lupa sikat gigi, Nijimura-senpai."

"APA?!" namun selanjutnya ia tertawa. "HAHAHAHA! Kau harus mencoba sikat gigimu, Ahomine! Rasakan pasta gigi mint itu! Setelah itu aku yakin salah satu wanita mau mendekatimu!" ia menepuk punggung Aomine kuat. Yang bersangkutan Cuma menunduk malu karna penonton dibelakang bench mereka yang mendengarnya mulai berbisik-bisik.

"Pastikan setelah pertandingan aku akan menendang kalian semua." Lirih Aomine. Tersudut.

"Kepada Rakuzan High School, dimohon untuk segera kelapangan. Pertandingan akan segera dimulai." Pengumuman menggema, tim Teiko Cuma bisa mendengarnya dengan wajah datar.

Cukup lama respon dari pengumuman itu ditanggapi oleh Rakuzan. Sampai akhirnya suara riuh dari sudut stadion menggema dan puluhan pengawal tiba-tiba masuk dan membersihkan jalan dari penonton.

"Kise Ryouta! Kise Ryouta-kunnn!" teriakan itu paling menggema, Aomine membeku ditempat.

"KYAAAA! AKASHI-SAMA!"

Momoi yang penasaran―berdiri. Ia memandang rombongan yang datang dengan mata terbelalak.

"Sonna.." ia menunjuk rombongan yang dari tim inti sampai cadangan. Semuanya orang terkenal. "Lawan kita artis."

"Lihat.. wartawan sangat banyak." Nijimura mendongakkan kepalanya, ia memandang banyak wartawan-wartawan yang memainkan kameranya. "Hari ini kita akan menjadi orang terkenal―

"Permisi.." tiba-tiba seseorang datang kehadapan mereka. "Apa ada yang bernama Aomine Daiki?" Aomine mengangkat tangannya. "Ada seseorang yang ingin bertemu."

Aomine memandang orang itu, "Bisa biarkan dia kesini?"

"Oke.."

Setelah itu ia pergi memanggil orang tersebut. Tak lama kemudian seseorang yang dikenal Aomine datang kehadapannya dan membuat mata Aomine menyipit.

"Kouki?"

"Daiki-niichan!" Kouki tersenyum lebar.

"Sedang apa kau disini?"

"Baa-san meminta ku mengirimkan ini.." ia memberikan sebuah bungkusan pada Aomine yang langsung dibuka olehnya.

"Handuk?"

"Um.. Baa-san titip pesan 'semoga kau menang'." Aomine tersenyum tipis.

Momoi yang diam saja memperhatikan anak bernama Kouki itu tiba-tiba menunjuk wajah Kouki tiba-tiba. "Kou-chan?! Benarkan?! Furihata Kouki-chan?!" Furihata berkedip heran pada Momoi. "Kau―Kau bocah yang selalu membawa pergi boneka singa ku!"

Furihata memiringkan kepalanya, "Gomen.. nee-san siapa?"

"Satsuki da! Momoi Satsuki!"

"Satsuki? Sa―Satsuki-neechan?!"

Dan pelukan mengharukan tiba-tiba tersaji dihadapan mereka. Momoi yang dulu tetangga Aomine dan Furihata pindah mengikuti orangtuanya. Ia yang tak sengaja bertemu kembali dengan Aomine tak menyangka akan bertemu dengan teman kecilnya yang lain. Furihata Kouki. Anak umur lima tahun yang selalu membawa kabur boneka singanya Momoi. Dulu.

"Baiklah.. kita lanjutkan nanti nostalgianya, Momoi." Nijimura berdiri. Ia menatap kedepan dimana seluruh anggota inti Rakuzan sudah berdiri semua. "Beri aku informasi.."

Momoi sejenak melupakan nostalgianya, ia menatap tim intinya yang kini sudah berdiri semua. "Baiklah.. Ini agak mengejutkan. Informasi yang ku dapat hanya tim inti dan pemain cadangan yang bakal masuk ke lapangan." Dia menjelaskan semuanya, "Tapi untuk Kise-kun dan Akashi-sama.. aku tidak tau informasi dari mereka. Aku bahkan tidak tau mereka sekolah disana. Jadi―" Semuanya mengangguk, menerima informasi dari Momoi.

"Baiklah.." Nijimura memberi aba-aba. "Kita mainkan permainan kita!"

"HUWOO!"

Disisi Rakuzan.

Kise yang melihat kekompakan Teiko membuat senyumnya merekah. Ia menoleh kesamping dimana Akashi sedang berbicara dengan Nebuya Eikichi, artis dari film-film action yang kini sedang menghiasi serial tv―mendengarkan intruksi dari Akashi. Kise mengurungkan niatnya tiba-tiba.

"Ayo.. kita harus segera turun." ujar Mayuzumi Chihiro. Si perak itu sudah berdiri tegak di pinggir lapangan. Matanya menyipit tajam menatap Teiko sudah turun lapangan.

"Baik kita mulai! WOOO!" Nebuya menepuk dadanya. Sesaat Kise seperti melihat gorila.

Seseorang menyenggol Kise, si lincah itu menyusul Mayuzumi berdiri dipinggir lapangan. Ia merenggangkan tubuhnya.

Kise tersenyum lebar, ia akan menyusul kedua senpainya. Namun, niatnya terhenti saat tangan Akashi menghalangi jalannya.

"Kenapa?"

"Kau duduk di bench." Mata yang telah berubah warna itu menatap Kise. "Aku tidak mau mendengar penolakan darimu, Ryouta." Kise tertunduk, ia membanting bokongnya ke bench. "Takao Kazanuri, kau masuk kelapangan."

Pemuda disamping Kise berdiri, ia menyeringai senang dan berjalan menuju lapangan. "Come to papa, Shin-chan!" ujarnya, mata yang berkilat tajam itu bertatapan dengan Midorima yang membalasnya dengan tatapan malas.

Aomine menarik nafasnya. Kuroko yang berada disampingnya hanya bisa menatap heran si biru itu.

"Sayang.. Kise-kun tidak main." Ujar Kuroko, ia melirik Aomine apakah berekspresi saat ia menyebutkan nama Kise. Sayangnya tidak ada. Kata-kata Kuroko bahkan seperti diabaikan.

Aomine tau kalau Kise tak bermain. Dan ia sedikit bersyukur, karna kalau si pirang bermain―Aomine yakin Kise akan berinteraksi dengannya. Dan seperti yang dikatakan teman-teman Kise―ia lebih baik, bahkan tidak mau berurusan dengan Kise lagi.

Si pirang Cuma bisa memandangnya dengan tatapan tak bisa diartikan dari bench.

PRIIITTT!

Pertandingan dimulai. Bola dilempar oleh wasit, Nijimura dan Nebuya melompat serentak untuk mengambil bola. Bola didapat oleh Nijimura, ia langsung mengopernya pada Midorima dan langsung ditembak ke ring.

3 point untuk Teiko.

"Maa~ maa~ tidak berubah nee, Shin-chan?" Midorima menatap malas Takao yang berada disampingnya.

Hayama membawa bola, ia melewati Midorima yang membloknya―tapi tiba-tiba bola dicuri oleh Kuroko.

Bola ditangan Kuroko segera berpindah cepat ke Aomine yang telah berlari ketempat lawan. Aomine langsung melompat dan mendunk bola itu ke ring.

3 berubah menjadi 5.

Bola ditangan Rakuzan. Nebuya yang mendapat bola langsung membawa bola itu ke Teiko. Ia berhasil melewati blockan Aomine atau Nijimura dan pencurian bola dari Kuroko. Terima kasih untuk Takao dan hawk eyesnya. Namun, saat ia berada tepat didekat ring―Nebuya terpaksa tercengang saat dibawah ring milik Teiko, Murasakibara berada disana dengan ekpresi malasnya. Tak memusingkan hal itu, ia langsung berlari ke kanan Murasakibara dan melompat. Sayang, bolanya di blok oleh Murasakiabara.

Bola dilempar oleh Murasakibara ke Nijimura dan langsung ditangkap oleh sang kapten. Nijimura berlari, tapi segera di blok oleh Takao.

"Kau tak bisa lari dari mataku, Nijimura-senpai.."

Nijimura menyipitkan matanya, "Terserah. Pengkhianat." Ia akan berlari, tapi Takao membloknya kembali. "Cih.."

Sret!

Nijimura yang bersiap-siap akan mengoper tiba-tiba bola ditangannya direbut seseorang. Ia melotot pada Kuroko yang ada diseberang sana, tapi segera ia urungkan saat ekspresi Kuroko begitu mengejutkan.

"Apa yang―

Skill yang sama. Gerakan cepat yang sama. Nijimura melotot tak percaya.

Rakuzan mempunyai pemain bayangannya sendiri.

"Jangan dipikirkan.." Aomine berlari melewati Nijimura. Ia segera merebut bola dari Mayuzumi yang akan ia opor ke Nebuya. Nijimura memandang Aomine dengan dahi mengernyit.

"Ada apa dengannya?"

Aomine berlari kearah Rakuzan, Nijimura yang sudah bebas segera mendekati Aomine. Kuroko dengan aura keberadaannya yang tipis, siap-siap untuk merebut jika bola Aomine direbut kembali.

Syukurnya.. Aomine yang maju sendiri dan menghindari setiap blokan―berhasil memasukkan bola.

Teiko membuat para pendukung Rakuzan tercengang.

Bahkan Kise makin kehilanga harapan. Apalagi saat ia menyapa Aomine, yang dibalas tatapan dingin dari si biru tersebut.

Akashi yang bermain sekenanya mulai menghela nafas. Langkah kaki yang lama, makin lama makin cepat. Bola ditangan Nijimura berhasil ia rebut.

Akashi mendribble bolanya menuju Teiko, Midorima menghadang namun segera membeku saat tatapan mata Akashi menusuk dirinya. Akashi berhasil lewat.

Kuroko merebut bola dan mengopernya ke Aomine―namun pandangannya yang bertemu dengan mata Akashi membuat Kuroko bagai dihujami paku hingga bola yang dioper ke Aomine malah terlempar ke Hayama.

"Thanks!" seru si lincah itu, bagai ular ia melewati Teiko dan melempar bola kedalam ring. Murasakibara yang kena fake oleh si lincah tersebut Cuma bisa menggeram.

"Tenang saja," bujuk Nijimura, ia tidak mau ada korban amukan titan dilapangan ini.

Permainan terus berlanjut, Akashi yang mulai ikut bermain membuka peluang bagi Rakuzan untuk menang. Point yang tadinya berbada jauh kini makin menipis sama.

PRIIITT!

Kesalahan oleh Nebuya, si besar itu dengan bodohnya tidak berkonsentrasi dan membuat bola yang dioper oleh Takao malah keluar lapangan.

Bola diambil oleh Furihata, Akashi yang berada didekat bench dimana bola itu berada―menoleh ke Furihata yang kebingungan mau memberi bolanya pada siapa. Mata kuaci milik Furihata bertemu pandang dengan Akashi.

Duk!

Bola memantul ke lantai, Furihata dengan tiba-tiba berlari ke belakang Momoi hingga membuat Akashi menaikan alisnya.

"Ko―Kowai.." Momoi mengernyit pada teman kecilnya.

Bola ditangan Teiko, Midorima mengoper ke Aomine yang langsung dibawa oleh si biru tersebut. Namun, saat berada dipertengahan―Akashi membloknya.

"Ohisashiburi, Daiki.." Akashi menyeringai, Aomine menyipit tajam. "Ku dengar kau menyentuh barangku lagi, hn?"

"Bukan urusanmu.." Aomine membalik kesebelah, Akashi lagi-lagi memblocknya. "Cih."

"Tentu urusanku. Dia itu milikku. Tidak ada yang boleh menyentuhnya."

Mata Aomine menyipit sebelah, "Oh yeah?" ia mendengus jijik saat melirik Kise. "Berarti barang milikmu mulai membosankan, kalau begitu."

"..." tak ada balasan, Akashi menyipit tajam.

"One-on-one! One-on-one!" tiba-tiba seruan dari penonton menggema, Akashi menyeringai.

"Kita lihat kekalahanmu."

Tubuh Akashi merendah, begitu juga dengan Aomine. Bola ditangan Aomine teroper kesana kemari sampai akhirnya ia bergerak cepat dan melompat. Akashi dengan gerakan cepat juga melompat, ia mengangkat tangannya memblock. Tapi Aomine tidak melempar bolanya. Ia malah membanting bolanya ke sisi kanan Akashi dan dengan segera mengambilnya. Namun lagi-lagi Akashi berada cepat dihadapannya.

"Che.."

PRIT! PRIIIITTT!

Tak terasa waktu berjalan sudah setengah permainan. Peluit istirahat menggema dan mereka segera kembali ke bench. Skor mereka sama.

Aomine merebut handuk dari pemberian Furihata dan pergi begitu saja. Teriakan Momoi ia hiraukan.

Kise yang membagi-bagikan minuman pada pemain inti―menangkap Aomine yang keluar lapangan. Ia melirik pelatihnya yang berada disamping Akashi.

"Ano.. boleh aku ke toilet?" Akashi meliriknya heran. "Kumohon? Aku sudah tidak tahan-ssu!" ia merapatkan kakinya, bergetar, seolah benar-benar ingin buang air kecil.

"Takao, antar dia." Titah Akashi, Kise sudah menduga hal itu.

"He? Baiklah.." Takao berdiiri, ia berjalan dibelakang Kise. "Ne, Kise.. aktingmu bagus sekali, ya? Akashi sampai-sampai percaya."

Kise yang berjalan didepan Takao Cuma melirik malas orang dibelakangnya. "Jika itu tidak berhasil, berarti aku sudah harus pensiun dini, Takao."

"Heh.." Takao menghentikan langkahnya. Kise ikut berhenti. "Cuma demi Aomine, kau―?"

Kise menghela nafasnya, "Bukan Cuma demi Aominecchi. Demi semuanya, Takao. Aku sudah lelah jadi boneka Akashi. Aku mau bebas walau itu berarti aku mati-ssu."

"Tak perlu seseram itu." Takao menyilangkan tangannya kebelekang kepala. "Berikan apa yang Akashi mau selama ini. Dia pasti membebaskanmu." Mata Takao melirik Kise, "Lagipula sudah banyak orang yang menyentuhmu melebihi Akashi 'kan? Apa susahnya?"

Kise memutar kedua bolamatanya, "Kau pikir memberikan apa yang dia mau, aku akan bebas? Dia bahkan lebih memenjarakan aku, bodoh." Tangan Kise terkepal. "Andai dia tidak menyelamatkanku."

"Mengkhayal lah, Kise. Hidupmu yang sekarang adalah berkat Akashi. Nama Ayahmu kau harumkan karna bakatmu. Kalau kau tidak pernah bertemu Akashi diwaktu itu―kau dan keluargamu akan mati dibunuh ."

"Che.."

"Terserah. Baiklah. Aku berikan waktu sekitar beberapa menit untuk kau menemui Aomine." Takao menghela nafasnya. "Tapi ingat. Kembali kesini sebelum pertandingan dimulai."

Tersneyum lebar, Kise menarik Takao untuk menciumnya―tapi tangan Takao menahan wajah Kise. "Demi kolor Reo-nee! Aku masih menggilai Shin-chan, Kise sialan!"

Setelah itu Kise berlari pergi kegirangan.

xXXXx

Kise terengah-engah, ia berjalan menuju atap stadion. Sepanjang jalan ia bertanya pada siapapun yang melihat Aomine. Tidak perduli kalau fansnya malah kegirangan dan ingin memeluknya. Kise langsung pergi begitu dapat informasi.

Dan saat ia berada diujung atap, dimana tidak dinding yang menghalangi―Kise melihat Aomine yang duduk menyender ke dinding, matanya memandang kosong pembatas stadion yang berkaca gelap.

"Aominecchi.."

Aomine melirik Kise, ia langsung menghela nafas. "Apa?"

Kise berjalan menghampiri Aomine, ia duduk disamping Aomine. "Bagaimana kabarmu?"

"Buruk. Karna kau disini." Kise memutar bola matanya. "Kembali ke papa merahmu itu. Dia bisa mati kehilanganmu."

"Akashi bukan papa ku. Dan kenapa kau berbicara seperti cemburu begitu? Ah.. Aomine Daiki jatuh cinta pada Kise Ryouta ka? Chk.. Chk.." Kise menggeleng, "Hal biasa bagi ku-ssu.."

"Terserah kau mau bicara apa, cerewet." Aomine mendongakkan kepalanya, ia menatap cuacanya yang cerah hari ini.

"Che.." Kise kesal, ia mendekati Aomine dan menarik kepalanya hingga kedua hidung mereka bersentuhan.

"Mau apa kau?"

"...memberi fanservice untuk fansku."

"Aku bukan fansmu. Tidak akan."

Mata Kise menyipit, ia lalu memajukan wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan. Aomine diam saja. Lidah itu menjilat bibir Aomine, tapi sang ace Teiko tidak membuka mulutnya sama sekali.

"Baiklah.." Kise menjauhkan wajahnya. "..saran dari teman-temanku, kau terima rupanya."

"..hn."

"Padahal ku kira kalau kau tak seperti yang lainnya, aku akan bisa bebas dari setan itu. Teryata sama saja."

"Apa harus aku? Teman-teman mu yang kemarin kaya. Mereka bisa membebaskanmu. Juga sepertinya si Kagami?―dia lebih bisa menjagamu daripada si Gimbal itu."

"Membebaskan ku? Heh.. mereka bahkan berkerja dibawah perintah Akashi." Kise memeluk kedua lututnya. "Menyedihkan sekali.."

Hening..

Aomine tidak mau menatap Kise.

"Aominecchi.."

"Apa?"

"Kemarin.. Apa itu ciuman pertamamu?" wajah itu tampak merona dari sudut mata Aomine.

"Ya."

"Kau.. belum pernah pacaran dengan wanita manapun kah? Atau.. err.. pria?"

"Pacaran dengan wanita hanya akan menghabiskan uangku saja. Aku masih butuh uang. Apa kau bodoh, aku tidak akan pacaran dengan seorang pria."

"Baiklah.."

"..kalau denganmu? Baiklah.. lupakan ciuman pertama. Aku tidak peduli siapa yang memiliki ciuman pertamamu. Tapi, melihat tingkahmu pada setiap teman priamu―apa kau pernah sampai bercinta dengan mereka?"

Kise menunduk dalam dilipatan tangannya, "Cuma sampai oral saja."

"Ho.. tidak berani sex, rupanya."

"Kau gila.." Kise meringis, "Mereka akan benar-benar ditembak mati ditempat jika berani melakukan itu."

"Apa Akashi-mu itu sekejam itu?"

"Jika kau samakan dia dengan iblis. Akashi adalah anaknya.."

"Heh.." Aomine merenggangkan lehernya, "Jadi.. Akashi pernah melakukannya juga?"

"Tentu saja. Dia adalah orang pertama yang melakukan semua hal gila padaku-ssu."

"Lucu sekali.. kau takut dengan badannya yang kecil? Kau lebih besar, bodoh."

Kise menegakkan tubuhnya, "Tubuhku memang boleh besar darinya! Tapi Seicchi lebih kuat! Dan dia bisa melakukan apapun yang dia mau! Matanya itu―" Kise mendadak bungkam.

"Sudah ku duga ada sesuatu dengan matanya.." Kise menatap Aomine yang mengacak rambutnya, "Aku tidak mungkin takut dengan orang sependek dia. Kalau tidak ada sesuatu darinya." Ia mendengus, "Tak ku duga, hal seperti itu masih ada didunia ini."

Kise menyamankan kepalanya keatas lengan yang memeluk kedua lututnya. Ia menatap Aomine, "Benarkan? Bahkan kau saja takut."

"Ya.. ya.. terserah kau saja. Cepat kembali, aku tidak mau final ku terganggu karna Akashi-mu mengamuk."

"..satu ciuman."

"Apa?" Aomine melotot pada Kise.

Menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan, Kise berteriak. "Berciuman denganku!"

"Che.. ini bukan Aomine Daiki jatuh cinta pada Kise Ryouta. Malah Kise Ryouta yang jatuh cinta pada Aomine Daiki." Kise mengerang frustasi. Ketahuan. "USO! TEME! KAU BENERAN―?!" Aomine melotot, Kise makin menenggelamkan wajahnya. Menebak dalam hati, Aomine tau kalau wajah itu memerah. "Pantas Akashi-mu benar-benar bernafsu membunuhku.."

"Gomen.."

"..jika tim ku menang. Kau mendapatkannya." Ia memijit pelipisnya, "Begitu juga sebaliknya."

"Hahh.. Baiklah.." wajah itu masih merona. Kise segera berdiri. "Aku kembali ke dalam."

"Hn.."

"..su―su―ssu―che!" Kise berlari pergi.

"Dasar aneh." Ia pun berdiri. Sambil merenggangkan tubuhnya, tak disadari oleh dirinya sendiri―bahwa ia sedang tersenyum tipis.

xXXXx

Pertandingan dilanjutkan. Teiko dan Rakuzan makin mengerahkan seluruh tenaga. Aomine yang tadi merasa benar-benar emosi, kini kembali ke biasanya. Kuroko bahkan lebih mood mengoper ke Aomine lagi.

Dengan cengiran diwajahnya, seperti yang dikenal para tim inti Teiko―Aomine bermain. Bahkan saat ia kembali one-on-one dengan Akashi, Aomine malah menyeringai lebar dan mengejek Akashi 'pendek'. Walau tersinggung, Akashi terpaksa jaga imej nya.

Cerita 'pendek' juga terjadi pada Hayama dan Murasakibara. Si raksasa yang gedeg melihat kelincahan si Hayama yang mirip cacing kepanasan membuat Murasakibara akhirnya menepuk kepala Hayama dan mengatakan; "Aku akan menghancurkanmu." Setelah itu Hayama memberikan posisi depan Murasakibara pada Nebuya.

Walau tampak Teiko lebih unggul, ternyata skor mereka masih seimbang. Jika Teiko berhasil memasukkan, Rakuzan juga akan membalas mereka.

Midorima vs Takao. Walau Takao tak bisa menjangkau lemparan Midorima ke ring, Takao bisa membuat Midorima kewalahan jika ia mau mengoper ke Nijimura, Kuroko atau Aomine.

Kuroko vs Mayuzumi. Dua pemain bayangan ini saling mengoper bola pada teman-temannya. Sayang, keunggulan basket Kuroko tidak seperti Mayuzumi. Walau ia seorang pemain bayangan, Mayuzumi ternyata bisa bermain selayaknya yang lain. Dan bukan hanya mengoper bola.

Waktu makin menipis, Nijimura memerintahkan yang lainnya untuk defense karna skor sementara dipegang oleh mereka. Rakuzan tak mau kalah, Akashi maju membawa bola hingga kehadapan Murasakibara. Murasakibara yang berada dalam bad mood menyerang Akashi untuk merebut bola, sayang ternyata itu adalah tipuan. Dan juga, kemampuan mata aneh Akashi―yang sejak awal menyulitkan Murasakibara―membuat ia terkena fake oleh Akashi. Dan dengan tidak sangka, tubuh pendek yang diejek oleh Aomine dan Murasakibara―bisa dunk dan membuat Murasakibara terduduk.

Nijimura kembali berteriak, mengatur posisi. Tapi ternyata salah satu diantara mereka tidak mendengarkannya.

Nijimura menoleh kearah Aomine yang tampak aneh. Ia yang sejak tadi menyengir, tiba-tiba diam dengan kepala tertunduk. Auranya juga merasa ganjil dimata Nijimura.

"Ahomine!" teriak Nijimura. Tapi Aomine diam saja.

Khawatir, Kuroko menghampiri Aomine hingga membuat wasit mengangkat alisnya. "Aomine-kun?"

"Hahaha.." Aomine tertawa kecil, Kuroko merinding. "Tetsu.. Apa.. aku pernah sesenang ini?"

"Kalau yang Aomine-kun maksud senang seperti ketawa sendiri mirip orang gila―kau belum pernah."

"Tetsu teme.." Aomine mengadahkan kepalanya, ia menyeringai menatap Akashi. "Aku sangat senang hari ini, Tetsu.. Entah kenapa.. Aku merasa senang.." Aomine melangkah maju, "Berikan semua bola padaku. Aku akan membuat si pendek merah itu kalah telak."

Hayama mengoper ke Mayuzumi, lalu dilempar balik ke Hayama. Ia membawa bola, tapi segera di block oleh Nijimura. Bola tercuri, seperti yang dikatakan Aomine―Kuroko memberikan bolanya pada Aomine yang segera didunk masuk ke ring.

Nebuya yang berada dibawah ring tercengang.

Bola ditangan Nebuya, ia melempar jauh ke Akashi tapi Kuroko mendapatkannya lebih dulu tanpa diduga. Bahkan Akashi sempat membelalak. Bola terlempar kedepan, dimana Aomine berada, si tan itu berlari kencang dan tiba-tiba meloncat. Dunk kembali, dari jarak jauh―bola sukses masuk.

Skor mulai dikuasai Teiko.

Geram.. Akashi membawa bola, ia tidak mengopernya. Setelah berhadapan dengan Aomine, mereka segera one-one-one. Mata yang berbeda warna itu mengkilat tajam, mata Aomine lebih mengkilat. Ia membenci Akashi.

Kanan.. Aomine menghalang ke kanan. Kiri.. Aomine menghalang ke kiri. Gerakan si tan itu cepat, serentak dengan apa yang akan dilakukan Akashi. Mendecih kesal, Akashi mengoper ke Mayuzumi. Tapi Kuroko dapat lebih dulu.

"Sialan! Defense!" untuk pertama kalinya, sang kapten Rakuzan memerintah kan bertahan pada teman-temannya.

Teiko bagai terbakar, Kuroko bergerak lebih cepat, Midorima lebih tenang dalam melempar, Nijimura mengatur posisi sangat akurat―dan Murasakibara keluar dari kandangnya dibawah ring.

Hayama mulai berkeringat dingin.

"Sei-sama.."

"―kita akan menang." Matanya teralihkan pada Kise yang menatap serius ke pertandingan. "Cih, sialan!"

Nebuya melawan Midorima, bola keluar lapangan karna tertepis oleh sang shooter. Takao sempat merengut saat posisi one-on-onenya dihuni oleh si artis laga(?).

Pemain berganti, Akashi menyuruh Hayama kembali. Dan ia menunjuk Kise.

Sejenak dunia bagai berhenti berputar.. untuk Kise.

"..lima menit terakhir, Ryouta. Tak berhasil. Kau tau apa yang akan terjadi.." Akashi mengatakannya sambil berjalan, Kise meneguk ludah.

Peluit kembali bunyi, permainan dilanjutkan. Akashi one-on-one kembali dengan Aomine. Kali ini Aomine melakukan kesalahan, hingga akhirnya Akashi bisa keluar dari blocknya dan maju kedepan. Murasakibara kembali menjaga, ia menghalangi Akashi saat akan dunk. Namun, seseorang ada dibelakang Akashi. Kise dengan sigap menangkap bola operan dari Akashi dan mendunknya ke ring. Murasakibara terbelalak. Itu.. gaya Aomine.

"Kise-chin.." suara berat Murasakibara terdengar begitu sengit. Kise terpaksa menunduk tak ingin dipandang.

"Kembali dan jaga, Ryouta." Si pirang menurut, Murasakibara menatap tajam Akashi.

Sebuah hal mengejutkan. Penonton tercengang.

Sang Idol yang multitalenta benar-benar menakjubkan. Seluruh gerakan, tembakan, dunk, operan, semua tercopy baik oleh si pirang dari gerakan para Teiko.

Walau mendapat sorakan semangat, Kise Cuma bisa menunduk. Aomine menatapnya tajam.

Bola ditangan Aomine, ia membawa kedepan dan diblock oleh Kise.

"Tak bisa memilih, hm?" Kise tak membalas, ia Cuma bergumam entah apa. "Sayang sekali.. ku kira aku akan dapat fanservice darimu." Ia maju, Kise mundur menghalangi. Kanan. Kanan. Kiri. Kiri. Aomine mendecih kesal. Ia seperti melawan dirinya sendiri.

Kuroko ada disebelah kirinya, Aomine segera melempar kearah Kuroko dan langsung melewati Kise. Bola kembali padanya, tapi Kise juga kembali menghalanginya. Mereka makin dekat ke ring, gerakan Aomine dihalangi oleh Kise. Sampai akhirnya Aomine berlari kesamping kanan dan Kise mengejar. Aomine melihat garis lapangan didepan mata, ia reflek melambungkan bolanya keatas dan.. Masuk!

Kuroko terdiam ditempat, Aomine hampir menabrak wartawan yang berada dibelakang ring.

Kise mendapat bola. Ia tetap menunduk. Membawa bola kedepan, Kise di block Aomine. One-on-one kembali. Kise mengcopy gerakan Aomine tadi. Tapi Aomine yang sedang dalam keadaan yang sangat baik bisa merebut bola. Ia membawa bola ke ring Rakuzan, Nebuya dilewatkannya begitu saja. Skor kembali bertambah. Akashi mulai marah.

Suara langkah kaki yang dihentakan. Tim Teiko bahkan Rakuzan sendiri tak bisa bergerak. Seluruh mata melirik ke sang merah yang menunduk dalam. Bola ditangan Takao direbut oleh Akashi.

Ia maju kedepan, Nijimura memaksakan dirinya untuk maju tapi sebelum mendekat―kakinya bagai dipaku paksa. Ia tidak bisa bergerak.

Didepan Akashi―Aomine. Si biru yang merasakan keanehan dengan tubuhnya, tetap memaksakan dirinya melawan Akashi.

TAP! ―BRUK!

Saat Aomine maju melangkah mendekati Akashi, ia tiba-tiba jatuh terduduk. Sesuatu yang berat bagai menimpa tubuhnya dan ia seperti ditekan hingga terduduk. Akashi ada didepannya tidak bergerak setelah melempar bola ditangannya begitu saja kedalam ring.

"Bangun, Daiki."

Aomine berusaha berdiri, namun lagi-lagi sesuatu menekan tubuhnya hingga kembali terduduk. Kise yang ada didepan sana menatap Aomine dengan tatapan yang membuat Aomine mendecih kesal.

"KISE!" Bola yang telah ditangan Takao dilempar ke Kise, ia menangkap dan membawa bola. Namun, Kise yang sempat melirik Akashi―meneguk ludahnya.

Senyum itu.. Mata emas yang berkilat itu..

PRIIT!

Peluit time out, saat bola yang ditembakan Kise ditepis oleh Murasakibara dan keluar.

Dengan dibantu oleh Kuroko, Aomine berdiri dan dibopoh ke bench.

"Dai-chan?! Kau tidak apa-apa?" Momoi menghampiri Aomine, ia segera memeriksa kaki Aomine. "Dimana yang sakit?"

"Tidak ada yang sakit, Satsuki.." Aomine menepuk kepala Momoi, "Aku Cuma dilumpuhkan sesaat." Kedua mata mereka bertemu. "Kau tenang saja! Aku akan baik-baik saja!" senyum itu.. Momoi merasa kembali kemasa lalu, dimana saat itu Aomine mengatakan hal yang sama namun berujung kerumah sakit. Yang berarti sangat buruk. "Satsuki.. Apa kau tau zodiacnya, Kise?"

Momoi menaikan alisnya, "Untuk apa? Kalau tidak salah.. dia Gemini."

Aomine menoleh pada Midorima. "Oi, Midorima. Virgo dan Gemini.. Apa mereka cocok?"

Midorima menaikan kacamatanya, "Tidak. Malah sangat buruk."

"Oh ya?" Aomine tersenyum lebar menatap Kise didepan sana. "Kalau begitu aku tidak perlu menginginkan hal yang muluk-muluk."

Ia berdiri, merenggangkan tubuhnya dan masuk kelapangan.

"Nijimura-senpai.." Nijimura menoleh pada Aomine. "Apa rasanya kalah?"

"Aku tidak tau." Nijimura melangkah ketengah lapangan, diposisinya tadi. "Aku belum pernah kalah.."

"Sayang sekali.." senyum itu mengembang diwajah Aomine, Nijimura mengernyitkan dahi karnanya. "Sekali-sekali aku ingin merasakan kalah. Tapi ya, dikalahkan.. bukan mengalah."

PRIIIT!

Bola dari Kise dilempar ke Takao, Midorima didepan sang hawk eyes, ia tercicit kesenangan. Menipu si hijau, Takao maju dan mengoper kembali pada Kise. Beberapa langkah dari Kise, Aomine berdiri. Tapi, sebelum sempat ia berhadapan―langkah kaki dibelakang Kise membuat Aomine membeku. Aomine terlewatkan dengan mudahnya.

Sisa waktu yang sangat menipis.. Akashi dengan kekuatan anehnya membuat siapapun tak bisa bergerak. Kise bagai pahlawan. Membawa bola ke ring Teiko dan memasukkannya. Skor terkejar, bahkan terlewatkan. Nijimura melirik Aomine yang masih tenang dengan senyumnya.

"Apa dia mendoakan hal ini?" Nijimura mendecih tak suka, ia mundur. "Defense! Aomine!"

Aomine menyeringai, ia berlari cepat menghalangi Kise. Halang-menghalangi terjadi, Aomine berhasil merebut bola dan membawa ke Rakuzan. Akashi disana, dan lagi-lagi tubuh Aomine terasa berat. Mencoba hal yang ragu ia lakukan―Aomine melempar bola itu begitu saja. Masuk. Lagi-lagi hal mustahil yang dilakukan Aomine membuat penonton bahkan yang dilapangan tercengang.

Aomine. Kise. Terus one-one-one, bola yang sepertinya sengaja ditujukan untuk Kise membuat Nebuya, Akashi, Mayuzumi dan Takao hanya sebagai pengoper. Berkali-kali direbut, berkali-kali ditundukkan oleh Akashi―dan berkali-kali melakukan hal aneh, Aomine berhasil menyamakan angka.

PRIIIIITT!

Peluit waktu habis berbunyi. Semuanya bersorak.

Mereka seri.

Wasit bertanya pada panitia. Momoi di bench meneguk ludahnya.

"Baiklah.. karna seri, kita adakan tembakan bebas." Wasit memberitahu. Koin ditangannya ia tunjukkan pada Teiko dan Rakuzan. "Pilih."

"Gambar." Takao mewakili.

"Angka." Aomine terpaksa memilih itu karna keduluan Takao. Saling tatap, tiba-tiba Takao memeletkan lidahnya. "Midorima teme.."

"Kalau kau kesal jangan salahkan ke aku, Aomine!"

"Cih.. urusi pacarmu. Kalahkan dia!"

Koin dilempar, wasit menangkapnya dan menunjukkan telapak tangannya pada mereka. Koin angka.

"Bola Teiko!"

Kuroko disuruh Aomine memeletkan lidahnya pada Takao.

"Cih!"

"Bakao baka." Mayuzumi mengomentari.

"Satu tembakan." Ujar sang wasit.

Midorima berdiri. Teman-temannya menjaga atau dijaga lawan. Ia yang dengan keyakinannya tersenyum tipis, matanya melirik Takao mengejek. Dia pasti masuk, seperti biasanya kan?

Sret!

―Tap!

Tepat saat ia melepaskan tembakan ke ring, Midorima merasa sesuatu menekan tangannya. Walau samar ia bisa merasakan lemparannya berubah arah.

Bola melayang melewati ring. Midorima melotot tak percaya.

Bola ditangan Rakuzan. Kise berdiri dihadapan semuanya.

"Satu tembakan."

Mendribble beberapa kali, Kise lalu mengangkat tangannya dan melemparnya.

...dan masuk ketika.

3 point tercetak. Takao berteriak kegirangan, Akashi menyeringai senang, penonton pendukung Rakuzan huru-hara.

Teiko... kalah.

xXXXx

BRAK!

Aomine keluar dari ruang ganti lebih dahulu, Momoi meneriaki namanya. Tapi, diabaikan.

"Ada apa dengannya?!" ia menghentakkan kaki.

"Saat tadi.. Aku merasakan yang dirasakan Aomine 'dilumpuhkan' itu-nanodayo." Midorima memijit pelipisnya, Momoi menoleh kedalam. "Tapi.. kenapa itu bisa terjadi?"

Nijimura menyeka keringatnya dengan handuk, ia duduk disebelah Kuroko yang tertunduk. "Apapun itu.. Rakuzam curang."

Momoi yang berdiri diambang pintu, tiba-tiba menoleh kesebuah rombongan yang mendekat. Ia langsung berbinar.

"Si―Siapa saja! Cepat cubit aku! Kagami-kun, Haizaki-kun, Himuro-kun da―dan siapa wanita itu? Bodo ah―siapapun! Kesini! Katakan mereka itu Cuma halusinasi ku!" Kuroko berada disamping Momoi, ia mencubit lengan sang pink. "ITTE! TETSU-KUN HIDOI!"

Memainkan jarinya, Kuroko berkedip. "Tadi 'kan Momoi-san yang minta."

"Tapi jangan sekeras itu do―

"Permisi.." Momoi menoleh kearah pria tinggi dengan rambut merahnya. Ia mendadak lemas. Untung Kuroko langsung menangkap Momoi. Kagami Taiga, pembalap baru yang dibicarakan banyak orang menatap Kuroko. Si flat face itu sejenak berbinar, "Apa ada Aomine Daiki?"

Murasakibara berjalan mendekati Kuroko yang masih diam. Ia menunduk lalu menggendong Momoi ala putri. Murasakibara tau kalau Kuroko tak akan kuat menggendong si pinky ini. Berat badannya naik 3 kilo kemarin. Murasakiabara mengingat curhatan Momoi.

"Maaf.. Apa Aomine Daiki disini?" Murasakibara mengadah, ia menatap seseorang yang bertanya padanya dan terdiam seketika.

Tidak mungkin.. Himuro Tatsuya.. Model Amerika yang dieluh-eluhkan kakak perempuannya―ada didepan mata.

"Oi, baka!" Nijimura keluar, ia menjitak kedua kepala kouhainya lalu meminta maaf pada rombongan didepannya. "Maafkan keidiotan kouhai ku. Jika kalian mencari Ahomine Daiki, dia sudah pergi lebih dulu tadi." Ia melirik Midorima yang keluar, dan kouhai-kouhainya yang lain penasaran ingin lihat.

"Ahomine..?" seseorang terkikik dibelakang si Kagami, Nijimura mengintip orang itu dan melotot. "HUWAAA! KAU!"

"Berandalan sialan yang menginjak jam tanganku." Nijimura tampak tak bersahabat, Kuroko segera berlindung kebelakang Murasakibara dan mengintip darisana. "Siap-siap merasakan kelanjutan bogemku.." Haizaki pergi meninggalkan teman-temannya. "OI! TEMEE!"

"Jadi.. dia sudah pergi?" wanita berpakaian sexy menyembul keluar dari belakang Himuro. Kouhai-kouhai Nijimura bersorak riang. "Maa~ padahal kami sudah merencanakan sesuatu. Ayolah kembali! Ryou-chan kasihan sendirian!"

"Kalau kalian ingin bertemu dengan Aomine-kun, dia pasti dirumah." Ujar Kuroko, Kagami yang menatapnya membuat ia bersembunyi dibalik Murasakibara lagi. "Sebentar lagi jam kerja Aomine-kun.."

Setelah itu Alex pergi. Membiarkan Himuro dan Kagami disana bersama Teiko.

"Aku Kagami Taiga.." Kagami mengulurkan tangan pada Nijimura yang langsung dijabat.

"Nijimura Shuzou. Senang bisa berkenalan dengan pembalap F1 sepertimu.."

"Haha.. bukan apa-apa." Kagami melirik tangan yang tiba-tiba ada dihadapannya. "Eh?"

"Kuroko Tetsuya, desu.." Kagami menjabat tangan Kuroko. 'BLUSH!' dan Kagami tersenyum tak enak saat Kuroko memerah. "A―Aku fansmu.."

Oh.. mata berbinar itu.. jarang sekali dilihat oleh Nijimura.

"Himuro Tatsuya.." Himuro mengulurkan tangannya, Murasakibara melepaskan Momoi ke tangan Nijimura seenaknya.

Ia menjabat tangan Himuro, "Murasakibara Atsushi." Ia menggenggam tangan Himuro kuat tanpa sadar. Himuro meringis. "Anekiku adalah fansmu.. Muro-chin.."

"Ahahaha.."

Dua Kouhainya yang berbinar. Astagay.. Nijimura merasa ingin benar-benar meremukkan orang bernama Haizaki itu.

Disisi lain, Akashi yang kehilangan Kise mendadak―mencari si pirang hingga keluar stadion. Matanya mencari keberadaan Kise, namun nihil. Tapi, saat matanya menangkap orang yang ia lihat tadi saat pertandingan―Akashi langsung menghampiri orang itu.

Puk!

"―GYAAA! A―Ada apa?!" Furihata hampir kena serangan jantung. Ia menatap Akashi yang menatapnya dingin.

"Dimana Aomine Daiki?" Furihata mulai bergetar ketakutan. "Katakan!"

"Ta―Tadi Daiki-niichan pulang."

"Nii-chan?" Akashi mengernyit, "Dia kakakmu?"

"Osananajimi desu."

"Hn.." Akashi melangkah maju melewatinya, lalu berhenti dan menoleh ke Furihata lagi. "Kau.. umur mu berapa?"

"E―Empat belas.."

"Ho.." Akashi mendekati Furihata yang memeluk tas selempangnya erat. "Sekolah dimana?" dan mendadak Kise terlupakan oleh Akashi karna bocah didepannya. Sepertinya anak ini menyenangkan untuk dimaikan.

"Se―Seirin-chuu.."

"Tempatnya para chihuahua, eh?"

"Hee?"

xXXXx

Kise mengendarai mobil milik Kagami dengan kecepatan penuh. Ia yang tadi mencari Aomine melihat ace Teiko itu telah masuk kedalam bus. Ia pun berlari kembali ke stadion sambil menelpon Kagami. Tepat saat ia sampai di stadion tersebut, Kagami bersama yang lainnya sudah menunggu. Kagami langsung melempar kunci mobilnya, ia pun menangkapnya dan segera mencari mobil Kagami. Dan kini, ia berada dijalan yang sama dengan bus tersebut―Kise mengejar Aomine.

Kise dengan gemetaran menggenggam mobil sport milik Kagami. Adrenalinnya benar-benar berkerja hingga ia tak memperdulikan mobil-mobil apa saja yang ia lewati. Bus yang dinaiki oleh Aomine―terlihat, walau masih agak jauh lagi. Kise menekan gas, mencoba menyusul bus tersebut. Namun, saat ia sudah menyamai bus itu―bus tersebut malah berhenti.

"Che!"

Kise membanting stirnya kesebelah kiri. Ia lalu menekan rem kaki dan rem tangan hingga akhirnya mobil itu berhenti. Kise membuka pintu, lalu menutupnya dan menyebrang kejalan dimana bus tadi berhenti. Mata madunya mencari-cari sosok Aomine dari penumpang bus yang sudah turun. Semua mata memandangnya heran, beberapa menyapanya namun ia hiraukan. Tak mendapati sosok Aomine, Kise langsung berlari menuju rumah Aomine langsung.

Dengan samar-samar jalan yang ia ingat, Kise mencari kemungkinan Aomine tengah berjalan menuju rumahnya. Mata Kise mendapat hamparan lautan yang luas. Ia mengingat kembali dimana rumah Aomine. Dan saat matanya mencari jalan yang menuju rumah Aomine―orang yang ia cari baru saja berjalan kesebuah kelokan.

Kise berlari. Mengejar Aomine. Keringat bercucuran dari keningnya. Jersey Rakuzan yang ia pakai mulai basah karna keringat. Kise berada di sebuah pemukiman. Ingatannya langsung menggambarkan jalan kerumah Aomine. Tanpa mengulur waktu, ia menuju rumah tersebut.

Nafas terengah-engah, ia menunduk mencoba mengatur nafasnya. Kise berhasil sampai dirumah Aomine. Jalan bercabang yang sempat ia salah tuju―membuatnya harus berbalik arah dan memilih jalan yang sebenarnya.

Jantungnya berdegup kencang, perpaduan pasca lari panjangnya dan sesuatu yang ingin ia katakan―bukan hanya jantungnya yang berdebar, tapi wajahnya juga memerah.

Ia berada didepan pintu rumah Aomine. Tangannya menekan bel.

Ting―Tong!

Tak ada jawaban.

Kise sejenak diam.. menunggu sahutan.

Ting―Tong!

Ting ―Tong!

"Aominecchi!"

Ting―Tong! Ting―Tong! Ting―Tong!

"Aominecchi! Aominecchi!"

Kise tak mendengar sahutan dari dalam. Ia menatap kenop pintu Aomine dan memegangnya.

Cklek! Cklek! Cklek!

"Aominecchi! Aominecchi! Buka pintunya! Aku ingin bicara denganmu!"

Masih tidak ada sahutan.

"Aominecchi! Aku mohon padamu!"

Brak―Brak―Brak!

"Aominecchi! Aominecchi! Buka pintu―

"Kise teme.. Apa yang kau lakukan dengan pintu rumahku?"

Kise membeku seketika. Ia membalikkan badannya, menatap Aomine dengan sebuah kantong besar berisikan barang.

"Aominecchi.."

"Apa?"

Kise menangis.

"O―Oi!"

o

ーつづくー

T. B. C

o

Pertama, Aomine disini memiliki sifatnya saat di Teiko(canon). Dimana dia baru mendapat keahliannya dalam basket. Tapi belum bisa memasuki zone.

Kedua, gomen jika saat scene pertandingan diatas ada kesalahan dalam permainannya ataupun gerakannya. Ryuu gak ahli dalam olahraga manapun. Pada scene ini pun Ryuu bolak-balik buka episode KnB, desu.

Ketiga, Akashi disini mendapat emperor eyesnya sejak lahir. Ia menggunakan emperornya seperti menggunakan reiatsu(?).. err.. gitu deh..

Keempat, waktu Ryuu nulis ini, Ryuu Cuma ingat ini aja yang harus ditulis.. ehe~

Terakhir.. Thanks to: 69912052, Septaaa, Niji Shourei06, , LaChoco Latte, Aoki, RinRin NaRin Desu, GreenLicius19, Raich, Reader sekseh nan unyu yg males login, , Shipper bejatnya aoki, anakYunJae, Hamao Saki, MocchanTheZombie, Valvet, humusemeuke, ry, Monggu, amelia, SKETMachine. Maaf gak bisa balas review kalian /bow/

Sampai jumpa di final chap-ssu OwO)/

Review? _(:3_/