Pagi cerah telah menyapa kehidupan hari ini. Terlihat seorang pemuda tampan beriris onyx gelap sedang sibuk melakukan aktifitas pagi ini. Ia membuka gorden sutera yang ada di kamar tersebut dengan sesekali melirik wanita bersurai pink yang masih terlelap dalam mimpinya.

"Ngghhhh~…"

Terdengar lenguhan dari sang gadis yang membuat pemuda tampan ini berbalik menghampiri sang gadis di tempat tidur mereka.

"Saku, Pagi…" ucapnya pada sang gadis dihadapannya.

Merasa tersadar akan keberadaan pemuda tampan dihadapanya. Dengan masih setengah sadar sang gadis melongo dengan keadaan pemuda tampan yang ada di kamarnya.

"GGGYYYAAAAAAAA…."

PLAAKK

DUUAAAAGHHHH

BRUGH

Sakura tersadar sepenuhnya dan membuat keributan di rumahnya sendiri. Dia menyadari sasuke menjadi bentuk anak kecil kembali. Setelah sebelumnya menerima tamparan keras dari Sakura. Bagaimana ia tidak kaget jika dibangunkan oleh pemuda tampan berkulit putih dan tak ada kecacatan dalam bentuk wajah. Dengan piyama yang sedikit terbuka membuat wajahnya panas dan memerah bagai tomat kesukaan sang pemuda.

Diruang makan, Sakura telah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Seperti nasi goreng ekstra tomat kesukaan sasuke, sup tomat, jus tomat, dan makanan lainnya. Kuropun bingung melihat kedua orang dihadapannya. Bocah bernama Sasuke masih memegang pipnya yang memerah bekas tamparan. Dan Sakura yang terlihat kesal dengan muka memerah.

"Ada apa dengan kalian? Mengapa pipimu memerah Sasuke?" Tanya Kuro pada Sasuke

"NG? Aku ingin memeluk Saku… Ah… bukan, Aku ingin memeluk erat Sakura…" Jawab sang bocah sambil memegang pipi kanannya yang masih nyut-nyutan itu.

"Habisnya, kau tiba-tiba jadi dewasa. Aku kan kaget! Mau dipikir kayak gimanapun ya tetap saja aneh! Kenapa Sasuke bisa tiba-tiba menjadi dewasa lalu tiba-tiba jadi anak kecil…" teriak Sakura yang membuat kucing dan bocah itu diam.

Kuro, si kucing hitam dan memakai pita pink yang tersemat lonceng dilehernya mengeram marah saat mendengar Sakura berteriak memarahi Sasuke.

"Kenapa?! Dalam sehari, selama beberapa menit dia bisa berubah jadi dewasa. Jadi cowo idamanmu. Memangnya kau nggak tertarik dengan 'Service Time' itu?!" Tanya Kuro "Sasuke bisa menggunakan semua teknologi masa depan dengan bebas. Karena dia adalah jenis yang baru… yah secara detailnya sih aku nggak bisa beritahu karena itu dilarang" Lanjut Kuro menjelaskan. Iapun kembali menyantap sarapan dihadapannya.

"Makanya, kubilang kucing yang bicara dengan logat kansai pun aneh!" teriak Sakura frustasi. 'Pasti kau bilang itu informasi terlarang lagi' –pikirnya.

"Aku bukan kucing! Aku ini cyborg tercanggih yang berwujud kucing!" bantah Kuro pada Sakura

"Tetap saja kau hanya terlihat seperti kucing hitam!" balas Sakura.

Mereka berdua beradu argumen dan tidak menyadari bocah bernama Sasuke menatap mereka dengan serius sambil melahap sarapanya. Kedua alisnya bertaut saat Ia melihat kedua makhluk berbeda bentuk saling berpandangan untuk menantang satu sama lain.

"Lho?! Kok rasanya… Sasuke lebih besar daripada kemarin ya?!" ujar Sakura memperhatikan bocah itu yang terlihat seperti anak SMP saat ini.

"Ya! Betul… pertumbuhannya bagus…" Jawab Kuro antusias. Bocah tersebut menghentikan makannya dan memperhatikan Sakura.

"Sasu, ingin cepat besar, agar berguna untuk Saku!" ujar bocah tersebut dengan senyum polosnya.

DEG DEG

BLUSHH

'imutnya….! Ah, tapi aku lebih suka sasuke saat dia jadi dewasa' pikir Sakura saat melihat senyum Sasuke wajahnya pun memerah membayangkan kejadian bangun paginya.

Sakurapun bangkit dari kursinya, menumpu salah satu kaki ke kursi tersebut dan meninju udara "Yosh, semua terserah padaku! Ternyata membesarkan Sasuke tidak butuh usaha keras…" ujarnya bersemangat.

"Tapi… kalau dia semakin besar dan tidur di tempat tidur yang sama denganku sih… gimana ya… tapi tempat tidurnya cuma ada satu…" seru Sakura dengan pose berpikir.

"Kalau Sasuke satu tempat tidur denganmu, dia akan sulit tumbuh!" ujar Kuro "Iya betul, jadi repot!" sambung Sakura

Sasuke yang mendengarnya langsung beraura muram "Sakura benci aku?" ujarnya menatap Sakura dengan sedih dan frustasi.

"Bu… bukan itu maksudku…" jawab Sakura salah tingkah

"Tapi kalau kita satu tempat tidur nanti terjadi yang macam-macam bagaimana?!" lanjut Sakura dan membayangkan hal yang tidak-tidak dipikirannya hingga wajahnya memerah.

"Cewek cabul!" seru Kuro pada Sakura yang membuat Sakura kembali kekenyataan.

"KENAPA KAU BISA TAHU?!" teriak sakura menutupi malunya.

"HAAA… cewek pengkhayal kayak kau sih mana bisa punya pacar…" ujar Kuro sambil menggeleng-gelengkan kepala kucingnya.

"Dasar kucing hitam ini! Makasih kau sudah banyak membantu!" ucap Sakura jengkel terhadapnya.

"Bukan kucing hitam! Namaku Kuro!"

Saking asiknya berdebat, Sakura mengabaikan Sasuke yang sedang membuka kopernya dan memutar-mutar tisu gulung yang ia bawa. "Oh, jadi Saku nggak mau tidur sama-sama denganku… begitu ya!" ucapnya entah pada siapa dengan ekspresi muram masih memutar-mutar gulungan tisunya.

"Ng?! Sasuke, apa yang kau lakukan?!" Tanya Sakura memperhatikannya.

"Aku sedang belajar… disini tertulis kosa kata…" jawabnya

"HEEE?! Jadi itu bukan tisu toilet biasa? Aku nggak ngerti deh, benda-benda masa depan itu luar biasa!" seru Sakura antusias.

Sibuk memperhatikan, Sakurapun melihat jam yang ada didinding ruang tersebut yang menunjukan pukul 07.40 pagi.

"WAAAAH! Sudah jam segini? Aku telat nih…" teriaknya panik karena sekolah dimulai jam 08.00 dan perjalanan kesekolahnya memakan waktu 30 menit dengan bus.

"Papa yang sedang dinas ke luar kota… Mama yang ada disurga, aku pergi dulu ya… Hari ini peringatan meninggalnya mama ya…" ucapnya sambil menyatukan kedua tangan dihadapan pigura kedua orang tuanya seraya pamit.

"Maaf, aku pergi sekolah dulu ya…" ujarnya pada Sasuke dan Kuro dan terburu-buru menggunakan sepatunya.

Sasuke yang menyadari kepanikan Sakura memandang dalam diam "Kuro, keluarkan benih motor dari koper" ujarnya pada Kuro yang langsung menghilang dari pandangan.

POING

Kuro melempar benih yang seperti bola pimpong dihalaman depan rumah sakura. Tersebar kepulan asap dan cahaya yang telah berubah menjadi motor Sport berwarna hitam.

"EEEH?!" Sakura yang melihat kejadian tersebut hanya terpaku dan kagum 'Apa ini? Teknologi macam apa ini?!' –tanyanya dalam hati.

"Ayo pegangan!" Perintah Sasuke padanya dengan menjulurkan tangannya pada Sakura.

BRRRMMMM

SYUUUUTTT

'Ini bohong kan' -inner Sakura tak percaya Sasuke dapat mengendarai motor besar dengan kecepatan tinggi. Iapun mulai mengalungkan kedua tangannya di perut bidang Sasuke saat mereka mulai pergi.

"Apa kau punya SIM Sasuke?" Tanya Sakura panik.

"Nggak punya, tapi aku bisa mengerti cara menggunakannya saat menyentuh pegangannya" ucap Sasuke datar.

"HAAAAHH? Kau bisa mengerti hanya dengan menyentuhnya?" seru Sakura disaat yang sama ada seekor kucing sedang menyebrang jalan. Melihat motor yang melaju kencang dihadapanya, sang kucing hanya terdiam.

"Meongg~~"

"WAAAA!….. BAHAYA!…. MINGGIR!..." teriak Sakura panik saat kucing melewati jalan dan menghindar dengan cepat.

"WAAAA, KAU MENEROBOS LAMPU MERAH…" teriak Sakura lagi, saat Sasuke menambahkan kecepatan untuk melewati jalanan saat lampu merah menyala.

"TIDAAAK… AKU TAKUT!" akhirnya Sakura menutup mata dan mengencakan pelukannya pada Sasuke.

Akhirnya merekapun sampai di sekolah 5 menit sebelum bel berbunyi. Sakura pun turun dari motor dan langsung terengah-engah

"Mau nyawaku ada berapapun,, hosh hossh… rasanya nggak cukup. Dan untung saja nggak ketangkap polisi…!" ucapnya pada Sasuke

"JANGAN LAKUKAN HAL ITU UNTUK YANG KEDUA KALINYA!" teriak Sakura memperingatkannya.

"Tapi… keburu kan?" ucap sasuke dengan polosnya

"UUhh" –'bukan itu maksudku, tapi yang tadi itu bahaya'… inner Sakura

"Memang sih aku tertolong karena sikap Sasuke yang masih polos dan murni, tapi… Lagipula kalau kau terlalu mencolok, nanti ketahuan dari masa depan kan bisa repot ?!"

"Sama sekali nggak, tenang saja…" ucap Sasuke dengan senyum polosnya.

Sakura yang mendengarnya hanya menatap dengan muka kesal sambil menggembungkan pipinya lucu. Dan hal ini membuat Sasuke tak dapat diam untuk menyentuh pipinya.

"Tersenyumlah Saku… kau lebih manis kalau tersenyum" ucap Sasuke sambil mengusap pipi Sakura yang mulai tersipu malu dibuatnya.

DEEEG… "Eh?!" sakura pun terkejut dengan skin ship yang dilakukan oleh Sasuke terhadapnya. Namun mereka tak menyadari perbuatan romantis itu mengundang perhatian dari murid yang lewat karena mereka masih didepan gerbang sekolah Sakura.

'Saat dia melakukan hal seperti ini… Dia terlihat seperti seorang pangeran' –inner Sakura yang sedang mematung hingga tak menyadari Sasuke yang telah kembali pulang.

SAKURA POV

Bukan saatnya untuk berdebar-debar, sesaat setelah aku memasuki kelas yang ternyata jam pertama hingga istirahat kosong, akupun pergi ke ruang proses data. Dasar brandal kecil, aku lelah setelah teriak-teriak di motor tadi dan perlakuannya membuat kakiku seperti jelly saat ini. Aku khawatir, apa dia sampai rumah dengan selamat ya, lalu aku menduduki salah satu tempat yang memang saat ini kosong dan terdapat komputernya.

Barusan itu aku terlalu lunak, kalau terus begini aku jadi tidak tenang, apa aku bisa membesarkan Sasuke menjadi cowok idamanku atau tidak. Bisa saja terjadi hal yang nggak kuinginkan. Ini berbeda dengan game hp, kalau aku melakukan kesalahan aku nggak bisa mengulangnya kembali. Huft, bikin stress saja.

Tapi aku harus tetap tenang, pertama-tama akan kuselidiki dulu keturunanku. Ku ketik 'bakteri ' di mesin pencari internet dan menemukan berbagai informasi yang berkaitan dengan zat asal mula sasuke.

"Aaah… ternyata begitu, bakteri itu sendiri sebenarnya tidak berbahaya dan tidak kotor." Ucapku senang dengan bersenandung riang.

"Tapi, aku nggak terlalu memikirkannya" ujarku yang sedang membayangkan makhluk setampan Sasuke dengan bakteri

Sasuke merupakan manusia jenis baru yang lahir dari bakteri, tapi mengapa Sasuke terlalu terus terang akan perasaannya seakan sudah terprogram. Apapun yang kuajarkan dia selalu bisa melakukannya. Ketika berhadapan denganku pun dia bersikap seperti yang aku mau seperti sedang mengingat-ingat system manual saja.

Seperti halnya komputer, begitu membaca program, komputer bisa langsung memprosesnya, benar-benar seperti mesin. Apakah Sasuke punya hati? Kalau sekedar perasaan dan emosi aku tahu dia punya tapi, entah mengapa rasanya aku ingin debaran jantung dari jantung yang sesungguhnya.

END SAKURA POV

TING… TONG… TING… TONG…

Bel isitirahat siang pun berbunyi, setelah pelajaran biology yang melelahkah akhirnya para siswa pun dapat istirahat makan siang di kantin dan ada pula yang hanya sekedar iseng bermain dibawah terik matahari. Sakura yang sedang membereskan bukunya terkejut saat sebuah bekal tersodor dihadapannya dan yang lebih mengejutkan ialah adanya tangan yang masih memegang bekal tersebut.

"Bekalmu ketinggalan!" ucap seseorang yang memegang bekal tersebut. Dengan cepat Sakura pun menolehkan kepala pink nya ke sisi kanan yang tepat di jendela yang terhubung dengan koridor.

"Eh?!"… ucap sang gadis merah jambu bingung karna tak mengenal pria yang berperawakan dewasa, rambut klimis, tinggi, dengan tatapan tajam bagai kucing yang seperti ia kenal. Pria itu pun menggunakan tali pink berbandul lonceng seperti kuro.

"Masa kau nggak kenal aku?" ucap pria tadi.

"Ku… KURO?" ucap Sakura terkejut hingga menujuk dengan jari nya.

"Ke, ke, ke… KENAPA? Kok jadi keren sih?" ujar sakura lagi saat melihat tampang kuro sebagai manusia yang terlihat seperti pria dewasa yang keren bagai artis-artis korea.

"Kau ini memang berisik ya! Untuk cyborg super canggih sepertiku sih, berubah ke bentuk manusia itu hal yang mudah. Aku datang bersama Sasuke juga." Ucap kuro yang sudah mengundang perhatian karena ketampanan dan juga pakaian serba hitam yang terlihat keren bagi para gadis SMA.

"EEEH? Sasuke juga? Dimana dia? Kalau dia melakukan sesuatu yang aneh lagi, bisa gawat nih! Ayo pergi!" ucap Sakura yang memang tak melihat Sasuke dimanapun. Iapun menarik tangan Kuro untuk mengikutinya. Namun dengan cepat Kuro menghempaskan tangan Sakura.

"Ada apa? Kau pergi saja duluan, kau kan yang tahu jalan" ujar Kuro

"Ah Iya…" jawab Sakura karna masih terkejut dengan tangan Kuro yang sedingin besi meskipun penampilannya seperti manusia, tapi sebenarnya dia cyborg.

DRTT… DRRTT..

Getaran ponsel Sakura membuatnya menghentikan langkah cepatnya dan segera megambil hp yang ada di saku nya.

"Email dari Papa?"

To : Sakura (087887594xxx)

From : Papa (081515666xxx)

Subject : Hari ini

Hari ini peringatan kematian mama ya?

Ayah akan pulang…

Begitulah email yang tertulis.

"EEEHHH?! Hari ini papa mau pulang?" ucap Sakura terkejut setelah membacanya yang membuat Kuro heran.

'Gawat, bagaimana aku menjelaskan tentang Sasuke dan Kuro? Ah tapi, sekarang aku haru menemukan Sasuke dulu' –inner Sakura

Sakura pun melanjutkan pencarian Sasuke ke seluruh sudut sekolah yang mempunyai 3 lantai ini. Karena ia berada di lantai 2 dan berpikir tidak mungkin jika Sasuke berada di lantai 3 yang isinya ruangan klub dan beberapa ruang kelas 3, Sakura dan Kuro pun beranjak turun. Saat ia sudah mendekati tangga ia pun menemukan Sasuke yang sedang dikepung para siswi yang menanyai Sasuke karena sosoknya yang tampan.

"Hei SASUKEE!" teriak Sakura yang masih dengan berjalan cepat hingga tidak sengaja terpeleset disalah satu undakannya.

"GYYYAAAAA….." ZRRUUTT…

"AH "

GRREEPPP

WUUUSSHH..

Ternyata Sasuke berhasil menangkap Sakura yang hampir saja terjun dari lantai 2 karna berlari saat menuruninya. Sasuke menangkap sakura dengan gaya bridal style yang membuat Sakura menganga saat membuka mata.

"Hi Hi Hi.. Kau semangat sekali ya, seperti di tempat tidur tadi" ucap Sasuke yang membuat Sakura tambah blushing.

"KYAAAA","Apa maksudnya tuh" teriak gerombolan siswi yang tadi mengerubungi Sasuke saat melihat mereka berdua.

"Kau membuat mereka salah paham! Cara bicaramu itu!" ujar Sakura setelah turun dalam gendongan Sasuke yang melihatnya dengan khawatir.

"Ehh… Kenapa kau jadi dewasa? Sejak kapan?" seru Sakura lagi yang baru menyadari bahwa Sasuke menjadi anak seumurannya.

"Aku kan nggak bohong! Setiap hari kita memang tidur sama-sama!" jawab Sasuke

"Ya makanya, itu membuat mereka salah paham!" ucap Sakura yang menahan semburat merahnya.

"Tapi itu kan yang sebenarnya. Kita selalu bersama-sama. Karena… aku lahir ke dunia ini demi Sakura!" ujar Sasuke yang menarik Sakura ke pelukannya. Hal yang membuat Sakura berdebar-debar karena berada ditempat paling aman di dunia namun ia tetap tak bisa menyembunyikan perasaan malunya karena berada dimuka umum. Namun gerombolan siswi tersebut telah menghilang dari pandangannya.

'ah, lengan Sasuke terasa hangat. Ini bukti bahwa ada darah yang mengalir dalam tubuhnya.' –Inner Sakura

TING… TONG… TING… TONG…

Bel pulang pun berbunyi, Sakura menyuruh Sasuke untuk menunggunya setelah tadi mengantar bekal yang tertinggal. Akhirnya mereka bertiga pulang bersama dengan jalan kaki.

"Saku…" ucap Sasuke yang mencoba untuk menyentuh puncak kepala Sakura namun ia kaget dengan apa yang dilakukan Sasuke.

"Maaf" karna mendapat penolakan akhirnya Sasuke pun menarik kembali tangannya.

SAKURA POV

Untuk sesaat aku merasa dia bisa membaca pikiranku. Aku tidak tahu apa kemampuan Sasuke. Bisa saja dia melakukan hal seperti itu, seperti saat naik motor tadi, aku sendiri juga sampai terkecoh.

"Aku harus pulang lebih cepat, karena papa akan pulang" ujarku yang teringat akan email dari papa tadi.

"Saku, kau marah ya? Selain motor ada hal lain kan yang kau pikirkan?" ucap Sasuke padaku.

"Aku nggak marah, tapi aku senang dengan perasaan Sasu padaku. Tapi rasanya ada sesuatu yang salah! Aku tidak bisa menjelaskannya dengan detail tapi Sasu bisa memakai peralatan canggih dari masa depan. Dan saat Sasu memperlihatkan kemampuan supernya. Kok rasanya semua ini bagaikan sebuah kebohongan." Jeda sesaat lalu kutatap matanya yang menatapku bingung "Kau terlalu sempurna dan terlalu cepat mempelajari sesuatu, seperti mesin. Bahkan dibanding Kuro pun, rasanya Sasuke lebih seperti robot! Aku jadi berpikir apakah Sasuke punya hati atau tidak" sambungku.

Tatapan Sasuke pun meredup. Dia menekan dadanya dengan kikuk dan yang terlihat seperti bingung untuk mengucapkan apapun.

"Hati…?" hanya itu yang diucapkannya.

"Haaah…" helaan nafas Kuro menyadarkanku bahwa Ia masih bersama kami. "Seperti biasa, kau selalu mengejar idealismemu. Kau sama sekali tidak berkembang. Cinta yang sesungguhnya berbeda dengan hal itu!" ujar Kuro padaku.

"Cinta yang sesungguhnya?" ucapku yang masih bingung dan bimbang. "Aku, sama sekali tidak berkembang ya" ujarku lagi.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan yang tertunda tadi hingga tanpa sadar sudah dekat dengan rumahku. Langsung saja kumasuki rumah yang sudah menjadi tempat tinggalku selama ini.

"HAAAHH.. APA-APAAN INI!" teriaku setelah melihat kekacauan yang ada di dalam rumah ini lagi.

"Hei, apa-apaan buku ini? Gimana nih, kalau papa sampai lihat? Harus cepat dibereskan nih!" ucapku lagi saat melihat beberapa majalah yang berserakan diruangan tamu ku saat ini.

"Tadi pagi aku membelinya, demi pertumbuhan Sasuke! Aku memang cyborg yang bisa segalanya!" ucap Kuro dengan bangganya

"Ya" tanggap Sasuke dengan senyum polosnya.

Seketika tubuhku bergetar saat mengambil salah satu majalah tersebut dan membukanya. Sejak pagi, seorang pria muda dan seorang lelaki muda yang kira-kira seumur anak SMP membaca buku p***o. ini terlalu mencurigakan. Langsung kubuang majalah tersebut.

"Kami juga sudah latihan berdua loh! Lihat ya!" ucap Sasuke padaku yang sedang mendekati Kuro lalu menyentuh lengan atasnya.

"Betul! Kita melakukannya dengan hebat !" jawab Kuro yang membuatku bingung.

Kemudian mereka berdua pun mendekatkan wajah mereka lalu memejamkan kedua mata hingga sebelum terlalu jauh, aku harus menghentikannya!

"WAAAAA! SEBENTAR! HEI! TUNGGU DULU!" teriakku panic dan membuat mereka saling menjauh.

"Kau hanya boleh melakukan ciuman sungguhan dengan orang yang kau sukai di saat-saat yang tepat ya!" saran Kuro seperti seorang guru pada Sasuke. "Baik!" jawabnya dengan memberi hormat.

"Ah… aku mengakui kerja keras dan keprofesionalan kalian" ucapku lesu hingga menjatuhkan diri dilantai.

"Loh? Padahal sudah kumasukan ke kantong! Tapi HP ku tak ada!" seruku lagi yang menyadari handphoneku hilang karena biasanya terasa dikantong kemeja ku.

Akhirnya kami mencari handphoneku dengan kembali ke jalan yang kami lalui sebelumnya. Hingga sampai di padang rumput yang sempat kulalui tadi.

SRAK SRUK SRAK SRUK…

"Kita sudah mencari-cari selama 2 jam. Tapi nggak ketemu juga! Di jalan menuju sekolah juga nggak ada" ujar Sasuke sambal mengkorek-korek rumput.

"Aku mohon bantu aku mencarinya Sasu, aku memasukkan semua data ke hp itu…" ucapku dengan puppy eyesku pada mereka.

"Ah! Begini, apa mungkin kalian bisa menemukan HPku dengan teknologi masa depan? Seandainya bisa…" lanjutku memberikan ide cemerlang ini.

"Bisa kok" jawab Sasuke, "Itu sih gampang! Baiklah, aku pergi dulu" Sambung Kuro yang langsung menghilang. Yang membuatku tersentak kaget melihat Kuro menghilang.

"Kalau punya teknologi kayak gitu, kenapa kalian nggak bilang dari tadi!" ucapku sewot dihadapan Sasuke yang langsung menunjukan tampang melasnya.

"Habisnya… kupikir kalau kami menggunakan teknologi masa depan, nanti Saku tak menyukainya." Ujarnya diselingi hembusan angin sepoi-sepoi karna kami di padang rumput yang luas. "Lebih baik mencari berjam-jam bersama Sakura menggunakan kedua tanganku ini. Menurutku, hal seperti itu membuatku memiliki 'hati' yang kau maksudkan" sambungnya dengan wajah polos dan tampan yang seumuran anak SMP ini.

Seketika aku terpaku mendengarnya, aku hanya mengatakan apa yang baik untukku saja. Aku, benar-benar hanya memikirkan diri sendiri.

"Tsunade-san sebagai keturunan Sakura, dia menciptakan ku agar Saku mendapat pendidikan dan pelajaran yang bagus. Sejujurnya, aku dipesan dari tempat penelitian. Kemudian Tsunade-san membesarkanku dan kami bersama-sama melihat gambaran dirimu, Sakura"ucapnya lagi.

"Didalam gambar itu, aku melihat Sakura yang sedang tertawa, dan akupun terkejut karena kau adalah gadis yang akan kutemui. Saat melihat gambar itu, aku berdebar-debar dan merasa antusias" jelasnya.

Akupun tersipu "Sasuke…" hanya itu yang terucap dari mulutku.

"Karena aku, dilahirkan untukmu Sakura! Kau mempunyai keluarga dan teman, sedangkan aku tidak! Bagiku hanya ada Sakura seorang. Memang sih ada Kuro juga, tapi yang kutahu saat ini aku dibuat karena Sakura… Kau adalah segalanya bagiku" dengan tatapan serius dia mengucapkannya untukku. Rasanya bunga-bunga telah bermekaran didadaku ini. Oh tuhaaann…

"Makanya aku ingin melihatmu tertawa bahagia, aku ingin melakukan sesuatu untukmu Sakura. Aku…"

Dia berusaha sebisa mungkin memberitahu tentang 'hatinya' tapi aku malah meragukannya. Aku merasa seperti orang bodoh.

"Maaf, aku sudah bilang kau tidak punya hati Sasuke kun" ucapku sambal menunduk dengan menahan air mata yang sudah ingin keluar ini. Hingga Sasuke mendekatiku lalu menyentuh pipiku yang berlinang air mata. Ya, ternyata Sasuke memang punya 'hati' pikirku.

CHUUPP

Ia menekan bibirku dan dapat kurasakan bibir kenyalnya yang hanya 5 detik, iapun melepaskan ciuman pertamaku.

"AAAA…" hanya itu yang terucap dariku karna tak bisa menahan perasaan terkejutku ini.

"Aku melakukannya karena menurutku barusan adalah momen berhargaku denganmu Sakura" ucapnya sambil tersenyum memikat.

Aaaahh, ciuman pertamaku, dadaku tak berhenti berdetak. Perasaan apa ini? Rasanya dadaku sesak sekali. Malu sekali sampai ingin menangis. Sejak lahir, baru pertama kali ini ada yang mengatakan perasaannya dengan begitu terus terang padaku. Hatiku menghangat dan semburat merah tak dapat ku hilangkan dari kedua pipiku ini.

BRUUUGGHHH

"KYAAA"

Aku tersentak mendengar suara dibelakangku yang ternyata tumpukan handphone entah dari mana dan milik siapa.

"Nih, carilah!" ujar Kuro yang baru saja muncul dan sepertinya kelelahan mengumpulkan semua ini.

Kuedarkan penglihatanku mencari HP kenopo berwarna pink dengan hiasan bunga Sakura seperti namaku.

"Ketemu!" ucapku senang dan segera menyalakannya. Ada pesan masuk dari papa saat HP ku hidup

To : Sakura (087887594xxx)

From : Papa (081515666xxx)

Subject : Tunda

Maaf, barusan papa memang bilang mau pulang, tapi sepertinya tidak jadi.

Salam buat roh Mama yang sedang pulang kerumah ya, sayang

Papa mencintaimu.

"Dasar Papa plin plan!" ucapku kesal dan langsung pulang dengan wajah bete.

END SAKURA POV

Sesampainya dirumah, Sakura memberikan doa kepada ibunya yang sudah ada disurga. Karena hari ini hari peringatan kematiannya doa yang dipanjatkan Sakura lebih lama dari biasanya. Setelah itu ia bergegas mengganti baju piyama sehabis mandi dan membersihkan diri.

"Sakura, ayo tidur sama-sama!" ujar Sasuke yang bertubuh dewasa dan sangat sexy karena memasuki service time mode on.

"APAAAA? Tapi inikan tempat tidurku" ujar Sakura blushing yang membuat Sasuke semakin menggodanya karena menggemaskan. Dengan sigap Sasuke pun mengangkat tubuh Sakura dan menjatuhkannya dikasur dengan posisi duduk.

"Makanya kita tidur sama-sama!" ucap Sasuke yang membuat pikiran Sakura membayangkan hal-hal aneh.

"Sudah ah, jangan tidur sama-sama!" sanggah Sakura.

"Kenapa?" ucap Kuro yang baru memasuki kamar mereka.

Dan akhirnya Sasuke dan Sakura tidur bersebelahan di tempat tidur Queen size nya namun tetap ditemani Kuro yang bertubuh kucing hitam. Kuro membentuk posisi melingkar dan tertidur diantara mereka.

"Rasanya, hangat ya kalau tidur sama-sama" ucap Sakura pada Sasuke yang menatapnya.

"Iya" jawabnya.

SAKURA POV

Hari ini aku sadar kalau aku sudah bersikap picik dan bodoh. Mendapatkan ciuman pertama yang membuatku deg-degan. Ini bukanlah khayalan, dan rasanya aku jadi mengerti apa itu 'cinta' dan 'jatuh cinta'. Kehangatan dan debaran jantung yang membuatku sesak nafas. Meskipun Sasuke bukan manusia. Sekalipun dia terus menyukaiku seperti ini, tapi semua ada tujuannya kan? Setelah ini apa yang akan terjadi? Memikirkannya pun membuatku takut.

"Aku menyukaimu, Sakura. Terima kasih ya!" ujar Sasuke disela keheningan yang telah menyelimutiku.

"I, iya." Ucapku senang sampai suaraku gemetaran.

'Terima Kasih, Sasuke' –innerku yang membuat rasa hangat di dadaku. Hingga ku sadari kehangatan menyelimutiku, aku sangat bahagia berada disampingnya. Tanpa sadar kami memasuki ke alam mimpi bersama. Ah, tidur paling indah dan aku merasa tidak kesepian.

To Be Continue…