;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

Blurred… (chapter 2)

Story & OCs © Nekuro Yamikawa

Vocaloids © YAMAHA, Crypton Future Media & joined companies

Rate : T

Genre : General / Undetermined

;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;


warning :

-Cerita berfokus pada seorang OC yang berada di antara karakter-karakter Vocaloid.

-ABAL

-GaJe

-Lebay

-Memaksa (?)

-Don't like? You know where the back button is. -_-


"Aku tidak tahu kalau kamu pintar menggambar, Yamikawa-San"

Ia yang biasa hanya ku amati di kejauhan, tiba-tiba muncul di sampingku tanpa ku sadari, dan sekarang meninggalkan gema yang terus mengusik di kepalaku. Mengacak-acak rambut bukan solusi, aku tahu itu, tapi aku tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menghapus secuil memori yang terus menduplikat diri seperti virus yang menyerang sistim otakku.

"Butuh bantuan, Kurone?" suara santai itu tak lain adalah kakak. aku melirik ke belakang sofa tempatku duduk menikmati acara televisi dan ku dapati Ia berdiri dengan menenteng sebuah bat sementara meneguk sebuah minuman kaleng dingin. Rasa lemon, kesukaannya. "Beberapa menit yang lalu kuperhatikan kau selalu mengacak-ngacak rambut seperti kera kebanyakan kutu" ia mulai menyindirku, pedas seperti biasa, membuat kepalaku yang pusing hari ini menjadi semakin parah.

Aku menatapnya bosan. Ia meneguk minumannya sekali lagi. Untuk apa ia bawa pemukul bola baseball? "Jika kau butuh obat untuk menghilangkan sakit kepala, kau tidak perlu keluar, aku bisa mengatasinya. " oh, ya, terima kasih. Seharusnya aku menyadari itu dari tadi.

"Ya, bukan hanya akan menghilangkan sakit kepalaku. Tetapi juga nyawaku dalam sekali ayunan" sindirku kembali membuang muka. Ia tertawa renyah lalu memutuskan untuk duduk di sampingku. Melemparkan bat di tangannya sembarangan ke belakang hingga kudengar suara benda pecah ─yang tak ingin ku tahu itu apa─ lalu mengacak-acak rambutku yang sudah tidak jauh beda dengan semak belukar.

"Kau aneh sejak pulang hari ini" ucapnya membuka percakapan kami.

"Aku tahu, kau tidak perlu mengatakannya di depanku" balasku dan ku lanjut dengan menyabet sebuah remote control yang tiba-tiba saja berada di tangannya yang terjulur ke arah televisi. Ia mendecih pelan karena reflek kilatku. Lebih memilih mengalah, akhirnya ia hanya melipat kedua tangan sambil berusaha membuat nyaman dirinya sendiri pada acara yang kutonton.

"Ada masalah di sekolah?" sambungnya sedikit bosan.

"Tak ada, mungkin hanya beberapa anak jahil yang sudah bosan ku tanggapi" responku segera. Ia berhenti bertanya dan mulai beralih mengkritik acara di layar kaca. Baru ketika jeda iklan memotong acara, ia mengomentari kalimatku sebelumnya yang hampir terlanjur di daur ulang di dalam memori ku sehingga tidak menyebabkan kelebihan fungsi kerja otak.

"Yah, sangat mengecawakan, ku pikir aku bisa mengikatmu sebagai hukuman" lenguhnya kecewa. ia meraih kembali remote yang kugeletakkan begitu saja di antara kami dan memindahkan tayangan ke channel lain. Memang siapa juga yang mau di ikat oleh seorang sadist sepertimu? Yang benar saja, itu kenapa aku harus berjuang mati-matian menahan emosi jiwa mudaku yang bisa kapanpun meledak.

Bicara dengannya saat ini benar-benar tidak membantu masalahku. Kepalaku yang sudah berat menjadi semakin sakit untuk meladeninya. "Aku tidur duluan, silahkan menikmati acara televisi mu Nii-san, jangan lupa bersihkan pecahan benda tak berdosa ─apapun itu aku tak mau tahu─ karena lemparan Homerun mu" dan dengan itu aku meninggalkannya sendirian. Aku sempat mendengar sedikit ocehannya, tapi telinga yang mulai berdenging membuat semua yang kudengar hanya suara bising.

x-0-x

Putih? Apa ini? apa aku sedang ber…

"Hai Kurone, mengapa kamu hanya diam saja?" belum sempat aku mencerna sekitarku, sosok yang sangat familiar ini sudah berdiri di depanku. Rambutnya seperti biasa di kuncir dua tinggi-tinggi dan senyumnya mengembang seindah sakura musim semi. Sekali lagi aku teperanjat dan terpaku di tempatku tanpa mampu merespon apapun yang ia ucapkan setelah itu.

Miku…?

Ia menghampiriku, berjalan dengan anggun dalam balutan gaun indah yang semakin membuat eksistensinya memacu degup jantung ini hingga batas di mana aku merasa waktu membeku dan ronta organ penyangga hidup ini lenyap tanpa jejak. Tangannya terulur, aku menyambutnya. Ujung jari kami saling bersentuhan, sensasi dingin yang aneh pun segera menjalar di setiap sensor panca inderaku, memberi efek listrik statis yang cukup membuatku mati rasa hingga tubuh ini terasa di udara. Aku tak tahu apa lagi yang terjadi, begitu sadar tiba-tiba kedua tangan yang tadinya hanya bersinggung jari, kini sudah saling menggamit dan terangkat sedikit lebih tinggi. Tanganku yang lain merangkulnya dan membawa kami berdua ke dalam irama dansa.

Ini seperti…

"Gambar yang kubuat…" gumamku menyadari kemiripan yang presisi ini. Latar putih tanpa tepi. Gaun indah bak hadiah dari bidadari dan tatapan wajahnya. Tatapan yang seolah melucutiku dari realita. Semua terlalu sempurna tanpa cela. Namun, baru saja ku biarkan fatamorgana ini membius logika, pikiranku tiba-tiba terhenti seketika, begitu juga alunan musik yang kudengar dan dunia yang kulihat, semua berubah seiring tarian kami yang perlahan tapi pasti mulai berakhir.

Terlalu singkat. Aku ingin memekikkan kalimat itu. Aku ingin sedikit lebih lama lagi, meski pun hanya di dunia parallel antara batas kesadaranku. Tetapi, refleksi semuku sendiri bahkan mempermainkanku dengan keji. Tubuhku seolah membatu di tempatku berdiri, bahkan bau anyir yang samar menusuk hidungku tanpa belas kasih. Aku tahu ini apa dan hanya bisa tersenyum hambar menikmati detik-detik terhitung mundur dengan sendirinya.

Aku pasrah untuk kesekian kalinya. Ku lepas genggamanku padanya tanpa kata-kata. Ia berbalik, melenggang menjauhiku. Meninggalkan sebuah rasa perih yang bersarang tepat di ulu hati.

"Aku paham. Miku" aku bergumam "mustahil bagi orang biasa sepertiku untuk menjangkau mu."

x-0-0-x

Hari telah berganti baru, kecupan hangat selamat pagi dari sang mentari bisa kurasakan menyambut kulitku yang mendingin setelah melalui malam di hari penuh gerimis. Hal yang kulakukan pertama kali setelah membiasakan kedua mataku pada intensitas cahaya di sekitar adalah mencari keberadaan sebuah benda yang seharusnya bertanggung jawab untuk membangunkanku. Yaitu jam weker yang selalu ku setel pada pukul 5.30.

"Aneh? Seingatku ada di atas meja belajar" aku menggerutu saat mengamati letak terakhir benda berlayar digital sederhana tersebut berada, tapi tak menemukan apapun selain susunan rapi buku-buku yang sebelumnya hanya menjadi latar belakang keberadaannya. Alasanku meletakkan benda itu di sana adalah karena kebiasaan melempar segala macam benda yang berdering di sekitarku ketika aku tertidur. Jadi, supaya lebih awet dan tidak membahayakan orang lain, aku sengaja menempatkannya di luar jangkauan tanganku selama aku terlelap.

Korban terakhir dari kebiasan anehku adalah kakaku sendiri saat ayah dan ibu menyuruhnya membangunkanku saat aku masih pelajar SMP. Ia berkata bahwa saat ia hendak membuka pintu kamarku, jam weker yang seukuran kotak bekal tengah berdering kencang, dan begitu pintu terbuka, objek tersebut telah separuh jalan menuju wajahnya. Untung saja ia segera membanting pintu, sehingga menimbulkan suara benturan keras yang mana membangunkanku seketika.

Karena kebiasaan ini pula, aku hampir membeli handphone untuk kelima kalinya. Semuanya hancur ku lempar saat aku tertidur pulas. Jadi aku tidak pernah lagi menyentuh telepon genggam sebelum aku tidur. Aku tidak ingin siapapun yang meneleponku hanya mendapat jawaban "nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi" dari mesin penjawab otomatis penyedia jasa komunikasi yang mereka gunakan. Selain itu, untuk menghindari pengeluaran hanya untuk membeli benda yang sama karena benda yang lama tak bisa di gunakan kembali bahkan saat umurnya hanya sehari.

Kembali ke kamarku yang minimalis, aku masih belum tahu jam berapa sekarang ini dan benda berdering itu sendiri belum ku dapati. Apakah jatuh karena terlalu bersemangat menjalankan tugas? Mungkin saja demikian. Ah, tak ada waktu memikirkan itu, aku tidak ingin berlama-lama terpasung di kamarku sendiri, ini jadwalku membuat sarapan dan aku harus segera bangkit.

Tapi tunggu! Ada yang tidak beres di sini, aku tidak bisa berdiri?! Ada sesuatu yang menahan kedua tanganku tetap di belakang. Jangan-jangan…

"Nii-Saaan!" aku mengaum menjadi-jadi sambil menggelepar liar di atas ranjangku sendiri. ini pasti ulah si sadist berambut gondrong itu. Apa maksudnya dengan mengikatku di sini?! Tanpa kedua tanganku yang bebas aku tidak bisa beranjak dari tempat tidur, Sial! aku harus berangkat ke sekolah, sudah jam berapa sekarang?!

"Hei, berhenti teriak-teriak, anak tetangga menangis tuh karena suaramu yang mengerikan" ucapnya yang tiba-tiba melongok dari pintu sambil nyengir. Aku hendak melemparinya dengan kata-kata beracun yang telah mengendap di mulutku, namun sebelum aku melakukannya, ia membuka pintu kamarku selebar-lebarnya. Aku memperhatikan beberapa sosok di belakangnya dan dari pakaian mereka… Itu seragam dari sekolah yang sama denganku?! Aku terperangah setelah menelan ludah dengan susah payah.

"Kau tahu, semalam kau demam, bahkan hingga pagi tadi tidak turun-turun" ia berkacak pinggang "aku sudah menelepon pihak sekolah, jadi kau tenang saja. Oh ya, kau cukup beruntung, beberapa teman sekelasmu menjengukmu di hari pertama kau sakit" sambungnya.

Tunggu, apa dia bilang, pagi tadi? Jadi, sekarang sudah sore? Aku pun spontan mengerjap beberapa kali sambil menyusun teka-teki yang berserakan selama beberapa menit ini. Semalam aku demam dan belum reda hingga pagi. Mungkin karena aku masih terlelap dan jam weker masih menyalak, Nii-san masuk ke kamarku. Membungkam benda menjengkelkan yang sepertinya juga mengusik pagi harinya sebelum sempat membangunkanku, lalu mengikatku jikalau tiba-tiba aku terbangun dan memaksa pergi ke sekolah. "Lalu, pekerjaanmu?"

"Aku cuti hari ini" sahutnya. Baiklah, so sweet, tapi kau tak perlu mengikatku! Aku memberinya sebuah deathglare sebagai wujud protes namun ia hanya tersenyum sinis seraya memberiku celah untuk melihat lebih jelas siapa anak-anak berseragam yang terhalang tubuh jangkungnya. Satu persatu wajah Gumi, Rin, Len dan Kaito muncul dari balik punggungnya, tapi yang membuat nafasku terasa terhenti seketika hanya sosok berambut teal di antara mereka,

"Ha-Hatsune-san"aku bergumam, menatap kakakku sekali lagi yang masih menggantung senyum sinisnya lebar-lebar.

"Hai, Yamikawa-San" sapa Gumi penuh ceria mengalihkan perhatianku kembali pada kelompok mereka, gadis itu merangkul Miku di sampingnya sembari melambaikan tangan setinggi dada, sementara gadis berkuncir dua yang ku sebut hanya tersenyum ramah seperti yang lainnya.

x-0-0-0-x

"Karena anggota kelompok dan cerita yang akan di bawakan sudah di tetapkan, jadi kami segera mengunjungimu sehingga kita bisa segera memberi peran untukmu" ujar Rin padaku. Ia duduk di samping kananku dan Len di kiriku, ku rasa sedikit terbalik jika di hubungkan dengan nama mereka yang sedikit mirip dengan kata left dan right dalam bahasa inggris. Tepat di depanku adalah Gumi dan dia di apit oleh Miku dan Kaito di samping kanan dan kirinya.

Saat ini kami berenam duduk melingkar di kamarku, rupanya alasan kedatangan mereka kemari karena guru kesenian kami memberi tugas drama untuk festival kesenian. Seni peran… Hmm… aku tak tahu apa aku bisa, aku bukan anak yang pandai bersandiwara.

"Untuk peran sang putri, Miku-chan sudah kami tunjuk." Lanjut gadis berbando pita kelinci ini sambil mengalihkan pandangannya pada orang yang di maksud, gadis itu tersipu sambil menggaruk-garuk pipinya "Aku dan Len menjadi raja dan ratu." Ia memeluk saudara kembarnya, "lalu Gumi menjadi pengawal putri seperti biasa"

"Yup, aku akan selalu menjaga Miku, meski dalam drama, tidak akan aku biarkan siapapun pemeran ksatrianya mengambil kesempatan" serobot gadis berambut hijau yang sekarang duduk di samping Kaito sambil menjepit kepala bocah berambut biru gelap tersebut di antara lengan kirinya, lalu mengebor dahinya dengan kepalan tangan kanan dengan penuh semangat. Melihat tingkah Gumi, aku bisa menebak siapa pemeran ksatria yang ia maksud.

"Meg-Megpoid-san… tolong hentikan, kau bisa meremukkan kepalaku" rintih si bocah malang sementara kedua tangannya mencoba melepas jepitan sang gadis berkekuatan Titan dari lehernya. Kaito benar-benar teman sekelas yang payah. Seharusnya ia tahu kalau gadis itu tidak terlalu suka marganya di sebut, dan akibatnya ia semakin memperkuat tenaga sambil berkata.

"Kaito-kun, panggil aku Gumi-chan saja, ya" ia tersenyum tanpa dosa "mengerti!"

Kaito yang hampir kehabisan napas berkata "Mengerti" sambil melambai-lambaikan tangan layaknya pegulat yang kalah telak di atas ring. Aku, Len dan Rin hanya bisa memandangi tanpa berani berbuat apa-apa. Cuma Miku saja yang berusaha membantu sang ksatria dari nasib sial yang menimpanya. Maaf Kaito, bukan kami tidak setia kawan, tetapi seekor monster memang bukan lawan sebanding untuk tiga orang anak SMA.

Putri, raja, ratu, pengawal dan ksatria, memang drama macam apa yang akan kita bawakan? Pikirku setelah mengesampingkan sedikit kehebohan barusan sambil bertopang dagu. Tuan putri di negeri dongeng? Yang benar saja. Kita bukan lagi murid sekolah dasar. Sejenak memang itu yang terlintas di kepalaku, tetapi seseorang yang sepertinya berhasil membaca isi kepalaku memberi jawaban di luar perkiraan, Len.

"Cerita yang di serahkan kepada kita adalah Phantom of Opera, tapi kita tidak perlu mencontoh setiap kejadian ke dalam drama" phantom of opera?, aku menatap saudara kembar Rin itu dengan ekspresi bingung. "Yah, karena jumlah pemeran yang terbatas, dan tentu saja cerita yang terlalu panjang"

"Ya, dan kami sudah mengubah beberapa bagian, ah tidak, mungkin sebagian besar isi cerita" sahut Miku. Sama sekali tidak memberi jawaban yang kuharapkan. Selain itu, mengapa judul cerita ini terasa familiar?

"Lalu, apa peranku?" ucapku tak ambil pusing. Ini adalah tugas sekolah, tidak ada pilihan untuk menolak bagiku. Aku menunggu jawaban mereka dan kelimanya menatapku.

"Phantom" balas semuanya secara serempak kecuali Kaito yang masih mengusap-usap dahi yang memar memerah. Entah apa yang salah padaku, tubuhku tiba-tiba menggigil mendengar peran yang kuterima. Bahkan wajah rupawan Miku yang selalu bisa menghiburku tidak bisa menghentikan ketakutan yang perlahan merayap.

"Yamikawa-san, kau kenapa? Apa demam mu kambuh lagi" Len mencondongkan tubuh seperti sedang mengamati keanehan sikapku. Tentu saja dengan segera aku mengerjap dan berusaha tampak tenang.

"Ah, tidak, aku tidak apa-apa" singkatku sambil mengulum senyum agar lebih meyakinkannya.

x-0-0-0-0-x

Keesokan pagi aku sudah bisa masuk sekolah seperti biasa. Setelah menjalani rutinitas selama seminggu ini, akhirnya aku bisa bernapas lega. "Mulai senin, giliran Nii-san untuk memasak" ucapku sebelum memasukkan potongan telur dadar yang kutusuk garpu ke dalam mulutku. Selama aku di sini, kami telah membuat kesepakatan untuk bergantian tugas memasak selama satu minggu sekali. Untuk urusan belanja, kami akan pergi ke toko swalayan setiap hari minggu bersama-sama.

"Ya, ya, ya, tuan. Hamba akan melaksanakannya" jawabnya singkat setengah bergurau setelah puas menyesap kopi pagi yang ku siapkan, tanpa sedikitpun mengalihkan sebuah Koran yang terbentang lebar hingga menghalanginya dari pandanganku.

"Hei Nii-san, hari ini aku pulang sedikit telat" lanjutku setelah berhasil menelan makanan di mulut. Ia hanya menggumam sebagai tanda mengerti lalu membalik halaman wacana di tangan. Sepuluh menit berlalu, seperti biasa tidak ada satupun topik pembicaraan yang bisa menghangatkan hubungan kakak dan adik di pagi hari kami. Hingga piringku bersih berkilat pun, suara yang berasal dari tuan sadist hanya dari sesapan mulutnya di bibir cangkir kopi yang terdengar penuh nafsu dan Koran lecek karena setiap halaman di buka dengan seenaknya. Huh? Mungkin aku sudah agak sinting jika sampai menaruh kasihan pada barang-barang di sekitarnya.

Aku melirik jam dinding, kedua jarumnya kini menunjukkan pukul 6.30. aku pun segera membersihkan peralatan makanku sebelum meraih tas selempang yang telah kusiapkan di sofa. Lalu berlari menuju pintu dan segera mengenakan sepatuku. Saat aku kembali berdiri dan hendak meraih gagang pintu, saat itulah aku mendengar kakakku berkata.

"Kuharap kau tidak menyesali peran phantom yang kau terima begitu saja" aku berbalik dan ku lihat dia bersandar di dinding, melipat kedua tangannya sembari memberiku tatapan seperti pemangsa yang menaruh kasihan pada buruannya yang malang. "Phantom of Opera… jika aku tidak salah mengingatnya, adalah kisah seorang buruk rupa yang jatuh hati kepada seorang aktris panggung di gedung opera tempatnya bersembunyi" lanjutnya.

"lalu apa yang harus ku sesali?" timpalku segera. Aku tidak ingin terlambat karena harus mendengarkan perkataan yang bertele-tele. Apa lagi hari ini jadwal mengajar Meiko sensei berada di awal jam pelajaran, jika sampai terlambat, bisa-bisa hidupku akan berakhir begitu menginjak ubin pertama di kelasku.

"Kurone, apa kau tidak menyadari persamaan dari karakter yang kau perankan dengan dirimu sendiri?" ujarnya lagi. persamaan? Baiklah, coba kucermati, tuan sok misterius ini paling cerewet kalau di acuhkan begitu saja. Tadi Ia berkata tentang seorang buruk rupa bukan? tunggu… "phantom, dia manusia dengan kecacatan tubuh cukup mengerikan. Sang sastrawan novel tersebut menggambarkan bahwa ia memiliki wajah bagai mayat yang tengah membusuk"

Entah karena apa, tiba-tiba saja topik ini seperti membuat darah di sekujur tubuhku mendidih. Gesturku yang tenang seketika berubah dan tanpa sadar kalimat yang terlontar dari mulutku adalah "Lalu, apa maksudmu dengan basa-basi ini?!" sebuah bentakan tanpa maksud dan sebab yang jelas.

Nii-san berjalan menghampiriku, memicing dan mengamati keringat dingin yang baru ku sadari bercucuran setelah salah satu tetesnya meloncat dari ujung rambut mataku. Ia tersenyum licik seperti biasa, lalu membungkukkan diri dan membisikkan sesuatu di telingaku. "jika aku berkata bahwa phantom juga seseorang yang kehilangan sebelah matanya, apa kau bisa mencerna setiap kalimat yang terlalu tinggi untuk adik kecil ku ini?"

x-0-0-0-0-0-x

Ini berawal ketika umurku sembilan tahun. Hari itu aku dan kakak tengah menikmati keramaian pasar minggu yang di gelar tak jauh dari komplek perumahan kami. Waktu itu dia tidaklah seperti orang yang sekarang ku kenal, senyumnya ramah dan dia sangat perhatian pada sang adik. Sampai-sampai aku merasa risih karena sifatnya yang terlalu over protektif. Beberapa gadis di tempat itu bisa ku perhatikan tengah mencuri-curi pandang ke arah kami, saling berbisik tentang keharmonisanku dengan pria bertubuh jangkung yang sekali-dua kali mengacak-acak rambutku. Tak sedikit dari mereka menghampirinya bahkan ada seseorang yang mengajaknya untuk berjalan-jalan sejenak.

Aku masih terlalu kecil untuk mengenal apa itu relasi dan pendekatan antar lawan jenis. Jadi aku hanya menggembungkan pipi karena kesal dengan begitu mudahnya dia mengacuhkanku saat seorang wanita menghampirinya. Nii-san melirik padaku saat ia memohon ijin sebentar pada wanita berambut pirang sepunggung yang kemudian ku ketahui bernama Lily.

"Kurone, belilah apa pun yang kau suka di sini dan jangan pergi jauh-jauh, Nii-san ada di kedai itu…" ucapnya seraya memberiku sejumlah uang dan menunjuk kedai di ujung jalan "… sekiranya kau sedang mencariku". Pria ini mengacak-acak rambut ku yang entah sudah berapa kali lagi ia lakukan dan harus kurapikan kembali, sebelum berjalan beriringan dengan gadis cantik yang baru saja ia kenal. Ralat, aku belum mengenal arti ungkapan cantik waktu itu dan ini adalah improvisasi dariku yang sudah tumbuh menjadi remaja.

Di sinilah, semua tragedi bermula. Seorang perampok yang tengah kabur dari kejaran aparat penegak hukum menerobos kerumunan lautan manusia dengan pistol tergenggam di jemarinya. Suara teriakan pria berseragam di belakangnya terdengar penuh amarah. Wajah pria itu tampak panik dan bercampur peluh, sepertinya dia telah berlari dalam jarak yang cukup jauh sebelum merangsek di antara keramaian.

"Minggir!" bentak pria misterius tersebut pada seorang gadis kecil yang dia terjang dengan tubuh besarnya. Gadis itu terjerembab, ia merintih sebelum menangis keras. mendengar adanya kericuhan di tempatku berada, kakak yang baru setengah jalan menuju kedai yang menjadi tujuannya kembali menoleh ke belakang. Seseorang memberi tahunya bahwa ada seorang buronan tengah menyusup dalam keramaian. Sontak wajahnya berubah panik. Tanpa menghiraukan gadis yang tadi di temuinya, ia menerjang barikade manusia yang menghalangi jarak kami.

Saat itu, pria berjaket kulit hitam tersebut tengah bergulat dengan seorang polisi yang berhasil menangkapnya. Mereka berdua saling berebut senjata api hingga berguling-guling di batako jalanan. Satu hal yang tak ku sadari, senjata itu dalam posisi pelatuk siap tembak dan sekarang mengarah padaku, hingga akhirnya meletup dengan suara yang memekakkan telinga.

Untuk sepersekian detik, aku tidak merasakan apapun. kejadian di sekitar ku berlalu dengan cepat melebihi kemampuan mataku untuk mengolahnya menjadi rangkaian frame. Yang kurasa dalam detik-detik mengerikan tadi hanya seseorang yang menyahut lenganku dan menyentak tubuhku keras-keras sebelum semuanya menjadi gelap.

"Ku-Kurone… kau tidak apa-apa" suara kakak kembali kudengar. Kurasa orang yang tengah merangkul erat diriku saat ini adalah dia. Jantungnya yang berdegup cepat di telingaku yang menempel di dada bidangnya, serta napas dan suara yang seperti tercekat menahan sakit, ia pasti tengah menghalau terjangan timah panas saat ia mendekap tubuh kecilku tadi.

Kalimat "aku baik-baik saja" hendak ku lontarkan padanya untuk membuatnya tenang dan tidak khawatir, meski diriku juga kini bertanya-tanya akan keadaannya. Tetapi rasa perih yang mulai kurasakan di mata kananku seketika membuyarkan semuanya. Aku mencoba menahan rintihan yang mulai merembes dari balik bibirku, namun rasa perih itu secepat kilat kian menjalar dan mulai membakar setiap jaringan syaraf rasa sakit di sana. Aku pun mengerang. Aku berteriak bak orang kesetanan karena tak sanggup menahan rajaman sensasi bagai jutaan silet panas menyayat bola mataku.

Air mataku bercucuran hingga menuruni bibir. Aku bisa merasakan rasanya yang asin dan… bagai karat besi? Aku membelalakkan mata, namun ku merasa kehilangan sebagian dari tampilan organ yang bertanggung jawab atas beragam visualisasi di sekitarku. Aku yakin itu, karena aku bisa melihat sudut gelap di ujung kanan mata kiriku serta bayangan kabur dari ujung hidungku. Aku mencoba untuk meraba wajah, ku sentuh pelan di mana letak mata kananku berada seraya menahan perih tak terkira.

Napasku menderu, jantungku terpompa tak menentu bagai di tuntun gemuruh. Mata kananku lenyap, peluru ternyata telah menghancurkannya menjadi gumpalan darah di dalam soket tempurung mataku. Mungkin karena panas dan perih yang di hasilkannya mampu membunuh setiap sensor di sana, aku masih bisa berdiri di tempatku dan memberi pemandangan horror setiap orang yang melihat bagaimana seorang anak kecil di antara mereka yang kehilangan sebelah matanya masih bisa bertumpu pada kedua kakinya bahkan memperhatikan wajah mereka satu persatu.

Suasana hening mencekam ini pun akhirnya berakhir dengan pekikan ngeri berantai dari para wanita. Mereka berlari berhamburan seolah melihat monster mengerikan yang lepas dari kerangkeng saat pertunjukan sirkus dalam kisah hutan Darkwood, sedangkan para pria terpaku di tempatnya sembari menyebutkan umpatan apapun yang ada di benak mereka. aku menoleh kearah kakakku yang kini ambruk di tanah setelah mentamengiku tanpa mempedulikan reaksi mereka yang… jujur, memberiku trauma untuk yang pertama kali. Pria itu kini memicing kesakitan meremas lengan kirinya, darah berkubang di sekitarnya memberi pemandangan yang menusuk bagiku.

Menit-menit berdarah ini terus bersandiwara di antara pekik dan hiruk pikuk manusia, hingga akhirnya suara melengking sirine ambulans seolah menekan tombol pause yang seketika mengunci setiap mulut dan meredam berbagai macam jeritan di sekitarku. Di susul kehadiran orang-orang asing berpakaian putih yang saat itu segera menjauhkan kami dari keramaian.

Seminggu setelah kejadian tersebut ku alami, aku dan kakak di perbolehkan pulang begitu mendapat cukup perawatan di rumah sakit. Dokter berkata bahwa tulang lengan kakak patah terhantam peluru, itulah alasan kenapa proyektil mematikan tersebut hanya bersarang menggantikan bola mataku. Namun, bukannya sambutan lega yang di perlihatkan oleh para tetangga di sekitar kami saat kami kembali melangkah melewati rumah mereka, melainkan ekspresi takut dan khawatir yang berkerut jelas di setiap wajah, dan itu semua hanya di tujukan pada satu sosok. Anak kecil yang masih terbalut dengan perban di mata kanannya dan harus secara rutin menelan bulat-bulat rasa pahit pain killer hingga mendapatkan donor pengganti.

Takdirku mungkin tertulis penuh oleh tinta merah. Hari-hari bagai di pengasingan dengan pahitnya menunjukkan ujung tak bertepi kala semua berlalu tanpa ada kabar akan donor bola mataku yang hilang. Sampai pada akhirnya luka ini mengering dan menyisakan sebuah ruang hitam yang begitu kontras dengan warna pucat wajahku saat melihatnya untuk pertama kali. Mengerikan, aku akui itu. Setiap cermin yang ku lihat, hanya menampilkan seonggok boneka kutukan yang hidup, berjalan dan bernafas. Aku menangis, dia menangis. Aku tertawa, dia tertawa. Kau tahu bagaimana rasanya menyaksikan itu semua? Hidupku, sejak detik itu juga menjadi sebuah mimpi buruk yang nyata.

.

.

.


thanks for read.

mind to review?


A/N

Chapter ini sebenarnya sudah ada sejak pertama kali fic ini di publisasikan. Saat itu author benar-benar menyelami karakter Kurone, obsesi semu pada Hatsune Miku dan dorongan untuk menulis benar-benar menggebu terlalu liar hingga kepala sakit beberapa hari (hal ini sering terjadi, termasuk dalam fic i = nightmare dan Tidak ada Kedamaian). sebelum akhirnya semua ide tersebut mati. jika author lihat kembali, maka author akan berkata dalam hati, apakah benar bahwa author sendiri yang menulis ini semua? karena secara pribadi, di bagian ujung dari chapter ini, (setelah x-0-0-0-0-0-x jika pembaca cukup jeli) writing style author benar-benar menurun drastis jika di bandingkan dengan paragraf-paragraf sebelumnya. Seolah antara kedua bagian tadi di pisah oleh dua dunia yang berbeda, ini memang sangat di sayangkan, namun... T-T... nasi telah menjadi bubur. Entah fic ini akan kembali mati atau obsesi semu itu akan kembali dan memberi dorongan pada author? '-'a

Hanya Tuhan yang tahu.