Aku Hyuuga Hinata hidup ditengah gelimangan harta, aku tak ingin satu orang pun tahu. Biarlah mereka menghinaku layaknya rumput liar, tak mengapa karena ada bunga Matahari penerangku. Tapi semak Mawar berduri mulai merangsek memenuhi hidupku yang kelam. Dan perlahan cahaya bunga Sakura yang terang juga mulai meredup dan bersembunyi dari pandanganku.
.
.
.
.
Zassou No Uta (Nyanyian Rumput Liar) © Eternal Dream Chowz
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing: Sasuke U. x Hinata H.
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rate: T
Warning: Typo, OOC, School!AU, Alur berantakan
.
.
.
.
Tap tap tap….
Derap langkah kembali terdengar, Hyuuga Hinata, anak kelas XI yang seringkali terasingkan itu menapakkan kakinya menuju Konoha Gakuen. Tak lama kemudian, kembali terdengar derap kaki yang lebih meriah dan hampir membuat Hinata terhempas oleh gerombolan yang menyapunya dengan arus kuat.
"Kyaa!"
"Sasuke-sama tampan sekali!
"Tatapannya seakan membuatku lumer… Kyaa!"
Yak, itu adalah sekumpulan gadis-gadis ababil yang tengah menggombali Uchiha Sasuke, sang pangeran sekolah sekaligus anak direktur perusahaan terkenal Uchiha Corp.
"Ck, urusai," sahutnya sarkatis sambil menarik tangannya dari tangan beraroma parfum mawar milik Karin, gadis berambut merah yang mendeklarasikan diri sebagai fans nomor satu di Sasuke Fans Club.
"Sasuke-sama, kau serius menolakku?" tanya Karin dengan wajah sok polos sambil berusaha menarik perhatian Sasuke. Yang digombali malah menatap sesuatu di kejauhan dengan tampang kesal yang tersembunyi oleh poker facenya.
Di kejauhan masih dengan Hinata yang terkejut dan nyaris terjungkal karena serbuan fans Sasuke, ia hanya mampu terbengong ria. Kaca mat minusnya terjatuh, untung saja minus matanya masih terbilang ringan jadi Hinata tak harus meraba-raba tanah seperti seorang nenek tua yang telah rabun untuk menemukan kaca mata berbingkai hitam miliknya. Tak lama Hinata mengerucutkan bibir tanda sebal setelah beberapa kali menepuk roknya yang sedikit berdebu.
Suara derap kaki mendekat menuju Hinata, di saat itu pula terdengar suara malaikat Hinata, suara maskulin ceria yang membuatnya melupakan segala perkara hidup.
"Ahh, segarnya pagi ini … Ohayou minna!"
"Yo, ohayou, Naruto!"
"Wakh! Iruka-sensei, jangan menjewerku dong! Apa salahnya aku mengucapkan salam dengan sedikit berteriak?"
"Diam saja, Naruto. Kau ribut!"
"Sial!"
Yah, sudah bisa tebak biang keroknya? Ya siapa lagi kalau bukan Uzumaki Naruto yang siap menghancurkan gedung sekolah dengan suara toa-nya.
Tetapi Hinata terpana dengan apa yang dilihatnya.
'Naruto-kun itu ceria sekali,' batinnya sambil terus memandang kagum pada Naruto tanpa sadar ada sepasang onyx menatapnya dalam diam. Tiba-tiba ada seorang gadis bersurai pink menepuk pundaknya, secara otomatis menghilangkan semua khayalan Hinata saat menatap Naruto.
"Hei, Hinata, kenapa bengong? Ayo ke kelas, nanti telat lho? Aku mau pergi ke kantor administrasi sebentar," ujar Sakura sambil tersenyum tipis.
"Ah, iya, Sakura-san. Arigatou," Hinata dengan setengah berlari segera memasuki gedung sekolahnya tanpa menyadari Sakura yang menatapnya pilu.
'Maafkan aku, Hinata.'
…
SKIP TIME
…
Bel istirahat telah berbunyi 5 menit lalu, di taman belakang tampak surai indigo yang di kepang longgar menghiasi punggung mungil Hinata yang tengah menikmati bento sambil membaca novel roman picisan kesayangannya. Sesekali wajahnya menampilkan ekspresi tertegun, bibir menggembung sambil membalik lembaran novelnya dengan semangat.
"Astaga! Kotor sekali di sini!—Dimana kau Sasuke-sama?" ucap Karin dengan suara centilnya.
'Oh, Kami-sama, bisakah kau memusnahkan Sasuke FC itu? Tolonglah, ini hanya satu permintaan kecil dari gadis SMA biasa yang ingin membaca novel dengan tenang,' pikir Hinata sambil menutup novelnya dan menghela napas kesal kembali memakan bentonya dengan bosan, memutuskan berhenti membaca.
"Ah, aku dapat!" Karin dengan bersemangat menerobos semak-semak, saat melihat surai gelap tanpa mengeceknya dulu.
"Ish, sialnya! Aku malah menemukan rumput liar di sekolah," sindirnya sambil mengayun-ayunkan jarinya dengan tanda mengejek, seolah mengusir Hinata. sedangkan Hinata hanya diam dan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang kesal.
"Jaga ucapanmu, Karin-san," desis Hinata pelan tapi menusuk.
"APA? Menyuruhku tutup mulut? Berani juga ya? Dasar gadis rumput liar tak tau malu," Karin meledak, tangannya mencengram dagu Hinata dengan kasar. Tangan satu lagi terangkat. Mengayun cepat ke wajah Hinata. Hinata memejamkan matanya.
"Hentikan itu!"
Karin sontak berhenti dan mendorong Hinata menjauh.
"Ahh, Sasuke-kun, kau dari mana? Karin-chan mencarimu dari tadi loh," ujar Karin manja sambil mendekati Sasuke.
"Pergi," usir Sasuke
"A-apa? Aku tidak salah dengar kan?" Karin menganga dengan tidak elitnya mendengar ucapan Sasuke
"Aku bilang pergi. Sekarang."
Tatapan mata Sasuke yang tajam membuat Karin mendengus kasar. Dipelototinya Hinata yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Ck, sial. Awas kau Hyuuga," Karin melenggang sambil memicingkan matanya menatap Hinata kesal.
'Kenapa Sasuke membelanya sih? Awas saja, Hyuuga! Akan ku beri kau pelajaran,' pikir Karin sambil tersenyum sinis.
Sementara itu, di taman belakang.
"E-eto, permisi Uchiha-san. Terimakasih atas bantuannya tadi."
Hinata meraih kotak bentonya dan novelnya dengan raut sendu. Langkah mungilnya terhenti saat Sasuke menahan bahunya.
"Siapa bilang kau boleh pergi, huh?"
"A-apa? T-tapi—"
Belum selesai bicara, Hinata bisa merasakan kalau bahunya diremas agak kuat. Hinata meringis. Hinata juga merasakan karet rambutnya terlepas, menguraikan rambut indigo sepunggungnya yang indah.
"Begini lebih baik."
"A-apa yang—" Hinata menoleh, ingin protes pada Sasuke yang seenaknya saja melepas ikatan rambutnya.
"Kau Hyuuga Hinata, kau harus jadi kekasihku. Mengerti?"
Hinata mulai bingung, kepalanya mulai terasa pening. Entah kenapa semua ini seperti potongan puzzle yang tak pernah ada habisnya.
"A-ano, k-kau tidak salah bicara Uchiha-san?" Hinata menelan ludahnya susah payah.
"Apa aku terlihat bercanda, Hyuuga?" Sasuke memajukan wajahnya mendekati wajah tembam Hinata.
"I-itu … ma-maaf, tapi aku harus menolak. K-karena aku suka pada orang lain," Hinata menjawab sambil mengambil jarak dari Sasuke.
'Satu langkah, dua langkah, ukh, mundur lagi,' Inner Hinata menjerit kalut.
GREEPP
"Jangan kabur, Hyuuga." Sasuke berbicara dengan menekankan suaranya pada marga Hinata. Sasuke mendekati Hinata dan memojokkannya ke dinding pembatas sekolah dan mengurung Hinata dengan kedua lengannya.
"Siapa bilang kau boleh menolak begitu saja?"
"E-eh?"
"Pilihanmu hanya ada dua, iya atau aku bersedia."
"A-apa maksudmu? Sudah aku bilang kan—"
"Tidak. Kau akan mencintaiku. Aku pastikan itu."
Hinata memasang wajah kesalnya sekarang, siapa sih orang ini? Pangeran sekolah sok dingin dan diktator! Seenaknya saja menyuruhnya membuang perasaannya? Hell no!
Tapi Hinata tidak berkomentar apa-apa. Hanya wajah sebal yang kini ditunjukkannnya bersamaan jemarinya meremas permukaan kain penutup bento kuat-kuat.
"Hum, kau akan jadi milikku,—ah, bukan akan, tapi harus!"
"A-apa?!"
"Kuulangi sekali lagi, kau adalah milikku. Dan itu 'harus'."
.
.
.
To Be Continued
A/N: Haloo, ini Ether, setelah ether baca kembali fanfic ini sungguh hancur lebur dan banyak typo jadi Ether edit ulang agar layak publish dan setelah di edit Ether juga jadi lebih gampang menentukan draft chapter selanjutnya.
MIND
TO
RNR
?
