Sorata's point of view

sudah sekitar 2 hari sejak kami mengobrol di atas atap malam itu. hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. belajar, sekolah, bersosialisasi dan (tentu saja) Mashiro's Duty. ah, hari-hari ku tak ada yang berubah tentunya. walaupun sudah sedikit berbeda sejak ia datang 8 bulan yang lalu, kalian mengerti siapa yang ku maksud bukan? Mashiro Shiina. sedikit tekejut pada awalnya memang, mengapa siwa seperti dia tinggal di asrama yang kata orang bahwa asrama ini untuk yang bermasalah.

selasa.

seperti biasa pagi ini aku bangun. membersihkan wajahku dari sisa-sisa keterpurukan karena naskah demi naskah game yang ku buat sudah ditolak, oh bukan maksud terus ditolak. setelah membersihkan wajah, aku berjalan keluar kamar mandi.

"umm.. kanda-kun"

"ah ya? ada apa aoyama?" aku bertanya kepada aoyama yang sudah berdiri di depan kamar mandi entah sejak kapan.

"hei, kau belum membangunkan shiina?"

"ah iya, aku lupa... umm aoyama, sementara aku membangunkannya, bisakah kau membuat sarapan? mungkin aku agak lama di atas..."

"HAH? KENAPA HARUS LAMA-LAMA DI KAMAR SHIINAA?"

"eh maaf sepertinya kata-kataku ambigu ya, begini mencari shiina diserakan baju dalamnya akan sangat sulit, jadi... mungkin aku akan sedikit lama di atas," aku menjelaskan padanya.

"oh oke, aku kira... tidak jadi. ya sudah aku menyiapkan makanan,"

setelah obrolan itu aku pun pergi ke lantai dua bermaksud membangunkan shiina. ah, wakatta, aku harus melakukan hal ini lagi ya, aku berkata dalam hati sembari berjalan menapaki tangga asrama. sedikit bosan dengan tugas yang ku lakukan selama 8 bulan ini. akhirnya tanpa sadar aku sudah sampai di depan pintu kamar shiina. menghela nafas dan mengetuk pintu kamar shiina.

"oi shiina, ayo bangun! nanti terlambat,"

seperti biasa, tak ada jawaban dari dalam. ah sepertinya aku harus kembali masuk ke dalam. "Ah senpai," tiba -tiba seseorang menyahut dari belakang punggungku. "sedang apa senpai di sini? bukannya dilarang ya murid laki-laki untuk naik ke atas?". aku berbalik, dibelakangku sekarang berdiri seorang perempuan berkacamata dan telah siap dengan seragam sekolah suiko, namanya Hase Kanna.

"ah untuk sekarang ini keadaan darurat," jawabku menghindar.

"Jadi senpai itu... mesum"

"EH BUKAN! MANA MUNGKIN AKU BEGITU. JANGAN BERPIKIRAN ANEH-ANEH KAU YA!"

"begitu? aku tak percaya," dia melihatku sarkastik. sial, apa aku tak punya wibawa di sini?.

"sudah lah, dari pada kau memojokkanku lebih baik ke bawah, bantu Aoyama memasak,"

dia pun mengangguk. dan pergi meninggalkan ku sendiri di lantai dua asrama. oh iya kembali ke permasalahan awal.

"oy shiina, aku masuk ya!" aku memegang gagang pintu, memutar knopnya dan melangkah masuk ke dalam. eh? ini aneh kamarnya... tidak berantakan seperti biasa. rapi. kalau bisa ku bilang sekarang. di depan mataku sekarang yang ada hanyalah seorang gadis putih langsing yang tengah menghadap jendela. untungnya, ia sudah memakai seragam. seragam...

"shi-shiina, kau sudah memakai seragammu? bagaimana..." aku tergagap mengatakannya.

gadis itu berbalik. menatapku tanpa berkedip. seperti biasa, tatapannya tanpa emosi. "sorata"

"Ya"

"aku tak tau mengapa aku sudah memakai seragam,"

"jawaban bodoh macam apa itu?!"

mashiro berbalik. mengambil tas sekolahnya dan berjalan melewatiku. "Sorata, kalau kau masih tetap berdiri di situ, kita akan terlambat,"

"hei memangnya salah siapa jadi membuang waktu seperti ini?!". mashiro pun turun. aku ditinggal. ya sudah, setelah ucapan "selamat pagi" yang penuh teriakan aku pun turun. menuju ruang makan dan mengambil sarapan serta membuat bento untuk kami berdua, aku dan mashiro.

#########

sekarang jam makan siang. Sorata yang tadi pagi telah membuat dua bento di sakurasou pergi menuju kelas mashiro. ia bermaksud memberikan salah satu bentonya untuk mashiro. kela mereka berbeda karena spesialisasi yang mereka ambil berbeda juga. untuk Sorata, ia mengambil program reguler sedangkan mashiro yang telah menjadi bintang terkenal di Eropa mengambil program seni di suimei. kelas mereka tak terlalu jauh memang tapi bagi Sorata hari ini, ia sedikit malas berjalan keluar dari kelasnya. bukannya dia malas, tetapi lebih karena ia memiliki tanggung jawab untuk mengurus mashiro dan ada hal lain juga yang tak bisa ia jelaskan.

sekarang ia telah berdiri di depan pintu kelas mashiro. di dalam kelas, anak-anak lain sedang bercengkrama, terkecuali mashiro yang sedang menatap lurus keluar ruangan kelas. Sorata tak tau apa yang sedang dipikirkan mashiro sekarang. tidak, bahkan selama 8 bulan ini ia tidak mengetahui apa-apa tentang isi pikiran mashiro. sorata memberanikan diri masuk kelas. tujuannya sekarang adalah meja mashiro yang berada di samping jendela.

"shiina, ini makan siang mu," sorata mengatakan itu setelah ia menaruh bento mashiro di mejanya. shiina menatap sorata. sorata membuang wajahnya. apa yang anak ini lakukan?, katanya dalam hati. shiina mengambil bento-nya lalu menatap sorata lagi.

"ayo kita makan di atap sekolah," kata Mashiro.

sorata terkejut dengan kalimat mashiro tadi. ia hanya bisa mengangguk. mashiro pun berdiri, mengambil makanannya dan menggenggam erat tangan sorata sembari menariknya keluar. kehangatan tangan mashiro membuat sorata melambung. heart attack ini kembali menyerang sorata. pikirannya buram. sorata tak tau apa yang harus ia katakan. sorata hanya mengikuti tangan halus mashiro yang mengajaknya untuk makan bersama di atap sekolah.

"ah shiina, ada yang aneh. mengapa kau mengajak ku makan bersama di atap sekolah?" Sorata membuka percakapan sembari membuka bekal makanan.

"aku... tidak tahu,'

hanya itukah jawabannya? aku berharap lebih, shiina. kata sorata dalam hati. shiina pun mulai memakan bekalnya. dilihat dari raut wajahnya, shiina menikmati bekal buatan sorata. sorata melirik hati-hati saat melihat mashiro makan bekalnya. kiree, kata sorata dalam hati.

"ada apa?" tiba-tiba mashiro menatap sorata. ia memasang wajah bertanyanya. sementara sorata, terlihat malu-malu ketika mashiro menatapnya. "ah tidak ada apa-apa," ia berbohong.

"..."

mashiro pun melanjutkan makannya. sorata kembali menatapnya dan ingin bertanya.

"shiina, apa menurutmu bekal buatan ku enak?"

"... iya"

"oh baguslah jika kau menyukainya," sorata tersenyum.

"tapi sorata, aku masih ingin mencoba memasak untukmu," dari kejadian terakhir mashiro memasak, ia melukai tangannya sendiri. pisau mengiris sedikit kulit halusnya. sorata pada saat itu khawatir padanya. khawatir berlebihan. dan sampai sekarang ia tidak tau mengapa bisa sekhawatir itu.

"tidak, kau tidak boleh memasak," jawab sorata tegas.

"doushite?"

"aku tidak ingin melihatmu terluka, jelas?"

mashiro pun kembali melihat bekalnya. dalam hati ia berkata, suatu saat aku ingin sorata menikmati makanan buatanku, aku ingin. ia menanamkan janji itu dalam hatinya. "Sorata, minggu depan manga ku terbit lagi,"

"ya lalu?"

"aku ingin kita membelinya bersama," mashiro berkata sambil tetap memakan bekalnya. dan hasilnya jelas, ia tersedak.

"uhuk uhuk,"

"sudah kubilang kan, jangan berbicara ketika makan. sekarang kau tersedak kan," sorata mengambil air minumnya dan memberikannya kepada mashiro. "oh iya, ngomong-ngomong, aku tak masalah jika kita membelinya nanti minggu depan,"

"baik," hanya jawaban singkat itu lah yang dapat mashiro buat, sementara mereka berdua makan. jantung mashiro berdetak lebih cepat. ia bertanya, apakah ini cinta, sorata?.

setelah makan siang itu mereka berdua turun dari lantai atas sekolah. perjalanan mereka ke bawah hening. tidak ada yang mau memulai perbincangan. ketika mereka turun, terdengar bel masuk. sorata dasn mashiro berpisah di persimpangan yang memisahkan kedua divisi di suimei.

"ya, kembali lah ke kelasmu mashiro," sorata mengatakan itu ketika ia tengah melihat ke luar jendela. anak-anak dibawah mulai berlarian masuk ke kelas. setelah kata-kata itu keluar dari mulut sorata, mashiro melangkah pergi tanpa berkata-kata. sementara mashiro pergi meninggalkannya, sorata menatap lekat punggung mashiro. dia terlihat khawatir. tapi entah dia sendiri tak tau mengapa ia khawatir.

"yosh, lebih baik aku kembali ke kelas," setelah ia berkata hal itu. sorata melangkah pergi. menuju kelas tercintanya untuk kembali belajar.