Karena saat kamu tertarik mundur terlalu jauh,

Apa yang kamu tinggalkan akan berubah, masa depan akan berubah.

.

.

Disclaimer: Harry Potter © JK Rowling

Warning: Flashback! Edited! TYPO!

Main Chara: Tom Riddle-Hermione Granger

.

Ujung tongkat Bellatrix menekan keras leherku. Kata-kata hinaannya terdengar jelas di telingaku. Tanpa belas kasih dia mendorongku-membuatku jatuh terduduk hingga menciptakan bunyi bedebum yang kasar. Harry dan Ron tak ada disini. Orang yang ku kenal tak ada disini. Disini hanya ada aku dan para Death-eater sialan yang sedang menatapku buas, entah karena apa. Sungguh aku tak tau ini dimana, seingatku aku sedang berada di perpustakaan Hogwarts saat seseorang berbisik di telingaku. Tongkat sihirku yang selama ini menjadi pelindungku pun entah berada dimana. Saat aku sedang sibuk dengan berbagai asumsi di pikiranku dengan tiba-tiba para Death-eater membungkuk hormat kepada seseorang yang baru saja datang dengan asap hitam disekitarnya. Aku tak bodoh, aku tau siapa itu,

"My-Lord"

Voldemort.

Dia mendekat kearahku, aku bisa melihat jubah hitamnya tengah berkibar dan kini dia telah berada dihadapanku. Dia pun segera memerintahkan wanita gila yang sejak tadi berada dibelakangku untuk pergi dengan yang lain, dengan eranangan menjijikan yang terdengar enggan dia pun menghilang seperti yang lain bersamaan dengan suara pop. Gila ini gila. Aku hanya berdua dengan penyihir hitam nomer satu di dunia. Membulatkan tekadku, aku tak akan menunjukan sedikitpun rasa sakit ini dihadapannya. Walaupun dia menggunakan mantra-mantra tak termaafkan kepadaku. Dan walaupun aku harus mati. Tubuhku dengan perlahan-lahan berdiri dengan sendirinya-akibat mantra yang digunakan pria tak berhidung dihadapanku. Kini hanyal beberapa senti lagi tubuhku ini akan menyentuh tubuhnya. Merenggut jijik dan sepertinya tertangkap oleh matanya, Dengan kasar dia menarik daguku dengan jari-jarinya yang panjang dan dingin agar aku melihat langsung ke matanya. Ada kilatan aneh dimata itu saat aku melihatnya hingga membuatku menutup mata ini karena timbul rasa bersalah yang entah darimana muncul dihati ini.

Kau Gryffindor Hermione, jangan jadi pengecut!

Membuka mata ini kembali dengan berani dan segera menatap dirinya garang. Dia pun segera melepaskan tangannya dari daguku dan melangkah mundur secara perlahan tanpa berniat memutuskan kontak mata kami.

"Lihat itu."

Jari-jarinya yang panjang itu mengarahkan pengelihatanku agar mengikutinya, dan dipojokan sana terdapat Ayah dan Ibuku yang sedang sekarat. Dengan langkah terseok-seok aku pun segera berlari dan memeluk mereka erat, "apa yang kau perbuat pada mereka?"

"Menggambil yang seharusnya bukan milikmu."

Dengan sekali kedipan Voldemort sudah berada diantara kami dan menusukan sebuah pisau ke jantung ayahku hingga darah yang keluar dari mulutnya bermuncratan ke wajah dan rambutku. Dia pun segera beralih ke ibuku dan kembali menusukan pisau itu hingga tangan dan tubuhku penuh darah. Menatap takut dan marah kearahnya. Kini dindingku sudah jebol, mengambil pisau itu dari tubuh ibuku aku mulai menyerangnya membabi-buta. Namun tak ada satupun yang mengenai, bahkan menggoresnya pun tidak.

"Aku akan membuatmu sama sepertiku 'Mione."

DEG

Dia pun menghilang bagai kabut asap, dan aku kini telah berada disebuah koridor sepi di depan kamar kebutuhan dengan darah yang menetes dari sekujur tubuhku.

.

.

Aku berlari, terus berlari. Menjauhi semua ini. Aku muak dengan semua ini. Belum cukup kah dia selama ini membuat aku dan teman-temanku hidup dalam bayang-bayang ketakutan? kenapa- kenapa dia harus membawa orang tua ku kedalam ini semua? Mati. Dia membunuh orang tua ku tepat dihadapanku tanpa sihir, muggle-way. Aku mendengar ia bergumam saat dirinya tengah menyiksa orangtuaku. Lihat ini, bahkan darahku tersamarkan oleh darah ayah dan ibuku yang entah bagaimana bisa mengucur deras dari setiap inci tubuhku. Apa juga maksud ucapannya itu? Dia akan membuatku sama seperti dirinya. Cih, mana sudi aku disamakan oleh penyihir jelek tak berhidung seperti dirinya.

Kakiku mulai lelah berlari, jantungku mulai memompa dengan cepat, bau darah ini makin membuatku mual. Bau darah orang tuaku. Aku anak tak berguna. Air mataku mulai mengalir tanpa henti. Maaf. Maaf. Maaf.

Berhenti dan mulai mengumpulkan sisa-sisa tenagaku, aku tersadar bahwa aku sudah berada di lantai 2 tepat didepan sebuah toilet yang sudah lama tak terpakai. Toilet yang sebenarnya dihuni oleh seorang hantu cengeng dan genit yang pernah mengintip Harry saat turnamen TriWizard berlangsung. Aku pun mulai melangkahkan kaki ku ke salah satu kran yang berada disana, membasuh wajah ini berkali-kali namun bau darah ini tak kunjung hilang. Ah, ini bukannya jalan menuju kamar rahasia seperti yang diceritakan ke dua sahabatku? Tempat dimana Tom Riddle-wujud Voldemort muda menyekap Ginny? Lantas kenapa ada air yang keluar dari dalamnya? Dan kemana perginya Myrtle? Rasa mual itu pun kembali datang, aku kembali membasuh wajahku dengan air selama berkali-kali hingga pandanganku menjadi buram,

"apa ini?"

Dipantulan kaca itu terdapat seorang gadis berambut pirang platina, dan kalau penglihatanku benar, wajahnya mirip sekali denganku. Matanya yang entah berwarna apa itu sedang menatap lurus diriku dengan pandangan sedih. Dengan perlahan gadis berambut pirang platina itu menarikku masuk ke dalam bersamanya. Sayup-sayup aku mendengar ada dua orang pemuda yang memanggil namaku. Aku tau itu suara Harry dan Ron. Namun sebelum aku bisa menjawab mereka penglihatanku menjadi gelap.


Harry POV

Deg

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Sungguh mimpi apa barusan? Tidak. Tidak. Voldemort sudah tidak bisa menyusup masuk ke pikiranku lagi, namun ini terasa nyata. Mengedarkan pandangan ke sekelilingku aku segera menjatuhkan pandanganku kepada Ron yang sedang tertidur pulas disana. Dengan segera aku mengambil jubah gaib dan peta perompak yang berada dikoper kayu dibawah tempat tidurku dan tak lupa menggambil tongkat sihirku yang berada di bawah bantalku. Dengan segera aku pun berjalan menuju Ron dan membangunkannya dari tidurnya yang kelihatan tak elit sama sekali.

"Ron."

"Mmmm... Snape memakai baju renang."

Mengerutkan dahiku, aku kembali membangunkannya namun kali ini ditambah dengan sedikit goncangan. Dia pun terbangun dan menatap linglung kearahku. Tanpa basa-basi aku pun menarik dia keluar dari kamar dan membisikan sesuatu kepadanya, "Hermione dalam bahaya." Dia yang sejak tadi terlihat masih mengantuk pun tiba-tiba membulatkan matanya kaget. Sebelum dia berteriak dan membangunkan seisi asrama aku pun membekap mulutnya dan segera menyeretnyanya turun ke ruang rekreasi. Dengan napas yang ngos-ngosan Ron menatapku galak. Aku hanya bisa tersenyum aneh kepadanya.

Aku pun mulai mengarahkan tongkat sihir ke Marauder's Map itu "I solemnly swear that I am up to no good."

Benar saja. Hermione tidak berada di asrama putri ataupun perpustakaan. Setelah mengetahui itu aku segera menarik Ron masuk ke dalam jubah gaib agar para prefect, miss Noris dansoulmatenya, ketua murid ataupun para profesor tak ada yang dapat menangkap kami. Sungguh. Aku punya firasat yang tak baik mengenai Hermione.

Setelah keluar dari asrama kami berdua berjalan melewati lorong-lorong yang gelap karena aku tak mau menggambil resiko ketahuan. Aku pun kembali mengecek keberadaan Hermione namun dia tak ada di manapun. Dan ini membuatku khawatir. Setelah mengeceknya selama beberapa kali tanpa henti akhirnya nama Hermione muncul juga! Satu pertanyaan dalam benakku, sedang apa ia di depan ruang kebutuhan? Aku dan Ron pun bergegas menuju kesana, namun baru beberapa langkah Profesor Snape tiba-tiba muncul dihadapan kami. Meskipun aku tau dia tak bisa melihat kami namun matanya menatap penuh curiga ke arah kami, dan dari arah belakangnya muncul suara orang yang sedang berlari dan menyebabkan Snape meninggalkan kami karena dirinya bergegas menuju sumber suara.

Menghembuskan nafas lega. Aku kembali teringat akan alasan mengapa malam-malam begini aku berada diluar asrama. Kenapa aku malah berdiam diri tanpa mencari Hermione? Sial. Dengan cepat aku mengecek kembali keberadaan Hermione. Setelah mengetahuinya keberadaannya yang sekarang aku melepaskan jubah gaib dan mengatakan kepada Ron untuk berlari. Benar saja, pintu kamar mandi itu terbuka hingga ada sedikit cahaya lampu yang keluar, dan disana aku melihat Hermione yang perlahan telah terserap masuk ke dalam cermin dimana pintu ke kamar rahasia itu berada. Dengan cepat aku dan Ron berlari kearahnya namun semua terlambat,

"HERMIONE!"

Apa itu? Siapa yang menariknya? Aku hanya bisa melihat warna rambut orang yang telah menarik Hermione masuk. Pirang Platina. Tak salah lagi! Malfoy sialan!

Dengan amarah yang menggebu-gebu aku berlari menuju asrama Slytherin. Aku tau Ron tetap berlari disampingku meski dia bingung. Suara langkah kaki kami yang berderap-derap menggema dipenjuru koridor. Masa bodoh kalau nanti aku terkena detensi! Sayup-sayup aku mendengar percakapan seseorang di ujung lorong yang gelap sana. Aku dan Ron pun menghentikan laju kami dan merapat kedinding.

"... aku hanya mematuhi perintah dia! Atau aku bisa ma-"

Menggepalkan tangan marah. Aku tau itu suara siapa! Benar bukan dugaanku! Malfoy sialan! Dia apakan Hermione? Tanpa aba-aba aku berlari kearah suara itu dan segera memukul wajah pemuda tak tau diri itu. Hingga akhirnya dirinya tersungkur di lantai dingin dengan bau amis yang segera menguar diudara.

"SIALAN KAU MALFOY! KAU! SIALAN! KEMANA KAU BAWA HERMIONE! HAH?"

Malfoy hanya menatap takut kearahku. Aku tarik kerah piyamanya hingga ia terpaksa berdiri. Saat tanganku yang telah mengepal dan ingin meluncur bebas kearahnya lagi, seseorang menahan tanganku, dengan tampang garang aku menatap orang tersebut. Yah siapa lagi kalau bukan Severus Snape? Orang yang telah membunuh arah kami, profesor Dumbledore.

"Potter. Sedang apa kau malam-malam berkeliaran?"

Tanpa pikir panjang aku mengarahkan tongkatku tepat di depan wajahnya, "jangan ganggu aku. Dimana Hermione?" tanyaku dingin.

Dengan menghela napas, Snape membuka mulutnya, "Miss Granger, dia terperangkap di masa lalu-"

Tongkat sihirku jatuh,

"-bersama Tom Riddle."

Aku dan Ron pun membeku dalam diam.


.

A Lii Enn

Mempersembahkan

"She's Malfoy"

.

.

Mengerjapkan matanya berkali-kali, akhirnya dia mulai terbiasa dengan cahaya lampu yang masuk secara perlahan ke matanya.

"Ugh," Kepalanya terasa sangat berat dan sakit saat dirinya mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya. Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan namun yang dia temukan hanya ornamen-ornamen berwarna hijau dan perak yang tertata manis di langit-langit sana dan benda-benda yang terbuat dari kayu yang terlihat sangat klasik. Memijit pelipisnya pelan, dia mulai menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya. Seketika tubuhnya menegang karena dia melihat ada ular yang melilit di kakinya. Suara teriakannya pun mulai memenuhi ruangan tersebut.

Derap langkah kaki beberapa orang mulai mendekat ke ruangan dimana ia berada. Masih dengan menutup matanya, seseorang mulai memeluknya erat. Hangat. Itu yang dipikirkannya, rasa takut itu pun perlahan-lahan lenyap.

"Ada apa?" Tanya suara dingin itu.

Namun dirinya hanya bisa diam, karena dia masih merasakan bahwa ular itu masih berada di dekatnya. Dia pun mengeratkan pelukannya ke pemilik suara dingin itu. Yang dibalas dengan elusan lembut di kepalanya. Setelah selesai menenangkan dirinya dia mulai melonggarkan pelukannya, "ada ular." Dan ruangan itu mulai terpenuhi oleh suara orang tertawa dan mengejek ke arahnya. Apa ini?

Dia mulai mendongakan wajahnya ke pemilik tangan yang masih memeluknya, "Riddle?" Dengan cepat dia bangkit dari duduknya dan mengacungkan tongkat yang entah darimana asalnya tepat ke arah wajah lelaki yang baru saja dia panggil Riddle itu. Suara tawa dan ejekan pun hilang seketika. Semua orang yang berada disitu menatap dirinya dengan aneh.

"Sial. Ada apa dengan mu Mione?"

Tongkat yang dipegang dirinya sekarang berganti arah dan teracung ke sosok pria yang memiliki warna rambut yang sama dengannya. Dengan mendesis tak suka, dia mentap pria itu remeh, "Malfoy... Malfoy... Sejak kapan kubiarkan kau memanggil nama kecilku hah?"

Lelaki yang di panggil Malfoy itu pun terbengong-bengong melihat kelakuan gadis yang berada tak jauh darinya, "cukup Mione! Jangan bermain-main!" Hardiknya tak suka.

Sang gadis makin menatap sang Malfoy dengan tatapan tak suka. Dirapalkannya mantra, namun sebelum dia menyelesaikan mantranya tongkatnya sudah terpental jauh hingga menggelinding ke lantai hijau mengkilat itu. Dengan melayangkan tatapan penuh kebencian dia menatap orang yang telah mengganggunya. Namun tatapan bencinya hanya dibalas oleh tatapan kosong.

Ah, Riddle ternyata, pikirnya.

"Apa mau mu? Ridd- ah Voldemort?"

Pemuda yang dipanggil Voldemort itu pun mendekat kearahnya dengan mata yang menyala merah, karena merasa keselamatannya terancam dia meng-Accio tongkat sihirnya dengan mantra nonverbal. Namun segera di tepis oleh Riddle, sehingga tongkatnya kembali terpental. Berjalan mundur hingga dinding dingin menghalangi punggungnya dia menatap takut ke arah Riddle yang kini berada hanya beberapa inci dari wajahnya sehingga deru nafas sang pria mengenai pipinya.

"Kau kenapa?" tanyanya lirih, tangannya yang dingin pun menyikap anak-anak rambut yang menghalangi wajahnya.

Deg, deg. Perasaan apa ini? Kenapa jantungku berdegup dengan cepat.

Namun segera ia tepis semua pikirannya itu, dia merasakan sesuatu yang lembut dan dingin berada di bibirnya. Melebarkan matanya tak percaya dia mulai mendorong dengan keras pemuda yang sedang menciumnya itu.

Tak mungkin, aku berciuman dengan Voldemort muda!

Namun sekuat apapun dia mencoba melepaskan panggutan bibir itu, sang pemuda malah semakin memperdalam ciumannya. Orang-orang yang berada diruangan ini pun hanya bisa melongo tak percaya.

"Mione panggil aku Tom, " Pinta pemuda itu disela-sela ciuman yang makin panas karena tangannya mulai menjalar ke setiap inci tubuh sang gadis. Karena sudah kehilangan pasokan udara, sang gadis pun menuruti permintaannya, "Tom."

Dan ciuman itu pun berakhir. Anehnya sang gadis merasa ada yang hilang. Sesuatu bagian dari tubuhnya hilang. Sang gadis kembali menatap pemuda dihadapannya dengan mata berkaca-kaca, "Hermione. Maaf."

DEG

Ingatannya memutar sebuah memori tanpa henti,

Disana ada seorang gadis kecil berambut pirang dan bocah lelaki yang sedang berada di sebuah stasiun dengan ditemani bocah lelaki berambut senada dengan sang gadis yang sedang menatap tak suka kearah bocah lelaki yang sedang berjabatan tangan dengan gadis kecil tersebut.

"Hermione Jeana Malfoy. Senang bertemu denganmu,"

"Tom. Namaku Tom Riddle."

Sang gadis pun tersenyum manis, hingga menyebabkan warna wajah sang bocah lelaki berubah menjadi warna tomat. Melihat hal itu sang gadis pun segera digeret pergi oleh sang bocah pirang dan kembali menatap sosok Tom dengan tak suka, sayup-sayup sang gadis berargumen dengan orang yang mengeretnya,

"Dia MudBlood Mione! Buat apa beramah tamah?"

"Tapi dia..."

"HalfBlood? Sama saja!"

Berganti memori selanjutnya, dia melihat segerombolan murid lelaki sedang mem-bully sosok anak laki-laki yang dia lihat di stasiun,

"Jauhi adikku!"

Namun tak ada jawaban yang keluar dari anak laki-laki itu.

Seorang gadis pun mendekat ke gerombolan itu, "kakak! Kau apakan temanku hah?" tanyanya dengan mata menyalang nyala.

"Ingat yang tadi aku bilang, Riddle."

Gerombolan itu pun menghilang dan meninggalkan 2 anak manusia yang sedang menatap satu sama lain.

"Maafkan kakakku ya."

"Mione?"

"Hm?"

"Aku akan menjadi kuat dan aku akan berbalik melindungimu."

"Janji ya?"

"Iya."

Semakin banyak memori-memori yang terputar bagai sebuah kaset rusak, semua memutar kenangan-kenangan sang gadis pirang dan sang bocah lelaki yang makin lama semakin tumbuh besar. Dia mengenal sosok itu, si pemuda adalah Tom Riddle yang mana adalah Voldemort muda dan sang gadis adalah... Dirinya.

"TIDAK!"

"Hermione!"

Dan yang terlihat terakhir kali oleh matanya adalah sepasang mata berwarna hijau dan kubangan air yang membuat dunianya menjadi hitam kelam.

.

"...on,Mione!Hermione!"

Panggilan seseorang membuat dirinya tersadar. Diedarkan pandangannya ke orang-orang yang tengah menatap khawatir.

"Astaga kau pucat sekali," ujar satu-satunya gadis yang berada dihadapannya.

"Druella?"

Entah kenapa semua bernafas lega.

"Aku siapa?"
Menghela nafas perlahan, gadis yang dipanggil Hermione itu menyebutkan nama mereka satu persatu, "Abraxas- Kakakku yang aneh. Kau Antonin, Alecto, Avery, Prince, Lestrange, Black, Nott, Alphard dan Tom." Tatapan Hermione dan Tom bertemu selama beberapa detik dan Hermione memberikan senyuman manisnya kearah Tom, dan dibalas oleh elusan lembut dirambutnya.

Sepertinya, biar saja begini. Pikir seseorang yang melihat dari jauh semua kejadian disana.

Ya! Biar begini saja. Gumam Hermione pelan

Bersambung.

A/N:

Ehem maaf kalo updatenya lama. Maklum aku tenggelam dilautan penuh fanfic! *BerenangbarengDracodanSasuke

Aku mau memberitahu beberapa hal:

Alur cerita bikin bingung? Aku belibet banget kalo nulis. Beta oh Beta Reader~~~

Biar kalian ga bingung Mione dunia lalu dan dunia depan itu orang sama. Kenapa sama? Mungkin akan aku beritahu tapi nanti~~~

Tom jatuh cinta sama Mione? Kayanya aku pernah ngasih tau seseorang via PM: Tom belum jatuh cinta kok. Yet.

Update cepet? Nah serius. Ini gabisa! Ntar jalan ceritanya malah aneh, haha.

Dan jujur saya baru sadar chapter satu ada sebuah kalimat yang rumpang! Entah hilang kemana kalimat lanjutannya -_-

Oh ya, Terima Kasih buat yang udah nge-Review, itu sebuah semangat untukku. Jadi Review lagi ya! Kalau bisa kasih aku Kritik dan Saran untukku!

Salam ALiiEnn BieLuu :p