Sekarang chapter 2! Kali ini adalah Kido POV. Sepertinya fanfiction ini updatenya bakal seminggu sekali. Dan juga ada beberapa kritik dan saran dari teman saya. Jadi menurut saya, fanfiction ini masih ada kekurangan. Saya baru disini jadi saya masih awam dalam menulis cerita.
Oh ya, aku lihat di salah satu reviews ada yang bilang kalau 'cuma kejeduk saja bisa langsung ketukar tubuhnya.. OAO' kira-kira seperti itu. Sebenarnya Kido dan Shintaro itu kejeduknya sangat sangat sangat keras! Bagaikan menjeduk besi (?) tapi bukan berarti kepala mereka sekeras besi.
Ngomong-ngomong, kalau bisa, baca fanfiction saya yang lain juga ya!
Baiklah, Kita mulai saja.


CHAPTER 2


Kido POV

Aku berpisah dengan Shintaro setelah dia menelpon Kano tadi. Aku menyarankan dia agar kita berjalan ke arah yang berlawanan agar kemungkinan dapat menemukan anak laki-laki dan anak perempuan itu semakin besar. Ene mengikutiku -karena dia mengiraku Shintaro- yang ada di dalam HP Shintaro yang kupegang ini. Ene hanya berbicara santai denganku. Pembicaraan kami tidak penting. Aku tidak terlalu mendengarkan apa yang dia bicarakan. Tapi aku penasaran...

Sebenarnya siapa gadis ini? Kenapa dia bergerak di dalam HP?

Apa ada yang menggerakannya atau ini adalah virus model baru?

'Bagaimana cara Shintaro menemukan Ene, ya... Aku sedikit penasaran', pikirku.

"Master!"

Aku melihat kembali ke HP Shintaro yang masih kupegang. Kulihat Ene yang sedang memainkan kedua jari telunjuknya juga menundukkan kepalanya, bola matanya naik melihatku dan juga tersenyum. Dia terlihat seperti mendapatkan ide...?

"Mungkin aku bisa menghack navigasi agar bisa menemukan Momo-chan! Master sedang mencarinya 'kan?", ucapnya dengan berbinar-binar.

Aku terdiam melihat wajahnya yang masih berbinar-binar.

'Adik...? Ah, si Momo, ya...'

Aku menatap Ene dengan wajahku yang terlihat seperti orang yang sudah lelah. Aku sudah sangat lelah untuk memikirkan sesuatu. Ini sudah sangat malam. Tapi aku tetap menanggapi Ene dan mulai memikirkan perkataan Ene dengan sungguh-sungguh walau aku masih lelah. Kemudian, aku mendapatkan ide karena kata-kata Ene tadi. Mataku terbelalak sedikit karena merasa itu adalah ide yang bagus.

'Menghack navigasi? Kalau begitu, dia bisa menemukan dimana anak laki-laki dan anak perempuan itu berada? Kalau dia bisa melakukan hal seperti itu, aku sudah melakukan hal yang sia-sia daritadi dengan berjalan mencarinya di malam yang gelap ini'.

"Master?"

Aku mendengar panggilan Ene padaku, dengan cepat aku menjawabnya, "Ah, i-iya! Tolong temukan Momo, ya!"

Dia memiringkan kepalanya. Dia seperti kebingungan sejak mendengarku mengatakan hal itu. Apa aku salah mengatakan sesuatu?

"Oke, Master~"

Dia mengabaikan keanehan yang dirasakannya padaku. Lalu dia mulai menghack navigasi. Di layar HP, terlihat kotak putih yang harus diisi dengan data-data orang yang dicari. Ene mengisinya dengan data -yang sepertinya- sesuai dengan adiknya Shintaro, yaitu Momo.

"Nah, dengan memasukkan data si adik, kita bisa melacak keberadaannya sekarang!". Dia mengangkat kedua tangannya dengan senang, lalu menekan tombol 'search' yang ada di depan matanya.

Beberapa detik kemudian, muncul peta kota Mekaku dengan titik merah kecil. Biasanya titik merah itu untuk keberadaan orang yang sedang dicari, dengan kata lain adalah Momo.

Tapi...

Aku merasakan firasat buruk...

Kenapa...

Gerakan titik merah ini sangat cepat...?

Aku melihat lagi titik merah itu. Titik merah itu sedang bergerak sangat cepat ke tempat aku dan Ene berada.

'Eh? Jangan-jangan mereka berjalan... kesini? Tu-tu-tunggu! Dia larinya cepat sekali! Apa aku akan selamat jika dia kesini dan menabrakku!?'

Sesuai dengan firasat burukku yang baru kupikirkan tadi, aku melihat seorang perempuan berambut kuning dikuncir satu disamping rambutnya juga memakai hoodie pink dan celana pendek, yang menyeret anak laki-laki yang sedang kucari tapi dia sudah pingsan. Orang itu berlari sangat cepat dan kencang ke arahku. Kepalanya menunduk sehingga tidak dapat melihat ke depan. Aku yang melihatnya, cepat-cepat berusaha kabur untuk menghindarinya. Tapi terlambat. Aku sudah tertabrak olehnya dan terpental jauh. Tanpa sengaja pula, aku menjatuhkan HP Shintaro.

"Kakak!", panggil dia kepadaku sambil membungkukkan badannya.

Mendengarnya, aku memegang lututku dan berusaha berdiri, tapi aku terjatuh lagi karena aku merasakan sakit tepat di lututku yang ditabrak olehnya. Dengan panik, Momo mengulurkan tangannya padaku. Aku menerima uluran tangannya itu dan dia menarikku untuk membantuku berdiri.

Kemudian, Aku memperhatikan anak laki-laki yang sudah pingsan karena diseret oleh Momo. "Anak ini..."

Momo melihat ke arah anak itu. Dia terkejut melihatnya dan memegang kedua bahu anak itu dengan pucat.

"HIBIYA-KUN! BERTAHANLAH!"

Aku melihat mereka dengan bingung. Lalu berkata, "Umm... Sepertinya dia cuma pingsan"

"Eh?", Momo melihatku lalu melihat ke arah Hibiya lagi. Mata Hibiya seperti berputar-putar karena pusing. Entah kenapa, setelah melihat hal ini, aku merasa tidak akan ingin diseret oleh Momo... Mengerikan.

"Kau sudah menemukan... Hiyori?", Aku mengganti topik pembicaraan kami.

Dia melihat kembali ke arahku. "Belum..." Dia terdiam dan menundukkan kepalanya. Lalu wajahnya mulai berubah menjadi murung dan khawatir. Aku mulai pucat dan berpikir, 'Uuh... Aku membuatnya murung'.

Saat melihat wajah Momo, tiba-tiba aku teringat Ene. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba bisa mengingat Ene. Tapi tadi dia bisa menghack navigasi 'kan? Mungkin kita bisa menemukannya dengan bantuan Ene.

Aku juga menundukkan kepalaku untuk melihat HP Shintaro. Tapi, tidak ada HP sama sekali di kedua tanganku. Aku memeriksa kantong celanaku dengan memasukkan tanganku. Tapi, tidak ada HP juga di kantongku. Aku mulai panik. Lalu, aku menengok ke samping kanan dan kiri bergiliran dengan cepat. 'Dimana HP Shintaro!? Gawat, kalau aku menghilangkan HPnya... Aku pasti disuruh ganti...'

"... Master...!"

Aku mendengar suara Ene walau terdengar kecil. Aku segera mencari sumber suaranya. Kemudian, aku melihat sebuah HP di tengah jalan.

'HP itu... punya Shintaro...!'

Saat aku mau berlari ke jalan untuk mengambilnya, datanglah mobil dengan kecepatan tinggi yang melewati jalan itu. Mobil itu tepat melindas HP itu sampai hancur berantakan.

"GYAAAAAAAAAAA!", teriakku dengan histeris.

Momo tercengang mendengar teriakanku. Lalu ia melihatku yang sedang merenungkan HP Shintaro yang sudah hancur berkeping-keping. Yang selamat hanyalah kartu nomor HP dan memorinya...

Di wajah Momo, terlihat dia menaikkan salah satu alisnya dan ekspresi wajahnya seperti mengatakan 'menjijikkan'. Ekspresi wajahnya itu sangat menjengkelkan sampai dapat membuatku sedikit kesal. Untunglah dia bukan Kano... Kalau dia Kano, aku pasti sudah menghajarnya.

"Hihihi, HP kakak hancur ya~ Beli sendiri yaa!", goda Momo

Aku hanya terdiam dengan keringat bercucuran dari seluruh badanku. 'Stamina laki-laki ini kecil sekali...' Sambil berpikiran seperti itu, dengan segera, aku mengambil dompet Shintaro dari kantongku. Aku membuka dompetnya dan melihat isinya. Tapi di dalamnya, uang yang awalnya kuharapkan ada banyak itu... hanya berisi uang-uang receh yang pastinya tidak dapat digunakan untuk membeli sebuah HP, bahkan iPhone seperti ini.

Gawat.

Aku akan hidup dalam utang pada Shintaro.

Apa aku harus memberitahunya? Tapi gimana caranya kalau tidak ada HPnya?

Momo menghela nafasnya melihat aku yang masih pucat memikirkan HP Shintaro. Dia memegang pundakku dan berkata, "Pakai saja HP bekas di rumah kita... Kita masih punya satu lagi 'kan? Untunglah kartu dan memorimu selamat".

Aku menundukkan kepalaku dengan wajah yang terlihat murung, lalu aku menganggukkan kepalaku. Aku berusaha memikirkan hal yang lain selain tentang HP Shintaro. Setelah itu, aku mengingat sesuatu.

"Ene. Dimana Ene?", tanyaku

Momo mengambil HPnya dan menunjukkan layar HPnya kepadaku. Ada Ene yang sudah berpindah ke HP Momo dengan senyuman lebar di bibirnya.

"Master mengkhawatirkanku~! Aku senang!", ucap Ene sambil memegang dagunya dengan kedua tangannya.

Aku memalingkan wajahku dari Ene -karena tidak tahu cara menanggapinya- dan memasukkan tanganku ke dalam kantong celanaku, lalu mulai berjalan menjauhi mereka. "Sudahlah, aku lelah. Ayo kita pergi. Momo, gendonglah Hibiya sampai ke rumah. Ene, tetaplah di HP Momo", ucapku masih melihat ke depan, ke arah jalanan yang terlihat semakin gelap.

Momo dan Ene terdiam sebentar, lalu bibir mereka berdua berubah menjadi senyuman yang lebar dan mereka saling berdekatan, berbisik-bisik satu sama lain. Tapi bisikan mereka itu terdengar jelas di telingaku karena mereka sengaja agar aku dapat mendengarnya.

"Kenapa kakak berlagak seperti pemimpin? Hehe~", ucap Momo dengan tersenyum licik.

"Master~ Aneeeh~!", goda Ene.

Wajahku mulai memerah saat mendengarnya. Dengan cepat, aku menengok ke arah mereka berdua dan ingin berteriak, tapi aku mengurungkannya.

'Aku hampir lupa kalau mereka itu bukan Kano... Mereka seperti 2 Kano tapi Kano masih lebih mengesalkan dan suka menggangguku'.

Aku terus berjalan dengan pura-pura tidak memedulikan mereka. Tapi Momo -dengan Hibiya di punggungnya dan Ene di HPnya- berjalan ke sebelahku. Momo dan Ene tertawa sambil terus menggodaku selama di jalan. 'Uh, kenapa Shintaro bisa bertahan dengan 2 cewek yang menggodanya tiap hari... Entah kenapa mereka mulai terlihat seperti dobel Kano bagiku'.


Kami tiba di depan sebuah rumah. Rumah itu adalah rumah Shintaro dan Momo.

Aku memegang pinggangku dengan tanganku. Rasanya tulangku sedikit sakit. Entah karena tertabrak Momo atau karena orang ini adalah NEET.

Saat berpikir seperti itu, tiba-tiba aku merasakan aura suram dari sebelah kiriku. Aku menengok ke samping kiriku. Ternyata Momo lah yang mengeluarkan aura suram dan gelap itu. Wajah Momo pucat dan dia terus mengeluh berkali-kali. Apa yang terjadi dengan sifat menggodanya tadi?

Masih terus melihat Momo, aku bertanya, "Ada apa?"

Dia menengok ke arahku, mulutnya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya tertutup lagi karena ia ingin menurunkan Hibiya terlebih dulu untuk mengurangi bebannya. Ia berbalik melihatku lagi dan dengan cepat memegang kedua tanganku yang tepat diarahkan di depannya dengan sangat erat, juga ia masih memasang wajah panik dan sangat ketakutan. Mulutnya juga komat-kamit terdengar seperti mengucapkan mantra. Sekarang ini, kalau kukatakan, dia bagaikan baru melihat suatu hal yang berhubungan dengan horror beberapa detik sebelumnya. Sementara, aku -yang tidak mengerti apa-apa- hanya terdiam dalam kebingungan. Kalau dia barusan melihat han-hantu... Matilah aku... Karena sebenarnya aku juga takut hantu, ta-tapi hanya takut 'SEDIKIT' sih... Ja-ja-jadi jangan salah paham ya...!

'Glek', Aku menelan ludahku dan menunggu dia berbicara. Ia pun mulai berbicara pelan.

"...ibu..."

"Eh?"

"Kalau ketahuan ibu jika kita masih disini, kita akan masuk ke neraka kemarahan ibu... Dan diomelin habis-habisan... Kakak ngerti 'kan?", ucapnya masih menundukkan kepalanya dalam kecemasan.

.

.

.

.

Ternyata...

Suatu yang horror itu... ibunya sendiri...

... Fyuuh, kenapa aku bisa mikir yang aneh-aneh?

Aku membuka pintu rumah itu dengan sangat pelan, memastikan tidak ada yang mendengarnya. Aku berbalik melihat Momo.

"Sudahlah, yang penting ibu tidak mendengar suara kita 'kan?", ucapku pada Momo

Momo menatap wajahku dan ia terlihat seperti berpikir sebentar, lalu dia mengangguk dan menggendong Hibiya lagi. "Iya. Kau benar, kak. Hari ini kok kakak jadi lebih keren ya?". Setelah mengatakannya, dia tersenyum kecil.

'... Apa dia mulai curiga? Sepertinya tidak...'

"Baiklah! Kalian tidak akan mendengar suara apa-apa dariku!", teriak Ene yang daritadi hanya terdiam.

Momo melihat ke HPnya untuk melihat Ene. "Kami serius, Ene..."

Kemudian, dengan tanpa memedulikan kata-kata Ene, aku menengok ke arah Momo. "Momo, kau sedang menggendong Hibiya 'kan? Biar aku yang bawa HPmu".

Momo melihat wajahku dengan sedikit kaget, tapi beberapa saat, dia tersenyum kembali. "Hehe, baiklah!" Lalu dia memberikan HPnya padaku.

Setelah itu, kami memasuki rumah itu dengan diam-diam dan memastikan tidak terdengar suara apapun dari kita.

Saat kami masih di ruang tamu, aku mendengar suara bisik-bisik dari dalam HP Momo. Aku melihat HP Momo yang masih kupegang itu.

Tapi, tiba-tiba...

Layar HP Momo semuanya berubah menjadi gambar perempuan menyeramkan. Rambutnya hitam dan panjang di depan mukanya sehingga menutupi mukanya. Juga, terlihat pakaiannya putih dan berdarah-darah merah.

Aku yang melihatnya di dalam rumah yang lampu-lampunya sedang dimatikan semua ini, langsung berteriak 1 detik setelah melihatnya.

"GYAAAAAAAAA!"

"GYYAAAAAAAAAAAAAA!"

Suara teriakanku disusul oleh suara teriakan seorang anak laki-laki yang digendong di belakang Momo, yaitu Hibiya.

"D-D-Dimana ini!?", ucap Hibiya dengan gagap.

Momo memukul kepala kami berdua dengan keras. Aku merasakan benjolan besar terdapat di kepalaku dan pastinya di kepala Hibiya pun juga.

"Kalian apa-apaan sih?", bisik Momo tapi nada bicaranya terlihat marah.

Setelah Momo memarahi kami, tiba-tiba kami mendengar suara pintu terbuka dengan pelan. Terdengar suara seorang wanita dewasa dengan jelas dalam keheningan rumah ini.

"... Suara siapa itu...?"

Aku, Momo, dan Hibiya mulai sangat ketakutan. Walau aku tidak tahu apa yang terjadi, aku mengikuti Momo -dengan Hibiya digendongnya- ke sebuah kamar. Kami memasuki kamar itu dan saat sudah sampai di kamar, kami bertiga sangat panik untuk mencari cara bagaimana agar tidak ketahuan oleh ibu Momo. Aku mendapatkan ide, lalu segera menarik Hibiya dan Momo ke atas kasur. Aku juga segera naik ke atas kasur itu (tapi bukan untuk melakukan hal yang *piiip*).

Aku berbisik ke telinga Momo dan Hibiya, "Kita pura-pura tidur. Hibiya, kau sembunyi di bawah selimut". Mendengarku, mereka menganggukkan kepala mereka.

Hibiya sembunyi di bawah selimut dengan diam. Momo menutup matanya dan pura-pura tertidur di sebelahku. Aku juga melakukan hal yang sama dengan Momo.

Beberapa detik kemudian, ibunya Momo membuka pintu kamar. Aku menelan ludahku dan jantungku berdetak sangat cepat, tapi aku tetap menjaga diriku agar tetap dikira tidur oleh ibunya Momo. Aku merasakan ibunya Momo menghampiri kami, lalu berkata dalam suara kecil, "Hari ini mereka akrab sekali..." Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara pintu tertutup.

Hibiya menarik selimutnya ke bawah dan segera menghirup udara karena kekurangan nafas gara-gara tertutup selimut. Aku dan Momo juga menhela nafasku sambil menatap Hibiya.

Bertepatan dengan itu, aku mengingat HP Shintaro.

"Momo, dimana HP bekas nya?", tanyaku.

"Eh? HP bekas? Ooh gara-gara hancur tadi ya... Kayaknya ada di rak sini..."

Momo turun dari kasur dan berjalan mendekati sebuah rak kecil. Dia menarik rak atas dan mengambil sebuah HP di dalamnya. Lalu ia menutup rak tersebut dan berjalan kembali ke arahku.

"Ini HPnya. Ngomong-ngomong tadi kartu HP dan memorinya selamat 'kan? Biar aku yang pasang ya"

Setelah itu, aku mengambil kartu HP dan memori HP Shintaro dari dalam kantongku dan memberikannya pada Momo. Momo menerimanya dan memasangnya pada HP bekas itu. Lalu Momo mencoba menyalakan HPnya. Aku bersama dengan Hibiya -karena penasaran- mendekati Momo agar bisa melihat HP tersebut. HP bekas itu menyala dan Momo melihat isinya untuk memeriksanya. Momo melihat home screennya dan berbagai aplikasi bermunculan, ditambah Ene yang memindahkan dirinya ke HP bekas itu. Momo dan Ene merasa HP itu belum rusak, lalu Momo memberikannya padaku.

"Terima kasih", ucapku sambil tersenyum pada mereka.

Mendengarku yang mengucapkan terima kasih, Momo, Ene, dan Hibiya langsung bergetar ketakutan. Aku bingung melihat mereka bertiga dan bertanya, "Kenapa?"

"Ma-Ma-Master mengucapkan terima kasih sambil ter-tersenyum!? Dunia sudah kiamaaat!"

"Kakak mengucapkan terima kasih? Jangan-jangan kakak kerasukan!?"

"Si-sial! Ka-kamu bukan perempuan tapi kenapa senyummu manis!?"

Mendengar kata-kata yang terakhir -perkataan Hibiya-, aku, Ene, dan Momo terdiam selama 3 menit. Sesudah 3 menit berlalu, aku, Ene, dan Momo langsung menjauhi Hibiya sampai ke ujung ruangan.

Melihat kami bertiga, wajah Hibiya memerah dan mulai berbicara gagap, "Bu-bu-bu-bukan begitu! Ka-kalian salah paham! Ma-maksudku i-itu- E-eem..."

Kami bertiga mulai berbicara masing-masing dengan tidak memedulikan kata-kata Hibiya lagi.

"Ah! Master! Sepertinya ada SMS yang masuk! Huwaaah, ini ajaib! Master punya teman!"

"Eh!? Kakak punya teman? Kenyataan yang mengerikan..."

"SMS yang masuk...?"

Hibiya yang daritadi bergumam sendiri, menyadari bahwa kita mengabaikan kata-katanya.

"DENGAAARKAAAAN AKUUUU! UWAAAH!", teriak Hibiya sambil mengacak-ngacak rambutnya.

Momo berdiri dan menghampiri Hibiya, lalu berkata, "Iya, iya, kami 'kan cuma bercanda. Hehe"

Aku dan Ene membalas kata-kata Momo pada Hibiya dengan tanpa ekspresi, "Kami gak bercanda kok, kami memang menjauhimu"

"Hei, kalian!", ucap Hibiya pada kami berdua.

Aku dan Ene mengabaikan Hibiya, lalu aku membaca SMS yang masuk itu.

'Makan malamnya apa? Dan cara membuatnya gimana?'

Ah, ini dari Shintaro. Singkat banget. Oh iya, aku belum membuatkan makan malam untuk mereka ya...

"Cieee, Master~ ada yang menanyakan makan malam~"

Wajahku memerah mendengar kata-kata Ene.

"Di-Diam! Pindahlah ke HPnya Momo!", balasku.

"Ehem, ehem!", goda Ene.

Tapi, sebelum Ene berpindah ke HP Momo, dia mengingat sesuatu dan memberitahuku.

"Oh ya, yang tadi ada gambar menyeramkan itu aku yang tampilin lho! Bagus 'kan!", ucapnya sambil mengedipkan matanya. Setelah itu, barulah dia berpindah ke HP Momo.

'... Aku dikerjain olehnya... Dia benar-benar mirip Kano versi perempuan'

Aku melihat kembali SMS Shintaro. Dengan secepat kilat, aku membalas SMS Shintaro.

'Sepertinya hari ini aku akan membuat ini... Caranya...' Aku memikirkan masakan yang akan kubuat hari ini dan cara membuat masakan tersebut. Aku memikirkannya sambil mengetik SMS dengan cepat. Semoga dia bisa melakukannya.

Setelah selesai mengetik SMS, aku menekan tombol 'send'.

"Hibiya, dimana Hiyori?"

Terdengar suara Momo yang mulai serius. Aku menengok ke arah Momo dan Hibiya untuk mendengarnya.

"Hiyori? Aku tidak tahu", jawab Hibiya

'Eh?'

"Apa maksudmu? Tadi kau bersama dengannya 'kan?", tanya Momo yang makin serius.

"Eh? Iya... Tadi aku bersamanya... Tunggu... kenapa aku tidak ingat apa yang terjadi padanya!?"

Hibiya mulai panik dan wajahnya pucat. Momo yang mendengarnya, wajahnya juga mulai pucat.

"A-Apa yang terjadi pada Hiyori!? Aku mencari kalian karena tadi aku mendengar suara teriakan Hiyori melalui HP!?", teriak Momo.

"A-Aku juga tidak tahu! Aku hanya ingat kalau tadi aku pergi ke taman... lalu...", balas Hibiya dengan murung.

Aku melihat mereka berdua dengan serius. Jangan-jangan, si Hiyori itu... Tapi belum pasti sih...

Setelah mendengar pembicaraan mereka, aku mengirim SMS lagi pada Shintaro, seperti ini.

'Anak laki-laki yang kita cari sudah ditemukan dan sekarang menginap di rumahmu. Tadi kita hampir ketahuan oleh ibumu karena menyelinap malam-malam. Ibumu menyeramkan. Satu lagi, ada hal aneh, dia lupa apa yang terjadi saat dia bersama dengan gadis yang bernama Hiyori itu. Aku punya firasat buruk...
Lupakan dulu hal itu. Gimana keadaanmu disana? Dan apa maksudmu 'captivator'?'

Aku menekan tombol 'send' kembali. Beberapa detik kemudian, aku mendapatkan balasan.

'Mereka belum tau. Tapi mereka udah curiga. Gara-gara sifat dan kemampuanmu denganku juga beda... Mungkin saja nanti ketahuan. Kalau tentang 'captivator' itu, katanya sih sudah menemukan 'captivator'. Tapi aku gak ngerti maksudnya'

Aku menghela nafas membaca balasan SMSnya. Tapi dia tidak boleh tahu tentang 'captivator'... Aku membalas SMSnya lagi.

'Kau gak jago akting ya? Usahain agar gak dicurigai oleh mereka. Tentang 'captivator' itu, gak usah kau pedulikan'

Setelah mengirim SMS itu, aku menaruh HPku di atas meja kecil di samping tempat tidur. Semoga akting Shintaro berjalan lancar...

"Master!"

Aku menengok ke sumber suara. Ene sudah kembali berpindah kembali ke HPku.

"Ada apa?"

"Master gak buka komputer?"

Aku menghela nafas.

"Gak... Ini sudah malam... Aku lelah"

Aku melihat kembali ke HPku. Kulihat wajah Ene yang sangat terkejut seperti melihat sesuatu yang sangat aneh di depannya.

"Aneh! Sangat aneh! Biasanya Master akan menyalakan komputer walau sedetik untuk mengucapkan salam perpisahan pada komputer Master dengan wajah sangat sedih!"

Mendengarnya, aku merasa malu dan pipiku memerah. 'Uh, apa dia selalu melakukan hal itu pada komputernya?'

Momo yang moodnya terlihat sedikit membaik, tertawa kecil dan membalas Ene.

"Hahaha, kakak selalu melakukan hal seperti itu ya? Oh ya, aku dan Hibiya mau tidur dulu ya... Aku dan Hibiya akan tidur di kamar kakak hari ini"

"Baiklah..."

Setelah itu, Momo dan Hibiya -yang sudah mulai menguap ngantuk- naik ke atas kasur Shintaro lalu tidur disana.

Melihat mereka yang mulai tidur, aku menyadari sesuatu.

'Tunggu, dimana aku tidur?'

"Momo... Dimana aku tidur?"

Momo melihatku dengan tanpa ekspresi. "... Kakak sih tidur di lantai saja. Kakak harus mengalah pada yang lebih muda". Setelah itu, Momo dan Hibiya langsung tertidur pulas 3 detik kemudian.

'... Aku juga dikerjain Momo... Kenapa disini aku selalu dikerjain?'

Tanpa memedulikanku, Ene berbicara dengan ceria, "Master! Ayo nyalakan komputernya! Akan kutunjukkan sesuatu yang bagus!"

"Ba-Baiklah..."

Setelah itu, aku menyalakan PCku. Aku menarik bangku di depan komputer Shintaro dan duduk di bangku tersebut. Beberapa saat kemudian, monitor komputernya juga sudah menyala. Ene berpindah ke komputer tersebut dan berjalan-jalan di dalam komputer tersebut. Lalu ia membuka 2 buah folder milik Shintaro, satu di sebelah kirinya dan satunya lagi di sebelah kanannya dengan keadaan tertutup.

"Master! Aku memberikan nama pada foldermu! Coba tebak mana folder rahasiamu!"

"Eh? Umm..."

Aku memikirkan kira-kira mana folder rahasia Shintaro. Lalu aku memilih yang sebelah kanan Ene. Ene tersenyum lebar dan mengangkat folder di sebelah kanannya.

"Hebat! Tepat sekali! Master mau melihatnya?"

Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan agak malas. Lalu Ene yang melihatku, memasukkan sebuah password pada folder tersebut. Setelah itu, terbukalah folder itu. Banyak gambar-gambar bermunculan di sekitar layar monitor. Aku melihat gambarnya satu demi satu. Lalu aku membelalakkan mataku. Yang kulihat adalah... gambar-gambar perempuan yang terbuka... tubuhnya kalau kubilang... Bisa kalian bayangkan sendiri 'kan? Aku tidak menyangka kalau Shintaro itu mesum.

Dengan keringat yang mulai bercucuran karena bukan hanya dari panas tapi juga dari melihat gambar-gambar ini, aku berpikir dengan serius. 'Dia... Tidak... Melihat tubuhku... Atau... Melakukan sesuatu pada... Tubuhku 'kan...? Kalau dia melakukan sesuatu pada tubuhku... Aku akan... Ah! Lupakan! Kalau begitu aku harus cepat-cepat mencari cara untuk kembali ke tubuhku 'kan? Apa kita harus berjedukan lagi?'

"Master sudah lihat~? Kalau sudah, aku matikan komputernya ya~ Master 'kan tiap malam pasti harus melihat ini, hehe"

Setelah mengatakan itu, dia mematikan komputernya dan memindahkan dirinya ke HP bekas Shintaro. Aku hanya diam memikirkan 'tubuh'ku dengan keringat berjatuhan dari pipiku, sampai Ene berkata sesuatu.

"Kalau begitu, aku mau main ke tempat Kido ya!", ucapnya dengan tersenyum.

"Ya, ya... Eh? Tunggu... Kido?"

Aku menyadari apa yang dikatakan Ene. Tadi dia bilang 'Kido'? Jangan-jangan... Dia sudah tahu kalau aku bukan Shintaro?

Aku melihat kembali wajah Ene yang tersenyum lebar. Sebelum aku bisa bertanya padanya, tiba-tiba Ene sudah menghilang.

Jangan-jangan, dia ke HPnya 'Kido'?

Gawat! Nanti kalau dia kesana, Kano, Seto, dan Mary hanya makin curiga jika 'Kido' -atau lebih tepatnya Shintaro- sedang bersama-sama mereka.

Tapi darimana Ene tahu?


Author's Note : yay, akhirnya selesai juga... Kebetulan aku juga gak terlalu tahu bagaimana cara Kido dan
Shintaro kembali ke tubuhnya masing-masing XD Kayaknya di chapter selanjutnya aku bakal kekurangan ide. Tapi saya akan tetap berusaha melanjutkannya. Aku juga gak tau ini bakal sedikit atau banyak chapternya. Mungkin kalau banyak reviews nya aku banyakin chapternya. Terima kasih sudah membaca sampai chapter 2!