I love you but good bye

Story by, OnyxLevender

.

.

Disclamer Masashi kishimoto

U Sasuke H Hinata

Genre Romance & Angst

Rated: T

Warning! Typo, Occ, Au,EYD dan kemungkinan masih banyak lagi,

.

.

SELAMAT MEMBACA Minna

^^Maaf jika mengecewakan^^

.

.

Chapter 2

.

.

Apartement Hinata dan Sasuke

Ting Tong!

"Permisi.. Saya sekretaris dari Uchiha Sasuke. Hari ini saya akan menjemputnya. Karena hari ini ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Sasuke-sama. Saya khawatir Sasuke-sama akan terlambat."

"…" Hinata terdiam hingga suara gemulai dan lembut itu menyapanya kembali.

"Permisi, anda mendengarku kan?" sapa Sakura. Sambil mengibaskan tangannya di hadapan Hinata.

"eh, iya. Sebentar, akan saya panggilkan. Silahkan nona …"

"Haruno Sakura. Panggil saja Sakura"

"Oh, Silahkan duduk dulu nona Sakura. Sasuke-kun masih memakan sarapannya. Saya akan menyuruhnya untuk bergegas."

Dengan segera Hinata pergi meninggalkan Sakura untuk memanggil Sasuke. Mungkin saat ini hati Hinata sangat sakit mengingat gadis yang bertandang ke rumahnya saat ini adalah kekasih suaminya selama ini. Hinata tau selama ini Sasuke menjalin hubungan dengan Sakura. Diapun tahu Sasuke dan Sakura sudah menjalin kasih sejak mereka duduk di bangku SMA. Ya, Hinata mengetahui segalanya tentang Sasuke. Tapi dia tidak pernah nyinggung tentang ini pada Sasuke

Flashback

Hinata POV

Hidup mungkin sebuah lelucon. Sepeti halnya lelucon dari dua keluarga ini. Keluarga Uchiha, dan keluargaku, Hyuuga. Berawal dari sebuah persahabatan keluarga yang terus turun pada anak mereka, inilah awal kisah ku Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke. Sasuke adalah sahabat laki-laki ku satu-satunya. Uchiha Sasuke! nama yang indah bukan? Uchiha Sasuke adalah pria yang menurutku paling apa adanya dibandingkan dengan lelaki lain yang pernah kukenal. Dan aku menyukainya^^. Tapi perasaanku ini tidak boleh ada yang mengetahuinya. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku rasa aku menyukai Sasuke sejak aku dan dia bersama.

Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa aku tidak memiliki teman laki-laki selain dia. Tidak, kalian salah, aku memiliki banyak teman laki-laki. Tapi aku tidak teralalu dekat dengan mereka. Karena seperti yang kalian ketahui, Sasuke selalu menempel padaku. Bahkan pernah ada lelucon bahwa kami akan dijodohkan. Mungkin lelucon itu hadir dikarenakan dekatnya keluarga Sasuke dengan keluarga ku. Bukankah itu terdengar lucu? Hahaha. Namun aku senang mendengarnya.

Aku pikir lelucon seperti itu akan lenyap seiring waktu. Walaupun aku tidak bisa memungkiri bahwa aku ingin kabar seperti itu terus merebak agar tidak ada Perempuan yang mendekati Sasuke, yah, walaupun itu terdengar sangat egois. Namun aku salah, ternyata Sasuke sudah memiliki seorang kekasih. Namanya Haruno Sakura. Gadis Cantik dengan tinggi semampai. Aku dengar dari teman-temanku bahwa Sakura adalah gadis baik hati, pintar dalam segala hal, dan cantik.

Hal itu membuat hatiku sakit, tapi apa boleh buat. Walaupun aku sangat mencintai Sasuke dan aku merasa lebih dulu menyukai Sasuke, tapi Sasuke dan Sakura telah lebih dulu saling menyukai. Jadi apa boleh buat, mungkin aku hanya bisa menyimpan semua ini dalam hatiku dan menutupnya rapat-rapat. Lagipula bukankah Sakura adalah gadis yang tepat untuknya.

Aku ingin agar Sasuke menceritakan perihal hubungannya padaku. Maklum saja, aku mengetahui jika mereka pacaran saat aku tidak sengaja mencuri dengar percakapan mereka di taman belakang sekolah. Taman itu tempat yang sepi, sangat jarang ada siswa yang pergi ke taman itu karena sedikit jauh. Saat itu Sakura sedang menyatakan perasaannya pada Sasuke dan Sasuke menerimah perasahaan Sakura lantara Sasuke pun mencintai Sakura. Aku yang tak tahan melihat adegan itu menyudahi saja aksi mencuri dengar ku.

Next Day

Aku kira kabar hubungan Sasuke dan Sakura adalah kabar yang akan sangat hangat untuk diperbincangkan hari ini. Ternyata tidak ada hal-hal baru, malah berita tentang perjodohanku dengan Sasuke yang semakin memanas. Jadi kesimpulanku adalah Sasuke dan Sakura merahasiakan hubungan mereka entah untuk alasan apa. Sampai kami menginjak bangku kuliah pun Sasuke tetap menrahasiakannya padaku.

Bahkan hubungan merekapun tidak aku ketahui lagi perkembangannya. Karena tidak ada yang berubah dari Sasuke dari awal mereka pacaran hingga saat ini. Sasuke yang kukenal tidak banyak bicara, Sasuke yang suka menjahiliku setiap kami berdua, Sasuke yang dingin pada semua orang terkecuali padaku, dan Sasuke yang unggul dalam segala bidang.

Semua ini telah cukup untuk diriku. Aku bersama Sasuke. Sungguh, itu sudah melebihi dari cukup. Tidak peduli dengan gadis yang telah pacaran dengannya. Sampai suatu hari.

"Jadi kalian berdua akan kami jodohkan. Kami ingin agar kekuatan perusahaan kami akan tetap utuh. Dan kerja sama perusahaan akan tetap lancar walaupun perusahaan kami berdua bergerak di bidang yang berbeda. Kalian maukan?"

"Ta-tapi Tou-san. Aku akan .."

"Tapi apa Sasuke? Kau ingin namamu ku hapuskan dalam daftar pewaris Uchiha crop?"Ucap Fugaku

tidak jangan berkata seperti itu. Impian Sasuke adalah untuk membangun perusahaan Uchiha corp.

"Emm, baiklah aku menerimah perjodohan ini. Tapi aku ingin menyelesaikan kuliahku terlebih dahulu. Bisakah perjodohan ini dibatalkan sampai aku selesai kulia? Lagi pula aku ingin fokus pada karirku terlebih dahulu. Aku tidak ingin ada suatu hal mengikatku untuk berkarir." Ucap Sasuke

"Baiklah kalian akan kuizinkan untuk mengundur waktu pernikahan kalian tapi perjodohan ini harus terlaksana, mengerti?"

Setelah ayah Sasuke berbicara seperti itu dia segera meninggalkan kami. Aku yang merasa canggung segera pamit pada Sasuke.

"Sasuke-kun, aku pikir aku memiliki tugas jadi aku harus segera menyelesaikannya. Aku panik pulang ya."

"Hn."

Saat itu aku tau jika Sasuke tidak pernah menganggapku lebih. Dari wajahnya yang sedih dan kecewa itu.

"Sasuke sudah memutuskan keputusannyakan Hinata. Jadi kau akan tetap menikah dengan Sasuke setelah kalian lulus kuliah." Kata ayahku saat makan malam.

"Tapi Tou-san, bukankah aku sudah mengatakan agar perjodohan itu dibatalkan saja? Aku tidak ada yang menghalangiku saat aku berkarir." Terpaksa aku berbohong pada Ayahku . Aku tidak ingin Sasuke terpaksa saat menikah denganku nanti. Bagaimanapun juga aku ingin menikahi seorang lelaki yang mencintaiku sepenuh hati. Bukan dijodohkan seperti ini.

"Tidak ada tapi tapian Hinata. Kau tau ini keputusan yang sangat baik untuk perusahaan kita kelak? Kau ingin melihat Tou-san kecewa?" Oh tidak, jangan tatapan seperti itu Kaa-san, kau membuatku mengurungkan niatku. Aishh, sepertinya aku kalah dalam adu debat yang bahkan belum dimulai sedikitpun. Kedua orang tua dihadapanku ini memang mengetahui kelemahanku.

Flashback End

Author POV

Jadi begitulah Hinata menikah dengan Sasuke. Hinata pun mengetahui jika Sasuke masih menjalin hubungan dengan Sakura. Saat itu Hinata sedang berbelanja kebutuhan sehari-harinya dengan Sasuke. Namun siapa yang sangka Sasuke juga mengantar Sakura berbelanja di supermarket yang sama dengan Hinata.

Saat itu Hinata tidak bisa berbuat apa-apa. Dia dan Sasuke hanya dijodohkan. Hinata tidak memiliki kuasa untuk menuntut Sasuke agar mencintainya. Hinata selalu berasumsi semoga saja suatu hari Sasuke akan berbalik untuk melihatnya dan mencintainya.

Tapi asumsi tetap saja asumsi. Itu semua hanya kepalsuan dan khayalan belaka. Tidak ada yang bisa mengetahui begaimana akhirnya nanti.

.

.

"Anata, sekretarismu datang. Cepatlah, jangan membuat nya menunggu."

"Hn. Aku akan selesai sebentar lagi." Buru-buru Sasuke mengambil tas kerjanya dan mengecup dahi Hinta. Rutinitas yang dilakukan Sasuke sejak mereka berdua menikah.

"Jangan menungguku malam ini ya? Aku akan pulang telat. Aku berangkat."

Saat itu, Hinata merasa Sasuke akan pergi meninggalkannya.

Saat melihat punggung itu pergi meninggalkan dirinya. Perlahan namun pasti. Hinata merasa Sasuke sangat jauh untuk dijangkaunya.

.

.

Perusahaan Uchiha corp

Hari ini Hinata berinisiatif untuk membawakan Sasuke makan siang kesukaannya. Akihr-akhir ini Sasuke sangat jarang pulang untuk makan siang. Hinata pikir Sasuke memiliki pekerjaan yang sangat banyak. Hinata takut Sasuke telat makan dan akhirnya akan jatuh sakit.

Ini memang pertama kalinya Hinata bertandang ke kantor suaminya Sasuke. Namun bukan berarti seluruh karyawan tidak mengetahui jika Hinata adalah istri seorang CEO Uchiha corp. Bahkan disetiap langkah Hinata tidak ada seorang pun yang memalingkan wajahnya dari Hinata.

Sampai-sampai Hinata merasa ada yang salah dengan dirinya. Untung saja pintu ruangan Sasuke sudah dekat. Hinata segera melangkahkan kakinya dengan cepat.

Saat akan masuk ruangan Sasuke Hinata merasa ada yang salah. Kenapa tidak ada yang menjaga meja sekretaris.

Hati Hinata memburu. Gadis dengan rambut indigo itu membuka pintu perlahan. Perlahan tapi pasti. Pintu terbuka sedikit dengan pemandangan seorang lelaki berjas berciuman dengan perempuan seksi yang duduk di atas meja. Apakah mereka tidak berotak? Mengapa bermain gila di kantor besar seperti ini.

Saat ini Hinata menyadari dia adalah gadis bodoh yang mempercayai asumsi bodoh. Sasuke mencintai Hinata. bukankah itu terdengar konyol? Sangat.

Hinata merasa pelupuk matanya memanas. Dia pun segera berlari meninggalkan tempat yang menurutnya terkutuk itu. Hinata memilih melewati tangga darurat. Bagaimanapun juga dia harus tetap menjaga citra Sasuke. Dia tidak ingin orang-orang melihatnya menangis sesaat setelah dia mengunjungi Uchiha Sasuke. Bukankah aneh mendengar 'Istri CEO menangis setelah dari ruangan suaminya' atau hal semacamnya.

"Sasuke-kun, kenapa kau melepaskan ciumanku?" Tanya Sakura bingung.

"Tidak, aku hanya merasa jika ada yang melihat kita. Apa kau mengunci pintu?" Tanya Sasuke. Dia merasa jika tadi ada yang melihatnya saat berciuman dengan Sakura. Dia tidak tahu secara pasti. Tapi entah mengapa ada rasa bersalah yang menghinggapinya.

"Oh, aku lupa. Sebentar aku melihatnya dulu." Segera Sakura pergi melihat keadaan di luar pintu. Melihat jika ada sesuatu yang menurutnya aneh. Setelah menurutnya tidak ada sesuatu yang aneh dia pun segera kembali masuk dan mengingatkan Sasuke jika ada rapat yang harus dihadiri olehnya.

"Sasuke-kun, sebentar lagi ada rapat yang harus kau hadiri."

"hmm, baiklah. Ayo, kita pergi bersama."

Setelah itu pun Sasuke dan Sakura pergi meninggalkan ruangan Sasuke.

Baru beberapa saat mereka melangkah Sasuke berpapasan dengan salah satu karyawan. Kayawan itupun menyapa dirinya.

"Selamat Siang Sasuke-sama."

"Selamat Siang." Sasuke membalas sapaan karyawan bernama Ino. Ino bingung mengapa Sasuke tidak bersama istrinya, Hinata.

"Euumm, itu, mengapa Sasuke-sama tidak bersama istri anda? Bukankah beberapa saat lalu dia datang membawa makan siang? Aku pikir kalian sedang makan bersama." Ucap Ino mengutarakan kebingungannya tanpa melihat jika saat ini kondisi Sasuke sedang tidak baik-baik saja. Tangannya mengeluarkan keringat dingin. Mukanya pun pucat pasi. Dengan segera Sasuke berlari meninggalkan Ino dan Sakura.

Sasuke takut jika Hinata mengetahui segalanya tentangnya dan Sakura. Walaupun dia juga ingin memberitahukan pada Hinata perihal ini secepatnya. Tapi tidak dengan cara yang seperti ini.

.

.

Sasuke-Hinata Apartement

Dengan tergesa-gesa Sasuke membuka pintu apartementnya. Dia melihat Hinata sedang duduk menonton televisi. Dengan perlahan Sasuke mendekati tempat Hinata duduk saat ini. Posisi duduk Hinata tidak nyaman. 'apakah dia tertidur?' pikir Sasuke.

Saat sampai betapa leganya dirinya melihat Hinata sedang tertidur dengan posisi tidak nyaman. Dengan segera Sasuke membenarkan posisi tidur Hinata agar Hinata merasa lebih nyaman. Namun, alangkah terkejutnya Sasuke saat dia selesai membenarkan posisi tidur Hinata. Hinata terbangun.

Antara takut dan ragu Sasukepun bertanya pada Hinata tentang apa yang akan dilihatnya di kantor Sasuke tadi.

"Eummm, Hime, apa yang kau lakukan di kantorku saat makan siang?"

"Mmm? Ani, tidak ada. Tadi aku berniat untuk mengantarkanmu makan siang. Namun, Tou-san menelponku untuk segera pergi ke kantornya. Ada sedikit hal yang harus kubicarakan dengannya. Memangnya kenapa Anata? Apakah kau merindukanku sampai-sampai kau berkeringat seperti ini?" Tanya Hinata mengelap keringat di dahi Sasuke.

Bukan, Hinata tidak ingin membentak Sasuke karena Sasuke telah bermain gila dengan sekretarisnya. Dia merasa tidak ada hak untuk memarahnya.

Tapi yang saat ini Hinata ketahui adalah bahwa saat ini dia sangat lelah dengan keadaan seperti ini.

.

.

Hiruk pikuk kehidupan telah menjadi ciri khas di kota-kota besar. Tak ayal bagi Tokyo. Walaupun hari masih sangat pagi, kesibukan orang-orang telah menusuk semua penghuni di kota Tokyo. Tapi tidak untuk Uchiha Hinata. Wanita yang memiliki badan mungil dengan rambut indigo sepinggangnya masih sangat santai untuk menyesap kopi.

Dia memiliki beberapa urusan hari ini. Tapi ayolah, siapapun pasti bisa melihat jika saat ini dia tidak sedang atau sangat jauh dari kata baik-baik saja. Kemeja putih acak-acakan dengan rambut kusut, namun hanya dengan hal ini dia dapat membuat seluruh mata pria akan melihat ke arahnya.

Ya, beberapa hari ini dia pergi meninggalkan Sasuke. Dia pergi tanpa memberitahukan pada siapapun. Dia hanya memberitahukan pada Tsunade bahwa dirinya sedang menenangkan hati dan pikirannya. Tsunade adalah penasihat keluarga Hyuuga, dia mengabdi pada keluarga Hyuuga sejak Hinata belum lahir. Jadi tidak heran jika Hinata sangat dekat pada Tsunade. Karena memang Tsunade dan Hinata selelau bersama jika kedua orang tua Hinata sedang berpergian keluar kota atau luar negri.

"Selamat pagi, Tsunade-san? Apakah surat-surat itu telah selesai?" Ucap Hinata melalui telpon

"Ne. Anda dapat mengambilnya di kantor, Nona muda. Oh, dan pesta peresmian pengangkat Nona sebagai Direktur Hyuuga corp akan diadakan satu minggu lagi. Nona ingatkan?"

"Itu masih lama Tsunade-san. Kamu tidak perlu mengingatkanku. Itu akan menjadi hari yang sangat saya tunggu. Tsunade-san."

"sebentar, Nona baik-baik sajakan? Apakah kau kesepian di sana? Aku akan menyusulmu kesana jika kau mau."

"Tidak, aku merasa cukup telah menenangkan diriku seperti ini. Udara Pulau Honshu menyegarkan tubuhku. Dan, ya, aku baik-baik saja, jangan menghawatirkanku. Aku akan pulang hari ini dengan penerbangan pertama."

"Syukurlah. Aku harap keputusan ini adalah keputusan terbaik yang anda ambil Nona."

"Semoga saja."

"Ya sudah, sampai jumpa di Tokyo. Nona"

"Ya."

Mungkin dia bisa menipu semua orang dari nada bicaranya saat ini. Tapi matanya mungkin tidak bisa. Dan tak akan pernah bisa.

Restorant akimichi

"Jadi apa tujuanmu pergi begitu saja tanpa meninggalkan kabar Hime dan tiba-tiba menghubungiku untuk menyuruhku menemuimu di tempat ini?" Kata Sasuke dingin.

"Aku hanya ingin kau menanda tangani surat ini Anata. Sekaligus ingin memberikan undangan pesta peresmian diriku sebagai CEO Hyuuga corp." Kata wanita itu tanpa merespon mata tajam yang sedang menusuknya saat ini. Walaupun jujur saja, hatinya sangat sakit saat ini.

"Apa ini?" Sasuke terkejut tapi egonya masih memegang andil saat ini. Sehingga nada terkejut itu lebih terdengar ketus. Tanpa sadar dia telah menggenggam erat gelas yang ada di hadapannya saat ini.

"Itu adalah surat perceraian kita Sasuke. Kau bisa menandatanganinya. Setelah itu aku meminta tolong untuk mengirimkannya ke pengadilan. Jadwalku sangat sibuk minggu ini. Kau bisakan?" Jawab Uchiha Hinata. Atau sebentar lagi kembali menjadi Hyuuga Hinata.

"Apa maksud surat ini Hime? Siapa yang menyuruhmu untuk membuat surat terkutuk seperti ini, Ha?" jawab Sasuke geram. Dia tidak habis pikir mengapa gadis yang bahkan baru beberapa bulan menyandang marga Uchiha di depan namanya bisa melakukan hal terkutuk seperti ini.

"Kau sangat tahu maksud dari surat ini Sasuke. Jika kau takut namamu akan dihapus dari daftar pewaris keluarga Uchiha maka tenang saja, aku sudah memberitahukan Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto bahwa ini keinginanku yang ingin fokus pada karir tanpa terikat pernikahan. Dan mereka telah menerima permintaanku ini." Jawab Hinata masih senyum yang terpasang di bibirnya.

"Jadi itu alasanmu? Katakan yang sebenarnya siapa sebenarnya pria itu Hee-ah?" Sasuke tidak sadar bahwa tangan Hinata saat ini sedang terkepal mendengar perkataan Sasuke yang sangat menusuk hatinya.

"Jadi apa kelebihan lelaki itu dariku Hime? Jika aku bisa menebak, mungkinkah anak dari Sabaku corp yang bahkan sahamnya tidak dapat menyentuh seperempat dari sahamku?! Siapa namanya? Aaahh bukankah kok tidak salah namanya Garaa"

"cukup Sasuke. Dia bahkan tidak tau mengenai perceraian kita. Jadi berhentilah berkata bahwa perceraian ini tentang diriku. Tak sadarkah kau selama ini, selama pernikahan kita semua tentang dirimu. Kau dengan seenaknya mencium seorang wanita di kantormu. Aku ini Istri mu Sasuke. Tidakkah terbesit dalam nalurimu bahwa aku akan mengetahuinya? Meskipun kau tahu jika aku tidak menginginkan pernikahan ini juga dulu. Tapi yang tak kau ketahui adalah aku tidak menginginkan pernikahan ini karena dirimu yang tidak menginginkannya Sasuke."

Hinata merasa bahwa dia terlalu banyak berbicara. Maka dengan tergesa-gesa dia pergi dari tempat duduknya saat ini. Namun sebelum benar benar pergi dia ingin memberitahukan Sasuke sesuatu.

"Sasuke ada yang ingin kuberitahukan padamu. Kau tahu? Saat pernikahan kita aku pikir kau akan berubah seiring dengan waktu untuk mencintaiku. Namun aku ternyata salah, aku telah membohongi diriku sendiri dengan berasumsi bahwa suatu saat kau akan mencintaiku."

Sasuke terperangah mendengar wanitanya mencurahkan isi hatinya. Sungguh, hatinya sakit mendengar itu semua.

"Tak sadarkah dirimu bahwa sejak pernikahan kita kau sudah menyakiti hatiku? Tidak itu saja, tapi hidupku juga. Aku merasa bahwa hidup di dalam kebohongan sungguh sakit, aku ingin berhenti dari asumsiku itu." Hinata berfikir sejenak agar dapat mengendalikan dirinya.

"Aku tidak bisa melanjutkan kisah ini bersamamu, aku tidak sanggup. Jadi aku minta padamu dengan sangat mohon, tanda tangani surat itu. Dan, bebaskan diriku. Satu lagi, ini adalah kata yang sangat ingin yang ingin kudengar darimu saat kumembuka mata dipagi hari. Jadi sebelum kita berpisah aku ingin mengucapkannya padamu. aishiteru, Uchiha Sasuke."

Deg! Kata itu. Meluncur dengan bebasnya dari bibir mungil seorang Hinata. Mungkin air mata yang menggenang di pelupuk matanya saat ini akan mencapai batasnya. Sebelum itu terjadi Hinata segera pergi meninggalkan Sasuke yang terdiam tanpa kata.

Satu hal yang saat ini dirasakan oleh Sasuke. Hatinya sakit saat mendengar curahan wanitanya. Dia tidak pernah tahu jika selama ini wanitanya tersakiti seperti itu. Dia sekarang sadar sebanyak apa kesalahan yang dilakukannya. Tanpa sadar air mata Sasuke meluncur bebas.

.

.

"Uchiha Hinata.!"

Aku berhenti. Maaf. Mungkin akhir seperti ini sangat baik untuk kita berdua. Aku tidak bisa lanjutkan kisah kita. Aku takkan mampu. –

Hyuuga Hinata

.

.

END

.

.

Special Thanks to:

Salvia Marenta, arisa sahi-chan, Harumi Tsubaki, NurmalaPrieska, Alicia Uchiha, mikyu

.

Kritik, Saran bahkan Flame akan author terima dengan lapang dada. Silakan di review setelah membaca fic author yang abal-abal ini.

.

Salam hangat dari saya untuk para Senpai dan Reader

OnyxLevender

.

.

Mind to RnR