Disclaimer : Hetalia © Himaruya Hidekaz
WARNING : Super OOC. Super AU. Super nista. Super gaje. Drabble (catat, pajang, hafalkan! *nggak*). TERMASUK CURHATAN ABAL. Berisi berita nggak guna tentang penerbangan beserta airline teranyar 2k16. Mostly OC Indo—hah, gue bahkan nggak punya bayangan tentang badan dan muka bahkan gender Indonesia tercinta ini. *disepak*
A/N (Hiai) : Kami kambeeek~! Kali ini, kita akan membahas dua karakter lain—Murica, eh, America dan England! Selamat membaca~
Judul : Country and Airlines News!
.
.
Chapter 2 – Ini Pilihanmu, Ini Pilihanku!
.
.
Sepasang netra biru naval, tengah menatap lekat-lekat beberapa lembar pamflet. Berisi spesifikasi pesawat komersial yang tengah dikembangkan oleh berbagai perusahaan pembuat pesawat. AAR ada, Blackburn Aircraft ada, Boeing ada, Airbus ada—udah bosen! Masa dua raksasa Boeing sama Airbus melulu yang rebutan jatah pamerin spesifikasi pesawat terbaru?! Kasihan, lihat tuh, Lockheed yang dulunya sempat jaya tuh! (1) Sayang, banyak perusahaan pembuat pesawat yang keburu gugur bahkan sebelum millennium—apa mungkin gara-gara Resesi 1998 dahulu? Eng, itu kan dampaknya paling parah di Asia Tenggara kok...
"ANJROT! KENAPA INI SEMUA LIST DIEMBAT BOEING SAMA AIRBUS SIIIIIIIIH—." jerit Alfred membanting kepalanya di atas meja. Frustrasi.
Flag carrier (2) Amerika—American Airlines—kedapatan sedang menengahi Alfred yang tengah depresi dengan menubrukkan dahinya di meja promosi Airbus, "Bung Alfred... Sabar Pak... Sekarang belom saatnya beli lagi... Sekarang aja udah sibuk mengurus 952 ekor (3), ditambah resesi berkelanjutan ini..."
Alfred lalu mendesah pasrah, "Tapi masa dengan Tripel Sepen masih belom berminat tuker setengah dari itu semua dengan Airbus A380 (4)? Padahal jumlah kursi mantap pisan, lumayan buat penerbangan sesibuk ke NY atau LA!"
"Inti masalah itu adalah..." AA—si American Airlines—berkilah, "Biayanya mahal. Anda tahu sendiri harga avtur kuartal pertama kayak apa... Terus biaya perawatan dan nyari hanggar untuk perawatan..." lanjutnya.
"Ampun dah, lo!" Alfred akhirnya emosi, Saudara-saudara sekalian! "Tau gak, dua per tiga dari semua pesawatmu adalah pesawat narrow-body! (5) Ngapain perlu narrow-body kalo ada Airbus A380?!"
AA lalu tepok dahi, dengan sabar—bonus berharap dengan ikhlas—karena Tuhan untuk menasihati si tukang pilih-pilih yang satu ini, "Bung, itu cuma ngabisin avtur bonus rugi, tahu. Kebanyakan rute kami nggak terlalu panjang; lihat saja, dari satu kota ini ke kota yang itu, cukup jika pakai Boeing 767 atau seri Airbus A320. Kalo NG(6), bisa dilakukan di penerbangan pendek."
"Heh, Alfred dari dulu sampe sekarang tetap tolol ya."
Alfred sontak melongok ke belakang, siap melayangkan gada yang sudah sedia di bawah meja promosinya—sejak kapan?!—dan tiba-tiba membeku saat sepasang mata biru lautnya bertemu si alis tebal. Seorang pria yang sama-sama pirang, bonus alis tebal dan sepasang warna emerald pada matanya, mencibirnya, "Makanya dibilang ya, lo nggak punya keberanian buat milih anak-anakmu—kau tahulah apa. Fufufufu~"
Serius, Alfred dari dulu ingin sekali menggebuk kepala si coretkakandacoret kawan satu ini; barangkali dengan begitu sekrupnya bisa bekerja kembali.
Tak ada satu hari baginya tanpa mengejek dia—sumpah, Alfred sudah lelah dengan semua olok-olok itu.
"Apa mau kata lo, Iggy?" Alfred mengambil posisi busung dada, dengan mukanya songong tepat di depan sang bekas 'majikan'nya, "Biar kukatakan ya lo, gue punya dua airlines yang punya lebih dari 700+ aircraft! Mau apa lo?!"
"Eng, begitu yaaa~" Tumben, Iggy—si pria Inggris, tampaknya—nggak marah mendengar kata 'manis'nya.
"Diiihh, pergi lu!" usir Alfred jijik.
"Kamu saja, Murica." balas Iggy terkikik, "Aku lagi memilihkan sesuatu untuk flag carrier-ku, jadi diamlah." ujarnya sembari mengambil pamfletnya.
"Dih, sesukamu!"
Iggy lalu menengok ke British Airways—si flag carriernya—dan menyodorkan pamflet, "Mau kupilihkan atau kau sendiri yang memutuskannya?"
"Kamu saja. Kamu sudah kukasih spesifikasi yang kuinginkan 'kan?" BA—kode IATA si flag carrier Iggy—tetap bergeming.
"Baiklah... Ngg, tawaran Airbus yang A320neo lumayan. Bagaimana?"
"Halah, kok pilih A320neo..." Alfred tiba-tiba menyela.
Serius sumpah demi peri-peri mistik, Iggy sekarang jadi kepengin membanting dan menggunakan German Suplex untuk melampiaskan kekesalannya!
Iggy memutuskan untuk mengalah; sekarang lagi pingin-pinginnya membelikan pesawat komersil untuk bisnisnya. Lalu ia menjelaskannya tanpa menatap muka Alfred—saking muaknya, "Yang ini kan, lebih hebat. Bisa diatur mesin sama jenis fuselagenya. Oh ya, BA, mau nanti aku pilihkan juga jenis dan spesifikasi mesin jetnya? Berhubung ini nantinya A320neo, jadi pasti bakalan ditawari macem-macem mesin..."
Tiba-tiba BA menggeleng—bonus menahan Iggy yang hendak memanggil salesman booth Airbusnya, "Kalau itu sih, aku aja yang milihin. Anda kurang begitu tahu tentang spesifikasi yang kuperlukan, ya kan?"
"Benar juga ya..."
"VVVVVOOOIII~" Wih, Alfred kayaknya sudah nggak mau tahu; ia bahkan meminjam trait khas Squ*lo! Alfred lalu mencuihinya, "Enaknya A320neo apa?! NG harga lagi murah meriah, tahu! Tahu gitu milihnya ampas kayak begitu! I vote for Boeing guuuuuuys~!"
CTIK!
Tombol switch di dalam kalbu Iggy langsung menyala, menaikkan tensi amarahnya!
Iggy lalu berbalik badan. Bersiap bertahan dengan amukan si Murica ini, "Gue katakan aja sekarang ya, lu." Mengatur napas, memutar akalnya menyumbat kalimat kebun binatang si bekas 'koloni'nya, "Biarpun lo katakan, A320neo itu punya spek yang sedikut update lah, dibanding kreasi terdahulu! Fuel cost A320neo cuma butuh 12 dolar per satuan galon, scum! Bonus 400 NM(*)ebih panjang, idiot! Knot sama thrust beda tipis doang sih."
"Bukannya itu mirip juga sama NG?" Alfred mencibir, "Setahuku NG juga kerap disandingin sama 320 series tuh. Coba lu katain NG, gua bilangin gih. Isi kabinnya MENANGAN punya NG tauk, kek!"
"BANGSAAAT!" amuk Iggy—eh, Arthur, "MENDING, DARIPADA ISI FUEL YANG BOSOK! 320 MANTAP, NGISINYA SAMPE 7 REBU GALON N**NG!"
"Emang iya? Width gendutan A320 looooooh~"
"Beda 0 koma sekian ya, brengsek! Nggak ada bedanya itumah goblok!"
"DG^%^$%^GF!" Alfred berteriak frustrasi, "POKOKNYA BOEING GUYS IS THE BEST!"
"SALAH LU! AIRBUS THE BEST!"
British Airways dan American Airlines hanya bisa terdiam pasif menyaksikan kedua personifikasi masing-masing negara yang telanjur bertikai. Mana gitu di depan booth Boeing pula. Salesman sudah geleng-geleng kepala, ini dua cowok ganteng masih bisa-bisanya bertingkah ala krucil habis berebutan boneka favorit.
Capek kita nih—baik BA maupun AA mengamini kalimat keluhan ini. Mencoba menghibur diri dari adu mulut tidak elegan dua bersaudara satu ini.
.
.
.
[Nggak tau mau lanjut atau apa, jadi... Tebese—eh, To be Continued~ ]
(1) Ada yang tahu Lockheed? Di jaman perintis penerbangan, banyak nama perusahaan pembuatan pesawat yang ngetop, termasuk Lockheed. Lockheed ini, walau tidak kedengaran gaung hingga dimari, cukup eksis di negara maju. Berdiri tahun 1912, perusahaan ini menelurkan cukup banyak varian pesawat yang populer. Masterpiece perusahaan ini adalah L-1011 Tristar. Sayang, tahun 1995 sudah di-merge menjadi Lockheed Martin dan mulai menjajal lebih banyak pangsa teknologi maju selain pesawat komersial. (You know why... pangsa itu sudah dimonopoli sama dua perusahaan besar dunia. You know WHY.)
Eits, jangan pesimis dulu. Karya Lockheed pernah kok, mampir di sini. Garuda tercatat pernah menerima dan menggunakan salah satu varian Lockheed, yaitu Lockheed L-188 Electra. Dikenalkan tahun 1960 dan dipensiunkan 17 tahun kemudian. Merpati Nusantara pernah memakai Lockheed L-100 30 Hercules, yang bersumber dari sumbangan Pelita Air.
(2) Mayoritas negara masing-masing sudah memiliki flag carrier. Jika Alfred dkk adalah perwakilan negara di setting Hetalia, maka Garuda Indonesia (kurang lebih) adalah perwakilan dari perusahaan penerbangan yang diakui serta dijadikan ambassador pariwisata negara Indonesia. Jadi, Garuda Indonesia bisa lebih mudah mempromosikan kultur budaya Indonesia dengan kerjasama dari Kementerian Pariwisata. Hal yang sama juga kurang lebih terjadi pada masing-masing flag carrier.
Uniknya, Amerika tidak punya flag carrier. Walaupun di sini dipilih American Airlines, sebenarnya ada satu lagi perusahaan penerbangan yang memiliki kekuatan (armada) hampir setara dengan AA. Guess who?
United Airlines. Ya, kamu tidak salah dengar.
Yang belum lama ini kesandung kasus penarikan penumpang keluar. Iya, itu. Benar, United Airlines juga memiliki daya diplomasi dan armada yang sangat banyak. Ini penyebab Amerika memilih untuk tidak memilih perusahaan manapun sebagai flag carrier. Meski begitu, siapapun yang kerap tinggal di Amerika pasti memiliki opsi AA atau UA. Atau perusahaan lain yang berkualifikasi setara atau lebih dari AA atau UA.
(3) Yup. Itu jumlah armada keseluruhan AA. Luar biasa, bukan? Namun, ini juga mengimbangi wilayah Amerika yang sangat luas.
(4) Mari membahas fleet, shall we? A380 digadang-gadang sebagai commercial airplane 'tergemuk' di dunia. Memiliki dua lantai secara full, tentu saja sangat berat bagi A380. Dari konfigurasi dan jumlah maksimal yang bisa diatur, A380 bisa membuat 544 kursi bergantung konfigurasi seat yang diinginkan, dan maksimal 868 kursi tanpa konfigurasi. Belum lagi berat saat take-off yang konon menembus 1 juta lbs, ini sungguh gila.
Author pernah melihat satu A380 milik Alitalia saat berkunjung ke luar negeri, bah, memang besar.
Di bandara itu, saat Author baca runway length, salah satu dari dua runway itu menembus 4.000 meter. Itu cukup untuk didaratin oleh A380. Soekarno-Hatta? LEWAT. KEK.
(5) Ada dua klarifikasi pesawat di sini. Narrow-body dan wide-body.
Secara kasat mata cukup mudah mengidentifikasi dua tipe ini, namun akan sulit untuk jenis pesawat jadul. Intinya, narrow-body mengacu pada pesawat dengan kabin berukuran lebar kurang dari 4 meter. Daaaaan... Satu syarat lain. Di dalam kabin itu, bisa melakukan konfigurasi hingga six-abreast seating aka satu baris berisi enam kursi. Hanya saja, kasus six-abreast langka di zaman sekarang. Paling maksimal five-abreast oleh Boeing 757-300.
Di masa depan, kemungkinan benefit dari penjualan narrow-body akan menembus 1.380 triliun dolar. Wow.
(6) No Good? Salaaah! Buuuh!
Namanya New Generation. Hah? Generasi terbaru?
Yap, New Generation ini adalah julukan untuk generasi ketiga Boeing 737 antara lain dengan nomor seri -600/-700/-800/-900. Mulai terbang di angkasa 9 Februari 1997, generasi ketiga ini sangat populer terkhusus bagi -800 karena memiliki spesifikasi yang nyaris mirip dengan keluarga A320.
