Hak Cipta : Adachitoka
Semua yang terjadi dalam fanfik ini hanya karangan author semata, apabila ada kesamaan nama,tempat, dan latar belakang mohon dimaafkan /ga

.

.

.

.

Yato tahu dia bukan orang tajir. Maka itu dia rela menabung 5 yen per hari. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Dan tak lupa, sedikit motivasi dari acara lawak kesayangannya;

Di sini gunung di sana gunung

Di tengah-tengahnya pohon pepaya

Kalau Yato sering menabung

Pasti nanti bakal jadi kaya

Yato bener, kan?

Baiklah, kehidupan Yato telah berubah drastis semenjak hadirnya seorang bayi dalam hidupnya. Bayi yang ditemukannya di kardus hanyut sejam lalu merengek-rengek gak jelas. Niat baik Yato perlahan terkikis oleh rasa jengkelnya.

"Diamlah, bayi! Atau kuhanyutkan kau ke sungai lagi!" Bisiknya mengancam. Bayi yang menurut surat wasiat diberi nama Yukine itu justru menangis semakin kencang.

Yato tidak tahu mengapa ia masih membawa kardus berisikan bayi itu. Ia juga belum pernah merawat anak kecil ―lha wong cita-cita jadi guru TK aja gak kesampean.

"Diam, nanti akan kubelikan kau susu, oke?" Yato tidak tahu bayi itu mengerti atau tidak, ia hanya merasa perlu mengucapkan sesuatu.

Ajaib, ia diam.

Yato berkedip dua kali.

Bayi itu diam!

Yato ngakak setan dalam hati. Gampang banget sih disogok.

Ngaca dulu dong mas.

Yato lalu membawa kardus itu menuju ke flat kecilnya. Ia senyum-senyum bahagia, berhasil menenangkan hati anak kecil ternyata membuatnya merasakan apa yang biasa orang sebut kemenangan.

"Yato, apa itu?"

Glek

Yato menoleh disko, "D-Daikoku-san?"

"Coba tunjukkan padaku."

Oke guys. Kenalin, bapak ini bernama Daikoku. Badannya gede keker angker tinggi lagi; bikin Yato iri. Totally serem kaya codet. Dia tetangga sekaligus pemilik hunian kecil ini.

Peraturan pertama untuk penghuni, jangan pernah membawa hewan.

Kedua, dilarang membawa orang asing tanpa seijin RT/RW setempat.

Nah, masalahnya Yukine itu bayi. Kalau masih oek oek gitu masuk kategori 'orang' atau tidak? Hanya Daikoku dan Tuhan yang tahu.

Daikoku hampir saja melihat isi kardus bawaan Yato, sebelum,

"Yato-chaaaaaaannnn!" Seorang gadis berambut merah muda berlari-lari sambil membawa sekotak cokelat. Lihat saja wadah berbentuk kotak itu yang dihiasi dengan pita. Emangnya ini hari Valentine?

Biar kuceritakan. Namanya Kofuku. Dia adalah keponakan Daikoku-san. Perempuan itu sudah bekerja di kota sebelah sebagai ―eh? apa ya? Yang penting, Kofuku udah kerja intinya.

Yato langsung masuk ke ruangannya dan mengunci pintu.

"Yato-chaaaaaann! Sini sama kakakkk!"

Horror, men.

Yukine tertidur pulas di dalam kardus. Ah, melihat wajah damainya sedikit menyirnakan kekikiran Yato. Guru honorer itu tersenyum tipis. Ia mengangkat tubuh bayi bernama Yukine itu dan meletakkannya di kasurnya. Tadi ia menemukan beberapa set pakaian di bawah tubuh Yukine yang dibungkus plastik beserta botol dot.

Yato swt.

Niat banget sih membuang Yukine.

Siapa juga yang ngehanyutin nih cebol? Padahal lucu gini.

Yukine menghisap jempolnya sendiri saat terlelap begitu. Apa dulu dirinya sewaktu jadi bayi juga begini, ya? Sayang dia gak punya album foto. Jaman dulu kan belum ada ponsel. Punya kamera aja enggak. Anak-anak jaman sekarang hidupnya enak, ya. Bisa sekolah dengan tenang, diperhatiin orang tua, punya hape, dapet pacar―

Ok, untuk sementara hapus bagian pacarnya.

Hidup dalam kemiskinan membuat Yato harus selalu berada di garis depan menghadapi jebakan betmen serta melalui rintangan benteng Takeshi sepanjang jalan kenangan menuju institusi pendidikan itu. Yato dulunya ada di panti asuhan yang kekurangan fulus. Ia pun mulai menjual kerikil dan menjadi loper koran untuk mendapat uang demi membayar SPP. Sisanya nanti untuk membeli jajan macam chiqi dan membagikannya pada anak panti yang lain. Sekolah saja ia harus mendaki gunung melewati lembah sambil membawa batu di atas kepalanya ketika hendak menyeberangi sungai agar tidak terbawa arus deras.

―tenang, kita masih di Jepang, bukan Afrika *)

Ah, sudahlah. Itu tidak perlu dibahas. Masa lalu biarlah masa lalu, jangan diungkit. Ia sudah keluar dari panti karena tempat itu telah dibongkar beberapa tahun lalu. Teman-teman satu pantinya pun akhirnya menemukan jalan yang bernama kehidupan.

"Sepertinya membeli susu untukmu tidak buruk."

Yato mulai belajar ikhlas merelakan tabungannya.

.

.


Hiyori berpisah dengan Ami di pertigaan. Fyuuh, sudah jam tujuh malam. Salahkan Kazuma-sensei yang memberi tugas bak puncak Everest. Tapi, Hiyori menyukai cara mengajar ala Kazuma-sensei. Beliau ramah, baik hati, dan tidak sombong. Ah, coba kalau Kazuma-sensei gak pake kacamata, pasti gantengnya plus-plus. Gak, bukannya Hiyori ngefans atau apa, tapi itu fakta.

Hiyori menepuk jidatnya sendiri kala teringat sesuatu.

"AH! STIK FULLO!"

Hiyori berlari dengan kecepatan 20 mach ke minimarket terdekat. Nyaris saja ia lupa dengan 'suap praktikum olahraga'. Kalau sampai gak dikasih besok, dia gak tahu apakah Yato-sensei masih bisa disogok lain waktu.

Jangan contoh murid seperti ini, tolong.

.


Buruk.

Kenapa ada mpok Bishamon di minimarket?! Dia gak jagain warung nasi padangnya?!

Yato masih menatap mpok Bishamon dari kaca luar minimarket. Yato belum masuk.

Bukannya apa-apa. Tapi, membeli susu bayi di saat semua orang tahu kau itu jomblo ―semoga bukan― abadi, tidakkah mereka akan menginterogasimu? Menanyai dan ini dan itu, lalu dikira telah menananini anak orang dan lebih parahnya kau dikira menculik anak orang kaya lalu menelpon pihak orang tua sambil cekakakan ngancem lewat telpon. Hahahaha.

Yato mengacak rambutnya frustrasi.

Mungkin jika ia menunggu mpok Bishamon keluar bersama ibu-ibu teman arisannya di PKK semua akan kondusif ―tunggu, jadi Yato juga ikut arisan?

Tapi, mereka kayanya bakal lama deh. Fyi, sekali ibu-ibu belanja, dua jam pun takkan terasa karena belanjanya sambil ngerumpi, no secret.

"Hahh..hahh.."

Yato noleh, melihat seorang gadis remaja di sebelahnya ngos-ngosan kaya abis dikejar banci taman lawang. Yato sekejap mengenalinya dari seragam dan syal romantisnya.

"Iki-san?"

Hiyori yang ganti menoleh. Oh, sungguh klise acara berpandang-pandangan yang dibuat slow motion ini. Yato mempunyai ide. Ia memegang bahu Hiyori dan memasang puppy eyes terampuhnya. Biarlah harga diri jatuh di depan murid sendiri, asal jangan sama warga satu distriknya; terutama ibu-ibu.

Ingat kawan, gosip itu lebih kejam daripada pembunuhan ―by Yato.

"Tolong belikan aku sekotak susu bayi."

Hiyori kedip-kedip heran. Masih mencerna kalimat Yato barusan.

Tolong.

Belikan.

Aku.

Sekotak.

Susu.

Bayi.

.

..

...

BAYI ?!

Jangan-jangan, Yato-sensei―

Hiyori menutup mulutnya tak percaya. Asumsinya melesat bak komet Halley. Meluncur dengan cepatnya.

"Yato-san? Iki-san?"

Seorang bergabung lagi dalam momen tak terduga itu. Pria berkacamata datang dari arah lain dan berhenti sebentar saat melihat Yato dan Hiyori.

"Kazuma? Ngapain? Mau belanja? Hm?" Yato menaik-naikkan alisnya. Kampret, mengapa Kazuma datang di saat yang tidak tepat, hah? Yato harus menyingkirkannya segera.

"Ah, tadi Veena mengirimiku pesan untuk menjemputnya."

Hiyori yang gak mudeng di sini. Veena itu siapa? Terus kenapa Kazuma-sensei juga ada di sini?

( Hiyori hanya tahu wanita penjual nasi padang itu bernama Bishamon )

"Heh? Kenapa kalian tidak segera menikah saja? Kan kalian sering bersama, nurufufufu." Yato cengar-cengir. Kazuma membetulkan letak bingkai kacamatanya,

"Yato-san, sudah kukatakan aku tidak―"

"Kazuma!"

Teriakan itu berasal dari mpok Bishamon yang baru aja keluar dari minimarket sambil membawa dua plastik besar.

Kazuma tampak gugup, dia hanya berkata, "Hai, Veena."

Hiyori baru konek setelah sekian lama berpikir keras Veena itu siapa. Apa itu nama samaran mpok Bishamon? Jadi, Kazuma-sensei dan mpok Bishamon...

Hiyori menutup mulut makin rapet.

"Sedang apa kau di sini, Kazuma?"

'Pembohong' batin Yato.

"Aku..kebetulan melihat Yato-san dan Iki-san di sini.." Cih, munafik kau Kazuma. Pakai berkelit segala.

"Lalu, kau sedang apa Yato? Iki-san?" Atensi Bishamon teralih pada Yato, pelanggan setianya di warung. Lalu menurun pada Hiyori.

Hiyori kelagapan menjawab. Dijauhkan tangan dari mulutnya. Bagaimana ini? Apa yang harus ia jawab? Tidak mungkin kan ia menjawab "Aku datang ke minimarket untuk membeli fullo demi membayar suap tadi pagi, teehee!"

Teehee ndasmu.

Hiyori berpikir keras. Tapi ia kehabisan kata, panik harus beralasan apa.

Apa...yang harus ia jawab?

"Ya-Yato-sensei..."

Kazuma dan Bishamon menunggu perkataan Hiyori selanjutnya. Yato ngorek kuping, ada laron masuk tadi.

Hiyori menelan ludah, ini pilihan terbaik demi menghindari masalah konspirasi stik fullonya.

Mengalihkan pembicaraan pada yang lain.

"Yato-sensei ingin membeli susu ba―"

Yato mendadak konek, menarik ujung syal Hiyori sekencang tajam pada salah satu siswinya itu. Kampret lo curut.

"A-akhhh.." Hiyori tercekik. Lehernya sakit bukan main. Gue sumpahin Yato-sensei gak bakal diangkat jadi PNS.

"Jaa! Kami ada urusan!" Yato membawa Hiyori ke tempat lain, meninggalkan Kazuma dan Bishamon yang melempar pandangan tanya.


Bersambung


balesan review

Aia Masanina : yoo ini udah lanjut hei kamu jangan mager temenin gue 8'(( /narikAia-san
QiYamiharu: udah ni..shojiki shoginya masi progress haha/buntuide
Kuromaki101 : okesip ini udah lanjut
moronsfr : saya juga mau 8'DDD /nyarifullo
reycchi : ini udah lanjut eakk trims
Tiramisu-chan30 : okok, udah nih semoga menikmati
AyakaMirune : TADAAAA INI LANJUTANNYA/tereak
mieko yumeishi : thanks udah mampir eaa, salam, sainganmu/ga
Frazka 15 : jangan gitu dong gajinya aja seret doain dipecat sekalian/kejem
Yamashita Aruka : sebagai mantan siswa, panda tuurt merasakan hal yang sama 8"DDD terimakasih sudah membaca~!

.


*) itu beneran terjadi, di Afrika kalau mau nyebrang sungai pake batu biar gak anyut badannya.

Hahahahaha seiring berlalu bergulirnya waktu membuka rahasya di antara kita~ #1000KoinUntukYato #RecehILoveIt

Maaf garing banget ahhhh aku gak tau mau nulis apa jarang lagi liat acara lawak ukh ;;w;; #nanges

semoga gak mengecewakan #yha

siluman panda