Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: OOC, typo, etc.

Terinspirasi dari komik hasil razia ¾ romantica (kira-kira begitulah judulnya) dengan perubahan di sana-sini.

.

Happy Reading

.

"Teng, Teng, Teng…"

Bunyi bel tanda sekolah telah usai disambut bahagia oleh seluruh siswa Suzuki High School.

"Hinata-chan, kau tidak ada tugas hari ini kan?" tanya Shion pada Hinata yang tampak berkemas-kemas.

"Begitulah, Shion-chan. Semua buku agenda telah kucek tadi saat, tidak ada guru. Jadi hari ini aku bisa pulang cepat." Jawab Hinata dengan wajah berseri-seri.

"Ayo, pulang bersama." Ajak Shion yang dijawab anggukan oleh Hinata. Kedua gadis itu akan keluar saat seseorang menarik tangan Hinata.

"Maaf, ya. Hyuuga-chan, akan pulang bersamaku." Ternyata Sasuke yang mencekal tangan Hinata.

"Eh,kenapa Uchiha-san?" tanya Shion sewot karena dilarang-larang begitu saja.

"Karena sekarang, Hyuuga-chan adalah pacarku."

"HUWAAAA?" tidak hanya Shion, tapi seluruh kelas tampak terkejut mendengar pernyataan dari Sasuke, tak terkecuali Hinata yang tampak melongo.

"Aku pasti mimpi!" kata Shion syok.

"Uchiha-kun." Hinata hanya bisa menatap Sasuke, meminta penjelasan.

"Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya Shion tidak percaya.

"Memangnya kenapa? Apa tidak boleh kami berdua pacaran? Kami ini sedang dilanda cinta, lho." Jawab Sasuke disertai dengan kerlingan mata kepada Hinata. Membuat Hinata melongo seketika.

"Sudah, ya. Aku mau pulang dulu. Ayo, Hyuuga-chan." Pamit Sasuke sembari merangkul Hinata.

Sementara Shion hanya bisa menatap kepergian mereka dengan jiwa yang masih terguncang.

"Perasaanku tiba-tiba tidak enak." Gumamnya.

….

"Uchiha-kun kenapa mengatakan bahwa kita pacaran?" tanya Hinata saat berjalan menyusuri Sungai Kento, sungai berair jernih yang membelah kota Konoha.

"Apa tidak boleh, bila aku ingin menjadi pacarmu?" tanya Sasuke dengan wajah manyun.

"Bukan seperti itu. Tapi, ini terasa sedikit aneh." Kata Hinata tanpa menyadari tatapan kesal dari Sasuke.

TEP! Langkah Sasuke terhenti dan langsung memegang pundak Hinata.

"Dengar, aku menyukaimu. Dan kurasa, tidak salah apabila menjadikanmu sebagai pacarku." Kata Sasuke to the point.

Hinata terdiam. Ditatapnya mata Sasuke. Entah kenapa gadis itu merasakan bahwa tatapan Sasuke penuh rasa cinta, tapi bukan untuknya.

"Apa kau yakin, Uchiha-kun? Apa kau sungguh-sungguh?" tanya Hinata sedikit ragu.

Sasuke segera meraih Hinata, membawanya kedalam pelukannya. "Aku serius, melebihi yang kau duga. Aku akan buat kebahagia mendatangimu." Bisik Hinata yang membuatnya langsung melayang.

Dan dipinggir Sungai Kento, menjadi saksi cinta seorang gadis.

….

"Apa kau yakin ingin memakai baju ini Hinata-chan?" tanya Shion pada Hinata yang sedang sibuk mencoba satu per satu pakaian yang ada di situ.

"Ah, aku bingung Shion-chan. Semuanya bagus sekali." Keluh Hinata pada sahabatnya itu.

Shion tersenyum, "Sudah percayakan saja kepadaku." Kata Shion lalu mengambil satu stel baju dari lemari pakaiannya.

Sekarang ini kedua gadis itu sedang berada di kamar Shion, bersiap-siap untuk kencan Sasuke dan Hinata besok.

Tapi kenapa di kamar Shion?

Sebenarnya Hinata ingin berdandan sendirian hingga dia menyadari tidak ada baju yang layak di lemarinya, selain gaun malam yang mewah, kimono, dan yukata. Tentu ini bukan kencan di pesta peresmian perusahaan, atau acara pernikahan, dan festival musim panas. Jadi intinya, pakaian milik Hinata sangat tidak layak pakai untuk situasi seperti ini.

"Aha, bagaimana dengan yang ini?"

Sebuah dress tanpa lengan berwarna putih susu dengan hiasan renda di bagian leher dan pinggirannya serta sebuah pita di bagian pinggang sebelah kiri. Simple, tapi manis.

"Wah, cantiknya. Aku suka sekali. Shion-chan pintar sekali memilih baju." Puji Hinata.

"Kau bilang ini cantik? Aku lebih suka tipe busana cocktail atau kasual. Itu baju pemberian temanku sewaktu tingkat pertama. Untukmu saja lah. Aku tidak suka." Jawab Shion yang sibuk membuka alat make upnya.

"Kau bisa memakai make up bukan?" tanya Shion lagi, Hinata mengangguk.

"Aku bisa minta tolong pada Hanabi-chan atau Karin-nee."

"Baiklah, semua sudah siap! Sekarang, kau bisa pulang dan aku ingin tidur siang." Ujar Shion sembaari tertawa.

"Ish, kau mengusirku ya Shion-chan? Jahat!" kelakar Hinata.

Segera diraihnya alat-alat make up milik Shion dan bersiap-siap kembali pulang, tapi suara Shion menginterupsi tindakannya.

"Apa kau yakin dengan Uchiha itu?"

Hinata menoleh dengan pandangan sayu, "Iya aku yakin Shion-chan." jawab Hinata lirih.

"Kau sungguh-sungguh?" tanya Shion lagi. Nada kekuatiran terdengar getir dibalik suara lembutnya.

"Tidak perlu kuatir Shion-chan. Uchiha-kun orangnya baik dan menyenangkan. Kau harus mengenal Uchiha-kun lebih baik lagi." Saran Hinata sembari tersenyum.

"Baiklah. Tapi bila ada apa-apa beritahu aku. Akan kusantet pemuda ayam itu bila berani menyakitimu." Tegas Shion yang mengundang gelak tawa Hinata. Sahabatnya itu benar-benar paranoid.

"Tenang saja, Shion-chan."

...

"Apa kau yakin ingin memakai gaun itu? Maksudku kau pasti akan kedinginan, Hyuuga." Sasuke bertanya dengan nada sangsi.

Hinata memang terlihat cantik memakai gaun putih tersebut. Tapi, yah, itu terlalu terbuka. Karena tidak memiliki lengan dan tidak berkerah. Terlalu banyak bagian yang kekurangan bahan, Hinata bisa masuk angin bila begini.

"Um... aku baik-baik saja Uchiha-kun. Aku bawa syal kok." Bantah Hinata.

"Syal saja tidak cukup Hyuuga."

Meskipun sekarang sudah masuk musim panas, tapi angin dingin saat musim semi masih terasa. Tapi untuk memakai mantel atau baju hangat sepertinya terlalu berlebihan.

"Tapi Uchiha-kun, ini kan sudah masuk musim panas. Jadi kalau memakai mantel pasti akan sang-"

"Tidak perlu memakai mantel. Kau bisa kan memakai jaket. Nanti kalau ada pemuda nakal yang mencolek tubuhmu, bagaimana?" oke, kali ini Sasuke terdengar berlebihan.

"Aku tidak ingin pacarku dicolek-colek orang dan dianggap rendah." Hinata agak tersentak. Semburat merah tampak di wajah Sasuke, mendebarkan jantung Hinata dengan keras.

"Kau itu berharga tau!" kali ini Hinata yang merasakan panas di wajahnya.

Uchiha Sasuke memperdulikannya. Menganggapnya berharga.

Apa dia boleh merasa senang sekarang?

"Baiklah..." kata Hinata sembari mengambil sebuah sweater berwarna krem dan memakainya.

"Apa begini tidak apa-apa?" tanya gadis itu dengan senyuman manis di bibirnya.

"Sempurna!" puji Sasuke sembari menggandeng tangan Hinata.

"Ayo kita jalan-jalan."

...

Hinata tersenyum-senyum sendiri di balik tumpukan buku agenda yang diperiksanya. Kadang tawa renyah terdengar dan suara hentakan buku menyusul beberapa menit kemudian.

Gadis itu tidak bisa menghilangkan bayangan dirinya dan Sasuke saat berjalan-jalan di sekitar kota Konoha tadi malam. Dan mengingat semburat di wajah Sasuke saat mengatakan bahwa dia adalah gadis berharga.

"Hei, Hyuuga. Berhentilah bersikap aneh dan segera antar buku-buku itu ke ruang guru." Shino muncul dengan tatapan dingin dibalik kacamata hitamnya.

"Kami ingin segera memulai tugas piket kami dan sepertinya kau menganggu kami." Dengan segera Hinata mengangkut buku-buku tebal tersebut dan berlari menuju ruang guru. Hampir lupa kalau sekarang kelas telah berakhir.

"Kau sudah mau menikah ya, Sakura?"

Hinata berhenti melangkah saat suara yang sangat dikenalnya terdengar.

"Kau tidak harus menanyakannya, Sasuke. Aku sudah cukup banyak membuatmu menderita. Mulailah cinta yang baru."

Dan suara itu membuat Hinata membatu.

Apa yang terjadi? Bukankah itu Haruno-sensei dan Uchiha Sasuke-kekasihnya?

"Aku tak percaya padamu! Kau hanya ingin membuatku menjauh bukan?"

"Sasuke, kau harus mulai bersikap dewasa!"

GREB!

"Aku lelah Sakura. Bila kau tidak mau melanjutkannya. Akhiri saja! Akhiri ini semua."

Dan tepat saat tangan Sasuke melingkari bahu Sakura serta dahunya berseder di sisi kepala Sakura, Sasuke melihat helaian indigo dan sepasang mata jernih yang mengamati mereka berdua dengan intens.

Hinata yang berdiri mematung berpaling dan berjalan pelan. Kembali ketujuan semula. Menuju ruang guru dengan tenang, seolah tidak menyaksikan kejadian yang harusnya membuatnya menangis. Atau kita salah, Hinata memang sudah menangis atau sedang menangis. Tapi yang pasti hatinya kini sedang kacau.

Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Melanjutkan atau mengakhiri?

...

Seminggu berlalu sejak peristiwa itu. Baik Sasuke maupun Hinata tidak ada yang berkomentar tentangnya. Namun mereka masing-masing belum ada yang berani menghubungi satu sama lain. Tapi yang pasti Hinata kembali ke rutinitasnya semula. Berkutat dengan buku agenda dan tugas-tugas dari guru.

"Hey, Hyuuga. Kenapa aku tidak pernah melihatmu dengan Uchiha lagi?" tanya Ino dengan penasaran. Gadis Yamanaka tukang gosip itu memang selalu ingin tahu. Tapi Hinata sedang tidak terlalu berminat untuk membahasnya.

"Kami sedang sibuk dengan tugas masing-masing." Jawab Hinata sekenanya.

"Apa kalian putus?" kali ini suara Tenten terdengar.

"Mungkin." Jawab Hinata agak malas. Tapi dalam hatinya persetruan dimulai, ingin mengakhiri dan masih ingin melanjutkan. Semuanya membuatnya pusing.

"Ehhem... Bagaimana kalau kita ke tempat karaoke saja?" usul Ino.

"Jangan! Ke night club tempat tongkrongan kita saja!" usul Tenten.

"Benar. Iya kan Hyuuga? Kita harus ke sana! Kau butuh penyegaran setelah diputuskan oleh Uchiha."

Sejenak Hinata teralihkan dari tumpukan buku agenda dan menatap Ino dan Tenten bergantian. Bingung.

"Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut. Aku harus ke perpustakaan, belajar ujian Sastra Jepang minggu depan." Tolak Hinata halus namun sangat terlihat bila ia sangat tidak berminat.

"Dan aku butuh waktu untuk sendiri." Gumamnya.

...

Hinata belajar terlalu keras. Sangat keras. Bahkan batinnya yang terluka kini bertambah parah. Rasanya tidak ada ruang untuknya bernafas. Ingin berteriak tapi tidak mampu. Awalnya dia ingin mengalihkan masalahnya pada pelajaran, fokus pada Ujian Sastra Jepang yang akan dilaksanakan minggu depan. Tapi parahnya semua referensi yang dibacanya mengulas tentang kisah cinta romansa dan puisi roman picisan yang malah membuat Hinata semakin stres.

"Apa yang harus kulakukan?" gumam Hinata putus asa.

"Kau hanya perlu berhenti menggerutu dan mulai melepas pakaianmu." Suara asing dan gelak tawa terdengar di belakang Hinata.

Sialnya dua orang preman membuntutinya hingga ke jalan yang sepi ini. Sial sekali batin Hinata.

"Jangan mendekat!" cicit Hinata ketakutan.

Kedua preman tersebut hanya tertawa, bergairah terhadap mangsa mereka.

"Jangan mendekat! Atau aku akan..."

"Akan apa? Berteriak? Silahkan nona, tidak akan ada yang mendengarmu. Di sini sangat sepi, kau lihat?"

Hinata ketakutan. Kakinya terus melangkah mundur berusaha menjauh. Namun sang pemburu tidak akan membiarkan mangsa mereka lepas.

"Toloooooongggg...!" teriak Hinata, "Toloooongg akuu...!" pekik Hinata ketakutan.

"Uchiha, tolong aku!" panggil Hinata lirih.

BUKKK!

...

Sepasang mata gelap menatap Hinata tajam. Gadis yang terbaring tak berdaya di jalanan itu hanya bisa memburu nafas. Ketakutan yang paling besar masih belum mau pergi dari tubuhnya.

Sama seperti Hinata, sosok pemuda berkulit putih itu juga hanya menghela nafas dan menghembuskannya keras. Masih tersengal-sengal akibat kegiatannya tadi.

"Uchiha Sasuke"

GREB!

"Hinata-chan, kau tidak apa-apa?" Sasuke memeluknya erat. Seolah tidak mau kehilangan dirinya. Atau memang benar, Sasuke memang tidak mau kehilangan gadisnya. Lagi!

"Apakah aku terlambat? Apakah mereka sudah melukaimu?" Hinata hanya menangis.

"Kenapa kau ada di sini?" tanya gadis tersebut sesunggukan.

Sasuke menatapnya tajam. "Kenapa kau bertanya begitu?"

"Kenapa kau malah ada di sini? Kenapa kau malah menyelamatkanku? Kenapa kau malah me-,"

Kata-kata Hinata terputus saat bibir Sasuke menghambatnya. Sebuah kecupan. Yang membingungkan Hinata.

"Kenapa?"

"Kenapa apanya? Bukankah wajar bila aku mencium orang yang kucintai."

Hinata mencengkram erat baju Sasuke. "Tapi, Haruno-sensei?"

...

"Akhiri saja Sakura!" Sasuke memeluk Sakura.

"Tidak apa-apa kau menikah dengan Itachi-nii. Akhiri saja hubungan kita ini." Bisik Sasuke.

Sakura terbelalak. "Sasuke, kau..."

Sasuke tertawa lepas. Tawa yang biasa ditunjukkannya pada Sakura.

"Aku merasa malu, sudah bersikap kekanak-kanakan pada kalian berdua."

Sakura tertawa, "Apa yang membuatmu bisa jadi begini Sasuke-kun?"

"Seseorang. Dia berhasil menyeretku ke dunia nyata. Rasanya menyenangkan saat bersamanya. Meskipun sekilah dia terlihat lemah, tapi bukan berarti dia tidak bisa kalau tidak ada aku." Sasuke tersenyum, mereogoh sakunya dan menatap fotonya bersama Hinata.

"Malah aku yang tidak bisa kalau tidak ada dia."

Sakura menyentuh bahu Sasuke, "Aku tahu kau pasti tidak mau memberitahukan siapa dia. Tapi kau harus membawanya ke pesta pernikahan kami."

"Tentu saja, Sakura-nee."

...

"Hayo tebak, aku lagih ngomongin siapa coba?"

"Bisakah sekarang aku mengatakannya?"

Hinata mencengkram erat baju Sasuke.

"Suki da yo..."

Melihatmu membuatku tersihir

Tatapanmu menyadarkanku bahwa kebahagiaan harus dikejar

Tapi senyummu mengingatkanku bahwa, semua mampu terjadi

Fin –

I am comeback...! Ada yang kangen gua kagak? Gua kangen lu pada tauk. Mewek dah gua... Udah ah, arigatou sudah mampir.