They (Never) Know: Hope(less) pt 1
Rated: T+ (Pastikan bahwa kalian setidaknya berumur 15 tahun)
Warn : Out Of Character, Alur yang terlalu cepat, dan terjadi error disana-sini.
- Taehyung x Jungkook -
Seluruh cast bukan milik author, tapi cerita ini milik author.
This Story Belong to Breathinginlove (SS).
..
..
..
Two Years Later
Jerman.
Jungkook menggenggam kopernya dengan erat, setelah dulu gagal untuk memerbaiki hubungannya dengan Taehyung ia bertekad untuk menyusul Taehyung dan mengatakan bahwa ia benar-benar mencintai pria itu.
Jungkook sudah mengumpulkan informasi dari Jimin dengan susah payah, mengekori kakak kelas yang ternyata rumahnya terletak tak jauh dari rumahnya sendiri. Jimin sungguh kawan yang menjaga rahasia dengan baik, Jungkook nyaris dibuat menyerah untuk mengetahui nama universitas tempat Taehyung berkuliah. Beruntung pada akhirnya Jimin luluh dengan kegigihan Jungkook yang datang hampir setiap hari terutama saat weekend dan mengganggu acara kencannya dengan Yoongi. Sebenarnya sih Jimin sudah muak hingga akhirnya membocorkan rahasia keberadaan Taehyung, itupun hanya kotanya saja.
"Yoongi hyung! Jimin-ah!" Jungkook berteriak saat kakinya menginjak lantai dua rumah itu. Oh, sudah hampir 6 bulan ini ia terus datang kesini dan betapa beruntungnya ia karena ternyata ibu dari senior nya itu merupakan sahabat ibunya. Jungkook patut bersyukur karena ia jadi bisa leluasa masuk, bahkan terkadang bibi Park lebih peduli padanya dibanding peduli pada Jimin yang notabene nya adalah anak kandungnya.
'Kau kan sudah besar, lagipula ada Yoongi yang mengurusmu.' Ucap bibi Park saat Jimin mengeluh kenapa ibunya lebih memilih membela Jungkook. Tentu saja Jungkook tertawa iblis mendengarnya.
Hari ini bibi Park sepertinya sedang pergi keluar rumah dan membiarkan Jimin serta Yoongi tinggal berdua saja. Tapi sepertinya Jungkook paham apa yang sedang kedua kakak beda darahnya itu lakukan. Desahan, teriakan, woah, woah, Jungkook jadi punya ide Jahil.
"Ah, Jim.. Lebih dalam.."
"Ugh, kauhh ketathh sekalihh hyungghh.."
Jungkook tertawa, mungkin dulu ia akan canggung ketika mendengar ini tapi sekarang ia justru tertawa kegirangan. "Jiminie, aku datang~~" ucapnya berteriak di depan pintu kamar Jimin.
"AGH! SHITTHH! AHH, PULANG AH SANAH! KAU–
AGH MIN YOONGI, KAUUH AHH NIK–"
BRAK!
"Ups, tanganku tergelincir." Jungkook tertawa kecil, seakan tak merasa bersalah ia kembali menutup pintu kamar itu setelah berhasil membukanya dan menghentikan kegiatan Jimin dan Yoongi di dalam sana.
"ARGH! SIALAN KAU JEON!" Jimin berteriak kesal, ia menarik miliknya keluarga dari dalam lubang Yoongi.
"Akh! Pelan-pelan, bodoh!" Yoongi memukul kepala Jimin karena Jimin mengeluarkan miliknya dengan tergesa dan sedikit kasar.
"Maaf hyung.." Jimin mengecup kening Yoongi dengan lembut, "kita lanjutkan nanti setelah aku menendang bocah itu keluar." Jimin turun dari atas ranjang dan mengenakan boxer nya dengan cepat. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh naked kekasihnya sebelum pergi menemui bocah pengganggu yang ia yakin berada di ruang keluarga.
Yoongi tersenyum kecil, " yang cepat, kay?"
Jimin mengangguk, tanpa perlu repot mengenakan baju ia berjalan sambil memamerkan six pack nya dan menuju tempat Jungkook berada.
"Shit! Jeon fucking damn Jungkook!"
Jungkook hanya tertawa, senyum jahil tercipta di wajah tampannya.
"Berhenti mengganggu kami!" Jimin mendudukan dirinya di sofa yang bersebrangan dengan Jungkook, "apa sih maumu?"
"Kan aku sudah katakan, pokoknya kalau–"
"Munich. Taehyung di Munich. Aku hanya akan memberitau itu saja."
"Kejam~ Jiminie tidak kasihan padaku?" Jungkook memelas.
"Yah bocah ini, sudah untung aku mau memberitaumu!"
"Kau bodoh ya Jungkook? Kenapa kau tidak bertanya saja ke administrasi sekolah tentang siswa yang mendapat beasiswa keluar negeri? Bukankah itu lebih mudah?"
Jungkook mendongak, ia menatap Yoongi yang tiba-tiba datang dan tengah berjalan menuju Jimin. Ia bergumam pelan, "sial, iya juga ya.."
"Nah adik kecil, sekarang bisa tinggalkan kami? Atau kau mau melihat live action, hmm?" Yoongi ber-smirk ria, ia menantang Jungkook dengan pose nya yang berada di pangkuan Jimin.
Jungkook merinding, ia menggeleng keras. "Tidak mau! Aku mau pulang. Terimakasih ya Gula hyung, dan Jiminie pabo!"
"Yah! kurang ajar!" Hampir saja Jimin ingin mengejar Jungkook yang sudah berlari menuju pintu, namun karena kekasihnya berada di pangkuannya, jadi.. bukankah lebih baik ia menyantap kekasihnya saja?
"Mau melanjutkan sekarang, disini?"
"Boleh juga," dan yah, jawaban Yoongi membuat dua insan itu kembali sibuk 'berperang'.
.
.
Mengingat hal yang sudah lalu itu, Jungkook jadi kesal sendiri. Cinta terkadang membuat kita tidak bisa berpikir dengan baik. Karena betapa bodohnya ia, kenapa ia mau bersusah payah mengekori Jimin kalau sesungguhnya ia bisa bertanya ke pihak administrasi sekolah seperti yang Yoongi katakan. Tapi tidak apa-apa, anggap saja itu salah satu usahanya untuk mengejar Taehyung.
Dua tahun, dua tahun Jungkook menahan diri dan berjuang keras untuk bisa pergi ke Jerman menyusul Taehyung. Ia berhasil masuk ke Universitas yang sama dengan Taehyung, tentunya ini juga kebanggaan baginya karena bisa menerima beasiswa di Jerman.
Jungkook menoleh, mencari seseorang yang pihak universitas janjikan untuk menjemputnya. Mata Jungkook membulat, bukan karena ia berhasil menemukan seorang pria dengan papan nama bertuliskan namanya, tetapi karena pria itu adalah Taehyung.
Taehyung masihlah tampan, dengan rambut yang sudah berubah warna menjadi dark brown dan ditata ke atas, jaket kulit hitam yang ia gunakan makin memancarkan ketampanan dan karisma seorang Kim Taehyung.
Jungkook tersenyum, dengan cepat menarik kopernya dan berlari menuju ke arah Taehyung yang tidak terlihat mengeluarkan ekspresi sama sekali.
"Hyung!" Jungkook memeluk Taehyung dengan erat, namun Taehyung mendorongnya dengan cepat pula. Jungkook ingin bertanya kenapa Taehyung mendorongnya, tetapi Taehyung justru menarik koper miliknya dan berjalan lebih dulu tanpa ingin menjelaskan apapun.
Taehyung berhenti di pintu keluar bandara, ia menyingkir dan menghubungi seseorang kemudian berbincang menggunakan bahasa Jerman yang lancar.
Jungkook diam, ia menatap Taehyung yang seakan bersikap dingin padanya. Jungkook meniup tangannya, sikap Taehyung sedingin tiupan angin musim gugur.
"Kenakan." Taehyung melempar jaket yang tadi ia pakai ke arah Jungkook, Jungkook menerimanya dan memakainya tanpa bertanya lagi. Jungkook tersenyum, setidaknya Taehyung masih peduli padanya.
Jungkook senang mereka tidak harus menunggu lebih lama karena sebuah mobil sudah berhenti di hadapan mereka, kepala seseorang menyembul melalui jendela mobil dan menyapa mereka dengan hangat.
"Jeon Jungkook? Wah, kau terlihat sangat tampan. Aku berani bertaruh kalau kau akan menjadi the next of Kim Taehyung. Welcome to Jerman Mr. Jeon"
Jungkook tersenyum, menyapa balik lelaki pria paruh baya itu dengan senyum lebar yang terpatri di wajahnya.
"Kita ke asrama untuk meletakkan koper terlebih dahulu sebelum pergi untuk mengurus keperluanmu yang lain."
"Ayo lah Taehyung, jangan kaku. Kita ajak Mr. Jeon berkeliling sebentar untuk melihat Jerman, bagaimana?"
"Aku tidak bisa."
Pria paruh baya yang tengah menyetir itu tertawa pelan mendengar jawaban Taehyung, "wanita mana lagi yang mengajakmu berkencan?"
Jungkook mengerjap, ia menatap penuh ingin tau pada dua orang yang duduk di depan. Jungkook belum bisa berbahasa Jerman dengan lancar tapi setidaknya ia sedikit mengerti. Ada sesuatu dari percakapan mereka yang menarik perhatiannya, wanita dan kencan. Apakah Taehyung berkencan dengan banyak wanita selama dia di Jerman?
"Paman, aku tidak sedang mengencani gadis manapun. Because I already have someone that I adore."
"Really? Ask her to go out. You have to enjoy your life, berhenti mengencani buku-buku tebal Taehyung. Ajak dia keluar, nikmati masa mudamu."
"If only I could." Taehyung melirik kaca mobil yang memantulkan wajah Jungkook, ia merindukan Jungkook. Bolehkah ia berharap kalau Jungkook mengambil beasiswa disini untuk menyusulnya? Jimin sudah memberitahunya tentang Jungkook yang mengganggu hari-hari sahabatnya itu demi mengetahui nama universitas yang memberinya beasiswa. Harusnya ia marah pada Jimin karena pria itu memberitahukan kemana ia pergi. Tetapi tidak, saat ini ia justru merasa sangat berterima kasih pada pria itu. Tapi di sisi lain ia merasa kalau tidak seharusnya ia masih mengharapkan Jungkook, bagaimanapun ini sudah dua tahun berlalu dan seharusnya hanya tinggal sebuah kenangan di antara mereka.
"Hei Mr. Jeon, you have to know this, just for your information, Kim Taehyung is really popular in our university. Dia bisa berkencan dengan wanita yang berbeda-beda setiap harinya jika dia mau."
"Really?"
"Ya, dia tampan kan, otak encernya juga membuatnya di percaya menjadi ketua mahasiswa. Tapi Taehyung ini jarang sekali berbagi senyum, rautnya sedingin es. Dia bahkan menolak para wanita dan memilih tenggelam menjadi kutu buku di perpustakaan atau sibuk dengan bola bundar berwarna orange nya."
"Paman, berhenti mengolok-ngolokku."
"Oh c'mon Taehyung, santai sedikit, Mr. Jeon perlu tau tentang ketua mahasiswa sekaligus ketua asramanya."
"Bukankah Taehyung murah senyum?" Jungkook bertanya sambil berusaha untuk menatap wajah Taehyung yang sedikit terganggu dengan obrolan mengenai dirinya.
"Kau bercanda, anak ini keras seperti batu. Ngomong-ngomong kalian berdua berasal dari Korea, apakah kalian saling mengenal?"
"Paman, Korea itu luas. Mana–"
"Ya, aku mengenalnya. Dulu Taehyung adalah kakak kelasku.."
"Oh benarkah? Aku terkejut mendengarnya. Bagaimana Taehyung dulu?"
"Lebih baik Paman fokus menyetir saja, itu lebih baik daripada membicarakan masa lalu!"
Jungkook bungkam, ia mengurungkan diri untuk menceritakan Taehyung yang ia kenal dulu.
.
.
.
"Ini kamarmu, ranjangnya dua karena kau akan menempatinya berdua. Aku tidak yakin, tapi mungkin teman sekamarmu baru akan sampai di Jerman besok, dan juga di asrama tidak ada dapur, tapi kau bisa meminta ijin untuk menggunakan dapur kantin kalau ingin memasak sesuatu." Jungkook menatap Taehyung tanpa mendengarkan penjelasan yang pria itu berikan dengan baik.
"Aku akan mengantarmu ke bagian administrasi besok jam 7 pagi, lalu–" Taehyung menghentikan ucapannya ketika ia sadar bahwa Jungkook tidak memperhatikan penjelasannya.
"Mr. Jeon, aku sedang berbicara denganmu."
"Mr. Jeon!" Jungkook tersentak, ia tersadar dari lamunannya karena suara kencang Taehyung.
"Maafkan aku hyung, aku tidak fokus."
Taehyung berdecih kesal, sudah ia duga. "Dengar Mr. Jeon, aku hanya akan mengulang bagian ini. Aku akan mengantarmu ke bagian administrasi kampus besok pukul 7 pagi."
"Hyung, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kenapa kau tiba-tiba memilih pergi?"
"Aku tidak menjawab pertanyaan yang tidak berkaitan dengan perkuliahan." Taehyung berbalik menuju pintu, tetapi langkahnya berhenti karena Jungkook menahan lengannya.
Taehyung memandang dingin ke arah tangan Jungkook yang menahannya, "apa yang kau inginkan?"
"Jawab pertanyaanku."
"Aku sudah bilang kalau aku tidak menjaw–"
Bruk!
Taehyung meringis merasakan punggungnya yang terasa sakit, Jungkook mendorong tubuhnya ke arah pintu dengan kencang.
"Hyung.." Mata Jungkook berkaca-kaca dan hampir meneteskan air matanya.
"Aku tidak suka.. Aku tidak suka.." Jungkook menggeleng kencang, ia mengigit bibir bawahnya untuk menahan tangis.
Taehyung mengerutkan alisnya, ia mendorong Jungkook yang menahannya. "Apa yang sebenarnya kau ucapkan? Kau membuang-buang wak–"
Taehyung terasa seperti tersengat, Jungkook menciumnya. Ia bisa merasakan bibir Jungkook bergetar, Taehyung mengernyit merasakan asin dalam ciuman mereka. Matanya membesar, Jungkook menangis.
Taehyung mendorong Jungkook untuk melepas ciuman mereka, "kenapa kau lakukan ini?"
"Karena kau milikku!"
Taehyung berdecih meremehkan, "aku? Milikmu? Sejak kapan? Seingatku, aku adalah pria bebas yang–"
Nanar. Mata Jungkook yang menatapnya dengan tatapan menyedihkan membuatnya membeku, ia merasa berat ketika melihat mata yang dulu sering ia kagumi itu basah dengan air mata.
Taehyung melunak, ia menghapus air mata yang mengalir di pipi Jungkook. "Jangan menangis, jangan menangis karena pria brengsek sepertiku.."
Jungkook memeluk Taehyung dengan erat dan menggeleng, "hyung kekasihku. Pokoknya kekasihku!"
Taehyung tersenyum kecil, ia mengelus rambut Jungkook dengan pelan. "Lalu bagaimana dengan-"
"Aku sudah putus dengan Jieun Nuna, hyung bukan kekasih rahasiaku lagi. Hyung kekasihku satu-satunya!"
"Jungkook, bagaimana kalau aku sudah memiliki kekasih baru disini?"
Crap! Punggung Jungkook menegang, ia tidak pernah memikirkan hal itu. Tentu saja perasaan Taehyung padanya bisa berubah, bisa saja Taehyung sudah memiliki yang lain.
Secara perlahan Jungkook melepas pelukannya dengan tak rela, "aku tidak pernah memikirkan hal itu.."
"Atau bagaimana jika aku sudah bertunangan?" Taehyung mengangkat tangannya dan menunjukkan sebuah cincin yang melingkar dengan indah di salah satu jarinya.
Mata Jungkook membulat, sejak kapan cincin itu ada disana? Jadi ia sudah kalah? Setelah dua tahun berusaha mengejar Taehyung? Tidak! Kalau dulu ia lebih memilih bermain aman, bolehkah kali ini ia berperang demi Taehyung?
Jungkook mendorong Taehyung lagi, kali ini dorongannya tidak sekuat tadi. Ia hanya ingin membuktikan pada Taehyung kalau ia tidak akan melepas pria itu. "Aku akan merebut hyung!"
Taehyung tersenyum meremehkan dan membiarkan Jungkook menahannya. "Kau yakin? Tunanganku itu egois, ia tidak akan mengalah."
"Aku pasti menang!" Jungkook memepetkan tubuhnya ke arah Taehyung hingga tubuh mereka saling bersentuhan.
"Bagaimana kalau hatiku sudah berlabuh padanya?"
Jungkook menjawab dengan percaya diri, "aku akan membuat hyung mencintaiku lagi."
"Dengan cara apa? Tunanganku itu sangat manis, menggemaskan, dan yang jelas dia tipeku."
Bohong, Taehyung berbohong. Dua tahun lalu ibunya memintanya bertunangan dengan seseorang yang merupakan anak sahabatnya sebagai syarat agar ia boleh pergi ke Jerman, yang mana syarat itu Taehyung terima tanpa pikir panjang.
Benar bahwa ia memang menerima pertunangan yang ibunya rencanakan, akan tetapi ia belum pernah bertemu dengan wanita yang berstatus sebagai tunangannya itu. Ibunya juga seperti sengaja membiarkan Taehyung tak tau apapun termasuk nama tunangannya, beliau tau benar bahwa Taehyung tidak akan membiarkan calon tunangannya hidup tenang. Pada akhirnya Taehyung mengalah, ia mengatakan 'iya' dan dengan sedikit paksaan dari ibunya ia bersedia mengenakan cincin pertunangan.
"Aku yakin hyung akan kembali padaku."
Jungkook dengan tiba-tiba mencium bibir Taehyung dengan liar, ciumannya tak beraturan. Sesekali menghisap bibir bawah Taehyung kemudian beralih mengemut bibir atas milik Taehyung. Taehyung diam, ia membiarkan Jungkook menciumnya dengan tempo yang berantakan.
"Biarkan aku melakukannya Hyung.." Bisik Jungkook pelan di telinga Taehyung. Jungkook sedikit menundukkan kepalanya untuk membuka kancing baju milik Taehyung.
Taehyung mengerjap dengan cepat, kemudian tersadar dengan apa yang Jungkook lakukan. Ia menahan tangan Jungkook, "hentikan, ini hanya akan melukaimu. Kau tau aku sudah terikat dengan orang lain."
"Cincin itu yang mengikatmu, bukan hatimu!" Jungkook menegakkan badannya, ia menarik tangan Taehyung dan menggenggamnya. "Katakan kalau aku salah, tapi matamu.. Matamu masih memancarkan cinta untukku. Aku tidak buta kalau tatapan itu masihlah tatapan yang sama dengan dua tahun lalu!"
Taehyung menghela napas berat, ia menarik tangannya dari genggaman Jungkook. "Maafkan aku, kau benar kalau aku masih mencintaimu. Tapi cincin ini sudah mengikatku Jungkook.."
Taehyung dengan pelan mendorong mundur tubuh Jungkook untuk menyingkir dari hadapannya, "kita harus sadar bahwa hubungan kita tidak pernah punya harapan."
"Tapi dua tahun lalu Hyung bilang bahwa Hyung–"
"Itu dua tahun lalu!" Taehyung berbalik, memaksakan tangannya yang terasa amat sangat sulit ia gerakkan untuk membuka pintu.
Jungkook mengepalkan tangannya, ia berucap dengan lirih. "Kita bisa membuat harapan. Aku akan berusaha hingga harapan itu muncul dan menjadi alasan bagi kita agar terus bersama."
"Aku mungkin berengsek, tapi aku bukan orang yang bisa menjalani dua hubungan dalam waktu yang bersamaan." Taehyung menutup mata, ia menghela napas sebelum membuka matanya lagi.
"Aku pergi." Ucapnya sebelum benar-benar keluar dari kamar itu.
Jungkook menunduk, tangannya masih terkepal di sisi tubuhnya. Ia merasa tersindir dengan ucapan Taehyung, Kenapa saat ia berhasil menyusul Taehyung, pria itu justru menolak dan memilih menjauh.
"Ini juga karena salahmu sendiri Jungkook, dulu kau begitu egois.."
Jungkook mendongak, "Hwanhee?!"
"Rindu padaku?"
"?!"
.
.
You know this.
We got a love that is hopeless
.
.
TBC
Hai, aku bakal bagi sequel nya dalam 2 atau 3 part. Sebenernya aku ga suka bikin sequel untuk ff-ff di akun ini, apalagi karena aku rasa ga terlalu banyak yang minat dan minta sequel. Ehe.
Yah, tunggu aja ya next sequel nya. Ehe.
