Hai-hai~ Reyn-kun Walker kembali lagi ^0^/

Makasih banget yang udah ngedukung saia untuk meneruskan fic ini ^^

Special thanks juga buat game-game Silent Hill series (yang mobile, mesin PS saia keburu rusak sebelum sempat mainin T^T *curcol*), Persona (especially the 3rd), Higurashi no Naku Koro ni, Umineko no naku koro ni, dan manga Le Portrait de Petit Cossette; yang telah menginspirasi saia dalam menulis fic ini (lah? kok psychological-horror semua? au ah elap!)

Fic ini adalah fic adaptasi dari ide novel saia sendiri yang belum sempat dipublikasikan kemanapun, jadi harap maklum karena di sini para karakter DGM yang ngikutin casting dari saia, saia cuma berusaha nyesuain supaya karakter mereka ga terlalu OOC.

Dan FYI: 'Memento Mori' itu berasal dari bahasa Latin yang artinya kurang lebih 'remember your mortality', 'remember you will die' (info asli dari eyang saia Google dan mbah Wikipedia).

wokeh, let's begin and enjoy!

.

.


DISCLAIMER: Man belongs to Hoshino Katsura-sensei

WARNING: AU, Spiritual, Horror (will increase along with the progress of the story), Mystery (maybe a bit), some gore in next chapter and after

.

MEMENTO MORI

.

CHAPTER 1: Shadow

.

.

=LENALEE'S POV=

Gelap.

Gelap melingkupi sekelilingku.

Aku berlari, berlari, dan terus berlari. Entah apa yang membuatku merasa harus lari—atau lebih tepatnya, apa yang KUTAKUTKAN hingga aku merasa harus keluar dari sini sesegera mungkin…

Kota Mati yang seolah ditelan kelamnya warna kegelapan menjadi saksi bisu ketakutanku.

Samar-samar dapat kulihat bercak-bercak merah kental mewarnai jalan setapak yang kulalui.

Di ujung jalan, dari kejauhan, seorang bocah lelaki berpiyama hitam putih panjang menatapku nanar. Rambut putihnya yang kontras dengan warna di sekitarnya melambai ditiup angin…

Dan aku pun terjatuh. Ya, jatuh. Jatuh dalam lubang kegelapan murni yang tak berujung…

Lalu aku pun membuka mata.

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-


"Pagi, Lenalee. Tidurmu nyenyak?" sapa seorang pemuda berambut merah di depan kamar mandi.

"Hoahm… pagi, Kak Lavi…" sapaku sambil berjalan menuju wastafel. Kubasuhkan aliran air dingin keran ke wajahku, untuk menyegarkan wajahku yang tampak kuyu.

Oh ya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Lenalee Lee, 18 tahun. Umm… itu dulu, sebelum waktu kecil aku diadopsi oleh keluarga Bookman dan namaku kini berubah menjadi Lenalee Bookman. Pemuda tadi adalah kakak angkatku, Lavi Bookman (Junior), 20 tahun. Orangnya sangat baik dan ramah, juga penuh bakat. Dulu semasa sekolah dia adalah sang juara—baik akademik maupun olahraga—dan banyak yang mengidolakannya, termasuk aku. Sebagai adik aku bangga padanya, walau kami tak sedarah.

Aku membawakan nampan berisi 2 cangkir kopi dan roti bakar ke ruang tengah, sementara Lavi duduk di sofa dan menyalakan televisi. Pagi baru menjelang, tapi langit masih gelap tertutup gumpalan-gumpalan tipis awan mendung.

Aku meletakkan nampan itu di meja ruang tengah lalu ikut duduk di sofa. Di atas meja tergeletak beberapa pulpen, koran, dan buku-buku TTS kerjaan Lavi kalau sedang iseng, juga beberapa lembar kertas HVS. "Kakek belum pulang?" aku mencoba membuka percakapan.

"Nope. Tadi pagi kakek itu menelepon, katanya ia lagi ada pertemuan asosiasi lagi di Paris," jawab Lavi. "Lebih baik dia tidak ada, jadi tidak akan ada yang menceramahiku macam-macam."

Keluarga ini hanya terdiri dari Lavi, Kakek Bookman, dan aku. Orangtua angkatku meninggal beberapa tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, kemudian Kakek mengambil alih hak asuh kami. Keluarga kami bisa dibilang memiliki posisi yang cukup penting dalam masyarakat, jadi kini Kakek-lah yang menjadi perwakilan keluarga, sibuk kesana kemari menghadap publik dan jarang di rumah. Ironisnya, dengan kurangnya perhatiannya pada kami—anak-anak—ia justru terus-terusan bersikap keras pada kami dan selalu menuntut Lavi untuk selalu menjadi yang terbaik sebagai calon penerus Bookman berikutnya. Aku kasihan melihatnya.

Padahal bertahun-tahun yang lalu, saat Lavi menghilang secara misterius dalam kecelakaan mobil, orangtua Lavi begitu sedih hingga akhirnya memutuskan untuk mengadopsi seorang anak lagi—aku. Namun setahun kemudian, tiba-tiba Lavi muncul kembali, menyedot segala bentuk perhatian dariku.

Anehnya, betapapun aku selalu dibanding-bandingkan dan terus menjadi bayangannya, tak pernah sedikitpun aku bisa membencinya. Karena dialah satu-satunya orang di rumah ini yang memperlakukanku sebagai adiknya—keluarganya.

Suara televisi mengisi setiap sudut ruangan.

"—dan kini kami potong sejenak acara dengan Breaking News. Seorang wanita kembali ditemukan tewas mengenaskan di sekitar jembatan menuju pulau Kota Mati. Terhitung dari awal tahun, ini adalah kedelapan kalinya ditemukan mayat dengan kondisi serupa. Apakah ini adalah perbuatan dari seorang pembunuh berantai? Ataukah ada penyebab lain—"

'Kota Mati' adalah sebutan untuk sebuah kota kecil tak bernama yang dulu pernah eksis di atas sebuah pulau kecil—lebih tepatnya daratan yang terpisah dari daratan tempatku tinggal—beberapa kilometer dari rumahku yang sekarang. Antara 'pulau' itu dengan daratan utama terhubung dengan sebuah jembatan besar.

Sekitar 10 tahun yang lalu, seluruh penduduk kota itu mendadak mati satu per satu secara misterius. Siapapun yang mendekat apalagi memasuki daerah itu dipastikan selalu tewas. Sejak saat itu kawasan Kota Mati dianggap angker, dan tak seorang pun berani ke sana. Rumor yang menyebar mengatakan bahwa kota tersebut telah dikutuk.

Tapi entah bagaimana, aku merasa 'aneh' dengan kota itu…

Mimpi-mimpi itu, lalu anak lelaki—

"Lena? Lenalee, kau tak apa-apa?"

Suara Lavi membuyarkan lamunanku. "Hah, apa? A-aku tidak apa-apa, kok…"

"Wajahmu pucat, kau baik-baik saja?" Kini ia terdengar khawatir. "Dan… apa yang kau gambar itu?"

"He? Gambar? Aku tidak sedang menggambar apa-ap—"

Aku tertegun. Sejak kapan ada pulpen di tanganku? Lalu gambar—bukan, lukisan itu… ya ampun! Kok bisa tanpa sadar aku menggambar 'dia'? Mana gambarnya nyata begini…

"Lenalee, ini siapa…?"

Anak lelaki itu… yang selalu muncul dalam mimpiku…

"…Kau mau cerita padaku…?" tanya Lavi hati-hati.

Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. "Kak Lavi…"

"Ya, Lenalee?"

"Apa kau tahu tentang 'Kota Mati'…?"

Lavi terdiam, membiarkanku melanjutkan apa yang ingin kuceritakan.

"Belakangan ini aku sering bermimpi aneh—buruk. Aku merasa seperti berlari di tengah sebuah kota, kota yang mirip dengan 'Kota Mati'. Setting-nya selalu berubah-ubah, tapi anak ini selalu ada. Rambutnya yang putih salju, kulitnya yang pucat, piyama hitam-putihnya yang kebesaran…

Sebenarnya, siapa dia ini…?"

Lavi menyimak ceritaku dengan serius. Ekspresinya sulit kuterjemahkan.

Suara dentang jam mengagetkan kami. "Ah, sudah jam segini! Aku harus belanja ke minimarket!" seruku. "Dah, Kak Lavi! Akan kulanjutkan ceritanya nanti!"

Aku keluar rumah, merapatkan mantelku. Angin dingin berhembus cukup kencang. Aku masih merasa kedinginan walaupun sudah memakai baju tiga lapis. Terhuyung-huyung aku berjalan menutup pagar.

"Selamat pagi, kak."

Aku menoleh. Seorang gadis kecil berusia sekitar 13 tahun menyapaku. Pakaian semi-lolita membalut tubuhnya yang mungil. Sedikit pita menghiasi rambut hitam pendeknya yang agak spiky. Ia tersenyum padaku. Aku baru kali ini melihatnya, mungkin anak baru.

"Ah, selamat pagi," jawabku agak kikuk. "Kau baru pindah kemari? Aku baru pertama kali melihatmu."

"Ya, begitulah," jawab gadis itu lagi. "Namaku Rhode Camelot. Aku penghuni baru di sini. Rumahku di ujung blok sana, kau tahu kan? Yang dulunya rumah kosong. Senang berkenalan denganmu."

Ia mengulurkan tangannya yang kurus terbalut hiasan-hiasan pita dari bajunya, bisa kulihat kuku-kukunya yang hitam. "Ah, ya. Namaku Lenalee Bookman. Senang berkenalan denganmu juga."

Aku hendak membalas jabatan tangannya ketika mendadak ia menarik kembali tangannya. Ia meringis—sedikit…kesakitan?

"Ah, maaf telah tidak sopan, tapi aku baru ingat kalau tanganku kemarin terkilir. Rasanya masih agak sakit…" ujarnya sambil mengusap-usap pergelangan tangannya.

"Oh…" aku hanya tersenyum maklum. 'Ya sudah, baik-baiklah dengan para tetangga di sini, ya! Kalau ada apa-apa, katakan saja padaku. Aku mau belanja dulu."

"Hati-hati di jalan, Kak Lena!" katanya sambil melambai sekilas, lalu kami berpisah jalan.

Hyuuuuu~ angin dingin masih saja berniat mempermainkan rambut hitamku yang panjang. Aku menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahku…

Di ujung sana… Di bawah pepohonan… Seorang anak lelaki berambut putih berdiri…

.

Piyama belangnya yang kebesaran membungkus tubuh mungilnya…

.

Tunggu, anak berambut putih?

Aku menyibakkan segala rambut di sekitar wajahku dan mengucek mataku, memastikan sekali lagi.

.

.

.

Tak ada siapapun di sana…

Mungkin hanya perasaanku…

.

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-


Pukul 11.35 malam…

Selepas mengerjakan pekerjaan rumah, aku membanting diri ke atas kasur. Haaah… padahal sudah jam segini, tapi mata ini belum mengantuk juga. Insomnia kambuhan, nih…

Enaknya ngapain, ya? Menggambar? Hobi, sih… tapi lagi malas—apalagi setelah 'insiden' tadi pagi. Ngelanjutin novel iseng-iseng yang kutulis sejak sebulan lalu? Gak bisa, gak ada mood…

Hup! Aku bangkit dari posisi tiduran ke posisi duduk di tepi ranjang. Jam saku yang selalu menggantung di leherku berdenting kecil. Aku merabanya dan membuka penutupnya.

Jam saku ini sudah ada sepanjang ingatanku—atau setidaknya, aku sudah memilikinya sejak diangkat oleh keluarga Bookman. Aku sama sekali tidak ingat masa kecilku, seolah ingatan sebelum aku diadopsi terhapus semua. Hanya jam saku ini yang kupunya, selalu kujaga dengan baik dan kubawa kemanapun aku pergi.

Jam saku perak yang antik sekaligus menarik, sudah tidak bergerak lagi walaupun kuputar ataupun kuganti baterainya. Semua jarumnya bertumpu pada angka 12, seolah waktu berhenti mengalir. Di belakangnya terukir merek jam yang tak pernah kudengar: Timcanpy. Di sekeliling tutupnya terdapat berbagai ukiran yang aku sendiri tidak mengerti maksudnya, namun menambah indah jam tersebut.

Dan… hei, aku sudah sering membuka-tutup jam ini, tapi baru kali ini aku memperhatikan secara detail. Baru kusadari di balik bagian tutup jam ini ada semacam goresan. Goresan-goresan ini mirip tulisan anak-anak, mungkin pemilik jam ini sebelumnya.

Hm… 'A'. Oke, inisialnya 'A'. Lalu… 'L', 'L', 'E'… dan satu huruf lagi… 'N'?

"…'ALLEN'…?" gumamku tanpa sadar. Kedengarannya tidak begitu asing.

"Ya."

Drrrt…

Aku terkejut. Mulutku menganga sambil terus menggenggam jam saku itu. Aku nyaris tak mempercayai apa yang kulihat. Rambut putih itu, kulitnya yang tampak kontras dengan piyama hitam-putih yang dikenakannya, lalu tatapan sayu itu…

Dan kini anak itu muncul di hadapanku seperti hantu. Err… atau memang 'hantu'?

"K-kau… 'Allen'?" Sedikit gugup, namun akhirnya keluar juga suara dari tenggorokanku. "Kau… kau masuk dari mana?"

"Aku tidak memiliki batasan tertentu, Lena-chan," jawabnya sambil tersenyum manis. "Aku bebas pergi kemanapun aku mau, selama tidak ada yang mengikatku…"

Anak itu masih berdiri beberapa meter dariku. "Tapi sebebas apapun aku di 'sini', aku tetap tak mampu melepaskan diri dari jeratan keabadian. Meski demikian, kehidupan dan kematian selalu hadir silih berganti sepanjang riwayat setiap makhluk yang bernyawa."

"…Lalu? Apa kau ini termasuk yang 'bernyawa' itu?" tanyaku.

Ia terdiam sejenak. "Aku tak tahu…"

"Berhentilah main-main!"

"Itulah faktanya…"

Aku menghela nafas. Sungguh memusingkan berbicara dengan anak ini…

"Lalu, apa tujuanmu?"

"Apa perlu 'tujuan' untuk menemui orang yang ingin kutemui? Tujuanku tentu saja kau—"

"Maksudku, apa tujuanmu muncul di hadapanku sekarang? Dan dalam mimpi-mimpi itu…"

Aku menelan ludah. Anak itu terdiam.

"Kemunculanku ini demi memperingatkanmu," ujarnya. "Sebenarnya aku tidak ingin melibatkanmu—sungguh, aku tidak ingin membahayakanmu—tapi kau harus pergi dari sini. Pergilah sejauh mungkin. Tinggalkan tempat ini. Jangan pernah kau menjejakkan kakimu di 'Kota Mati'!"

"Tapi kenapa memangnya? Lagipula untuk apa aku ke Kota Ma—"

"INI BUKAN SARAN, INI PERINGATAN!" Aku terkejut. Anak itu bisa juga bersuara tegas begitu. "Kumohon, tapi aku hanya tidak ingin kau kenapa-napa. Jangan sampai 'dia' menemukanmu. Tapi 'dia' sudah terlanjur menandaimu…"

"Berhenti bicara bertele-tele! Siapa 'dia' yang kau maksud? Dan APA sebenarnya kau ini? Kenapa kau bisa tahu tentangku?"

Di luar, angin malam berhembus kencang. Cahaya rembulan menerangi malam gelap, menerobos dari sela-sela dedaunan, dan menembus jendela kaca kamarku yang terletak di lantai dua. Cahayanya menimpa mata sendunya yang tampak basah hingga seolah bercahaya.

Mandadak ekspresi wajahnya berubah muram, sedih.

"Kau…benar-benar sudah tidak ingat padaku…? Tidakkah kau ingat, Lena…? Ini aku…"

Mendadak wajahnya menjadi pucat. Tubuhnya gemetaran. Ia mundur dua langkah. Tangannya memegangi mata kirinya, dan ia mengerang, seperti kesakitan.

"Hei, kau kenapa?" tanyaku.

"S-sial… Aku terlambat… ARGH! 'Dia' terlanjur menemukanmu… dan mengirim seseorang padamu…"

"H-hei, apa kau baik-baik saja?" tanyaku panik.

"Ce-cepat lari, Lena! Dia mengincarmu! Dia… datang…"

"Apa? Kau kenapa? Siapa yang datang?" tanyaku panik. "Jawab aku! Masih banyak hal yang ingin kutanyakan…"

"Tidak ada waktu… untuk menjelaskan… Larilah… Waspadalah pada… Tyki…"

Syuuut~~ Anak itu menghilang dalam gelapnya malam sebelum aku sempat menanyainya macam-macam.

Kesunyian kembali menguasai udara.

Aku mengerjapkan mata. Dia benar-benar menghilang. Lalu, apa yang barusan kulihat itu 'ilusi'?

Awan yang sempat menodai cahaya rembulan perlahan tersingkap, mengembalikan kemilaunya. Bulan purnama jadi tampak seperti lampu sorot yang menimpa jendela kamarku, menghasilkan bayangan di sepanjang lantai kamar. Bayanganku menimpa tempat tidur, tampak besar dan…

Hm?

Sejak kapan bayanganku jadi sebesar dan setegap ini…?

Ditambah lagi, bayanganku mengangkat tangannya, menghunuskan sesuatu seperti…pisau besar?

Takut-takut aku menoleh ke arah jendela…

PRAAAAAAANG!

=END OF LENALEE'S POV=

.

~.T.B.C.~

.

.


Hai-ai~~ kelar juga chapter 1. Segini dulu deh, chapter 2 masih in-progress...

Saat saia baca ulang kerangka dan naskahnya, rasanya banyak yang perlu saia luruskan dulu:

Pertama: Saia sama sekali ga ada niat untuk ngebuat si Rhode jadi OOC di sini. Bayangkanlah penampilan dan sikapnya di sini seperti saat dia menjadi manusia (bukan sebagai Noah) di manganya chapter 157-158, saat itu Rhode sebagai putri bangsawan memakai gaun lolita yang imut banget *author nosebleed! MAU!*

Kedua: di sini Lenalee 18 tahun, Lavi 20 tahun, dan Allen sekitar 12-13 tahunan. Kenapa Allen jadi anak kecil di sini? Dan apa hubungannya dengan Lenalee? Jawabannya akan jelas seiring perkembangan cerita.

Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa saia pake si Lena jadi main chara, bukannya Allen, Kanda, atau malah Lavi. Karena (menurut saia pribadi) karakter cewek lebih bisa membawakan unsur horor (liat aja kebanyakan film2 bergenre horor, psychological, dan thriller rata-rata main chara-nya cewek). Lagian saia jadi bisa nyiksa Lenalee sepuasnya entar! *dibakar*

Bagaimana pendapat kalian? Find any typo? Report to me, please! Give me your strength! Semakin banyak yang review semakin cepat saia update nantinya XD

Mind to give me R&R?

.