Sudah berjam-jam lelaki itu duduk di lobby kampus menunggu hujan yang tak kunjung reda. Sesekali ia mendecak, ketika melirik jam di tangan kirinya.

"Hujannya lama sekali." gumamnya kesal. Terkutuklah dosennya yang memberikan tugas rumit sehingga memaksanya pulang terlambat karena lama diam di perpustakaan. Baterai ponselnya sudah terkuras habis sejak satu jam yang lalu karena game yang dimainkannya selama menunggu hujan reda. Terpaksa ia menghabiskan waktu dengan bengong.

"Butuh tumpangan?" Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Lelaki itu mengedipkan matanya sekali.

Seorang gadis cantik berdiri di depannya dengan membawa payung biru. Rambutnya yang terurai tampak basah di bagian ujungnya. Lelaki itu memandangnya dengan tatapan bertanya. Siapa gadis ini? Anak jurusan mana? Kenapa baru pulang?

"Butuh tumpangan?" Gadis itu mengulangi pertanyaannya, setengah kesal karena diabaikan.

"I, iya! Jika kau tidak keberatan... eh, tunggu! Hei!" Lelaki itu buru-buru berlari ke bawah payung karena sang gadis melangkahkan kakinya lebih dulu. Suara hujan mengiringi langkah kaki mereka pulang ke rumah.

Diam-diam lelaki itu memperhatikan gadis di sebelahnya.

"Namamu siapa?" tanya gadis itu seraya menatap sepasang iris emas pucat lurus-lurus. Ah, kenapa tatapannya begitu mempesona?

"Akabane Karma. Kau sendiri?"

"Namaku - " tepat sebelum sang gadis menjawab, lelaki itu terpeleset dan jatuh dengan tidak elitnya. Gadis itu buru-buru menolongnya panik. Sedangkan si pemuda merutuki kecerobohannya. Bisa-bisanya ia jatuh di depan cewek itu!

"Haha, rasanya tarikan gravitasinya menguat ya... haha" lelaki itu tertawa kikuk untuk mengalihkan rasa malunya. Di luar dugaan, gadis itu ikut tertawa.

"Dasar aneh." ucap gadis itu di sela-sela tawanya. Lelaki itu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah gadis itu. Dadanya berdebar kencang, pipinya menghangat.

"Namaku Shiota Nagisa. Ayo kita berteman."

Lelaki itu jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Disclaimer

Ansatsu Kyoushitsu belongs to Yuusei Matsui

I gain no profit

Warn : OOC, plotless, gaje dan sebagainya

Karma x fem!Nagisa

"Namaku Akabane Karma."

Nagisa tersenyum hangat meskipun sedikit bingung karena tiba-tiba pemuda tinggi itu memperkenalkan diri.

"Hajimemashite, namaku Shiota Nagisa. Senang berkenalan denganmu."

Dada Karma terasa sakit. Di hari yang harusnya menjadi hari pernikahan mereka, Nagisa kehilangan ingatannya tentang Karma. Ibarat game, Nagisa menekan tombol restart untuk permainan yang hampir dimenangkannya. Karma menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh. Tidak, hubungannya dengan Nagisa bukan sekedar permainan.

"Etto, Akabane-san... apa kita pernah saling mengenal?" tanya Nagisa ragu. Ia khawatir jika Karma terluka karena ia tak mengenalinya. Hening sejenak. Karma tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Tidak, aku hanya salah kamar saat menjenguk sepupuku kemarin sore." jawab Karma enteng.

Hiromi menatap pemuda itu dengan tatapan tak percaya. Semudah itu kah Karma berbohong?

"Dasar aneh." Nagisa tertawa kecil. Seolah terhipnotis, Karma tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Rasa sesak di dadanya memuncak. Ia menunduk, berusaha menahan bendungan air di sudut matanya agar tidak terjatuh. Benarkah ia harus mengulanginya dari awal? Ingin rasanya mengatakan yang sejujurnya kepada Nagisa namun ia tak ingin memperparah kondisi gadis bersurai biru itu.

"Akabane-san." Karma tersentak. Buru-buru ia mengusap matanya dan mengulas senyum.

"Ya?"

"Ayo kita berteman."


"Nagisa. Bagaimana pendapatmu tentang Karma?" tanya Hiromi, setelah Karma pamit. Sepanjang sore hingga jam besuk habis, mereka hanya mengobrol ringan. Sesekali Karma mengeluarkan lelucon-leluconnya yang membuat Nagisa tertawa. Sungguh, sore yang menyenangkan bagi Nagisa.

"Karma-kun? Dia orang yang baik dan menyenangkan. Sedikit aneh juga." Nagisa tertawa kecil. "Tapi... aku merasa pernah mengenalnya...?"

Bukan hanya pernah. Mestinya hari ini kau menikah dengannya.

"Ibu..."

"Ya?"

"Asano-kun tidak menjengukku?"

Hiromi menelan ludah. Gawat, dia lupa menceritakan hal ini pada Karma.


"Nagisa punya mantan pacar."

Karma menyemburkan kopinya. Sumpah ia kaget bukan main. Tiba-tiba Rio mendatanginya yang sedang nongkrong di taman rumah sakit dan memberi pernyataan seperti itu.

"Hah?! Kok aku nggak pernah tahu?!"

"Kau tak pernah memintanya bercerita." tukas Rio cuek. "Sewaktu SMA dia menjalin hubungan dengan ketua OSIS Kunugigaoka."

Karma manggut-manggut, meski hatinya tak terima. Nagisa pernah punya pacar sebelumnya? Oh, Karma jadi merasa malu karena merasa dirinya adalah cinta pertama Nagisa.

"Karena Nagisa kehilangan ingatannya sejak masa kuliah, kemungkinan besar ia masih mengingat Asano-kun." lanjut Rio setelah menyeruput chocolate milkshake yang baru dibelinya di cafe depan rumah sakit.

"Siapa 'Asano-kun'?"

"Mantan pacar Nagisa."

"Oh."

"Singkatnya, rival terberatmu adalah si Asano itu."

Glek. Karma harus merebut calon istrinya dari mantan pacarnya? Lucu sekali.

"Kenapa mereka bisa putus?"

"Nagisa bilang sih, Asano tidak yakin bisa menjalani hubungan LDR. Jadi mereka putus begitu saja."

Putus karena takut LDR?

Karma jadi ingat dengan sikap Nagisa yang aneh ketika Karma menerima beasiswa dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2-nya di Inggris. Gadis itu bertanya, apakah Karma mau menjalani LDR dengannya. Tanpa ragu Karma menyanggupinya. Mendengar jawaban Karma, gadis itu langsung menangis dan memeluknya. Saat itu Karma sempat bingung dengan sikap out of character Nagisa. Well, sekarang Karma tahu jawabannya.

Gadis itu takut ditinggalkan untuk kedua kalinya.

"Orangnya seperti apa?"

"Tampan, berkharisma tinggi, jenius, kaya, pewaris perusahaan besar Asano. Kudengar ia kuliah di Universitas Harvard. Orangnya sedikit angkuh, tapi sangat perhatian pada Nagisa." jelas Rio panjang lebar. Karma terdiam sejenak. Rasanya ia familiar dengan nama itu.

"Asano... maksudmu Asano Gakushuu?!"

"Eh? Kau mengenalnya?" Rio menatap Karma tak percaya.

"Ya... Akabane corp berencana untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan itu. Tapi aku sendiri belum pernah bertemu dengan CEO-nya. Kudengar orangnya ambisius dan bertangan dingin." Karma melempar kaleng kopi yang sudah kosong ke dalam tong sampah. "Aku tidak menyangka, orang itu adalah mantan pacar Nagisa."

"Lalu? Apa kau berniat mundur?" tanya Rio setengah meledek.

"Mana mungkin. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membatalkan pernikahan. Aku yakin, sebentar lagi Nagisa akan mengingat perasaannya padaku." tekad Karma.

Rio tersenyum. Betapa beruntungnya sahabatnya itu, dicintai setulus ini oleh pria di hadapannya.

"Baguslah kalau begitu. Intinya, ini dia tantangan pertamamu. Semangat ya, tuan-ganteng-gagal-nikah!"

"Sialan. Pergi jauh-jauh sana!"


Nagisa sedang asyik membaca novel yang dibelikan Rio kemarin. Tumben rasanya ia di kamar seorang diri. Biasanya ada ibu atau Rio yang menemani. Namun, keduanya sedang pergi karena ada urusan. Ruangannya sunyi sekali, membuat gadis itu merasa kesepian. Kapan aku bisa pulang? Keluhnya dalam hati.

Sebuah ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya. Seorang pemuda melongokkan kepalanya tanpa permisi.

"Yahooo Nagisa."

"Akabane-san, bikin kaget saja." ucap Nagisa setengah kesal. Karma nyengir tampan.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Sehat sejahtera! Tapi entah mengapa aku tidak diperbolehkan pulang!" sungut Nagisa sambil mengerucutkan bibirnya. Ukh, imutnya. Karma jadi tergoda untuk mencium bibir ranum itu. Tarik nafas, tahan.

"Mungkin ada pemeriksaan lanjutan. Tenang saja. Dalam waktu dekat pasti pulang." hibur Karma sambil mengelus lembut surai biru Nagisa. Bahu Nagisa menegang. Eh? Kepalanya dielus?

"Ups, sori, reflek." Karma mengangkat tangannya. Dasar modus.

"Akabane-san punya pacar?" tanya Nagisa basa-basi. Gawat kalau ketahuan dirinya merona karena perlakuan laki-laki yang baru dikenalnya.

"Y, yaaah begitulah." Karma tertawa garing. Pacarku itu kamu! Jeritnya dalam hati. "Nagisa sendiri bagaimana...?" tanya Karma ragu-ragu.

"Un, aku juga punya. Orangnya baiiiik sekali." Pipi Nagisa memerah saat mulai mengingat lelaki itu.

DEG. Dada Karma terasa ditusuk. Namun, ia cukup lihai menyembunyikan ekspresinya.

"O, oh ya? Bagaimana orangnya?"

"Wajahnya tampan, aku suka garis rahangnya. Keras dan tegas. Fisiknya mirip dengan Karma-kun."

Uh-oh.

Nagisa tidak mengencaninya karena dia mirip mantan pacarnya kan?

"Dulu aku bertemu dengannya di perpustakaan. Saat itu aku mendapat giliran jaga. Dia ingin meminjam buku-buku yang sulit dicari, membuatku kewalahan. Berjam-jam kami mencarinya berdua, namun buku itu tidak ketemu. Belakangan aku baru tahu, pencarian buku itu hanya alasan untuk dapat berkenalan denganku." cerita Nagisa. Karma menatapnya dengan ekspresi datar.

'Dasar modus.' umpatnya dalam hati. (Karma, berkacalah.)

"Ah! Maaf! Aku malah curhat... habis, Akabane-san enak diajak ngobrol sih." Karma tersenyum lembut.

"Tidak apa-apa. Kau boleh cerita apa saja."

Demi Nagisa, Karma rela menjadi pendengar yang baik. Meskipun hatinya hancur berkeping-keping.


Cuaca hari ini sangat cerah. Suhu udara yang lebih hangat dari biasanya membuat Nagisa tergoda untuk berjalan-jalan di luar. Namun, ibu menahannya agar tetap di kamar karena akan ada pemeriksaan fisik. Gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal. Ia harus puas hanya dengan melihat pemandangan dari jendela saja.

Dari jendela kamarnya, ia dapat melihat anak-anak kecil yang sepertinya juga pasien rumah sakit ini sedang bermain bola. Di bawah pohon, seorang perawat sedang berbincang dengan pasien lansia yang duduk di kursi rodanya. Nagisa tersenyum kecil. Menyenangkan sekali rasanya melihat pemandangan yang begitu damai seperti ini.

Saking fokusnya, Nagisa tidak menyadari seseorang tengah mengendap-endap memasuki kamar dan menghampiri dirinya.

"Na~gi~sa!"

"Huwaaaa!" Nagisa spontan berteriak begitu merasakan tepukan keras di kedua pundaknya. Karma tertawa terbahak-bahak.

"Ukh, Akabane-san. Kau menyebalkan." Nagisa pura-pura ngambek. Namun sedetik kemudian ia ikut tertawa bersama Karma. Hatinya menghangat. Karma selalu berhasil menghilangkan rasa jenuhnya.

"Nee, Nagisa."

"Hm?"

"Mau jalan-jalan sebentar?" bisik Karma di telinga Nagisa. Wajah Nagisa langsung berseri.

"Boleh?"

"Sebenarnya sih tidak. Tapi - " Karma melirik jam tangannya. " - kalau kita kembali sebelum pemeriksaan di mulai, tidak akan ketahuan."

Kenapa lelaki itu tahu persis jadwal pemeriksaannya? Nagisa jadi sedikit heran. Namun, ia tepis jauh-jauh rasa penasarannya itu.

"Aku mau. Ayo pergi, Akabane-san!"

"Hei, tunggu! Pakai jaketmu!"


Baru berjalan beberapa meter, tubuh Nagisa sudah kelelahan. Mungkin karena beberapa hari ini tidak pernah digerakkan. Karma langsung membawanya ke kursi taman begitu merasa langkah kaki gadis itu melambat.

"Silahkan." Sekotak jus rasa jeruk disodorkan. Nagisa menerimanya dengan wajah bingung. Lagi. Kenapa Karma bisa tahu minuman favoritnya? Pria bersurai merah itu mulai meneguk kopi kalengannya. Nagisa mengernyitkan dahi. Ia menjauhkan tangan Karma dari minuman berwarna gelap itu. Si pemuda menatapnya dengan pandangan bertanya.

"Kenapa kau selalu meminum kopi? Kemarin juga kau meminumnya. Aku tidak mengizinkanmu minum kopi lagi untuk hari ini. Tidak baik untuk kesehatanmu." omel Nagisa. Ia beranjak dari kursi, membeli sekotak jus stroberi di mesin penjual minuman. Ia menyita kaleng kopi di tangan Karma dan menggantikannya dengan kotak karton itu. Karma tercengang.

"Kenapa jus stroberi?" Nagisa menggelengkan kepalanya.

"Aku juga tidak tahu. Tapi rasanya aku sering membelikan jus stroberi pada seseorang. Jadi kebiasaan deh." sahutnya tak acuh. Ia kembali menyeruput jus jeruknya. Sedangkan Karma diam-diam tersenyum.

Kau tahu Nagisa? Kau orang yang selalu membelikanku jus stroberi.

"Bagaimana keadaanmu?" Pertanyaan rutin. Karma selalu menanyakan hal yang sama setiap harinya.

"Baik. Meskipun cepat lelah."

"Itu sih karena tidak pernah digerakkan."

"Aku tahu."

Dua-duanya terdiam. Sama-sama menikmati angin sejuk yang menerpa wajah.

"Aku ingin berjalan lagi."

"Ayo."

Mereka kembali berjalan mengitari taman rumah sakit. Sesekali mereka berhenti ketika Nagisa mulai kepayahan. Sebenarnya, Karma ingin memaksanya beristirahat saja, namun ia tahu betul tabiat gadis itu. Keras kepala dan benci dianggap makhluk lemah.

Sebuah bola putih menggelinding ke arah pasangan itu. Karma yang cepat tanggap, langsung meraih bola itu sebelum bergulir lebih jauh lagi. Ia langsung meletakkan bola itu di telapak tangan gadis cilik yang mendekatinya.

"Arigatou, nii-san!" ucap gadis cilik itu tulus. Setelah membungkukkan badan sekali, ia segera berlari menuju teman-temannya. Garis bibir Karma tertarik ke atas. Gadis cilik barusan sedikit mirip dengan Nagisa.

"Terimakasih, Akabane-san. Kau selalu menjengukku setiap hari." ucap Nagisa tiba-tiba. Karma melirik sekilas. Kemudian memalingkan muka, takut tertangkap basah wajahnya memerah.

"Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu. Rasanya terlalu formal." Nagisa menelengkan kepalanya.

"Karma-kun?"

"Begitu lebih baik." Karma tersenyum puas. Lagi-lagi keduanya larut dalam kesunyian. Hanya terdengar suara tawa anak-anak yang sedang bermain lempar tangkap bola baseball.

"Ayo kembali. Sebentar lagi pemeriksaan dimulai." Nagisa mengangguk. Namun, baru melangkah sekali, tubuhnya langsung ambruk. Reflek, Karma langsung menangkap tubuh mungil itu.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Karma panik. Nagisa meringis.

"Yah... tubuhku benar-benar kelelahan." jawabnya penuh sesal. Tanpa berbicara apa-apa, Karma langsung berjongkok di depan gadis itu. Nagisa menatapnya punggung lebar di depannya bingung.

"Pardon me, sir?"

"Naik. Biar kugendong."

"Eeeh? Ti, tidak usah!"

"Ce-pa-t" eja karma penuh penekanan. Nagisa menelan ludah. Kalau sudah begini, mau tidak mau ia menurut. Perlahan, ia menaiki punggung Karma.

"Aku berat, lo."

"Kau meragukan kekuatanku?" Karma tersenyum jahil. Ia berdiri tiba-tiba, membuat Nagisa spontan mengeratkan pelukannya di leher Karma.

"Karma-kun!"

"Pegangan yang erat! Kita akan segera meluncur!"

"Eh? Huwaaaaaaa!" Kaki Karma berlari cepat membuat Nagisa berteriak. Tangannya kokoh menahan kaki Nagisa. Tak sekalipun ia terlihat kepayahan. Di balik punggung Karma, Nagisa tersenyum kagum. Pemuda ini selalu berhasil membuat jantungnya berdebar-debar.


"Ya, terus tadi siang Karma-kun membawa game Sonic Ninja yang terbaru! Karena terlalu ribut, kami diomeli seorang suster. Katanya pasien kamar sebelah komplain semua." cerita Nagisa penuh semangat. Rio tertawa geli. Dasar cowok aneh. Di mana-mana yang namanya menjenguk ya bawa buah atau semacamnya. Bisa-bisanya Karma membawa seperangkat alat main PS. Yah, biarlah. Toh, Nagisa jadi lebih ceria dengan keberadaannya. Sejak tadi, topik cerita Nagisa hanya membahas kegiatannya dengan Karma.

Beberapa hari ini, Karma memang tak pernah absen menjenguk Nagisa. Kadang ia membawakan novel baru, atau mengajak Nagisa berjalan-jalan keliling taman rumah sakit. Pernah juga ia datang hanya sebagai teman ngobrol Nagisa.

"Lalu? Bagaimana? Kau jatuh cinta padanya?" goda Rio. Nagisa blushing.

"Ti, tidak kok! Dia cuma teman ngobrolku! Dia juga... menyebalkan! Sering menjahiliku! Memang sih, dia tampan, baik, perhatian, membuatku jadi berdebar-de... " Nagisa menutup mulutnya. Kenapa omongannya jadi seperti gadis yang jatuh cinta begini?

"See? Kau jatuh cinta padanya." Rio terkekeh geli. Nagisa menggeleng cepat.

"Tidak! Lagipula kan' aku punya pacar..." senyum Nagisa menghilang. Kehadiran lelaki itu memang terasa ganjil. Apalagi secara misterius, Karma mengetahui semua hal yang disukainya. Pikiran Nagisa juga ditebak dengan mudah olehnya. Anehnya, semua perlakuannya itu selalu membuat jantung Nagisa berpacu cepat.

Akabane Karma itu... siapa?

"Karma-kun itu... aneh, ya. Rasanya, dia mengetahui sekecil apapun dari diriku." Perasaan Rio jadi tidak enak.

"Nagi - "

"Nee, Rio-chan. Kau bilang aku kehilangan ingatanku dari delapan tahun yang lalu, kan?" Rio mengangguk. Untuk hal ini, ia tidak bisa berbohong.

"Apakah Karma-kun... orang yang kukenal? Apa dia orang yang berharga untukku?" tanya Nagisa bertubi-tubi. Nafas Rio tercekat. Ia mengalihkan pandangannya dari Nagisa. Sungguh, perihal tipu-menipu bukan keahliannya.

"Aku... tidak tahu."

"Lalu, ke mana perginya Asano-kun? Apa dia masih marah padaku? Apa selama delapan tahun ini aku masih menjalin hubungan dengannya? Siapa Akabane Karma? Nee, jawab aku, Rio-chan!" desak Nagisa. Air matanya mengalir deras. Tangan Rio mengepal erat. Ia cepat-cepat mendekap tubuh Nagisa.

"Tidurlah, Nagisa. Kau kelelahan."

Nagisa tersenyum miris. Bahkan sahabat karibnya juga tidak ingin berkata yang sejujurnya?


Kondisi Nagisa mendadak drop.

Karma berlari secepat kilat dari kantornya menuju rumah sakit begitu menerima telepon dari Hiromi. Suhu tubuh Nagisa meningkat drastis pagi ini. Hiromi bilang, Nagisa terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ia mengeluh karena kepalanya sakit dan akhirnya kehilangan kesadaran.

Pikiran buruk berkecamuk di benak Karma. Apakah karena kelelahan pasca jalan-jalan tempo hari? Apakah Karma tak sengaja membuatnya mengingat masa lalu sehingga ia stres? Rasa bersalah mulai merayapi hati Karma.

Langkah kakinya semakin cepat begitu memasuki rumah sakit. Kakinya mengarah otomatis ke kamar Nagisa yang sudah dihapalnya di luar kepala. Terlihat ibu Nagisa, Nakamura dan Yuzuki sedang duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas.

"Bagaimana... kondisi Nagisa?" tanya Karma dengan nafas tersengal-sengal.

"Entahlah, sekarang dokter sedang menanganinya." Yuzuki mewakili ibu Nagisa menjawab. Hiromi mengatupkan tangannya, posisi berdoa. Rio tak biasanya membisu. Beberapa menit setelah Karma tiba, seorang pria berjas putih keluar dari kamar Nagisa. Karma langsung membanjirinya dengan pertanyaan.

"Konsisinya sudah stabil. Tinggal menunggu demamnya reda. Hanya stres dan kecapekan." jelas Dokter Yamada, begitu Karma memanggilnya. "Apa dia terlihat sedang mengingat-ingat?"

"Ya, kemarin dia menanyakan tentang masa lalunya." sahut Rio yang sejak tadi diam mendengarkan. "Karena terlalu berat, aku tidak tega untuk menceritakannya." lanjutnya lirih.

"Sou ka. Baiklah, lain kali lebih berhati-hati. Perlahan-lahan ingatannya pasti kembali. Jangan sampai mendesaknya." Dokter Yamada tersenyum penuh wibawa. "Saya permisi dulu."

Setelah Dokter Yamada menghilang dari pandangan, tangis Rio langsung pecah.

"Semuanya salahku! Aku tidak bisa mengelabui dirinya!" ucap gadis pirang itu di sela-sela tangisnya. "Setiap hari dia selalu menanyakan Asano-kun! Aku harus jawab apa? Hubungan mereka sudah berakhir delapan tahun yang lalu!"

Yuzuki buru-buru menenangkan sahabatnya. Iris azure Rio menatap pria bersurai merah.

"Nee, Karma! Tidak bisakah kita mengatakan sejujurnya? Katakan kau lah calon suaminya! Aku sudah lelah menipunya!" Karma diam saja. Lidahnya terlalu kelu untuk bersuara. Tangisan Rio mengisi kesunyian lorong rumah sakit itu.

"Aku... akan mencari Asano Gakushuu." Rio terbelalak mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Karma.

"A, apa? Bodoh! Aku ingin kita mengatakan yang sejujurnya pada Na..."

"Mengatakan hubungannya dengan Asano sudah selesai? Lalu berkata bahwa aku adalah kekasihnya? Membuat Nagisa yang masih mencintai Asano memaksakan perasaannya padaku?!" nada Karma meninggi membuat Rio kehabisan kata-kata. "Tidak bisa, Nakamura-san. Aku... ingin Nagisa bahagia." lanjutnya lirih. Rio kembali terisak. Hiromi mendekati Karma.

"Karma-kun. Selama ini kau berpura-pura menjadi teman baru Nagisa dan berencana untuk mengembalikan perasaannya padamu kan?" Karma mengangguk lemah sebagai jawaban. Hiromi tersenyum simpul.

"Ibu tak akan melarangmu jika kau ingin membawa Asano-kun kemari. Tapi - " Tangan Hiromi mengelus kepala Karma dengan lembut. " - aku tak mengizinkanmu membatalkan pernikahan, apapun yang terjadi."

Karma mengangkat kepalanya. Kalimat ibu Nagisa itu menguatkan tekadnya. Mengenyahkan kebimbangan di hatinya. Ya, Nagisa adalah miliknya. Ia tak akan menyerahkannya pada siapapun.

"Aku tidak akan mundur. Aku pasti menikahi Nagisa." ucap Karma mantap. Hiromi bisa melihat kesungguhan di mata Karma. Ia menepuk pundak Karma.

"Aku pegang janjimu."


Karma kesal setengah mati. Harus berapa kali ia berbicara?

"Pertemukan aku dengan Asano Gakushuu!"

"Tidak bisa pak, segala sesuatu harus ada prosedurnya. Anda harus membuat janji terlebih dahulu." kata wanita resepsionis itu. Karma menggaruk kepala frustasi. Ck, kalau sudah begini tidak ada cara lain. Karma mengeluarkan kartu namanya.

"Baiklah! Saya CEO dari Akabane corp ingin membuat janji dengan Asano Gakushuu sekarang juga!"

Hening seketika. Seluruh penghuni lobby perusahaan itu menatap Karma. Suara bisik-bisik memenuhi ruangan itu. Yang menjadi objek gosip jadi salah tingkah sendiri.

"Ada ribut-ribut apa ini?" Sebuah suara bariton menyapa pendengaran Karma. Seorang pria bersurai jingga menatap Karma dengan tatapan intimidasi. Karma sama sekali tidak gentar dipandangi seperti itu. Ia malah memasang pose santai, gayanya yang khas.

"Asano-shachou..." gumam wanita resepsionis tadi. Karma tersenyum miring. Ia dengan santai melangkah mendekati pria itu.

"Kita perlu bicara, Asano Gakushuu-san."

TBC

Entah apa yang terjadi setelah ini... *uhuk

Btw makin lama kok aku ngerasa karakternya makin OOC ya... hahahaha maafkan author yang nista inii...

Semoga chapter 3 cepet kelar yaaa

Yups, waktunya bales review!

Nakamoto Yuu Na : udah ya braaay.. terimakasih sudah repiew :3

Amaya Kurata : yup Asano saingannya.. kenapa bukan Isogai? Isogai terlalu baik, aku kan gak tega bikin dia jadi PHO.. /dibuang/ makasih reviewnyaaa XD

Mind to review again?