FATE : VII of The End
Naruto©Masashi Kishimoto
Fate series©TYPE-MOON
Rate : M (Blood, Gore, etc.)
Summary : Uzumaki Naruto, seorang Magus yang ditunjuk untuk perang cawan suci ke VII di kota Fuyuki harus menghadapi berbagai macam tantangan dan ancaman dari berbagai servant yang terpanggil, namun kali ini ancaman sesungguhnya telah bangkit dan membuka tabir masa lalunya yang misterius.
Note:
Hm, mungkin masih ada yang bingung mengenai Timeline fict ini yah? Gk usah terlalu dipikirin karena fict ini benar-benar terpisah dari timeline asli, jadi anggap saja kalau ini ini memang perang cawan suci ke VII.
Silverbringer1 : Wow, Beast VII of The End, kemunculannya akibat Chain Reaction dari kemunculan Beast 1, tapi, jikapun ada di fict ini, maka saya rasa akan mengabaikan sebab-akibat diatas, dan wujud serta kekuatannya adalah fanmade dari saya, jadi bukan memprediksi ato apa.
His Higness : Yup, Naruto veteran perang disini, namun cara bertarung Naruto mengalami perubahan besar karena tipe servant offensif yang dipanggilnya, dan jangan ragu untuk publish fanficmu, ramaikan dunia perfanfiksian!
Chapter 2 : Beginning of War
Nameless Dessert, 5 years ago
Buagh!
"Arghhh! Manusia sialan!"
Naruto menyeka keringatnya yang telah bercampur dengan darah. Ia menjatuhkan perisainya sambil terengah-engah. Di depannya, sesosok pria hitam berbadan besar dan tegap juga tengah berlutut setelah busurnya terbelah.
"Garden Of Avalon."
Beberapa buah bunga berwarna pink tumbuh dan hancur di bawah Naruto, prosesnya terus terulang seperti tanpa henti. Dan setiap bunga itu hancur, pandangan Naruto mulai kembali membaik. Sampai kurang dari lima menit, Naruto sudah dapat menegakkan tubuhnya.
"Kukira musuh terberatku adalah Karna, namun sepertinya itu adalah kau! Aku bisa mengambil Noble Phantasm, namun aku tidak bisa melakukannya pada manusia yang tidak memiliki Noble Phantasm sepetimu….!" Geram sosok itu hendak berubah menjadi butiran cahaya.
"Huh, begitukah? Kau mau kabur?"
Cklek!
Naruto mengeluarkan sebuah pistol tipe flintglock dari salah satu saku bajunya."Salah satu senjata Konseptual, Origin Bullet, aku mengincar saat-saat ini, saat seluruh tubuhmu akan kembali menjadi sihir dan roh….!"
Dor!
"Ghuaaahh!" Sosok itu mengerang keras, garis-garis merah mencengkram seluruh tubuhnya dan mencegahnya mengabur, lalu memberikan luka serius yang menghancurkan jantungnya.
"Karena mastermu telah berpindah tangan kepada Grail, aku tidak perlu repot-repot mencari mastermu… menghilanglah kau!"
Namun, sebelum sosok itu sepenuhnya mati, ia memaksa kepalanya mendongak kearah Naruto dengan wajah penuh kebencian. "Kau! Lihat saja! Perang Cawan suci ini telah dikutuk! Dan akan berlanjut sampai perang berikutnya! Tahap akhir dari kehancuran akan dimulai! Keystone of The End akan menampakkan dirinya!"
Dor! Dor! Dor!
"Aku tidak tahu apa maksudmu, namun aku sudah muak dengan perang ini," Ujar Naruto menembaki sosok itu dengan senjatanya. "Tidurlah, Avenger… dengan senjata termodifikasi ini, aku tidak akan membiarkanmu bangkit lagi…"
Now, Fuyuki City, 02.40
Langit mendadak menghitam mengerikan. Awan-awan hitam pekat mendadak berkumpul diatas langit Fuyuki, petir-petir bersahutan dan di daerah pantai, air laut meninggi dan dengan ombak yang kencang menerpa pantai dengan keras.
"Umh, Rider, ada yang tidak beres!" Waver Velvet, atau yang dikenal sebagai Lord-El Melloi II, ia meremas puntung rokoknya saat merasakan sebuah perasaan aneh. Alexander The Great atau Iskandar yang tiba-tiba menghentikan gerakan Gordiasnya sambil menatap tajam kearah langit.
"Hoei, Rider! Apa kau dengar aku?!"
"Diamlah bocah, aku merasakan hal gawat akan terjadi, sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini telah terpanggil!" Balas pria berambut dan jenggot serba merah itu.
"Servant kah? Atau mungkin sesuatu yang lain?" Tanya Waver penasaran. "Entahlah, kita akan tahu nanti, untuk saat ini kita harus kembali ke basecamp dulu!" Balas Rider memamcu Gordiasnya kembali.
Jlar!
"Master….!" Arthuria bergumam dengan nada yang tidak mengenakkan yang disambut oleh anggukan serius dari Naruto. "Kau benar, sepertinya perang kali ini akan menjadi sebuah malapetaka…"
Tohsaka Mansion
Di sebuah Mansion, dimana Tohsaka Rin tinggal, auranya sungguh tidak mengenakkan dan sarat akan hawa yang begitu panas.
"Pemanggilannya berhasil! Akhirnya aku bisa memanggilmu Archer! Aku harap guru Kirei disini untuk melihat keberhasilanku ini!"
Gadis itu tertawa karena berhasil memanggil Servant yang menurutnya merupakan servant terkuat yang akan membawa kemenangan yang pasti tanpa halangan berarti.
"Kelas Archer, Nama aslimu adal-" Belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya, sebuah pedang menancap tepat di jantungnya, lalu menyeret dan memakunya ke dinding dengan keras.
"Uhhhkkk!" Rin langsung memuntahkan darah dengan pupil mengecil, tidak percaya apa yang baru saja ia alami. "Sepertinya kau yang telah memanggilku ke dunia ini, tapi kau salah sangka, kau salah menggunakan katalis, aku bukanlah sosok yang kau maksud" ucap sosok yang diselimuti aura kehitaman itu melangkah maju mendekati "Masternya"
"S-sialan! A-aku ini mastermu! A-apa yang kau lakukan ini?!" geram Rin menggenggam erat pedang hitam yang menancap di dadanya dan berusaha mencabutnya. "Ukh, bagaimana bisa ada kejadian seperti ini? Servant itu langsung berusaha membunuhku tepat setelah dipanggil, aku harus menggunakan command seal untuk menenangkannya," batin Rin berniat menggunakan Command Seal sampai—
"Kau benar-benar menyebalkan, manusia!" Sosok itu mendekat sambil mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah tangan yang punggungnya berisi Command Seal. "Akhhh! Tanganku! Kau memotongnya!" teriak gadis itu kesakitan.
Sosok itu berhenti di depan Rin dan bergumam sesuatu. Selanjutnya, sebuah portal hitam muncul disisi sosok itu dan mengeluarkan seekor hewan yang hanya mulutnya saja. "A-apa! Apa itu?!" teriak gadis itu ketakutan. Hewan itu mirip buaya namun hanya tengkoraknya saja, dan berwarna hitam kemerahan.
Ia tidak bisa pergi karena pedang hitam itu memakunya kuat ke dinding. "Kau mungkin seorang Magus yang hebat, namun kau hanyalah manusia yang hina," ucap sosok itu dengan sepasang mata putih yang menyala di dalam kegelapan.
Dengan santai ia melempar potongan tangan tadi kearah "hewan peliharannya" dan langsung dilahap habis. "K-kau! Kau akan segera menghilang dari dunia ini!" geram Rin panik, ia tidak bisa menggunakan sihir saat ini.
Sosok Servant hitam yang tadinya berbalik hendak pergi kini menghentikan langkahnya. "Independence Action-ku EX, pada tahap ini aku bisa disebut ber-inkarnasi di dunia ini... Aku sudah tidak terlalu membutuhkanmu lagi," balas sosok hitam itu hendak pergi dari basement itu. "Seluruh keberuntunganmu telah lenyap karena memanggilku, dan jangan heran, pedang itu punya kekuatan mutlak untuk menyegel semua Magus dari Age of Man." Sosok itu melanjutkan ucapannya sambil berhenti tepat dihadapan pintu keluar basement.
Trak! "Haah, sebagai balasan terima kasih karena sudah memanggilku ke dunia ini, bagaimana kalau kau melihat-lihat Underworld?" ucap sosok itu sebelum akhirnya meninggalkan pria tadi beserta portal hitam dimana mulut aneh itu muncul.
Grawwrr!
"T-tidak, Tidak! Tidak! Aku bahkan belum merasakan pertarungan semagai Magus! Sakura! Aku belum menyelamatkannya dari tangan keluarga Matou!"
Graaaaaarrr!
Crash! Crumh! Crash! "Akkhhhh!" dan akhirnya hanya ada suara teriakan terus menerus di dalam basement yang hanya diterangi lampu minyak bersama dengan cipratan darah dimana-mana.
Einzbern Castle
"Servant Caster, Gilgamesh... Jadi kau yang memanggilku? Homunculus?" ucap seseorang sedang duduk dalam singgasana sambil memangku sebuah tablet batu yang mirip seperti buku. "Hai, nama saya Justeaze Von Einzbern," ucap Justeaze menunduk.
"Tegakkan kepalamu Homunculus, mereka yang menjalin kesepakatan denganku tidak sepantasnya menundukkan kepalanya seperti itu, kau selalu punya izinku untuk bicara padaku, Homunculus!" ucap Gilgamesh. Justeaze mengangguk kemudian kembali menegakkan badannya.
"Mah, jika diriku yang Archer mungkin tidak akan mau melakukan hal yang ini," ucap Gilgamesh tersenyum pelan. "Homunculus, tidak- maksudku Justeaze... Berikan permintaanmu, kau tidak berhak memerintahku! Tapi mintalah padaku," ucap Gilgamesh berdiri dari singgasananya.
"Eiyuu Ou..." gumam Justeaze terkejut. "Hahahaha! Julukan yang membuatku merasa sedikit muda kembali," balas Gilgamesh.
"Ou, mengapa anda terpanggil dalam kelas Caster? Padahal menurut tetua, kelas anda seharusnya Archer," ucap Iriseviel bingung.
"Hahahaha, kau tanya mengapa aku menjadi Caster? Mengapa aku menggunakan tongkat sihir? Tentu saja sebenarnya ini untuk mengejek Dia yang menyandang posisi Grand Caster, jika Orang itu bisa mengapa aku tidak?" balas Gilgamesh tertawa pelan saat mengatakan tujuannya menjadi kelas Caster.
"Selain itu kau telat beberapa menit Justeaze, kelas Archer seperti sudah terisi entah oleh siapa, jika saja belum mungkin saja kau berkesempatan mendapat versi Archerku." Gilgamesh mengutarakan alasannya terpanggil dalam kelas Caster di perang kali ini.
"Baik, saya mengerti... Setidaknya ini masih tetap anda, pahlawan tertua dalam sejarah umat manusia," balas Justeaze mengangguk pelan.
"Hmm... Jangan berkecil hati Homunculus! Meski aku sedikit lebih lemah, namun aku lebih beruntung dan lebih pintar darinya... Akan kubantu kau mencapai tujuan terbesar keluargamu jika kau mau," ucap Gilgamesh menangkap sedikit kekecewaan dalam sepasang manik manusia buatan didepannya.
"B-benarkah itu? Saya mengandalkan anda," balas Justeaze senang.
"Tentu saja, jika takdirmu begitu apa boleh buat, aku adalah orang yang suka menempatkan sesuatu pada tempatnya, menggunakan sesuatu sesuai esensinya, mau sebagus apapun sebuah toilet, tetap saja itu hanya sebuah toilet," balas Gilgamesh tersenyum pelan sambil berjalan kearah pintu keluar. "Katakan kapan kita bergerak, sampai saat itu aku akan membuat beberapa persiapan dahulu," ucap Gilgamesh menghilang.
"Masalahnya... Apakah hatimu benar-benar menginginkan hal itu?"
Yang tersisa hanya Justeaze yang menghembuskan nafas dengan lega. "Etto, versi Archer? Apa katalis yang digunakan juga berpengaruh pada Servant yang dipanggil? Aku menggunakan tablet batu yang diperkirakan dari masa kejayaan Uruk." Justeaze melenguh pelan terlarut dalam kebingungannya.
Fuyuki Great Chrunch
"Kirei, Tohsaka tidak membalas pesan yang kukirimkan padanya, padahal itu pesan penting dari Asosiasi Gereja, kurasa ada sesuatu yang terjadi padanya," Ujar Emiya Shirou sedikit merasa cemas sambil sedikit meremas-remas pegangan katana yang tersarung di punggungnya.
"Tenanglah Shirou, Rin sejak dulu memang tipe gadis yang keras kepala, mungkin dia tidak mendapat yang ia inginkan dan malah merajuk, kurasa aku akan pergi ke kediaman Tohsaka sekarang," balas Kirei bangkit dari salah satu bangku Gereja.
"Tunggu... Kirimkan saja salah satu Assassin, aku khawatir yang terjadi adalah hal buruk," ucap Shirou memperingatkan. "Atau kukirim Saber saja?"
"Ucapanmu ada benarnya, entah mengapa firasatku juga tidak enak..." Kirei mengambil nafas pelan sebelum meneruskan ucapannya. "Mengirim Saber adalah tindakan gegabah, kita akan tetap pada rencana kita, akan kukirim klon Assassin untuk memeriksanya," Lanjutnya
Kirei berhenti sejenak sebelum akhirnya memejamkan mata untuk memanggil salah satu Assassin.
Dalam waktu beberapa detik saja, sesosok pria berbadan ramping dalam balutan pakaian hitam ketat dengan topeng terngkorak muncul di belakangnya.
"Assassin, pergilah ke kediaman Tohsaka dan bunuh Tohsaka Rin, jangan khawatir pada Archer... Dia tidak sekuat yang kau bayangkan," perintah Kirei.
Assassin itu mengangguk pelan kemudian melesat pergi.
"Aku mengerti, kau berniat menjalankan rencana kita sekaligus menyelidiki diamnya Rin," Ujar Shirou mengangguk pelan.
Kediaman Tohsaka
Tidak butuh waktu lama bagi sang Assassin untuk sampai ke tempat Rin tinggal. Itu semua karena penyelinapan, pengejaran, dan pembunuhan sudah menjadi bakat dari servant milik Kirei itu.
"Apa ini? Tidak ada pelindung sihir sama sekali?" gumam Assassin heran setelah mendarat di halaman mansion Tohsaka namun tidak menemukan satupun jenis sihir pelindung disana.
"Aneh, seharusnya Magus seperti dia memasang pelindung disini, meski servantnya adalah salah satu dari tiga kesatria." Mengenyahkan rasa herannya, ia berniat memasuki Mansion itu lebih jauh lagi.
Klang! Klang! Klang! Namun refleksnya terlalu lambat untuk menyadari empat buah rantai hitam muncul entah darimana telah mengikat keempat anggota geraknya.
Dengan perasaan terkejut, ia berusaha mencari tahu siapa pelakunya.
Empat buah retakan tanah muncul di sekeliling Assassin dan mengeluarkan masing-masing sebuah pilar batu hitam dengan aksara kuno, yang merupakan tempat dimana keempat rantai itu berasal.
Krak! Krak! Krak! Keterkejutannya ditambah lagi oleh tanah dibawahnya yang mulai retak-retak dan ada cahaya aneh di dalam retakannya.
"Kukira manusia, ternyata Servant yah? Mah, kurasa kematianmu akan mengundang para manusia itu kemari, jadi kurasa aku akan mengorbankanmu."
Tepat setelahnya, retakan tanah itu mengeluarkan ledakan petir ungu yang dengan segera menggilas tubuh Assassin yang tidak dapat kemana-mana.
Satu-satunya hal terakhir yang ia ingat adalah sosok berlapiskan aura hitam dengan sepasang mata putih bercahaya yang hanya sempat ia lirik sepersekian detik.
Sedangkan sosok hitam itu hanya menatap datar "kematian" Assassin. Ia kemudian berbalik kedalam mansion dan menghilang, bersatu kedalam gelapnya malam.
Back to Naruto
"Ini hebat...! Aku tahu mengenai Avalon ataupun Excalibur, namun bisa memanggilmu dengan salah satu pilar dunia... Ini sangat fantastis!" teriak Naruto bersemangat.
"Master... Apa anda tahu Noble Phantasm saya? Kalau begitu saya tidak perlu repot-repot menjelaskannya," balas Arthuria dari balik full-armornya.
"Hu'um! Tapi, bisa kau hilangkan dulu kudamu? Ini agak sedikit aneh melihat kuda di dalam rumahku," ucap Naruto.
"Baiklah jika itu yang anda inginkan, saya juga tidak melihat tanda-tanda musuh disekitar sini," balas Arthuria turun dari White Dun Stallion miliknya.
Presh! Tepat setelahnya, kuda itu menghilang menjadi serpihan cahaya, tak lupa ia juga menghilangkan tombak yang ia pegang sedari tadi.
Ia juga menghilangkan helm perangnya dan menampakkan wajah cantik dengan rambut pirang yang penuh akan aura kedewasaan dan keagungan seorang Ratu.
"Jadi, bagaimana pergerakan pertama kita, Master?" tanya Arthuria pada Naruto yang sedang mengecek ranselnya.
"Ano, untuk saat ini kita akan berdiam dulu disini, aku sedang memesan tambahan Rune, harusnya sampai sebentar ini." Naruto membalas dengan santai sambil mengambil sebuah Tab berwarna perak. "Lagipula aku masih harus memulihkan sedikit Manaku." Lanjutnya.
"Jaa... Apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Arthuria bingung. "Emm... Ada baiknya kau menjaga staminamu dulu, kukira datang dari Throne of Heroes pasti cukup menguras tenaga," balas Naruto.
"Aku tadi memesan beberapa makanan, aku harap kau suka, lagipula itu adalah cara efektif untuk menambah Mana walau tidak banyak." Naruto menunjuk sebuah kulkas besar yang ada di depannya.
"Humh, apa tidak ada cara untuk menambah Mana yang lebih cepat? Lalu, apa yang akan Master lakukan?" tanya Arthuria heran. "U-umh, entahlah, dan aku hanya akan sedikit memantau saja... Kau juga bisa berkeliling, pakai saja rumah ini senyamanmu dan kalau ada apa-apa, aku ada diatas!" balas Naruto berjalan menaiki anak tangga.
Naruto sampai di ruangan atas yang merupakan sebuah ruangan dengan meja sedang yang dikelilingi rak-rak buku.
Ia duduk di salah satu kursi dan meletakkan Tab-nya di atas meja.
Gambar hologram berupa sebuah bola dunia muncul disana.
"Baiklah, akan kujalankan Tri-Hermes sekarang," ucap Naruto menekan sebuah tombol virtual.
Connecting into Trismegistus and Chaldeas...
Waitting information...
Connecting Succesfully...
Importing data from Atlas Database...
Importing Succesfully...
Sending to Trismegistus...
Converting data into Chaldeas...
Sending to Trihermes...
Operation Succesfully.
Tik! Tik! Tik! Tik! Tik! Tik!
Bola dunia hologram itu langsung berputar dan berhenti di depan Naruto saat menunjukkan wilayah Jepang, itu memperbesar lagi dan menunjukkan kenampakkan wilayah kota Fuyuki dengan enam titik disana
"Dengan mengetahui letak para Master, seharusnya ini akan mudah... Namun kenapa hanya ada enam? Apa Holy Grail belum memilih master terakhir?" bingung Naruto.
Ia kemudian mengamati sebuah titik yang bergerak lumayan cepat menuju lokasi lainnya.
"Dari kecepatannya, mungkin itu Rider, kelas yang memiliki mobilitas tinggi dan Noble Phantasm terbanyak dari kelas lain," Gumam Naruto.
"Lebih baik, aku segera menyalin data koneksi ini, agar kami bisa segera bergerak, bagaimanapun perang tidak bisa dibiarkan lama-lama." Naruto adalah seroang veteran perang Cawan Suci, jadi ia tahu betul bahwa selalu ada korban sipil di dalamnya, terlebih jika perang itu dibiarkan lama-lama.
Nom! Nom! Nom!
"Hu'um, memang benar datang dari Throne of Heroes kesini sangat melelahkan, dan itu membuatku lapar, syukurlah masterku kali ini orang yang peduli," Gumam Arthuria telah menghabiskan setengah isi kulkas Naruto tanpa ia sadari.
Einzbern Castle
Justeaze mengenakan pakaian hangatnya untuk segera pergi menyeberangi puncak gunung bersalju itu. Ia merasakan Servantnya, Gilgamesh sedang berada di luar, entah apa yang sedang ia lakukan.
Sampai di ruangan pintu keluar kastilnya, ia langsung terkejut saat mendapati interiornya berubah drastis.
Tempat itu sekarang memiliki dinding emas dengan beberapa ukiran singa, serta lantai yang berupa batu berwarna biru laut yang sangat mengkilap dan indah.
Tak lupa, sepasang pintu keluar berukuran super besar berwarna biru laut dengan ukiran sepasang singa berwarna emas.
Justeaze segera berlari keluar area kastilnya. Karena pintu itu sedikit terbuka, tubuh mungilnya bisa melewati celahnya dan keluar dengan mudah.
Dan wajahnya tambah terkejut saat melihat Gilgamesh tengah terdiam di depan sebuah taman bunga berwarna biru sambil bersedekap.
Sejak kapan bunga seindah itu bisa hidup saat musim salju?
Justeaze mendapati area sekeliling kastilnya tidak memiliki salju sama sekali, sinar matahari menerpa dengan bebas tanpa gangguan, rasanya seperti musim panas.
"C-caster?" Justeaze berjalan perlahan untuk mendekati Gilgamesh.
"Humph, kastil ini sudah jelek, memiliki aura buruk juga, jadi aku memolesnya sedikit dengan peralatan dari Uruk," Ujar Gilgamesh tanpa menoleh.
"T-tapi ini?!" Justeaze cukup terkejut dengan dekorasi yang dilakukan Gilgamesh, bahkan ia mengabaikan fakta kalau kastilnya dihina oleh servantnya, yah itu karena dulu di masa Gilgamesh, emas tidak lebih dari sebuah kerikil jalan di kota Uruk.
"Humph, ini adalah penghalang yang secara khusus kubuat, karena penghalang keluargamu hanya tidak terpatahkan oleh Magus biasa," Balas Gilgamesh santai. Sambil melirik beberapa tongkat sihir yang tertancap untuk membentuk titik-titik hubung penghalangnya.
"Benar... sejak kegagalan Homunculus sebelumnya, penghalang disini belum diperbaharui, pasti semakin melemah!" Angguk Justeaze.
"Jadi, bagaimana pergerakan pertama kita?" Tanya Gilgamesh membalik badannya kearah gadis homunculus itu.
"Ou, pertama-tama sebaiknya kita pergi ke kota terlebih dahulu!"
"Aku mengerti, lagipula aku juga sedang bersemangat..." Gilgamesh terkekeh pelan yang menyebabkan Justeaze memandangnya heran.
"Meski dengan salah satu Noble Phantasmku, sebagai servant Caster, aku tidak bisa melihat hasil akhir peperangan ini, apa yang akan terjadi disini? Kenapa aku merasakan getaran yang sangat menusuk hati? Hahahaha! Sepertinya takdirku telah diputuskan mulai dari sini, hahahaha!"
"Ou?"
"Kau tidak usah memikirkannya, Homunculus! Akan kutunjukkan padamu, kisah tentang seorang Raja yang melampaui kematian, yang terus menentang takdir para Dewa dalam lingkaran kehidupannya yang tidak terbatas...!"
To Be Continued...
Semoga suka dengan chapter ini, dan saya harapkan kritik Bon Cabenya untuk membangun fict ini agar lebih baik lagi, thx!
-List Master dan Servant yang saya pakai untuk fict ini :
Saber : Sir Mordred Pendragon
Master : Emiya Shirou
Lancer : Arthuria Pendragon
Master : Naruto Uzumaki
Archer : Unknown.
Master : Rin Tohsaka (Dead)
Rider : Alexander The Great
Master : Waver Velvet (Lord El-Melloi II )
Caster : Gilgamesh
Master : Justeaze von Einzbern
Assassin : Hassan I-Sabbah (Hundred Face)
Master : Kotomine Kirei
Berserker : Darius III
Master : Matou Sakura
Btw, demi jalan cerita, servant Archer akan saya rahasiakan identitasnya selama beberapa chapter kedepan.
