Dengan segenap kelelahan yang Naruto rasakan setelah bekerja di kedai ramenpaling terkenal di kota ini, pemuda itu berjalan lesu di trotoar yang kini sudah sepi.
Saat ini sudah pukul sebelas, sudah banyak toko-toko yang tutup. Tidak herankompleks perumahan ini sekarang menjadi sepi.
Biasanya, dirinya pulang dari bekerja itu pukul sepuluh. Namun karena ada pesanan mendadak waktu dirinya mau pulang, sang bos akhirnya meminta tolong kepadanya agar membantunya.
Yah, ingin Naruto menolak, tapi karena sang bos menawarkan tambahan gaji yang menurutnya lumayan, maka dengan terpaksa Naruto ambil.
Selang beberapa menit berjalan, Naruto akhirnya sampai di tempat kosannya. Remaja dengan rambut pirang itu menaiki tangga dan menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Dan tepat sebelum dia sampai ke ruangannya, Naruto berhenti melangkah lantaran melihat Naruko yang sedang duduk meringkuk di depan pintu kosannya.
Mata Naruto melebar saat melihat kalau wajah Naruko kini sedang berlumuran darah, walau pada dasarnya dirinya takut, Naruto segera berlari ke arah gadis yang memiliki gaya rambut kepang dua tersebut.
"Apa yang terjadi padamu?!"
Gadis itu sedikit tersenyum, sebelum pada akhirnya dia tak sadarkan diri.
[LUMINA]
Disclaime: bang Masashi
Warning: OOC, Typo, Overpower, and Etc.
Genre: Action, Adventure, Drama, Slice of Life, Fantasy, Thriler, Romance, and Etc.
Summary: Menceritakan tentang kehidupan seorang siswa SMA yang menjalani kehidupan seorang diri. Namun kehidupan normalnya berubah saat datang seorang siswi pindahan yang memiliki nama hampir sama dengannya, dan roda takdir kembali menjeratnya.
.
Lolicon present...
Sudah setengah jam berlalu, dan akhirnya Naruto sudah selesai membersihkan wajah berdarah Naruko. Namun masih tersisa bekas lebam di sudut kiri bibirnya, serta di pelipisnya.
Naruto tak habis pikir tentang apa yang sudah terjadi pada gadis ini, meski pada dasarnya gadis ini bukanlah manusia, tapi tetap saja ada jiwa feminim di dirinya. Lalu, siapa yang sudah sangat kejam membuat gadis ini babak belur seperti tadi?
...darah yang keluar di masing-masing sudut bibir, kedua lubang hidung, serta pelipisnya?
Jika Naruko adalah manusia, maka kasus seperti ini pastinya sudah masuk ke persidangan.
"Naruto..."
Remaja sang pemilik nama menoleh, dia melihat kalau Naruko sudah terbangun dari ketidaksadarannya dengan mata yang sepertinya tidak bisa terbuka lebih lebar lagi.
"Beristirahatlah di situ, akan aku ambilkan selimut sebentar."
Sejenak Naruko melihat kepergian Naruto, kemudian dengan perlahan gadis itu meraba wajahnya sendiri, sebelum pada akhirnya dia tersenyum. "Dia membersihkan lukaku,dia terlalu baik pada orang yang sedang memburunya."
"Kau bisa bermalam di sini, ya... Kuharap kau tidak melakukan apapun padaku sih, karena aku sendiri juga sedang capek." Naruto kemudian menyodorkan selimut yang ia bawa, "Dan kuharap kau tidak keberatan dengan tidur di sofa."
Sebelum mengambil selimut itu, lebih dahulu Naruko memberikan senyum terbaik yang bisa ia tampilkan. "Naruto, kau ini terlalu baik."
Naruto sejenak terhenyak di tempatnya, sebelum pada akhirnya dia nyengir dan menggaruk belakang kepalanya. "Biasa saja bagiku." Remaja itu kemudian hendak berjalan pergi, "Aku akan tidur, jika kau tidak nyaman tidur memakai lampu, kau bisa mematikannya sendiri. Saklarnya ada di sebelah sana, selamat malam."
"Hm, selamat malam."
[...]
Di saat mentari mulai menunjukkan teriknya, di saat itulah Naruto mulai tidak nyaman dengan tidurnya.
Yah, memang begitulah cara agar remaja tersebut terbangun setiap paginya, dan biasanya akan ada alarm dari jam weker yang berbunyi bersamanya...
...tapi kenapa sekarang tidak ada?
"Ternyata kau sudah bangun, Naruto?"
Kesadaran yang sebenarnya masih mencoba terkumpul jadi satu kini langsung menghantam Naruto, pemuda itu seketika berjengit dan langsung meloncat ke pojok atas kasur. "Na-Naruko! Apa yang kaulakukan di sini?!"
Gadis itu tersenyum, "Tidak ada, hanya melihatmu tidur."
"Kau... Tidak melakukan apa-apa pada tubuhku 'kan?" Dengan cemas, Naruto meraba seluruh bagian tubuhnya. "Iya, 'kan?"
Naruko mendengus, "Hmph! Jika aku memang berniat melakukan sesuatu, pasti kau sudah tidak akan bisa terbangun lagi!"
Sejenak Naruto mendesah lega, sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah jam weker. "SIAL, SUDAH JAM SEMBILAN!"
Sebelum sempat meloncat dari tempat tidur, Naruko langsung menahan pergelangan tangan pemuda itu, yang membuat Naruto menoleh.
"Kenapa kita tidak membolos saja?" Naruko tersenyum.
[...]
Entah apa yang harus Naruto lakukan pada saat berada disituasi seperti ini, sungguh, dirinya benar-benar tidak tahu.
Sedari keluar dari tempat kosnya yang kecil itu, Naruko —selaku dari gadis yang mengajaknya membolos— terus saja menggandeng tangannya dan menyeretnya ke sebuah taman bermain yang hanya ada beberapa pengunjung saja.
Tentu saja demikian, hari ini bukan hari libur, sudah sepantasnya suasananya agak sedikit hening.
Namun sedari tadi keheningan tersebut seakan terhapuskan oleh tawa riang yang Naruto dengar keluar dari mulut gadis yang menyeretnya, dan lagi-lagi Naruto tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.
Sudah lima wahana yang berhasil Naruto lewati, dan kini hari sudah beranjak siang.
Dimana kini merupakan waktu untuk sarapan, karena mulai tadi pagi dirinya belum makan apapun.
Jika diperhatikan baik-baik, sepertinya tawa yang seakan tak pernah berhenti tersebut kini juga terhalangi oleh rasa lapar pada gadis itu.
Naruto menghela nafas, "Kau ingin makan apa?"
Wajah Naruko ceria lagi, "Bagaiamana kalau burger?!"
"Jangan sesuatu yang cepat saji, jika bisa sesuatu yang berhubungan dengan nasi."
"Gyudon?"
"Yang lain."
"Ooyakodon?"
"Tidak."
Naruko mencubit dagunya sebentar,"Hm, bagaimana kalau napolitan?"
"Baiklah!"
Naruko hanya bisa memandang sweatdrop, 'Itu bukan makanan dari nasi, bodoh!'
[...]
Setelah tiga puluh menit berselang, akhirnya kedua insan yang sedang bolos sekolah itu masing-masing menyandarkan punggung mereka akibat perut yang sedang kekenyangan.
Mereka masing-masing terdiam karena mencoba mengilhami apa yang sedang mereka cerna, sebelum pada akhirnya sendawakeras Naruto membuat Naruko tertawa.
Sebagai tanggapan, Naruto hanya bisa tersenyum. "Bagaimana? Apa sudah puas jalan-jalan hari ini?"
Tawa Naruko terhenti, untuk beberapa kali gadis itu mengambil nafas sebelum pada akhirnya senyuman terukir di bibir ranumnya. "Umh! Terima kasih sudah bersedia menemaniku, dan maafkan aku."
Kedua alis Naruto terangkat, "Untuk apa kau minta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan apapun kok."
Naruko menunduk dan menggeleng, "Umh, bagaimanapun aku akan meminta maaf padamu sebelum semuanya terjadi."
Naruto terdiam sejenak, "Apa maksu —"
"Ayo kita pulang," Naruko berdiri. "Naruto."
[...]
Perjalanan pulang dari taman bermain ke tempat kosan memang dapat menyita waktu satu jam jika tidak menaiki apapun, namun Naruto lebih memilih berjalan kaki untuk menikmati keindahan matahari terbenam dari sebuah jembatan yang menunjukkan panorama laut yang luas membentang.
Yah, pada dasarnya Naruto bisa menikmati hal itu jika tidak ada suara keluhan yang sedari dua menit yang lalu terus saja menghancurkan momen-momen keindahan ini.
"Naruto... Kapan kita sampai...?"
Naruto menghela nafas, "Kurang tiga ratus meter lagi, dan berhentilah mengeluh seperti nenek-nenek yang sedang kena encok."
"Ta-Tapi kakiku sudah tidak kuat lagi~!"
Dan sekali lagi dia menghela nafas, "Sini!" Naruto berjongkok, memberi isyarat agar Naruko menaikinya.
"Tapi, aku ini berat lho... Kau yakin kuat menggendongku?"
Naruto memejamkan mata, "Jujur saja, baru kali ini aku mendengar ada gadis yang jujur dengan berat badannya sendiri."
Pipi Naruko menggembung, "Phuu~! Awas saja sampai kau menyesal, akan kujitak kepalamu!"
"Tenang saja, aku tidak akan menarik kata-kataku, cepat naik!"
Naruko terdiam, gadis itu mengalihkan wajahnya yang sedikit merona ke arah lain.
Merasakan kalau tidak ada beban yang kian ia nanti, Naruto akhirnya menengok kebelakang, mendapati bahwa Naruko masih setia berdiri di tempatnya dengan kedua tangan yang ia taruh di belakang."Naruko?"
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Naruto melihat sebuah anggukan kecil. "U-Umh."
Dengan dua langkah ke depan, Naruko kini berhadapan langsung dengan punggung lebar dari remaja yang memiliki tanda lahir berupa kumis kucing di pipinya. Dan dengan segenap keberanian yang terkumpul, akhirnya kedua tangan itu melingkari leher sang penggendong.
"Baiklah, kita berangkat!"
[...]
"Naruto, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu, kenapa tidak?"
"E-Emm... Kenapa kau tidak ingin pergi ke Koloni lagi?"
Bahu Naruto sedikit terangkat, "Yah, karena aku tidak mau saja."
Dengan sedikit ragu, Naruko meletakkan dagunya di bahu kanan Naruto. "Tapi kenapa? Beri aku alasannya."
"Koloni itu tempat dimana sampah bertebaran, dan aku tidak mau datang ke tempat yang penuh sampah seperti itu." Jeda sejenak, "Apakah kau masih ingin membawaku ke sana meski kau sudah dihajar sampai babak belur seperti kemarin? Harusnya kau belajar agar tidak terlalu berlebihan untuk setia pada orang yang menyuruhmu, jika tidak maka kau pasti akan terus selalu diperlakukan seperti anjing pungutan. Diinjak, dipukul, ditendang sampai kemarahan merekapupus."
Naruko menggigit bibir bawahnya, "Kau... Tidak memberiku alasan."
Naruto terdiam. "Alasannya, karena aku tidak ingin melihat tempat yang menjadi persinggahan terakhir kedua orang tuaku, dan hanya itu."Remaja yang masih menggendong gadis bersurai itu terdiam sejenak, "Aku sudah menjawab pertanyaanmu, 'kan? Jadi sekarang giliranku, kenapa kau tadi minta maaf?"
Wajah Naruko seketika berubah sendu, "I-Itu karena..."
Naruto tiba-tiba saja berhenti berjalan saat ada pria yang sedang menghadang dirinya, dan di sisi lain Naruko terkejut saat melihat sosok yang sedang berkacak pinggang sebelah tangan itu.
Dengan wajah pucat miliknya, sosok itu tersenyum penuh keramahan. "Sepertinya kau sangat bersenang-senang hari ini, Naruko. Tapi perlu kau ketahui,"raut wajah itu tiba-tiba saja mengeras, "Sudah waktunya kau pulang."
To be Continued...
.
Note: Ah, waktunya liburan telah tiba ternyata, jadi bisa main sama Dedek-Dedek imut :v Lolz.
Dari chapter depan, Arc I benar-benar akan dimulai. Jadi genre aksi serta fantasi akan dimulai dari chapter depan, yah meskipun kelihatannya masih lebih banyak dramanya sih ahahahaha.
Oke gak banyak bacot lagi, sekian dan Salam Lolicon.
