Saya bertanya mengapa dan pada siapa, mengapa akun ffn saya tidak bisa dibuka?

Ya, sudah. Dari pada saya pusing dengan akun yang alot dan kolot, padahal sudah berhasil membuat akun dan nunggu 3 hari, luar biasa bahagianya. Memutuskan untuk membuat akun baru lagi, menjemukan sih, tapi, mau bagaimana lagi coba?

Apa ngebakar kantor ffn? Gara-gara akun error. Nggak mungkin kan!

Baiklah saya persembahkan karya saya yang tentu saja, jelek, memuakkan, tidak masuk akal dan membuat jengkel readers.. :D 'itu sudah pasti'


Pairingnya

Sasuke x Naruto (itu jelas nomor Uno)

Sasuke x Deidara (dikit)

Naruto x Sasori (sela-sela)

Ratingnya langsung : M

Untuk 17 tahun (+)

Disclaimer : masashi kishimoto (selalu)

WARNING : BOYS LOVE, YAOI, LIME, OOC, IC, ABAL, GAJE, TYPO (S)

dont like dont read


Chapter 2

"Wah.. kau hebat sekali Naruto-sama, boleh enggak aku minta tanda tangan plus foto sama kamu?"

Salah seorang gadis kecil dengan rambut berwarna orange yang meminta berfoto bersama Naruto, ketika ia berada diruang ganti.

"Baiklah, dengan senang hati.. adik kecil"

Naruto tersenyum manis pada gadis kecil itu, lalu memberinya tanda tangan pada kertas putih pucat yang digenggam gadis itu sejak tadi. Ia dan gadis itu berfoto untuk beberapa kali, jepretan-jepretan kamera digital memantul pada kaca, sehingga berhasil membuat seseorang yang diam dan membeku menyelingak ke arah Naruto. Terlihat gadis kecil itu sangat senang sekali, setelah keinginannya terkabul, ia berterimakasih pada Naruto dan langsung pergi meninggalkannya.

RING.. RING... RING

Ponsel Naruto berbunyi, ia langsung membuka dan melihat inbox nya.

[ Naruto... kau hebat sekali, aku suka gayamu tadi. Hn.. oh iya~ Nanti kamu tampil duel ya? Sama siapa Naruto? tapi~ bukannya, sebelumnya kamu nggak di jadwalkan mau duel? :D selamat ya]

[ Ya, terimkasih.. Apa maksudmu Sai? duel—apanya? Kau aneh saja :o ]

[ Aduh.. aku nggak mengada-ada kok.. tadi aku dengar, setelah dua penampilan lagi, kau dan pianis itu akan tampil duel.. umm~ maksudku, barengan ]

Naruto terbingung sendiri, 'duel' dalam benak pikirannya. Naruto nampak agak sedikit cemas dan ragu pada dirinya sendiri, kala itu juga, beberapa kali dengusan dan helaan nafas dari Naruto, yang mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan apa yang akan dihadapkannya, sebentar lagi.

"Rencana konyol apa lagi ini? mengapa Neji tidak memberitahuku sebelumnya!"

Naruto menyandarkan tubuhnya pada sofa panjang yang empuk, sembari membolak balik, buku melodi ciptaannya sendiri dengan malas-malasan—sampai akhirnya buku itu jatuh dan mengeluarkan bunyi debaman yang keras pada seisi ruangan itu. Sepasang mata hitam mengawasi gerak-gerik Naruto.

"Harus apa aku ini— , bagaimana kalau aku gagal? Aduh~" nafas Naruto tercekat dalam "Ehem.. lalu, musik yang seperti apa yang nantinya akan dimainkan secara duel? Aku benar-benar tidak maksud dengan semua ini!"

Naruto berbicara sendiri, sambil memegangi biola putih sucinya itu.

Ruangan ganti tampak sepi dari hingar bingar para wartawan atau para kru dan juga audiens. Naruto memperhatikan ruangan itu, ia berjalan-jalan kecil, pada ruangan berdinding coklat clasic kalem. Ruangan yang nyaman dan kedap suara tentunya. Naruto dengan padangan yang tenang dan hati yang dingin, memegangi biolanya lalu memainkannya dengan alunan suara lembut dan sedikit memunculkan aura melankolis, suara unik dan jarang ada yang bisa memainkan biola sampai sedalam itu, untuk memainkan dengan penuh intuisi perasaan yang peka. Narutolah jagonya.

Dawai-dawai indah terdengar halus di pendengaran, penuh dengan pendalaman. Penghayatan setiap gesekannya, hasrat yang tersampaikan pada semua yang ada didekatnya, dingin ac pada kamar itu semakin membuat suasana menjadi terbawa oleh melodi yang hangat itu. perlahan dan penuh makna, tinggi rendah pada setiap penempatannya, relaksasi yang dahsyat untuk yang mendengarkan, decitan, gesekan, lemah gemulai hingga yang menusuk ke dalam ubun-ubun kepala, simfoni-simfoni tergiring satu-satu oleh tangan Naruto yang lihai dan sabar tentunya. Terlihat Naruto memejamkan matanya dan menggerakkan badannya sedeikit, untuk mengikuti simfoni-simfoni indah yang diciptakannya sendiri.

Tanpa Naruto sadari, duklah pemuda raven di sofa empuk itu, Naruto masih memainkan biolanya dengan berdiri dan mengatupkan mata pada kelopaknya yang nampak menikmati suara-suara itu.

"Hebat-" Seru Sasuke datar dengan tepuk tangan ala congkaknya.

Naruto tertahan dan sedikit kaget oleh apa yang dilakukan Sasuke. Naruto masih bingung dan sesegera dia menampakkan wajah manisnya yang dingin pada Sasuke.

"Ada apa?" Naruto datar dan dingin.

"Kubilang hebat, permainanmu" Sasuke melipatkan kedua tangannya seoerti orang kedinginan.

"Terimakasih, ta-tapi, sejak kapan kau ada disini? Dan menga— " Suara Naruto tertahan oleh kata-kata Sasuke

"Hn, tapi, sebaiknya kau menyerah saja" Sasuke berkata sangat congkak pada Naruto

Naruto memandang tajam dan dingin pada Sasuke sombong itu.

"Maksudmu? Aku menyerah? —apa itu yang akan kau katakan?" Naruto dengan wajah stoicnya yang horror .

"Hn"

Sasuke melengos pandangannya hingga sampai pada tatapan pertamanya pada Naruto. Sasuke nampak shock dan kaget, ternyata matanya sama dengan kekasihnya—Deidara. Sasuke memicingkan matanya lebih tajam pada Naruto. Naruto hanya mengangkat satu alisnya dengan dingin seperti salju, melebihi Sasuke.

"Me.. nye.. rah.. kelihatan menarik untuk diperhitungkan" Naruto mengeja kalimat dan memalingkan wajahnya dengan stoic dan dingin.

Nampaklah dua orang dengan kemiripan kepribadian yang dingin dan kosong, dengan situasi berwujud perang dingin antara keduanya, kata-kata datar yang tersalut dari kedua bibir pucat itu. Kata-kata menggantung dengan tatapan acuh yang memang nampak panas dan dalam.

"Bisakah kau mengajariku bermain dengan biola yang mirip denganmu?" Sasuke memicingkan mata.

"Kau tidak bermaksut membuatku emosi kan? Hei..."

"Tidak ada yang akan emosi" Sasuke mendengus memperhatikan wajah baru dingin itu.

"Lantas?" Naruto memandang tajam onyx itu.

"Tak ada, bukankah kau, yang bernama Naruto? ha?" Sasuke melengos "Hebat juga kau, tapi... permainanmu itu persis sekali sama—"

"Apa?" Naruto merenggut ponselny dan berdiri.

"Sama seperti anak kecil. Ck, tidak ada ya.. lawan yang pantas bersanding dengan seorang Uchiha." Sasuke memandang Naruto "Lihatlah dirimu?"

"Ha?" Naruto datar. "Ck.. belajarlah sendiri" Naruto menengadahkan wajahnya "Dasar pemalas~ Hah, pantas— dari wajahnya saja sudah terlihat."

Sasuke menahan dirinya yang mulai muak dengan Naruto.

"Kita lihat, audiens lebih memilih aku... atau~ kau congkak!" tangan Naruto menunjuk ke dada bidang Sasuke dengan kasar, sambil berjalan keluar dari ruangan yang membuatnya panas.

"Ohooho.. lihat— tangan senarmu sudah mengotori bajuku. Baiklah, kita lihat nanti bung!"

"Cih.. suatu saat!" Naruto menutup pintu dengan kasar.

Naruto akhirnya keluar dari ruangan yang membuatnya terperanjat oleh amarah. Naruto sebisa mungkin menenangkan dirinya sendiri. Datanglah seseorang berkacamata hitam dengan rambut dikuncir, diikuti dengan satu asisten berrembut pink yang nampak selalu tepat waktu.

Ia berkara pada Naruto agar ia langsung bersaiap-siap dengan segala kemampuannya selama ini, asisten itu nampak mempercayuakan pada Naruto bahwa ia akan di uji bersama orang yang belum pernah bertemu sebelumnya, itu bertujuan, agar audiens bisa melihat, apakah ia pantas menjadi pemain musik profesional atau tidak. Naruto meng iya-kan perkataan produser yang tadi ditemuinya sewaktu berjalan menuju ruang tunggu, saat akan melakukan persiapan konser.

"Para audiens yang terhormat, saksikanlah penampilan yang sungguh mengejutkan pada kesempatan ini. Seorang Pianis dan Violinst muda, akan melakukan adu musik, dengan properti yang berbeda. Siapakah yang pantas menyandang gelar profesional? Disini jawabbannya. "

Mc mempersilahkan Naruto utuk maju ke depan panggung, dengan satu lampu menyorot padanya. Naruto tampak tenang dan kalem dengan mengenakan jas hitam dan bunga mawar putih yang bertengger di saku kanannya. "Inilah dia.. Violinst kita, Naruto Uzumaki~"

Sekejap, rona suara tepuk tangan audiens mengembang hebat di segala penjuru ruangan itu. Naruto masih cuek. Tetapi, perasaan cuek seketika luntur, sesaat tirai pada belakang panggung itu dibuka, dan menampilkan sesosok makhluk yang bercakap nista bersamanya sewaktu tadi.

"Dan inilah, Pianis kita malam ini.. Uchiha Sasuke" suara tepuk tangan dan jeritan sorak soraya audiens semakin bertambah kencang, ketika audiens mengetahui, Sasuke yang akan menjadi rival dari Naruto. Lampu sorot kedua mengarah kepada tubuh Sasuke yang memang kalem itu.

Sai berdehem "Deidara.. lihatlah, teman kita berduel, aku tidak menyangka!" Sai menggigit bibir bawahnya sendri "Padahal kan mereka enggak mengenal satu sama lain.. Hn, seperti kita." Sai melirik Deidara "Ya, kan?"

"Hn... entahlah" Deidara membenarkan posisi duduknya.

Sai menggerinyit sendiri, ketika mendengar jawaban asing dari Deidara, yang tadinya ia anggap baik, sekarang malah menjadi menyebalkan. Deidara nampak menggenggam tangannya sendiri, saat Sasuke sudah mulai memainkan pianonya dengan nada yang lembut dan santai, Deidara nampak cemas akan keadaannya sendiri, beberapa kali, Sai memergoki Deidara sedang meraba bagian x nya, lalu ia mendengus dan merasa khawatir.

Naruto pov

Aku masih diam dan tercengang dengan keadaan yang memaksa seperti ini, berdiri dengan tumpuan harga diriku sendiri, didepan mimpiku yang aku cita-citakan selama ini, aku menggenggam lemah biolaku. Tegang dan kalut menjadi jawabanku saat ini. Aku seperti mati kutu di hadapan mimpiku sendiri.. Apa mungkin karena pengaruh saat bertengkar dengan si—raven bodoh itu tadi?

'Brengsek... aku kehilangan kendaliku!'

Mungkin ini kata-kata yang tepat, sebagai lambang kalah telak dimata bocah itu. Sasuke tiba-tiba memberhentikan permainannya, ia memandang mataku dari jarak yang dekat, aku berhasil mendapatkan matanya yang hitam dan menakutkan itu. Dia tersenyum seakan mengejek, aku menguatkan rahangku yang mulai mengeras dengan tatapan tajam memandanginya balik. Aku menelan ludahku sendiri dan mencoba sedikit bernafas lalu menggenggam biolaku dengan tatapan miris dan langsung menyanggulkan pada pundakku. Aku masih ragu dengan diriku sendiri yang serasa sudah di patahkan oleh setan kecil itu.

'Kau bisa Naruto.'

Aku tersenyum menyimpul membalas Sasuke tadi, audiens mulai bingung dengan kemelutnya masing-masing. Tapi, itu terhenti saat aku mulai menggesekkan biolaku dengan suara nyaring dan sedikit kasar sebagai hasil bunyinya. Kesan horror tampil dalam wajahku saat ini, memejamkan mata, adalah hal yang sangat lumrah dilakukan Vionist saat mereka menggesekan pengait pada biolanya.

Alur suara biolaku mempengaruhi semua audiens yang nampak mulai menjerit histeris ketika aku bermain dengan simfoni-simfoni yang mengalir begitu saja. Tidak ada penjabaran untuk suara yang keluar begitu saja, perasaanku sedang kacau dengan kemelut seadanya dalam perasaanku, hasil melodi yang horror terdengar nyaris sama seperti apa yang ku rasakan, aku melampiaskan perasaan marahku pada biolaku sendiri. Sasuke nampak tidak ingin mengalah sedikitpun dari aku, Ia memberikan sensasi menggoda telinga para audiens dengan piano yang dimainkannya.

'Dasar congkak!' aku menggeram lagi.

Aku tidak sadar dengan permainan biolaku yang sudah semakin panas dan menggila, aku paksa dan terus memaksa mengeluarkan semua bakat terpendamku yang selama ini di ajarkan oleh Kakashi senpai secara sembunyi-sembunyi.

End Naruto pov

"Siapa namamu?" Deidara menatap Sai sedikit menyeringai.

"Sai, oh iya.. tadi aku lupa memperkenalkan namaku hehehehe~ " Sai membenarkan duduknya "Pertunjukan sudah selesai, mari kita masuk ke ruang ganti mere—" lagi-lagi kata-kata Sai terpotong.

"Un-untuk... apa? Deidara tercengang " Eh, maksudku..." suaranya berubah menjadi bimbang dan melirih diantara riuh tepuk tangan audiens.

Sai menatap heran pada Deidara, seakan-akan ia tampak tidak senang akan bertemu dengan Sasuke yang sudah sukses berduel dengan Naruto. Para audiens berdiri tidak sabar menunggu Naruto, Sasuke meninggalkan tempat pagelaran ini menuju konferensi pers mereka yang pertama, bersamaan pula dengan dua pemain piano lainnya.

Sai menanggapi wajah Deidara yang nampak sedikit kecewa, entah apa yang ada dalam benak pikirannya.

"Aku ingin dia gagal." Singkat Deidara dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, sebagai wujud kebimbangan.

Sai kaget hingga memundurkan langkahnya ke belakang "Eh, apa maksudmu Deidara?" Sai berdehem "Seharusnya kau kan bahagia, temanmu itu bisa sukses berduel dengan Naruto.. Tapi.. tetap saja yang paling bagus Naruto dong—" Sai kegirangan sendiri.

Sai mulai bertingkah memuji-muji sahabatnya itu lagi, dengan memamerkan dirinya pada orang lain, bahwa Sai adalah sahabat dekat Naruto. Tidak masuk akal bukan? Namanya saja Sai, dia selalu bertingkah diluar jangkauan Naruto yang diam itu. Sementara itu, Deidara nampak sangat pucat sekali, entah karena alasan apa yang terjadi dalam dirinya, ketakutan yang sangat besar yang tersimpan rapih didalam hatinya. Sai berhenti pamer dan memperhatikan Deidara yang sedang larut dalam kebimbangan besar, Sai mendengus kecil melihat teman barunya yang aneh itu. Sai sebenarnya ingin sekali sesegera menemui Naruto. Tetapi, ia tampak tidak tega dengan Deidara itu.

"Sai.." Deidara mendongak.

"Eh, kau sudah bangun Deidara?" Sai meringis " ...hehehhe maksudku— apa kau sudah merasa baikan?" Sai nampak perhatian pada Deidara.

"A-aku... apa nampak baik, Sai?" Deidara menyipitkan matanya yang nampak sayu. Sai hanya tersenyum pada Deidara yang nampak kosong itu, Sai dengan sigap merarik Deidara dari duduk manjanya itu untuk segera menemui sahabatnya yang sudah sukses dengan penampilannya masing-masing. Deidara nampak pucat dan sering mendengus disela-sela jalan mereka menuju ruang ganti. Deidara tiba-tiba menghentikan langkahnya pada tangga melingkar indah itu.

"Hei... apa aku perlu menggendogmu? Aneh!" Sai memejamkan matanya sambil menampakkan kekesalannya secara blak-blakkan pada orang yang baru dikenalnya itu.

"Benarkah kau mau menggendongku Sai?" Deidara puppy eyes dan meringis memohon. Nampak konyol bukan?

Sai cengok dan memicingkan satu matanya pada Deidara. Sai mati kutu diterpa cengoknya yang luar biasa menyiksa itu. "..Hahahahha mukamu konyol seka—" kata-kata Deidara terputus saat, Sasuke memanggilnya dari bibir tangga atas.

"Deidara" serunya datar, tangan terlipat di antara datarnya itu.

I'm afraid

I stuck by love and your touch

I wanted to run but I'm blind

I wanted to curse the time, but I could not

waiting to die with love and coercion

love to fuck

black eyes scare me

there tomorrow

true love

all that is done after the flight

things will not change

I'm afraid of you

afraid of the desires and passions are uncontrollable

Sai dan Deidara yang tadi sedang melangsungkan tawanya masing-masing, kini nampak diam, wajah Sai dan Deidara memunculkan kesan dan perasaan masing-masing, Deidara nampak kalut dan sedikit pucat. Sai masih binggung pada dua orang baru yang ditemuinya itu.

"Sai..." Naruto melambaikan tangannya pada Sai dengan senyuman kecil terpampang pada wajahnya.

Sai yang sedang dalam situasi dingin dan cengok berlebihan. 'Untung saja Naruto datang, selamatlah aku..' Sai mendengus kecil dalam benak dirinya yang tersimpan.

"Deidara, aku mohon diri. Temanku sudah datang, aku harap kau tidak cemas lagi seperti tadi." Sai tersenyum pada Deidara yang polos, mata Deidara membulat sempurna, wajahnya nampak kaget dengan apa yang dikatakan Sai baru saja, sampai ia melongo dibuatnya. Sai menunduk memberi salam, lalu melengos dari Deidara menuju Naruto.

Sasuke memperhatikan Deidara dengan wajah dingin dan angkuh "Kau—" Deidara menepis Sasuke dan sedikit memandang ke arah Sai dan Naruto yang sudah mulai hilang dalam pandangannya.

"Penampilanmu sa-sangat baik.. Sas— ah.." kata-kata bocah Akasuna terhenti saat tangan Sasuke yang dingin memaksa menarik lengan Deidara untuk berjalan menuju kamar bernomor 06 itu.

"Ada apa denganmu Sasuke? aa-apa ada yang salah denganku?" Deidara menelan ludah "Kenapa... ?"

Sasuke nampak diam dan tenang seperti biasanya, ia menggesekkan room cardnya pada alat yang menggantung di didinding pintu masuk suite roomnya. Sasuke mendengus kecil dan duduk di antara dua pilar kasur bergelar king size itu, Deidara nampak kalut dan sedikit takut pada Sasuke. Deidara menggeser duduknya menjauhi Sasuke yang gelap itu. Sasuke masih diam tanpa reaksi apapun. Deidara memutuskan untuk menutup tirai besar berwarna merah maroon yang berrenda. Sasuke masih terdiam, entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu. Deidara melepas bajunya lalu menggantinya dengan mengenakan kimono transparan, lalu duduk menghadap meja rias dengan cermin besar di depannya, Sasuke menghampiri bocah Akasuna cantik itu dan langsung memeluknya dari belakang.

"Sas—" Deidara meleguh ingin melepaskan diri.

"Tugasku selesai sayang.." Sasuke memeluk Deidara lebih dalam. Menempelkan wajahnya di leher jenjang Deidara yang nampak ketakutan itu.

Deidara ketakutan sendiri, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. "Sasuke, aku takut" Deidara berkata polos pada diri Sasuke.

"Tenanglah.. aku tidak akan menyakitimu, hime.." Sasuke menggendong Akasuna ala bridal style, dan menjatuhkannya secara lembut di kasur empuk itu.

"Aku takut Sasuke.." Deidara terseungkur di antara himpitan kehangatan kasur

Sasuke melepaskan jas dan perlengkapannya, hingga tersisa celana jins pendek yang masih melekat pada tubuh putihnya itu. Raven duduk di dekat Deidara yang mulai meringkuk dengan kimono transparan, membuat Sasuke berkali-kali menahan nafasnya. Sasuke menyalakan ac dan music clasic bermelodi lembut.

"Malam pertama untukmu, juga untukku..." Sasuke berbisik lembut pada telinga Deidara, sedikit kecupan pada sisi leher jenjang itu. Sasuke meringis kemenangan, Deidara nampak kacau dan kalut.

"Tapi, bukankah kau pernah bercinta dengan orang lain?"

"Lalu? Kalau begitu, kau menolakku lagi Dara sayang?"

"Maksudku, buakn seperti itu, tapi... ada hal yang ingin aku beritahukan padamu"

"Apa? Negoisasi lagi?"

"Apa tujuanmu hanya bercinta Sasuke?"

DEG..

Mata Sasuke terbelalak sempurna.

"Tidak. Apa aku harus memohon padamu?"

"Aku sebenarnya mengalami—"

"Ayolah sayang... mana rasa cintamu?" Sasuke merajuk manja.

"Baiklah..." Deidara iba.

Karena, pada dasarnya, Deidara bukanlah manusia yang normal, memang dia gay, tetapi bukanlah dalam hal itu yang dikatakan beda, Deidara mengidap penyakit kangker darah, Hemofilia. Ya, tau sendirikan, apabila ia terluka, darahnya akan mengucur dan susah membeku, lalu apakah yang akan terjadi, jika Sasuke memaksakan berhubungan, Ya, memang Deidara masih perawan, dan ia selalu menjaganya, karena dia tau kelemahan akan Hemofilia yang di idapnya.

Sasuke duduk di kasur hangat itu, ia menyuruh Deidara untuk duduk di pangkuannya, Deidara meng iya kan, Sasuke mulai memandang Deidara yang cantik itu, melepaskan ikatan pada rambut panjangnya secara perlahan-lahan, dengan menggodanya. Sasuke mendekatkan tubuh mereka hingga menempel satu sama lain, Deidara blushing total, Sasuke tersenyum geli melihat kekasih yang baru di pacari selama satu minggu itu sudah takluk dalam malam pertama, yang di adakan Sasuke licik itu.

"Perawan.. tidak.. perawan.. tidak.."

"Anno..."

Sasuke mengelus dada bidang Deidara yang terekspose menggoda di depan Singa lapar berwujud Sasuke. Deidara nampak malu mendengar kata-kata Sasuke. Raven melepaskan kimono hijau yang dikenakan kekasihnya itu. Deidara menutupi tubuhnya dengan tangan mungil yang kini sudah tidak berdaya lagi, Sasuke menjelajahi tubuh Deidara yang wangi dengan hidungnya. Hidungnya mencium pipi mulus Akasuna, melanjutkan sentuhannya menuju belakang telinga hingga leher, mengecup titik sensitif Deidara dengan penuh kehati-hatian.

Deidara berada pada pangkuan Sasuke yang nampak datar tetapi sangat menakutkan itu, Deidara hanya bisa mendengus kecil saat tubuhnya secara lembut di iringkan menatap ke kasur hangat menggunakan dorongan ubuh kekar Sasuke. Muka Deidara memanas dan memerah sempurna, matanya membelalak dengan kosong menatap apa yang terjadi pada dirinya saat ini.

"Sas... ahh.. hn—" Deidara menggerang tertahan.

Sasuke diam dan tenang mengunci kedua tangan putih Deidara dengan satu tumpuan pada tangan Sasuke, Akasuna nampak takut dengan apa yang akan dilakukan kekasih barunya itu padanya. Sasuke menciumi jari-jari Deidara sampai pada ketiak Akasuna yang telanjang. Sasuke mendengus pada belakang telinga, meniupkan nafas, tanda menggoda korbannya. "Kau takut Deidara?" Sasuke menjilat cuping telinga Deidara dengan mengambang.

Deidara hanya menatap dan mengangguk. "Tenanglah sayang, aku tidak melukaimu. Turuti saja apa yang Sasuke mau!" Sasuke terkesan licik dan dingin.

"Sasuke... apa kau melakukan ini pada semua pacarmu?"

Sasuke tertahan, ia tetap melanjutkan pekerjaannya menciumi leher mulus Deidara itu.

"Tidak— hanya padamu Dei.."

Sasuke memasukkan telunjuknya ke dalam mulut Deidara, Sasuke memaksa Deidara agar mau mengenyoti telunjuknya itu, Deidara mengikuti instruksi yang Sasuke paksakan padanya. Walaupun nampak Deidara terbatuk dan kesulitan bernafas, hingga saliva mengalir indah pada pelipisnya. Sasuke tersenyum licik, ia mendekatkan wajahnya pada bibir Akasuna.

"Layani aku dengan tubuhmu.."

Deidara tercengang kaget, tanpa diberi kesempatan melawan, Sasuke langsung membekap mulut Deidara dengan lidahnya yang bermain di bibirnya dengan liukan bagai ular yang sangat licik dan berbisa. Tangan Deidara menggeram mencakari apa yang ada.

Sasuke memeriksa dan meng-absen bibir Deidara dengan jilatan-jilatan penuh nafsu yang tertahan. Deidara masih belum membuka mulutnya.

"Bukalah bibir penggodamu itu hime.."

Sasuke mengelus leher Deidara dengan satu tangannya, hingga Deidara menggerang dan mendongakkan kepalanya ke atas, tanda ia mulai tergoda dengan permainan licik Sasuke.

"Hnnnhh~ ahhnnn... hentikanhhmm~" Sasuke melumati bibir Deidara yang masih merapat.

"Kita lihat hime.. siapa yang sudah tidak tahan?" Sasuke meraba boxer Deidara, benda panjang mengacung dengan sedikit mengeluarkan cairan lengket pada ujungnya. Sasuke tersenyum licik dengan mata mengerikannya pada Deidara.

"Hentikan!"

tbc


bagaimanakah fic ini ? pasti ancur... ya memang.

lemonnya chap depan .. hehehehe :D

terimakasih untuk sahabat saya :

Naruels, chocolat way, orange naru, matsuo emi, tatiana, haruka.

RNR PLEASE ^_^