Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.


"A happy year... Finally."

.

Harry dan Hermione berdiri di Ruang Rapat Prefek, menunggu utusan-utusan Prefek masing-masing asrama datang. Mereka akan memberikan pengarahan tambahan singkat mengenai aturan tambahan yang akan diberlakukan tahun ini. Normalnya, mereka akan memberikan pengarahan semacam ini hanya ketika mereka masih di kereta api, sekalian memberikan paparan aturan keseluruhan dan pembagian patroli serta kata kunci. Namun Profesor McGonagall memberikan mereka aturan tambahan ini tepat sebelum acara Seleksi dimulai.

Jadi mereka harus mengumpulkan seluruh Prefek lagi.

"Lama... Mereka terlambat," kata Hermione, menggerutu sembari melihat jam tangannya.

"Yah... Mereka harus mengantarkan murid-murid yang lain ke asrama dulu, kan?" kata Harry.

"Tetap saja. Mereka sudah setuju untuk berkumpul lima menit lalu di sini. Mereka sudah terlambat," gerutu Hermione.

Harry mengangkat bahunya, tak mau berdebat dengan Hermione. Hermione masih sangat disiplin dalam hal waktu, dan menyuruhnya untuk mengurangi disiplinnya sama saja dengan memohon kepada kastil Hogwarts untuk berlari pagi keliling danau. Alias: tidak mungkin. Satu-satunya yang mungkin bisa mengurangi disiplin tinggi Hermione hanyalah belajar.

Yang pertama muncul adalah dua Prefek kelas enam Ravenclaw, diikuti Prefek kelas lima Hufflepuff. Harry dan Hermione mengangguk dalam hati. Ruang pertemuan mereka memang berada di tengah-tengah jalan menuju ke kedua Ruang Rekreasi asrama Hufflepuff dan Slytherin, wajar jika mereka datang paling pertama.

Yang kemudian datang, anehnya, adalah dua Prefek Slytherin. Prefek Ravenclaw dan Hufflepuff mengernyit dan menjauh sedikit dari sepasang anak Slytherin tersebut. Sementara itu, si Slytherin tampaknya tak keberatan - mereka hanya menunduk dan tetap diam.

Harry bertukar pandang dengan Hermione, dan mereka berdua menghela napas pelan. Mereka tahu anak-anak Slytherin seluruhnya pergi dari Hogwarts saat Pertempuran pecah, menjadikan mereka mendapatkan cap pengecut setelah Pertempuran usai. Hingga sekarang.

Mungkin akan membutuhkan waktu sangat lama hingga mereka bisa diterima sebagai bagian dari Hogwarts lagi, tanpa perasaan seperti itu.

Setelah beberapa lama, Hermione mengecek jamnya lagi. Sudah terlambat nyaris lima belas menit, dan utusan Prefek dari Gryffindor belum datang. Dia menggerutu.

"Kemana semua Prefek Gryffindor? Masa mereka tak mau mengirimkan dua orang saja sih, untuk ke sini?" gerutu Hermione.

Tepat setelah kata-kata tersebut keluar dari mulutnya, pintu ruangan terbuka, dan masuk ke dalamnya adalah dua orang Prefek Gryffindor: satu perempuan, yang Harry ingat adalah salah satu dari teman perempuan Ginny, dan satu laki-laki gemuk yang - Harry meringis, dan Hermione melotot - membawa sepeluk penuh kue-kue dan makanan.

Si Prefek laki-laki tampak seolah dia baru saja merampok seperempat makanan dapur.

"Dan demi Tuhan... Apa saja yang baru kalian lakukan?" geram Hermione, maju selangkah mendekati mereka. Dia menoleh, mengangkat sebelah alisnya pada yang laki-laki. "Cornish?"

"Er... Membawa makanan? Untuk pesta di kamar?" tawarnya was-was.

Hermione menarik napas dalam-dalam, berdoa akan kesabaran yang entah apakah dia bisa dapatkan atau tidak. Akhirnya, hasil dari pengalaman petualangannya selama berbulan-bulan di alam liar memberikan buahnya: Dia membuka matanya, dan berkata tenang, "Letakkan dulu semua makanan tersebut di atas meja, bisa?"

"Bisa, bisa kok," jawab si laki-laki, yang bernama Cornish tersebut. Dia meletakkan semua makanan yang dia peluk di atas meja terdekat, dan berjalan untuk berdiri di samping rekan Prefeknya. Harry menghela napas panjang, lega karena tidak ada ledakan apapun yang terjadi. Kadang dia sangat kagum akan kesabaran yang dimiliki oleh Hermione akhir-akhir ini.

"Oke, kalian semua," kata Hermione, menepukkan tangannya dengan kekuatan yang cukup, sehingga suaranya bergaung di ruang tersebut dan membuat semua perhatian tertuju ke arahnya. Dia menarik napas, dan melanjutkan,

"Kita hanya akan berkumpul sebentar. Aku, dan Harry, tadi baru saja diberikan oleh Profesor McGonagall beberapa tambahan peraturan yang harus dipatuhi oleh para murid. Tugas kalian adalah menyebarkannya kepada semua murid, memastikan tidak ada yang sampai tidak tahu."

Hermione menunggu sampai semua Prefek yang ada di depannya mengangguk, sebelum melanjutkan lagi,

"Aturan pertama yang paling penting untuk diketahui adalah mengenai jam malam. Kami sudah memberitahu kalian sebelumnya bahwa jam malam akan dimulai pada pukul 9 lewat 30 menit, setiap malamnya. Nah, di sini ada tambahan pengamanan yang bisa memastikan bahwa ini akan dilaksanakan, agar tak ada lagi murid manapun yang berkeliaran di luar asrama mereka setelah jam tersebut.

"Setiap malam, pada pukul 9 lewat 30 menit, seluruh pintu masuk asrama kalian akan terkunci. Menutup. Sehingga akan memastikan bahwa siapapun yang sudah di dalam, tak akan bisa keluar. Pintu akan terbuka kuncinya saat matahari terbit."

Mendadak, Prefek laki-laki Hufflepuff mengangkat tangannya. Dia bertanya, "Kalau... Kalau begitu bagaimana dengan yang mau bangun pagi untuk terbang di lapangan Quidditch?"

"Sayangnya, itu tak akan bisa dilakukan. Sebenarnya melakukan itu adalah pelanggaran sejak dulu. Hanya saja tak pernah ada yang menindak. Ada pertanyaan lagi, sebelum aku lanjutkan?" kata Hermione, memandang mereka semua. Semuanya menggeleng, termasuk si Prefek Hufflepuff yang tampak kecewa sekali. Hermione mengangguk.

"Tugas kalian adalah menyebarkan berita ini kepada seluruh penghuni asrama kalian masing-masing, memastikan bahwa tidak ada yang sampai terjebak di luar asrama karena tidak mengetahui informasi ini. Ada pertanyaan?" kata Hermione, memandang berkeliling lagi.

Mereka menggeleng. Harry melihat si Prefek Gryffindor tampak menahan kuapnya, tampaknya dia sudah mengantuk. Dia menggeleng-geleng dalam hati, sementara Hermione menutup pertemuan mereka dan menyuruh semua Prefek itu kembali ke asrama masing-masing. Cornish memeluk kembali semua makanannya, dan berjalan keluar sembari mengoceh senang kepada rekan Prefeknya.

Begitu mereka semua sudah menjauh, Harry dan Hermione keluar dari Ruang Pertemuan dan menguncinya kembali. Hermione menghela napas, dan berkata, "Aku tak tahu kenapa Profesor McGonagall memilih anak seperti Cornish sebagai Prefek..."

"Aku tahu apa maksudmu," kata Harry, mengangguk. Kemudian, dia menambahkan, "Tapi kupikir mungkin... Sebaiknya jangan menilai orang dari penampilan luarnya saja."

"Kamu mengutip kata-kataku," kata Hermione.

"Kamu guru dan contoh yang baik," jawab Harry, tersenyum.

"Ya, ya, ya," kata Hermione, mengayunkan tangannya. "Tapi... Harus diingat, Harry. Bahwa dunia tidak begitu peduli seperti apa kamu di dalam... Dunia peduli mengenai apa yang kamu lakukan di luar."

Harry mengangguk. Dia menghela napas pelan, dan berkata, "Termasuk sangat peduli mengenai apa yang telah kulakukan, tapi tak peduli apa yang kurasakan?"

Hermione menatapnya selama beberapa detik, sebelum akhirnya tersenyum kecil. Dia berkata, "Ayolah, kamu tahu bahwa banyak yang peduli terhadapmu... Aku, Ron, Ginny-"

"Aku tahu itu, terima kasih," kata Harry, menyela.

Merasa kecanggungan akan datang, Hermione tersenyum dan berkata, "Ayo kita kembali saja, kita bisa-"

"Oh! Tidak," kata Harry, tersadar dari kondisinya. Dia menoleh menatap Hermione, dan berkata, "Aku mau ke Ruang Rekreasi Gryffindor dulu, Ginny menungguku di sana."

Kali ini, Hermione memutar bola matanya. "Ginny lagi? Baru sejam kalian dipisahkan..."

"Ayolah, Hermione," kata Harry, nyengir. "Kamu tahu kan aku juga sangat mendukungmu dengan Ron."

Hermione mendengus, dan terkekeh pelan. Mereka berjalan lagi, sampai akhirnya mereka berpisah di Staircase. Harry menaiki tangga menuju lantai tujuh, melambai pada Hermione, sementara Hermione menuruni tangga untuk menuju lantai tiga. Menuju lantai tempat Ruang Rekreasi Ketua Murid yang sekarang dimiliki olehnya dan Harry.

.

-XX-

.

"Hail Mary," ujar Hermione ke sepasang baju zirah di hadapannya.

Kedua baju zirah tersebut membungkuk menghormat, dan bergeser selangkah ke kanan-kiri mereka. Dinding di belakang mereka berdiri berkeretak, bata-batanya berputar dan bergeser, memberikan pemandangan yang mirip dengan yang biasa Hermione lihat setiap kali mau memasuki Diagon Alley. Akhirnya, terbentuk sebuah gang sempit, yang mana Hermione memasukinya dan berjalan menaiki tangga elegan ke atas.

Dan dia tiba di Ruang Rekreasi Ketua Murid, dan memandang berkeliling.

Sekali lihat saja tampak bahwa menjadi Ketua Murid berarti mendapatkan fasilitas yang sangat megah dan lengkap. Sebuah ruangan bundar dengan karpet berwarna keemasan, berlukisan singa di bagian tengahnya. Lilin-lilin yang menggantung melayang-layang, seperti di Aula Besar, kemudian lemari-lemari buku yang tampak sangat merangsang untuk dibaca, dan perapian serta ruang duduk yang tampak sangat nyaman.

Secara singkat: bagus sekali.

Hermione tersenyum, melangkah menaiki tangga yang ada tulisannya menuju kamar Ketua Murid Perempuan. Sebuah pintu mahogani berpelitur dan berukir berdiri di ujungnya, dengan sebuah papan ditempel di pintu tersebut, bertuliskan "Hermione Granger - Ketua Murid"

Hermione membuka pintu kamarnya.

Sebuah ruangan, nyaris dua kali luas kamarnya di rumahnya, menyambutnya. Ruangan tersebut dicat merah muda, warna pink namun bukan pink yang mencolok melainkan warna pink yang lembut. Siapapun yang mengecat kamarnya, telah mengetahui warna yang sangat cocok untuknya. Tempat tidur seukuran King-Size berdiri di sana, dan juga ada lagi lemari buku kosong dan meja belajar. Hermione mendapati bahwa seluruh barang-barangnya sudah dibongkar dan disusun dengan sangat rapi. Semua buku di kopernya, semua perkamen, pena bulu, dan buku tulis; semua pakaian, dan bahkan semua foto-foto berbingkai yang dia bawa. Semuanya sudah dirapikan dengan kecermatan yang sangat bagus.

Dia tersenyum, namun dalam hati dia merasa kasihan pada para Peri-Rumah karena mereka harus bekerja ekstra hanya untuk melayaninya. Dalam hati dia juga memikirkan apakah kamar Harry juga sama bagusnya seperti kamarnya... Dan berapa jumlah Peri-Rumah yang dibutuhkan untuk menyiapkan asrama Ketua Murid yang hanya diisi oleh mereka berdua.

.

Hermione baru saja selesai membersihkan diri dan berganti gaun tidur ketika dia mendengar pintu kamarnya diketuk. Dia menoleh, dan mendengar suara Harry dari luar,

"Hermione, ini aku."

"Ya, tunggu sebentar," kata Hermione, buru-buru mengenakan sweater di atas gaun tidurnya. Dia berjalan ke pintu, dan membukanya, memperlihatkan Harry yang berdiri di sana. Dia tersenyum pada Hermione, memandanginya dari atas ke bawah.

"Mengenakan sesuatu yang seharusnya hanya boleh dilihat Ron?" tanyanya dengan nada jail.

"Hush, diam," kata Hermione. Harry mendengus, dan Hermione berjalan menuju ke lemari bukunya, tempat seluruh buku-buku yang dibawanya sudah diletakkan dan disusun dengan rapi. Harry masuk ke dalam kamar, melihat sekeliling.

"Jadi kamarmu juga dirapikan habis-habisan... Atau ini pekerjaanmu sendiri?" tanya Harry.

"Pekerjaan Peri-Rumah," jawab Hermione, memilih-milih dan mengambil tiga buku dari lemari. "Mereka benar-benar bekerja ekstra hanya untuk kita..."

"Ya, benar," kata Harry, setuju sepenuhnya dengan Hermione. Dia menoleh, dan melihat Hermione sedang berjalan kembali ke tempat tidurnya, membawa tiga buku tebal. Harry mengangkat alisnya sedikit.

"Kupikir kamu sudah akan tidur?" tanya Harry. "Mau belajar dulu?"

"Bukan, ini bukan belajar," kata Hermione. Dia duduk di kasurnya, menyandar di sana dan memperlihatkan sampul depan ketiga buku yang dia baru saja bawa. Harry mendekat ke kasur, dan juga duduk di atasnya, membaca ketiga judul tersebut.

"A Divine Comedy... Canterbury Tales... The Diaries..." Harry mendongak, mengangkat buku berwarna merah berjudul Divine Comedy dan menunjukkannya kepada Hermione. "Tebal sekali buku ini. Buku untuk apa sih? Untuk pelajaran?"

"Jelas bukan untuk pelajaran," kata Hermione, meraih buku Canterbury Tales, dan mulai membaca dari halaman satu. "Ini semua buku-buku Muggle. Ayah dan ibuku membelikanku ini untuk hadiah ulang tahun lebih awal... Dan kupikir akan menyenangkan membawanya ke Hogwarts untuk bacaan ringan."

"Bacaan ringan?" tanya Harry, membuka-buka buku Divine Comedy. Dia berhenti di sebuah halaman yang memperlihatkan gambar hitam putih seseorang yang dari tubuhnya mencuat tangan-tangan dan kaki-kaki dalam posisi ganjil, membuatnya tampak seperti laba-laba besar. Dia mengernyit, membaca sedikit halaman di sebelahnya.

Setelah satu halaman penuh, Harry mendongak, menatap Hermione yang sedang tenggelam dalam bukunya. Dia mengangkat sebelah alisnya, dan bertanya pelan, "Hermione, aku tak tahu kamu menyukai buku seperti ini."

Hermione mendongak dari bukunya, dan mengangkat bahunya. Dia menjawab, "Itu buku yang menarik. Sama seperti Canterbury Tales dan Diaries."

"Ini bukanlah bacaan ringan..." kata Harry membuka-buka halaman buku itu lagi. Dia berhenti di halaman judul, membaca nama pengarangnya.

"Dante Alighieri... Rasanya aku pernah mendengarnya..." gumamnya.

"Kalau kamu pernah menjalani Sekolah Dasar Muggle, kamu mungkin tahu. Kita semua membaca mengenainya dalam pelajaran Bahasa, ingat? Seorang penyair terkenal dari Italia-"

"Er... Tidak, kupikir aku tidak ingat..." kata Harry, memotong kuliah dari Hermione yang nyaris dimulai. Dia mengulum lidahnya sejenak, membaca lagi beberapa halaman dan melihat beberapa gambar. "...Menarik juga sih..."

"Kalau menurutmu menarik, kamu bisa membawanya kok," kata Hermione, tersenyum cerah akan prospek Harry mau membaca buku.

Harry buru-buru meletakkan buku tersebut, berkata, "Oh tidak tidak tidak, aku tidak... Er..." Harry mencari kata-katanya dengan berhati-hati. Dia melanjutkan, "kan... Kan kamu mau membaca ini."

"Aku akan membaca ini lebih dulu," kata Hermione, menunjukkan buku Caterbury Tales sembari tersenyum. "Kamu bawa saja itu."

Mata Hermione bercahaya dan wajahnya berseri-seri, sehingga Harry hanya menghela napas, dan menjawab, "Ya... Oke. Makasih."

Nyengir lebar, Hermione berkata, "Orangtuaku benar-benar mengerti aku, mereka tahu bahwa buku-buku seperti ini akan sangat menarik dan kusukai."

Harry menatapnya selama beberapa detik, buku tebal tersebut di tangannya. Dia menunduk memandangi buku tersebut, sebelum mendengus tertawa. Tentu saja orangtua Hermione pasti tahu... Hermione akan sangat menyukai buku yang bisa membuatnya aktif berpikir juga, tidak hanya pasif membaca. Dan buku-buku Muggle biasanya adalah buku-buku yang tepat untuk itu, apalagi jika dilihat dari ketebalan buku-buku di kasur Hermione tersebut. Harry meletakkan buku itu, dan memandang berkeliling lagi.

"Omong-omong, kenapa kamu ke sini, Harry?" tanya Hermione, memecahkan lamunan Harry.

Harry menoleh menatapnya, berkata, "Lho, aku tidak boleh mengunjungi sahabatku sendiri untuk mengobrol?"

Hermione mendengus. Dia meletakkan bukunya, menghenyakkan dirinya ke sandaran kasurnya lebih dalam lagi. Dia berkata, "Kalau kamu mau curhat dan minta saran lagi mengenai Ginny, aku pikir boleh-boleh saja... Asal jangan lama-lama."

"Wah, aku sedang tidak mau curhat, Hermione," kata Harry, nyengir. "Semuanya sedang lancar-lancar saja sekarang."

"Uh-huh," kata Hermione, mengangkat sebelah alisnya. Harry mendengus, dan bertanya balik, "Kalau kamu dan Ron? Lancar-lancar jugakah?"

"Lancar, sangat lancarrrr..." kata Hermione, dengan senyuman lebar.

Mereka berdua bertatapan lagi selama beberapa detik, hingga Harry tertawa lebih dulu. Kemudian Hermione tertawa, dan mereka terbahak-bahak bersama.

Butuh beberapa menit sampai mereka mendapatkan jeda untuk bisa bernapas dengan benar. Akhirnya, mereka bisa menenangkan diri. Harry-lah yang berkata lebih dulu, "Aku tak bisa percaya... Akhirnya kita bisa mendapatkan ini! Tahun yang akan menyenangkan... Dan kita masing-masing mendapatkan Weasley! Dimana beresnya itu?"

"Oh, ayolah. Jangan heran," kata Hermione, nyengir.

"Tapi tetap saja, rasanya..." Harry menarik napas, menahannya. Dia teringat malam-malam mereka berdua di tenda, saat-saat dimana setiap detik terasa seperti detik terakhir, setiap gerakan rasanya mengandung bahaya... Dia teringat saat berjalan menemui Voldemort di Hutan Terlarang, menyerahkan nyawanya... Dan menatap Hermione di sini, di tempat tidur Ketua Murid, di Hogwarts, tanpa perasaan beban apapun kecuali fakta bahwa mereka akan menghadapi NEWT...

"Rasanya seperti mimpi..." kata Harry, mendesah.

Hermione menatapnya sesaat, tersenyum lembut. Dia berkata, "Tapi kita memang hidup di dunia mimpi, Harry. Kita hidup di sebuah dunia mimpi... Sebuah dunia Fantasi, sebuah dunia dimana segalanya bisa terjadi. Tentu saja hal seperti ini bisa terjadi."

Tersenyum lebar, Harry merasakan luapan bahagia yang sangat besar untuk Hermione dari dalam dirinya. Dia berujar pelan, "Ron beruntung memilikimu, kamu tahu."

"Begitu juga dengan Ginny," jawab Hermione.

Mereka tertawa pelan lagi, membiarkan ketenangan dan kelegaan mengalir mengisi. Lagi-lagi, Harry yang memecahkan keheningan dengan berkata, "Omong-omong soal mimpi..."

Hermione mendongak, dan Harry mengedikkan kepala ke arahnya. "Bagaimana soal kamu dan Ron? Kamu tahu banyak sekali hal mengenai aku dan Ginny. Ceritakan dong mengenai kalian. Bagaimana kisah kalian di Australia, jalan-jalan di sana bersama orangtuamu. Ceritakan yang lengkap lho."

Hermione memutar bola matanya, namun tersenyum, dan mulai bercerita.

.

Hari-hari pertama mereka di Hogwarts adalah hari-hari yang sudah sejak lama mereka berdua inginkan. Terlepas dari masalah pelajaran yang menggunung dan berbagai perhatian yang mereka dapatkan dari seluruh penghuni Hogwarts, mereka merasa sangat lepas karena tidak ada beban dan tekanan akan keberadaan penyihir hitam terhebat sepanjang masa mencoba mencari dan membunuh mereka.

Harry menyadari dirinya menjadi terkenal, jauh lebih terkenal dibandingkan dengan di tahun-tahun sebelumnya. Setiap orang di kastil rasanya sangat bahagia dan senang untuk bisa bertemu dengannya, berpapasan dengannya, ataupun sekedar melihatnya. Awalnya dia khawatir segala perhatian yang dia terima akan menjurus seperti saat tahun keenamnya: gadis-gadis yang terkikik, membuntutinya, orang-orang yang akan bertanya-tanya dan mencoba menginterogasinya. Namun ternyata tidak. Penghuni kastil sekarang jauh lebih menghormati Harry, dan mereka menghargai keinginannya untuk dibiarkan saja, diperlakukan dengan normal. Soal bisik-bisik mengenai dirinya, pasti tetap ada, namun Harry sudah kebal akan hal tersebut. Selama yang dibisikkan tidak menjurus ke super negatif, dia akan membiarkannnya saja.

NEWT akan mereka hadapi, bersama beberapa anak yang juga mengulang tahun ketujuh: Neville, Dean, Seamus, Hannah, Susan, Ernie, dan sebagian besar penghuni Laskar Dumbledore. Semua pengulang ini belajar keras dan bekerja sampai payah, namun tak ada satupun yang menyamai Hermione.

Hermione sangat obsesif akan belajar, namun kali ini jauh melebihi tahun-tahun sebelumnya. Dia akan belajar hingga sangat larut malam, menulis belasan esai, membaca banyak buku, dan melatih banyak sekali mantra-mantra aneh yang menurut Harry mungkin sudah melampaui level NEWT. Dia terlihat semakin kurang tidur, lingkaran-lingkaran hitam bermunculan di bawah matanya.

Namun anehnya dia selalu tampak cerah, tak bermasalah, dan ceria. Setiap saat.

Sama seperti Harry, yang juga harus mengurusi Tim Quidditch Gryffindor. Setelah uji coba yang menegangkan, banyak marah-marah, dan berteriak sampai serak, Harry akhirnya berhasil mendapatkan satu Chaser dan satu Keeper. Dua anak kelas empat yang sangat berbakat, yang mana Harry yakin akan bisa mewariskan jabatan Kaptennya kepada salah satu dari mereka jika dia lulus nanti. Dia juga mengurusi pekerjaan Ketua Murid lebih banyak dibandingkan Hermione, karena dia adalah Ketua Murid laki-laki. Ditambah dengan ujian Apparate-nya, yang berhasil dia jalankan dengan mengesankan di minggu pertama bulan September. Dia merasa sangat senang karena akhirnya bisa ber-Apparate dengan legal. Dan, yang dia paling senangi, adalah waktu-waktu senggang di sore hari yang biasanya dia habiskan berdua bersama Ginny.

Dan di tengah-tengah semua kesibukan tersebut, Harry dan Hermione selalu menemukan waktu di malam hari, untuk mengobrol bersama mengenai apapun, tertawa bersama, menceritakan apa saja yang mereka lakukan hari itu. Kadang Hermione memperlihatkan juga surat-surat dari Ron (yang menulis setiap hari), dan mereka akan menghabiskan waktu saling memberi saran mengenai kekasih masing-masing.

Hari-hari yang menyenangkan mereka lalui, dan mereka tak ingin mengubah itu untuk waktu lama.

.

-XX-

.

Sama seperti malam-malam lainnya, setiap diberikan tugas level NEWT Arithmancy, Hermione duduk di perpustakaan, melakukan perhitungan-perhitungan berdasar puluhan Teorema yang rumit. Dia memanfaatkan jabatannya sebagai Ketua Murid, yang mana memberinya kebebasan untuk bisa berada dimanapun sampai larut, tak terbatas oleh jam malam.

Jam malam... Hermione masih ingat, kebijakan jam malam yang baru menimbulkan protes yang keras dari para murid, yang berkeinginan untuk bisa menikmati waktu malam dengan lega, namun setelah seminggu toh mereka semua menerimanya. Mereka semua ingin menikmati tidur di kasur sendiri, daripada tidur di lantai keras kastil yang dingin di malam hari.

Madam Pince masuk ke dalam kantornya, membawa setumpuk buku yang tak diragukan lagi akan dia cek dan periksa kerusakannya. Itu adalah hobinya. Dia hapal seluruh buku yang ada di perpustakaan, setiap inci fisiknya. Hermione sendiri pernah menderita ceramah panjang lebar mengenai kerusakan dari buku yang dipinjamnya dulu saat dia masih kelas satu.

Menulis satu paragraf lagi, Hermione akhirnya menyelesaikan PR-nya. Dia mengayunkan tongkat sihirnya, membuat perkamen tersebut tergulung dengan sendirinya dan mengikat dengan seutas tali yang muncul dari udara kosong. Dia meletakkan pena bulunya, dan melakukan sedikit peregangan badan, menghela napas panjang-panjang.

"Ayo, Hermione..." gumamnya pelan, memejamkan matanya, bersandar ke kursi. "Tinggal sedikit lagi... Demi NEWT... Ayo..."

Dia mengatur napasnya hingga tenang, mendengarkan semua suara di sekelilingnya. Desah angin yang mengalir dari jendela berjeruji, ventilasi kuno perpustakaan... Suara-suara burung hantu di alam liar, bergabung dengan suara hewan-hewan malam. Dia tersenyum kecil. Suara-suara tersebut selalu bisa membuatnya merasa tenang dan nyaman. Di tahun-tahun sebelumnya, dia tak pernah menyisakan waktu untuk mengapresiasi hal-hal semacam itu setiap di perpustakaan.

Dia membiarkan angin yang berhembus pelan tersebut membelai kulit wajahnya, kulit tangannya yang terbuka ke udara bebas. Dia merasa seperti ada di malam itu sendiri, merasa sangat tenang...

Suara langkah kaki yang mendekat memberitahunya bahwa Madam Pince sedang menghampirinya. Dia buru-buru duduk tegak lagi, dan membuka matanya, khawatir Madam pince akan memarahinya karena mencoba tertidur di perpustakaan.

"Maafkan saya, Madam Pince... Saya..."

Namun Hermione tak menyelesaikan kalimatnya, karena dia menyadari ada keganjilan:

Tidak ada seorangpun di perpustakaan.

Kecuali dia sendiri.

Dia mengerjap, memfokuskan kembali pandangannya, khawatir dia melewatkan seseorang di antara lemari-lemari yang gelap. Dia memandang berkeliling, mencoba mencari sumber suara langkah kaki yang barusan didengarnya.

Namun tidak ada siapa-siapa.

Memandang kembali ke permukaan meja, dia menghela napas dan membenamkan wajahnya ke tangannya. Dia mengusap wajahnya, mencoba mengembalikan fokusnya. Dia tahu bahwa dia baru saja mendengar apa yang sebenarnya tidak ada, sama seperti beberapa hari lalu. Sepertinya dia kelelahan.

Dia sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Ruang Rekreasi Ketua Murid, ketika dia malah mendengar suara tetesan air.

Yang bergema hingga ke seluruh perpustakaan.

Menoleh dengan cepat ke belakangnya, dia melihat bahwa ada genangan air di antara dua lemari. Genangan air tersebut juga masih beriak, tanda bahwa ada yang baru saja jatuh meriakkan permukaannya.

Hermione mengernyit. Keberadaan genangan air di perpustakaan, di malam hari? Itu saja sudah cukup aneh. Apalagi jika genangan air tersebut beriak.

Bangkit perlahan, Hermione mengeluarkan tongkatnya. Pengalamannya selama berbulan-bulan di alam liar telah memberikannya satu hal: Mengeluarkan tongkat sihir menjadi semacam insting pertahanan diri, terjadi bahkan nyaris di bawah alam sadarnya. Dia berjalan mendekati genangan air tersebut.

Dia menyalakan ujung tongkatnya dengan Lumos secara non-verbal, dan memeriksa genangan air tersebut. Genangan air tersebut hanya berdiameter satu meter, membentuk lingkaran yang bercahaya memantulkan sinar dari ujung tongkatnya.

Aneh, batinnya. Dia yakin dia tak melihatnya saat dia berkeliling mencari buku tadi...

Dia menjulurkan tangannya, dan menyentuh permukaan air tersebut.

Rasanya dingin.

Seperti baru saja menggenang. Kalau itu sudah ada dari tadi, pastilah sudah lebih hangat karena kehangatan di dalam perpustakaan.

Mendadak, terdengar suara tetesan air lagi.

Hermione berjengit, dan mengacungkan ujung tongkatnya yang bercahaya ke lantai di antara dua lemari tinggi di sebelahnya. Di sana, menggenang di lantai dengan beriak pula, adalah genangan air lagi.

Mengernyit, Hermione berjalan mendekatinya, hanya untuk menyadari bahwa dia menginjak air.

Dia melompat kaget.

Genangan-genangan air tersebar di antara lemari-lemari, sangat banyak dan tidak wajar, seakan-akan suatu hujan baru saja turun di dalam perpustakaan, meninggalkan genangan-genangan di lantai perpustakaan seperti genangan-genangan air di halaman kastil. Bingung sekali, Hermione memandang berkeliling, melihat semua genangan air tersebut juga beriak.

Masih baru.

"Apa yang..."

Hal pertama yang muncul di kepalanya adalah bahwa ledeng bocor, dan entah bagaimana berhasil merembes ke perpustakaan. Namun langit-langit sangat tinggi di atas, dan Hermione tahu bahwa di atas langit-langit perpustakaan tak ada pipa-itu langsung menuju ke udara luar.

Kalau begitu apa yang-

"Hei, Hermione?"

Hermione memekik, berjengit, dan mendarat dengan tidak pas hingga nyaris menubruk lemari. Seseorang menangkap lengannya dengan cekatan, dan menahannya di tempat.

"Whoa, tenang, Hermione. Kenapa kamu sekaget itu?"

Hermione buru-buru berdiri tegak, dan melihat siapa yang baru saja berbicara dan baru saja menangkapnya.

Ternyata Harry.

Harry menatap Hermione dengan tatapan sangat bingung, heran, plus geli. Dia jelas tak pernah melihat Hermione terkejut sampai seperti itu karenanya. Ekspresi geli di wajah Harry membuat Hermione nyaris membentak, namun dia hanya menegakkan badannya, dan merapikan lagi jubahnya.

Dia bahkan tidak menyadari bahwa jantungnya berdebar kencang, dan bahwa napasnya agak memburu.

"Ada apa sih?" tanya Harry. "Kamu pucat sekali, seperti baru lihat setan-"

Mendengar kalimat Harry tersebut, Hermione teringat lagi apa yang baru saja dia lihat, dan apa yang membuatnya merasa tegang.

Dia mengayunkan tongkatnya, membuat tiga bola cahaya muncul begitu saja di tengah udara di sekeliling mereka. Ketiga bola cahaya tersebut cukup untuk menerangi separuh perpustakaan, memperlihatkan lemari-lemari buku yang tinggi dan juga lantainya yang keras. Hermione memandang berkeliling, berniat memeriksa lagi genangan-genangan air tersebut-

Namun genangan air tersebut tidak ada.

...

Tidak ada.

Benar-benar tidak ada, lenyap, tak berbekas.

Hermione menahan napas, melangkah dengan cepat ke posisi di dekat kursinya yang beberapa menit lalu masih dia tempati. Ke posisi yang dia masih ingat sebagai lokasi genangan air pertama ada.

Namun tidak ada juga.

Dia meraba lantai dengan pelan, mengira akan merasakan bekas basah atau apapun yang bisa memberinya indikasi bahwa genangan air tersebut tadinya ada. Tapi permukaan lantai sama keringnya seperti sebelumnya.

Seolah-olah semua genangan air yang dia lihat hanyalah mimpi.

Hanyalah mimpi..

"Hermione, kamu membuatku takut," kata Harry pelan, memegang bahu Hermione.

"Harry..." bisik Hermione, "Apakah... Apakah saat kamu menghampiriku tadi... Kamu melihat sesuatu yang aneh?"

Harry mengerjap. Dia tampak lebih bingung, ekspresi gelinya lenyap seluruhnya. Nada suara Hermione memberitahunya bahwa ini sangat serius, dan dia berkata, "Aneh... Seperti apa?"

Hermione menatap Harry dalam-dalam, mencoba mencaritahu apakah Harry berbohong atau tidak. Jika ini hanyalah hasil kerjaan iseng Harry... Sesuatu yang mungkin saja... Mengingat sifat Harry yang kelamaan tinggal bersama George dan Ron di The Burrow. Namun mata hijau cemerlang Harry memperlihatkan kekhawatiran, dan kewaspadaan semata.

"Seperti... Kamu tahu, sesuatu yang tidak pada tempatnya?" tanya Hermione pelan.

Harry memandang berkeliling, ke lantai perpustakaan yang disinari oleh tiga bola cahaya melayang-layang. Dia bertanya pelan, "Apa yang baru saja kamu lihat, Hermione?"

Sejenak, Hermione sangat ingin menceritakan kepada Harry mengenai segalanya yang baru saja dia lihat. Keganjilan air... Di perpustakaan... Seperti fatamorgana...

Namun di detik terakhir, Hermione hanya berkata, "Tidak..."

Harry mengangkat kedua alisnya.

"Tidak...?" tanya Harry ragu-ragu.

"Tidak..." Hermione berdiri, menghela napas panjang-panjang, menenangkan dirinya. "Ya, tidak. Aku hanya lelah, kukira... Kurang tidur akhir-akhir ini..."

"Hermione-"

"Harry, kumohon," kata Hermione, memotong kalimat Harry dengan agak kasar. Harry mundur sedikit akan nada dari Hermione tersebut, dan Hermione menyadari kesalahannya. Dia berkata lemah, "Maafkan aku, Harry, tapi... Kumohon, bisakah kita tinggalkan saja ini? Aku lelah, dan kupikir aku akan... Tidur cepat saja malam ini..."

Hermione berjalan menuju meja tempat barang-barangnya berserakan. Dia mengayunkan tongkatnya, dan seluruh barang-barangnya membereskan diri mereka sendiri, mengepak rapi dan masuk ke dalam tasnya. Harry mengawasinya selama proses tersebut, Hermione bisa merasakannya menatap punggungnya hingga terasa panas. Akhirnya, Hermione mengambil tasnya dan menggendongnya.

"Omong-omong," kata Hermione, mencoba membuka obrolan biasa, "Kenapa kamu ke perpustakaan malam ini?"

Harry menatapnya selama beberapa detik dengan intens, sebelum tersenyum kecil dan menjawab ringan, "Aku mencarimu. Sudah jam 10 malam, kita harus patroli, ingat?"

"Ah, ya. Patroli..." gumam Hermione, menghela napas. "Yah, hancur sudah niatku untuk tidur cepat."

Harry tertawa pelan, sementara mereka berjalan keluar dari perpustakaan, dengan Harry sedikit di depan Hermione. Sebelum mereka keluar, Hermione menoleh ke belakangnya untuk terakhir kali, menatap kekosongan di perpustakaan yang seolah mengejeknya karena kelelahan sampai melihat fatamorgana. Dia menggeleng kecil.

Harry mengerling, menyadari Hermione menyembunyikan sesuatu, menyadari bahwa Hermione menoleh menatap ke dalam perpustakaan. Namun dia tak bertanya apa-apa lagi.

Diam itu emas, namun kadang akan menyimpan kengerian yang besar ke depannya.

.