"Soonyoung, semenjak komposer Zhang Yixing mengundurkan diri, penjualan album, lagu maupun yang lainnya menjadi menurun drastis. Karena Yixing merupakan salah satu orang membuat kenaikan saham yang cukup tinggi." Jelas sekertaris Lee kepada presdir Kwon

Kwon Soonyoung -presdir tersebut- hanya mengacak rambutnya frustasi

"Apa sebaiknya kita membuka audisi lagi untuk mencari komposer, rapper, maupun penyanyi?" Tanya Soonyoung kepada Lee Seokmin -sekertaris sekaligus sahabatnya

"Jika itu membuat nilai penjualan saham menaik, kurasa itu tindakan yang cukup baik" komentar Seokmin

"Kau segera atur jadwal untuk rapat mengenai usulan ini" ucap Soonyoung, yang dibalas anggukan oleh Seokmin

"Baiklah, 1 jam lagi rapat akan dimulai. Kuharap kau berhasil bung" Seokmin memberikan semangat kepada sahabatnya

"Yeah, aku harap juga begitu" jawab Soonyoung dengan senyum tipis yang terpampang di wajah tampannya

.

.

.

"Semua lukaku, adalah medaliku."

Title : 勋章

Pairing : Soonhoon, Junhao

Cast : all member seventeen and others

Genre : hurt/comfort, drama, romance.

Rating : T

Length : chaptered

.

.

.

Jeonghan tampak tergesa gesa membawa Jihoon ke UKS yang lemah dalam gendongannya. Mata sembab, mulutnya yang terus berkomat kamit, rambut panjangnya yang terlihat acak acakkan

"Hansol sialan! Hiks beraninya membuat Jihoon seperti ini hiks" ucap Jeonghan

Sesampainya Jeonghan di ruang UKS ia langsung disambut oleh Junhui dan Minghao selaku petugas UKS.

"Jeonghan? Ada apa dengan Jihoon?" Tanya Minghao sambil membantu Jeonghan memindahkan Jihoon ke tempat tidur yang disediakan di ruang UKS. Jun langsung membersihkan luka yang ada pada tubuh mungil Jihoon.

"Berandalan itu yang membuat Jihoon menjadi seperti ini!" Geram Jeonghan setelah ia puas menangis karena keadaan Jihoon yang mengenaskan.

"Berandalan? Maksudmu?" Kini Jun yang angkat bicara sambil tetap membersihkan luka di tubuh Jihoon.

"Hansol dan teman temannya yang brengsek itu." jawab Jeonghan

"Huft~ mereka selalu saja membuat masalah" ucap Minghao sambil mempoutkan bibirnya lucu yang membuat Jun merasa gemas dan ingin mencium bibir mungilnya.

Kini Jun dan Minghao sibuk membaluti luka Jihoon dengan perban secara hati hati dan telaten, dengan sabar mereka mengobati luka di tubuh Jihoon yang cukup banyak. Jeonghan melihat tubuh Jihoon yang penuh luka merasa ingin menangis, karena mengapa orang sebaik Jihoon harus terus tersakiti? Dosa apa yang telah Jihoon perbuat hingga ia terus tersakiti tanpa sebab yang tak jelas dan masalah yang sepele? Memikirkannya saja membuat Jeonghan menghela nafas panjang. Ia tak habis pikir, mengapa dunia begitu kejam kepada sahabat mungilnya.

Setelah selesai mengurusi Jihoon, kini Jun dan Minghao harus meninggalkan ruang UKS karena mereka dipanggil oleh guru. Jeonghan beranjak dari tempat duduknya dan melihat Jihoon yang belum sadar. Diraihnya tangan kecil Jihoon, digenggamnya erat seolah ia sama sekali tak ingin berpisah dengan sahabat mungilnya. Jeonghan memandang wajah imut yang penuh luka tersebut.

Jeonghan yang memang orangnya mudah menangis bahkan dalam hal kecil pun kini mulai meneteskan air matanya, dipeluknya tubuh rapuh tersebut

"Hiks, maafkan aku Jihoon-ah hiks" bisiknya pelan

Mungkin ada ikatan diantara kedua sahabat ini, hingga Jihoon membuka matanya perlahan dan mendengar ucapan Jeonghan

"T-tak apa hyung, ini memang salahku" jawab Jihoon dengan suara yang serak.

Jeonghan langsung menolehkan kepalanya ke arah Jihoon, dan melihat sahabatnya yang tengah tersenyum tulus.

"Hmm sayangnya hari ini aku tak bisa bekerja seperti biasanya hyung" ucap Jihoon dengan wajah memelas

"Kau ini! Disaat seperti ini kau masih memikirkan pekerjaanmu?! Aish Jihooniee!" Pekik Jeonghan di telinga Jihoon. Ah benar, Jeonghan ternyata masih dalam keadaan memeluk Jihoon

"Hyung! Suaramu membuat kupingku sakit!" Cibir Jihoon balik

Jeonghan hanya nyengir ketika melihat sahabatnya mencibir kelakuannya. Jeonghan melepas pelukannya dan ia masih tertawa, hal tersebut membuat Jihoon ikut tertawa. Sebenarnya Jeonghan cukup bahagia ketika melihat Jihoon tertawa, setidaknya tuhan masih memberikan Jihoon kesempatan untuk membuatnya tertawa seolah tanpa ada beban yang di deritanya.

.

.

.

"Baiklah, satu bulan lagi kita buka pendaftaran untuk menjadi trainee di agensi kita" ucap Soonyoung

"Satu bulan? Apakah itu waktu yang cukup lama? Mengapa tidak dua minggu mendatang? Lagipula semuanya akan dipersiapkan secara matang oleh para staff" sanggah salah satu anggota yang mengikuti rapat.

"Hmm, berarti mulai besok siarkan ke seluruh Korea Selatan perihal akan diadakannya audisi untuk mencari Komposer, Rapper, maupun Penyanyi-"

"Ah, satu lagi jangan lupa buat lima ribu brosur dan sebarkan ke seluruh penjuru Korea Selatan. Kuharap dua hari lagi persiapannya sudah matang, sisa waktunya pergunakan untuk mendata seluruh calon peserta audisi. Aku harap kalian semua serius, karena kita akan mengadakan audisi besar besaran demi kenaikan penjualan di saham kita. Cukup sampai disini rapatnya, dan mohon kerja samanya" ucap Soonyoung final dan dibalas tepuk tangan oleh seluruh peserta rapat.

"Waw! Kau cukup keren bung!" Ucap Seokmin bangga setelah selesai mengedakan rapat.

"Keren darimananya! sebenarnya aku cukup merasa pusing!" Jawab Soonyoung sambil menyentil dahi mulus Seokmin

"Akh! Pusing? Memangnya ada apa lagi?" Tanya Seokmin heran

"Aku takut selama dua minggu ke depan nilai penjualan saham kita menjadi makin menurun"

"Hei jangan berfikiran seperti itu! Kita harus optimis Soonyoung"

"Yeah baiklah, Seokmin temani aku makan! Aku jadi lapar!" Ucap Soonyoung

"Iya, eh tapi sepertinya aku lupa membawa uang hehehe" kekeh Seokmin sambil menaik turunkan alisnya

"Memangnya apa masalahnya denganku?" Tanya Soonyoung

"Traktir aku bodoh! Aku sudah memberikan kode! Dasar tidak peka!" Keluh Seokmin

Soonyoung hanya memutar bola matanya malas, sebenarnya ia sudah tau jika Seokmin ingin di traktir namun ia hanya berpura pura polos dan tak mengerti ucapan Seokmin. Dasar.

.

.

.

Jun sedang berjalan dengan santai sambil mencari cari keberadaan Minghao, dengan gaya yang tampak keren karena kedua tangan panjangnya ia masukkan ke dalam saku celananya ia berjalan melewati beberapa wanita yang memekik tertahan karena gaya coolnya -cih. Tebar pesona.

Sekitar lima belas menit Jun mencari keberadaan Minghao akhirnya ia menemukannya. Minghao terlihat sedang terlelap dibawah pohon maple yang berasa di taman belakang sekolah. Wajah Minghao tampak damai, hmm sepertinya ia sedang bermimpi indah.

Perlahan Jun mulai mendekati Minghao, Jun ikut membaringkan tubuh atletisnya di samping Minghao. Jun membalikkan badannya menjadi menghadap Minghao, ia tersenyum ketika melihat sahabat sejak kecilnya terlelap dengan nyamannya.

Jun mengangkat tangannya dan mulai mengelus pipi mulus Minghao, akibat perlakuannya kini Jun merasakan jantungnya yang berdetak dengan tidak normal.

Dengan pelan pelan Jun membawa Minghao kedalam pelukan nyamannya, menyenderkan kepala Minghao di dadanya. Di dekapnya Minghao, tangan kirinya ia gunakan sebagai bantal untuk kepala Minghao, sedangkan tangan kanannya perlahan mengelus punggung Minghao agar lelaki manis itu makin terlelap.

Mereka berdua sudah terbiasa melakukan skinship seperti itu sejak dulu, namun- dari dulu juga Jun merasa ada yang aneh di dalam dirinya ketika ia melakukan skinship dengan Minghao. Orang orang biasa menyebutnya dengan 'cinta' tapi entahlah, Jun berusaha menyangkal perasaan yang makin hari makin membuncah di dalam hatinya tersebut, namun tetap saja tidak bisa.

"Sampai kapan aku terus menangkal perasaan ini kepadamu Minghao?" Lirih Jun.

Tanpa Jun sadari, Minghao sudah terbangun tetapi ia berpura pura terlelap. Dan Minghao, mendengar semua ucapan Jun.

.

.

.

"Jihoonie, ayo pulang" ajak Jeonghan kepada Jihoon saat bel pulang sudah berbunyi

"Iya hyung, tolong bantu aku" jawab Jihoon sambil menjulurkan tangan kanannya, Jeonghan langsung menarik tangan kanannya, dan dirangkulnya pinggang Jihoon agar ia dapat menjaga keseimbangannya dalam berjalan

Mereka pun berjalan keluar sekolah, masih dengan setianya Jeonghan tetap merangkul Jihoon. Keduanya terus berjalan, namun tampaknya Jihoon sedikit kesusahan berjalan karena kakinya yang terluka sedikit parah.

"Jihoonie" panggil Jeonghan

"hm?"

"Aku menginap di apartement mu ya"

"Mengapa tiba-tiba kau ingin menginap hyung?"

"Orang tuaku tadi pagi berangkat ke Beijing karena ada urusan bisnis. Masa aku sendirian di rumah" keluh Jeonghan

"Dasar penakut." Jawab Jihoon sarkastik

"Aku tidak penakut Jihoonieku sayang"

"Tapi mengapa kau mengeluh saat kau nanti sendirian di rumah?" Tanya Jihoon

"U-um itu karena.. umm.."

"Ck. Sudahlah hyung jangan mengelak" ejek Jihoon

"Aish! Iya! Aku takut sendirian dirumah, bagaimana jika saat aku tertidur nanti tiba tiba a-"

"Kau kebanyakan menonton film hantu hyung." Potong Jihoon

"Hehehe mengapa kau tau?" Jawab Jeonghan dengan cengirannya

"Apa yang tidak aku tau darimu?"

"Sepertinya kau berniat menjadi cenayang ya Lee Jihoonku"

"Ya. Terserah."

Jeonghan dan Jihoon akhirnya sampai di apartement Jihoon, mereka langsung membaringkan tubuh mereka di kasur nyaman milik Jihoon

"Jihoon?" Ucap Jeonghan

"Ya?" Sahut Jihoon

"Kau lapar?" Tanya Jeonghan

"Sangat."

"Apakah ada bahan makanan di kulkasmu?"

"Sepertinya ada hyung"

"Baiklah, tunggu disini. Aku akan memasak" Jeonghan langsung bangkit dari kasur Jihoon dan beranjak menuju dapur

"Masaklah yang enak hyung! Jika tidak aku usir kau dari apartementku!" Teriak Jihoon

"Sialan kau Lee Jihoon!" Pekik Jeonghan dari arah dapur

Jihoon terkekeh ketika mendengar pekikan sekaligus makian yang Jeonghan arahkan padanya. Jihoon bangkit dari ranjangnya, dan ia membuka tirai di jendela apartementnya. Berhubung kamar Jihoon berada di lantai enam gedung apartement, kini ia bisa melihat kota Seoul di hari senja. Dari jendelanya juga ia melihat wajah orang orang yang terlihat stress, entah itu pelajar, karyawan, maupun yang lainnya.

"Bagaimana aku bisa mendapat pekerjaan yang tetap, jika diriku seperti ini terus-. Aku yang hanya musisi jalanan tidaklah berarti di mata mereka" lirih Jihoon sambil terus memandangi jalanan kota Seoul dari jendela apartementnya.

"Tapi tidak apa, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakan Ibu dan Ayah yang sudah berada di surga. Hwaiting Jihoon! Kau pasti bisa!" Jihoon menyemangati dirinya sendiri.

Hidup mandiri tanpa kehadiran orang tua memang menjadi ujian di dalam hidup Jihoon, ditambah lagi dengan ia yang sedang mengumpulkan biaya untuk berkuliah tahun depan menambah beban di dalam hidupnya. Namun, hal ini juga yang membuatnya menjadi lebih kuat dalam menghadapi kejamnya hidup ini. Di tuntut untuk menjadi mandiri, kuat, serta tangguh, itu lah yang membuat kepribadian Jihoon semakin berubah.

Dahulu Jihoon adalah anak manis yang sering tersenyum hingga membuat orang orang disekitarnya tersenyum hangat karena melihat tingkahnya. Namun, semuanya berubah saat ia berusia dua belas tahun, ia mengalami kecelakaan bersama kedua orang tuanya. Hanya ia yang selamat dalam kecelakaan tersebut, akan tetapi kedua orang tuanya tidak selamat.

Semenjak itulah, ia diasuh oleh keluarga Jeonghan. -Dan, yeah sampai saat ini Jihoon merasa sangat berterima kasih kepada keluarga Jeonghan-. Setelah orang tua Jihoon tiada, Jihoon sering menangis. Ia selalu menyalahkan takdirnya dan selalu berteriak sambil menangis "Mengapa takdir ini terjadi padaku?!". Namun Jeonghan serta keluarganya selalu menguatkannya, dan mengatakan bahwa Ayah dan Ibunya tidak ingin melihat anak semata wayangnya terus menangis dan menyalahkan takdir.

Dan mulai umur lima belas tahun sampai sekarang, sifat Jihoon menjadi berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Ia yang dulunya harmonis, dan hangat berubah menjadi seorang yang dingin dan cuek.

Bahkan ia sering disebut apatis oleh orang orang di sekitarnya. Namun ia sama sekali tak peduli, baginya ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan untuknya.

Dan kini, ia menjadi musisi jalanan demi mendapatkan beberapa lembar won yang cukup untuk menghidupinya sehari hari. Baginya tidak ada kata 'gengsi' di dalam kamusnya. Menurut Jihoon kata 'gengsi' adalah kata kata bodoh yang membuat seseorang tidak mengerti apa artinya perjuangan hidup. Tak peduli walaupun Jihoon menjadi buruh, kuli panggul, maupun yang lainnya asalkan ia dapat bertahan hidup di dunia ini.

Tapi Tuhan masih sayang kepadanya, ia diberikan anugerah, sehingga ia menjadi musisi jalanan, dan kini ia telah membuat sepuluh lagu hasil karyanya sendiri. Bermodal gitar dan suara yang merdu, Jihoon bernyanyi dengan indahnya hingga orang orang yang melihatnya memberikan beberapa lembar won. Dan Jihoon melakukan itu setiap harinya demi menghidupi dirinya sendiri.

"JIHOON-AAH AYO MAKAAAN!" pekik Jeonghan dari arah dapur, yang membuat lamunan Jihoon seketika buyar karena tingginya suara yang dihasilkan dari hyung kesayangannya.

Jihoon pun langsung keluar dari kamarnya, ia pun duduk di kursi dengan dibantu Jeonghan. Matanya berbinar ketika melihat hidangan lezat yang tersaji di hadapannya

"Woah! Selamat makan hyung!" Ucap Jihoon, ia langsung mengambil mangkok dan sumpit, diambilnya mie bulgogi dengan taburan keju diatasnya hasil buatan Jeonghan, dengan lahap Jihoon memakannya terus.

Ia mengambil tuna yang dicampur dengan kari, dengan balutan keju juga diatasnya, juga dengan nasi kepal berbalut dengan rumput laut yang membuat lidahnya sangat dimanjakan dengan masakan Jeonghan.

Jeonghan hanya tersenyum ketika melihat sahabatnya makan dengan lahap,

"Kau seperti orang yang tidak makan selama empat hari tau!" Ejek Jeonghan

"Terserah. Tapi ini memang enak. Dengan berat hati aku memuji masakanmu hyung." Ucap Jihoon dengan mulut yang penuh makanan

"Cih. Dasar jamur." Ejek Jeonghan lagi

"Berisik kau malaikat penjaga neraka"

"Sahabat tak tau diri!"

"Ya. Terserah kau saja kuda." Jawab Jihoon sambil tersenyum kecil, setelahnya hanya terdengar suara tawa yang dihasilkan oleh kedua anak adam tersebut.

.

.

.

"Persiapan untuk pembukaan audisi tinggal satu hari lagi, presdir"

"Bagus. Segera selesaikan. Aku mau besok lusa semuanya telah selesai tanpa ada cacat sedikitpun."

"Baik presdir, saya mohon permisi."

"Aku harap keputusanku tidak gagal" lirih Soonyoung

.

.

-to be continue

.

Balasan review:

: wkwk bener, disini Jio mau bikin si Jihoon menderita dulu wkwkw

Jung Eun Ri714 : pelan2 Soonyoung bakal muncul kok, tenang aja ntar dia bakal bikin -sensor- si Jihoon wkwk. Thx buat supportnya

270 : makasih hehe, bentar lagi Soonyoung muncul jeng jeng jeng jeng. Tp tenang ntar jd byk kok yang care sm Jihoon kkk~

Valiens : duh maafkan Jio ya wkwkw

cassiesvt : ayo botakin si Hansol .g btw, thx buat supportnya!

ohyuns : wkwk ayo kita damprat si Hansol .g

m2hyj : hehehe makasih banyak ya

Firda473 : aciat, coba tebak sad ending or happy ending? Wkwkwk

SweetHoon : sesekali Jihoon di bully gpp lah ya wkwkw

Naega Joy : wkwkw sabar yak

Sekian balasan review dr Jio buat kalian, Jio tunggu lg ya reviewnya. Xiexie.

.

Big thanks to :

arachoi, FairyFaith, Choiminkii923, yassipacarLeechan, DaeMinJae, , Jung Eun Ri714, hyejin96, 270, Blank Yuu, cassiesvt, Valiens, ohyuns, m2hyj, Firda473, an.2794, SweetHoon, mokpochoi96, Naega Joy, vchim.

Dan semua buat yg udh dukung Lia dan Jio

a.n : pairing akan bertambah di setiap chapternya

-w/love Lia and Jio.