disclaimernya pastinya mbak Yana Toboso yang Lahirnya sama kayak Author...
Hallucination
"Akira-kun. Bisa kau melukis bunga bunga. Terserah bunga apa saja. Ini pesanan dan harus selesai hari ini. Bisa kan?" pinta Baa-chan yang tak mungkin Akira tolak.
"ahahaha. Pastinya bisa lahhhh baa-chan" Akira tersenyum. senyum ikhlas tentu saja. Akira tak pernah memberikan senyum palsu pada semuanya. Itu akan menyakitkan
Bunga yang ia gambar adalah bunga mawar merah. Merah, semerah mata pria itu. Dimana dia?
"Boochan" Akira membelalakkan matanya. Lalu menengok kearah suara itu berada. Dia. Dia datang!
"aku tak menyangka Boochan bisa tersenyum. senyum yang ikhlas" tambahnya sambil berjalan menuju ketempat dimana Akira berada. Ya Akira bekerja di toko lukisan tentu saja.
"apa masalahnya bila manusia bisa tersenyum. dan kau siapa?" Akira mengalihkan pembicaraan ini. Akira hanya ingin ada jawaban tentang ini.
"aku hanya seorang Butler. Butler yang beratus-ratus tahun mencari Tuannya yang hilang"
"beratus-ratus tahun?. Kau ini apa? Ahahahahahaha masak iya umur beratus-ratus masih hidup"
Laki-laki ini terdiam wajahnya terlihat kecewa. Mata merahnya terlihat sedih. Sedikit menundukkan kepalanya.
Pria ini tersenyum pahit. "ya, pantas saja Boochan tidak meningat sedikitpun. Saya sangat memaklumi itu Boochan."
"maklum? Ingat?. Hei hei aku ini tidak amnesia. Baka. Aku masih ingat soal perampokan dirumahku 3 tahun lalu. Kematian orangtuaku. Dan dibuangnya aku." Akira terdiam sejenak. Memori yang tak mungkin hilang semudah itu. "kau siapa? Namamu?"
"Namaku… panggil saya dengan Seba." Jawabnya dengan sedikit ada keraguan
"Seba. Hanya itu?. Baiklah seba-san salam kenal"
Siang ini Seba mengajaknya untuk pergi jalan-jalan. Dia membelikan Akira pakaian. Makanan. Dan buku buku untuk belajar. Orang ini kaya sekali. Dan juga dia membelikan Akira rumah yang sangat mewah.
"hei hei Seba-kun kenapa kau membeli rumah besar ini. Kau tahu. Aku tak punya—"
"ini tempat kita tinggal berdua." Jawabannya mengagetkan Akira. Laki laki yang selalu muncul dalam mimpinya. Mengajaknya untuk tinggal bersamanya.
"Boochan" laki laki ini berlutut dihadapan Akira dan meraih tangannya lalu menciummnya dengan lembut.
"hei hei apa yang kau lakukan mesum!"
"izinkan saya melayani anda. Sampai akhir."
Sampai akhir? Kata kata ini. Kata yang pernah muncul dari laki laki bangsawan inggris kepada laki laki tinggi dengan pakaian buttlernya.
'kita terikat kontrak. Dan kau harus bersamaku sampai akhir. Selamanya. Walaupun aku ini sekarang adalah seorang iblis. Kau mengerti Sebastian?' apa ini sebenarnya? Apa hubungannya dengan laki laki dihadapannya ini? Apa hanya kebetulan?
Akira tersenyum. Lalu ikut berlutut dihadapannya. Memegang tangannya balik.
"aku memang tidak tahu apa maksudmu. Tapi aku yakin suatu saat nanti aku akan mengerti. Aku menginginkan hubungan kita bukan seperti majikan dan butler seperti yang kau inginkan. Aku ingin hubungan kita seperti—"
"suami dan istri" perkataan Akira di potong dengan kata kata nista miliknya. MESUM!
Dengan cepat Akira memukul kepalanya dengan tangannya "BAKA"
Lalu mereka berdua tertawa bersama. Akira lega bahwa pria ini bukanlah halusinasinya saja. Seba.
Kau tahu rumah ini sangat besar. Seperti istana. Istana yang BESAR. Rumah ini sama seperti rumah Akira yang dulu. Indah.
"huaaaaaaaaaaaa. Ini hebat Seba-kun. Kita bisa bermain disini bersama." Akira berlari kesana kemari.
"disini aku bisa menggambar semuanya, ditembok tem—"
Seba membungkam mulut Akira dengan tangannya "anda tidak bisa melukis ditembok Boochan. Akan ku carikan kanvas dan akan saya sediakan tempat yang layak untuk anda"
"hmmppff hmmpff" Akira menganggukkan kepalanya.
Sore ini Seba duduk diruangannya. Dia terlihat berfikir, entah apa yang dia fikirkan. Masalah hutang kah? Karena dia membelikan semua ini untuk Akira.
"Boochan. Apa benar kau adalah Akira?" gumamnya.
Dia membuka saputangan yang selalu dia pakai. Dia memiliki kuku yang hitam dan sebuah tattoo atau tanda. Tapi dengan tanda aneh.
"aku tidak merasakan kontrak ini menyala atau sebagainya didekat Akira. Tapi, hatiku merasakan bahwa Akira adalah Boochan ku. Ciel Phantomhive." Ya Seba adalah Iblis yang pernah membuat kontrak dengan anak laki laki bernama Ciel Phantomhive. Seba adalah Sebastian Michaelis. Ciel Phantomhive sudah menjadi iblis. Sama seperti dirinya. Hanya…..
Sebastian menghela nafasnya dengan berat.
"Seba-kun!" teriak Akira dengan keeras dan itu membuat Sebastian secepat kilat berlari kearah Akira berada.
"ada apa Boo—"
Diam 1 detik
Diam 2 detik
Diam 3 detik
Dan—
"apa yang sebenarnya anda lakukan dengan benda itu." Sebastian melihat Akira memegang Deathscythe milik si maniak merah. Dan benda itu mengarah kearah Grell yang memajang wajah ketakutan setengah mati.
"SEBAA! KENAPA ORANG MERAH INI ADA DISINI?! DIA JELEK! MERAH KAYAK LAMPU LALU LINTAS!" teriak Akira dengan terus membunyikan gergaji mesin itu dan diarahkan kearah Grell Sutcliff.
"hei heii bocah! Singkirkann! Berikan padakuu! Kau belum tahu aku haaa?!. Aku ini adalah shinigami paling cantik semohay bohay milik sebasu-chan. Namaku Grell Sutcliff DEATH!"
Krik krik krik
"g..grrrruuuul. ge geruel. Suuuu..suttooocliiff" Akira mencoba menerka nerka siapa nama pria yang ada didepannya "AHHHHHHHHHHHHHHHHHH AKU TAK PEDULI!. KAU ADALAH PENYUSUP! NAMA ANEH MERAH. BANCI"
Jleb!
"BANCIII!"
"Tolong semuanya DIAM!" suara Sebastian tak kalah menakutkan. Dan langsung membuat dua orang ini terdiam tanpa ada Ba. Bi. Bu. Be. Bo. "Apa yang kau lakukan disini Grell-san?" tambahnya
"hee~. Pastinya aku ingin bertemu denganmu dan membawamu pulang" ucapnya dengan nada centil khas madam Grell
"he?" Akira kaget dengan kata pulang. "Pulang? Dia Istrimu Seba-kun?"
DOENGGG.
"kyaaaaaaaaaaaa anak laki laki ini manis sekali. Kau pintar nak. Chu chu chu"
"NO Boochan. Kami hanya rekan KERJA"
"terimalah Sebasu-chan. Kalau kau adalah suamiku kyaaaaaa" kata kata itu mendapat pukulan keras dari Akira menggunakan Gergaji mesinnya.
"aku tidak ingin kembali" Sebastian tak ingin kembali. Sebelum memastikan dimana Ciel. Bukan. Reinkarnasinya.
"kan aku sudah bilang Sebasu-chan. Kalau Ciel tidak mungkin dilahirkan kembali. Kan kau tahu sendiri seorang Iblis tidak mungkin dihidupkan lagi."
Sebastian menundukkan kepalanya. Dia mengerti bahwa seorang Iblis berreinkarnasi adalah hal yang langka. Tapi bukan berarti tidak bisa. Iblis menjadi manusia pun akan sulit. Sulit. Dia harus bertobat.
"Biarkan aku menemukannya Grell. Kau tahu. Kami masih terikat Kontrak"
Grell mengiya-iyakan semuanya. Dia kalah telak kalau urusan kontrak. Dan dia tahu. Sebastian telah berkeliling mencari dimana Boochannya berada. Ratusan tahun sudah.
Akira hanya melihat mereka berdua dengan bingung. Tapi dia mengerti satu hal. Bahwa Sebastian terlihat bingung sedih dan bimbang. Apa yang membuat dia seperti ini.
Grell berlutut menyetarakan tingginya dengan laki laki kecil didepannya.
"jangan kau buat Sebastian harus bekerja terlalu keras. Buat dia bahagia. Jangan meminta yang aneh aneh. Jadilah anak kecil sebagaimana mestinya" Grell mengelus pucuk kepala Akira
Akira tersenyum dan mengangguk "Aku akan membuat Seba-kun bahagia. Aku dan Seba-kun kan berteman. Dan satu hal dia adalah Pahlawanku. Gorol-san"
"Grell. BAKA!" Grell berdiri "Ciel Phantomhive. Bila benar dia adalah reinkarnasinya aku sangat bersyukur. Dengan kejadian yang sama sama menyakitkan Akira adalah anak yang lebih kuat Imannya daripada Ciel. Iya kan Sebastian?"
Sebastian tersenyum. "Dia adalah Boochan. Dan tetap menjadi Boochan. Grell-san"
Tak seberapa lama mereka mengobrol Grell pergi kembali kepekerjaannya. Sebastian tersenyum kearah Akira lalu berlutut dihadapannya. Memberi posisi yang sama saat dia masih bersama Ciel Phantomhive.
Tapi ternyata bukan malah berdiri dan mengakuhkan diri Akira ikut berlutut dengan posisi yang sama dan gaya yang sama seperti Sebastian
"Yes, My Lord" ucap Akira lalu tersenyum
Sebastian terdiam dengan wajah kagetnya. Kenapa dia bisa mengungkapkan kata kata itu?
"Minggu depan anda sudah masuk kesekolah. Dan sekolah disitu adalah sekolah favorit di Negara ini. Jadi anda harus belajar memberi salam dan memperkenalkan diri dengan baik" ya Sebastian harus melatih anak ini lagi. 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk anak seperti dia untuk selalu mengingat attitude apa saja yang pernah ia pelajari. Apalagi dengan lingkungan yang sangat keras seperti itu.
"ahahahaha hanya itu SEBA-KUN. Itu mah gampang eleh eleh." Akira mengambil posisi didepan Sebastian lalu membungkukkan badannya terlebih dahulu lalu "Ohayou minna san. Watashi wa Akira Ito DEATH!"
… 1 detik
… 2 detik
…. detik
"tolong Boochan ucapkan DESU dengan benar. Bukan DEATH tapi DESU"
"ucapan itu sangat meinstrim DEATH jadi kita harus kasih sesuatu yang beda DEATH"
Sebastian tertawa sedikit dengan kelakuan Akira yang benar saja sangat berbailk 180 derajat dari Ciel Phantomhive. Tapi wajah mereka sama persis. Kecuali warna matanya. Warna merah yang sama seperti warna mata Sebastian. Dan di mata kanannya tidak ada kontrak apapun. Kontrak yang seharusnya masih menjadi satu dengannya.
"tolong Akira ulangi lagi sampai kau mau mengucapkan DESU dengan benar" ucapnya tanpa ada formalitas seperti biasanya. Dan itu membuat Akira bergidik ngeri. Karena tatapannya sangatlah menakutkan.
Malam yang sangat panjang bagi Sebastian untuk mengajari Boochannya untuk bisa berbicara dengan baik dan benar. Tapi juga menjadi malam yang penuh dengan tawa.
Sampai sampai sang Boochan tertidur di sofa besar di ruang TV. Dengan senyum yang samar terukir diwajahnya.
"Seba-kun. Seba-kun. Kau dimana?" Akira berjalan dikegelapan. Lalu Akira melihat ada cahaya disana. Ia langsung berlari disana.
Diujung kegelapan itu ia melihat sosok yang iya cari selama ini
"Seba-kun!" Akira meraih tangannya. Tapi laki laki itu bukanlah menerima tangannya seperti biasanya tapi malah menyingkirkan tangannya dengan kasar.
"SEBA-KUN!" Akira kaget dengan perlakuan ini. Tak mungkin seorang Sebastian tidak ingin bersamanya. Padahal dia sudah pernah bilang bahwa melayaninya sampai akhir.
"Maaf. Aku hanyalah HALUSINASIMU saja Akira" Sebastian melangkah pergi meninggalkan Akira. Akira terus berlari mengejar sosok yang ia cari selama ini. Dan berhenti disebuah kota London tua.
Dia melihat seseorang yang anak kecil dengan wajah yang sama dengannya dengan mata tertutup melihat kepenjuru kota dengan tatapan angkuh. Dia bersama laki laki berpakaian butler. Wajahnya mirip dengan Sebastian.
"Sebastian. Bunuh mereka semua" perintah anak laki laki yang mirip seperti Akira itu.
"Yes My Lord"
Sebastian membunuh semua orang yang ada disana tanpa ampun. Semuanya mati. Akira terbelalak tidak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi?
"HEI! APA YANG KAU LAKUKAN?! KENAPA KAU MENYURUH SEBA-KUN UNTUK MEMBUNUH?!" teriak Akira keras.
Laki laki yang mirip dengannya lalu melihat kearahnya. Dengan senyum sinis dia menjawab "ahahahah aku adalah kau bocah. Kau yang menyuruh Sebastian untuk membunuh. Untuk membalaskan dendammu. Dan sekarang kau bilang seakan tidak berdosa. Pengecut!"
"a…aku adalah kau?. Apa maksudmu aku bukan orang serendah itu?!" Akira marah besar.
"Ciel Phantomhive adalah kau!. Sebastian. Bunuh anak itu. Aku tidak ingin melihat wajahnya yang sok polos. Tak punya dosa. Padahal dia lah yang mempunyai DOSA BESAR. Membunuh semua orang. Dan penuh dengan dendam."
Akira memundurkan langkahnya. Dia sangat takut. Mata Sebastian seperti hewan yang kelaparan. "Seba-kun. Jangan. Aku mohon jangan!"
"Yes My Lord" dengan secepat kilat Sebastian menancapkan pisaunya kearah Akira dan…
"Disini tidak ada yang bernama Seba. Disini hanya ada Sebastian" bisikan itu menghantar Akira kepuncak kesakitannya.
"SEBASTIANN HENTIKAN!" Teriak di pagi gelap ini membuat Sebastian yang sedang berdiri didekat jendela dikamarnya bergegas berlari.
Tangan Akira mengarah keAtas. Seakan ingin menghentikan seseorang didepannya.
"Se..Sebastian Michaelis.." suaranya terdengar parau dan nafasnya memburu.
Sebastian terbelalak kaget. Akira memanggil nama yang dia berikan pada Sebastian secara lengkap. Apa dia mulai ingat sesuatu?
TBC~~
RNR PLEASE ^^
THANKS BEFORE
