Change
~SasuHina~
Chapter 2: Hey!
All Naruto Characters belongs to Masashi Kishimoto
...
...
...
Hinata melangkahkan kakinya menuju minimarket dekat rumahnya. Persediaan es krim telah habis dan dia harus membeli beberapa es krim lagi karena musim panas kian menjadi-jadi. Matahari telah berganti, dan sinar bulan telah menyapa. Malam musim panas tetap gerah seperti biasa. Untung saja demamnya sudah turun beberapa hari yang lalu.
Hinata berjalan pelan meninggalkan minimarket itu setelah selesai dengan belanjaannya. Hari Minggu telah dia habiskan di rumah ditemani semangka segar dan kipas angin tua serta tak lupa membuat soal untuk murid-muridnya mulai dari yang Sekolah Dasar sampai SMA. Tujuannya sekarang adalah kedai Ramen milik ayahnya. Semenjak Ibunya pergi meninggalkan dunia, Ayahnya harus bekerja sendirian tanpa bantuan sang Istri.
Karena kesibukannya mengajar dia tidak bisa membantu Ayahnya. Sekarang ketika ada waktu luang dia akan membantu sedikit di sana.
Setelah sampai di kedai Ramen itu, dia segera menuju dapur untuk membantu. "Hai Outou-san." Hinata menyapa Ayahnya yang sedang merebus mie. Pelanggan yang datang hari ini cukup ramai, sehingga kedai itu terlihat penuh sesak.
"Hm." Hyuuga Hiashi sang ayah hanya membalas sekiranya. Dia masih sibuk berkutik dengan pesanan pelanggan. "Hinata tolong bawakan pesanan ini ke meja nomor 5." Hiashi menyerahkan nampan berisi 2 mangkuk ramen kepada Hinata.
Secepat mungkin gadis itu membawakan pesanan karena masih ada beberapa pesanan yang harus diantar. "Ini dia pesanan anda tuan, selamat menikmati." Hinata menaruh kedua mangkuk ramen itu dia atas meja, setelah itu dia membungkuk sebentar hendak kembali ke dapur. Tapi niatnya terhenti ketika ada yang menarik tangannya. Hinata menoleh memastikan siapa yang menahannya.
"Hey." Sapa seorang pemuda yang duduk di bangku nomor 5 itu dan tak lupa juga dia adalah orang yang menahan Hinata.
"Kau gadis yang waktu itu kan?" Hinata memberikan tatapan bingung, apa maksud dari gadis yang waktu itu? Hinata hanya memandang pemuda tersebut. Rasanya Hinata pernah bertemu dengan pemuda ini.
"Aku Uchiha Sasuke. Ingat saat meminjamkan payung untukku?" Pemuda bernama Sasuke itu berusaha mengingatkan gadis di depannya yang terlihat bingung. Sekitar beberapa detik mengulang memorinya, Hinata ingat dengan pemuda itu.
"Kenalanmu Teme?" Seorang pemuda berambut pirang yang sedari tadi memperhatikan mereka sambil memakan ramen mulai menyuarakan suaranya. Dia sedikit bingung karena Sasuke mempunyai kenalan yang menurutnya jauh di bawah standar. Selama ini banyak gadis cantik yang mendekati sahabatnya tersebut, tetapi dia baru tahu jika Sasuke mempunyai kenalan gadis kutu buku.
"Ah! Kau Uchiha Sasuke yang waktu itu ya?" Hinata mencoba menanggapi, tidak menggubris pertanyaan pemuda pirang yang sedang menikmati ramennya. Dan Sasuke hanya membalas anggukan singkat.
"Jadi, kau kerja di sini?" Sasuke bertanya kembali, belum melepaskan tangannya dari Hinata malah menarik gadis itu untuk bergabung bersama mereka. Hinata tidak bisa melakukan perlawanan dan terpaksa harus duduk bersebelahan dengan Uchiha tersebut.
"Tidak, aku bekerja sebagai guru les bahasa Inggris di C&C smart. Aku hanya membantu Ayahku di waktu luang." Hinata menjawab seadanya. Dia tidak ingin mengulur banyak waktu bersama pemuda itu. Lagipula masih banyak pesanan yang harus diantar. Melihat respon biasa dari Sasuke, Hinata bergegas berdiri dan membungkuk sopan sebelum pergi ke dapur.
"Heh? Uchiha Sasuke sepertinya sedang tertarik dengan gadis kutu buku." Pemuda berambut pirang yang sedari tadi tidak di gubris menyuarakan pendapatnya dengan nada menggoda.
"Diamlah Naruto. Aku hanya penasaran saja ada seorang gadis yang tidak terjerat ke dalam pesonaku. Bahkan setelah tahu bahwa aku adalah seorang Uchiha." Naruto terkekeh, menurutnya Sasuke itu terlalu percaya diri. Naruto tahu jika semua gadis pasti terpesona dengan Uchiha, tetapi Kami-sama pasti menyisakan satu yang tidak terpesona atau mungkin yang akan membuat Sasuke terpesona.
"Sasuke kau tertarik dengan seorang gadis yang lebih tua darimu? Dia adalah guru les paling tidak dia sudah kuliah." Naruto menghabiskan ramen Sasuke yang sama sekali tidak di sentuh pemiliknya.
"Mungkin aku akan bermain sebentar dengannya." Dan seringaian yang banyak memikat perempuan itu terpatri di bibir Uchiha muda.
"Sebaiknya aku memberitahu Onee-san itu jika ada seekor singa kelaparan yang mengincarnya." Ucap Naruto enteng tanpa memperdulikan deathglare yang diberikan Sasuke.
.
.
.
Hinata mengambil napas sebelum memasuki kelasnya untuk mengajar. Hari ini adalah hari Rabu, itu berarti saatnya untuk murid SMA. Dia membuka pelan pintu di hadapannya, masuk dengan tenang dan perlahan. Menatap satu-persatu muridnya sebelum melakukan basa-basi dan memulai kelas. Tapi pandangannya terhenti saat manik pucat itu bertatapan dengan obsidian kelam.
'A-a-apa yang dia lakukan di kelasku?!'
Oke, Hinata sepertinya mimpi aneh semalam. Teriakan suara batinnya itu menjadi tanda kebingungan luar biasa.
"Sensei hari ini kita ada murid baru!" Seru salah seorang murid Hinata.
"Namanya Uchiha Sasuke. Tampan kan?!" Siswi-siswi yang ada di ruangan itu melihat Uchiha yang sedang berekspresi bosan. Ada yang berkedip-kedip genit sampai Hinata akan menawarkan tetes mata karena dia pikir ada debu yang masuk ke dalam mata salah satu muridnya yang sedang berkedip manja.
Beda dengan siswi yang antusias menyambut Uchiha Sasuke, para siswa menghela napas bosan. Hinata tampak kasihan dengan Chouji yang menutup kedua telinganya karena Karin berteriak-teriak tidak jelas tepat di samping telinga pemuda gumpal itu.
"Ehem!" Hinata mencoba menenangkan siswi-siswinya yang mulai anarkis, tetapi sayang Hyuuga Hinata terlahir dengan suara kecil dan lembut. Tak ada perubahan sama sekali, ini membuat Hinata bingung. Pasalnya jika para siswi tidak bisa diam kelas tidak akan dimulai.
"Diamlah kalian semua." Seisi kelas yang mendengar suara bernada datar itu menoleh ke arah Sasuke yang menatap bosan. Siswi-siswi yang semula berisik menjadi tenang. Hinata menatap pemuda itu dan ia segera mengalihkan tatapannya ketika manik kelam itu juga menatapnya.
"O-okay, let's begin our class. Open your practise book page seventy eight. " Seperti biasa Hinata mengarahkan murid-muridnya. Selama 2 jam pelajaran, ada beberapa murid yang menanyakan tugas sekolah dari guru mereka.
Tapi selama itu Hinata paling risih dengan yang namanya Uchiha Sasuke. Dia selalu bertanya kepada Hinata tentang ini dan itu, tetapi ketika Hinata menjelaskan, dia malah memergoki Sasuke memandangnya. Dan ketika Hinata menyuruh pemuda itu mengerjakan soal, baik yang ada di buku praktis maupun di buku pelajarannya sendiri, ternyata si Uchiha telah menyelesaikan semuanya. Hal yang menjadi pertanyaan adalah sebenarnya apa alasan Uchiha Sasuke yang bahkan tidak perlu membutuhkan bimbingan darinya malah masuk ke dalam tempat dia mengajar?
"Okay class, thank you for today. Take care on the way home and have a nice day." Hinata mengakhiri kelasnya. Hari ini ada guru bahasa Inggris baru, jadi Hinata bisa pulang lebih awal dan tentu saja membantu Ayahnya.
Setelah murid-muridnya keluar kelas Hinata hendak pergi untuk lekas menuju kedai ramen milik Ayahnya, namun langkah kecil gadis Hyuuga itu terhenti karena seorang Uchiha Sasuke yang tiba-tiba menarik tangannya.
"Hyuuga-sensei, bisa bertanya satu hal?" Pemuda itu langsung menuju point yang menjadi alasannya menahan Hinata.
"Silahkan, asal ada hubunngannya dengan pelajaran Uchiha-san." Hinata menanggapi dengan sabar salah satu muridnya itu.
"Apakah sensei bisa mengajariku secara langsung di rumah? Jujur aku tidak terlalu bisa fokus dengan keadaan ramai."
Hinata sedikit berpikir. Sebenarnya dia tertarik menjadi guru les privat, tetapi untuk pemuda yang satu ini ketertarikannya menjadi hilang. Dia tidak terlalu yakin bahwa Uchiha Sasuke memang benar-benar membutuhkan bimbingan. Lagipula selama di kelas kerjaannya hanya memandangi Hinata.
Terkesan percaya diri memang, tetapi Hinata juga perempuan yang diciptakan dengan memiliki sifat seperti itu. "T-tapi U-uchiha-san sepertinya sudah sangat menguasai tentang bahasa Inggris kan?" Sasuke memandang Hinata yang sedang menyembunyikan rasa gugupnya. Memang benar Sasuke telah menguasai bahasa Inggris dengan sangat baik bahkan dia sudah menguasai lebih dari 5 bahasa.
Tuntutan menjadi pewaris perusahaan mengharuskannya mengetahui apa yang diinginkan rekan bisnisnya. "Tadi, semua soal yang sudah dikerjakan itu bukan pekerjaanku." Hinata menatap Uchiha di depannya dengan tatapan bingung. "Hah?" Menyuarakan isi hatinya yang bertanya-tanya membuat pemuda di depannya menghela napas lelah.
"Kakak ku pintar dalam berbahasa Inggris, dia iseng membuka buku pelajaranku jadi soal-soal di sana sudah dikerjakan olehnya, sedangkan yang berada di buku praktis, perempuan berambut merah dengan kacamata menawarkan untuk mengerjakan soal yang ada di buku praktis milikku. Jadi, bukan aku yang mengerjakan itu semua." Ini pertama kalinya bagi Sasuke untuk berbicara sangat panjang kepada seorang gadis. Biasanya yang mendengarkan kalimat panjangnya hanya ibunya.
Mungkin, memang perlu sedikit kebohongan untuk memaksa Hyuuga Hinata menjadi guru privatnya. Toh, dia tidak berbohong sepenuhnya kok. Dia memang punya Kakak yang tahu banyak tentang bahasa Inggris.
Hinata mencerna jawaban panjang Sasuke. Berpikir apakah benar-benar bahwa Uchiha Sasuke membutuhkan bimbingan secara privat?
"T-t-tapi-"
Belum sempat Hinata melanjutkan protesnya, Sasuke segera menarik tangan Hinata, sehingga tubuh mungil itu terjatuh di dalam pelukannya.
"Seorang Uchiha tidak menyukai penolakan sensei." Hinata merinding ketika napas hangat milik Sasuke menerpa lehernya. Membuat wajah Hinata merah merona karena malu, serta sedikit merasakan aneh disebabkan oleh sensasi geli yang baru pertama kali dirasakannya.
"Kalau begitu aku akan memberi alamat rumahku kepada Yamanaka-san, kau tinggal minta alamat itu kepadanya dan datang saja kapan pun kau mau." Hinata semakin memerah merasakan suara bisikan Sasuke tepat di telinganya. Bukankah ini sedikit aneh? Kenapa malah Hinata yang harus datang kapan pun dia mau? Seharusnya mereka berdua mengatur jadwal les agar waktu belajar efektif tanpa ada alasan untuk menunda les karena keterbenturan jadwal masing-masing.
"Aku tunggu Hinata-sensei." Hinata rasanya ingin pinsan saat merasakan kecupan Sasuke di lehernya, setelah itu Sasuke meninggalkan Hinata yang masih belum bisa memproses apa yang telah terjadi.
'Aku tunggu Hinata-sensei.' Entah kenapa kalimat itu kembali terngiang di kepala Hinata.
"Uchiha Sasuke, ya?" Guman Hinata singkat dengan pipi merona.
.
.
.
-TBC-
A/N: Uwaaaa... ketemu lagi dengan saya ^^ semoga chap ini bisa lebih panjang ya, dan jujur author ini nggak terlalu mengerti bahasa Inggris tapi sok-sok an jadiin Hinata guru bahasa Inggris#Plakk jadi jika ada kekeliruan di bahasa Inggrisnya mohon untuk membetulkan ya minna ^^
Author tetap mengharapkan saran dan kritik dari reader sekalian XD
Info:
Di chapter ini di jelaskan ibunya Hinata membantu dalam mengelola kedai ramen kecil-kecilan, jadi sebelumnya ibu Hinata adalah tour guide, setelah tua dia membantu suaminya di kedai ramen. Info yang ada akan sebisa mungkin saya cantumkan karena saya tidak terlalu suka dengan flashback. Di sini author juga akan memfokuskan ke SasuHina tanpa ada pair lain.
Pojok Review :
Keita uchiha: (Gomen, ini update nya udah kilat belom? Saya juga udah berusaha manjangin, semoga keita suka ya ^^) Rin Ruka: (Ini kelanjutannya, dan Hinata memang akan menjadi guru les si Sasu-butt XD) :(Apakah ini termasuk update kilat?) Nurul851: (Author sudah mengusahakan untuk update secepatnya kok ^^, dan tentang Hime bertemu Sasu sudah terjawab kan?) Arcan'sGirl: (Hahahaha,, jelas donk siapa dulu authornya #Plak) : (Ini termasuk update kilat apa ngga? O.o) hinatauchiha69: (Ini udah dilanjut, semoga termasuk update kilat ya) virgo24: (Ini kelanjutannya semoga suka ya ^^) Resti yulia sh: (Ini lanjutannya, semogaa aja termasuk update kilat ya ^^)
Makasih juga buat yang udah membaca, nge fav, nge follow. #Love_U_All_Peluk_Cium
See you next chap ^^ ~
