Do You Like Pastry?: Phyllo

By: Skylar.K

Cast in this Chapter: Kris Wu, Huang Zi Tao, Zhang Yixing, Byun Baekhyun.

Main Pair: KrisTao/Taoris(with slight other couple)

Genre: Drama life, Romance, with pastry lenguage

Warning: TYPO(S) everywhere! BL stories!

Summary:Pastry adalah berbagai jenis kue yang di golongkan dalam beberapa jenis: Puff, Phyllo, Choux Paste, Danish, and last Croissant. Dengan hobi barunya, Tao tak menyadari jika rasa sukanya pada seseorang seperti kelima golongan kue itu. Dan Kris tahu betul seperti apa perasaannya kini pada makanan-makanan manis yang selama hidupnya tak pernah ia jamah, dan Tao membuatnya mengerti dan memahami seperti apa rasa kue-kue itu, dengan caranya sendiri. Dengan pemahaman mereka tentang Pastry dan cinta yang sebenarnya tidak berkaitan, tapi dapat mereka hubungkan menjadi cerita cinta yang tak terduga.

.

.

.

Phyllo

Oh tidak, jangan salahkan Tuhan kenapa hari ini terasa lebih panas di banding hari-hari sebelumnya. Jangan salahkan sang angin yang juga tak berbaik hati membagi hembusan sejuknya. Jangan pula salahkan sang langit yang membentang begitu biru yang tak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda akan di selimuti gumpalan kapas berwarna abu-abu.

Intinya jangan salahkan siapapun kalau tidak ingin menambah buruk hari ini.

Dan Tao baru saja keluar dari kelasnya tepat pukul 12 siang, sambil membuka kancing teratas kemeja flanel merah-hitam nya, menguasak kasar surai hitamnya yang sedikit agak lepek karena keringat, dan membawa buku di tangan kirinya dengan asal. Sesekali ia melihat jam tangan digital yang melingkar manis di pergelangan tangan kanannya, ia mendesis kecil, dan mempercepat langkah kaki panjangnya.

"Kenapa tiba-tiba ada latihan sih?!" gerutunya kesal. Semakin cepat berjalan, meliuk-liukkan tubuhnya saat lorong kampus mulai di penuhi para mahasiswa-siswi, tak ingin menabrak atau di tabrak yang nantinya hanya membuatnya datang terlambat ke lapangan kampus.

Di balut kemeja flanel tipis, membuat tubuh rampingnya membayang sempurna ketika kemeja tersebut agak basah karena keringat. Beberapa pasang mata pun menjadikan kaki jenjang Tao sebagai pemandangan menarik, meski terkadang mereka bertanya-tanya. Bagaimana mungkin seorang laki-laki berusia 19 tahun memiliki kaki sejenjang itu? Bak seorang model.

Tao terpaksa harus berlari setelah keluar daru gedung kampus, memacu kedua kakinya untuk mencapai lapangan di belakang kampus yang bersebelahan dengan aula. Dan ia mulai melambatkan derap kakinya ketika melihat kondisi lapangan yang hanya di huni oleh segelintir orang saja, dengan nafas terengah ia kembali berjalan santai mendekat ke beberapa orang itu.

"Hai Tao" sapa seorang gadis bersurai madu panjang. Tao hanya melemparkan senyum kecil, lalu mendudukkan tubuhnya di undakan pertama tangga di pinggir lapangan.

"Hari ini panas sekali ya? Tega sekali Mr. Park mengumpulkan kita di siang hari begini" seorang wahasiswa mulai menggerutu.

Tao melepas tali ransel di pundaknya, meletakkannya di samping kanannya dan membuka resletingnya. Tangannya mengobrak-abrik isi ransel, dan menemukan sebuah botol minum berwarna hitam dengan motif kepala Panda. Ia membuka penutup botol itu dan menegak isinya dengan satu tarikan nafas.

Tenggorokannya seketika terasa lebih dingin, sensai cairan lemon bercampur soda menggelitik manja. Tao menghela nafas panjang, dengan buku jarinya mengusap bibirnya yang basah. Pemuda Panda itupun kembali menutup botol minumnya yang tetap menjaga minuman dinginnya tetap dingin.

"Taoziiii~!" suara lembut yang berseru lantang itu berasal dari arah taman belakang universitas.

Tao memutar kepalanya ke sisi kirinya, mengerjap saat melihat sosok mungil Kakaknya berlari kecil kearahnya. Wajah imut Kakaknya itu tampak sedikit memerah, mungkin karena udara panas siang ini, atau bisa juga karena pemuda yang lebih tua 1 tahun darinya itu tengah berlari.

"Tidak perlu berlari hyung, jangan menyiksa dirimu sendiri" Tao menatap prihatin. Tak tega melihat Baekhyun yang tengah membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut, berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah.

"Minum ini hyung" Tao menyodorkan botol minumnya pada Bakehyun, yang langsung di sambar oleh si mungil itu.

Pemuda yang identik dengan eyeliner itu menegak lemon squash milik sang adik dengan tak berperasaan. Tao tersenyum tipis melihat Kakak keduanya kini mulai tenang dengan desahan lega keluar dari kedua belah bibir merahnya. Tao segera menepuk tempat kosong di sebelah kirinya, memberi isyarat agar Kakak mungilnya itu duduk.

"Xie xie Tao-er~" kata Baekhyun seraya duduk di samping sang adik, menyerahkan kembali botol minum di tangannya pada sang pemilik.

"Ne hyung" Tao mengangguk, dan memasukkan botol minumnya kembali ke dalam ransel.

"Ne Taozi, kamu ada makanan? Aku lapar sekali" Baekhyun mengusap-ngusap perutnya, menatap Tao dengan memelas.

"Ada, kemarin 'kan aku baru belajar membuat crepes hyung. Sebentar" Tao kembali berkutat dengan ranselnya.

Mata indah Baekhyun berbinar. "Jinjja? Mana? Mana?" seperti seseorang yang satu hari belum makan, ia mencondongkan tubuhnya melihat ke dalam ransel Tao yang berada di pangkuan.

Tao mengeluarkan sebuah kotak bekal berwarna biru tua, membuka penutupnya. Seketika wajah kuyu Baekhyun berseri, menyambar kotak bekal Tao yang tersodor padanya. Tanpa babibu lagi, ia mencomot sebuah crepes berwarna golden brown yang menggiurkan. Dan di gigitan pertama, Baekhyun merasa meleleh merasakan manisnya buah mangga dan berpadu dengan honey yogurt sebagai isian crepes.

"Uhm~ enak sekali Taozi!" pekik Baekhyun bahagia. Di siang bolong seperti ini mulutnya justru di manjakan dengan rasa yang meleleh di mulut. Sangat bahagia, karena di tengah rasa laparnya dirinya mendapat kudapan super enak.

Tao mengembangkan senyumnya, luar biasa senang dengan hasil kue nya dan juga pujian yang di lontarkan sang Kakak. Ia hanya geleng-geleng kepala melihat Baekhyun melahap crepes kedua yang kali ini berisi irisan strawberry dan cokelat yang lumer. Saat itulah ia tersadar jika tidak ada sosok pemuda yang di kenal sebagai Happy Virus berada di dekat Kakaknya.

"Ngomong-ngomong Chanyeol-hyung kemana hyung?" tanyanya, melihat ke sekitar. Tapi tak melihat keberadaan pemuda itu.

"Chanyeol ada di lapangan basket bersama Kris-hyung dan teman-temannya yang lain. Makanya aku datang kesini, tadi ku lihat kamu berlari keluar dari kampus" jawab Baekhyun di sela-sela kunyahannya.

Kris-ge masih ada disini? ーsebelah alis Tao terangkat.

Ia buru-buru merogoh saku depan celananya, mengeluarkan ponsel pintar berwarna putih miliknya. Ibu jarinya bergerak lincah diatas touch screen, membuka aplikasi chatting massenger dan membaca ulang obrolannya dengan Kris beberapa jam yang lalu.

maaf Tao-er, gege tidak bisa menemani mu membeli bahan-bahan kue. Gege harus pulang lebih cepat karena Orangtua gege datang ke Seoul. Lain kali gege pasti menemani mu, ne? Dui bui qi~

Tao mengatupkan bibirnya rapat, kini menukikkan kedua alisnya. Dan dengan kesal ia mematikan ponselnya, dan melemparkannya ke dalam ransel dengan mood yang berubah buruk.

Jadi Kris berbohong padanya? Kenapa pemuda tiang itu berbohong? Apa dirinya sangat menyusahkan? Kalau pun memang dia tidak mau bisa menolak dengan halus 'kan? tidak perlu berbohong!

Tao menggigit bibirnya, meremas pinggiran ranselnya dengan perasaan kesal. Sungguh, tidak ada yang lebih menyedihkan di banding di bohongi oleh orang yang di sukainya. Meskipun perasaannya belum di ungkapkan, tetap saja rasanya sakit dan sesak.

"Gwaenchana Taozi?" Baekhyun menatap lekat sang Adik, menunda melahap potongan terakhir crepes di tangannya saat menyadari perubahan ekspresi Tao yang agak murung.

Pemuda Panda itu menganggukkan kepalanya pelan, kemudian tersenyum pada Baekhyun yang menatap penuh selidik. "Aku baik hyung. Oh iya, hyung pulang bersama Chanyeol-hyung 'kan?"

Baekhyun mengangguk kecil, memasukkan crepes terakhirnya ke dalam mulut. "Nde, wae?"

Tao kembali membuka ranselnya, dan mengeluarkan sebuah paper bag cake kecil berwarna coklat tua yang tertutup manis dengan sebuah sticker Panda yang merekat di bagian atas untuk menutup ujungnya. Memberikan paper bag cake itu di pangkuan Baekhyun.

"Apa ini?" pemuda bereyeliner itu menautkan alisnya.

"Isinya crepes hyung. Rencananya mau aku berikan untuk seseorang, tapi dia sudah pulang, jadi lebih baik aku berikan untuk hyung. Terserah mau di apakan"

Baekhyun mengernyit samar. Ada yang salah dengan Tao saat ini, dari kata-katanya, sebagai Kakak dirinya sadar jika ada sesuatu yang terjadi.

"Waeyo Taozi? Kamu sedang ada masalah?" tanyanya, meraih tangan kiri Tao yang terpangku diatas ransel.

"Masalah apa?" Tao balas menautkan alisnya.

"Apa kamu ada masalah dengan Kris-hyung?"

"Ha?" Tao mengernyit tak mengerti. Kenapa tiba-tiba Kakaknya menyebut nama pemuda tiang itu dari sekian banyak nama sahabat-sahabat mereka?

"Iya Kris-hyung. Tadi setelah aku menjawab kalau Chanyeol ada di lapangan basket bersama Kris-hyung kamu langsung melihat ponsel Taozi. Ada masalah?"

"Tidak" Tao menggeleng pelan. "Ah, aku mau ganti baju dulu, Mr. Park pasti akan datang setelah ini" ia bangkit berdiri, menepuk kecil celananya agar terhindar dari debu yang menempel. "Aku duluan hyung" pamitnya segera.

"Ya! Taozi! Kamu belum menjawab pertanyaan Kakak mu ini!" seru Baekhyun kesal. Tao hanya melambaikan tangannya, berjalan tergesa ke arah taman belakang kampus.

Baekhyun berdecak kecil, dan mau tak mau bangkit berdiri seraya membawa kantong kue yang di berikan Tao. Sambil memikirkan apa yang sekiranya terjadi pada Adiknya itu, ia berjalan kearah lapangan basket yang letaknya di sisi kanan aula.

"Kenapa Tao tidak menyatakan cintanya saja sih?" gumam Baekhyun heran. "Aish...tidak Tao, tidak Kris-hyung, mereka berdua lelet. Membuat gemas saja"

Baekhyun berlari kecil dengan senyum di bibirnya saat melihat sang kekasihーChanyeol yang melambai padanya di tengah lapangan, bersama Kris yang memegang bola basket.

Latihan siang ini sungguh tak terduga. Tao dan anggota club wushu lainnya harus rela menghabiskan waktu di lapangan untuk melatih tekhnik mereka, karena 2 minggu lagi mereka harus mengikuti kejuaraan antar kampus yang itu berarti sangat amat mendadak. Dan semua anggota sukses mengumpat dalam hati, termasuk Tao, pada pembimbing mereka.

Tidak hanya Tao yang kelelahan saat ini, kondisi mereka sungguh mengenaskan. Dengan peluh di sekujur tubuh, membuat sensasi lengket yang menjiplak sangat jelas lekuk tubuh pada stelan training berwarna biru muda yang mereka kenakan. Meskipun begitu Tao adalah siswa yang cukup teladan untuk melatih bela diri favoritnya ini.

Terbukti saat Mr. Park beberapa kali memujinya saat melakukan tekhnik tertentu. Dan untuk sejenak Tao dapat melupakan kekesalannya pada pria pirang menjulang seperti tiang yang berhasil membuatnya kesal dan marah tak jelas. Meski saat menit-menit pertama latihan Tao sempat kelepasan meluapkan kekesalannya dengan menghentak-hentakkan tongkatnya ke tanah, dan membuatnya terkena semprotan dari Mr. Park.

Tapi dengan pengendalian diri, self control yang cukup bagus sejak dirinya mulai hobi membuat kueーya membuat kue sangat amat membutuhkan ketenangan dan kesabaran. Meski terkadang ia kelepasan, toh dirinya memang manusia biasa. Tapi setidaknya latihan hari ini cukup membantunya lupa akan kekesalan dan rasa sakit di ulu hatinya.

Mr. Park bertepuk tangan, berseru jika latihan hari ini usai sampai disini. Tepat pukul 2 siang, dan semua anggota dapat menghela nafas lega. Sambil mengucapkan terima kasih pada pembimbing club, Tao dan yang lainnya membungkuk sopan. Pemuda Panda itu sempat mengobrol dengan anggota lain perihal lomba yang akan mereka ikuti sambil mendorong masuk tongkat portabel wushu nya, hingga ukurannya hanya sebatas sepanjang lengan.

"Aku duluan Tao" ucap seorang pemuda, Tao mengangguk kecil. Tak lupa melemparkan senyum pada teman-teman club nya, lalu berbalik hendak menuju ranselnya berada.

Tapi kakinya terhenti bahkan sebelum ia melangkah maju. Pandangan Onyx nya kini tertuju pada seorang pemuda bersurai pirang, tampan, duduk di pinggir lapangan sambil menikmati crepes di tangan kanannya, dengan tatapan lurus ke buku tebal yang sedang di bacanya.

Tunggu! Kenapa Kris ada di sana? Kenapa malah menampakkan diri di hadapannya? Dan itu...bukankah itu crepes yang tadi ia berikan pada Baekhyun? Kenapa ada di tangan Kris?

Tao memicingkan mata saat melihat adanya sosok lain di samping pemuda blasteran itu. Seorang pemuda bersurai madu, berlesung pipi, duduk menempel erat pada Kris dan sesekali menunjuk pada buku. Dan mereka tampak tengah membicarakan sesuatu di dalam buku itu.

"Crepes mu kelihatan enak Kris, aku minta ya?" Yixing menatap penuh harap. Kris hanya mengangguk sekenanya. Dan dengan senyum lebar Yixing menarik tangan kanan Kris dan...hap! melahap hampir separuh crepes milik si tampan itu.

Dengan tak berdosa ia tertawa saat Kris menggerutu karena menggigitnya terlalu besar.

Apa-apa'an?

Tanpa sadar Tao meremas tongkat wushunya. Dadanya menggeliat tak nyaman melihat pemandangan itu. Rasanya sakit melihat Kris duduk berdekatan dengan Yixing, sesak melihat keakraban mereka yang tak menyadari jika dirinya kini memperhatikan.

Memang jika di banding Yixing, dirinya baru saja belajar membuat kue, sedangkan seniornya itu? Dia sangat pintar memasak. Bukankah Kris dan Yixing pasangan yang serasi? Si pirang yang tampan, kapten basket, pintar, dan si pemilik lesung pipi jago memasak, senyum menawan.

Tao ingat saat pertama kali dirinya membuat kue dan Jongin berkomentar yang membuatnya down saat itu juga. Yang membuat seorang Kim Jongin mendapat pukulan bertubi-tubi dari Luhan, Baekhyun, Sehun, dan Kyungsoo.

"Kau membuat kue Tao? Wah~ siapa yang menyangka di balik tubuh jangkung dan wajah seram mu itu kau bisa membuat kue!"

Ya. Seram. Tao akui kalau dirinya memang seram. Sama sekali tak memiliki sisi manis. Entah harus bersyukur atau tidak, mata Panda yang di milikinya sejak lahir memang membuat orang takut. Bahkan banyak yang mengira jika dirinya adalah jagoan di sekolah dulu.

Akhirnya dengan satu tarikan nafas panjang, Tao kembali melangkahkan kakinya yang tertunda, remasannya semakin kuat pada tongkat portabel di genggamannya. Dan sesaat melihat keakraban Kris dan Yixing membuatnya kembali berhenti di tempat. Rasanya sungguh dirinya ingin berteriak, atau bila mungkin melakukan Au vapeurーtekhnik memasak dengan uap air, pada seseorang untuk melampiaskan rasa marahnya yang ia tidak tahu kenapa.

Oh, tapi tidak. Dirinya adalah orang yang lembut dan sensitif. Tidak akan berbuat se eksrtrim itu. Tapi mungkin bisa ia praktekkan dengan peralatan membuat kue nya nanti di rumah.

Menarik nafas panjang, lagi. Tao melanjutkan langkah kakinya yang terhenti, mengabaikan rasa sesak di dadanya saat kedua kakinya membawanya semakin dekat ke pinggir lapangan. Rasanya ada sesuatu di dalam dadanya yang bisa robek kapan saja saat ini.

Hanya menunggu waktu.

"Berhenti menggelayut di samping ku Yixing atau ku tendang bokong mu!" Kris menggeser pantatnya menjauh. Tapi sahabatnya itu malah tertawa, dan semakin senang menggoda.

"Zhang Yixing! Kau mau kuーoh, sudah selesai latihannya Tao?" suara Kris yang meninggi seketika melembut saat pemuda Panda itu menyambar ransel hitam yang tepat di sampingnya.

Tao tak menanggapi, ia memakai ranselnya dengan cepat dan meraih buku-bukunya yang tergeletak di tanah.

"Taozi, kata Luhan sekarang kau pintar membuat kue. Kau mau membuatkannya untuk ku?" Yixing melingkarkan tangan kanannya di sekitar pundak Kris. Tao yang melihat itu hanya diam, dan dengan dingin meninggalkan kedua sahabat itu.

"Eh? Tumben Taozi begitu?" Yixing mengernyit heran.

"Pabbo" Kris memukulkan buku tebal yang di bawanya ke kepala Yixing seraya bangkit berdiri dan berlari kecil mengikuti Tao yang sudah lebih dulu.

"YA! KAU MAU MEMBUAT KU IDIOT HEH TIANG LISTRIK?!"

Tao terus saja berjalan meski Kris sudah memanggilnya untuk berhenti. Ia tidak mau berhenti meski Kris sampai memanggilnya dengan sebutan macam-macamーyang selalu sukses membuatnya merona selama ini. Tapi tidak kali ini. Dadanya sudah terlalu sesak.

Perasaannya sensitif. Itu jelas. Kedua Kakak dan sahabat-sahabatnya pun tahu. Termasuk Kris. Hatinya lembut, membuatnya mudah menangis, kesal, dan marah. Sedikit saja perasaannya terguncang, maka akan ada sebuah sekat tipis yang mudah robek kapan saja. Perasaan itu membuatnya rapuh. Membuatnya lemah.

"Tao-er!"

Phyllo, adonannya sangat tipis dan halus.

To be continue

Karena ada beberapa pertanyaan yang mampir di review, jadi saya jawab disini yaw :3

Candy: Kris sama Tao belum jadian disini, masih deket, pedekate lah, wkwkwk. Ew, aku bukan chef xD aku emang riset dulu sih klo bikin ff dengan tema tertentu ^^

fanfandck9: saya khatam melototin artikel pastry xD berkat riset dulu, jadi ya bisa tau, hehehehe

Ammi Gummy: total ada 5 chapter. Couple lain cuma slight aja sih, buat pemanis biar lengkap haha #plak. Iya main pair nya Kristao :3

Ada yang mau di tanyakan lagi? Just leave your review~