...GOURMANDISE
Awan kelabu menyelimuti kota, membuat cahaya matahari hilang ditelan kegelapan. Suhu udara turun dan dalam sekejap, kota bagai diselimuti gula-gula berwarna putih—salju. Tak ada lagi manusia yang berkeliaran. Semua malas untuk keluar dalam cuaca sedingin ini. Hanya kepala-kepala mungil yang bermunculan dari balik jendela, penasaran ingin melihat salju.
Hari ini salju pertama di musim dingin. Salju pertama yang bercampur dengan asap polusi, mencair menghitam karena aspal. Sama sekali bukan salju pertama yang indah, sebenarnya—apalagi di kota sesibuk Tokyo, di mana sebagian besar warganya nyaris tak punya waktu untuk menikmati salju karena terlalu sibuk mengurusi uang.
Kecuali satu orang.
Langkah kaki jenjang berbalut Manolo Blahnik hitam itu menimbulkan bunyi ketukan di jalanan yang berlapis batu. Suaranya bergema di tengah kompleks taman yang sunyi. Tangannya yang seputih salju terbungkus mantel dengan arloji perak terpasang di pergelangannya. Jemarinya yang lentik, bercat merah— menggenggam buket bunga.
Wanita itu menunduk di depan sebuah tugu batu kecil, berhiaskan patung marmer putih berupa ibu yang sedang menggendong anaknya. Disentuhnya kepala patung itu. Lama dia berjongkok di sana. Menunduk. Membisikkan kata-kata yang tenggelam dibawa angin. Menangis dalam diam. Wanita itu berdiri, meletakkan buket itu di sana.
-
-
Ibu, ini untukmu.
-
-
Hanya sebuket mawar dan wanita itu terus berlalu.
Salju turun menderas, perlahan menutupi warna merah buket itu. Angin bertiup meluruhkan sedikit salju yang menempel di tugu batu itu, memperlihatkan sedikit tulisan di sana.
Rest In Peace
Dalam kegelapan yang semakin membungkus kota, mawar itu tampak kontras dengan salju yang putih. Semerah darah. Bagai luka yang dihunjamkan dalam hati yang begitu bersih dan suci. Mengalirkan darah kemana-mana. Kotor.
-
-
Crimson Rose.
S P I D E R W E B
gourmandise
-
Pernahkah kau merasa
Begitu menginginkan seseorang?
-
"Yaaa, mari kita beri selamat pada Sasuke!" seorang pria berambut pirang berteriak riang, tangannya memegang gelas berisi champagne. "Selamat!"
Semua orang yang ada di sekelilingnya melakukan hal yang serupa—ikut mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi ke udara, saling bersulang hingga gelas-gelas itu mengeluarkan suara dentingan yang semarak dan mereka bergumam, "cheers." Ruangan VIP hotel berbintang lima itu dipenuhi tiga puluhan pria dan wanita, yang berpakaian formal khas eksekutif muda. Aroma campuran antara parfum, alkohol, dan asap rokok menguar di antara mereka. Jam baru saja menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Namun sang pusat perhatian pesta tampak tak begitu senang. Tangannya berlari ke rambutnya yang hitam, dan jarinya melakukan gerakan menyisir secara asal. Dasi hitamnya tergantung longgar di di bagian kerah kemeja putih berbalut setelan tailored Armani yang dipakainya.
"Sudah kubilang, aku tak suka acara seperti ini, Naruto." Pria itu berkata dengan suaranya yang berat. Dia tampak jengah dengan keramaian ini. Tangannya mencari-cari sesuatu di dalam saku jasnya, dan tampak puas menemukan sebatang rokok—yang langsung disulutnya. "Waktu kau bilang mau mentraktirku karena promosi jabatan ini, kukira kau hanya akan mentraktirku di restoran ramen kesayanganmu itu."
Pria berambut pirang—yang sekarang sedang akan memeluk gadis yang memakai setelan blazer cokelat—mengalihkan perhatiannya pada Sasuke. Dia nyengir. "Kau kira seleraku hanya berkisar pada ramen dan ramen saja? Tenang. Ini semua aku yang traktir. Tagihan ruangan dan minumannya serahkan saja padaku," katanya sambil tertawa lepas. "Promosi jabatanmu ini harus dirayakan agak sedikit besar-besaran—mengingat proyek terakhirmu yang berhasil sangat membuat laki-laki muda seusiamu—"
"Bilang saja kau ingin menggaet perempuan," komentar Sasuke sengit sambil mengambil cocktail yang dibawa oleh seorang pelayan yang lewat, "sepertinya acara ini terkesan kau adakan untukmu sendiri dengan kamuflase perayaan promosi jabatanku. Huh, aku sudah curiga dari gelagatmu tadi." Pandangannya sinis ke arah Naruto yang, yah, mulai merayu wanita-wanita yang sudah terlihat agak mabuk.
"—ingin segera mencapai puncak karir seperti dirimu." Naruto melanjutkan kalimatnya cuek, tanpa mendengarkan kalimat sarkastik Sasuke. "Sebentar lagi, ambisimu pasti ingin menyusul aku. Jadi, daripada stres di pojok situ, lebih baik kau ikut bersenang-senang. Lagipula, kami 'kan merayakanmu."
"Aku sama sekali tak punya keinginan menyaingimu lantaran tiap presiden direktur harus mesum, seperti yang sebelum-sebelumnya. Jadi, sayangnya, aku tak punya pikiran itu. Lagipula—aku sudah minum cocktail."
Rekannya itu menoleh. "Presiden direktur harus mesum, katamu? Aku tidak. Kalau Jiraiya-jii-sama, sih, iya—" dia tertawa sinis melihat gelas cocktail Sasuke yang sudah kosong. "Minuman alkohol rendah seperti itu mana bisa disebut minuman. Ya, kan, Karin?" ejek Naruto sambil mengerling pada seorang wanita berblazer ungu—dengan wajah yang sudah memerah. Sesekali dia terbatuk.
Wanita yang sudah tampak mabuk itu terkikik geli. Bibirnya tersenyum nakal dan mendekati Sasuke dengan manja. "Betul kata Naruto, Sasuke-kun—" Karin memberikan sebuah gelas kosong dan mengisikan minuman ke dalamnya, menyodorkannya pada Sasuke. "Minum saja sedikiiiit. Sedikiiiit."
Sasuke menarik napas. "Karin." Pria itu menyilangkan tangannya di dada. "Apa-apaan kau? Jangan dekat-dekat. Kau bau alkohol."
"Eeeeeh~?" Karin memasang tampang kecewa-tapi-menyebalkan, "Kenapa? Kau takut mabuk?" wanita itu memberikan gelas berisi cairan bening dengan buah zaitun yang mengapung itu dengan paksa pada Sasuke. "Atau kau tak suka Margarita? Aih, aih."
"Minggir." Sasuke mendengus. "Kau mengganggu."
Karin mengeluarkan desahan "Eeeeh~?" lagi sebelum akhirnya melenggang pergi dengan rok mininya.
"Ho, sayang sekali." Naruto terkekeh. "Padahal kalau jam kerja, dia termasuk sekretaris galak. Tapi ternyata dia boleh juga. Beruntung sekali kau punya dia sebagai sekretaris, eh, Sasuke?" kata Naruto sembari menepuk bahu rekannya. "Kalau kau traktir dia minum sepulang kerja, mungkin dia akan menunjukkan sesuatu yang menarik."
"Sana saja ambil," gerutu Sasuke. "Aku heran kau mampu mengendalikan perempuan-perempuan itu. Berikutnya, mana lagi incaranmu?"
"Ha." Naruto menyipitkan mata, tangannya melonggarkan dasi yang ia pakai. "Anak kecil macam kau mana mengerti bagaimana manajemen perempuan yang baik—"
Sasuke mengambil segelas cocktail dan meminumnya lagi. "Sombong sekali, padahal kau hanya lebih tua dua tahun dariku—jangan sombong hanya karena kau ada satu tingkat di atasku dalam hierarki perusahaan." Dia kembali mengisap rokoknya dalam-dalam, menyipitkan mata—mencoba memperhatikan dengan jelas keadaan ruangan yang semakin lama semakin kacau karena orang-orang sudah mulai mabuk.
"Aaaah, sudahlah, santai! Jangan marah begitu, dong," Naruto terbahak sambil menepuk-nepuk pundak juniornya. "Begini saja, deh. Kita pergi ke tempat favoritmu, kutraktir minum—seperti waktu kuliah dulu. Bagaimana?" Dia mengedipkan sebelah matanya. "tapi, jangan lupa, harus ada gadis cantik."
Sasuke menyeringai. "Gadis cantik? Dasar. Lalu, bagaimana dengan si Hyuuga?" tanyanya. "Kelihatannya dia tak bisa apa-apa lagi tanpa dirimu. Kasihan sekali dia." Ingatannya kembali pada seorang gadis manis pendiam dari bagian penelitian dan pengembangan. Dan sepertinya memang, dalam waktu tiga bulan saja, sang womanizer Uzumaki Naruto sudah berhasil menggaet wanita itu meskipun tidak pakai publisitas besar-besaran. Paling tidak, Sasuke termasuk di antaranya yang tahu mengenai hubungan diam-diam mereka. Wanita itu tak tampak di ruangan malam ini. Pasti Naruto tak mengundangnya.
Naruto terbahak lagi. "Itu 'kan kalau di kantor. Sekarang kita sedang tidak berada di kantor, bukan?" katanya membantah.
"Tapi ruangan ini penuh dengan orang-orang kantor."
"Yaaa, pokoknya begitu," ujar Naruto ringan, "meskipun harus sembunyi-sembunyi dari si Neji. Huh. Untung saja wanita itu bekerja di perpustakaan sehingga tidak mudah ketahuan. Aku bisa dibunuh si kepala-bagian-sialan itu kalau ketahuan mendekati adik tercintanya." Naruto mengambil sebatang rokok, menyulutnya, dan mengisapnya dengan nikmat. "Lagipula tak masalah. Hinata kelihatannya menikmati hubungan ini seperti buku-buku romantis yang sering dibacanya, hahaha."
"Dan perpustakaan itu tempat terbaik untuk bermesraan." Sasuke mengoreksi.
"Oh, terima kasih." Naruto melenggang pergi dari ruangan itu, "ayo, kutraktir minum atau tidak?"
Sasuke mengernyitkan dahi. "Lalu, ruangan ini?"
"Biarkan saja. Mungkin baru besok pagi pesta ini akan selesai. Lebih baik kita pergi sekarang saja—ke mana?"
"Scarlet."
"Oh, ya. Scarlet, eh? Bagus, aku belum pernah ke sana. Sepertinya aku terlalu banyak minum, jadi tolong." Naruto melemparkan sebuah kunci mobil pada Sasuke. Dia melambaikan tangannya asal ke seluruh penghuni ruangan yang sepertinya sudah tidak sadar ada di mana itu ("Adios, amigos—!") dan berjalan duluan ke lobi yang ada di lantai satu.
Sasuke menyeringai. "Baiklah, Tuan-Presiden-Direktur-Yang-Terhormat—dengan senang hati aku akan menabrakkan Volvo-mu ke pembatas tempat parkir, kalau begitu."
"Oh, kalau itu sampai terjadi, aku pun dengan senang hati akan memecatmu di rapat dewan direksi."
-
...
-
Suasana tempat itu nyaris tak pernah berubah sejak pertama kali berdiri beberapa tahun yang lalu. Panggung bulat berlapis karpet beludru merah, dengan sebuah grand piano hitam di atasnya. Meja-meja kecil dengan kursi puff dari kayu eboni cokelat tua dengan lining beludru, dan tentu saja—deretan bar stool dari kayu eboni senada dengan hiasan botol-botol minuman di lemari dinding. Buku-buku menu kecil dengan tulisan emas di atas kertas merah tua berdiri rapi di atas setiap meja—dengan logo bertuliskan 'Scarlet Lounge' berukuranbesar berwarna emas terukir di atasnya.
Oh, oh, oh, oh, after the love has gone
What used to be right is wrong
Can love that's lost be found
Oh, after the love has gone
What used to be right is wrong
Can love that's lost be found, oh, oh, oh
Dentingan lembut piano mengiringi berakhirnya lagu itu. Sebuah lagu jazz lama dari Earth Wind and Fire, sedikit menghangatkan suasana Tokyo yang masih dituruni salju. Para penonton bertepuk tangan dan sebagian meneriakkan "Encore!" di antara dentingan gelas-gelas mereka yang berisi wine. Para sommelier yang masih beraksi dengan decanter mereka pun berhenti sejenak untuk mengagumi sang penyanyi, yang masih duduk di belakang pianonya.
Wanita itu berdiri dari pianonya, lalu berjalan mendekati penonton, memperlihatkan gaun merah tuanya. Dia tersenyum dan membungkukkan badannya. "Terima kasih," katanya sebelum turun. Para penonton bertepuk tangan sekali lagi sebelum akhirnya dia benar-benar menghilang ke belakang panggung.
"Aaaah... Encore, encore! Dia tidak dengar, apa?" Naruto menggerundel kecewa dari kursi bar yang didudukinya. "Huh, kau mengajakku ke tempat yang bagus, Sasuke. Penyanyinya lumayan cantik. Oi, apa dia double-job?" kata Naruto setengah berbisik.
"Dasar mesum."
Naruto terkekeh. "Bercanda," katanya sambil memperhatikan panggung yang sekarang diisi oleh sebuah band skiffle. "Tapi serius. Penyanyinya cantik—dan suaranya bagus. Sayang Cuma jadi penyanyi di sini. Kalau dikomersialkan, pasti dia bisa laku. Kau sudah sering ke sini, kan? Kau kenal dia?" tanyanya penasaran. Pikirannya melayang lagi ke beberapa waktu yang lalu. Ah, sayang penyanyi tadi benar-benar tidak mau memberikan encore.
"Hn."
Pria berambut pirang itu berjengit. "Kenapa suaramu seolah-olah bangga begitu?"
"Ah, Sasuke! Sudah lama kau tidak datang. Apa kabar?" seorang wanita berpakaian seragam merah menghampiri mereka dari balik meja sambil menyodorkan asbak, membuyarkan percakapan kecil mereka. "Mau champagne?" tawar wanita pirang itu.
"Cukup baik." Sasuke menerima asbak yang disodorkannya dan meletakkan benda itu di sampingnya. "Yah, baiklah. Segelas saja dulu, Ino."
"Segelas saja?" Ino mengangkat alis. "Tak biasanya, tapi paling tidak kau masih terus merokok dari tadi. Baiklah. Kalau begitu, Tuan teman Sasuke—" wanita berambut pirang itu menoleh ke arah Naruto, yang sejak tadi sudah memperhatikan gerak-geriknya. "Anda mau apa?"
Naruto tersenyum simpatik dengan gaya yang (diusahakan) agar tampil lebih berkarisma. "Crown Royal. "
Ino tersenyum. "Baiklah, akan segera saya siapkan," wanita itu berlalu dan kembali dengan sebotol besar wiski itu untuk Naruto. "baru datang ke sini, ya?" tanyanya sambil menyiapkan seloki untuk Naruto.
Naruto mengangguk. "Yeah. Aku tak pernah tahu tempat ini sebelumnya—dan ternyata tempat ini bagus juga."
"Baguslah." Wajah Ino berseri mendengar kata-kata Naruto itu. "Terima kasih untuk pujiannya. Aku Yamanaka Ino, pemilik tempat ini," katanya sambil menyodorkan kartu nama dari dalam sakunya. Ia tersenyum melihat wajah tak percaya Naruto. "Kenapa? Merasa tidak pantas kalau tempat ini milikku?"
Sejenak Naruto melongo, lalu menyeringai. "Tentu saja tidak. Anda sangat pandai mengelola tempat ini, kalau begitu," katanya dengan nada sok formal. "Kau punya penyanyi yang bagus, sebaiknya hal itu dipertahankan. Ehem—ada kesempatan supaya aku bisa berkenalan dengannya, eh?" tanyanya, separo berbisik. "Dia cantik. Suaranya juga bagus." Dia mengernyitkan kening, mengingat-ingat lagu yang tadi dinyanyikan penyanyi itu. Suara yang bening, dengan oktaf yang tidak begitu tinggi, namun kuat.
"Oh, dia memang penyanyi andalan kami," jelas Ino sembari duduk dihadapan Naruto dan menyulut sebatang rokok. "Anda suka? Kalau begitu, sering-seringlah ke sini."
Naruto nyengir. Sementara Sasuke mencibir ke arah Ino. "Kau tak pernah berkata seperti itu padaku, Ino." Komentarnya sinis di antara kepulan asap rokoknya. "Dan Naruto—memang kurang berapa lagi wanita untukmu, hah?"
Naruto dan Ino tertawa bersamaan—Naruto menggumamkan sesuatu seperti, "sampai aku bertemu dengan yang terbaik," lalu kembali lagi dengan minumannya.
Ino mengambil sebotol minuman dari dalam lemari. "Untuk apa? Tanpa dibilang pun kau akan kembali lagi ke sini, bukan?" katanya sambil mengambilkan gelas baru dan menuangkan minuman yang telah dikocok—lalu memberikannya segelas pada Sasuke. "Baiklah, silakan, minum ini—shaken, not stirred." Dia tertawa sendiri mendengar quote khas James Bond yang diucapkannya itu.
Sasuke mengerutkan kening. "Martini? Aku tidak minta ini." Dia menyodorkan kembali minuman itu ke tengah meja, namun seseorang tiba-tiba menghampirinya dari belakang dan mengambil kembali gelas itu duluan—menempelkan gelas dingin itu ke wajah Sasuke. Sekilas aroma mawar menyeruak dari tubuh wanita itu, bersamaan dengan bisikannya yang perlahan di telinga Sasuke.
"Itu compliment. Dariku."
Sasuke mendesis—entah bicara apa. Sementara itu, Naruto yang duduk di sebelahnya, sudah terpana. Mata birunya tak lepas dari sosok wanita yang sekarang mengambil tempat di sebelah Sasuke itu. Pandangan mereka berdua bertemu, dan wanita itu tersenyum tipis. Membuat pandangan Naruto makin tertancap pada wanita itu—sekalipun wanita itu sudah tak memandangnya lagi. Cantik. Sekaligus misterius.
Dan suaranya indah.... Naruto menambahkan lagi dalam hati.
-
...
-
Sasuke memandang wanita di sebelahnya dengan malas. "Aku tak butuh ini, Sakura," katanya sambil meletakkan Martini di atas meja, "malam ini aku harus menyetir dan aku tak mau menginap di prodeo karena kadar alkohol dalam tubuh berada di atas batas minimal."
Sang wanita tampak pura-pura kaget, menatapnya dengan mata hijaunya yang berkilat bagai zaitun. "Menyetir?" tanyanya sangsi.
Sasuke mendengus. "Huh."
Naruto, yang sedari tadi hanya bisa mendengarkan pembicaraan mereka, akhirnya memutuskan untuk memotong. "Hei, hei. Nona Penyanyi," Naruto melambai-lambaikan tangannya, menarik perhatian wanita itu. "Kau kenal Sasuke?"
Wanita itu tersenyum. Dia mengulurkan tangannya, mengajak Naruto berjabat tangan. "Jangan panggil aku 'nona penyanyi'," dia tertawa geli, "Aku hanya menyanyi untuk mengisi waktu. Kenalkan, namaku Haruno Sakura." Dia mengambil martini yang tidak diminum Sasuke dan meminumnya. "Teman Sasuke?" dia malah balik bertanya.
"Eh? Yaaah, begitulah. Atau tepatnya—aku atasannya, dan malam ini dia menjadi supirku dulu." Dia terbahak, merasa suasana mulai cair. "Apa Sasuke sering ke sini, nona penyanyi—eh—nona..."
"Sakura saja." Wanita itu kembali tersenyum. Dia mengerling ke arah Sasuke—yang sudah akan mengambil rokok lagi. "Oh, pantas... tak biasanya. Mengapa kau tidak memarkir mobilmu di sini dan menginap saja di tempatku seperti biasanya?" Sakura itu tersenyum nakal, mendekati Sasuke dengan minuman di tangannya. "Hmmm?"
Hah? Menginap? Meng-i-nap?
Naruto membelalakkan mata mendengar kalimat terakhir Sakura—yang terdengar sekalipun suasana saat itu sedang ramai oleh tepukan meriah penonton. "Hoi, Sasuke!" ditepuknya bahu Sasuke keras-keras, dan berbisik dengan tempo cepat karena kaget. "apa-apaan ini? Maksudmu, kau pacaran dengan perempuan ini dan tidak bilang padaku? Dasar tidak setia kawan, kau!" gerutunya. Sasuke mendelik tajam.
"Jangan salah paham." Sasuke menarik napas panjang, "Bukannya kau ada klien malam ini?" Dia menoleh ke arah Sakura—yang sedang meminta tambah minumannya.
"Eh? Tidak, kok..." Sakura menggelengkan kepala, "silakan saja kalau kau mau menginap di tempatku—berjaga-jaga kalau kau mabuk." Dia tertawa ringan sambil membetulkan rambutnya. Sasuke menyipitkan mata.
Pria itu melirik Sakura dari ujung kepala dari ujung kaki. "Jangan bohong." Tangannya menyambar sebuah kalung bermata berlian yang dipakai wanita itu. "Aku belum pernah melihat kalung ini. Kau pasti baru dapat dari tamu rutinmu, kan. Kali ini dari mana?" Dia menatap Sakura sinis.
Sakura kembali tertawa—tawa kecil yang terkesan mengejek. "Oh, kau ternyata sudah tahu." Dia mendorong halus tangan Sasuke yang memegang liontin kalung itu, melepaskannya. "Ini Tiffany, lho. Bagus, 'kan? Kakek tua itu bodoh sekali. Kuajak dia berjalan-jalan dan dia mau membelikan apa saja yang aku inginkan." Dia mendekat dan mengambil sebatang rokok dari saku jas Sasuke, lalu menyulutnya.
"Lebih baik jangan bicara soal pekerjaanmu di sini, atau Naruto akan mengeluarkan seluruh uangnya malam ini untuk menyewamu." Sasuke melempar pandangannya ke arah Naruto (yang sudah membelalakkan mata lagi). "Dasar kau ini... ibu dan anak sama saja. Wanita murahan."
"Huh." Sakura menatap Sasuke sinis, "lalu, ayah siapa yang tergaet wanita murahan itu sampai dia melahirkan aku, he?"
"Tentu saja, dia ayahku." Sasuke membalas kata-kata wanita itu cepat.
"Pria memang sama saja," Sakura menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Bahkan pria baik seperti ayahmu pasti pada akhirnya jatuh juga—dan sayangnya dia jatuh di tangan ibuku. Kasihan sekali dia..." Dia memberi jeda sebentar pada kata-katanya, memperhatikan reaksi Sasuke. "Ya, kan? Pria memang tak pernah merasa cukup dengan satu wanita ...Sasuke-nii."
"Hentikan."
Sakura tergelak. "Terimalah nasibmu, kakakku-yang baik, kau punya adik dari hubungan gelap ayahmu—untung saja dia sudah mati."
Sasuke menatap Sakura tajam. Dia mendorong gelasnya yang sudah kosong, lalu berdiri dan membenarkan jasnya. "Naruto, ayo pulang!" setengah membentak dia memanggil Naruto, yang sudah nyaris tertidur—kebanyakan minum sekaligus kecapaian. Sasuke menghela napas panjang, lalu menarik Naruto dan menopangnya di bahu.
"Kau pulang?" Sakura menatap pria berambut hitam itu.
"Ya," Sasuke berbalik dan agak susah payah membawa Naruto ke pintu keluar. "Jangan terlalu banyak minum saat kau sednag bekerja."
Sakura tersenyum. "Oh, terima kasih. Tapi tenang saja, aku tidak akan hamil—jadi aku bisa minum sesukaku."
"Terus saja lakukan pekerjaan semacam itu, aku tak peduli."
"Aku tahu, aku tahu."
-
...
-
Malam di Tokyo tak pernah sepi, selalu ada hal yang bisa dilihat dan mengundang keramaian. Sasuke melirik Naruto yang sudah teler di kursi sebelah. Dia menyalakan Volvo abu-abu itu, menembus jalan raya yang terang dengan sinar lampu-lampu reklame.
Pikirannya melayang.
"Pria tak pernah merasa cukup."
Bukan hanya pria saja yang merasa begitu, dia berkata dalam hati, namun dia akui, hal itu memang terjadi. Suatu contoh nyata terjadi pada ayahnya—yang dewasa, tegas, dan dingin...
Pada akhirnya, memilih seorang pelacur dibandingkan dia... dan ibunya. Kenangan pahit itu berkelebat di sekitar kepalanya, membuat kepalanya terasa sakit. Dia mendengus. Malam ini, dia harus mengantarkan Naruto pulang, lalu mengambil mobilnya sendiri dan pulang ke apartemennya. Hari yang melelahkan—karena akhir minggu berlalu begitu saja, dan lusa dia harus kembali berhadapan dengan pekerjaan.
Sudahlah, jangan melamun lagi. Sasuke memejamkan mata dan membukanya lagi, mencoba berkonsentrasi ke jalanan yang lajunya perlahan turun, karena lampu merah.
-
...
-
Mengapa manusia
Selalu tak pernah merasa puas?
-
F O R T S E T Z U N G F O L G T
Naruto©Masashi Kishimoto
After The Love Has Gone©Earth, Wind, and Fire; written by Jay Graydon, Bill Champlin, David Foster
Word count: sekitar 2.600 kata
AN Maafkan kalau ceritanya jadi begini... sekedar info, Naruto 28 tahun—mewarisi otak mesum Jiraiya—dan karena dia lebih coughgantengcough—dia jad pandai menggaet perempuan. Sasuke 26 tahun—pembawaannya agak sinis, dan Sakura 25 tahun—penyanyi klub sekaligus pelacur elit (sejak kapan SAKURA BISA NYANYI??). Sengaja dibuat dia hanya melayani orang kaya, jadi bisa dikembangkan ke dalam cerita. Fic ini adalah bentuk challenge di Infantrum—Seven Deadly Sins, prolog tidak usah dihitung. Tema yang saya angkat di sini: gluttony (kena nggak ya? Ah, sudahlah).
Lagi-lagi AU. Di JEJAK bikin kekaisaran sontoloyo, di TI sok-sok highschool, dan di sini bikin Tokyo serasa Manhattan. Hahaha. Tapi senangnya, saya bisa memasukkan banyak referensi jazz—genre musik favorit saya. Hehehe.
Penjelasan yang agak ngelantur:Sommelier Orang yang ahli mengenai wine (ada sekolah khusus untuk itu) Decanter Alat khusus untuk mencampur wine agar rasanya lebih enak/aroma lebih terasa Cocktail Minuman beralkohol yang dicampur dengan sari buah Crown Royal, Martini, Margarita, Champagne Nama minuman beralkohol (mau resepnya juga? –ditempeleng-)
....rate-nya mending T atau M ya.. banyak konten dewasa begini... tapi ga akan ada lemon sih. Hanya ((implisit)) kok, heheheh –ketawasetan- AYO masukkan cerita ini dalam STORY ALERT kalian! (maksa)
Next ACT. 2 – PARESSE
Terima kasih sudah membaca.
©Blackpapillon
