_Cinta Terhalang Tali Persaudaraan_

Disclaimer. Masashi Kishimoto©

Sasuse x Naruto

Plus

Itachi x Kyubi

Warning. Abal, typo menyebar, alur berantakan, kurang nyambung.

Hanya untuk kesenangan semata

D.L.D.R

"Pertemuan kali ini kita cukupkan sampai di sinih, ada pertanyaan?" membereskan buku yang berjejer di meja, lelaki paruh bayah melontarkan pertanyaan kepada penghuni ruangan.

Hening... tidak ada yang menyahut satupun, semua sibuk membenah bersiap-siap menuju rumah masing-masing.

"Oke... sampai jumpa di pertemuan selanjutnya" tersenyum tulus, pria dengan luka horizontal di hidung itu mengangkat tumpukan buku dan mulai melangkahkan kakinya keluar kelas.

Di baris pertama deret terakhir, Kyubi masih duduk termenung, jujur,ia sama sekali tidak fokus selama pelajaran berlangsung. mengusap kecil wajahnya, Kyubi menidurkan kepalanya di meja, tak ada niat untuk beranjak dari sanah. sebelum..

"Kau baik-baik saja?"

Suara seseorang dan sentuhan lembut di keningnya membuat Kyubi membenarkan posisi duduknya kembali. Raut khawatir tertangkap iris Ruby, membuatnya –terpaksa- tersenyum simpul menanggapi pertanyaan tersebut.

"Aku baik Utakata, tidak usah khawatir"

"Wajahmu pucat Kyu" pertanyaan kedua, mengartikan pemuda yang di panggil Utakata tak sepenuhnya percaya pada jawaban itu.

"..." Kyubi terdiam, membenarkan perkataan temannya.

Satu persatu penghuni kelas mulai keluar, menyisakan mereka berdua yang masih dalam perasaan berbeda.

"Kau melamun?" Utakata yang semula jongkok untuk melihat wajah Kyubi, kini mendudukan dirinya tepat di depan kursi Kyubi.

"Ah... maaf, aku hanya teringat sesuatu, aku baik-baik saja kok" Kyubi menatap Utakata meyakinkan.

"..." Utakata tak menjawab. Menatap balik Kyubi mencari kebohongan yang sangat ketara di matanya, menghela nafas lelah, Utakata bangkit mengambil tas Kyubi yang tergeletak di samping kursi, memasukan buku yang masih ada di meja, kemudian menyampirkannya ke bahu kanan. Menarik tangan Kyubi mencoba membuat pemuda itu bangkit.

"Aku antar pulang" ajakan yang terdengar seperti perintah, Kyubi mendongak menatap Utakata bingung.

"Ano...aku-

"Kyu kau sudah selesai..." seorang pemuda tiba-tiba memasuki ruangan, memotong pembicaraan mereka "Ah... ada Utakata ternyata" spontan Kyubi menarik tangannya dari genggaman Utakata.

"Itachi.." reflek Kyubi berdiri menatap Itachi dengan pandangan gugup.

"Kau lama, Jadi aku menyusulmu kesinih" Itachi menjelaskan tanpa di minta.

"Aku sudah selesai, ayo pulang" melirik ke arah Utakata yang masih terdiam, Kyubi mengambil tasnya di bahu Utakata "Lain kali saja ya" tersenyum tipis sebelum melangkah mendekati Itachi. ikut tersenyum, Itachi membengkuk untuk berpamitan. mereka keluar beriringan, meninggalkan Utakata dalam kebisuan.


Suasana di ruang keluarga terlihat begitu mencengkram, aura hitam bercampur dengan senyum tipis melapisi kecanggungan 2 pemuda yang tengah adu pandang dengan hikmat. Masih menutup mulut sejak 2 jam terlewati membuat wanita dan lelaki paruh baya memangdang keduanya khawatir.

"Anata... apa kau yakin mereka baik-baik saja?" Kushina, satu-satunya wanita di ruangan itu bertanya, masih terfokus dengan dua pemuda di depannya.

"Mungkin mereka lelah" jawaban yang terlihat acuh, hingga mendapatkan delikan maut yang mampu membuatnya bungkam seketika.

"Khem..." mencoba mengambil perhatian dari dua pemuda di depannya, Kushina berusah membuat suara sekeras mungkin.

"..."

"..."

"Khem!" tidak mendapat respon memaksa Kushina menaikan volume suaranya.

"..."

"..."

Kekesalannya benar-benar sudah tidak bisa di bendung lagi 'Aish.. mereka ini..' menggeram dalam hati, Kushina menarik nafas dalam-dalam mencoba mereda emosinya yang mulai hinggap.

"KHEM!"

Bisa di bilang keberuntungan sedang berpihak pada Kushina, lihatlah, dua pemuda itu kini sedang melihat kearahnya, dengan senyum yang dibuat semanis mungkin, Kushina memandang dua pemuda itu bergantian, beraninya mereka menghiraukannya, bahkan dengan 2 kali teguran masih tetap bergeming dengan pandangan masing-masing. Tapi tunggu... yang terakhir tadi bukan suaranya, lalu...

"Nii-chan!" suara cempreng Naruto menyadarkan Kushina dari lamunannya, menengok kebelakang bermasud melihat siapa yang membantunya menyadarkan Naruto dan Sasuke, namun wajah Minato yang tanpa di ketahui tepat berada di belang Kushina membuatnya pas menabrakan hidung mungil itu pada bibir Minato.

"Ara... Oka-san setidaknya lakukan itu saat kami tidak ada di sinih" Kyubi yang baru saja sampai setelah Itachi spontan berucap ketika melihat adegan ayah dan ibunya, membuat tawa di ruangan itu pecah, minus Kushina yang langsung menjauhkan diri dari Minato, dengan muka memerah menahan malu dan geli, Kyubi mendudukan dirinya tepat di samping Naruto "Yo otouto" Kyubi tersenyum sambil mengacak kecil rambut Naruto yang di respon dengan wajah kesal dari sang empu.

"Ah... sejak kapan kalian sampai" bersikap kejadian tadi tak pernah ada, Kushina mendekat ke arah Itachi dengan senyum di wajah cantiknya"Pergilah membersihkan diri, setelah itu kita makan malam bersama" Itachi hanya mengangguk sebagai jawaban,kemudian memeluk Kushina yang sudah di anggap sebagai ibunya.

"Aish liatlah, sebenarny di sinih siapa yang menjadi anak kandungmu" Kyubi bersuara di buat kesal, mendelik ke arah Itachi yang sudah melepas pelukannya.

"Apa? bahkan okaa-san lebih menyayangiku dari pada kamu" Itachi menyeringai, begitu puas melihat wajah kesal Kyubi yang memerah.

"Sudahlah Kyu, kau bisa memeluk tou-san jika kau mau" Minato berucap, menambah gelak tawa yang terkesan hangat di rumah itu.

"Ah... sepertinya tidak ada yang merindukanku di sinih, padahal aku sangat merindukannya" pura-pura terlihat kecewa, Itachi menatap Kushina dengan raut sedih.

Tiba-tiba Naruto berdiri, dengan senyum yang melekat di wajahnya ia berjalan angkuh ke arah Itachi "Yak Tachi-nii Naru kangen ko... jadi jangan sedih" kakinya berhenti ketika berjarak satu meter di depan Itachi, merenggangkan tangannya bersiap menerima pelukan, Naruto melebarkan senyumnya.

"Oi Dobe yang dia maksud itu aku, bukan kamu"

-Twit- senyumnya luntur seketika, membalikan badan guna melihat siapa yang berani menghancurkan moodnya. Manik hitam dengan seringai jahil memenuhi indra penglihatan Naruto, dengan langkah menggebu-gebu ia mendekati asal suara.

"Teme! Jangan berasumsi seenak jidatmu" menunjuk Sasuke tepat di hidung.

"Sayangnya dugaanku 100 persen tepat Dobe" tersenyum jail, Sasuke menurunkan jari Naruto dari hadapannya, beranjak dari duduknya kemudian melangkah kearah Itachi dengan melewati Naruto.

"Hyung.. Bogoshipo" Sasuke memeluk Itachi dengan senyum kemenangan, di balas kekehan kecil dari Itachi. Naruto yang kesal menghirup udara banyak-banyak, mencoba menghilangkan rasa malu dalam dirinya.

"Cih tak hanya populer di kalangan wanita, ternyata kau juga populer di kalangan adik!" Kyubi memaki Itachi.

"Hahahha sudah sudah.. lebih baik kalian cepat membersihkan diri, Naru kau antar Sasuke ke kamarmu, Itachi dan Kyubi menginap malam ini, jadi Sasuke sementara di kamarmu dulu ne" Kushina tersenyum ke arah Naruto.

"T-tapi-

"Laksanakan!" perintah mutlak dari ibunya mau tidak mau harus Naruto trima. Haah mungkin malam ini akan menjadi malam terpanjang untuknya.

_TBC_