Title : I Though They Were A Ghost Couple Who Making Out
Author : Ben-Xing
Pairing : KyungMyeon, slight FanXing, KaiHun, LuMin
Length : 2/3
WARNING : BL, typo(s) bertebaran, EYD amburadul
Pemainnya milik diri mereka masing-masing, tapi fic ini milik Ben-Xing
.
.
.
"OH SEHUN! YA TUHAN! OH SEHUN! OH SEHUN! Sejak kapan otakmu kembali ke tempatnya? Aku benar-benar mencintaimu!" Baekhyun sudah sibuk memeluk dan menciumi Sehun. Sedangkan lelaki berambut blonde itu hanya bisa berusaha menghindari kecupan sayang dari hyungnya yang menurutnya terlalu berlebihan itu.
"Tapi kita mau menikahkan Junmyeon-hyung dengan siapa? Kita tidak tahu siapa kekasih Junmyeon-hyung." Baekhyun langsung melepaskan Sehun saat mendengar ucapan Tao. Sehun menatap Jongin tajam saat ia mendapati Jongin yang ada di sampinya masih tertawa keras sejak Baekhyun melakukan tindakan kriminalnya-menurut Sehun.
"Dia tidak memiliki kekasih. Aku yakin itu." Setahu Chanyeol sejak Junmyeon putus dengan kekasihnya yang juga seorang gadis dari kalangan selebriti itu, ia tidak pernah lagi mendengar kabar Junmyeon dekat dengan perempuan lain. Memang banyak yang menyukainya, dari kalangan selebriti juga tidak bisa dikatakan sedikit. Tapi sepertinya lelaki berambut hitam kemerahan itu seolah menolak menjalin hubungan yang serius.
"Junmyeon-hyung memang tidak memiliki kekasih. Tapi ia memiliki calon pengantin." Suara Jongdae membuat tujuh lelaki yang tengah sibuk berdebat mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu. Sejak kapan Jongdae berada disana. Yang memiliki kemampuan teleportasi itu Jongin, tapi kenapa Jongdae yang bisa pindah tempat?
"Apa maksudmu, Kim? Siapa calon pengantin Junmyeon?" Baekhyun yang memang pada dasarnya mempunyai sifat sebelas-duabelas dengan Jongdae langsung berjalan ke arahnya.
"Lihatlah keluar. Kau pasti mengerti." Jawab Jongdae tersenyum lebar sambil menunjuk keluar ruangan. Lalu ia malah mengambil tempat pada kursi yang Minseok gunakan tadi. Sedangkan seluruh lelaki yang menempati ruangan itu, kecuali Jongdae tentunya, langsung berlari ke luar ruangan.
.
.
.
"Kyungsoo!"
Suara khas wanita membuat Kyungsoo menghentikan langkahnya. Sepertinya ia pernah mendengar suara itu. Sering malah. Tapi ia lupa siapa pemilik suara itu.
Kyungsoo menolehkan kepalanya ke belakang, mencari asal suara itu.
DEG!
Dan jantungnya hampir saja lepas dari tulang rusuknya.
Di sana, sekitar tiga meter darinya, berdiri seorang wanita yang Kyungsoo tahu berumur 55 tahum. Ia sebenarnya tidak bermasalah dengan wanita. Hanya saja melihat hidung dan senyum wanita itu yang diturunkan pada anaknya membuat tangannya tiba-tiba terasa dingin. Tidak pernah ada bayangan ia akan bertemu wanita itu lagi.
"Kim-ahjumma," Sapa Kyungsoo sesopan mungkin. Ia membungkukkan badannya 90 derajat saat sudah berada di depan wanita itu.
"Sudah ku bilang jangan memanggilku ahjumma. Bukankah aku sudah menyuruhmu memanggilku umma." Kyungsoo hanya tersenyum canggung.
"Lihatlah! Kau semakin tampan! Pipimu juga tidak berubah. Kau benar-benar imut!" Kyungsoo bisa merasakan rona merah menjalar di pipinya saat pipinya dicubit oleh wanita yang ada di hadapannya ini.
"Umma juga semakin cantik." Balas Kyungsoo dengan senyum tulus. Sedangkan wanita yang ia puji malah terkikik geli.
"Kau jangan menggodaku, Soo. Umurku sudah kepala lima. Lagipula sudah ada keriputan yang muncul di wajahku. Jika aku cantik pasti ada puluhan lelaki yang mau mengantri berkencan bersamaku. Kau tahu 'kan, aku hanya pergi berkencan dengan suamiku dan Junmyeon." Kyungsoo hanya tertawa geli. Ternyata meski umurnya bertambah, rasa humor ibu dari Junmyeon ini masih sama seperti dulu.
"Kau kemana saja? Kau sudah lama sekali tidak pernah ke rumah. Saat ulang tahun Junmyeon kemarin kau juga tidak datang. Apa kau sudah tidak pernah berhubungan lagi dengannya?" Kyungsoo sudah lupa kapan terakhir kali ia berkunjung ke rumah Junmyeon. Dulu waktu EXO masih aktif Junmyeon sering sekali mengajakanya ke rumahnya. Entah itu menghabiskan natal bersama atau sekedar kunjungan setiap bulan. Oleh karena itu Kyungsoo juga kenal baik dengan keluarganya.
"Maaf, umma. Kemarin aku ada acara pernikahan saudaraku di Jepang. Jadi aku tidak bisa pulang ke Korea. Aku janji, setelah ini aku pasti berkunjung kesana." Kyungsoo tidak yakin dengan ucapannya. Bermain ke rumah Junmyeon adalah salah satu hal yang cukup ia hindari.
"Kau berjanji 'kan? Aku rindu memasak bersamamu, Soo. Junmyeon itu benar-benar payah jika ku ajak memasak. Benar-benar seperti ayahnya." Kyungsoo hanya tersenyum. Sejak dulu Junmyeon memang sangat tidak mungkin di ajak pergi ke dapur. Ia pasti hanya akan membuat semuanya berantakan, entah itu telur yang ia campur dengan kopi, susu yang ia campur dengan wortel, atau bahkan ramen yang ia tambahi dengan coklat.
"Anyeong, Kim-ahjumma," Sebuah sapaan yang ditujukan untuk ibu Junmyeon membuat Kyungsoo menoleh ke sampingnya. Sejak kapan duo maknae itu berada di sampingnya. Apa jangan-jangan kekuatan teleportasi Jongin itu memang kenyataan? Atau Sehun sudah benar-benar mendapatkan kekuatan anginnya?
"Oh! Hai Sehun, Hai Jongin," Ibu Junmyeon tersenyum pada duo maknae itu. Seandainya saja ia tahu bahwa dua orang yang tengah tersenyum padanya itu adalah orang yang hampir membunuh anak kesayangannya karena tingkah laku mereka yang diluar kendali. Apa ia masih bisa tersenyum seperti itu?
"Oh, ya. Aku masih belum mengerti sebenarnya ini acara apa. Minseok tadi hanya bicara bahwa ini pernikahan leader EXO. Memang siapa yang akan menikah?" Kyungsoo menatap ibu Junmyeon heran. Jadi ia belum tahu kalau ini adalah pernikahan Yifan dengan Yixing.
"Sebenarnya ini adalah acara pernikahan Yi..." Belum sampai Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya, ia sudah ditarik paksa oleh Jongin.
"Jong, apa yang..." Sialnya kekuatan Jongin lebih besar daripada Kyungsoo. Ia hanya bisa menatap bingung saat Jongin masih menyeretnya menjauhi ibu Junmyeon.
"Maaf, Kim-ahjumma. Tapi Kyungsoo-hyung ada urusan mendadak yang sangat penting. Jadi kami harus permisi dulu. Anyeong!" Sehun langsung mengejar Jongin setelah memberi salam dan senyum terbaiknya pada ibu Junmyeon.
.
.
.
"Oh! Ini benar-benar tidak bisa percaya!" Junmyeon masuk dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat sangat kaku. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa berwarna merah tua itu, menyandarkan tubuhnya, menutup matanya erat. Sepertinya ia baru saja mengalami hal yang tidak begitu baik.
"Kau kenapa, hyung? Kenapa tiba-tiba marah-marah sendiri?" Tao yang tengah sibuk denga makanan yang entah ia ambil darimana harus rela menghentikan acaranya demi menatap Junmyeon yang uring-uringan.
"Asal kalian tahu saja. Orang yang akan menikahkan Yifan dengan Yixing benar-benar tidak bisa diajak bicara. Ia tidak mau membatalkan pernikahan ini. Katanya pantang. Ia malah menyumpahi orang yang merusak acara pernikahan ini tidak akan pernah bisa menikah." Ucapan lugas Junmyeon berhasil membuat Chanyeol yang mengambil makanan Tao secara diam-diam menjadi tersedak. Entah itu karena makanan yang ia curi dari Tao atau karena ucapan Junmyeon.
"Ehem! Apa menurut kalian sumpah yang buruk seperti itu bisa terjadi pada orang yang baik?" Chanyeol hanya tersenyum lebar dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat ketiga lelaki yang ada di hadapannya itu menatapnya bingung.
"Mmm... menurutku jika orang itu seperti Junmyeon-hyung, sumpah itu tidak akan terjadi. Tapi jika orang itu sepertimu, mungkin malah akan berlipat ganda." Ucapan Jongdae berhasil membuat Tao terbahak, sedangkan Chanyeol bergumam sebal semacam 'sialan kau Kim F*cking Jongdae!'
"Bahkan ia juga akan menyumpahiku jika aku masih saja berusaha membujuknya. Ya Tuhan! Aku bersumpah aku masih ingin menikah!" Junmyeon langsung menegak habis minuman yang disodorkan Jongdae kepadanya. Kepalanya rasanya ingin pecah setelah berdebat cukup lama dengan orang yang akan menikahkan Yifan dengan Yixing itu. Hingga ia tidak memperhatikan tatapan Jongdae yang penuh arti kepadanya.
"Tenang, hyung. Kalau begitu kami akan segera mengabulkan keinginanmu." Jongdae tersenyum lebar yang malah membuat bulu kuduk Chanyeol kembali merinding.
.
.
.
"Yah! Apa yang kalian lakukan!" Kyungsoo langsung melepaskan cengkraman Jongin yang terlalu keras saat sudah memasuki sebuah ruangan yang cukup luas. Sedangkan lelaki yang baru saja menyeretnya itu hanya tersenyum tanpa dosa dan mengangkat kedua tangannya ke atas seolah tidak melakukan apa-apa.
"Akhirnya kau sampai juga. Kemana saja sebenarnya kalian?" Suara lembut Luhan membuat Kyungsoo menoleh ke samping, tidak jauh darinya berdiri Luhan, Xiumin dan Baekhyun.
"Kyungsoo-hyung itu. Dia sedang mengadakan pendekatan." Ucapan Jongin yang diselangi senyum anehnya itu membuat Kyungsoo menatap dengan salah satu alis terangkat. Apa maksud maknae tan itu dengan 'pendekatan?'
"Sudahlah! Sekarang cepat ganti bajumu dengan ini. Aku tidak mau menerima masalah lagi. Hari ini sudah terlalu banyak masalah!" Kyungsoo menatap setelan jas berwarna putih yang disodorkan Baekhyun kepadanya. Ia menatap bergantian wajah Baekhyun dan setelan jas tersebut secara bergantian.
"Huh? Kenapa aku harus memakai jas ini?" Seingat Kyungsoo seluruh member setuju untuk menggunakan setelan jas warna hitam semua, kecuali Yixing yang akan menggunakan setelan jas warna putih. Katanya `sih permintaan Yifan.
Dan apa-apan itu? Kenapa di saku kirinya ada sebuah hiasan bunga juga? Kyungsoo jadi ingat foto prewedding yang dikirim Yixing dua minggu yang lalu.
'Tunggu sebentar! Setelan jas dengan foto prewedding! Jangan bilang jika aku-'
"Kau akan menikah, Soo!" Minseok yang memang sangat mengerti perasaan dan pikiran Kyungsoo berkata dengan lembut. Tidak salah jika ia adalah hyung favoritnya.
Tapi sekarang masalahnya bukan Minseok yang menjadi hyung favoritnya. Hanya saja ucapan Minseok yang menggunakan nada kelewat lembut itu bisa membuat detak jantung Kyungsoo hampir berhenti. Sejak kapan lelaki berpipi gembil itu mengikuti jejak Yifan menjadi aktor?
Menikah? Yang benar saja!
"Huh? Jangan bercanda, hyung!" Senyum Kyungsoo langsung hilang saat melihat tatapan Luhan dan Baekhyun yang terlalu mengintimidasi. Memangnya Kyungsoo salah apa?
Ia tidak merasa menodai singgasana Luhan dengan kaos kaki Chanyeol yang hampir tiga bulan tidak pernah dicuci seperti yang biasa Jongdae lakukan.
Ia juga tidak memiliki ingatan pernah mencampur eyeliner Baekhyun dengan tinta spidol yang digunakan Yifan untuk belajar menggambar seperti yang Chanyeol lakukan setiap minggunya.
Ia juga sangat yakin tidak pernah mencuri atau menghabiskan bakpao Minseok seperti Sehun dan Jongin.
"Minseok serius, Soo! Kau akan menikah dalam waktu setengah jam lagi." Kyungsoo menatap horor wajah tegas Luhan. Kenapa lelaki itu terlihat sangat serius? Kyungsoo berani bertaruh demi gigi Yifan yang semakin maju bahwa Luhan tidak pernah memiliki minat dalam hal akting. Ia pasti lebih memilih menjadi pemain sepak bola.
"Dan tidak ada penolakan dalam hal ini! Kau bisa menolak jika aku mengatakan Jongdae yang semakin tinggi, gigi Yifan-hyung yang semakin berkurang, Jongin yang semakin putih, wangi kaos kaki Chanyeol yang mengalahkan parfum Musk, bahkan matamu yang semakin menyipit. Tapi demi tungkai kaki Junmyeon-hyung yang tidak pernah bertambah panjang seinci pun, kau tidak bisa menolak pernikahan ini!" Kyungsoo jadi meragukan status Baekhyun yang menjadi main vocal dan bukan main rapper.
"Kau tidak bisa melakukan ini, hyung! Bahkan aku tidak pernah mengatakan aku setuju menikah!" Kyungsoo menatap ketiga temannya itu tajam. Bagaimanapun juga ini mempertaruhkan hidupnya. Bagaiman jika ia nanti menderita setelah menikah? Bagaimana jika ia tidak mencintai pasangannya? Oh! Atau mungkin ia akan disiksa oleh pasangan hidupnya? Tunggu sebentar! Memang siapa yang akan Kyungsoo nikahi?
"Aku bersumpah kau pasti akan bahagia dengannya, Soo! Dia pasti tidak akan menyakitimu! Kalian saling mencintai! Kalian adalah pasangan yang sempurna!" Kyungsoo menatap Baekhyun yang berbicara dengan sangat riang seolah ia bisa membaca pikiran Kyungsoo. Memang siapa yang akan menikah dengannya?
'Oh tidak! Jangan bilang jika itu -'
"HYUNG! JUNMYEON-HYUNG SUDAH DIAMANKAN!" Sehun menerobos masuk dengan wajah yang terlampau senang. Ia bahkan tidak menyadari aura gelap di sekitarnya yang mampu membunuhnya.
.
.
.
"Jongdae-ah, apa yang kau lakukan pada rambutku?" Junmyeon menggerutu kesal. Sejak tadi Jongdae sudah beralih menjadi penata rambut dan mengobrak-abrik rambutnya yang ia yakini sudah tertata rapi sebelum berangkat tadi.
"Diamlah, hyung! Kau harus terlihat lebih tampan dari kami semua! Ini adalah perni- MMMPPPP!" Chanyeol lagsung membekap mulut Jongdae. Lelaki berambut coklat itu merutuki mulutnya yang tidak bisa menjaga omongannya sendiri.
"Yah! Apa yang mau kau katakan? Kenapa aku harus terlihat lebih tampan dari yang lain?" Jongdae hanya bisa diam dan bertukar pandang dengan Chanyeol dan Tao.
"HYUNG! KYUNGSO HYUNG SUDAH DIAMANKAN!" Jongin masuk dengan wajah yang terlewat sumringah. Ia bahkan tidak terlalu memikirkan tatapan membunuh yang dihadiahkan Jongdae, Chanyeol dan Tao padanya.
"Memangnya ada apa dengan Kyungsoo? Kenapa dia diamankan?" Pertanyaan kelewat polos dari Junmyeon membuat Jongin menatapnya bingung.
"Hyung! Kyungsoo-hyung 'kan akan menikah denganmu!" Mungkin Chanyeol tadi sempat mencegah Jongdae mengatakannya. Tapi sayangnya ia hanya bisa berdiri beberapa langkah dari Jongin dengan tangan terangkat.
'Damn that Jongin's f*cking sexy mouth!'
Junmyeon menatap Jongin diam. Otak encernya masih berusaha mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh maknaenya itu.
"Yah! Jongdae! Apa maksud ucapan Jongin itu?" Jongdae sedikit mengumpat. Yang membocorkan itu Jongin tapi kenapa ia yang terkena semprot?
Jongdae hanya menatap Chanyeol, Tao dan Jongin diam. Dan sayangnya ketiga temannya itu juga hanya bisa menatapnya diam. Ia tidak berani menatap Junmyeon yang tengah menatapnya garang seolah akan menerkamnya sekarang juga.
Jongdae menghela nafasnya kasar. Percuma saja ia menyembunyikan. Sebentar lagi Junmyeon juga pasti akan tahu.
"Ehem! Begini ya hyung, sebenarnya -"
"Tidak usah berputar-putar Jongdae! Cepat katakan!"
Jongdae hanya berani melirik Junmyeon sebentar. Junmyeon dalam keadaan marah itu benar-benar masalah besar dan harus dijauhi.
"Kau dan Kyungsoo akan menggantikan Yifan-hyung dan Yixing-hyung menikah!" Jongdae sudah mengharapkan akan adanya barang ataupun tubuh yang terbanting. Tapi ia malah menyaksikan hyung yang sangat ia hormati itu terduduk lemas di kursi yang ia tempati tadi.
"H-hyung, kau tidak marah 'kan?" Jongin bertanya dengan nada takut. Ia tidak ingin membuat salah satu hyungnya ini marah. Ia tahu selama ini Junmyeon sudah sangat sabar dan telaten dalam mengurusi ia dan member lainnya hingga akhir. Jadi ia tidak mau mengecewakannya.
"Kenapa aku harus marah? Memanya kalian mengharapkan aku marah?" Junmyeon masih dengan wajah lelahnya.
"Hyung tidak marah? Jadi hyung menyetujuinya? UWOOOOOOO-"
"Aku tidak bilang aku setuju!" Chanyeol langsung kembali diam dari acara euforinya saat mendengar ucapan Junmyeon yang terkesan lembut namun lelah itu.
"Aku bukan lagi leader EXO. Aku sudah berusaha menjaga kalian dari awal hingga akhir. Dan aku berharap setelah itu kalian bisa bertanggung jawab dan mengurus diri kalian masing-masing." Mata Tao sudah berkaca-kaca mendengar ucapan Junmyeon. Ia tidak pernah lupa sedikitpun bagaimana Junmyeon selalu menjadi sandaran bagi mereka setiap EXO mengalami masalah. Ia masih sangat ingat saat itu EXO menghadapi masalah, semua member tidak ada yang mampu untuk naik ke atas stage menerima penghargaan di salah satu acara musik, tapi Junmyeon dengan beraninya mewakili mereka dan berusaha tersenyum meski ia sebenarnya juga menangis.
"Hyung, jangan bicara seperti itu." Jongin kini sudah memeluk Junmyeon erat.
"Aku bangga pada kalian. Kalian sekarang telah menjadi orang yang benar-benar membanggakan. Perjuangan kita tidak akan pernah berakhir. We Are One!" Keempat member itu tidak mampu menahan tangisnya, mereka semua memeluk hyungnya yang sangat mereka sayangi itu. Entah sudah berapa lama mereka tidak merasakan waktu kebersamaan seperti dulu.
"Hiks... hiks... hhhyung... maafkan kami... hiks... hiks... hiks..." Junmyeon mengelus pelan Jongin yang ada di hadapannya. Maknaenya yang satu ini sangat dekat dengannya. Mereka menghabiskan waktu tujuh tahun trainee bersama sebelum akhirnya didebutkan. Junmyeon jadi ingat saat Jongin berusaha menahannya ketika ia akan keluar dari trainee karena tidak segera didebutkan.
"Hiks... hiks... kami selalu menyusahkanmu dan mengecewakanmu... hiks... hiks..." Semanja apapun Tao pada Junmyeon, tapi tetap saja ia akan menyayanginya. Baginya Tao adalah dongsaeng yang perlu perhatian lebih, apalagi sejak vakumnya Yifan saat itu.
"Ssshhhhh... kalian tidak pernah menyusahkanku dan mengecewakanku. Malah kalian selalu membuatku bangga. Aku yakin aku pasti tidak bisa bertahan tanpa kalian." Junmyeon memeluk empat membernya itu. Seandainya mereka bisa berpelukan bersama berduabelas mungkin akan terasa lebih bahagia.
"Huks... huks... lalu sekarang apa yang harus kita lakukan terhadap pernikahan ini?" Tanya Tao setelah mereka semua melepas pelukannya. Bagaimanapun juga ada masalah yang harus segera mereka selesaikan.
"Bagaimana kalau kita merobohkan saja bangunan ini?" Chanyeol hanya bisa kembali diam saat tiga lelaki di sekelilingnya itu menatapnya tajam. Ia jadi heran kenapa hari ini orang-orang sangat hobby memberinya death glare.
"Tunggu sebentar. Bolehkah aku menanyakan sesuatu?" Suara lembut milik sang guardian angel itu membuat empat lelaki yang lebih muda darinya memandangnya.
"Mmm... kenapa kalian memilihku yang menjadi pengganti Yifan? Mmm... maksudku kenapa kalian memilihku untuk menikah?" Juunmyeon menggaruk lehernya yang tidak gatal. Entah kenapa tiba-tiba ia jadi merinding. Ia merasa tidak yakin pada pertanyaannya sendiri. Tapi ia juga penasaran.
'Sial! Sepertinya aku salah mengambil jalan!' Junmyeon mengumpat dalam hati saat melihat Jongdae yang tersenyum atau lebih mirip menyeringai padanya. Ia juga mengutuk senyum Chanyeol yang terlalu lebar itu. Ia bersumpah lebih rela melihat mereka menangis seperti tadi daripada melihat mereka menyeringai.
"Karena hanya hyung yang bisa menikah!"
"Karena hyung sudah siap untuk menikah!"
"Karena hanya hyung yang memiliki calon pengantin!"
"Karena hyung dan Kyungsoo-hyung saling mencintai!"
"Yah! Bagaimana kalian bisa bicara seperti itu?"Junmyeon menatap horor empat lelaki di hadapannya ini. Apa-apan itu jawaban Jongin?
"Hyung! Jangan berpikir kami tak tahu hubunganmu dengan Kyungsoo selama ini! Kau pikir kau bisa mengelabui kami!"
"Kau pikir kami tidak pernah melihatmu meminta morning kiss pada Kyungsoo-hyung!"
"Kau kira kami tak pernah menangkap basah kalian sedang bermesraan saat malam!"
Junmyeon mengumpat kesal. Ia merutuki pertanyaannya sendiri. Seandainya ia tidak bertanya, mungkin ia tidak akan masuk ke lubang yang sama. Percuma saja ia membuat empat membernya itu menangis. Tapi akhirnya mereka akan kembali 'menyerangnya'.
"Yah! Yang kalian lihat itu salah paham! Aku tak pernah memiliki hubungan spesial dengan Kyungsoo!" Junmyeon tahu ia tidak akan mudah melawan Jongdae, ditambah lagi ada Chanyeol dan Jongin. Pasti akan lebih sulit.
"Jika kau mengatakan ciumanmu dengan Kyungsoo saat di Cina malam itu tanpa alasan, aku pasti akan memotong leherku sendiri!" Junmyeon menatap Jongdae terkejut. Ia kira tidak ada orang yang mengetahui tentang ciuman itu. Lagipula ciuman itu juga sudah lama sekali.
'Sial!'
Junmyeon jadi mengingat rasa manis bibir plump Kyungsoo.
"Tapi aku memang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Kyungsoo!"
"Itu tidak berarti kau tidak memiliki rasa padanya, hyung. Mataku memang tak selebar milik Kyungsoo. Tapi aku juga tidak buta untuk melihat bagaimana caramu memandang Kyungsoo!" Ucapan serius Chanyeol hanya membuat Junmyeon semakin cemas. Chanyeol sangat jarang memasang wajah serius. Dan ia harus lebih waspada lagi saat Chanyeol memasangnya.
"Kau pikir kami tak sadar dengan status kalian yang masih sendiri. Kyungsoo-hyung tidak pernah memiliki kekasih, dan sejak kau putus dengan kekasihmu dari girlband itu kau juga tidak pernah memiliki hubungan lagi. Padahal jelas sekali aktris dari manajemen tetangga itu menyukaimu. Tapi kau tidak pernah menanggapinya. Bahkan orang buta saja tahu bahwa kalian itu saling menunggu."
"Ayolah, hyung! Hanya kau yang bisa melakukan ini." Tao memasang wajah polosnya yang malah membuat Junmyeon semakin pusing.
"Hyung, kau sendiri yang mengatakan bahwa pernikahan ini tidak mungkin dibatalkan. Sekarang hanya kau yang bisa menyelesaikannya. Semuanya ada di tanganmu." Junmyeon memandang keempat membernya yang menatapnya serius. Terlihat sekali mereka benar-benar mengharapkan persetujuan Junmyeon. Tapi ini masalah pernikahan, dan pernikahan itu sakral!
"Tapi aku tidak bisa menikah dengan Kyungsoo. Kami sudah tidak pernah berhubungan lagi. Terkhir kali aku menghubunginya hanya waktu ulang tahun Tao itu. Lagipula, aku juga tidak yakin ia memiliki perasaan padaku!" Junmyeon menyandarkan punggungnya pada kursi. Tidak akan lucu jika terakhir kali ia berbicara pada Kyungsoo dua bulan yang lalu. Dan itu juga dalam keadaan yang sangat canggung. Kemudian sekarang saat mereka bertemu kembali, Junmyeon langsung mengajaknya menikah. Bahkan Junmyeon saja tidak pernah bermimpi seperti itu!
"Dengar ya, hyung! Kau hanya perlu mengatakan begini, Kyungsoo-yah, aku benar-benar mencintaimu. Sejak pertama kali aku bertemu denganmu, mata bulatmu itu sudah mengikat mataku dengan sangat kuat. Pipimu yang tembam itu benar-benar membuatku ingin mencubitnya setiap saat. Bibirmu yang plump itu benar-benar membuatku ingin selalu mengecapnya. Tubuhmu yang sexy itu selalu membuatku ingin memelukmu setiap saat. Pant-"
" YAH! Sebenarnya yang mencintai Kyungsoo itu kau atau Junmyeon-hyung? Kalau begitu kau saja yang menikah dengannya!"
"JANGAN!"
Jongdae menyeringai saat melihat Junmyeon melarangnya. Sedangkan tiga member lainnya tersenyum senang. Oh sial! Junmyeon sudah masuk jebakan Jongdae!
"Nah, hyung. Kalau kau tidak mau aku menikah dengan Kyungsoo, kau harus menikahinya!" Chanyeol tersenyum lebar. Demi janggut merlin! Junmyeon ingin sekali menarik bibir Chanyeol hingga ke pelipisnya agar ia tidak membuatnya merinding lagi.
"Tapi bukan itu maksudku. Aku ha-"
"Sudahlah! Aku sudah tidak menerima penolakan! Sekarang, Jongin! Katakan pada Baekhyun bahwa Junmyeon-hyung ingin menemui Kyungsoo lebih dulu. Mereka akan berbicara empat mata sebentar sebelum pemberkatan!" Jongin langsung keluar dengan sangat semangat setelah memberi kedipan sebentar pada Junmyeon yang hanya bisa menatapnya diam.
.
.
.
"Aku tidak mau!" Kyungsoo melemparkan dasi yang akan dipakaikan Baekhyun padanya. Baekhyun boleh memporan-porandakan dapurnya, tapi ia tidak akan membiarkan Baekhyun sedikitpun menyiapkan pernikahannya.
"Aku bersumpah, Soo. Jika kau mau menikah dengan Junmyeon-hyung aku akan rela memakai bikini keliling Incheon!" Minseok dan Luhan menatap Baekhyun kaget.
"Yah! Kenapa kalian menatapku seperti itu. Sudahlah hyung, aku sudah tidak sanggup menghadapi adik kesayanganmu itu. Kau urus saja sendiri!" Baekhyun memberikan dasi berwarna putih yang sudah berkali-kali Kyungsoo buang kepada Minseok. Kepalanya bisa pecah jika lama-lama menghadapi Kyungsoo yang keras kepala itu.
Minseok menghela nafas kasar. Ia menatap Luhan yang hanya menghendikkan bahunya pelan. Jika Baekhyun saja tidak mampu menundukkan Kyungsoo, berarti hanya tinggal dua orang bisa menundukkannya. Orang itu adalah dia dan Junmyeon. Dan sepertinya Junmyeon juga tidak bisa diandalkan sekarang. Tapi ia juga sudah lelah menghadapi semua urusan yang berhubungan dengan pernikahan. Jika pernikahan akan seperti ini, Minseok bersumpah tidak akan mau menikah.
"Kyungsoo-ya, dengarkan hyung sebentar. Kami semua menikahkanmu dengan Junmyeon itu bukan tanpa alasan. Kami semua sudah mengambil keputusan ini dengan pikiran yang matang."
"Tapi hyung, aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengannya!" Kyungsoo menggerutu. Biasanya Minseok selalu ada di pihaknya dan membelanya. Lalu sekarang siapa yang akan membelanya?
"Lalu? Hyung pikir kami tak tahu ciumanmu dengan Junmyeon-hyung di Cina malam itu. Bahkan Tao saja sempat mengabadikannya!" Kyungsoo keget dengan ucapan Sehun. Ciuman itu sudah lama sekali. Dan itu juga sebuah kesalahan.
Sial! Kyungsoo benar-benar sial! Ia jadi mengigat bagaimana hangatnya bibir Junmyeon saat itu.
"Tapi aku tetap tidak bisa menikah dengannya!" Kyungsoo mengabaikan Baekhyun yang menggerutu karena jawabannya. Bertengkar dengan Baekhyun tidak mungkin ada habisnya.
"Soo, dengarkan aku! Jika Junmyeon dan kau tidak memiliki hubungan yang istimewa. Bagaimana bisa kalian selalu berakhir di salah satu kamar kalian berpelukan dengan nyaman? Bagaiaman kau bisa membiarkannya mencubiti pipimu dan menciumimu sana-sini, padahal jika Chanyeol menyentuhnya saja sudah kau habisi? " Kelemahan Kyungsoo adalah suara Minseok yang lembut dan penuh sayang. Dan Kyungsoo membenci itu karena bisa membuatnya diam.
"Soo, kami semua tahu. Bukan rahasia lagi jika kalian memiliki hubungan yang lebih. Kalian memang bukan Yifan dan Yixing yang selalu bermesraan. Kalian pasti akan selalu saling memperhatikan satu sama lain dalam diam. Kami tahu, Junmyeon adalah yang terbaik untukmu." Kyungsoo masih saja diam. Ucapan kedua hyungnya itu benar-benar membuat mulutnya terkunci rapat. Kenapa dua hyungnya itu bertingkah dewasa? Kenapa mereka tidak bertingkah seperti biasanya saja? Kyungsoo tahu yang mereka ucapkan itu hanya karangan. Tapi juga tidak semuanya salah.
"Hyung! Junmyeon-hyung sudah siap. Ia mengajak Kyungsoo-hyung bicara berdua sekarang!" Kyungsoo berani bertaruh engsel pintu ruangan yang ia tempati sebentar lagi akan rusak. Sejak tadi dua maknaenya sudah berusaha ikut andil dalam merusaknya. Jika saja Tao juga ikut andil, mungkin pintu itu juga sudah terbelah menjadi berkeping-keping.
Tapi yang sekarang menjadi pusat pikiran Kyungsoo bukan Jongin yang berdiri di ambang pintu. Entah kenapa pikirannya malah melayang pada orang yang ia harap tidak akan bertemu dengannya untuk hari ini, satu minggu kedepan, satu bulan kedepan, satu tahun kedepan atau bahkan tidak akan pernah bertemu lagi. Kyungsoo terlalu malu karena skandal konyol ini.
.
.
.
***TBC***
Oke, sebelumnya maafkan Ben yang sudah lama tidak muncul dan telat update ini. Terimakasih untuk para reader yang berkenan membaca fic yang tiadak karuan ini. Karena saya pikir fic ini terlalu panjang, jadi saya memutuskan untuk mebaginya menjadi tiga chapter. Saya juga ingin mengetahui bagaimana kesan para reader terhadap fic ini agar saya bisa memperbaiki beberapa kesalahan di chaper selanjutnya. Saya tidak akan banyak bicara karena saya juga bingung akan bicara tentang apa, jadi menurut kalian bagaimana?
