Title : Fall In Love With Me Again
Author : winterTsubaki
Rating : PG~NC (?)
Genre : Romance, Angst
Disclaimer : I wished I had them but sadly none of them were T^T. I only own the plot and idea, if there's some similarities with other stories u might have read believe me it's coincidental. I'm against plagiarism
Warning : if you are against boy x boy themed fic moreover with Changmin and Kyuhyun as a pairing please don't push yourself to read any further because I don't want to get a harsh comment over the pairing or the cast of the story^^
Aku menatap Changmin-shii dengan tatapan bingung. Apa tadi katanya? Kami telah menikah? Bagaimana bisa dua orang lelaki seperti kami berdua sampai menikah? Lalu…dia juga bilang kalau usiaku sekarang 34 tahun? Astaga…mendadak kepalaku terasa pusing.
"Kyu? Ada apa? Kepalamu sakit?"
Tanya Changmin-shii, dari nada suaranya aku bisa merasakan kekhawatirannya. Ia adalah sunbeiku, anggota TVXQ…bagaimana mungkin kami bisa bersama?
"A-ani…tidak apa"
Jawabku mengelak dari uluran tangannya yang sebentar lagi sampai ke puncak kepalaku. Semua ini membuatku bingung. Begitu terbangun dari tidurku tahu-tahu aku sudah berusia 34 tahun dan telah menikah dengan seorang namja?!
"Apa perlu ku panggilkan dokter Kim?"
Tanya Changmin-shii dengan lembut. Ya tuhan, bagaimana mungkin ia bisa bertingkah seperti ini padaku? Apa dia tidak merasa aneh dan risih menikah dengan seorang lelaki sepertiku? Apalagi aku bukanlah pria yang manis dan lemah lembut.
Dengan cepat aku menggeleng, bukan dokter yang aku butuhkan saat ini. Aku hanya butuh kedua orang tuaku dan hyungdeulku di Super Junior. Pasti mereka bisa menjelaskan semuanya padaku. Bukan maksudku mencurigai Changmin-shii sebagai pembohong tetapi aku baru mengenalnya-sesuai dengan ingatanku yang berumur 18 tahun- dan kami tidaklah terlalu dekat. Aku merasa sedikit canggung kalau hanya berdua dengannya saat ini.
"Aku ingin bertemu appa, umma dan Ara noona"
Kataku sambil menatap penuh harap kearah Changmin-shii.
"Tolong panggilkan mereka, Changmin-shii"
Aku bisa melihat matanya menatapku sayu saat aku memanggilnya 'Changmin-shii' dan ada rasa aneh di dadaku ketika melihat wajah sedihnya. Mungkin memang aku yang berusia 34 tahun sangat mencintai pria di depanku ini…sampai-sampai hanya melihat wajah sedihnya saja bisa membuat dadaku sesak.
Ia mengangguk dan berjalan keluar dari kamar rawat yang aku tinggali untuk menelepon keluargaku.
Aku masih tidak percaya…ini benar-benar gila. Aku menikahi seorang namja? Tak pernah terpikirkan olehku saat berusia 18 tahun kalau nantinya saat aku berusia 34 tahun aku akan menikahi seorang namja.
.
.
.
"KYU!"
Pekik Ara noona begitu masuk kedalam ruang rawatku, ia langsung menghambur untuk memelukku yang saat itu tengah dalam posisi duduk diatas ranjang rumah sakit.
"Noona"
Aku menyambutnya dan langsung melingkarkan kedua lenganku dengan erat di bahunya. Noona ku masih seperti yang kuingat dulu.
"Akhirnya kau sadar juga, Kyu! Kau tak tahu betapa kami sangat mengkhawatirkanmu, terutama Changmin mu itu! Dia terus-terusan menyalahkan dirinya dan meminta maaf ke appa dan umma karena telah membuatmu seperti ini"
Ara noona langsung mulai dengan monolognya. Tadi dia bilang Changmin-ku? Apa wajar kalau begitu mendengar nama Changmin-shii di imbuhi oleh imbuhan kepunyaanku jantungku berdegup diatas normal? Ada yang aneh dengan tubuhku. Tubuh ini bereaksi dengan sendirinya jika mendengar nama Changmin-shii ataupun ada Changmin-shii di dekatku.
"Kyu?"
Ara noona membuyarkan lamunanku, aku langsung menatapnya kembali dan tersenyum untuk menyakinkannya kalau aku memperhatikan dirinya.
"Kemana appa dan umma?"
Aku langsung ingat kalau tadi Changmin-shii bilang appa, umma dan Ara noona akan segera datang tetapi kenapa hanya Ara noona yang ada di kamarku saat ini?
"Appa dan umma sedang di luar, membicarakan sesuatu dengan Changmin-ah. Sebentar lagi mereka juga akan menyusul"
Jawab noona ku dengan santai. Ia mengelus puncak kepalaku dengan lembut, aah…aku benar-benar merindukan noona ku. Semenjak debut dan tinggal di dorm aku memang jarang sekali berkomunikasi dengan keluargaku, terutama noona yang sibuk dengan kuliahnya.
"Ah! Bagaimana dengan kuliahmu, noona? Apa lancar-lancar saja?"
Ara noona terlihat bingung selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menatapku dengan tatapan yang tak aku mengerti. Percampuran antara sedih, bingung dan kaget?
"Kuliahku sudah lama selesai, Kyu…aku bahkan sudah menikah dan mempunyai anak sekarang"
Jawabnya dengan berhati-hati.
Aku terpaku menatap noonaku, ternyata semua ini memang nyata. Apa saja yang telah aku lupakan…ingatan selama 15 tahun menghilang begitu saja dari memoriku.
"Kyu?"
Panggil Ara noona, ia menatapku khawatir karena tadi aku sempat terdiam beberapa saat. Sepertinya Changmin-shii sudah memberitahukan padanya mengenai kondisiku, ia tak tampak kaget dengan pertanyaanku barusan…noona bahkan terlihat sangat berhati-hati dalam berbicara padaku.
"Maaf noona…aku tak ingat"
Suaraku keluar nyaris seperti bisikan. Apa yang harus aku lakukan saat ini? Apa aku harus meminta maaf karena melupakan ingatan akan pernikahan noona bahkan keponakanku yang telah lahir? Sungguh, semua ini terlalu membingungkan bagiku.
"Kyu…untuk apa kau meminta maaf? Sudahlah…jangan terlalu memaksakan dirimu, ne?"
Ucapnya sambil tersenyum seakan-akan kehilangan seluruh memori tentang apa yang terjadi selama lima belas tahun ini adalah hal yang wajar.
Suara pintu yang membuka mengalihkan perhatianku dari Ara noona, aku melihat kearah pintu dan disana telah berdiri appa dan umma ku disusul dengan Changmin-shii yang berdiri dibelakang mereka berdua.
"Appa…umma…"
Bisikku tak percaya melihat sosok kedua orang tuaku. Mereka terlihat jauh lebih tua dari apa yang ada diingatanku. Seingatku warna rambut umma masih hitam begitu juga dengan appa tetapi kenapa sekarang sudah ada helaian-helaian putih yang menutupi kepala mereka, bahkan aku bisa melihat dengan jelas gurat-gurat tua itu diwajah appa dan umma.
"Kyu…"
Umma langsung menghambur untuk memelukku, ia menangis di bahuku sementara appa berdiri di samping umma dan berusaha menenangkan istrinya itu.
"Aku sangat takut akan kehilanganmu, Kyunnie…kau koma begitu lama…syukurlah keajaiban itu terulang lagi…akhirnya kau sadar Kyunnie…"
Umma berbicara disela isakannya. Aku hanya bisa terdiam sambil balas memeluknya dengan erat. Keajaiban terulang lagi? Keajaiban apa yang umma maksud?
"Keajaiban apa maksud umma?"
Tanyaku pelan. Umma melepas pelukannya dan menatapku dengan lekat, begitu juga appa. Wajah mereka menunjukkan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
"Ah…maafkan umma, tidak…bukan apa-apa kok chagiya…"
Sahut umma setelah terdiam beberapa saat, iapun mengelus puncak kepalaku dengan pelan. Entah mengapa sebagian dadaku merasa sesak mendengar kebohongan yang baru saja dikatakan oleh umma. Aku mengerti kalau ia hanya tak mau aku terlalu terbebani dengan amnesia yang aku alami ini tetapi tetap saja aku tak suka jika beliau berbohong padaku.
"Dokter bilang kau bisa segera pulang setelah mereka selesai dengan check up mu…"
Ucap umma dengan penuh antusias, aku hanya mengangguk pelan mendengarnya.
"Kau akan ikut kami pulang ke rumah"
Putus appa. Mendengar itu aku langsung menoleh untuk menatap Changmin-shii yang saat ini berdiri diujung tempat tidurku. Ia menatapku dengan tatapan yang lagi-lagi membuat dadaku terasa sesak, senyumnya penuh dengan paksaan dan matanya…aku tak sanggup untuk menatapnya dan tak ikut menangis dengannya.
Bukankah Changmin-shii mengatakan kalau kami telah menikah? Lalu kenapa appa berkata akan membawaku pulang ke rumah dengannya? Kenapa aku tak tinggal dengan Changmin-shii?
"Tapi appa…aku dan Changmin…"
"Changmin sudah setuju dengan keputusanku, benar kan Changmin?"
Tanya appa dengan suara beratnya. Changmin-shii mengangguk pelan.
"Ne, aboji…"
Mataku melotot melihat reaksi Changmin-shii yang diluar harapanku-entah mengapa aku berharap ia akan melarangku untuk pergi dengan appa-dengan cepat aku langsung menoleh kembali ke appa yang masih menatap Changmin-shii dengan tajam. Apa ini hanya perasaanku saja tetapi sepertinya hubungan appa dan Changmin-shii tidaklah sebaik yang aku pikirkan.
"Biarkan aku tinggal dengan Changmin, appa. Aku yakin ia bisa menjagaku, selama aku koma ia juga yang selalu menungguiku disini…"
Tanpa pikir panjang kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Tanpa melihat kearahnya aku bisa merasakan Changmin-shii menatapku dengan lekat sekarang. Apa ia tidak percaya kalau aku bisa berkata seperti itu?
"Aku yakin Changmin bisa menjagaku dengan baik"
Entah darimana keyakinan itu berasal tetapi sepertinya Changmin-shii tak akan berbohong padaku. Aku bisa mempercayainya. Kutolehkan wajahku kearahnya dan seperti yang kuduga ia memang sedang menatapku sekarang tetapi senyuman di wajahnya tak lagi senyuman penuh paksaan seperti yang tadi ia tunjukkan pada appa, senyumannya saat ini membuat jantungku berdegup tak beraturan. Mata kami bertemu dan aku bisa melihat ketulusan di kedua bola matanya. Aku tak salah dalam memilihmu, kan?
.
.
.
Dokter menambah waktu inapku hingga dua hari dan sekarang aku sudah bisa kembali ke rumah yang menurut Changmin-shii kami tinggali berdua. Setelah aku sadar dari koma ku beberapa hyungdeulku di Super Junior datang menjenguk. Mereka semua terlihat jauh berbeda dari apa yang ada dalam ingatanku, bahkan Shindong hyung sudah menikah dan mempunyai satu orang anak perempuan yang sangat manis. Mereka semua terlihat normal dan seperti tak mempermasalahkan keadaanku yang tak mengingat satupun ingatan selama lima belas tahun belakangan ini. Oh ya…aku juga kaget saat Ryeowook datang membawa seorang gadis yang ia kenalkan padaku sebagai tunangannya. Eternal magnae yang satu itu akhirnya mengenal apa yang namanya cinta.
"Ada hal yang menyenangkan? Kau terus-menerus tersenyum sejak kita meninggalkan rumah sakit"
Tanya Changmin, saat ini kami sedang berada di dalam mobil milik Changmin, ia yang mengemudi. Lampu lalu lintas di depan kami sedang merah makanya Changmin mau mengajakku berbicara. Begitu masuk ke dalam mobilnya Changmin langsung memberitahuku untuk tidak mengajaknya berbicara ataupun menghidupkan musik selama ia mengemudi, awalnya aku bingung tetapi begitu mendengar alasan darinya aku hanya bisa mengangguk paham.
"Aku tak ingin ada yang memecah konsentrasiku saat menyetir. Berbicara dan mendengarkan musik bisa membuatku kehilangan konsentrasi dan membahayakan nyawa kita berdua. Aku hanya tak ingin kecelakaan itu terulang lagi, Kyu"
Itulah alasannya. Kecelakaan itu…aku masih tak bisa mengingat apapun bahkan setelah seminggu sadar dari koma. Aku sempat putus asa dan taku tak bisa mengingat apapun tetapi Changmin selalu memintaku untuk bersabar.
Oh ya satu hal lagi…sekarang aku sudah tak lagi memanggilnya Changmin-shii. Changmin memintaku untuk memanggil namanya saja karena ia merasa tak nyaman dengan panggilan –shii itu, apalagi kalau panggilan itu keluar dari mulut istrinya sendiri, begitulah alasannya.
"Aku tak sabar ingin melihat rumah yang kita tinggali. Apa kita hanya tinggal berdua? Lalu…siapa yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan memasak? Seingatku aku tak pandai bebersih dan memasak"
Changmin tampak tersenyum walaupun saat ini matanya masih terfokus pada lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah.
"Ya, kita hanya tinggal berdua. Apartemen yang kita tinggali tidak besar kok, hanya ada dua kamar…soal pekerjaan rumah tangga dan memasak keduanya aku yang melakukan karena memang seperti yang kau katakan dirimu sangat payah soal kedua hal itu"
Jawabnya sedikit tertawa. Inilah salah satu alasan kenapa aku suka dengan kehadiran Changmin disisiku selama ini. Ia tidak berusaha membuatku mengingat kenangan yang telah kulupakan dan ia juga tak menyembunyikan apapun dariku tetapi disaat aku bertanya ia pasti menjawab semuanya dengan jujur-menurutku ia tak berbohong-
"Maaf karena aku payah soal urusan rumah tangga"
Bibirku mengerucut saat mengatakan hal itu. Aku tahu kalau aku memang payah dalam memasak dan bebersih sesuai dengan ingatanku saat berusia 18 tahun tetapi mendengar itu lagi saat usiaku 34 tahun rasanya aku seperti orang bodoh yang tak bisa belajar hal sepele seperti bebersih dan memasak.
"Jangan cemberut seperti itu…kau terlihat seperti Junsu-hyung"
Dahiku berkerut mendengar kata-kata Changmin. Junsu-hyung? Apa maksudnya Xiah Junsu sunbeinim? Apa hubungannya bibir mengerucut dengan dirinya?
Seperti bisa membaca semua pertanyaan dikepalaku Changmin menepuk puncak kepalaku pelan dan berucap sambil sedikit tertawa.
"Ya, kau terlihat seperti bebek"
Kalau saja tidak karena lampu lalu-lintas yang sudah berganti warna menjadi hijau aku pasti sudah membalas perkataannya itu.
.
.
.
Rumah.
Itulah yang ada di kepalaku saat menginjakkan kaki di apartemen yang aku tinggali berdua dengan Changmin. Sesuai dengan yang Changmin katakan, apartemen ini tidaklah besar tetapi terasa sangat nyaman. Perabotannya pun terkesan minimalis dan efisiensi ruang yang juga tepat.
Begitu masuk kedalam ruang tengah mataku langsung tertuju pada sebuah foto yang tergantung di salah satu dinding ruangan berukura meter itu. Di dalam foto itu ada aku dan Changmin, Changmin memelukku dari belakang, ia menempelkan pipinya di pipiku dan kami berdua tersenyum begitu lebar. Changmin terlihat sangat tampan dengan setelah jas formal berwarna hitam sementara aku sendiri mengenakan setelan berwarna putih.
"Itu foto pernikahan kita"
Ucap Changmin, tanpa aku sadari ia sudah berdiri di sampingku sekarang. Mataku menatap kearah foto yang terpampang di depanku dan Changmin yang berdiri di sisiku secara bergantian, kalau ini adalah foto pernikahan kami berarti foto ini diambil dua tahun yang lalu…kenapa wajah Changmin sekarang jauh berbeda dengan yang ada di foto? Bukan…ia tidak melakukan operasi plastik…perbedaan yang aku maksud adalah raut di wajahnya. Tampak dengan jelas kalau Changmin yang sekarang terlihat tak secerah dulu.
"Aku terlihat sangat tampan di foto itu"
Kataku dengan percaya diri. Changmin hanya tertawa mendengarnya.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur…aku sudah merapikan kamar tidur tamu, kau bisa tidur disana"
Kata Changmin. Aku menatapnya bingung. Bukankah kami adalah suami istri? Kenapa aku tidur terpisah darinya?
"Kita tak tidur sekamar?"
Tanyaku bingung.
Changmin sendiri tampak kaget dengan pertanyaanku.
Perlahan tangannya bergerak untuk menyentuh pipiku. Aku bisa merasakan jemari panjangnya meraba kulit pipiku dengan pelan. Wajahnya bergerak mendekat kearahku, aku bisa melihat dengan jelas rambut-rambut diwajah Changmin yang sepertinya tak bercukur hari ini, bukannya mendorong tubuh itu menjauh aku malah bergerak mendekatinya sampai ujung jari kaki kami bertemu...
.
.
.
To be continue
A/N : daaann to be continue dengan tidak elitnya XD annyeong~ this is winterTsubaki imnida^^ so...ini chapter 1 dari FIWMA...hoho...it took me long to actually updating this fic, sebenernya saya tiba-tiba ngelanjut ngetik ff ini sebagai penghilang galau karena ga jadi nntn Catch Me di Malaysia...huhuhu...chwang~ kalo beneran jodoh kita ketemu di Indonesia yaaa T^T #ditendang
Chapter ini keseluruhannya dari POVnya Kyuhyun...apa jalan ceritanya kecepetan? semoga engga yaa...soalnya emg niatnya siih fic ini gak akan lebih dari 10 chp...soalnya saya udh capek nulis ff panjang T_T #plak
ternyata yang review ff ini lumayan banyak O.O saya ampe kaget2 banyak yg doyan nyiksa Changkyu ternyata *highfive* dan ternyata banyak juga yang punya ide sama seperti ide cerita ff ini...xixixi...emg saya author pasaran *bow* ada juga yang bilang kalo ending ff ini harus happy end...gyahaha...ternyata banyak yang ga puas ama ending Muerte (saya jg sbenernya kurang puas*Author gagal*) kalo soal endingnya gimana emg masih ngambang...saya punya stok happy end dan sad end...kekeke
bunch of thanks buat yang udah bersedia nge review ff saya :
xoxoxo, gyu, heeli, VoldeMIN vs KYUtie, Hana Ajibana, Kyuminjoong, riekyumidwife, Allyna Uzumaki, white18, Jung Minrin, shakyu, Natsume Yuka, Shin SiHyun, rikha-chan, alvianaasih susanti, Augesteca, GaemGyu315, adette, FiWonKyu0201, changkyu, cho-i-chahyun, Kim Eun Seob, 0704minnie, kyu7, kim chaeri, YJchangkyuID, shin min hyo
lastly, mind to review?^^
